Kamis, 19/11/2009 08:42 WIB
Cermati saham PGAS, SMGR, ASII, JSMR, ADRO
oleh : Sylviana Pravita R.K.N.
JAKARTA (bisnis.com): Saham PGAS, SMGR, ASII, JSMR, ADRO dan BMRI direkomendasikan meraih gain pada perdagangan saham hari ini terkait dengan faktor teknikal dan pemberitaan media.
“Saham-saham yang berpotensi meraih gain adalah Bank Mandiri (BMRI), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Semen Gresik Tbk (SMGR) dan PT Astra Internasional Tbk (ASII) dilihat dari sisi pergerakan saham,” kata analis saham PT BNI Securities M. Alfatih, kepada bisnis.com, pagi ini.
Adapun, Kresna Securities menilai IHSG kemungkinan akan melakukan konsolidasi sebelum mengkonfirmasi gerakan selanjutnya untuk melanjutkan kenaikan atau justru turun. Aksi profit taking mungkin akan terjadi setelah IHSG mengalami kenaikan selama 6 hari berturut-turut serta posisi stochastic yang sudah overbought di 93,2. Trading range pada hari ini berada antara 2461- 2497. Rekomendasi Kresna untuk saham ASII, JSMR, ADRO.
Pemberitaan Bisnis Indonesia edisi hari ini menyebutkan Grup Bakrie melalui PT Multi Daerah Bersaing (MDB) akhirnya yang ditunjuk mengambil 14% saham PT Newmont Nusa Tenggara setelah Pemda NTB dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tidak mencapai kesepakatan pembagian porsi saham.
Keputusan itu tertuang dalam surat Dirjen Minerbapabum Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Bambang Setiawan yang ditujukan kepada manajemen Newmont.
Surat dari Ditjen Mineral, Batu bara, dan Panas Bumi No. 3217/87/DJB/2009 tertanggal 18 November berisi Pemda NTB atau badan yang ditunjuk sebagai pembeli 14% saham Newmont untuk divestasi 2008-2009.
Keputusan lahir dari hasil keputusan rapat antara Kantor Menko Perekonomian, Depkeu, Kantor Meneg BUMN, Pemda Nusa Tenggara Barat, kemarin. Sebelum terbit keputusan itu, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral terlebih dahulu memfasilitasi perundingan antara Pemda NTB bersama mitranya PT Multicapital Indonesia (Grup Bakrie) dengan Antam.
Tetapi perundingan kedua belah pihak tidak tercapai kesepakatan. Baik Pemda NTB maupun Antam sama-sama kukuh dengan skema kerja sama yang ditawarkan masing-masing, terutama soal porsi pembagian 14% saham senilai US$493,6 juta itu.
Dirjen Minerbapabum Bambang Setiawan mengemukakan pemerintah sebenarnya telah menawarkan tiga opsi skema kerja sama dan pembagian porsi bagi saham antara Pemda NTB dan Antam sebagai perwakilan pemerintah pusat.
“Keputusannya dari pertemuan tadi [kemarin] adalah proses divestasi 2008-2009 dilanjutkan transaksinya antara pemda dan Newmont karena Antam tidak bisa masuk dalam skema kerja sama yang ditawarkan,” ujarnya.
Berkaitan dengan tuntasnya perundingan Pemda NTB dan Antam, dia berharap keputusan penunjukan itu akan ditindaklanjuti dengan penandatanganan SPA (sales and purchase agreement) 14% saham Newmont dengan segera atau sebelum 23 November 2009. “Sudah beres, tinggal tanda tangan SPA.”
Adapun, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) meraih kredit senilai Rp1,52 triliun dari konsorsium yang dipimpin BNI guna restrukturisasi PT Marga Nujyasumo Agung.
Berita lainnya adalah PT Energi Mega Persada Tbk telah menunjuk sejumlah penasihat keuangan untuk membantu menggolkan rencana penawaran umum terbatas (rights issue) hingga Rp5 triliun sebagai bagian dari restrukturisasi utangnya kepada kreditor.
Dalam laporan keuangannya, Energi Mega diwajibkan menggelar rights issue minimal senilai US$150 juta dalam rangka menambah modal sebagai bagian dari konsekuensi perolehan pinjaman dari Credit Suisse pada tahun lalu sebesar US$450 juta.
Direktur Keuangan Energi Mega Didit A. Ratam menyebutkan manajemen sedang menyiapkan rencana aksi korporasi. Jika rights issue menjadi opsi restrukturisasi utang, PT Bakrie & Brothers Tbk selaku induk perusahaan nantinya terlibat menyuntikkan modal ke Energi Mega.
“Tentu kalau ingin mempertahankan kepemilikannya yang sekitar 43%, mereka [Bakrie & Brothers] harus menyuntikkan modal. Berapa dana yang harus disuntikkan tinggal hitung matematis saja,” paparnya (Bisnis, 19 Oktober).
Dengan mengecualikan rencana penambahan ekuitas itu, analis PT Danareksa Sekuritas Lisa Yulianingrum memperkirakan rasio utang terhadap ekuitas (DER) Energi Mega meningkat, yakni dari 0,7 kali pada 2008 menjadi 1,8 kali pada akhir tahun ini.
“Posisi itu masih lebih baik dibandingkan dengan DER 2005 sebesar 4,5 kali ketika perseroan mengakuisisi cadangan Kangean. Ke depan, kami mengekspektasikan posisi rasio gearing turun 1,5 kali pada 2011 dan kemudian menjadi 1,3 kali pada 2012,” paparnya dalam laporan riset per 23 Oktober.
Selain itu, pemberitaan media juga menyebutkan bahwa PT Ciputra Property Tbk menargetkan dapat membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp163 miliar dengan pendapatan Rp366 miliar pada akhir tahun ini.
Laba bersih itu turun 13,30% dibandingkan dengan perolehan tahun lalu yang sebesar Rp188 miliar, sedangkan pendapatan tumbuh 12,61% dari sebelumnya Rp325 miliar.
Manajemen memaparkan proyeksi kinerja tersebut ditopang oleh kenaikan harga sewa dan tingkat hunian (okupansi) proyek properti komersil perseroan yang tersebar di sejumlah kota.
Ciputra Property adalah anak usaha Grup Ciputra yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan dan pengembangan portofolio properti komersil milik taipan properti Ciputra tersebut.
bisnis.com