minya($50++/b)AAAk (ekspektasi 2017-2018)


inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

ikon analisis gw

analisis teknikal sederhana tren harga minyak global 2017:

$40/barel @ wti : lebe tinggi daripada $26/b 2016… pertanda bahwa harga minyak global akan tetap menguat… kesepakatan n rekonfirmasi lewat harga jual riil akan mendorong tren harga di atas $40 bahkan di atas $50/b… moga2 menyentuh $60/barel sebelum bergejolak kuat menuju resistensi terkuat $ 80/b… liat aza ets-small

nozzle

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat mendekati level US$60 per barel menyusul sebuah ledakan pada jaringan pipa di Libya dan perkiraan bullish di Arab Saudi.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari menguat terpantau melemah 0,28% atau 0,17 poin ke level US$59,80 pada pukul 6.40 WIB. Sebelumnya, WTI ditutup menguat 1,50 poin di level US$59,97 per barel, level tertinggi sejak Juni 2015.

Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Februari melonjak 2,71% atau 1,77 poin ke level U$67,02 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, level tertinggi sejak Mei 2015.

Dilansir Bloomberg, sebuah pipa yang dioperasikan oleh Waha Oil yang membawa minyak mentah ke terminal ekspor terbesar Libya meledak pada hari Selasa, menjatuhkan output negara tersebut sebesar 70.000-100.000 barel per hari. Sementara itu, Arab Saudi dikatakan mengharapkan pendapatan minyak naik 80% pada 2023.

“Ledakan ini hanya pengingat akan premi risiko geopolitik yang akan menghantui pasar ini sepanjang tahun depan,” kata John Kilduff, partner di Again Capital LLC, seperti dikutip Bloomberg.

Output Waha Oil turun 60.000-70.000 barel per hari dari 260.000 barel sehari, menurut sumber yang mengetahui situasi ini.

Ledakan tersebut “adalah hal yang besar yang bisa mendorong harga lebih tinggi di tengah pengetatan pasokan,” kata Bob Yawger, direktur futures Mizuho Securities USA Inc.

Pada saat yang sama, Arab Saudi memperkirakan surplus anggaran pertamanya dalam satu dekade terakhir. Di bawah program enam tahun untuk menyeimbangkan anggaran, pejabat Saudi memperkirakan kenaikan harga dan output akan mendorong pendapatan dari penjualan minyak menjadi 801,4 miliar riyal (US$214 miliar) dari 440 miliar riyal tahun ini, menurut sumber yang dikutip Bloomberg.

lol

Bisnis.com, JAKARTA — Sejak menyentuh titik terendah selama 12 tahun terakhir, yaitu pada Januari 2016 sebesar US$27 per barel, kini harga minyak mentah Indonesia terus menguat hingga US$59,34 per barel.

Harga rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP minyak mentah Indonesia pada November 2017 mencapai US$59,34 per barel, naik US$5,33 per barel dibandingkan dengan bulan sebelumnya US$54,02 per barel.

Perkembangan harga rata-rata minyak mentah Indonesia ini sejalan dengan harga minyak mentah utama di pasar internasional pada November 2017.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, minyak mentah jenis Brent naik sebesar US$5,26 per barel dari US$57,36 per barel menjadi US$62,62 per barel.

Minyak mentah jenis WTI (Nymex) naik sebesar US$5,07 per barel dari US$51,59 per barel menjadi US$ 56,66 per barel.

Rata-rata harga minyak yang diproduks oleh anggota Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) yang sering disebut dengan Basket OPEC juga mengalami kenaikan US$5,24 per barel dari US$55,50 per barel menjadi US$60,74 per barel.

Peningkatan harga minyak mentah utama di pasar internasional ini disebabkan oleh beberapa factor, yakni negara-negara OPEC memperpanjang kesepakatan untuk membatasi produksi hingga 2018, pada pertemuan yang diadakan pada 30 November 2017.

Selain itu, berdasarkan publikasi OPEC November 2017, produksi minyak mentah dari negara-negara OPEC pada Oktober 2017 turun sebesar 0,15 juta barel per hari (bph) menjadi sebesar 32,59 juta bph dibandingkan dengan bulan sebelumnya 32,74 juta bph.

Proyeksi permintaan minyak mentah global tahun ini naik 0,14 juta bph pada proyeksi November 2017 menjadi 96,94 juta bph, dari proyeksi bulan sebelumnya 96,80 juta bph.

Jumlah peralatan pengeboran minyak (rig) di Amerika Serikat pada November 2017 turun sebesar 38 rig menjadi sebesar 898  dibandingkan dengan Oktober 2017 sebanyak 939 rig.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini naik sebesar 0,1% pada proyeksi November 2017 menjadi sebesar 3,7%, dari proyeksi Oktober 2017 yaitu 3,6%.

Faktor lainnya, berdasarkan publikasi Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) pada November 2017, komitmen negara-negara non-OPEC untuk membatasi produksi mencapai 107% pada Oktober 2017.

Berdasarkan laporan Biro Informasi Energi AS, tingkat stok minyak mentah komersial AS selama November 2017 (sampai Minggu ke-4) mengalami penurunan dibandingkan dengan stok pada bulan sebelumnya.

Penyebab lainnya adalah pengaliran minyak melalui pipa dari Kanada menuju Amerika Serikat yang selama ini sekitar 560.000 bph mengalami gangguan akibat kebocoran pada pipa. Hal ini mengakibatkan, volume minyak yang disuplai dari Kanada kepada AS sampai akhir November 2017 hanya mencapai 15% dari volume normal. Hal ini berlangsung hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi antara lain oleh meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah antara Arab Saudi dan Iran. Selain itu, juga terdapat ketidakstabilan politik dalam negeri di Arab Saudi.

Faktor lainnya, Arab Saudi mengurangi ekspor minyak mentah hingga sebesar 120.000 bph dibandingkan ekspor pada Oktober 2017 dan gempa bumi yang terjadi di Iran dan Irak pada 12 November 2017 menyebabkan terganggunya produksi minyak mentah dari kedua negara tersebut.

buttrock

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah berita dari mancanegtara menjadi topik utama media massa hari ini, Senin (27/11/2017), di antaranya mengenai risiko politik global serte proyeksi harga minyak mentah.

Berikut ringkasan beberapa berita global di media massa hari ini:

Risiko Politik Bakal Menghantui. Investor global setidaknya telah menikmati imbal hasil yang besar dari obligasi negara berkembang pada tahun ini. Namun, pada 2018, mereka harus waspada lantaran besarnya potensi risiko dari sisi politik. (Bisnis Indonesia)

Minyak Menuju ke Level US$75/Barel. Harga minyak mentah dunia diproyeksikan melaju hingga mencapai level US$70—US$75 per barel pada 2018 lantaran memanasnya geopolitik antara Arab Saudi dan Iran, juga Rencana Negeri minyak memasukkan perusahaannya di New York Stock Exchange. (Bisnis Indonesia)

Saham Amazon Melejit, Harta Jeff Bezos Menembus US$ 100 Miliar. Kinerja saham Amazon.com moncer pada tahun ini. Sepanjang pekan lalu saja, harga saham raksasa e-commerce Amerika Serikat tersebut menanjak 5%. Kenaikan harga saham Amazon mengerek pula kekayaan Jeff Bezos, pendiri Amazon. Sepanjang tahun ini, harta Bezos bertambah US$ 32,6 miliar dan menembus US$ 100 miliar. Ia kini menjadi orang terkaya dunia. (Kontan)

Larangan Selfie di Masjid. Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan pemberitahuan yang melarang pengambilan gambar di dalam dan serambi dua masjid suci yakni Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dengan menggunakan segala jenis, bentuk, dan sarana apapun. Pemberitahuan itu disampaikan ke seluruh perwakilan melalui nota diplomatik tertanggal 12 November 2017 yang ditandatangani oleh Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Mohammed Saleh bin Taher Benten. (Kontan)

Balasan Militer Mesir. Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi berjanji akan menanggapi dengan “kekuatan maksimal” aksi terorisme yang menewaskan 235 orang dalam aksi bom masjid di Sinai Utara pada saat pelaksanaan shalat Jumat lalu (24/11). Seperti yang diberitakan sebelumnya, Masjid al-Rawda di kota Bir al-Abed dibom. Tidak hanya itu, para jamaah yang hendak menyelamatkan diri diberondong tembakan senjata. (Kontan)

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah melemah pada perdagangan Rabu, (25/10/2017) karena lonjakan output minyak AS dalam lima tahun terakhir membayangi permintaan ekspor untuk minyak mentah dan bahan bakar.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Desember ditutup melemah 0,6% atau 0,29 poin ke posisi US$52,18 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan sekitar 9% di bawah rata-rata perdagangan 100 hari terakhir.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Desember naik 0,11 poin ke level US$58,44 di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Minyak mentah patokan global diperdagangkan US$6,26 lebih mahal dibanding WTI, jarak terlebar dalam lebih dari empat pekan terakhir.

Dilansir Bloomberg, data pemerintah AS yang bullish menunjukkan fluktuasi harga bensin dan solar tertekan oleh kenaikan produksi minyak dan kenaikan dalam persediaan minyak mentah.

Energy Information Administration (EIA) melaporkan, ekspor harian minyak mentah, solar dan produk minyak lainnya naik ke rekor 7,66 juta barel pekan lalu, menandakan permintaan yang lebih kuat.

Sementara itu, pasokan minyak di pusat jaringan Cushing, Oklahoma, turun untuk pertama kalinya sejak Agustus, sementara pasokan bensin turun 5,47 juta barel dan pasokan minyak dislitasi turun sebesar 5,25 juta barel.

Di sisi lain, produksi minyak dari ladang minyak di AS melonjak 13% pekan lalu menjadi 9,51 juta barel per hari, lompatan terbesar sejak September 2012. Total stok minyak mentah AS meningkat 856.000 barel, menghentikan penurunan empat minggu pekan terakhir, menurut data EIA.

“Ini mungkin yang terus membebani pasar minyak mentah saat ini,” kata Michael Loewen, analis komoditas di Scotiabank, seperti dikutip Bloomberg.

Minyak telah bertahan di atas US$50 per barel selama dua minggu terakhir di New York di tengah meningkatnya kepercayaan bahwa pemotongan pasokan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan rekannya termasuk Rusia akan diperpanjang hingga setelah Maret 2018.

nozzle

DUBAI, KOMPAS.com – Arab Saudi pada akhir bulan ini dikabarkan bakal memutuskan periode kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan listrik.

Kenaikan harga dua komponen dikhawatirkan bakal berisiko mendorong perekonomian lebih dalam ke jurang resesi.

Mengutip Reuters, Selasa (10/10/2017), dilema yang dialami Arab Saudi terkait harga energi dipandang menunjukkan bahwa reformasi ekonomi yang dijalankan negara itu mulai mengalami masa sulit.

Pemerintah Arab Saudi menerapkan reformasi ekonomi dengan tujuan untuk mengurangi defisit anggaran dan ketergantungan ekonomi pada minyak.

(Baca: Wanita Boleh Mengemudi, Ekonomi Arab Saudi Bakal Menggeliat)

Putaran pertama kenaikan harga energi sudah dilakukan sejak Desember 2015 lalu dan perlahan mengurangi defisit.

Namun, kebijakan ini tidak juga mengatasi resesi yang dialami Arab Saudi dan angka pengangguran di negara itu mencapai 12,8 persen.

Artinya, langkah berikutnya akan susah diumumkan tanpa kemunculan risiko penurunan ekonomi yang lebih tajam dan akhirnya membuat investasi swasta enggan masuk.

Selain itu, resesi yang berkepanjangan juga dapat membalikkan sentimen publik terhadap reformasi ekonomi.

Salah seorang pejabat Arab Saudi menyatakan, pemerintah menunda keputusan penyesuaian harga energi sampai sistem pembayaran bantuan tunai untuk keluarga pendapatan rendah dan menengah selesai dirancang.

Bantuan ini dapat sebagian mengompensasi masyarakat yang terdampak efek kenaikan harga.

Pada akhir tahun 2016, pemerintah mengindikasikan adanya kenaikan harga energi yang selama ini sangat disubsidi bakal dilakukan pada pertengahan tahun 2017.

Di samping reformasi harga air, perubahan kebijakan energi tersebut dapat membuat pemerintah hemat 29 miliar riyal atau 7,7 miliar dollar AS pada tahun 2017.

Namun, sejak saat itu, ekonomi Arab Saudi melambat lebih cepat dari yang diperkirakan. Sektor nonmigas hanya tumbuh 0,6 persen secara tahunan pada kuartal II 2017.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 1,1 persen.

buttrock

JG: Riyadh. Net foreign assets at Saudi Arabia’s central bank, a measure of its ability to support its currency, look set to fall sharply this year as oil prices slump and Riyadh expands its sovereign wealth fund to invest abroad.

They shrank from a record high of $737 billion in August 2014 to $529 billion at the end of 2016 as the government liquidated some assets to cover the huge budget deficit caused by the fall in oil prices.

This year, an austerity drive and a partial rebound in oil prices have helped Riyadh make progress in cutting the deficit —which narrowed 71 percent from a year ago to 26 billion riyals ($6.9 billion) in the first quarter.

But net foreign assets have continued to shrink at about the same rate, by $36 billion in the first four months of 2017 — a mystery to economists and diplomats monitoring Saudi Arabia, and a potential blow to markets’ confidence in Riyadh.

“This suggests that there remains a significant deficit in the balance of payments of Saudi Arabia, which is not due to declining oil export revenues,” said Khatija Haque, head of regional research at Emirates NBD, Dubai’s biggest bank.

Saudi officials have not commented in detail on the reasons for the reserves drop, though some have suggested it is due to private sector activity, not government spending.

Some analysts have speculated the fall is due to spending on Saudi Arabia’s military intervention in Yemen.

This is unlikely; a top Saudi official indicated in late 2015 that the intervention — largely a limited air campaign, not a major ground war — was costing about $7 billion annually, in line with estimates by foreign military experts.

Others speculate capital flight from Saudi Arabia may be sapping the reserves. But data from the central bank — the Saudi Arabian Monetary Authority (SAMA) — on foreign exchange transactions by commercial banks does not support this theory either.

“Capital flight has diminished as an issue. Outflows in 2016 were pretty small beer compared with 2015, when there were significant outflows,” said an economist at a Saudi bank.

An international banker in touch with Saudi authorities said much of the decline in foreign assets appeared due to the transfer of money to state funds investing abroad — particularly the main sovereign wealth fund, the Public Investment Fund (PIF).

Riyadh plans to invest big amounts overseas to win access to technology and boost returns on its capital. The PIF has said it will invest up to $45 billion over five years in a technology fund created by Japan’s Softbank, and $20 billion in an infrastructure fund planned by US firm Blackstone.

Transfers to the PIF would not represent any reduction in the government’s total wealth, but they would mean a cut in the liquid assets which the central bank has available to defend the riyal if needed. The PIF declined to comment.

Oil

A fresh slump in oil prices also looks likely to pressure foreign assets. Brent oil averaged $54.57 in the first quarter of this year; it has since plunged to around $46, just $1 above its average price last year.

This, combined with a minor relaxation of austerity in recent weeks to head off a recession, may mean Riyadh’s budget deficit for all of 2017 comes close to its original projection of 198 billion riyals ($52.79 billion), or possibly a little higher.

That would be an improvement from last year’s 297 billion riyals, but combined with transfers to the PIF, it would force further liquidation of the central bank’s foreign assets.

“Going forward, the decline is likely to continue given the projected budget deficit for the whole year, which would probably require withdrawals from foreign reserves to finance it,” said Said al-Sheikh, group chief economist at National Commercial Bank, the largest Saudi bank.

Riyadh’s heavy foreign borrowing — it issued $9 billion of sukuk abroad in April — gives it financial flexibility but does not increase its net foreign assets, since the debt is recorded as a liability, Sheikh said.

The government has said it plans to resume domestic bond issues later this year after a gap of more than half a year. A senior finance ministry official estimated last month that local bonds would cover 25 to 35 percent of the 2017 deficit; this would leave a sizable amount to be covered with foreign assets.

At $493 billion as of the end of April, SAMA’s net foreign assets remain enough to defend the riyal for years — they would pay for four years of imports.

Nevertheless, a rise in the cost of insuring Saudi debt against default this month, to its highest level since early February, suggests concern may be increasing.

Additional reporting by Marwa Rashad Editing by Jeremy Gaunt

Reuters

lol

 

 

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah melemah di akhir perdagangan hari Kamis (20/7/2017) setelah Brent melampaui level US$50 per barel untuk pertama kalinya dalam enam pekan terakhir.

Minyak Brent untuk kontrak September ditutup melemah 0,40 poin ke level US$49,30 per barel di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Sebelumnya, Brent sempat menguat di atas US$50 untuk pertama kalinya sejak 7 Juni.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 0,33 poin ke posisi US$46,79 per barel di New York Mercantile Exchange.

“Banyak pelaku pasar yang mencari posisi,” kata Bill O’Grady, kepala analis di Confluence Investment Management, seperti dikutip Bloomberg.

“Brent yang melampaui US$50 mungkin mendorong beberapa pelaku pasar yang sudah lama ingin melakukan profit taking,” lanjutnya.

Sebelumnya pada Rabu (19/7), Badan Administrasi Energi AS melaporkan persediaan minyak mentah turun 4,73 juta barel pekan lalu, sedangkan total persediaan minyak mentah dan produk nasional turun 10,2 juta barel menjadi 1,32 miliar barel, tingkat terendah sejak Desember.

Sementara itu, produksi minyak mentah A.S. berada pada level tertinggi sejak Juli 2015.

Sementara itu, analis senior Price Futures Group, Phil Flynn mengatakan ada pesimisme bahwa pasar global akan mencapai keseimbangan.

“Menarik untuk dilihat apakah OPEC dapat meyakinkan pasar bahwa pihaknya mencapai keseimbangan dan persediaan turun. Sekarang mereka punya data untuk membuktikannya,” ujarnya.

lol

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah mengklaim realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 pada semester I secara umum dapat dijaga stabilitasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan di Badan Anggaran (Banggar) DPR, realisasi penerimaan perpajakan misalnya, berdasarkan catatan otoritas fiskal tumbuh 9,6% dibandingkan tahun lalu.

BACA JUGA :
Bank Dunia: Fundamental Ekonomi RI Kuat
Sri Mulyani Yakin Ekonomi Indonesia 2017 Positif
” Apabila dihilangkan realisasi pengampunan pajak maka pertumbuhan pajaknya 5,5%,” kata Sri Mulyani, Kamis (13/7) malam.

Sri Mulyani yang pernah menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga menjelaskan, secara umum capaian pendapatan negara (pendapatan dalam negeri dan hibah) tercatat sebesar 41,0% terhadap APBN atau meningkat dari 35,5% dari semester I tahun 2016.

Adapun jika diperinci, realisasi penerimaan perpajakan (pajak dan bea cukai) tumbuh sebesar 9,6% dengan nilai nominal Rp571,9 triliun atau lebih baik dari tahun 2016 yang hanya senilai Rp522 triliun atau kontraksi sebesar 2,4% dari tahun sebelumnya.

Kontribusi terbesar dari PPh Migas yang tumbuh 69% dan PPN non migas yang tumbuh 13,5%. Dari kepabeanan, bea keluar tumbuh 31,6% di mana tahun lalu minus 33%.

Selain penerimaan, realisasi belanja pada semester 1 2017 juga dianggap lebih baik dibandingan periode yang sama tahun lalu. Penyerapan belanja negara sebesar 42,9% terhadap APBN juga lebih baik bila dibandingkan sebesar 41,5% di tahun 2016.

Adapun dengan meningkatnya realisasi pendapatan negara serta terjaganya konsumsi domestik, harga komoditas, serta meningkatnya permintaan ekspor; defisit anggaran terhadap PDB di semester I hanya sebesar 1,29%.

“Ini menggambarkan upaya pemerintah untuk menjaga APBN sebagai instrumen fiskal yang efektif dan kredibel telah berjalan baik demi tercapainya masyarakat adil, makmur dan bermartabat,” tegasnya.

buttrock

LONDON kontan. Harga minyak menguat didukung oleh meningkatnya kepercayaan bahwa OPEC dan produsen besar lainnya bakal setuju untuk mempertahankan pembatasan produksi untuk sisa tahun 2017 dan memasuki kuartal pertama tahun depan.

Mengutip Reuters, Rabu (24/5), minyak mentah Brent naik 40 sen per barel pada level US$ 54,55 pada pukul 0910 GMT. Sedangkan, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 35 sen ke level US$ 51,82.

BACA JUGA :
Harga minyak tertahan jelang pertemuan OPEC
Rating S&P dan minyak mendukung rupiah
Kedua tolak ukur minyak mentah tersebut telah menguat lebih dari 10% dari level terendah bulan Mei di bawah US$ 50 per barel. Rebound ini ditopang oleh konsensus negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan produsen lainnya yang akan mempertahankan batasan produksi minyak demi menguras kelebihan pasokan global.

OPEC telah berjanji untuk mengurangi pasokan sebesar 1,8 juta barel per hari (bpd) sampai akhir Juni dan diharapkan pada hari Kamis (25/5) sudah ada putusan untuk memperpanjang pemotongan tersebut sampai Maret 2018.

buttrock

NEW YORK, KOMPAS.com – Harga minyak pada perdagangan Selasa atau Rabu waktu Indonesia (12/4/2017) ditutup naik setelah laporan bahwa Arab Saudi menyatakan kepada para pejabat OPEC ingin melanjutkan periode pemotongan produksi untuk enam bulan tambahan.

Harga minyak telah beranjak naik dalam rentang tertentu, yang disebabkan oleh penurunan produksi OPEC dan produsen lain di luar organisasi itu. Namun demikian, penguatan harga komoditas ini dibatasi oleh kenaikan produksi minyak serpih Amerika Serikat (AS).

The Wall Street Journal melaporkan, Arab Saudi mengatakan kepada para pejabat OPEC ingin memperpanjang periode pemotongan produksi. Anggota OPEC sebelumnya menyampaikan telah sepakat melakukan ekstensi pemotongan produksi minyak, asalkan produsen non-anggota OPEC juga terlibat.

Dikutip dari CNBC pada Rabu, patokan minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik 32 sen menjadi 53,40 dollar AS per barel. Sementara patokan minyak mentah Brent naik 19 sen menjadi 55,39dollar AS per barel.

Brent telah naik enam sesi sebelumnya, sementara WTI naik dalam lima hari terakhir. Di awal perdagangan harga sempat turun didorong ekspektasi peningkatan persediaan AS. Para analis mengatakan, ada kekhawatiran permintaan berubah, dan indikator lain seperti pasokan.

“Ada banyak ketegangan geopolitik yang meningkat di dua kubu,” kata ahli strategi pasar di Futures RJO Phil Streible.

Menurut dia, meningkatnya kekhawatiran tentang Korea Utara danSuriah dapat menekan permintaan minyak. Media pemerintah Korea Utara memperingatkan, serangan nuklir AS merupakan tanda-tanda agresi AS.

Presiden AS Donald Trump dalam sebuah Tweet mengatakan, Korea Utara mencari masalah, dan AS akan menyelesaikan masalah dengan atau tanpa bantuan China.

“Ketegangan geopolitik buruk bagi pertumbuhan permintaan global,” kata managing director Petromatrix, Olivier Jakob.

buttrock

NEW YORK, KOMPAS.com – Harga minyak pada Kamis (6/4/2017) ditutup lebih menguat, mendekati level tertinggi satu bulan. Meski begitu, pada analis tetap berhati-hati mengenai persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari CNBC, pada Jumat(7/4/2017) patokan minyak mentah berjangka Brent ditutupnaik 58 sen (1,07 persen) ke level 54,94 dollar AS per barel. Sedangkan patokan West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 55 sen (1,08 persen) menjadi 51,70 dollar AS per barel.

Sebagaimana diketahui harga minyak telah pulih dari penurunan tajam pada Maret didorong persediaan bensin yang menurun. Namun, data pemerintah AS masih menunjukkan persediaan minyak mentah yang naik ke rekor tertinggi, mendorong aksi spekulasi.

“Sulit untuk menyebut kenaikan karena fundamental,” kata Robert Yawger, direktur di Future Energy di Mizuho.

Pada Rabu atau Kamis waktu Indonesia, Administrasi Informasi Energi AS (IEA) melaporkan peningkatan mengejutkan persediaan minyak mentah sebesar 1,57 juta barel. Total saham AS menjadi 535,5 juta barel.

Sementara itu, produksi minyak mentah AS naik 52.000 barel per hari (bph) menjadi 9,2 juta bph. Konsultan Petromatrix Olivier Jakob mengatakan, kuartal kedua tahun lalu produksi lebih rendah 600.000 bph dari kuartal pertamanya.

Namun pada tahun ini kondisinya kemungkinan berbalik. “Pada kuartal kedua, Anda bisa melihat produksi AS naik 1 juta bph,” ucap Olivier. Sumber:

buttrock

oilprice.com: The American Petroleum Institute (API) reported a build of 11.6 million barrels in United States crude inventories against expert predictions that domestic supplies would see a much kinder 1.4-million-to 1.66-million-barrel build.

The build in crude oil inventories was almost 10 times what analysts had predicted and marks yet another new high in U.S. inventories. The chart below displays a 10-week cumulative build of 35 million barrels, per API data, since the beginning of the year

Cumulative changes in crude oil stocks since Jan 4, 2017

 

A few hours before the API data release, WTI and Brent benchmarks were both down despite Libya’s recent production woes, which were offset by Russia’s unimpressive less-than-50%-adherence to the production cuts. At 2:11 pm EST, WTI was trading down .04% at $53.18—about $.80 down on the week—while Brent was trading down .11% at $55.95, or $.55 down from this time last week.
Adding to this week’s bad news for oil markets, the API also reported a 788,000-barrel build in inventories at the Cushing, Oklahoma facility.

Gasoline inventories provided significant respite to this week’s crude oil build, falling 5 million barrels, sending gasoline prices for the fuel upwards. The gasoline draw, according to Zerohedge, is the largest draw since April 2014. A half hour after the data was released, gasoline was trading up .79% on the day at $1.6855.

Distillates stocks also saw a draw of 2.9 million barrels.

 

West Texas Intermediate (WTI) prices began to contract after the API report’s release, with WTI trading at $52.83 and Brent trading at $54.64.

Earlier on Tuesday, the Energy Information Administration (EIA) forecast that US crude oil production would reach new heights by 2018, to 9.7 million barrels per day. The market will watch tomorrow’s EIA inventory report at 10:30EST to see whether this week’s massive build as reported by the API is confirmed.

By Julianne Geiger for Oilprice.com

buttrock

NEW YORK kontan. Harga minyak dunia naik selama empat sesi berturut-turut pada Rabu (28/12) kemarin. Bahkan, harga minyak sempat bertengger di posisi tertingginya sejak pertengahan 2015.

Seperti yang dikutip dari CNBC, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 16 sen menjadi US$ 54,06 per barel. Ini merupakan posisi tertingginya sejak 2 Juli 2015.

Harga minyak tertekan setelah data American Petroleum Institute menunjukkan terjadinya kenaikan cadangan minyak AS sebesar 4,2 juta barel.

Sementara itu, lima analis yang disurvei CNBC meramal data yang akan dirilis Energy Information Administration Departemen Energi AS menunjukkan cadangan minyak akan turun 1,5 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Desember.

Laporan EIA sudah dijadwalkan akan dirilis pada Kamis (29/12) pukul 11.00 waktu setempat.

Sementara itu, harga kontrak minyak Brent turun 15 sen menjadi US$ 55,94 per barel pada pukul 16.41 waktu New York. Pada 12 Desember lalu, harga minyak Brent sempat bertengger di posisi US$ 57,89 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2015.

Sekadar informasi saja, harga minyak dunia sudah melompat 25% sejak pertengahan November lalu. Pemicunya adalah ekspektasi market bahwa OPEC akan memangkas suplai produksinya.

Memang, OPEC dan negara non-OPEC diharapkan akan memangkas produksi sebesar 1,8 juta barel per hari. Arab Saudi, produsen terbesar OPEC, setuju untuk memberikan kontribusi pemangkasan terbesar.

Sementara, Menteri Perminyakan Irak Jabar Ali al-Luaibi pada Rabu kemarin mengatakan, negaranya akan memangkas produksi minyak sebesar 200.000-210.000 barel per hari yang akan dimulai pada Januari mendatang.

dollar small

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah menguat pada perdagangan hari ini, Senin (19/12/2016) setelah reli dolar AS terhenti.

Harga minyak West Texas Intermediate menguat 0,46% atau US$0,24 ke posisi US$52,14 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 6.21 WIB. Pada perdagangan pekan lalu, WTI ditutup menguat US$1% ke posisi US$51,90 per barel.

Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Februari naik menguat 0,47% atau US$0,26 ke US$55,47 di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Pekan lalu, Brent ditutup menguat US$1,19 atau 2,2% ke US$55,21 per barel.

Minyak naik untuk pertama kalinya dalam tiga hari setelah sebelumnya dolar terhenti dan perhatian bergeser kembali ke pemotongan produksi diproyeksikan.

Seperti dilansir Bloomberg, penguatan harga minyak mentah pada Jumat pekan lalu dipicu oleh melemahnya nilai tukar dolar AS. Harga minyak sebelumnya melemah karena dolar AS menguat setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan, sehingga mengurangi daya tarik komoditas bagi investor.

“Alasan utama minyak menguat adalah bahwa dolar bergerak datar,” kata Bill O’Grady, kepala strategi pasar di Confluence Investment Management, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (16/12/2016).

“OPEC adalah mendapatkan manfaat dari keraguan dan ada harapan bahwa ekonomi akan tumbuh kuat tahun depan, sehingga akan meningkatkan permintaan,” lanjutnya.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak pergerakan mata uang dolar terhadap mata uang utama lainnya terpantau melemah 0,17% atau 0,17 poin ke level 102,78 pada pukul 6.32 WIB.

lol

JAKARTA kontan. Harga bahan bakar minyak (BBM) kemungkinan besar akan naik pada awal tahun depan. Pasalnya saat ini harga BBM khususnya solar yang dijual PT Pertamina (persero) jauh lebih rendah daripada di pasar internasional.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang bilang harga solar seharusnya sudah naik sejak Oktober 2016. Harga solar yang dijual Pertamina harusnya lebih tinggi Rp 1.200 per liter dari banderol Rp 5.150 per liter.
Bambang pun klaim Pertamina masih menanggung defisit harga solar sebesar Rp 700 per liter biarpun pemerintah masih memberikan subsidi solar sebesar Rp 500 per liter. Makanya Bambang memproyeksi pada Januari harga solar akan melonjak lebih tinggi mengingat harga minyak secara global mengalami kenaikan. “Nah itu pasti kenaikannya agak besar. Mungkin sekitar Rp 500 per liter,”kata Bambang pada Selasa (13/12).

Harga premium dan pertalite juga kemungkinan besar naik. Namun Bambang bilang kenaikan untuk premium dan pertalite tidak besar dan masih bisa ditanggung dengan keuntungan yang sudah didapat oleh Pertamina dari penjualan premium dan pertalite sampai saat ini.

“Premium masih untung. Biarpun mulai menipis,” ujar Bambang.

Untuk itu Pertamina pun menanti kebijakan pemerintah untuk kenaikan harga BBM pada tahun depan. “Pemerintah berani tidak menaikan harga mengikuti harga minyak pada awal tahun baru. Tabungan laba Pertamina tidak bisa dipakai buat tahun depan,”jelas Bambang.

Direktur Pembinaan Hilir Migas Kementerian ESDM, Setyorini Tri Hutami bilang saat ini harga minyak memang naik. Namun, dia belum bisa menyebut besaran potensi kenaikan harga BBM karena pemerintah masih menghitung kenaikan harga tersebut.

“Kalau keputusan belum tahu tapi trennya naik. Sekarang masih dihitung,”kata Setyorini.

Penentuan harga BBM memang baru akan diputuskan pada akhir Desember 2016 dengan memperhatikan tren harga dalam tiga bulan terakhir.

Direktur Keuangan Pertamina, Arief Budiman pun berharap Pertamina tidak mengalami defisit akibat menanggung harga BBM. “Tahun depan harga ditinjau tiga bulan sekali. Kalau tahun depan kan ada BBM satu harga, tentunya ada tambahan biaya. Formulanya kami lihatlah di Desember ini, Mudah-mudaha tidak ada defisit ya,”imbuhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: