pemilik adro … 160910_300317

inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

lol

Jakarta detik- Dalam pemikiran dan cita-cita para pendiri bangsa, sumber daya alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Mengacu pada hal tersebut, tambang-tambang mineral dan batu bara idealnya dimiliki oleh orang Indonesia, dikelola oleh orang Indonesia, teknologinya juga dikuasai oleh orang Indonesia, dan hasilnya untuk orang-orang Indonesia.

Meski demikian, dalam realitanya, kekayaan mineral dan batu bara Indonesia masih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan asing. Kekurangan perusahaan Indonesia dalam hal permodalan, teknologi, manajemen sering disebut-sebut untuk membenarkan dominasi asing di sektor pertambangan.

Tapi beberapa pengusaha nasional telah berhasil membuktikan bahwa anggapan itu tidak benar. Salah satu orang yang sukses mematahkan mitos superioritas asing itu adalah Garibaldi ‘Boy’ Thohir.

Bersama 3 orang pengusaha Indonesia lain, 12 tahun lalu Boy mengakuisisi PT Adaro Energy Tbk (ADRO), perusahaan tambang penghasil batu bara terbesar kedua di Indonesia yang awalnya dimiliki investor Australia.

Pria kelahiran 1 Mei 1965 ini bahkan berhasil membuat Adaro lebih besar dibanding saat masih dipegang orang-orang asing. Produksi batu bara Adaro yang pada 2005 masih 24 juta ton sekarang sudah melompat hingga 52 juta ton alias lebih dari 2 kali lipat.

Kinerja perusahaan pun makin kinclong. Kini Adaro juga bukan hanya berbisnis di pertambangan, tapi juga di logistik batu bara dan pembangkit listrik. Ini membuktikan bahwa orang-orang Indonesia mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri.

Bagaimana kisah sukses Boy Thohir mengakuisisi dan membesarkan Adaro? Berikut petikan wawancara khusus detikFinance dengan Boy di Menara Karya pada Kamis (29/3/2017):

Bisa diceritakan bagaimana Anda mengakuisisi Adaro dari pihak asing bersama beberapa orang kawan?
Tahun 2003-2004 ada opportunity di Kalsel. Waktu itu saya ajak Pak Teddy Rachmat (Theodore Permadi Rachmat), ada konsesi, Alhamdulillah sampai sekarang masih jalan. Itu punya Almarhum Haji Sulaiman, Hasnur Grup, di Kalsel. Singkat cerita, saya sama Pak Teddy Rachmat join 50:50, kita join lagi sama Pak Haji Sulaiman, ada tambang beliau yang tadinya sudah kolaps di 2003-2004 kita kerjain dan mulai naik.

Kemudian Pak Teddy Rachmat bilang ke saya, “Kalau mau jadi pemain, jangan tanggung. Kalau mau jadi pemain, jadi pemain sekalian.” Istilah Pak Teddy begitu lah, kita harus eksis, jangan cuma jadi penonton. Waktu itu Adaro masih dikuasai sama perusahaan Australia, namanya New Hope.

Ada opportunity, tahun 2005 harga batu bara mulai meningkat, mulai booming comodity. Kenapa? Awal 2001-2002 ekonomi China meningkat, China bangun infrastruktur gila-gilaan. Jalan, pelabuhan, PLTU, semua dia bangun karena ekonominya meningkat 10%, 11%, 12%, mereka perlu iron ore, bauksit, nikel, batu bara.

Mereka produsen batu bara terbesar dunia, tapi cadangannya di inner Mongolia, untuk transportasi batu baranya ke kota-kota pesisir mereka seperti Guangzhou, Delta River, Shanghai, mahal. Jadi mereka enggak bisa mengandalkan batu bara dari inland mereka, harus impor juga. Yang paling efisien secara geografis dari Indonesia, Australia agak jauh.

New Hope pada 1992 sudah masuk ke Indonesia, jatuh bangun, pada 2005 mereka berpikir harga sudah bagus, time to exit. Di situ lah saya sama Pak Teddy Rachmat lihat kesempatan, Pak Teddy kasih motivasi. Waktu itu Pak Edwin (Edwin Soeryadjaya) sama Pak Benny (Benny Subianto) sudah ada di Adaro, 60% dikuasai New Hope dan 40% oleh Pak Edwin dan Pak Benny. Singkat cerita, Pak Teddy bilang kita gabung saja sama mereka, why not? Makanya di 2005 kita take over dari New Hope. Kita bikin konsorsium baru yang terdiri dari Saratoga, Triputra, TNT, dan Persada Capital untuk take over Adaro Indonesia dari perusahaan asing.

Kita mempunyai satu cita-cita dan kesamaan pendapat bahwa ini ada kesempatan di batu bara, kita mau membuktikan bahwa aset-aset terbaik bangsa ini sebetulnya bisa dikelola oleh bangsa Indonesia. Pada 1992 masih asing semua, kita belajar pelan-pelan, di 2005 kita yakin pasti bisa. Saya di-support juga oleh partner-partner yang berpengalaman dan punya nama baik luar biasa, saya confident.

Tadinya Adaro di-manage dan di-operate oleh asing, akhirnya di 2005 kita yang take over. Menurut saya ini merupakan tonggak sejarah, milestone baru. Di 2005, dengan segala risiko yang ada, kemampuan yang terbatas, uang kita pinjam, tapi kita punya satu keyakinan bahwa bangsa Indonesia bisa mengelola aset-aset natural resources yang ada. Kita sebagai pengusaha nasional, pengusaha Indonesia ingin memberikan kontribusi lebih. Ini tantangan, tapi Alhamdulillah kita bisa.

Bagaimana situasi setelah Adaro diambil alih?
Enggak gampang. Kalau diingat waktu itu 2004 harga batu bara naik, eh 2006 turun. Kita sempat ketar-ketir juga. Tapi dengan kerja keras, efisiensi, fokus, value yang kita miliki, visi yang jelas semua bisa dilalui.

Waktu itu 2005 kita hanya fokus di tambang batu bara saja, belum ke yang lain. Kita melakukan efisiensi, konsolidasi ke dalam. Saya bilang ke manajemen, tolong support saya, tolong berikan dukungan penuh. Saya enggak mau teman-teman kita yang dari Australia mengatakan kalau di-take over orang Indonesia pasti kolaps.

Hampir 95% pekerja orang Indonesia, ekspatriat di Adaro dari dulu sedikit. Bahkan waktu masih dikuasai New Hope paling cuma 20 orang, sekarang paling hanya 7 orang. Tapi yang besar orang Indonesia. Saya tanya, siap enggak? Mereka (pekerja Indonesia) jawab, “Siap Pak, orang kita yang kerja kok.” Saya bilang jangan ngomong aja, kalau nanti kolaps si orang-orang Australia menertawakan kita.

Dengan motivasi itu, Alhamdulillah 2005 waktu kita take over produksi batu bara Adaro masih sekitar 24 juta ton, sekarang sudah 52,6 juta ton.

Setelah itu bagaimana langkah-langkah untuk membesarkan Adaro?
2008 kita putuskan Adaro untuk menjadi perusahaan yang lebih besar dan lebih baik lagi, kita putuskan Adaro jadi perusahaan publik supaya lebih transparan lagi, dan sebagainya. Jujur juga, waktu itu kita pinjam, leveraged buyout, LBO. Kita perlu reduce ini supaya dapat dana dari publik untuk mengurangi itu.

Dan di 2008 itu juga kita memutuskan mengubah visi kita yang tadinya hanya bertumpu pada batu bara saja, waktu itu kita sepakat ke depan kita mau lebih integrated. Jadi tidak mau tambang batu bara saja, tapi logistik dirapikan, kita juga mau masuk ke bisnis pembangkit. Dari 2008 sampai sekarang, kita fokus ke 3 pilar,yaitu mining, logistic and sercvices, sama power. Kalau dulu tambang saja, sekarang pit to port to power.

Bagaimana Anda menghadapi berbagai tantangan di industri pertambangan seperti perizinan, lahan, CnC, fluktuasi harga komoditas?
Yang penting kita fokus, permasalahan begitu banyak tapi saya punya satu rumusan. Kita kan tiap hari bangun tidur pasti ada problem. Di kantor, di rumah, urusan keluarga, every day life, apalagi di perusahaan. Tapi kita fokus satu-satu, one at the time.

Masalah tanah, kita fokus ke tanah dulu. Masalah perizinan, kita fokus perizinan dulu. Dengan cara itu kita bisa solve satu-satu. Problem come and go. Tapi kalau kita punya tim yang bagus, fokus menyelesaikan satu per satu masalah ya lama-lama kelar.

Kita semua juga sepakat bahwa yang namanya harga jual itu enggak ada yang bisa kontrol. Siapa yang bisa kontrol nanti naik atau turun? Tergantung supply dan demand, feeling saja. Misalnya kemarin terjadi badai cyclone di Australia, mestinya harga batu bara naik karena suplai terganggu. Tapi kembali, harga jual enggak ada yang bisa prediksi.

Yang bisa kita prediksi adalah cost. Makanya kita mesti bisa kontrol cost. Cost, cost, cost. Harus efisien, harus efisien, harus efisien. Sehingga kalau kita menjadi one of the lowest cost producer, kalau harga lagi turun kita bisa survive. Kalau misalnya kita enggak efisien, sama seperti gempa bumi, yang rapuh-rapuh begitu kena gempa sedikit langsung rubuh. Kita mesti menjadi one of the lowest producer mining company. Namanya komoditi selalu up and down.

Kemudian enggak bisa bergantung pada satu bisnis saja. Kalau bergantung sama mining saja ya kolaps. Mesti ada tambang, logistic services, dan power plant (pembangkit listrik). Kenapa power plant? Kita ingin memberikan kontribusi lebih pada negara dan bangsa. Value added batu bara adalah listrik. Batu bara itu mau di-upgrading, ujungnya ke listrik. Jadi nilai tambahnya kita bikin batu bara ini jadi listrik. Kebetulan di Indonesia sumber batu baranya ada. Kenapa kita enggak pakai untuk pembangunan bangsa?

Apa tips dari Anda untuk pengusaha nasional lain yang ingin mengambil alih kepemilikan perusahaan tambang dari tangan asing? Bagaimana agar setelah diambil alih perusahaan bisa makin besar?
Ada 2 poin. Pertama, enggak ada yang namanya asing lebih baik. Kita bisa, kalau kita mau kita bisa. Medco membuktikan, Adaro membuktikan, Pak Supramu (Supramu Santosa) membuktikan. Bukan kita anti asing, tapi kita juga bisa. Kita bisa rekrut ekspatriat-ekspatriat yang bagus. Kita enggak boleh kalah dari asing.

Harus ada keinginan dan niat dari kita, bahkan kita lebih bisa. Bahasa di sini, bahasa kita. Kondisi alam di sini, alam kita. Negara, negara kita. Udara, udara kita. Tanah, tanah kita. Masak enggak bisa.

Kedua, dukungan dari pemerintah, harus ada keberpihakan. Kenapa? Kalau kita kan uangnya di sini, hidupnya di sini, matinya di sini. (mca/wdl)

buttrock

Jakarta– PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sepanjang 2016 mencetak laba bersih Rp 5,7 triliun seiring diterapkannya standar akuntansi PSAK 65. Sementara porsi pendapatan dari dividen yang diraih atas investasi menyentuh Rp 622 miliar.

Presiden Direktur Saratoga Michael W P Soeryadjaya mengatakan, sepanjang tahun lalu perseroan berhasil membukukan rekor tertinggi dari sisi pendapatan dividen atas investasi. Hal itu, dapat menjadi penanda bahwa Saratoga mampu meraih kematangan portofolio investasi di sejumlah perusahaan.

“Sebagai perusahaan investasi, kami berusaha agar mencapai investasi siklus penuh (full-cycle investment). Sejauh ini, sebagian besar perusahaan investasi Saratoga telah mencapai tahap itu,” papar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (30/3).

Dia mengungkapkan, kinerja kuat Saratoga berasal dari sektor sumber daya alam (SDA) dan konsumer. Kinerja PT Adaro Energy Tbk (ADRO) tumbuh berkat pemulihan harga batu bara setelah mencapai titik terendah dalam lima tahun. Adaro juga dalam fase penyelesaian pembiayaan (financial closure) dalam proyek pembangkit listrik Jawa Tengah dengan kapasitas 2 x 1.000 megawatt (MW). “Seiring dengan hal itu, harga saham Adaro Energy pun naik dari Rp 515 menjadi Rp 1.695 per saham pada 2016,” ujar Michael.

Untuk investasi di sektor konsumer, pada 2016 PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) terus memperkuat kinerja. Pertumbuhan pendapatan MPM bersumber dari segmen pelanggan auto-parts, distribusi, sampai ritel. “Kinerja yang solid itulah yang meningkatkan harga saham MPMX dari Rp 489 menjadi Rp 820 per saham pada 2016,” papar dia.

Selanjutnya, mengenai kinerja 2016, setelah menerapkan standar akuntansi baru Saratoga berhasil membukukan pendapatan investasi sebesar Rp 6,34 triliun. Namun dari nominal tersebut, porsi senilai Rp 3,39 triliun berasal dari penyesuaian sekali waktu (one-off adjustments) yang menandai transisi dari akuntansi ekuitas menjadi nilai wajar.

Selain itu, peningkatan harga saham perusahaan investasi selama 2016 juga memberikan kontribusi sebesar Rp 2,94 triliun. Adapun, penyumbang kontribusi terbesar adalah harga saham ADRO dan MPMX.

Seiring perolehan pendapatan, tahun lalu Saratoga berhasil mencatatkan laba bersih yang jauh lebih tinggi dibanding realisasi Rp 1,45 triliun pada 2015. “Senada, pada periode sama total aset kami menjadi Rp 25,1 triliun, naik 51 persen dibanding Rp 16,7 triliun pada 2015,” ungkap Michael.

 

Devie Kania/WBP

BeritaSatu.com

ets-small

Garibaldi Thohir layak tersenyum setahun terakhir ini. Pasalnya, Presiden Direktur sekaligus CEO perusahaan tambang batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) ini menjadi semakin kaya raya.

Pengusaha berusia 51 tahun ini memiliki kekayaan sebesar US$1,1 miliar atau setara dengan Rp14,87 triliun (kurs Rp13.520 per USD) pada 2016. Alhasil, Boy kini menempati peringkat 32 dalam daftar orang terkaya Indonesia.

Bersama adiknya Erick Thohir, Boy mencatatkan kenaikan kekayaan hingga 74%. Saham Adaro merupakan salah satu saham yang mencatatkan kenaikan signifikan.

Harga saham ini sudah naik sebesar 217%. Pada akhir pekan ini, harga ADRO ditutup di Rp1.665 pada 2 Desember 2016, sementara pada 4 Desember 2015, harga saham ini hanya Rp525.

Adaro yang merupakan eksportir batu bara ini mendapat banyak keuntungan dari naiknya permintaan batu bara di India dan China.

Erick sendiri merupakan pengusaha yang memiliki sejumlah saham di dua klub sepakbola, yakni Inter Milan asal Italia dan DC United asal Amerika Serikat (AS).

http://economy.okezone.com/read/2016/12/03/320/1558132/saham-adaro-meroket-217-boy-thohir-kian-kaya-raya
Sumber : OKEZONE.COM

ets-small

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAPT Saratoga Investama SedayaTbk (SRTG) melepas sahamnya di PT Adaro Energy Tbk (ADRO)sebanyak 18.793.200 saham dalam beberapa tahapan transaksi.

Sekretaris Perusahaan Saratoga Sandi Rahaju dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa (22/11) menyebutkan bahwa pelepasan saham ini dilakukan pada 4 hingga 11 November 2016.

“Harga pelepasan dimulai dari Rp 1.630-1.730 per lembar saham,” ujarnya.

Lewat transaksi ini, SRTG akan memperoleh dana sebesar Rp 41,2 miliar.

Sebelumnya, SRTG telah menjual saham ADRO sebanyak 18,79 juta lembar dengan perolehan dana Rp 31,63 miliar.
Reporter: Ghina Ghaliya Quddus

lol

Jakarta – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menjelaskan anak usahanya, PT Adaro Indonesia (AI) akan menerbitkan saham baru maksimal 57,857 saham atau sebesar 11,53 persen.

Seluruh saham hasil penerbitan tersebut atau rights issue akan diambil EGAT International Company Limited (EGATI). Perusahaan tersebut berbasis di Thailand. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Rabu (23/11/2016).

Transaksi tersebut berlaku efektif dengan persetujuan Kementerian ESDM. Dana hasil penerbitan ini akan mendapat pembayaran bertahap senilai US$325 juta. Dengan demikian kondidi keuangan AI akan kuat lagi.

Penerbitan saham ini akan memperkuat kerja sama strategis kedua pihak untuk 20 tahun ke depan. Dalam jangka panjang keduanya akan EGATi akan membeli batu bara dari PT AI untuk mendukung pembankit yang dimiliki dan afiliasinya. EGATi adalah anak usaha dari Electricit Generating Authority of Thailand. BUMN Thailand ini bergerak dalam bisnis pembangkit tenaga listrik.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2340904/pt-adaro-lakukan-kesepakatan-ini-dengan-egati
Sumber : INILAH.COM

 

JAKARTA . Electricity Generating Authority of Thailand (EGAT) melalui unit usahanya, EGAT International Co Ltd (EGATi), resmi menyerap sebanyak 11,53% saham PT Adaro Indonesia, anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Nilai transaksi sebesar US$ 325 juta.

Transaksi tersebut berlaku efektif dengan perolehan persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Selain itu, Adaro Indonesia juga mengantongi bukti penerimaan pemberitahuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, dan EGAT telah memenuhi seluruh persyaratan dan kondisi yang disepakati.

“Dana yang dihimpun dari hasil penerbitan sebanyak 57.857 saham baru (rights issue) tersebut akan dibayarkan EGAT secara bertahap,” jelas Sekretaris Perusahaan Adaro Energy Mahardika Putranto dalam keterangan resmi, Selasa (22/11).

Menurut Mahardika, dana hasil rights issue dialokasikan untuk memperkuat kondisi keuangan Adaro Indonesia. Kerja sama strategis antara EGAT dan Adaro ke depan adalah pembelian batubara yang diproduksi Adaro Indonesia dalam jangka waktu kurang lebih 20 tahun. “Batubara ini akan digunakan EGAT untuk kebutuhan pembangkit listrik yang dimiliki perusahaan dan afiliasinya,” jelas dia.

Adaro Indonesia merupakan anak usaha utama Adaro Energy, dengan produksi batubara sebanyak 50,4 juta ton per akhir 2015. Batubara tersebut dihasilkan dari tiga tambangnya di Tutupan, Wara dan Paringin.

http://id.beritasatu.com/home/egat-kuasai-1153-saham-adaro-indonesia/153025
Sumber : INVESTOR DAILY

buttrock

INILAHCOM, Jakarta – Sektor sumber daya alam telah menopang kinerja PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sehingga bisa tumbuh sebesar 26%. Pertumbuhan perseroan menjadi Rp 17,1 triliun pada 30 Juni 2016 dari Rp13,6 triliun pada 31 Desember 2015.
Pertumbuhan ini terutama diperoleh dari peningkatan nilai pasar dari investasi Perseroan di sektor sumber daya alam serta didukung oleh kinerja kuat dan berkelanjutan perusahaan investasi di sektor infrastruktur dan konsumer.

Pada periode ini, Saratoga tercatat berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp4,8 triliun. Anga tersebut mencakup one-off gain sebesar Rp2,2 triliun. Sementara sebesar Rp 2,6 triliun sebagian besar dari kontribusi peningkatan nilai pasar atas investasi Saratoga di Adaro Energy dan Tower Bersama.

Di awal tahun ini, Saratoga masuk ke sektor rantai pasokan logistik pendingin (cold-chain logistics) dengan mengakuisisi saham PT Mulia Bosco Logistik (MGM Bosco). Transaksi tersebut memberikan peluang yang sangat baik bagi Saratoga dalam membangun platform di sektor cold-chain logistics yang sangat menarik.

Hal ini mengingat selain memiliki pertumbuhan tinggi, sektor ini juga memiliki prospek yang cerah sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur logistik vital di negara ini.

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2314947/sumber-daya-topang-kinerja-pt-saratoga#sthash.9izlG69Z.dpuf

new-chin-year-dragon-02

JAKARTA – Tahun ini tampaknya bukan tahun keberuntungan bagi para miliarder Indonesia. Terpuruknya kondisi ekonomi, salah satunya akibat harga komoditas, membuat kekayaan para orang-orang superkaya ini tergerus.

Dilansir Forbes, Jumat (4/12/2015), kekayaan 50 orang terkaya Indonesia mengalami penurunan sebesar 9 persen, atau sekira Rp120 triliun. Tercatat, ada 28 miliarder Indonesia mengalami penurunan kekayaan.

Yang mengalami penurunan kekayaan drastis adalah Edwin Soeryadjaya (menempati peringkat 33 dalam orang terkaya versi Forbes) dan Sukanto Tanoto (peringkat 34).

Edwin Soeryadjaya memiliki 60 persen dari PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), yang memiliki bisnis batu bara, minyak dan gas dan CPO. Saham perusahaan ini anjlok sekira 30 persen. Kekayaan Edwin pun mengalami penurunan USD370 juta (atau Rp4,9 triliun, kurs Rp13.350 per USD) menjadi USD930 juta dibanding pada 2014 yang sebesar USD1,3 miliar.

Sementara itu, Tanoto yang merupakan pemilik Asian Agri, mengalami penurunan kekayaan akibat anjloknya harga CPO.

(wdi)

doraemon

Jakarta.  Pemilik sekaligus pendiri kelompok usaha PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), Sandiaga Uno, memutuskan mundur dari jabatan presiden direktur. Keputusan itu telah disetujui para shareholders dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) Saratoga, Rabu (10/6).

Sandiaga Uno mengatakan, pengunduran dirinya merupakan keputusan pribadi dalam rangka mengejar aspirasi politik. Sesuai rencana, Sandiaga Uno akan bergabung dalam dewan penasihat partai Gerindra.

“Dengan melepas seluruh jabatan di perusahaan, saya berharap dapat menghindari benturan kepentingan. Saya ingin fokus kepada kegiatan baru di politik nanti,” kata Sandiaga usai RUPS, di Jakarta.

Sebagai penggantinya, pemegang saham telah menunjuk Michael Soeryadjaya menjadi presiden direktur. Sebelumnya, Michael Soeryadjaya menjabat sebagai direktur perseroan.

Pada saat yang sama, Presiden Direktur Saratoga Michael Soeryadjaya mengatakan, perseroan akan memperkuat bisnis dengan mengoptimalkan investasi di tiga sektor utama yakni konsumer, infrastruktur, dan sumber daya alam (SDA). Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah dan kelas menengah yang kuat, potensi bisnis di Indonesia akan semakin terbuka luas. “Saratoga siap menyonsong era baru dan akan memperkuat posisinya sebagai perusahaan investasi aktif,” ungkap Michael.

Menurut dia, strategi perusahaan tidak akan berubah, yakni mencari peluang untuk berinvestasi. Strategi ini terbukti mampu meningkatkan kinerja perusahaan selama 15 tahun terakhir. “Kecermatan dalam berinvestasi akan terus dijaga untuk memastikan nilai tambah yang optimal bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,” imbuhnya.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/281313-sandiaga-uno-mundur-dari-saratoga.html
Sumber : BERITASATU.COM

big-dancing-banana-smiley-emoticon

JAKARTA okezone – Setelah mengundurkan diri dari PT Adaro Energy Tbk (ADRO), Sandiaga S Uno juga mengundurkan diri sebagai Presiden Direktur (Presdir) PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).

Sekretaris Perusahaan Saratoga Ira Dompas menuturkan, perusahaan menerima surat pengunduran diri Sandiaga pada 22 April 2015.

Selanjutnya, perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) dengan agenda perubahan susunan direksi. “Hal tersebut terkait dengan diterimanya surat pengunduran diri Sandiaga,” sebut dia dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (24/4/2015).

Pada 16 April, Sandiaga juga telah mengajukan surat pengunduran diri dari PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Di perusahaan tambang batu bara ini, dirinya menjabat direktur.

Ada banyak rumor terkait pengunduran pria yang akrab disapa Sandi ini. Sandi pun mengaku jika dirinya tengah fokus ke hal lain. “Iya, ada tugas baru lainnya, yang mana saya butuh fokus,” kata Sandi.

Saat ini, Sandi mengatakan dirinya tengah berada di Boston, Amerika Serikat (AS) sehingga agak sulit menghubunginya. “Maaf saya sedang ada di Boston,” sebut dia.

(wdi)

dollar small

JAKARTA – Pengunduran diri Direktur General Affairs PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) Sandiaga Salahuddin Uno telah disetujui oleh pemegang saham.

Berdasarkan keterangan resmi perseroan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (23/4/2015), disebutkan pengunduran diri Sandiaga Uno disahkan dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) di Hotel JS Luwansa Jakarta.

“Pada RUPS tersebut direksi Adaro Energy menyampaikan informasi pengunduran diri Sandiaga Salahuddin Uno berdasarkan surat yang diterima perusahaan pada 16 April 2015,” tulis perseroan.

Pemegang Adaro Energy juga menyepakati pembagian dividen sebanyak US$75,49 juta atau setara dengan 42% dari perolehan laba 2014.

Total dividen tersebut terdiri dari dividen tunai interim sebesar US$30,07 juta yang dibayarkan pada 16 Januari 2015, dan dividen tunai final sebesar US$45,42 juta.

Sepanjang tahun lalu, perseroan membukukan penurunan laba bersih 21% menjadi US$183,5 juta tertekan harga batubara yang rendah disebabkan kelebihan pasokan sedangkan permintaan di China melemah. Adapun laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$178,16 juta

Selain menyepakati besaran dividen, pemegang saham juga menyetujui penggunaan laba senilai AS$1,78 juta untuk penyisihan cadangan, serta US$100,89 juta digunakan untuk laba ditahan.

http://market.bisnis.com/read/20150423/192/426163/adaro-energy-pengunduran-diri-sandiaga-uno-disahkan-rups
Sumber : BISNIS.COM

buttrock

Financeroll – Sandiaga Salahuddin Uno mengajukan surat pengunduran diri dari jabatannya sebagai Direktur General Affairs PT Adaro Energy Tbk. (ADRO).

Hal itu tertuang dalam keterbukaan informasi yang disampaikan Sekretaris Perusahaan Adaro Energy Mahardika Putranto kepada Bursa Efek Indonesia.

“Pada 16 April 2015, kami telah menerima surat pengunduran diri dari Bapak Sandiaga Salahudin Uno selaku Direktur Perseroan,” paparnya.

Namun, dalam keterangan tersebut tidak dijelaskan lebih rinci alasan pengunduran diri salah satu pemilik perusahaan private equity Saratoga Capital itu.

Namun, Mahardika mengatakan perseroan akan menyelenggarakan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) terkait susunan direksi perseroan, dan jadwal tersebut akan diumumkan kemudian kepada publik.

Emoticons0051

Alasan dibalik meroketnya kinerja Saratoga
Oleh Merlinda Riska – Rabu, 30 April 2014 | 17:10 WIB
kontan

JAKARTA. PT Saratoga Investama Tbk (SRTG) selama kuartal satu (q1) 2014 catatkan kinerja positif. Pemicunya adalah tiga sektor bisnis utama perseroan yaitu konsumer, infrastruktur dan sumber daya alam.

Chief Financial Officer PT Saratoga Investama Sedaya Jerry Ngo menyatakan, sektor konsumen dan infrastruktur masih terus melanjutkan penguatan bisnis, sejalan dengan membaiknya perekonomian domestik.

“Kami optimis tahun 2014 akan memberikan kinerja yang lebih optimal, mengingat potensi pertumbuhan ekonomi baik global maupun domestik akan lebih tinggi daripada tahun 2013. Meski demikian, Saratoga akan tetap fokus melakukan investasi secara disiplin untuk meraih hasil yang optimal,” katanya.

Hal-hal di bawah inilah yang menjadi pemicu pertumbuhan perseroan:

Sektor bisnis produk dan jasa konsumen

PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk, perusahaan konsumer otomotif yang tumbuh cepat, menunjukkan performa gemilang dengan mencatat pendapatan sepanjang Januari–Maret 2014 sebesar Rp 3,64 triliun. Angka tersebut meningkat 13% dibandingkan periode sama tahun 2013 yang sebesar Rp 3,23 triliun. Selama q1 2014, laba bersih Perseroan juga melonjak signifikan sebesar 32% mencapai Rp 152 miliar, dibandingkan dengan Rp 115 miliar di periode yang sama di 2013.

Pada q1 2014, Saratoga telah menambah kepemilikan efektif di MPMX sebesar Rp 143 miliar sehingga persentase kepemilikan efektif naik dari 45,09% menjadi 47,22%.

Sektor bisnis infrastruktur

Hingga q1 2014, PT Tower Bersama Tbk (TBIG) terus memperkuat bisnisnya dengan menambah infrastruktur dan jaringan telekomunikasi baru. Saat ini TBIG merupakan perusahaan penyewaan menara telekomunikasi terbesar dengan jumlah 10,134 site pada akhir tahun 2013.

Sektor bisnis kilang minyak

PT Tri Wahana Universal (TWU) berhasil mencetak kinerja yang sangat baik. Kontribusinya sangat signifikan terhadap kinerja konsolidasi Saratoga. Volume produksi harian TWU meningkat dari 5.722 bopd tahun lalu menjadi 13,674 bopd tahun ini. Saat ini TWU merupakan satu-satunya perusahaan kilang minyak swasta di Indonesia.

Sektor pembangkit tenaga listrik

PT Medco Power Indonesia (MPI), proyek Sarulla adalah proyek tenaga geothermal (panas bumi) dengan kapasitas pembangkit listrik sebesar 330 MW. Ini merupakan site proyek geothermal tunggal terbesar di dunia.

Sektor bisnis sumber daya alam

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) berhasil mencatat penjualan batubara sebanyak 52.3 juta metrik ton batubara pada tahun 2013, naik 10% dari 2012. Secara finansial, Adaro mampu membukukan penjualan senilai US$ 3.3 miliar dengan laba bersih sebesar US$ 229 juta di tahun 2013. Pada kuartal I 2014, Adaro mampu membukukan produksi batubara sebesar 13,99 juta ton sehingga mampu mendukung pencapaian target produksi sebesar 54 MT hingga 56 MT (tergantung persetujuan pemerintah) untuk 2014.

Sektor perkebunan

Provident Agro berhasil meraih kenaikan penjualan sebesar 12.2% menjadi Rp 153 miliar. Saat ini Provident memiliki perkebunan di Sumatera dan Kalimantan seluas 106.000 hektar, dengan 45.297 hektar tanah yang telah ditanami.
Catatan saja, laba bersih Saratoga di kuartal I melesat hingga 383% secara year on year (yoy), dari Rp 92 miliar menjadi Rp 444 miliar. Demikian pula halnya dengan pos pendapatan yang tumbuh 169% secara yoy dari Rp 583 miliar menjadi Rp 1,6 triliun.

Editor: Barratut Taqiyyah

butterfly

Rabu, 15/09/2010 10:24:26 WIB
Sandiaga Salahuddin Uno
Om William itu mentor saya
Oleh: M. Munir haikal, Abraham Runga Mali, Ratna Ariyanti

Bisnis Indonesia, dalam rangka HUT ke-25, menampilkan sejumlah tokoh bisnis yang inspiratif. Tulisan kali ini menampilkan Sandiaga Salahuddin Uno, pemilik Saratoga Group dan Recapital Group.

Mengawali wawancara di kantornya Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan: “Saya merasa tersanjung. Mudah-mudahan bisa memberi inspirasi.” Berikut penuturannya tentang pengalamannya dalam menggeluti bisnis.

Bisa diceritakan awal mulai terjun di dunia ini?

Waktu kembali dari luar negeri 1997 situasi terpuruk, nggak punya pekerjaan, maka terpikirlah untuk bikin sesuatu. Kebetulan aku kan punya background finansial, sekolahnya juga di situ. Waktu di luar negeri ketika ikut Pak Edward (Edward Soerjadjaja) itu memang menekuni keuangan dan investasi.

Sementara Rosan juga backgroundnya sama. Maka kami buat perusahaan konsultasi keuangan. Klien-klien kami yang pertama adalah perusahaan yang tertimpa krisis.

Lalu kapan mulai aktif membangun Saratoga?

Pada 1998 ini saya mendapat peluang untuk bertemu lagi sama Pak Edwin. Karena sudah lama nggak ketemu, Pak Edwin menawarkan waktu itu bagaimana kalau mendirikan Saratoga. Saratoga itu lebih ke perusahaan private equity investing. Lebih ke arah investasi bukan konsultan keuangan seperti Recapital gini. Ya kami sudah mulai mengembangkan Saratoga pada akhir 1998.

Dulunya Recapital itu murni memberikan advice keuangan, terus berkembang sehingga memiliki underwriting, sekuritas, terus berkembang punya asset management, punya asuransi, terus mulai jadi punya bank. Mimpinya ini hanya jadi financial advices saja.

Transaksi yang jadi milestone untuk Recapital?

Yang pertama kali, transaksi yang membuat kami hidup ya, kalau saya pribadi mengerjakan restrukturisasi Jawa Pos Group, milik Pak Dahlan Iskan. Waktu itu Jawa Pos mengalami kesulitan di unit properti mereka di Surabaya.

Saya ingat sekali dengan Pak Eric Samola dan Pak Dahlan Iskan, malam-malam membuat struktur penyehatan kembalinya dan akhirnya disetujui oleh Prakarsa Jakarta. Kita pertama kali dibayar fee US$10.000 oleh Pak Dahlan pada 1997 akhir.

Pantas Jawa Pos menjadi hebat…

(Tertawa). Dan saya nggak pernah lupa hubungan dengan Pak Dahlan dan keluarga Samola. Mereka juga ingat setiap tahun, setiap anniversary wafatnya Pak Eric selalu diingetin. Wah kala nggak dulu, nggak sempat terestrukturisasi, mungkin kami nggak survive sekarang. Saya senang Jawa Pos jauh lebih besar dan berada di mana-mana karena dulu hanya properti dan koran.

Kalau buat saya yang memorable mungkin itu, karena salah satu restrukturisasi pertama yang tersulit dan waktu itu fee-nya dibayar bisa menghidupi kantor. Kalau Pak Rosan katanya McDonald. Dia juga nggak akan pernah lupa itu.

Saya lihat dia ngetik sendiri, dia antar ke calon investor untuk membeli promisory note Ramako Gerbang Mas.

Bagaimana membagi waktu antara Saratoga dan Recapital?

Waktu awal 2000, Pak Edwin bilang sama saya, ini Saratoga harus lebih ditekuni. Karena waktu itu kita coba nge-bid buat Astra gagal, buat BCA gagal. Dia bilang saya mesti full time untuk besarin Saratoga.

Mulai awal 2000 itu full time, di Recapital mundur. Kalau di Saratoga salah satu transaksi yang paling awal dan menarik buat kita di 2001 waktu kami mengambil alih Adaro dan nggak lama setelah itu Sumalindo. Setelah dua kegagalan mengambil alih Astra dan BCA gagal. Berhasil melakukan investasi di Adaro dan Sumalindo, setelah itu berkembang terus.

Sekarang sih gampang karena saya nggak megang lagi di Recapital sudah nggak day to day dan detail. Di Recapital saya cuma ya sebagai pendiri, aktif di yayasan Recapitalnya, kalau ada keputusan-keputusan penting yang Pak Rosan harus consult ke saya, diajak bicara, tapi kalau untuk eksekusinya sudah nggak terlibat.

Kalau Pak Rosan?

Pak Rosan sih setiap hari. Di Saratoga dia komisaris, posisinya samalah sama saya. Bolak-balik.

Apa pelajaran selama mengikuti bisnis keluarga Om William?

Saya beruntung waktu itu sering dikirim sama Pak Edward untuk minta duit ke bapaknya. Jadi setiap ketemu sama beliau, saya perhatikan apa resep suksesnya beliau. Beliau itu punya satu yang membuat saya terkesan sampai sekarang. Pak William mentor saya karena kepekaan dan kepeduliannya terhadap sekelilingnya dan bagaimana dia bisa membaca tren ke depan.

Dia nggak melihat bisnis-bisnis yang kita hadapi hari ini saja ternyata dia melihat 10-20 tahun ke depan. Terbukti setelah Pak William kembangkan otomotif, walaupun pengelola dan manajemen menolak Astra untuk diversifikasi ke agro, ke sawit, dia paksakan dengan uangnya sendiri, sampai dia buktikan bahwa itu sekarang menjadi portofolio yang paling penting buat Astra. Begitu dengan awal-awal bisnis mereka di pertambangan.

Pernah juga waktu itu mereka melihat dari segi telekomunikasi, Astra kan sempat mau masuk ke telekomunikasi di zamannya Pak Edwin, itu kan jauh lebih awal dari yang lain-lain. Itu bagaimana visi dikembangkan. Itu satu yang saya lihat.

Yang kedua, Om William di kredonya Astra itu bukan menjadikan Astra perusahaan terbesar, menjadikan Astra menjadi perusahaan terbaik, atau menjadikan Astra sebagai perusahaan teruntung. Tapi nomor satu menjadikan Astra sebagai aset bangsa, jadi nasionalismenya itu kental banget untuk seorang keturunan China.

Pak Willam itu luar biasa, bahwa dia melihat yang pertama itu bangsa. Bangsa dan negara, rakyat. Dia sangat peduli. Saya ingat sekali waktu terjadi bakar-bakaran 1998, semua orang itu sudah pada pergi tuh. Dia jalan-jalan pakai celana pendek sama kita pakai Land Cruiser, mobilnya dia, terus saya ikut di belakang. Menengok daerah sekitarnya yang terbakar. Sampai dipaksa-paksa sama anaknya baru dia ke Singapura. Dia itu peduli sekali dengan sekitarnya.

Bagaimana ceritanya bisa ikut keluarga Om William?

Pak Edward lah. Pak Edward itu kawan lama dari ayah saya. Jadi waktu Pak Edward mau masuk bisnis minyak dan gas bumi, ayah saya waktu itu bekerja di Caltex, mereka berkolaborasi untuk grupnya. Kenal, kenal, kenal, tapi nggak memiliki kedekatan secara bisnis. Waktu saya kecil, umur 6 tahun kalau nggak salah ketemu di salah satu acara, Pak Edward pernah nyampain ke ibu saya,Sandi satu waktu akan ikut saya.

Ya alhamdulillah, kata ibu saya, mudah-mudahanlah. Ketika lulus S1 ketemu di salah satu acara kawinan, ini loh yang dibilang dulu mau ikut Bapak. Dia bertanya, oh ya udah selesai?.

Dia buka kartu nama dan minta untuk segera menelepon keesokan harinya. Lalu Pak Edward bilang kamu mulai Senin gabung di grup. Ya sudah. Di situ langsung, nggak pakai interview. Kerja setahun setengah ikut program beasiswanya dari grup dikirim ambil S2. Kembali lagi, grupnya collapse.

Selama 8 tahun berikutnya ikut Pak Edward melanglang buana waktu Pak Edward nggak ada di Indonesia. Di situ aku kenal betul satu sosok pengusaha yang memiliki visi dan juga banyak belajar dari Pak Edward. Karena dia visinya mirip-mirip sama Om William sebetulnya, tapi bedanya Om William didukung sama Astra yang punya manajemen yang kuat.

Setelah berhasil di bisnis, punya rencana untuk ke politik?

Alhamdulillah belum ada (tertawa). Karena politik mungkin binatang lain. Saya sering geleng-geleng kepala kalau melihat satu hal di dalam bisnis yang kalau diteropong, misalnya Bank Century, sangat jelas bagi kami di dunia bisnis, begitu melalui proses politik perkembangannya bisa ke mana-mana. Wah hebat juga. Ini gila nih kalau masuk ke ranah politik.

Satu hal yang sebetulnya kelihatannya jelas sekali ternyata sangat tidak jelas, hal yang sangat salah tiba-tiba sangat benar, terus hal yang sangat benar bisa salah gitu loh. Parameter dan hitung-hitungannya totally lain. Mungkin perut saya belum mencerna dinamika di politik. Saya rasa mungkin salah satu naik kelasnya seseorang yang sudah sukses di bisnis itu nggak semua ke politik, tapi mungkin di bidang sosial.

Saya rasa itu (bidang sosial) salah satu pilar yang kurang terjaga. Ke politik itu akhirnya semuanya mengejar kekuasaan, nggak membangun kelembagaannya, saya belum melihat secara politis bahwa ideologi politik itu menjadi panglima, tapi semuanya sangat case by case, ad hoc, pragmatis, dan lain-lain. Menarik sih ini kan demokrasi muda. Tetapi kalau melihat sampai hari ini belum ada yang menggerakkan hati saya untuk ke sana.

Biografi
Nama Lengkap Sandiaga S. Uno
Lahir Rumbai, 28 Juni 1969
Istri Noor Asiah
Anak
Anneesha Atheera Uno
Amyra Atheefa Uno
Pendidikan
Studi di Wichita State University
Master di George Washington University

rose KECIL

ADRO menyiasati aturan … 161114_200416

recycle

JAKARTA kontan. Proses renegosiasi kontrak tambang batubara terus berjalan. Salah satu perusahaan pemegang Perjanjian Karya Perusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) Generasi I yakni PT Adaro Energi Tbk (ADRO) mengklaim sudah menerima semua poin renegosiasi kontrak.

Direktur Adaro M. Syah Indra Aman mengatakan, Adaro sudah menyepakati enam poin strategis yang menjadi payung hukum renegosiasi dengan pemerinah. “Adaro sudah selesai. Kini kami tunggu kelanjutan prosesnya oleh pemerintah. Saya dengan dari Asosiasi Perusahaan Batubara (APBI) akan ada langkah selanjutnya,” ujarnya, (19/4).

Adapun amandemen kontrak yang disepakati adala: luas wilayah kerja, kelanjutan operasi pertambangan, penerimaan royalti dan pajak untuk negara, kewajiban pengolahan dan pemurnian, kewajiban divestasi, serta penggunaan tenaga kerja, barang dan jasa dalam negeri.

Ia mengklaim, manajemen Adaro sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan Kementerian ESDM mengenai proses renegosiasi kontrak ini. “Kami sudah sepakat semua, begitu juga dengan soal pengembalian lahan. Kami akan mengembalikan wilayah tapi tidak besar,” tandasnya.

Syah Indra menyebut amandemen kontrak merupakan tindak lanjut kepastian usaha bagi para perusahaan pertambangan. Adanya perubahan dalam kontrak harus ada kesepakatan dari kedua belah pihak.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan renegosiasi kontrak PKP2B Generasi I dan II harus selesai tahun ini. Apalagi, pemegang PKP2B Generasi III yakni 22 perusahaan sudah lebih dulu meneken amandemen kontrak.

Berdasarkan Undang-Undang nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara itu, amandemen kontrak hasil renegosiasi dengan pemegang Kontrak Karya (KK) dan PPKP2B seharusnya sudah diteken semua paling lambat pada tahun 2010 lalu.

Faktanya, harus molor dari target. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan, proses amandemen kontrak pertambangan ini sudah terlalu lama molor dari jadwal. Makanya, ia berharap perusahaan-perusahaan tambang segera datang untuk bernegosiasi dengan pemerintah.

“Kalau belum ketemu terus ya bisa saja pemerintah bilang take it or leave it. Kalau mereka (PKP2B) tidak mau nanti kami pikirkan konsekuensinya sesuai hukum,” tuturnya.

JAKARTA kontan. Lama tak terdengar gaungnya, salah satu perusahaan Perjanjian Karya Perusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi pertama, yakni PT Adaro Energi (tbk) membuka mulut terkait renegosiasi kontrak yang sampai saat ini belum disepakati.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan renegosiasi kontrak generasi pertama harus selesai pada tahun ini. PT Adaro Energi (tbk) mengklaim pihaknya sudah menyepakati enam isu yang menjadi tolak ukur dari renegosiasi kontrak tersebut.

Adapun enam isu strategis pada amandemen kontrak tersebut, yakni luas wilayah kerja, kelanjutan operasi pertambangan, penerimaan negara, kewajiban pengolahan dan pemurnian, kewajiban dvestasi, dan kewajiban penggunaan tenaga kerja serta barang dan jasa dalam negeri.

Direktur Adaro, M.Syah Indra Aman mengatakan, kesepakatan yang ada dalam enam isu strategis itu merupakan payung hukum yang memang patut disepakati.

“Adaro sudah selesai dan kami tunggu kelanjutan dari prosesnya oleh pemerintah dan dari APBI kita dengar langkah selanjutnya,” terangnya, Selasa (19/4).

Namun, menurut Syah Indra, amandemen kontrak merupakan tindak lanjut kepastian usaha para perusahaan pertambangan apabila perlu adanya perubahan. Jadi menurutnya, renegosiasi kontrak harus ada kesepakatan antara kedua belah pihak.

“Mestinya itu kan menandatangani perubahan yang dirasakan perlu. Sehingga usaha itu harus kedua belah pihak paling tidak dari sisi Adaro kita siap,” urainya.

Ia mengklaim, pihaknya sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan Kementerian ESDM mengenai proses renegosiasi kontrak ini. Dari pertemuan itu, Syah Indra bilang, pihaknya sudah menyepakati ke enam isu renegosiasi tersebut.

“Kita sepakat semua, begitu juga dengan isu soal lahan yang kembalikan. Kalau kita lihat UU Minerba, itu menyatakan bahwa perusahaan tambang yang melakukan study penggunaan lahan dan disetujui pemerintah tidak ada pengurangan wilayah. tapi kita akan mengembalikan wilayah tapi tidak besar,” tandasnya.

Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara itu, amandemen kontrak hasil renegosiasi dengan pemegang Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) seharusnya diteken paling lambat pada 2010. Artinya, amandemen kontrak molor hingga tujuh tahun.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan, amandemen kontrak harus selesai pada tahun ini. Menurutnya, kewajiban tersebut sudah terlalu lama molor.

Bambang menegaskan, pemerintah siap bertindak tegas apabila para pemegang kontrak tersebut masih keukeuh tidak menyepakati klausul yang diajukan pemerintah.

“Kalau belum ketemu terus ya bisa saja pemerintah bilang take it or leave it. Kalau mereka tidak mau ambil nanti kita pikirkan konsekuensinya sesuai hukum,” tuturnya

Dia mengungkapkan selama ini pertemuan dengan para pemegang kontrak sangat sulit dan tidak dilakukan secara teratur. Maka demikian ia mengultimatum bahwa tidak ada lagi ruang untuk negosiasi apabila tidak diselesaikan tahun ini.

“Amandemen sudah harus selesai tahun ini. Sudah tidak ada lagi ruang bagi mereka untuk negosiasi,” tandasnya.

doraemon

 rose KECIL

JAKARTA. Emiten tambang batu bara berkapitalisasi pasar Rp19,03 triliun, PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) membidik target produksi pada tahun ini flat bila dibandingkan dengan realisasi tahun lalu lantaran harga komoditas tersebut belum membaik.

Direktur Utama Adaro Energy Garibaldi Thohir, mengatakan pada tahun ini bisnis tambang batu bara masih belum cerah lantaran harga komoditas tak kunjung membaik.

Orang terkaya ke-42 di Indonesia versi majalah Forbes, dengan nilai kekayaan US$650 juta itu, menargetkan produksi batu bara tahun ini stagnan.

Emiten beraset US$6,21 miliar tersebut membidik target produksi 52 juta ton hingga 54 juta ton. Target tersebut lebih rendah 2 juta ton dari rencana kerja dan anggaran berlanja (RKAB), dan flat dari produksi tahuh lalu.

Belanja modal (Capital expenditure/Capex) yang disiapkan Adaro pada tahun ini mencapai US$75 juta hingga US 100 juta. Mayoritas belanja modal akan digunakan untuk lini bisnis pertambangan batu bara, dan sisanya bagi kelistrikan, serta logistik.

“Kelistrikkan biasanya menggunakan project financing, kami juga mengajak partner,” tuturnya, Senin (22/2/2016).

Analis PT Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menilai ekspansi pembangunan power plant hanya dapat dilakukan oleh perusahaan besar dengan belanja modal yang tak sedikit. Emiten tambang batu bara tidak lagi dapat mengandalkan pendapatan dari batu hitam ketika harga komoditas terus melorot.

Pembangunan power plant, katanya, tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, Sehingga, kontribusi pendapatan dari sektor kelistrikan bagi Adaro bakal terasa sekitar 3-4 tahun mendatang.

Secara bisnis, sambungnya, pertambangan batu bara memang tengah terancam. Terlebih, harga komoditas yang mengikuti terus anjloknya harga minyak mentah dunia, tidak ada yang tahu kapan bakal kembali pulih.

“Mau enggak mau Adaro harus sekuat tenaga membangun power plant. Kalau mengandalkan batu bara itu sulit, mereka harus hilirisasi, berjualan listrik,” tuturnya secara terpisah.

http://market.bisnis.com/read/20160223/192/521621/harga-batu-bara-belum-pulih-target-produksi-adaro-energy-flat
Sumber : BISNIS.COM

reaction_1

JAKARTA. The Energy and Mineral Resources Ministry’s directorate general for minerals and coal is expecting to seal amendments to at least three mining contracts of work by this year end.

The three amendments to be completed were those involving copper miner PT Freeport Indonesia, coal firm PT Adaro Indonesia and nickel company PT Weda Bay Nickel, according to minerals and coal director general R. Sukhyar.

“With Freeport, we have to complete the amendment this year. The sooner the better, because the company will also conduct a divestment, which, according to the new regulation, should be started next year,” Sukhyar said.

He was referring to the new regulation, No. 77/2014, which highlights a number of changes from previous regulations, particularly on the divestment requirement for foreign direct investment firms. The regulation states a company involved in underground mining, such as Freeport Indonesia, has to divest 30 percent of its shares to Indonesian shareholders. Freeport Indonesia, which has been operating in the country since 1967, is currently 90.64 percent owned by US giant Freeport McMoRan and 9.36 percent by the Indonesian government.

The regulation states that a company that has been operating in Indonesia for more than five years must have divested 20 percent of its shares one year after the regulation was passed and have completed the divestment within five years after the regulation was passed.

As for Adaro, Sukhyar said, the drafting of the company’s contract of work amendment was waiting for an understanding about a tax issue with the Finance Ministry. Meanwhile, the drafting of the amendment for Weda Bay Nickel had not progressed much yet, but Sukhyar was upbeat that it would also be concluded by the year end.

“The company is still asking for incentives as it is developing a project in the eastern part of Indonesia. However, I said, the incentives issue can be settled while the company is constructing its project,” he said.

As a mandate of the 2009 Mining Law, the government is struggling to renegotiate a number of mineral and coal contracts of work agreed in the past so they conform with the new regulations. As many as 107 contracts of works exist, consisting of 73 for coal mining and 34 for minerals.

Under the law, renegotiation should have been completed within one year after the law passed. However, the complexity of issues in the renegotiations has hampered progress. The government recently finished the amendment to the contract of work with PT Vale Indonesia, the first to be completed since the Mining Law passed.

Out of the remaining 106 contracts of work, the minerals and coal office has sealed memorandums of understanding (MoU) with 83 firms. The MoUs highlight principal agreements from the mining companies regarding adjustments to their contracts of work. Most of the MoUs, which must be followed by the drafting of the amendment to become effective, were inked when the country was in the process of transition from president Susilo Bambang Yudhoyono’s government to the new government.

One issue has been whether the new government would maintain or review policies related to the MoUs for contracts of work.

Indroyono Soesilo, the coordinating maritime affairs minister, who oversees several ministries, including the Energy and Mineral Resources Ministry, said in an interview that the new government was open to the possibility of reviewing the agreements.

“We will discuss it. What is certain is that the MoUs are not contracts, they are only understandings,” Indroyono said.

Sukhyar said that any adjustment to the agreements should be detailed.

“Any change will have consequences. MoUs highlight the central issues that companies have agreed upon,” he said.  (Raras Cahyafitri)

Editor: Hendra Gunawan

long jump icon

INILAHCOM, Jakarta – PT Adaro Indonesia Tbk (ADRO), salah satu perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) telah menyepakati renegosiasi melalui nota kesepahaman amandemen kontrak.

Dirjen Minerba Kementerian ESDM, R Sukhyar mengatakan nota kesapahaman dilakukan pada 18 September 2014. “Adaro sudah sepakati renegosasi. Kamis kemarin tandatangan nota kesapahamannya,” kata Sukhyar di Jakarta, Jumat (19/9/2014).

Diketahui Adaro merupakan perusahaan tambang pemegang PKP2B generasi pertama. Sejak pembahasan renegosiasi dengan perusahaan nasional ini ada sejumlah poin dari enam item renegosiasi yang dibahas cukup alot.

Dari enam poin tersebut, ada dua item yang cukup memakan waktu. Hal ini antara lain penciutan luas wilayah konsesi tambang dan perubahan mekanisme izin usaha menjadi Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Adaro mendapatkan kontrak PKP2B sejak 1982, dan baru melakukan produksi secara komersial pada 1992. Kontrak tersebut akan berakhir pada 2022. Luas areal tambang Adaro mencapai 34.940 hektar yang berada di Kalimantan Selatan.

“Adaro bersedia mengembalikan 6.000 hektar,” kata Sukhyar. [hid]

long jump icon

adro BERUTANk lewat anak … 220211-231215

Topsaham- PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menyatakan telah meraih pinjaman dari 12 bank sebesar US$3,552 miliar . Nilai penawaran pinjaman tersebut lebih tinggi 11 kali dibandingkan dengan pinjaman yang diajukan oleh anak usaha Adaro.

Sekretaris Perusahaan Makardika Putranto dalam suratnya yang disampaikan ke BEI, Rabu (23/12) memaparkan, fasilitas pinjaman tersebut akan ditandatangani oleh dua anak usaha yaitu PT Saptaindra Sejati (SIS) dan PT Maritim barito Perkasa (MBP) dengan 12 bank pada 21 Desember 2015.

Fasilitas kredit ini untuk berjangka waktu enam tahun. SIS akan menerima pinjaman sekitar US$200 juta dan ASid=”mce_marker”20 juta untuk MBP. Nilai penawaran pinjaman tersebut lebih tinggi 11 kali dibandingkan dengan pinjaman yang diajukan oleh entitas usaha Adaro.

Kedua fasilitas pinjaman yang diajukan oleh SIS dan MBP untuk membiayai kembali utang atau refinancing fasilitas pinjaman SIS tertanggal 18 Februari 2011 serta fasilitas pinjaman MBP tertanggal 29 Mei 2015.

Pada periode Januari-September 2015, perusahaan batubara terbesar kedua di Indonesia ini mencatat penurunan laba bersih setelah pajak sekitar 19% menjadi USid=”mce_marker”81 juta, dari US$ 224 juta di periode yang sama 2014.

Total aset Adaro juga turun 17% menjadi US$ 6,21 miliar. Aset lancar melemah 45% menjadi USid=”mce_marker”,24 miliar karena periode serupa tahun lalu terdapat peningkatan kas dari penerimaan porsi fasilitas pinjaman bank yang baru, yang telah digunakan untuk pembiayaan ulang surat utang dan fasilitas pinjaman bank 2011.

http://www.topsaham.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5203:adaro-energy-raih-pinjaman-dari-12-bank-us3552-miliar&catid=35:finansial&Itemid=55
Sumber : TOPSAHAM.COM

 

Anak Usaha Adaro Raih Pinjaman US$400 Juta

Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Selasa, 22 Februari 2011 | 15:26 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Saptaindra Sejati (SIS) telah menandatangani Facilities Agreement senilai UUS$400 juta dari sejumlah bank.

Hal ini disampaikan Devindra Ratzarwin, Sekretaris Perusahaan Adaro dalam keterbukaan informasinya ke BEI, Selasa (22/2). Adapun para bank seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Singapore Barnch, The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd., Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd., PT Bank UOB Buana, DBS Bank Ltd., Sumitomo Mitsui Banking Corporation, The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd, Jakarta Branch, PT ANZ Panin Bank, Credit Agricole Corporate and Investment Bank, Standard Chartered Bank bertindak sebagai Mandated Lead Arrangers.

Sedang Chinatrust Commercial Bank Co., Ltd, Singapore Branch, Sociate Generale, Singapore Branch bertindak sebagai Lead Arrangers. Sementara yang bertindak sebagai Facility Agent adalah The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd. Sebagai Account banknya adalah Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd dan PT Bank OCBC NISP Tbk.

Pinjaman tersebut disebutkan akan digunakan Perseroan untuk melunasi seluruh pinjaman dan membiayai pembelanjaan modal (capex). Utang tersebut jatuh temponya 7 tahun setelah tanggal Facilities Agreement dengan bunga LIBOR + Applicable Margin.

sekilas JADUL Sandi dan Soerjadjaja

Jakarta -Majalah Forbes kembali merilis daftar orang terkaya dunia. Tahun ini memuat 1.645 miliuner dari seluruh dunia. Dari jumlah itu 19 di antaranya berasal dari Indonesia.

Rata-rata kekayaan US$ 4,5 miliar. Total harta para miliuner ini tercatat sebanyak US$ 6,4 triliun, naik US$ 1 triliun dari jumlah total harta tahun lalu.

Sedangkan jumlah harta 19 orang terkaya di dunia ini mencapai US$ 47,65 miliar atau sekitar Rp 476,5 triliun. Siapa saja mereka? Simak daftar lengkapnya di sini seperti dikutip dari Forbes, Selasa (4/3/2014).

19. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono
Peringkat di Indonesia: 19
Peringkat dunia: 1.565
Total kekayaan: US$ 1 miliar

18. Harjo Sutanto
Peringkat di Indonesia: 18
Peringkat dunia: 1.465
Total kekayaan: US$ 1,1 miliar

17. Hary Tanoesoedibjo
Peringkat di Indonesia: 17
Peringkat dunia: 1.372
Total kekayaan: US$ 1,2 miliar

16. Edwin Soeryadjaya
Peringkat di Indonesia: 16
Peringkat dunia: 1.372
Total kekayaan: US$ 1,2 miliar

Edwin, Penerus Dinasti Soeryadjaya

Oleh: Hideko
ekonomi – Senin, 15 Oktober 2012 | 10:05 WIB

IA BERHASIL mewujudkan keinginan mendiang ayahnya untuk memiliki perusahaan perkebunan. Tak hanya itu ia mampu meraih sukses, bahkan lebih hebat dari sang ayah.

Tidak seperti biasanya, Edwin Soeryadjaya nongol di hadapan publik secara terbuka. Selama ini, putra kedua dari taipan William Soeryadjaya ini jarang tampil di depan umum. Ia lebih sering berada di deretan belakang agar tak terekspose media. Tapi, pekan lalu, ia terpaksa harus meninggalkan kebiasannya. Pagi itu, selaku komisaris PT Provident Agro, ia bertandang ke Bursa Efek Indonesia (BEI), yang hari itu secara resmi listed di lantai bursa.

Provident Agro, anak usaha Saratoga Capital, bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Di Provident Agro, Saratoga memiliki saham sekitar 43%. Seperti diketahui Saratoga, merupakan perusahaan investasi yang didirikan oleh Edwin dan Sandiaga Uno. Di Saratoga Group, ia menjabat sebagai Chairman. Di bawah bendera Saratoga inilah Edwin membangun kerajaan bisnisnya. Perusahaan ini juga memiliki 4,25% saham di PT Adaro, perusahaan tambang batubara kedua terbesar di negeri ini.

Kekayaan Edwin sempat meroket saat harga batubara membumbung tinggi. Tak heran bila tahun lalu majalah Forbes menempatkan Edwin dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia. Pria berusia 63 tahun itu ditaksir memilki kekayaan US$ 1,4 miliar. Dengan kekayaan sebesar itu Edwin berada di urutan ke-16 orang terkaya di tanah air.

Penerus Soeryadjaya

Nama Edwin Soeryadjaya memang tidak bisa dipisahkan dari nama besar sang ayah, William Soeryadjaya, pendiri Astra Group yang kesohor sebagai konglomerat di era Orde Baru. Sejak 2010, Edwin mampu menunjukkan siapa dirinya. Ia berhasil meraih penghargaan sebagaiIndonesian Entrepeneur of the Year.

Beberapa koleganya menyatakan bahwa apa yang telah diraih Edwin telah melebihi apa yang pernah dicapai ayahnya. Menanggapi itu, lelaki yang memiliki nama lahir Tjia Han Pun ini hanya berujar bahwa mendiang ayahnya adalah pebisis yang andal. Sementara ia mensejajarkan dirinya dengan seorang pebisinis biasa. Namun, ya, begitulah Edwin. Meski sudah tergolong sebagai pebisnis yang andal, ia masih tetap saja rendah hati.

Kasus bangkrutnya Bank Summa (1992), yang membuat keluarga Soeryadjaya harus kehilangan Astra, menjadi pelajaran berharga baginya. Kisah Bank Summa dan Astra, tampaknya, bukan hanya catatan sejarah saja bagi Edwin. Karena kasus ini, konon, hubungan Edwin dan sang kakak Edward Soeryadjaya kurang harmonis. Maklum saja, saat itu Bank Summa dikelola dan dikendalikan oleh Edward. Karena pengelolaan bank yang tidak baik, seluruh keluarga Soeryadjaya harus menanggung risikonya.

Saat itu, menurut Edwin, keluarga Soeryadjaya merasa dihempaskan dari gedung bertingkat yang sangat tinggi. “Saat itu kami mengira, kami sudah mati,” katanya. Namun peristiwa itu tak membuat Edwin putus asa. Bersama Saratoga, kini Edwin sukses berbisnis dalam berbagai bidang. Mulai dari pertambangan, perkebunan, perdagangan, properti hingga manufaktur.

Sebagai anak dari pengusaha terkenal, William Soeryadjaya, Edwin mulai tumbuh dengan bakat berbisnis seperti ayahnya. Ia cukup terampil dalam mengembangkan kemampuannya sebagai pebisnis. Kemampuannya dalam mengelola perusahaan tidak lepas dari usaha kerasnya. Meskipun ayahnya adalah pengusaha terkenal namun, ia tidak segan untuk belajar keras untuk memiliki kemampuan yang sama.

Berbekal dari keinginan kuat itulah akhirnya Edwin berhasil membangun kerajaan bisnisnya. Tak heran bila banyak orang mengatakan, Edwin penyambung kejayaan keluarga Soeryadjaya. Itu sudah dibuktikan dengan menyabet penghargaan Ernst and Young Entrepreneur of the Year.

Kini, yang harus dilakukannya sekarang adalah mulai menyiapkan generasi penerus agar kerajaan bisnis Soeryadjaya tak hanya sampai generasi kedua atau ketiga.
About Saratoga Capital

Saratoga Capital is an Indonesian-based private equity firm established in 1998 by Edwin Soeryadjaya and Sandiaga Uno. The firm targets investment opportunities in Southeast Asia, primarily in Indonesia, in natural resources, infrastructure and distressed buyout opportunities.

Siapa saja sih orang-orang terkaya di negeri ini? Dari angkatan lama ada Sukanto Tanoto, Putera Sampoerna, Eka Tjipta Widjaja, Rachman Halim, Robert Budi Hartono, dan Liem Sioe Liong yang selalu jadi langganan Forbes. Ada juga pengusaha lokal seperti Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro dan yang baru seperti Eddie William Katuari, Trihatma Haliman, atau Chairul Tanjung.

Ada juga beberapa junior seperti Sandiaga Salahuddin Uno dan Patrick S Walujo yang kelak berpotensi menjadi yang terkaya di Indonesia. Sandi adalah Ketua HIPMI dan mantan credit officer Bank Summa. Tahun 1998 Sandi dan Edwin Soeryadjaya mendirikan Saratoga Capital. Mereka mengantongi US$ 1 miliar dan investasinya masuk kemana-mana. Sandi kini juga mengejar proyek Tol Cikampek-Palimanan dan tambang emas Newmont di NTB.

Sedangkan Patrick adalah mantan bankir Goldman Sachs yang kini nahkoda Northstar Pacific. Walau baru 3 tahun, ia sudah mengantongi Alfa Retailindo dan Alfa Mart yang dulu di bawah Sampoerna. Northstar juga memiliki perusahaan LNG dan ladang migas di Sumatera Selatan. Dana yang dikelolanya sekitar US$ 100 juta dan sebagian dari Texas Pacific Group. Mereka juga sedang memburu Garuda Indonesia dan Blok Cepu.

Ada pula Rosan P Roeslani, yang bersama Sandi membangun Recapital Advisors; dan Tom Lembong, yang mengakuisisi BCA lewat Farindo. Recapital mengantongi Bank BTPN dan memenangi tender Dipasena, tambak udang terbesar Asia Tenggara. Sedangkan Tom adalah jebolan Morgan Stanley dan mantan Kadiv Asset Management Investment BPPN yang kini mendirikan Principia (Quvat). Quvat punya US$ 150 juta dan memegang Adaro serta Blitz Megaplex Cinema. Dalam pembelian Adaro; Sandi, Patrick, dan Tom tergabung dalam konsorsium dibantu Edwin dan Teddy; plus Erick Tohir, pemilik Grup Mahaka.

Mahaka sendiri pemegang sahamnya adalah M Lutfi, bekas ketua HIPMI yang jadi Kepala BKPM. Lutfi adalah putra Gunadarma yang sebelumnya adalah menantu Hartarto (Menperin Orde Baru). Bekas istrinya punya sekolah desain, ESMOD, dan istri Lutfi kini adalah Bianca Adinegoro. Ada juga Erick Tohir dan Boy Garibaldi Tohir. Erick sedang menggenjot JakTV bersama Artha Graha Group, sambil memosisikan Republika di 3 besar. Sedang Boy Garibaldi adalah salah satu direktur Adaro. Erick pernah mengatakan bahwa Lutfi dan Wisnu Wardhana tak aktif di Mahaka. Barangkali Wisnu sekarang sibuk mengurus perusahan sekuritas dan pembangunan apartemen di depan BEJ.

Nama lain yang cukup berkibar adalah Hary Tanoesoedibjo dari Bhakti Asset Management dan Global Mediacom. Bhakti pernah sukses membeli Salim Oleochemical dari BPPN. Hary Tanoe pernah mendirikan Indonesia Recovery Company Limited bersama Asia Debt Management. Ia juga dikenal dekat dengan George Soros dan sering dititipi dana investasi para konglomerat papan atas, termasuk Salim. Belakangan Harry dikenal sebagai raja media dengan bendera MNC.

Ada juga rising star grup Axton yang baru memulai bisnis. Pemiliknya konon anak muda berusia 25 tahun yang merangkak dari nol. Mereka mengelola dana investor dengan menerapkan value investing ala Warren Buffett. Sayang saya kurang informasi mengenai mereka. Ada yang bisa menambahkan? Yang jelas, mereka semua adalah anak-anak muda brilian, berlimpah harta, lulusan luar negeri, punya pengalaman segudang, danclosely-related each other.

Bagaimana Mereka Membangun Kekayaan

Keberadaan orang-orang terkaya di sebuah negara penting untuk menggerakkan ekonomi secara agregat dan memberi efek multiplier. Mereka juga bisa menghitamputihkan bangsa, dan bahkan, sampai jadi bahan gosip tak berkesudahan. Mereka jualah yang sebenarnya menggambar cerita masa depan bangsa.

Di Amerika, banyak pengusaha kecil yang kemudian jadi besar. Tengok Google. Mereka punya kapitalisasi di atas Coca Cola (US$ 137 milyar) dan hanya sedikit di bawah Intel. Jaringan ritel Wal-Mart yang dimulai Sam Walton dari nol, kini kapitalisasi pasarnya hampir US$ 200 milyar. Dan yang fenomenal tentu Microsoft dengan kapitalisasi hampir US$ 300 milyar. Kalau tahun 1991 lalu saham MSFT dihargai cuma US$ 5, kini sudah lebih dari US$ 80 per lembar. Angka ini cuma bisa dilampaui Exxon Mobil yang memang sudah mapan lebih dari seabad dengan kapitalisasi US$ 473 milyar.

Iklim investasi di Amerika memang sudah terbangun sedemikian rupa dan tersedia berbagai insentif bagi (calon) wirausahawan yang bermaksud membangun bisnis baru. Berbagai peraturan dan rule of the game juga jelas ditegakkan dan menjamin kelangsungan usaha mereka. Dan memang bisa dikatakan bahwa cukup banyak orang-orang terkaya di Amerika yang memulai usahanya dari nol karena memang dikondisikan demikian. Berbeda 180 derajat dengan di Indonesia.

Di Indonesia, orang-orang terkaya cenderung (maaf) masih rent seeking dan kurang kreatif. Calon orang-orang terkaya masa depan itu berangkat bukan dari bawah. Mereka jago finance, punya linkage dengan funding body di luar negeri—-namun tak punya fondasi industri yang kokoh. Mereka “cuma” pinjam uang ke luar, membeli perusahaan yang dihajar krisis moneter 1997, lalu tinggal menuai panen. Mereka membentuk semacam private equity atau hedge fund untuk memenuhi kebutuhan pendanaan. BPPN atau PPA-lah yang jadi mak comblang tender jual-beli ini.

Namun naluri su’udzon saya bilang bahwa mereka juga berinvestasi di politik. Misalnya, ingat kasus BLBI. Seperti kita tahu, tender biasa dilakukan di Gedung Bidakara, milik BI. Kita juga tahu bahwa petinggi BPPN kebanyakan merupakan keluarga BI. Lucunya, ada salah satu parpol yang juga dekat dengan BPPN dan sering mengadakan hajatan di Gedung Bidakara. Partai tersebut juga mencak-mencak ketika namanya disangkutkan dengan kasus DKP dan mengancam siapapun yang mengungkit dana DKP dengan alasan character assasination. Kalau tidak salah, partai tersebut juga yang meloloskan Anwar Nasution sebagai ketua BPK. Anwar adalah mantan Deputi Gubernur BI dan BPK adalah lembaga superior satu-satunya yang bisa “mengaudit” kinerja BPPN dan BI.

Nah, pertanyaan su’udzon saya, apakah perusahaan-perusahaan murah tersebut memang dijual kepada bidder terbaik dengan harga tertinggi; atau orang-orang terkaya masa depan Indonesia tersebut mendapatkannya lewat cara lain? Silakan simpulkan sendiri.

Tentang Temasek dan Singapura

Yuk beralih sebentar ke Singapura. Temasek, bagi saya, adalah model bisnis yang sangat bagus. Temasek adalah ramuan antara talenta bisnis, visi strategik, dan kekuatan politik yang rancak. Mereka mengumpulkan aset yang nilai intrinsiknya di bawah nilai pasar, lalu dibeli dan dipoles, sampai harganya membumbung tinggi.

Kendati mengendalikan portofolio senilai lebih dari $80 milyar, sejak ditangani Ho Ching tahun 2002, organisasi Temasek bisa dibilang plain dan simpel. Sangat efisien. Temasek cuma punya tiga senior managing director dan delapan managing director. Mereka inilah yang berburu aset-aset strategis untuk dibeli—-terutama di luar negeri. Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang “nampak” kurang sehat dan mengambil dengan proporsi yang sangat besar sehingga memegang kontrol pengambilan keputusan.

Direksi Temasek juga merupakan tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan politik, seperti S Dhanabalan, Kua Hong Pak, Koh Boon Hwee dan Kwa Chong Seng, Lim Siong Guan, Sim Kee Boon, yang sangat berpengaruh dan dipercaya oleh pemerintah. Mereka juga menjadi direktur di perusahaan pemerintah lainnya. Di Temasek, seorang direktur diangkat dan diturunkan atas persetujuan Presiden Singapura. Jelas, operasional Temasek sangat terbantu oleh kekuatan politis ini.

Talenta bisnis orang-orang Temasek juga jempolan. Sebutlah Kua Hong Pak, direktur PSA sekaligus orang dekat Lee Hsien Loong; Goh Yew Lim, direktur Direktur CIMB-GK Pte Ltd; dan tak kalah penting, Ho Ching, mantan dirut SingTel, executive directorTemasek, dan istri Lee Hsien Loong. Temasek juga punya eksekutif dengan latar belakang mumpuni, misalnya Simon Israel (Sara Lee Corporation/Danone), Manish Kejriwal (McKinsey), Frank Tang (Goldman Sachs), Francis Rozario (Citibank). Wajar kalau Temasek selalu dapat yang terbaik: BII, Danamon, Telkomsel, Indosat, atau Astra.

Sayangnya Temasek tak melakukan assessment terhadap risiko politik yang mungkin dihadapi. Temasek terlalu naif berinvestasi hanya dengan melihat aspek finansial—-apalagi masuk di negara berkembang yang sarat dengan gonjang-ganjing politik. Mereka mungkin lupa bahwa jaminan hukum dan iklim bisnis yang kondusif tak selalu ada dan terjaga. Ho Ching juga punya reputasi tukang bikin bangkrut saat membeli produsen harddisk Micropolis sampai nyaris dipecat dari SingTel. Beliau juga membuat blunder terkait dengan pembelian Shin Corp di Thailand baru-baru ini. Ho juga orang yang tertutup, tak bersahabat, dan sulit dimengerti.

Manuver Temasek dan Singapura Sekarang

Temasek kini juga mencengkeram Astra. BusinessWeek menyebut Astra perusahaan terbaik 94 di Asia dan terbaik kedua di Indonesia (setelah Telkom). Lini bisnis Astra juga berkibar di berbagai sektor, sebutlah Astra Agro Lestari, Astra Graphia, Astra CMG Life, Asuransi Astra Buana, Federal International Finance, Astra Credit Company, sampaiBank Permata.

Proses akuisisi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak krisis. Tapi puncaknya mungkin tahun 2003 ketika 39,5% saham Astra dijual BPPN ke konsorsium Cycle & Carriage Mauritius yang dimodali DBS. Mereka kemudian terus menambah kepemilikannya di Astra. Sekarang, 50,11% saham Astra dikuasai Temasek lewat Jardine Cycle & Carriage (JCC)—-perusahaan yang sebenarnya dulu pernah akan dibeli Astra Otoparts. Dengan pendapatan Rp 55 triliun, Astra jadi mesin uang buat Temasek.

Competitive Countries

Yang paling saya “suka” dari Temasek, ia bisa memasuki bisnis agro, otomotif, alat berat, infrastruktur, telekomunikasi, keuangan dan menguasai pangsa pasar yang disentuhnya. Tapi hebatnya, manuver Temasek begitu rapi, bertahap, dan low-profile. Nyaris tak terdengar. Ironisnya, pelaku pasar kebanyakan kurang “ngeh” dengan manuver Temasek. Repotnya lagi, kita lantas terbuai bahwa kalau perusahaan dikuasai imperium Temasek, dijamin pasti bawa untung.

Sejak 2004 Temasek memang banyak berburu di luar Singapura, dan hampir seluruhnya di sektor jasa keuangan dan telekomunikasi. Investasi terbesarnya antara lain BII, Danamon, Bank of China, Stanchart, dan Shin Corp. Silent expansion ini menyiratkan ambisi Singapura untuk menjadi financial hub di kawasan Asia: menguasai perbankan, mengendalikan telekomunikasi. Ke depannya, sektor apa sih yang bisa lebih “hot” dari dua industri itu?

Dan yang tak boleh diabaikan, ingat kasus transaksi derivatif Indosat? Temasek sampai mendatangkan mantan wakil Menteri Pertahanan Amerika untuk melobi pejabat-pejabat Indonesia. Tangan-tangan Temasek juga menggerayangi wartawan untuk mempengaruhi pemberitaan di media. Beberapa kasus yang membuat nama Temasek negatif seperti ini membuat mereka memasang Myrna Thomas sebagai managing director for corporate affairs untuk menetralisir persepsi orang. Belakangan fungsi kehumasan ini dianggap lebih strategis karena mereka memang banyak berekspansi ke luar negeri.

Nama “temasek” sebenarnya mengacu pada “sea town” atau nama purba Singapura. Lucunya, gara-gara sumpah Mahapatih Gajah Mada, Singapura (Tumasik) dulu pernah berada di bawah kekuasaan Nusantara. Sekarang, terlalu naif membandingkan negeri ini dengan Singapura. Walau cuma sebesar Jakarta, Singapura merupakan negara ke-17 terkaya di dunia. Repotnya, kendati mengeruk duit di Indonesia, Singapura terkenalkurang ramah terhadap negara kita.

Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat (Singapura)

Teorinya, membangun negara harus bertumpu pada infrastruktur untuk kemaslahatan umat. Di Amerika, mereka justru pertama-tama membangun rel kereta agar mobilitas rakyat (terutama menengah ke bawah) lancar dan menggerakkan kegiatan perekonomian serta pertumbuhan. Walau dicap kapitalis, mereka sebetulnya sangat berorientasi pada rakyat kecil. Jepang dan Eropa juga demikian. Di Indonesia justru terbalik keadaannya. Kita malah memprogram jalan tol 1000 km dan mengabaikan kereta api. Yang diuntungkan jelas para penggede, bukan rakyat kecil.

Saat sekarang, makroekonomi sudah beranjak pulih. Namun perusahaan-perusahaan bagus milik bangsa ini sudah kadung diambil (mayoritas) oleh Singapura. Sementara pembangunan, seperti tersebut di atas, tak berorientasi ke rakyat kecil. Jadi, lengkaplah sudah kesialan kita. Sementara kita tak sadar malah ber-haha-hihi mengikuti Tukul mengolok-olok diri sendiri.

Lihat ilustrasi berikut.

Di Bawah Ketiak Singapura

Kembali ke orang-orang terkaya tersebut di atas, hubungan Sandi dengan keluarga Soeryadjaya memang sudah sejak lama. Sandi pernah menangani perusahaan Edward (kakak Edwin) di Canada. Sandi dan Edwin pernah membangun situs e-marketingrumah123.com. Boleh jadi Sandi ada di bawah bayang-bayang Edwin. Sedangkan Patrick adalah menantu Teddy Rachmat, mantan petinggi Astra. Rosan P Roeslani adalah teman dekat Sandi. Mereka sangat dekat dengan Astra dan keluarga Soeryadjaya, anak pendiri Astra.

Sementara Astra, kita tahu, sudah dikuasai Temasek. Keluarga orang-orang terkaya lainnya—-baik angkatan lama atau angkatan muda—-juga dekat dengan lingkaran ini. Pendek kata, pemilik aset-aset strategis negeri ini kalau bukan Singapura ya orang-orang Indonesia yang dekat dengan Singapura.

Jadi, salahkah saya kalau berteori bahwa masa depan negeri ini sebenarnya ada di tangan Singapura?

Mudah-mudahan sedikit coretan ini bisa memotivasi pembaca sekalian—-agar tak cuma berpacu mengejar kekayaan, tetapi juga memperjuangkan nation pride. Saya, Anda, siapa pun juga pasti pengen jadi kaya. Masalahnya siapa yang ingin memulai dan siapa yang cuma ingin mengamati, atau ngrasani saja? Jujur saja, saya lebih senang bertransaksi dengan orang kita sendiri; yang jelas-jelas mengembalikan sebagian keuntungannya buat fakir miskin dan anak yatim. Tapi mau gimana lagi?

Saratoga, Titik Bangkit Klan Soeryadjaya?
January 7, 2008 by jarrewidhi
“Making money is art, and working is art and good business is the best art.” Ungkapan filosofis ini bukan keluar dari mulut seorang pebisnis macam Warren Buffet atau typhoon media model Rupert Murdoch. Namun kalimat ini merupakan hasil renungan seniman pengusung aliran Pop Art legendaris, Andy Warhol. Kalimat tersebut diabadikan lewat bukunya, The Philosophy of Andy Warhol (1975) ketika ia dituding mulai meninggalkan idealisme dalam seni.

Ya, bisnis adalah seni, ini sudah pasti dianut oleh para pengelola fulus besar dimanapun. Filosofi ini pula yang dipastikan membuat mereka mampu bertahan di tengah badai kompetisi. Kesenangan pada seni menghasilkan uang ini, membuat mereka yang terjerembab, mampu berusaha bangkit kembali.

Mungkin tepat juga jika frase di atas digunakan untuk menggambarkan geliat bisnis klan Soeryadjaya, yang dulu dikenal sebagai ikon besarnya kelompok usaha Astra Internastional Inc. Kendati para penerusnya tak secara langsung mengamini filosofi tersebut, namun gerak meniti ke arah kebangkitan kembali keluarga Soeryadjaya tak bisa dipungkiri sebagai bagian dari lekatnya seni tadi di keluarga tersebut.

Adalah Edwin Soeryadjaya, putera kedua dari William Soeryadjaya yang kini dipandang tengah giat-giatnya memperbesar kembali tentakel bisnisnya lewat wahana pengelola dana investasi (private equity firm) Saratoga Capital dan Interra Resources yang bergerak di industri pertambangan.Dengan Saratoga, Edwin bersama mitranya Sandiaga Uno kini tercatat menjadi pemilik 33% saham produsen batu bara terbesar kedua nasional, PT Adaro Indonesia lewat PT Dianlia Setyamukti. Di sektor migas, lewat Interra resources Ltd, perusahaannya yang tercatat di bursa saham Singapura, ia memiliki 70% working interest di Technical Assistance Contract (TAC) dengan Pertamina di Tanjung Miring, Palembang.

Tak hanya di dalam negeri, bendera Saratoga juga berkibar di sebuah ladang minyak di Myanmar dan tiga blok eksplorasi seluas 10 km2 di Thailand.Selain itu, Edwin juga lincah memasuki bisnis agribisnis dengan mengakuisisi 8.000 hektare di Agam Sumatera Barat, senilai US$30 juta.

Sebelumnya, Saratoga sudah memiliki perkebunan sawit seluas 25.000 ha di Kalimantan Barat yang sebagian lahnnya telah ditanami, dengan nilai investasi US$70 juta. Saratoga berharap bisa memperluas lahan sawitnya menjadi seluas 100.000 ha dalam waktu dekat.Edwin yang ditemui di markas Saratoga Capital di Jl Teluk Betung, Jakarta Pusat akhir November lalu mengaku bahwa ia lebih tertarik untuk terjun ke bisnis pertambangan dan pertanian. ”Kalau liat opportunity sekarang, kebanyakan masuk di pertambangan dan juga pertanian. Agribisnis kebanyakan yang kami teliti adalah (bisnis) sawit,” ujarnya.

Ia tampaknya ogah untuk masuk ke industri finansial, seperti yang pernah dilakukan abangnya Edward Soeryadjaya di Bank Summa. ”Pada saat ini saya nggak mau,” ujarnya singkat. Yang menarik, sebagai private equity firm Saratoga menerima komitmen dana sebesar US$90 juta dari sejumlah investor yang dipimpin International Finance Corporation (IFC) dan Commonwealth Development Corporation (CDC). Komitmen tersebut termasuk dalam fund Saratoga Asia II LP yang ditargetkan mencapai US$330 juta.

Dikatakan Edwin, komitmen dana sebesar US$ 90 juta tersebut belum final. Ia yakin pada pertengahan tahun depan dana yang terkumpul akan genap sebesar US$ 330 juta. Ia sendiri menolak menyebutkan akan dikelola di sektor apa saja dana kepercayaan investor tersebut. Namun demikian ia menyebutkan minatnya pada bisnis pertambangan batu bara di Vietnam dan eksplorasi migas di Mynmar.
Di luar sektor tersebut, ia juga mengaku tengah mempelajari peluang di sektor jasa pengelolaan pelabuhan. Untuk jasa pelabuhan ini, ia mengaku tengah mempelajari kemungkinan masuk ke proyek pengembangan pelabuhan Bojanegara di Banten. “Tapi itu masih dalam studi Saratoga” tandasnya.Soal kecenderungan pilihan investasi di sektor pertambangan, migas dan infrastruktur ini juga sempat diungkapkan Sandiaga Uno, presdir Saratoga Capital. “Infrastruktur memiliki potensi yang amat besar untuk dikembangkan, seperti pembangunan jalan tol. Kita memang punya minat di sana,” ujar Sandi yang juga ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia.

Bicara kepercayaan dari para investor, menurut Edwin itu bukan diperoleh karena nama besar klan Soeryadjaya. Awalnya, kata penyuka suara serak Rod Stewart ini, para investor meragukan kemampuan Saratoga dalam mengelola dana seperti halnya satu lembaga fund. “Dia (investor) bilang, kamu punya track record baik dan melakukan sesuatu sebagaimana suatu fund di-manage. Tapi sebagai satu fund kalian belum pernah lakukan itu,” paparnya.
Para investor, lanjut Edwin, sempat meminta Saratoga mengurangi target pengumpulan dana yang dilakukan tahun lalu. Untuk itu ketika roadshow Saratoga Capital ke beberapa negara pada September 2006, Saratoga ‘hanya’ berhasil mengantongi US$300 juta dari target perolehan dana US$ 500 juta.Hingga tahun 2004, saratoga Capital tercatat telah mengelola dana sekitar US$ 452 juta, dan memasuki tahun 2006, dikatakan Edwin dana yang dikelola sudah mendekati US$ 500 juta. “Angkanya masih sekitar itu, karena kan ada investasi yang sudah didivestasikan, atau dikembalikan kepada para investor beserta keuntungannya,” kata Edwin.

Dari total dana kelolaan tersebut, Edwin mengaku tidak terlalu ingat berapa dana yang murni dimiliki oleh Saratoga. Namun ia menyebut sekitar 15% merupakan dana milik Saratoga, serta keuntungan yang diperoleh dan ditanamkan kembali di perusahaan.Sejauh ini, investor memang tertarik dengan return sebesar 13% – 15% yang ditawarkan oleh Saratoga.

Apalagi dana mereka dialokasikan ke sektor-sektor yang memiliki potensi return tinggi. Seperti pertambangan yang nilainya terus meroket mengikuti tingginya harga minyak mentah.Salah satu rumor yang beredar malah menyebut sebuah perusahaan pertambangan asal Cina, Shenhua Corp kini tengah memburu saham Saratoga di PT Adaro Indonesia.

Namun Edwin membantah berita tersebut. “Saya nggak tahu kok soal Shenhua,” cetusnya. Ketika ditanya kemungkinan ia bersama Saratoga Capital dan Interra Resources berpeluang mengembalikan kejayaan keluarga Soeryadjaya, Edwin mengaku tak punya keinginan untuk menyamai kemampuan ayahnya.

“Ayah saya memang legenda, tapi saya hanya melakukan apa yang saya bisa, dan terbaik buat saya,” ujarnya merendah.

Sementara itu pengamat investasi Rhenald Kasali mengatakan, lembaga pengelola dana seperti Saratoga bisa menjadi sarana investor untuk membiakkan dana diluar instrumen pasar modal. Sementara di sisi lain, untuk negara seperti Indonesia, ia bisa menjadi semacam saluran masuk dana investasi ke dalam negeri. Rhenald menilai lembaga pengelola dana di Indonesia punya potensi besar untuk berkembang, karena sasaran investasinya yakni Indonesia sendiri masih memiliki sumber daya yang potensi pertumbuhan yang tinggi.

(Naskah pra edit, dipublikasikan di majalah Investor pada Desember 2007)

Indonesian Private Equity Saratoga Capital Interview
Thu, 5-Mar-2009
CNBC interview on March 5, 2009 with Sandiaga Uno, CEO of Saratoga Capital, which covers the following topics:

Difference in the Asian financial crisis and today’s financial crisis
Less than 30% of Indonesia’s GDP is export-related
Investment opportunities and timing given the financial crisis
Challenges of private equity due to credit crisis
Sector opportunities

adro @ aru$ ka$ : 040913

SELASA, 03 SEPTEMBER 2013 | 13:54 WIB
Jaga Arus Kas, Adaro Turunkan Belanja Modal 2013

TEMPO.CO, Jakarta— Perusahaan batubara, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatat penurunan arus kas yang dipakai untuk investasi selama semester pertama 2013. Untuk menjaga penurunan arus kas, perseroan menurunkan belanja modal (capital expenditure – capex). “Penggunaan arus kas menurun 64 persen dari US$ 294 juta menjadi US$ 106,8,” kata Corporate Secretary Adaro, Devindra Ratzarwin, melalui pernyataan tertulis pada Senin, 2 September 2013.

Untuk arus kas operasional, Adaro mencatat peningkatan sebesar 96 persen year-on-year. “Pada semester pertama 2013 ini, arus kas tercatat sebesar US$ 360,9 juta dari besaran US$ 184 juta untuk periode yang sama pada tahun lalu,” kata Devindra.

Peningkatan tersebut, terjadi karena menurunnya beban pembayaran kepada pemasok, royalti, dan pajak penghasilan. “Pembayaran kepada pemasok turun 24 persen, beban royalti turun 24 persen, dan beban pajak penghasilan menurun 41 persen.”

Penurunan arus kas, menurut Devindra, terjadi karena penurunan pembelian aset tetap dan properti penambangan. “Pada semester pertama 2012, pembelian aset tetap dan properti penambangan menghabiskan dana sebesar US$ 276 juta, untuk periode yang sama ditahun ini, menjadi hanya US$ 105,2,” kata Devindra.

Untuk menjaga arus kas, Devindra menyatakan, Adaro menurunkan panduan belanja modal (capital expenditure – capex) tahun 2013 menjadi US$ 200 juta dari US$ 490 yang dihabiskan sepanjang tahun 2012. “Belanja modal sebagian besar akan digunakan untuk biaya pemeliharaan dan akuisisi lahan,” kata Devindra. Belanja modal tersebut, menurut Devindra, dilakukan karena proyek infrastruktur Adaro berada di tahap akhir dan armada alat berat yang ada masih memadai untuk target produksi 2013.

Untuk kinerja keuangan, Adaro mencatat penurunan laba bersih sebesar 55,4 persen. Pada semester pertma 2013, Adaro mencatat perolehan laba bersih sebesar US$ 116 juta dari periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar US$ 260. “Penurunan laba bersih dipicu oleh penurunan pendapatan usaha akibat penurunan harga jual rata-rata,” kata Devindra.

ISMI DAMAYANTI

50% @adro :) … 180612

ADRO memastikan tidak akan merevisi target produksi batubara meski tren harga jual batubara sedang menurun. Kalau tahun lalu harga batubara USD120 per ton, bulan ini hanya USD90 per ton. Tahun ini, ADRO, menargetkan produksi batubara mencapai 50 juta hingga 53 juta ton. Sampai kuartal I-2012, volume produksi ADRO sudah mencapai 10,96 juta ton atau naik 3% dibandingkan dengan kuartal I-2011. (Kontan)

Sumber : IPS RESEARCH
Hingga Juni 2012
Produksi ADRO Capai 25 Juta Ton

Oleh: Tio Sukanto
pasarmodal – Minggu, 17 Juni 2012 | 15:23 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Produksi batu bara hingga pertengahan tahun ini sudah mencapai 50% dari target produksi atau sekira 25 juta ton dari target produksi tahun ini sebesar 50 juta ton.

Demikian disampaikan Presiden Direktur Adaro, Garibaldi Thohir saat ditemui disela acara Hut Adaro ke 20 Envirocoal CUP 2012 di Jakarta Minggu (17/6/2012).

“Produksi masih on the right track. Sampai dengan Juni ini sudah mencapai kira-kira 25 juta ton atau setengahnya dari target,” kata Garibaldi.

Garibaldi mengatakan, 20% dari produksi disalurkan untuk kebutuhan dalam negeri. Garibaldi mencontohkan pada tahun lalu saja 11 juta ton batubara dipasarkan kedalam negeri dari produksi tahun lalu sebesar 47 juta ton. “Kalau untuk kebutuhan DMO (domestic obligation market) Adaro sudah lewat,” ujar Garibaldi.

Garibaldi optimis meski harga batubara mengalami pasang surut, namun industri batubara tetap akan berkibar setidaknya dalam 10-20 tahun. “Selama shale gas belum diproduksi secara banyak di dalam negeri, batu bara tidak akan mati,” pungkasnya. [mel]

adro @266 Jt TON … 230312

ADRO siap operasikan tambang Mustika
Oleh Sandy Baskoro – Kamis, 22 Maret 2012 | 23:08 WIB

kontan

JAKARTA. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) segera mengoperasikan tambang batubara di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Total cadangan batubara ADRO di tambang tersebut mencapai 272,6 juta ton.

ADRO menguasai tambang itu melalui anak usahanya, PT Mustika Indah Permai. Berdasarkan estimasi Australasian Joint Ore Reserves Committee (JORC), cadangan batubara tersebut cukup untuk mendukung operasi tambang ADRO selama 26 tahun dengan estimasi produksi 10 juta ton per tahun.

Laporan JORC dirilis oleh Golder Associates, sebuah perusahaan konsultan pertambangan internasional yang berbasis di Missouri, Amerika Serikat. ADRO melalui anak usaha PT Alam Tri Abadi resmi mengakuisisi 75% saham Mustika Indah Permai senilai US$ 222,5 juta dari Elite Rich Investment Limited. Perjanjian akuisisi itu diteken pada 19 Agustus 2011.

“Produksi batubara akan dimulai dalam kurun waktu satu tahun setelah akuisisi terhadap Mustika Indah Permai,” ungkap Garibaldi Thohir, Presiden Direktur ADRO, dalam pernyataan resminya, Kamis (22/3).

Cadangan Batubara Anak Usaha Adaro 286,4 Juta Ton

Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Jumat, 23 Maret 2012 | 04:14 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menjelaskan cadangan batubara anak usahanya yaitu PT Mustika Indah Permai (MIP) diperkirakan mencapai 286,4 juta ton.

Demikian mengutip keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Kamis (22/3/2012). Estimasi tersebut berdasarkan Australasian Joint Ore Reserves Committee (JORC) Compliant terhadap sumber daya dan cadangan batubara MIP yang berlokasi di Kabupaten Lahat, propinsi Sumatera Selatan.

Cadangan Batubara saat ini dipandang cukup untuk mendukung
operasi tambang dengan tingkat produksi 10 juta ton per tahun untuk 26 tahun ke depan. Dengan memberikan toleransi 3 tahun kenaikan produksi dan 1 tahun penurunan produksi.

Pada tanggal 23 Agustus 2011, Adaro Energy mengumumkan akuisisinya terhadap kepemilikan ekuitas atas MIP sebesar 75%. Per 15 Desember 2011, total Sumber Daya Batubara berdasarkan JORC Compliant untuk MIP
diperkirakan mencapai 286,4 juta ton, dengan 272,6 juta ton dari jumlah tersebut merupakan estimasi Cadangan Batubara JORC Compliant.

Presiden Direktur Adaro Energy, Garibaldi Thohir, mengatakan, dengan rampungnya laporan JORC untuk MIP, maka perseroan dapat manyampaikan informasi lebih lanjut mengenai akuisisi yang dilakukan di Sumatera Selatan kepada investor publik maupun pemangku kepentingan lainnya.

“Artinya, kita sudah semakin dekat dengan tahap operasi komersial demi menciptakan nilai pemegang saham dari investasi di Sumatera Selatan ini,” katanya.

Produksi batubara, lanjutnya, direncanakan untuk dimulai dalam kurun waktu satu tahun setelah akuisisi terhadap MIP. Dengan adanya MIP dan investasi lainnya di Sumatera Selatan, yaitu SMS dan BEE, perseroan sedang membangun aset jangka panjang yang berbiaya rendah.

Pada tanggal 19 Agustus 2011, PT Alam Tri Abadi (ATA), anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh PT Adaro Energy Tbk, menandatangani perjanjian jual beli untuk mengakuisisi 75% kepemilikan atas MIP dari Elite Rich Investment Limited dengan nilai US$222,5 juta.

Previous Older Entries