big news on BRAU n bumi … 171110_290916_231017

Jakarta – Saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) berujung dihapus (delisting) oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Padahal saat harga batu bara tengah booming, saham ini pernah menjadi primadona dengan emiten sejenis lainnya.

Menurut Analis Mina Padi Investama Christian Saortua kejatuhan saham BRAU bermulai ketika anjloknya harga batu bara dunia pada sekitar 2014. Saat itu cukup banyak perusahaan batu bara yang terpukul.

“Beberapa negara di luar sana sudah mulai anti menggunakan batu bara. Akhirnya permintaan batu bara apalagi yang kualitasnya rendah sudah semakin turun,” tuturnya saat dihubungi detikFinance, Senin (23/10/2017).

Sebenarnya kata Christian masih ada sedikit peluang bagi perusahaan batu bara untuk bertahan. Sebab negara-negara berkembang yang kebutuhan energinya masih tinggi masih membutuhkan batu bara.

Namun dengan pasar yang semakin sempit persaingan di industri batu bara pun semakin ketat. Selain berebut ceruk pasar, mereka perusahaan batu bara juga harus melakukan inovasi seperti memanfaatkan batu baranya sendiri menjadi energi listrik dengan membangun pembangkit listrik.

Namun sepertinya BRAU tak bisa memanfaatkan sedikit peluang itu untuk bertahan. Ditambah lagi perseroan memiliki beban utang yang besar.

“Kalau mereka punya beban operasi yang tinggi terutama terbebani oleh utang agak sulit untuk bertahan. Kebanyakan kan hasilnya buat bayar utang, buat bayar bunga,” tambahnya.

Pada Juli 2015, BRAU diketauhi gagal bayar utang US$ 450 juta atau Rp 6 triliun jika dihitung dari kurs saat ini Rp 13.500. Surat utang itu diterbitkan oleh anak usaha perseroan di Singapura, Berau Capital Resources Pte. Ltd (BCR).

Anak usahanya itu tak bisa membayar utang setelah melewati batas waktu pembayaran 8 Juli 2015. Atas hal ini, Pengadilan Tinggi Singapura mengeluarkan moratorium kepada Berau hingga 4 Januari 2016 untuk bernegosasi dengan pemegang surat utangnya.

Pada 1 Juli 2015, Asia Coal Energy Ventures Limited (ACE) yang dimotori oleh Grup Sinarmas menawar untuk membeli seluruh kepemilikan saham Berau di Asia Resource Minerals (ARM). Jumlah saham ARM yang dimiliki Berau adalah 84,7%.

Tawaran penambahan modal ini sudah disetujui oleh 68,2% pemegang saham ARM. Caranya bisa mengambil tawaran Sinarmas atau dari NR Holdings milik Nathaniel Rothschild.

Berau akan membayar sebagian utangnya melalui dana US$ 100 juta (Rp 1,3 triliun) yang didapat dari ACE diambah kas internal US$ 18,74 juta. Namun proses restrukturisasi utang itu sulit dilakukan.

(ang/ang)

 

Jakarta detik – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus saham tiga perusahaan dari papan perdagangan. Salah satunya adalah emiten batu bara, PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

BEI memberi waktu selama 20 hari perdagangan di pasar negosiasi untuk saham BRAU, dari 19 Oktober 2017 hingga 15 November 2017. Pada 16 November 2017 saham BRAU resmi ‘ditendang’ dari pasar modal.

“Dengan dicabutnya status perseroan sebagai Perusahaan Tercatat (Delisting) maka Perseroan tidak lagi memiliki kewajiban sebagai Perusahaan Tercatat dan BEI akan menghapus namanya dari daftar perusahaan tercatat,” kata keterangan tertulis BEI, Jumat (20/10/2017).

“Dalam hal Perseroan akan kembali mencatatkan sahamnya di BEI, maka proses pencatatan saham dapat dilakukan dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku,” tambahnya.

Selain Berau, emiten lain yang juga dikeluarkan dari pasar modal adalah PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA) dan PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk (CPGT). (ang/ang)

Emoticons0051

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) menindak tegas emiten yang sahamnya telah disuspensi bertahun-tahun. BEI akan mengapus pencatatan saham (delisting) empat emiten di tahun ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat mengatakan, selain saham PT Inovisi Infracom Tbk (INVS), BEI akan mendepak paksa tiga saham lain dari bursa.

Mereka adalah PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA), dan PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk (CPGT).

Saham BRAU dan TKGA sebelumnya sudah disuspensi BEI lebih dari dua tahun. Ini karena keduanya belum menyampaikan sejumlah kewajiban, seperti laporan keuangan. Gembok saham BRAU dan TKGA akan dibuka pada perdagangan 19 Oktober 2017 hingga 15 November 2017. Setelah itu, saham BRAU dan TKGA akan efektif delisting pada 16 November 2017.

BEI juga telah menghentikan sementara perdagangan efek CPGT yang sedang dalam pailit sejak 28 April 2017. BEI mempertimbangkan status perusahaan yang telah dijatuhkan pailit serta harta pailit CPGT dalam keadaan insolvensi. Mulai hari ini, Kamis (19/10), saham CPGT tak akan tercatat lagi di BEI.

Lalu, penghapusan pencatatan saham INVS dari bursa akan dilakukan mulai 23 Oktober 2017 mendatang. Sebelumnya, INVS keberatan didelisting paksa oleh BEI. Pasalnya, perusahaan ini mengaku masih berupaya memenuhi kewajiban kepada BEI.

Namun Samsul memastikan proses delisting saham INVS akan terus berlanjut meskipun banyak investor publik yang menggenggam saham INVS. Soalnya, INVS dinilai masih memiliki beberapa masalah going concern perusahaan.

Namun, Samsul menekankan investor publik bisa tetap mengempit saham perusahaan. “INVS masih akan tetap jadi perusahaan publik dan investor tetap jadi pemegang saham. Bedanya hanya saham ini tak lagi tercatat dan diperdagangkan di bursa,” ujarnya di Jakarta, Rabu (18/10).

Tapi, emiten yang didelisting paksa ini masih bisa kembali mendaftarkan sahamnya (relisting), enam bulan usai delisting efektif.

Emoticons0051

JAKARTA. Tahun ini, PT Berau Coal Energy Tbk  menargetkan produksi batubara 33,5 juta ton. Jumlah ini meningkat dibandingkan realisasi produksi tahun lalu yang hanya memproduksi 26 juta ton batubara.

Kenaikan 28,85% produksi itu karena mulai stabil dan membaiknya harga batubara sejak kuartal IV tahun lalu. Sehingga tahun ini, dari tiga tambang Lati, Binungan dan Sambarata, bisa produksi penuh dan sesuai target.

Farhan Soeprapto, Media Relations Officer PT Berau Coal Energy, mengatakan, peningkatan produksi tahun ini akan terus diantisipasi melalui efisiensi operasional.  Dengan peningkatan harga yang tiba-tiba, juga membuka peluang harga turun tiba-tiba pula.

Strategi antisipasi melalui efisiensi ini menyebabkan  perusahaan bisa survive. Namun, efisiensi tidak akan meninggalkan aspek keselamatan dan optimalisasi operasional perusahaan. “Kontraktor jasa penambangan juga sudah kami tandatangani akhir tahun lalu,” ujarnya kepada KONTAN, Minggu (5/2).

Salah satunya  adalah PT Bukit Makmur Mandiri Utama. Pada akhir tahun lalu, emiten berkode BRAU tersebut memperbarui kontrak dengan PT Bukit Makmur Mandiri Utama   untuk melakukan pekerjaan jasa penambangan tambang Lati dan Binungan. Nilainya sekitar Rp 39 triliun atau setara US$ 3 miliar. Selain itu juga kontrak dengan PT Tadjahan Antang Mineral dan PT Pamapersada Nusantara.

Ketiganya akan menggarap kontrak pengerjaan pada ketiga tambang BRAU. Dari ketiga tambang tersebut saat ini perusahaan memiliki cadangan batubara terbukti mencapai 836 juta ton, dengan resource mencapai 2,6 miliar ton.

Dengan kalori 4.500 kilokalori (kkal), memang pasar  batubara milik BRAU menyasar ke luar negeri. Namun menurut Farhan,  tidak menutup kemungkinan perusahaan tersebut menjual batubara ke dalam negeri.

Namun dirinya tidak bisa merinci berapa persentase penjualan domestik dan ekspor, serta negara tujuan ekspor. Yang jelas BRAU memasok kebutuhan batubara untuk power plant yang sesuai  spesifikasi dari jenis dan kualitas batubara yang dimiliki.

Dengan penambahan produksi ini terbuka peluang perusahaan ini  bisa menyuplai kebutuhan batubara di domestik. “Tahun lalu kami banyak menjual ke luar negeri, batubara kami sedikit saja yang cocok dipakai di domestik,” lanjutnya.

Perusahaan ini juga belum akan melakukan akuisisi tambang baru di luar dari tiga tambang yang saat ini ada. Namun, BRAU masih bisa melakukan akuisisi tambang baru berdasarkan Kepmen ESDM no. 178/40.00/DJB/2005 dan persetujuan Tekno Ekonomi dari Kementerian ESDM dengan nomor surat 2759/31.02/DBB/2014. Syaratnya harus seluas 14.624 hektare (ha) dengan kapasitas produksi 6,56 juta ton per tahun. Sedangkan total rencana produksi sebanyak 55 juta metrik ton selama 15 tahun.

Selain fokus menggenjot produksi batubara,  perusahaan ini berencana menekuni bisnis sektor power plant, namun  tidak dalam waktu dekat. “Masuk ke power plant itu mungkin ada, tetapi belum tahu waktunya. Bisa jangka menengah atau jangka panjang,” ujarnya.

Asal tahu saja, Asia Coal Energy Ventures Limited (ACE) mengakuisisi BRAU pada medio tahun 2015 lalu. Ace sendiri merupakan kendaraan investasi Sinarmas Group untuk mendukung proyek-proyek PLTU milik Sinarmas.

Saat ini melalui anak usahanya sudah mengoperasikan empat pembangkit listrik di Tangerang, Banten dan dua di Karawang, Jawa Barat dengan total kapasitas mencapai 300 MW.  Selain itu, Sinarmas Grup juga memiliki PLTU Sumsel V Musi Banyuasin berkapasitas 2x150MW, PLTU Kendari III.

http://industri.kontan.co.id/news/brau-genjot-produksi-sebesar-2885
Sumber : KONTAN.CO.ID

Emoticons0051

kontan: Ibarat artis ngetop, nama Grup Sinar Mas nyaris selalu menjadi buah bibir dan menjadi sorotan. Maklum, bisnis konglomerasi yang dirintis Eka Tjipta Widjaja  sanggup bangkit lagi setelah jatuh berkali-kali. Bahkan kini, kelompok usaha ini tercatat sebagai salah satu grup usaha terbesar di Tanah Air.

Nah, jika grup usaha lain menunjuk krisis moneter tahun 1998 sebagai fase kejatuhan terdalam, lain cerita dengan Sinar Mas. Kelompok bisnis itu merasa limbung pada tahun 2001. Mereka menanggung utang US$ 13,5 miliar hanya dari bisnis kelapa sawit serta pulp and paper. Angka itu berkontribusi mayoritas bagi total utang Sinar Mas.

Harga kelapa sawit serta pulp and paper di pasar internasional yang terjun bebas yang menjadi biang kerok. Kala itu, satu ton kelapa sawit hanya dihargai US$ 350 per ton. “Ditambah country rating Indonesia juga sudah sangat rendah,” kenang Gandi Sulistiyanto, Managing Director Sinar Mas Group saat dijumpai KONTAN di kantor Sinar Mas, akhir Agustus silam.

Pada masa itu bisnis keuangan Sinar Mas juga meriang. Bank International Indonesia (BII) nyaris kolaps, karena menanggung utang Sinar Mas sebesar US$ 1,43 miliar. Akhirnya, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) turun tangan memberikan jaminan. Dalam kondisi serba sulit, Sinar Mas kemudian merestrukturisasi bisnis. Opsi di depan mata adalah melepas bisnis tertentu dan mempertahankan selebihnya. Keputusan diambil, Sinar Mas melepas BII.

Pertimbangan Sinar Mas, BII adalah perusahaan sektor keuangan terbesar yang mereka miliki. Jadi kalau dijual, bisa signifikan membayar utang bisnis pulp and paper dijalankan lewat Asia Pulp & Paper (APP).

Alasan lain, BII menyerap tenaga kerja paling sedikit. Ini berbeda dengan APP yang mempekerjakan 110.000 orang atau hampir separuh dari total tenaga kerja Sinar Mas, yang saat itu berjumlah 300.000 orang. “Perusahaan yang menyerap tenaga kerja terbanyak, yakni sektor kertas dipertahankan. Itu amanah  pendiri kami,” ujar Gandi.

Pelan tapi pasti, Sinar Mas kembali bangkit. Pengalaman pahit dengan BII tak membikin mereka jera. Sembari mencicil utang, tahun 2005, Sinar Mas membeli Bank Shinta, cikal bakal Bank Sinarmas.

 

Badai belum berlalu

Kebetulan, Dewi Fortuna juga berpihak pada bisnis kelapa sawit. Harga komoditas bahan baku minyak goreng itu lalu naik di atas US$ 1.000 per ton.
Kantong yang kemudian menggembung, memicu Sinar Mas menjajal peruntungan bisnis baru; infrastruktur, energi, pertambangan serta telekomunikasi. Dus, bisnis Sinar Mas bersemi  lagi tahun 2008.

Namun, badai tak benar-benar berlalu. Hingga kini, tudingan sebagai perusak lingkungan masih membayangi bisnis kelapa sawit serta pulp and paper. Sinar Mas bersikukuh menampik tudingan tersebut. “Itu adalah persaingan bisnis global, Prancis dan Eropa terang-terangan anti sawit,” elak Gandi.

Selain itu, tak semua pertimbangan bisnis Sinar Mas bernas. Pada bisnis telekomunikasi misalnya, Sinar Mas mengaku CDMA adalah buah  kesalahan memilih teknologi. Alhasil, Sinar Mas harus membereskan kesalahan yang dibuat sendiri.

Hanya saja, pepatah Jepang menyebut shichiten hakki, yang berarti jatuh tujuh kali bangun delapan kali. Sinar Mas sepertinya mempunyai banyak cara untuk kembali bangkit.

Regenerasi

Saat ini Eka Tjipta Widjaja tak lagi duduk di garda depan. Anak dan cucunya yang menjalankan roda bisnis Grup Sinar Mas. Setiap anak mengelola satu lini. Bisnis yang dipegang anak, otomatis menurun ke cucu.

Sinar Mas mengelompokkan ratusan perusahaan ke dalam enam pilar utama bisnis, yakni pulp and paper, jasa keuangan, pengembang dan real estat serta agribisnis dan makanan. Dua lini bisnis lagi adalah telekomunikasi serta energi dan infrastruktur.

Anak tertua Eka Tjipta, yakni Teguh Ganda Widjaja memegang pulp and paper, sedangkan Franky O. Widjaja menggawangi agribisnis dan makanan. Lantas, bisnis pengembang dan real estat dikendalikan Muktar Widjaja. Kalau Indra Widjaja kebagian jasa keuangan. Anak-anak mereka atau generasi III, sudah terlibat menjalankan bisnis bersama-sama.

Hanya bisnis energi dan infrastruktur yang langsung dipegang oleh generasi III. Fuganto Widjaja, anak Indra Widjaja mengawal bisnis yang antara lain membawahi PT Golden Energy Mines Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk itu. “Dipilih di antara generasi III, Pak Fuganto dianggap mampu dan bisa menjalankan,” terang Gandi Sulistiyanto, Managing Director Sinar Mas Group, saat dijumpai KONTAN, akhir Agustus silam.

Menjalankan bisnis berbarengan antara generasi II dan III bukan tanpa kendala. Meskipun, pertalian darah mengikat mereka. Kendala biasanya muncul lantaran faktor latar belakang pendidikan dan komunikasi. Gaya kepemimpinan generasi III yang berlatar belakang pendidikan di luar negeri, berbeda dengan generasi II.

Namun, klan Eka Tjipta sudah sepakat dengan satu hal. “Kalau sudah diputuskan oleh anak tertua, yang lain mengikuti, walaupun dalam diskusi ada perbedaan pendapat,” kata Gandi.

ets-small

JAKARTA kontan. Setidaknya ada sembilan emiten yang sahamnya disuspensi otoritas bursa selama satu tahun terakhir. Kesembilan saham ini disuspensi bukan akibat pergerakan saham mereka, melainkan karena faktor fundamental.

Saham PT ATPK Resources Tbk (ATPK) sudah disuspensi sejak 28 Agustus 2015 silam. Saham PT Inovisi Infracom Tbk (INVS) diparkir sejak Februari 2015. PT Skybee Tbk (SKYB) mendapat suspensi sejak Agustus 2015.

Lalu ada enam saham lain seperti saham PT Siwani Makmur Tbk (SIMA), PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP), PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO), PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA), PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan saham ATPK karena mempertanyakan keberlangsungan usaha atau going concern emiten ini. Sama halnya seperti GTBO yang disuspensi lantaran berhentinya produksi batubara.

Selain masalah going concern, suspensi juga dilakukan karena alasan administratif seperti telatnya penyampaian laporan keuangan kuartalan. Sembilan saham ini disuspensi rata-rata selama satu tahun, bahkan ada yang lebih.

Artinya, tersisa waktu satu tahun lagi untuk memperbaiki fundamental. Jika tidak, konsekuensinya adalah delisting paksa alias forced delisting seperti apa yang sudah diatur oleh peraturan bursa.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat bilang, setidaknya ada 28 perusahaan yang masuk dalam radar penilaian ulang atas kelayakan apakah masih bisa tercatat di bursa atau tidak. Apalagi, sebagian besar disuspensi cukup lama.

Namun, peraturan ini tidak saklek. Dalam situasi tertentu, masih ada toleransi waktu. “Belum tentu setelah dua tahun disuspensi, saham itu langsung di-delisting,” tambah Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Anggota Bursa Hamdi Hassyarbaini belum lama ini.

Toleransi ini hanya berlaku untuk situasi tertentu. Emiten harus menunjukkan komitmen untuk melanjutkan keberlangsungan usaha. Jika tidak, maka forced delisting bisa terjadi.

Samsul menambahkan, forced delisting bisa terjadi meski saham belum disuspensi selama dua tahun. Misalnya, karena tersangkut masalah hukum yang besar yang mengganggu kelangsungan usaha atau perusahaan tersebut sudah tidak memenuhi standar laporan keuangan dan persyaratan lain sebagai perusahaan terbuka.

“Kami akan meminta pendapat dari mereka terlebih dahulu. Bursa akan bertanya tentang rencana mereka,” pungkas Samsul.

Dalam lima tahun terakhir, ada 21 emiten yang delisting dari bursa. Tahun lalu, ada tiga perusahaan yang di-delisting, yakni, PT Unitex Tbk (UNTX), PT Bank Ekonomi Raharja Tbk (BAEK), dan PT Davomas Abadi Tbk (DAVO).

lol

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA– Memasuki pertengahan 2016 ini Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah memproses 52 perkaraPenundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Jumlah itu naik dari periode sama tahun lalu 49 perkara. Dari 52 perkara, enam melibatkan perusahaan terbuka (Tbk).

Keenam perusahaan itu antara lain PT Eagle High Plantation (BWPT), PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk (DAJK), dan PT Bumi Resources (BUMI).

Jika dibandingkan tahun lalu, jumlah perusahaan Tbk yang dimohonkan PKPU bertambah.

Tahun lalu hanya ada tiga perusahaan Tbk yang masuk proses PKPU, yakni PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO), PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), dan PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk (APOL).

Andi F. Simangunsong, pengacara sekaligus kurator dari AFS Partnership bilang, dalam perekonomian yang sulit, banyak perusahaan yang tidak bisa membayar utang jatuh tempo, ataupun diperkirakan tidak membayar tepat waktu.

“Saat itu perusahaan butuh restrukturisasi utang,” katanya, Minggu (5/6/2016).

Umumnya perusahaan mencoba restrukturisasi dengan pendekatan one on one dengan kreditur di luar pengadilan.

Namun jika seluruh kreditur tidak dapat dirangkul, PKPU jadi opsi tepat.

Tapi Opsi itu tidak dipilih jika mayoritas kreditur berhasil dirangkul sebelum ke pengadilan.

Analis First Asia Capital David Nathanael Sutyanto menambahkan, PKPU merupakan langkah penyelesaian utang paling akhir.

Sebelum masuk pengadilan, biasanya debitur dan kreditur sudah melakukan pembicaraan untuk penyelesaian utang.

“Kalau tidak ada titik temu, PKPU jalan yang tepat,” katanya.

PKPU menjadi jalan terakhir karena bagi perusahaan terbuka, hal ini dapat berdampak pada pergerakan saham. “Karena keadaanemiten dipandang sudah tak sehat,” tegasnya.

Oleh karena itu pemegang sahamlah yang dirugikan jika suatu perusahaan masuk PKPU. Sebab posisi pembayaran bagi pemegang saham ada di bawah.

Artinya, perusahaan harus mengedepankan pembayaran utang kepada kreditur khususnya bank dibandingkan kepentingan pemegang saham.

Reporter: Sinar Putri S.Utam

new-chin-year-dragon-02

JAKARTA kontan. Negara surga pajak atau tax haven tetap favorit bagi sejumlah perusahaan untuk menghindari perpajakan. Tak heran, nyaris semua perusahaan besar di Tanah Air dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), membentuk anak usaha bertujuan khusus atau special purpose vehicle (SPV) di negara tax heaven.

Tujuannya antara lain untuk transaksi akuisisi, maupun tujuan penerbitan obligasi.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan, telah memiliki data komplet pemilik SPV di tax heaven, termasuk dari kalangan emiten saham di BEI. Mereka bagian dari 2.000 SPV yang akan ditelusuri Kementerian Keuangan.

“Akan kami periksa,” katanya, Selasa (22/3), tanpa menyebut identitasnya. Nah, berdasarkan riset KONTAN, sejumlah SPV digunakan untuk membeli saham.

Sebagai contoh, Farindo Investment Limited (Ltd). SPV yang dibentuk di Mauritius, itu kini memiliki 47,15% saham di BCA. Farindo merupakan SPV yang terafiliasi dengan pemilik Grup Djarum.

Selain itu, ada pula Asia Coal Energy Ventures Limited (ACE) yang dibentuk di British Virgin Island. SPV ini dibentuk keluarga Grup Sinarmas untuk mengakuisisi perusahaan tambang, PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

BRAU juga membentuk SPV di Singapura bernama Berau Capital Resources Pte Ltd. Perusahaan ini merupakan kendaraan BRAU untuk menerbitkan obligasi jenis guaranted secured notes senilai US$ 450 juta di Singapura.

Juru Bicara Direktorat Jenderal Pajak Mekar Satria Utama mengungkapkan, data Ditjen Pajak menunjukkan bahwa jumlah SPV miliki WNI lebih dari 2.000 WNI. Data-data itulah yang akan dikejar oleh Ditjen Pajak dengan memanfaatkan fasilitas kerjasama pertukaran informasi.

Pengamat Pajak dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Ronny Bako menambahkan, pemerintah bisa memanfaatkan data sekunder dari kunjungan wisata WNI ke luar negeri, utamanya tujuan ke negara tax heaven.

Dari data tersebut, pemerintah bisa menelusuri SPT WNI. “Buat juga regulasi baru terkait aktivitas penghindaran pajak per sektor,” kata Ronny.

Reporter Adinda Ade Mustami
Editor Barratut Taqiyyah
gifi

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara atau melakukan suspensi perdagangan saham lima emiten menyusul belum disampaikannya laporan keuangan interim per 30 September 2015 dan belum dilakukannya pembayaran denda.

“Berdasarkan catatan Bursa, emiten yang terkena suspensi itu yakni PT Borneo Lumbung Energy dan Metal Tbk (BORN), PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), PT Permata Prima sakti Tbk (TKGA), PT Inovisi Infracom Tbk (INVS) dan PT Buana Listya Tama Tbk (BULL),” papar Kepala Penilaian Perusahaan 1 BEI I Gede Nyoman Yetna dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (11/3/2016).

Ia mengemukakan bahwa pengenaan sanksi itu, sesuai dengan ketentuan peraturan III.1.6.1.1 Bursa No. I-E tentang Kewajiban Penyampaian Informasi, Laporan Keuangan Interim.

Laporan tersebut harus diaudit oleh akuntan publik disampaikan selambatnya tiga bulan setelah tanggal laporan keuangan interim dimaksud.

Selain itu, lanjut dia, ketentuan II.6.3 Peraturan Bursa Nomor I-H tentang Sanksi. Bursa memberikan peringatan tertulis III dan denda sebesar Rp150 juta apabila mulai hari kalender ke-61 hingga hari kalender ke-90 sejak lampaunya batas waktu penyampaian laporan keuangan, emiten tetap tidak memenhi kewajiban penyampaian laporan keuangan.

Kemudian, ketentuan II.6.4 Peraturan Bursa Nomor I-H tentang Sanksi, Bursa melakukan suspensi, apabila mulai hari kalender ke-91 sejak lampaunya batas waktu laporan keuangan, emiten tidak memenuhi kewajiban penyampaian laporan keuangan dan atau telah menyampaikan namun tidak memenuhi kewajiban untuk membayar denda sesuai peraturan.

“Batas waktu penyampaian laporan keuangan interim yang berakhir per 30 September 2015 yang diaudit oleh Akuntan Publik adalah tanggal 4 Januari 2016,” paparnya.

http://market.bisnis.com/read/20160311/192/527144/bursa-efek-indonesia-bei-suspensi-5-emiten
Sumber : BISNIS.COM

doraemon

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) mendera PT Buana Listya Tama Tbk (BULL) dengan denda Rp 150 juta. Pasalnya, perseroan belum melakukan penyampaian laporan keuangan September sesuai dengan batas waktu yang ditentukan bursa yakni tanggal 4 Januari 2016 lalu.

“Berdasar catatan Bursa, sampai dengan tanggal 29 Februari 2016, terdapat lima perusahaan tercatat yang belum menyampaikan Laporan keuangan interim yang berakhir per 30 September 2015 dan/ atau belum melakukan pembayaran denda,” ujar I Gede Nyoman Yetna, Kepala Penilaian Perusahaan I BEI, dalam keterbukaan, Kamis (10/3).

Sesuai ketentuan II.6.3. Peraturan Bursa Nomor I-H tentang sanksi, bursa memberikan peringatan tertulis III dan denda sebesar Rp 150 juta apabila mulai hari kalender ke-61 hingga hari kalender ke-90 sejak lampauannya batas waktu penyampaian laporan keuangan, perusahaan tercatat tetap tidak memenuhi kewajiban penyampaian laporan keuangan.

“Mengenakan sanksi peringatan tertulis III dan denda sebesar Rp 150 juta kepada BULL karena tidak memenuhi kewajiban penyampaian laporan keuangan interim yang berakhir per 30 September 2015 yang diaudit oleh akuntan publik sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan,” lanjutnya.

Bersamaan dengan itu, Bursa juga melakukan suspensi perdagangan saham terhadap empat emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan interim per 30 September 2015. Laporan tersebut merupakan yang tidak ditelaah terbatas atau yang tidak diaudit akuntan publik.

Keempat emiten tersebut adalah PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN), PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA) dan PT Inovisi Infracom Tbk (INVS). Padahal batas waktu penyampaian laporan keuangan interim sudah melewati batas yang ditetapkan.

http://investasi.kontan.co.id/news/bei-beri-sanksi-denda-rp-150-juta-terhadap-bull
Sumber : KONTAN.CO.ID

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Mantan Direktur Utama PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), Rosan Perkasa Roeslani masih
memiliki kewajiban utang yang harus dipenuhi ke BRAU. Berdasarkan keputusan arbitrase
di Singapore International Arbitration Centre, akhir 2014 silam, Rosan memiliki kewajiban
US$ 173 juta kepada BRAU.

Rosan yang kini menjadi Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) itu enggan berkomentar
banyak tentang utang tersebut. Ia mengatakan, kewajiban itu akan diselesaikan secara damai.
“Tanya ke BRAU saja itu. Sudah damai. Ya akan mengarah ke perdamaian,” ujar Rosan.(kontan/az)

butterfly

JAKARTA kontan– Bursa Efek Indonesia (BEI) memustuskan untuk melakukan penghentian sementara (suspensi) saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP) sejak sesi I perdagangan Senin ini.

Kepala Penilaian Perusahaan I BEI I Gede Nyoman Yetna dalam siaran pers di Jakarta, mengemukakan bahwa Bursa melakukan perpanjangan suspensi terhadap saham BRAU merujuk pengumuman Bursa No. Peng-SPT-00010/BEI.PGI/05-2015 tertanggal 4 Mei 2015 perihal suspensi efek BRAU diseluruh pasar.

Selain itu, Bursa juga merujuk surat surat Bursa No. S-06663/BEI/PGI/12-2012 tertanggal 4 Desember 2015 perihal peringatan tertulis III dan denda. Dan, ketentuan II.3 Peraturan Bursa Nomor I-H tentang Sanksi.

“Dengan ini Bursa mengumumkan bahwa hingga Jumat (18/12), Bursa belum menerima pembayaran denda dari perseroan terkait sanksi atas keterlambatan penyampaian tanggapan permintaan penjelasan Bursa,” papar I Gede Nyoman Yetna.

Sementara itu, Kadiv Pengawasan Transaksi BEI Irvan Susandy mengemukakan bahwa untuk suspensi saham IIKP dilakukan seiring dengan peningkatan harga kumulatif yang signifikan sebesar Rp1.240 atau 139,33%, yakni dari harga penutupan Rp890 pada 12 November 2015 menjadi Rp2.130 pada 18 Desember 2015.

“Suspensi saham IIKP dilakukan di pasar reguler dan pasar tunai mulai perdagangan sesi I pada 21 Desember 2015 sampai dengan pengumuman Bursa lebih lanjut. Bursa menghimbau kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan,” katanya. (ant/gor)

dollar small

JAKARTA kontan. Kondisi komoditas yang tengah lesu membuat PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) menggiatkan efisiensi. Emiten batubara ini melakukan perubahan penggunaan dana penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Selain itu, BRAU juga merevisi belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini.

“Perubahan strategi. Tadinya sisa dana IPO untuk pertumbuhan. Tapi dua sampai tiga tahun ke depan, harga komoditas batubara diperkirakan masih tertekan. Maka kita fokus ke efisiensi,” kata Direktur Independen BRAU Arief Wiedhartono, Rabu (21/10).

Sampai akhir kuartal ketiga, BRAU telah menggunakan Rp 722,32 miliar dana IPO. Nantinya, sisa dana IPO senilai Rp 346 miliar akan digunakan untuk pengembangan usaha perseroan. Ini meliputi peningkatan kapasitas fasilitas pengolahan batubara, loading conveyor serta hauling road di Lati, Binungan, dan Sambarata. Selain itu, BRAU juga melakukan investasi penambahan 2 unit tug dan barge.

BRAU akan mengutamakan penambangan pada site tambang dengan biaya operasional yang lebih rendah. Sehingga margin keuntungan yang diraih bisa meninggi.

Arief mengungkapkan, efisiensi yang dilakukan akan mengacu pada kecenderungan harga komoditas batubara. BRAU pun berusaha menekan biayanya di bawah harga batubara.

Oleh karena itu, BRAU juga merevisi rencana pembangunan pembangkit listrik di Suaran. “Kapasitas sedang dikaji ulang berapa yang akan BRAU bangun. Masih dalam kajian,” ujar Arief.

Pada rencana awal, BRAU berencana membangun pembangkit listrik di Suaran dengan kapasitas 15 MW sampai 25 MW. Menurutnya, BRAU mempertimbangkan penurunan kapasitasnya menjadi sekitar 10 MW sampai 12 MW minimum.

Arief mengatakan, BRAU telah membangun fasilitas peningkatan kapasitas produksi di Binungan dan Suaran. Dana pembelanjaan modal itu juga digunakan untuk membangun terminal batubara di Suaran yakni Rp 68,45 miliar, pembangkit listrik tenaga batubara di Suaran senilai Rp 5,03 miliar, dan pembelian fasilitas transhipper Rp 10,45 miliar.

BRAU juga memangkas capex tahun ini sebanyak 40%. Tadinya, BRAU menganggarkan capex sebesar US$ 30 juta. Arief mengatakan, serapan capex perseroan tahun ini direvisi menjadi US$ 18 juta. Adapun sampai kuartal ketiga, capex yang telah terserap adalah sekitar US$ 12 juta.

Sampai kuartal ketiga, Arief memperkirakan realisasi produksi batubaranya mencapai 20 juta ton. Sampai akhir tahun, BRAU menargetkan produksi 26,5 juta ton dari Sambarata.

 

Reporter Annisa Aninditya Wibawa
Editor Barratut Taqiyyah
lol

JAKARTA– Kelompok usaha Sinar Mas Grup menargetkan skema restrukturisasi utang PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) senilai US$ 950 juta bisa rampung pada akhir tahun ini.

“Dulu sudah ada skema. Saat ini sedang dikaji kembali. Target sebelum Januari 2016 sudah ada skema terkini,” kata Direktur Utama Berau Coal Energy, Fuganto Widjaja, cucu pendiri Grup Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja, usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Berau Coal di Jakarta, Rabu.

RUPSLB diselenggarakan atas permintaan Vallar Investment UK Ltd selaku pemilik 84,74% saham Berau Coal Energy. Melalui Vallar, Asia Resource Minerals Plc (ARMS) mengendalikan saham Berau Coal Energy. Sebelumnya, sebanyak 74,7% pemegang saham ARMS menerima penawaran pembelian saham yang diajukan Grup Sinar Mas melalui Asia Coal Energy Ventures Ltd (ACE).

Fuganto mengatakan, skema restrukturisasi tengah digodok bersama tim internal sambil melihat kemampuan kinerja perusahaan. “Saat ini sedang ada tim auditor untuk melihat proyeksi kinerja keuangan dan kemampuan perusahaan membayar utang, misalkan dalam lima tahun ke depan,” katanya.

Ia menambahkan visi industri pertambangan merupakan visi jangka panjang. Berau Coal, anak usaha Berau Coal Energy, merupakan tambang batubara yang memiliki nilai strategis berupa cadangan batu bara yang relatif besar dan didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang baik dalam menerapkan prinsip penambangan secara good mining practice.

“Good mining practice atau kaidah penambangan yang benar, memiliki nilai jauh lebih berarti, tidak hanya sekadar berupa besaran angka produksi. Hal ini bukan saja jadi tuntutan pemilik tambang, namun sudah menjadi kebijakan tegas pemerintah dalam mengelola industri tambang,” katanya.

Ketua Serikat Pekerja PT Berau Coal, Lukman Rahim, mengungkapkan karyawan percaya masuknya Fuganto Widjaja sebagai Direktur Utama BRAU dan Presiden Direktur PT Berau Coal membawa kemajuan bagi perusahaan.

“Di bawah kepemimpinan baru Pak Fuganto, maka kami yakin akan memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan, terutama meningkatkan kesejahteraan karyawan.” ujar Lukman.

Dalam RUPSLB tersebut juga disetujui Gandi Sulistiyanto Soeherman sebagai presiden komisaris, didampingi Marsetio sebagai wakil komisaris utama merangkap komisaris independen, Deswandhy Agusman sebagai komisaris independen, dan Darmono sebagai komisaris.

Sementara untuk direksi diangkat Fuganto Widjaja sebagai direktur utama; Bambang Heruawan Haliman dan Edy Santoso sebagai direktur, serta Arief Wiedhartono sebagai direktur independen. (gor/ant)

Financier Nathaniel Rothschild has ended his tumultuous four-year foray into the Indonesian coal-mining sector by agreeing to sell his 17.2% stake in Asia Resource Minerals, the U.K.-listed company he founded in 2011.

 

buttrock

wsj LONDON—Nathaniel Rothschild akhirnya mundur dari sektor batubara Indonesia dengan melepas seluruh sahamnya di Asia Resource Minerals (ARMS), perusahaan yang ia dirikan pada 2011.

Pengusaha kelahiran Inggris itu menjual 17,2% saham ARMS—yang ia kuasai bersama dengan perusahaan investasinya NR Holdings Ltd—seharga 56 pence per lembar atau totalnya £23 juta kepada Asia Coal Energy Ventures Ltd, perusahaan investasi sokongan keluarga Widjaja.

Harga tersebut 37% lebih tinggi dari tawaran pertama yang diajukan keluarga Widjaja bulan lalu. Nilai perusahaan kini mencapai £135 juta.

Investor tahun 2010 sempat menghargai perusahaan Rothschild ini £10 per lembar saham. Kala itu, puncak era booming komoditas, ia berjanji akan mencari aset sumber daya alam yang menarik di pasar berkembang.

Upaya Rothschild tampaknya akan sukses pada 2011, kala ia terjun ke sektor batubara Indonesia melalui pembentukan Bumi PLC bersama keluarga Bakrie. Namun, harga saham Bumi anjlok akibat sengketa internal antara Rothschild dan Bakrie.

Bumi kemudian berubah nama menjadi ARMS pada 2013, setelah perusahaan itu resmi pecah kongsi dengan Bakrie.

“Ini adalah investasi pertama dan terakhir kami di sektor batubara Indonesia,” tandas Rothschild. Ia kehilangan sekitar £80 juta akibat investasi di ARMS, kata seorang sumber.

Tawaran dari keluarga Widjaja akan diputuskan dalam pemungutan suara pemegang saham bulan ini, demikian pertanyaan perusahaan.

Jika pemegang saham menyetujui kesepakatan itu, aset tersisa di ARMS—kepemilikan 85% di Berau Coal Energy—akan kembali ke pebisnis tanah air.

Rothschild pada Februari lalu berupaya menguasai ARMS melalui suntikan dana $100 juta, yang sedianya akan membantu pelunasan utang ARMS sebesar $450 juta, jatuh tempo pada 8 Juli.

Keluarga Widjaja, dengan sokongan Argyle Street Management Ltd yang juga memegang saham ARMS, pada 7 Mei mengajukan tawaran tandingan berupa dana tunai serta program rekapitalisasi alternatif. Program itu melibatkan suntikan dana tunai $150 juta.

Bagaimanapun, masalah masih melilit Berau, perusahaan batubara terbesar kelima di Indonesia. ARMS bulan lalu mengaku sulit mengendalikan perusahaan tersebut karena Amir Sambodo, yang sudah mengundurkan diri sebagai presiden Berau pada Maret, menolak melepaskan jabatannya begitu saja.

ARMS mengklaim Berau mesti menjalani proses pailit jika tidak segera membayar kontraktor. Perusahaan itu memang tengah kesulitan akibat kejatuhan harga batu bara dalam beberapa tahun terakhir, seiring turunnya permintaan dari Cina.

Sinarmas Group, perusahaan milik keluarga Widjaja, menyatakan akan mencoba mengambil alih Berau sebelum tawarannya diputuskan.

“Ini adalah tonggak penting, Nat [Rothschild] menawarkan dukungannya,” kata Fuganto Widjaja, 33 tahun. “Sudah jelas ini kabar baik, tetapi [urusannya] belum tuntas.”

—Dengan kontribusi dari Dominique Fong.

buttrock

JAKARTA. Grup Sinarmas terus menggalang dukungan untuk mengambil alih saham Asia Resource Minerals Ltd (ARMS), induk usaha PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Kali ini, Sinarmas mendapat dukungan dari Spinnaker Capital Limited.Kendaraan investasi Sinarmas, Asia Coal Energy Ventures Limited (ACE) telah meneken kesepakatan dalam Letter of Intent (LOI) dengan Spinnaker, Kamis (4/6). Dalam kesepakatan itu, Spinnaker akan memberikan suaranya pada proposal Sinarmas dan menolak proposal lain yang mungkin ditawarkan dalam rapat umum pemegang saham dalam waktu dekat ini.Sebagai informasi, saat ini, Spinnaker memiliki 8,48 juta saham atau setara dengan 3,52% saham ARMS. Kesepakatan ini menguatkan posisi Sinarmas. Sebelumnya, Sinarmas juga sudah meneken Letter of Intent dengan perusahaan investasi milik Harry Tanoesoedibjo, HT Investment yang memiliki 3 juta saham di ARMS.ACE saat ini dikelola oleh perusahaan asal Hong Kong, yakni Argyle Street Management Ltd (ASML) yang mengempit 4,65% saham ARMS. Sebelumnya, pada 7 Mei 2015, ACE resmi mengajukan penawaran tunai (cash offer) untuk menguasai hingga 100% saham ARMS.ACE juga sudah mengajukan skema restrukturisasi obligasi BRAU sebagai bagian dari penawaran tunai tersebut. ACE akan mengganti pokok surat utang (notes) lama menjadi surat utang baru. Notes lama yang dimaksud adalah obligasi senilai US$ 450 juta dengan kupon 12,5% yang jatuh tempo pada tahun 2015 dan diterbitkan oleh Berau Resources Pte. Ltd. Lalu, obligasi US$ 500 juta dengan kupon 7,25% yang jatuh tempo tahun 2017 dan diterbitkan langsung oleh BRAU.Proses restrukturisasi ini juga meliputi injeksi modal sebesar US$ 150 juta melalui penawaran terbuka (open offer). Penawaran itu dipermanis dengan harga rights issue yang cukup premium yang akan dijamin sepenuhnya oleh ACE.Pembayaran awal obligasi lama akan terbagi menjadi dua bagian. Pertama, sebesar US$ 62,47 juta akan dibayarkan untuk obligasi tahun 2015. Kedua, sebesar US$ 56,28 juta digunakan untuk membayar obligasi tahun 2017. Pembayaran ini bakal dilakukan secara tunai.

Lalu, akan ada obligasi atau notes baru yang akan diterbitkan untuk menukar notes lama. Yakni, notes sebesar US$ 387,53 juta yang akan jatuh tempo Juli 2019 dan digunakan untuk menukar notes tahun 2015. Lalu notes senilai US$ 443,72 juta yang akan jatuh tempo pada Desember 2020 untuk menukar notes tahun 2017.

Notes baru ini akan diterbitkan oleh ARMS atau anak usaha yang disetujui oleh ACE dan didukung oleh pemegang obligasi. Lalu, akan dijamin sepenuhnya oleh ARMS dan subsidiarinya, yang terdiri dari sembilan perusahaan. Notes baru ini bakal dicatatkan di Bursa Efek Singapura (SGX).

http://investasi.kontan.co.id/news/akuisisi-arms-sinarmas-dapat-dukungan-spinnaker

Sumber : KONTAN.CO.ID

lol

JAKARTA kontan. Grup Sinarmas mengajukan skema lengkap restrukturisasi obligasi PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Proses tersebut untuk memuluskan Sinarmas mengambil alih BRAU melalui induknya, Asia Resource Minerals Plc (ARMS).

Sinarmas melakukan penawaran tunai (cash offer) melalui Asia Coal Energy Ventures Ltd (ACE) di bawah Argyle Street Management Ltd, pemilik 4,65% saham ARMS. Kin Chan, Partner ACE dalam suratnya mengatakan, dalam proses rekapitalisasi itu, ACE akan mengganti pokok surat utang (notes) lama menjadi surat utang baru.

Notes lama adalah obligasi US$ 450 juta berbunga 12,5% jatuh tempo 2015 dan diterbitkan oleh Berau Resources Pte. Ltd. Lalu, obligasi US$ 500 juta dengan kupon 7,25% jatuh tempo 2017 dan diterbitkan BRAU. Proses restrukturisasi ini meliputi injeksi modal US$ 150 juta melalui penawaran terbuka (open offer).

Penawaran itu dipermanis dengan harga rights issue premium yang dijamin oleh ACE. ARMS menggunakan dana US$ 145 juta untuk memberi pinjaman ke BRAU sebagai ongkos restrukturisasi dan modal kerja BRAU. Selain itu US$ 100 juta untuk membayar sebagian obligasi yang akan jatuh tempo.

Pembayaran awal obligasi lama ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama, US$ 62,47 juta untuk obligasi 2015. Kedua, US$ 56,28 juta untuk obligasi 2017. Nah, akan ada notes baru yang akan diterbitkan untuk menukar notes lama. Yakni, notes US$ 387,53 juta jatuh tempo Juli 2019 untuk menukar notes 2015. Lalu notes US$ 443,72 juta jatuh tempo Desember 2020 untuk menukar notes 2017.

Notes baru ini diterbitkan ARMS atau anak usaha yang disetujui ACE dan didukung pemegang obligasi. Obligasi itu dijamin sepenuhnya oleh ARMS dan subsidiary yang terdiri dari sembilan perusahaan. Notes baru ini bakal dicatatkan di Bursa Efek Singapura (SGX).

Fuganto Widjaja, Direktur Sinarmas Grup yakin bisa mengambil alih mayoritas saham ARMS dan menyelesaikan utang -utang BRAU.

Editor: Uji Agung Santosa
lol

INILAHCOM, Jakarta – Nathaniel Rothschild Holdings Limited (NRH) dan Siberian Coal Energy Company (SUEK) membatalkan penawaran akuisisi saham Asia resource Minerals (ARMS).

Sebelumnya NRH dan SUEK berencana menyerap saham ARMS seharga 25 pence per saham sekaligus menjamin penerbitan saham baru ARMS senilai US$100 juta.

Seperti dikutip dari website ARMS Kamis (21/5/2015), NRH dan SUEK mengatakan, tidak akan melanjutkan penawaran tersebut. Namun, NRH tetap berkomitmen menyerap saham baru yang diterbitkan ARMS.

Menurut sumber INILAHCOM, mundurnya NRH dan SUEK ini erat kaitannya dengan penawaran lain dari Asia Coal Energy Ventures (ACE), perusahaan milik Sinar Mas Group.

ACE memberikan penawaran yang lebih menarik dengan harga 41 pence per saham untuk 100% saham ARMS suntikan dana senilai US$150 juta. “Pertempuran di London sangat mematikan antara Ned (Nathaniel Rothschild) dan Sinar Mas,” ujar sumber tersebut.

Dengan mundurnya NRH dan SUEK, dewan direksi ARMS mengatakan telah kembali mendiskusikan penawaran tersebut dengan ACE. ARMS sendiri berencana melakukan RUPS-LB 31 Juli 2015.

Langkah ARMS berikutnya menentukan nasib perusahaan. Pasalnya, induk usaha Berau Coal Energy ini harus menghadapi jatuh tempo obligasi senilai US$450 juta pada Juli. Emiten batu bara ini juga memiliki surat utang lain senilai US$500 juta yang jatuh tempo pada 2017. [jin]

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2206851/rothschild-undur-diri-dari-penawaran-saham-arms#sthash.GZxCQWFc.dpuf

new-chin-year-dragon-02

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak akan membuka suspensi saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) hingga manajemen berhasil menyelesaikan kisruh yang terjadi di internal perseroan.

Hoesen, Direktur Penilaian Perusahaan BEI mengatakan, permasalahan internal BRAU akan diserahkan sepenuhnya kepada manajemen. Alasannya, hal tersebut merupakan kewenangan manajemen dan pemegang saham BRAU.

“Apakah mau menempuh jalur hukum atau disepakati (antar keduabelah pihak),” ujarnya, Jumat (8/5).

Selama masih ada perang argumen tanpa didasari bukti legal atau kata sepakat, maka wasit pasar saham ini tidak akan membuka gembok suspensi saham BRAU. Seperti diketahui, kisruh ini muncul setelah Keith John Downham dan Paul Jeremy Martin Fenby, Direktur BRAU yang baru menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 30 April 2015.

Padahal, OJK telah meminta kepada manajemen BRAU untuk menunda pelaksanaan RUPSLB. Adapun, hasil dari RUPSLB versi Keith dan Paul menyetujui adanya pergantian direksi BRAU dengan suara 89,11%.

Pada pernyataan resminya, Ari Ahmad Effendi, Head Legal dan Sekretaris Perusahaan BRAU bilang, Ketih dan Paul telah tertangkap tangan oleh tim penindakan imigrasi akibat tidak memiliki izin sah rencana penggunaan tenaga asing (RPTKA).

Selain itu, mereka juga tidak memiliki izin menggunakan tenaga kerja asing (IMTA) dan KITAS. Dengan demikian, berdasarkan Pasal 95 Undang Undang Perseroan Terbatas dan Pasal 14 Anggaran Dasar Perseroan, pengangkatan mereka sebagai direktur dinilai batal karena hukum.

Oleh karena itu, menurut Ari, secara hukum, Keith dan Paul tidak berwenang dan tidak berkuasa melakukan tindakan hukum atas nama perseroan.

“Apalagi menandatangani dan melakukan RUPS tanpa pemberitahuan kepada perseroan,” imbuhnya.

BEI telah menghentikan sementara perdagangan saham BRAU sejak Senin, 4 Mei 2015.

http://investasi.kontan.co.id/news/ini-syarat-agar-suspensi-brau-dicabut
Sumber : KONTAN.CO.ID

lol

Bisnis.com, JAKARTA–PT Bursa Efek Indonesia menghentikan perdagangan saham BRAU akibat kisruh yang terjadi pada tubuh manajemen PT Berau Coal Energy.

I Gede Nyoman Yetna, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group I BEI, mengatakan suspensi saham BRAU memiliki pertimbangan adanya ketidakjelasan pelaksanaan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).

“Maka dalam rangka menjaga pasar yang teratur, wajar, dan efisien, bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek BRAU di seluruh pasar,” ungkapnya, Senin (4/5/2015).

Suspensi dilakukan sejak sesi II perdagangan saham Senin (4/5/2015) hingga pengumuman lebih lanjut. BEI meminta pihak-pihak berkepentingan untuk selalu mempertahtikan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan.

Sebelumnya, Berau Coal Energy tetap menggelar RUPSLB pada 30 April 2015. Padahal, RUPSLB sempat diumumkan untuk dibatalkan oleh Head Legal % Corporate Secretary BRAU Ari Effendi atas nama direksi dan komisaris.

RUPSLB Berau Coal Energy yang dipimpin dua Warga Negara Asing (WNA) Keith Diwnham dan Jeremy Martin Fenby memutuskan mengangkat Iskak Wahyudi sebagai Presiden Direktur perseroan dan Ms Marpaung sebagai Presiden Komisaris perseroan. Selain itu, Keith dan Martin juga tetap berada di dalam susunan direksi.

Polemik yang terjadi di BRAU setelah Keith dan Martin di kirim Asia Resources Minerals (ARMS), induk usaha BRAU masuk ke dalam susunan direksi perseroan pada bulan lalu. Namun, kedua WNA itu tidak memiliki izin kerja di Indonesia sehingga dibatalkan untuk masuk ke dalam direksi BRAU.

Pada hari yang sama, BEI juga melakukan suspensi saham PT Bank QNB Kesawan Indonesia Tbk. (BKSW) dan PT Akbar Indo Makmur Stimec Tbk. (AIMS).

Suspensi saham BKSW terjadi akibat peningkatan harga komulatif yang signifikan sebesar Rp387 atau 108,1% dari harga penutupan Rp358 pada 21 April 2015 menjadi Rp745 pada 30 April 2015. BEI melakukan suspensi untuk cooling down di pasar reguler dan tunai.

Adapun, suspensi saham AIMS dilakukan akibat laporan keuangan perseroan yang tidak mencantumkan pendapatan usaha. Suspensi saham AIMS dilakukan sejak sesi I perdagangan 4 Mei 2015 hingga pengumuman lebih lanjut.

Jakarta —  RUPSLB PT Berau Coal Tbk (BRAU) yang dilaksanakan pada 30 April 2015 telah melanggar hukum.Kepala Legal dan Sekretaris Perusahaan Berau Ari Ahmad Effendi menuturkan, dua bekas direksi Berau Keith John Downham dan Paul Jeremy Martin Fenby telah memaksa agar perusahaan melakukan RUPSLB pada tanggal tersebut. Pemberitahuan di surat kabar dibubuhkan tandatangan keduanya.Keith dan Paul telah tertangkap tangan oleh tim penindakan imigrasi dan tengah dalam proses penyidikan.Tindakan Keith dan Paul telah melanggar UU Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan, Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2014 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing serta Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kerja Pendamping, serta UU Nomor 6 Tahun 2011 mengenai Keimigrasian.”Mereka tidak memiliki izin saham rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA), ijin menggunakan tenaga kerja asing (IMTA), dan KITAS yang berlaku,” ujar Ari melalui publikasi BEI, Rabu (6/5).Ia menambahkan, pengangkatan Keith dan Paul sebagai direktur telah dibatalkan berdasarkan pasal 95 UU PT dan pasal 14 Anggaran Dasar perseroan. Oleh sebab itu, berdasarkan pasal 94, maka jabatan Keith dan Paul dinyatakan batal karena hukum.”Bahwa selain pasal 95 tersebut, maka berdasarkan pasal 14 ayat 3 jo pasal 14 ayat 15 AD perseroan, maka jabatan direktur Keith dan Paul dikatakan berakhir jika tidak memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku,” ungkapnya.Diungkapkannya, perseroan telah membatalkan rencana penggunaan tenaga kerja dan pencautan sponsor kepada Keith dan Paul. Bupati Berau dan kantor ketenagakerja di Berau juga telah merekomendasikan pencabutan IMTA atas nama Keith dan Paul.”Artinya, Keith dan Paul secara hukum tidak berwenang dan tidak berkuasa melakukan tindakan hukum atas nama perseroan apalagi menandatangani dan melaksanakan RUPS tanpa memberitahu kepada perseroan,” papar dia.Saat ini, perseroan telah menyampaikan dan berkonsultasi dengan OJK karena persoalan caca hukum atas usulan dilaksanakannya RUPSLB.http://www.imq21.com/news/read/298384/20150506/120920/RUSPLB-Berau-Coal-Ilegal.htmlSumber : IMQ21.COM
lol
JAKARTA. Presiden Direktur PT Berau Coal Energy Tbk. (BRAU) Amir Sambodo memberikan keterangan resmi terkait kisruh perseroan akibat dualisme kepemimpinan.Dia menegaskan, Berau Coal Energy tidak pernah membuat dan menyuruh kepada media untuk membuat pemberitaan. Informasi yang beredar disebut liar dan dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.Perseroan mengaku tunduk dan taat asas hukum termasuk telah menjalankan surat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 30 april 2015 yang meminta kepada perseroan untuk menunda rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) 30 April 2015.”Alasan dan dasar hukum penundaan itu telah kami sampaikan kepada OJK dan PT Bursa Efek Indonesia,” ungkapnya dalam keterbukaan informasi di BEI, Senin (4/5/2015).Dia mengakui telah membuat pengumuman internal kepada seluruh staf dan karyawan BRAU dan anak usaha terkait RUPSLB yang dinilai liar. Keadaan perseroan, sambungnya, tetap tenang dan terkendali.Amir berharap, OJK dan BEI dapat membentuk tim untuk memeriksa dan menindak oknum-oknum yang mengatasnamakan perseroan.Sebelumnya, Berau Coal Energy tetap menggelar RUPSLB pada 30 April 2015. Padahal, RUPSLB sempat diumumkan untuk dibatalkan oleh Head Legal % Corporate Secretary BRAU Ari Effendi atas nama direksi dan komisaris.RUPSLB Berau Coal Energy yang dipimpin dua Warga Negara Asing (WNA) Keith Diwnham dan Jeremy Martin Fenby memutuskan mengangkat Iskak Wahyudi sebagai Presiden Direktur perseroan dan Ms Marpaung sebagai Presiden Komisaris perseroan. Selain itu, Keith dan Martin juga tetap berada di dalam susunan direksi.Polemik yang terjadi di BRAU setelah Keith dan Martin di kirim Asia Resources Minerals (ARMS), induk usaha BRAU masuk ke dalam susunan direksi perseroan pada bulan lalu. Namun, kedua WNA itu tidak memiliki izin kerja di Indonesia sehingga dibatalkan untuk masuk ke dalam direksi BRAU.http://market.bisnis.com/read/20150504/192/429565/kisruh-berau-coal-energy-ini-tanggapan-versi-presdir-amir-sambodoSumber : BISNIS.COM
 Emoticons0051
JAKARTA. PT Berau Coal Energy Tbk. (BRAU) tetap melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada hari ini. Lalu dua direksi asing perseroan yang dikabarkan dideportasi tetap hadir dalam RUPSLB tersebut.Sebelumnya, RUPSLB yang direncanakan pada 30 April sempat diumumkan ditunda. Ari Effendi, Head Legal & Corporate Secretary Berau Coal Energy, atas nama direksi dan dewan komisaris perseroan, mengatakan pembatalan penyelenggaraan RUPSLB tersebut dikarenakan hal-hal yang menjadi agenda di dalam RUPSLB perlu dijajaki lebih mendalam.”Baik secara hukum maupun prosedural antara perseroan dan pemegang saham,” ungkapnya dalam keterbukaan informasi di PT Bursa Efek Indonesia, Selasa (28/4/2015)Namun, pada 29 April disebutkan dalam iklan salah satu surat kabar nasional bahwa RUPSLB tetap dijalankan. Lalu, dua direksi asing emiten berkode BRAU yang sempat dikabarkan dideportasi dikabarkan berada dalam ruangan RUPSLB itu sebagai direksi.Dalam keterangan resmi sebelumnya, ‎dua direksi asing Paul Fenby dan Keith Downham didapat tidak memiliki kelengkapan dokumen izin kerja di Indonesia.Saat ini serikat pekerja BRAU sedang berusaha menyampaikan aspirasi ke dalam ruangan. Tapi pihak perseroan menolak.http://market.bisnis.com/read/20150430/192/428395/berau-coal-brau-rupslb-tetap-diselenggarakan-hari-iniSumber : BISNIS.COM
 buttrock
INILAHCOM, Jakarta – Serikat Pekerja PT Berau Coal Energy (BRAU) mengharapkan Bursa Efek Indonesia dapat menerima aspirasi dari serikat pekerja perusahaan tambang tersebut.Lukman, ketua Serikat Pekerja Unit Kerja Kimia, Energi & Pertambangan PT Berau Coal mengatakan, pihaknya menyampaikan aspirasi terkait penolakan dua direksi asing yang menjadi pemimpin perusahaan. “Dua direksi (Paul Fenby dan Keith Downham) yang diduga melakukan pelanggaran ijin kerja, sudah melanggar hukum,” ujar Lukman kepada INILAHCOM di Jakarta, Rabu (22/4/2015).Ia menjelaskan, setelah bagian imigrasi melakukan pemeriksaan terhadap kedua direksi tersebut menandakan perseroan tidak hati-hati dengan masalah legalitas. “Mereka enggak ada legalitas, kita menolak mereka. Itu batal demi hukum mereka jadi direksi,” katanya. [jin] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2198094/serikat-pekerja-brau-sampaikan-aspirasi-ke-bei#sthash.yI458CFF.dpuf

INILAHCOM, Jakarta Kepemilikan asing pada PT Berau Coal Energy (BRAU) diduga telah melanggar Perjanjian Kuasa Pertambangan Batu Bara antara Perusahaan Tambang Negara Batu Bara dengan PT Berau Coal tahun 1983 (PKP2B Berau).

Demikian salah satu poin dari press release yang diterima INILAHCOM, Rabu (22/4/2015) dari Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja/Kimia, Energi & Pertambangan PT Berau Coal. Keterangan tersebut sehubungan dengan perkembangan situasi terakhir yang terjadi di PT Berau Coal (PT BC) dan PT Berau Coal Energy Tbk (PT BCE) yang dapat berdampak negatif kepada karyawan PT Berau Coal.

“Berdasarkan penelusuran kami, kepemilikan saham asing di PT BC dan PT BCE baik secara langsung dan ataupun tidak langsung melanggar Pasal 26 PKP2B Berau. Pasal 26 PKP2B Berau ini mengatur Partisipasi & Promosi Kepentingan Nasional, mewajibkan saham-saham milik asing di PT BC harus dialihkan atau dijual kepada pemerintah atau warga negara Indonesia atau Perusahaaan-Perushaan Indonesia,” katanya. Perusahaan-perusahaan tersebut Dikendalikan Oleh Warga Negara Indonesia (Peserta Indonesia).

Kewajiban pengalihan saham kepada pihak Peserta Indonesia ini dilakukan secara bertahap mulai sejak akhir tahun kelima sebesar 15% (lima belas persen) sampai dengan akhir tahun ke sepuluh sebesar 51% (lima puluh satu persen).

Pada Pasal 26 PKP2B Berau ini juga diatur bahwa pengalihan saham kepada Peserta Indonesia ini harus berdasarkan ketentutuan bahwa saham-saham tersebut “Tidak Dialihkan Kepada Bukan Warga Negara Indonesia”.

Makna dari Pasal 26 PKP2B Berau tersebut adalah bahwa sejak awal pemerintah selaku pemangku kepentingan atas aset-aset negara mewajibkan saham milik asing di PT BCharus dialihkan kepada perusahaan Indonesia yang dikendalikan oleh warga Negara Indonesia dan tidak boleh dialihkan kepada non warga Indonesia.

Kepemilikan saham-saham di PT BC saat ini jelas-jelas melanggar dan bertentangan dengan PKP2B Berau ini, karena beberapa alasan:

Pertama, Badan Hukum Indonesia yang merupakanpemegang saham langsung sebanyak 51% di PT BC “tidak dikendalikan oleh warga Indonesia (invididu Indonesia). Sebab, badan hukum Indonesia tersebut dimiliki dan dikendalikan oleh PT BCE yang merupakan “Perseroan Terbatas “dan bukan Invidu orang per orangan sebagaimana yang dimaksud pada pasal 26 PKP2B Berau.

Kedua, badan hukum asing memiliki 39% saham di PT BC. Selanjutnya, PT BCE melalui badan hukum asinglainnyamemiliki dan mengkontrol badan hukum asing dibawahnya secarapenuh.

Ketiga, PT BCE, suatu perusahaan publik di Indonesia, ternyata juga tidak di kendalikan oleh warga negara Indonesia, melainkan di kontrol dan dimiliki 84,74% (mayoritas) oleh badan hukum asing yang berkedudukan di Negara Inggris yang kemudian dimiliki dan dikontrol oleh individu perorangan/perusahaantertentu asing.

Dengan demikian, struktur kepemilikan saham di PT BC dan PT BCE adalah merupakan pola penguasaan dan dominasi pihak asing yang bertentangan dengan kaidah hukum yang berlaku di Indonesia.

“Untuk itu kami selaku pekerja dan karyawan wargaNegara Indonesia di PT BC menentang hal-hal seperti ini karena merugikan kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ungkapnya.

“Oleh karena itusesuai dengan Surat Kepada OJK,kami meminta kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan untuk segera secepatnyamengambil tindakan-tindakan kepada PT BCE untuk menghindari kerugian lebih lanjut.” [jin].

 

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2197983/dugaan-pelanggaran-asing-di-pt-berau-coal-energy
Sumber : INILAH.COM

Emoticons0051

Oleh Farid Firdaus | Rabu, 22 April 2015 | 7:54

investor daily

JAKARTA – Nathaniel Rothschild menggandeng Siberian Coal Energy Company (SUEK) Plc, perusahaan tambang batubara terbesar kelima di dunia asal Rusia, untuk menghadapi kubu Samin Tan-Sinar Mas di Asia Resource Minerals Plc (ARMS). Rothschild dan Sinar Mas kini bersaing untuk menguasai hingga 100% saham Asia Resource, induk usaha PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Rothschild melalui NR Holdings dan SUEK akan mengajukan penawaran bersama secara tunai (cash offer) kepada para pemegang saham Asia Resource. NR Holdings dan SUEK akan membuat perusahaan patungan yang secara khusus ditujukan untuk mengakuisisi saham Asia Resource yang belum dimiliki Rothschild.

Penawaran tersebut akan tergantung dari hasil rekapitalisasi, dimana NR Holdings berkomitmen menyerap saham baru Asia Resource melalui rights issue. Sebelumnya, Rothschild sendiri mengajukan penawaran senilai US$ 100 juta.

“NR Holdings memahami pemegang saham tertentu lebih memilih untuk menjual saham mereka dengan harga premium dibanding harga saat ini. Dengan demikiam, NR Holdings dan SUEK mempertimbangkan penawaran tunai ini,” ungkap manajemen NR Holdings dalam keterangan resmi, Selasa (21/4).

Rothschild belum menjelaskan lebih rinci rencana cash offer. Namun, penawaran bersama SUEK itu muncul kurang dari sepekan setelah Grup Sinar Mas menyatakan komitmennya mengucurkan dana US$ 310 juta untuk mengakuisisi dan menyuntikkan modal ke Asia Resource, termasuk Berau Coal.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php

new-chin-year-dragon-02

JAKARTA – Dua orang warga negara asing (WNA) yang menduduki posisi penting di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) bisa jadi tidak hanya berkaitan dengan masalah izin kerjanya.

Sebelum kejadian itu, Serikat Pekerja Berau Coal juga telah mengeluarkan pernyataan sikap untuk tolak dominasi asing di perusahaan batu bara tersebut. Beberapa waktu lalu, Serikat Pekerja Berau Coal melalui Ketua Serikat Pekerja PT Berau Coal Muhammad Lukman Rahim telah mengeluarkan pernyataan sikap mewakili 11.657 pekerja Indonesia di perusahaan tersebut.

Bunyi pernyataan sikap itu adalah:

Berau Coal adalah obyek vital nasional, batu bara sumber energi milik bangsa Indonesia, keberadaaan PT Berau Coal harus memberikan manfaat sebesar mungkin untuk karyawan Berau Coal, untuk masyarakat Kabupaten Berau dan untuk Indonesia, bukan untuk manfaat maksimal bagi bangsa asing.Penolakan terhadap kontrol dan dominasi asing terhadap kepemilikan dan kepemimpinan di PT Berau Coal.Menolak Berau Coal dijadikan jaminan utang dan digadaikan untuk kepentingan asing / Inggris, yang muaranya menekan kesejahteraan karyawan dan mengakibatkan tidak memberikan manfaat bagi masyarakat Berau dan Indonesia.Meminta Presdir / Pemimpin PT Berau Coal adalah orang Indonesia yang memiliki intergritas, komitmen dalam memberikan manfaat positif dan kesejahteraan bersama bagi karyawan, masyarakat Berau, Pemerintah di Berau dan Indonesia. Anak Bangsa Indonesia terbukti telah mampu mengelola sendiri sumberdaya alam yang ada dan diperuntukan untuk kemakmuran bangsa Indonesia.Pemimpin PT Berau Coal harus memiliki kemampuan dan komitmen untuk menjalin kerjasama dan komunikasi yang baik berdasar pada penghormatan nilai kearifan yang ada di Kab Berau dan Indonesia.Meminta Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mendukung sikap SPKEP PT Berau Coal  dan berpihak pada kepentingan nasional, batu bara adalah sumber daya alam untuk kemakmuran bangsa Indonesia.Singgih Widagdo, GM Corporate Communication Berau Coal Energy, yang dimintai komentar apakah penggrebekan direksi Berau yang berstatus WNA juga berkaitan dengan penolakan serikat pekerja Berau, dia tidak bersedia menjawabnya.

“Yang jelas, kami berkomitmen untuk memproduksi sesuai dengan komitmen kami kepada pemerintah (Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral),” tukasnya.

http://industri.bisnis.com/read/20150417/44/423925/dua-direksi-berau-dideportasi-akibat-penolakan-spk
Sumber : BISNIS.COM

JAKARTA – Sebanyak dua warga negara asing yang menduduki posisi penting di perusahaan emiten batu bara PT Berau Coal Energy (BCE) kemarin siang digrebek petugas imigrasi berkaitan dengan status izin kerja di Indonesia.

Menurut informasi yang diperoleh Bisnis.com, petugas imigrasi yang berjumlah tiga orang itu mendatangi kantor emiten dengan kode (BRAU) itu, berlokasi di Menara Prima, Kuningan, pukul 10.30 WIB. Ketiga petugas imigrasi itu kemudian melakukan pemeriksaan terhadap dokumen kerja dua direksi Berau Coal berstatus WNA.

Kedua orang itu adalah Keith Downham (Direktur Produksi) dan Paul Femby (Direktur Keuangan). Femby sendiri tercatat menjadi Direktur di BCE sejak Desember 2014.

GM Corporate Communication BCE Singgih Widagdo, yang dikonfirmasi masalah itu, membenarkan kejadian tersebut. “Memang benar ada kedatangan petugas imigrasi tersebut. Kedua pejabat itu segera mengurus dokumen berkaitan dengan izin kerja,” ujarnya.

Menurut Singgih, insiden kedatangan petugas imigrasi yang berkaitan dengan petinggi Berau tidak akan mengganggu operasional perusahaan batu bara terutama berkaitan dengan produksi sesuai dengan kesepakatan dengan Kementerian ESDM. “Operasional kerja Berau terutama berkaitan kegiatan operasi produksi batu bara tetap berjalan normal.”

http://industri.bisnis.com/read/20150417/44/423922/warga-negara-asing-wna-2-direktur-di-berau-coal-ini-diportasi
Sumber : BISNIS.COM

Jakarta – Nathaniel Rothschild melalui perusahaan investasinya, NR Holdings, berpeluang menguasai hingga 30 persen saham Asia Resource Minerals Plc (dulu Bumi Plc), induk usaha PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Sesuai rencana, Rothschild akan mengucurkan dana US$ 100 juta untuk menyerap saham baru Asia Resource.

Manajemen Asia Resource mengungkapkan, penerbitan saham baru akan dilakukan disertai hak memesan efek terlebih dahulu. Dengan begitu, kepemilikan Rothschild akan meningkat, jika pemegang saham lama tidak mengeksekusi haknya.

Dengan pertimbangan tersebut, Asia Resource akan meminta kesepakatan baru dari para shareholders terkait peraturan pengambilalihan saham (takeover code). “Jika dikabulkan, hal itu akan memungkinkan NR Holdings untuk meningkatkan kepemilikan hingga lebih dari 30 persen,” jelas manajemen Asia Resource dalam keterangan resmi, Senin (9/2).

Dalam rencana rights issue, harga pelaksanaan diusulkan sebesar 25 pence per saham atau lebih tinggi 79 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (6/2) sebesar 14 pence per saham. Adapun porsi saham baru akan ditentukan sesuai persetujuan shareholders.

Sesuai rencana, dana rights issue akan digunakan untuk pelunasan sebagian utang obligasi Berau Coal sebesar US$ 450 juta. Utang ini jatuh tempo pada Juli 2015.

Lebih jauh, manajemen Asia Resource mengungkapkan, pihaknya juga akan merestrukturisasi utang obligasi Berau Coal sebesar US$ 500 juta. Utang tersebut memiliki tenor hingga Juli 2017. “Kami akan segera mulai melakukan pembicaraan dengan para bondholders untuk memperpanjang masa jatuh tempo masing-masing obligasi,” kata manajemen Asia Resource.

Seorang sumber pernah mengatakan, manajemen mengusulkan tenor sebagian obligasi US$ 450 juta diperpanjang hingga 2017. Kupon utang juga diusulkan turun dari 12,5 persen menjadi di bawah 10 persen.

“Upaya restrukturisasi juga disertai opsi penerbitan surat utang payment-in-kind,” kata sumber tersebut, seperti dikutip Bloomberg, baru-baru ini.

Selain utang obligasi, induk usaha Berau Coal yakni PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) juga memiliki utang pinjaman sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 12 triliun kepada Standard Chartered Bank. Borneo memperoleh pinjaman tersebut pada 16 Januari 2012. Adapun dana pinjaman telah digunakan untuk mendanai akuisisi 23,8 persen saham Asia Resource dari Grup Bakrie.

Hingga saat ini, Borneo telah membayar sekitar US$ 200 juta. Dengan demikian, pinjaman yang belum dibayar kepada Stanchart tercatat sebesar US$ 739 juta per September 2014.

Saat ini, sebanyak 17,5 persen saham Asia Resource dikendalikan oleh Rothschild, sedangkan Samin Tan menguasai 23,8 persen saham melalui Borneo. Adapun Raiffeisen Bank memiliki porsi 23,8 persen, yang sebetulnya merupakan saham gadai milik Samin Tan melalui Ravenwood Acquisition Company Limited.

Pekan lalu, rapat umum pemegang saham (RUPS) Asia Resource menolak usulan Samin Tan yang ingin menempatkan empat wakilnya di induk usaha Berau Coal tersebut. Sebanyak 68,02 persen pemegang saham yang hadir menolak usulan penunjukkan Allan sebagai direktur, sedangkan 68,01 persen pemegang saham juga menolak usulan penunjukan Chan, Ramlie, dan Wiley.

Dengan demikian, sebanyak 68,02 persen tidak menghendaki pencopotan Gozney, Sambodo, dan Tyrswhitt dari jabatannya sekarang.

Selain itu, RUPS juga menunjuk Dr Wallace King AO sebagai chairman secara permanen. Keputusan itu segera berlaku pascapenunjukan tersebut. King menggantikan Bob Kamandanu yang mengundurkan diri pada 11 Januari 2015.

Sebelumnya, Samin Tan melalui Borneo mengusulkan pencopotan Richard Gozney, Amir Sambodo, dan Hamish Tyrwhitt dari jabatan saat ini. Sebagai gantinya, Borneo ingin menempatkan Kenneth Raymond Allan, Kin Chan, Benjamin Alexander Wiley, dan Alexander Ramlie sebagai direktur Asia Resource.

Usulan Samin Tan sebelumnya mengindikasikan dia ingin menguasai kembali Asia Resource. Namun, manajemen Asia Resource mengatakan, usulan perombakan direksi belum memiliki alasan yang jelas. Bahkan, perubahan dalam tubuh manajemen dinilai menimbulkan ketidakpastian baru bagi perusahaan.

“Kontrol dari Borneo berisiko membuat aset kami, yakni Berau Coal, dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir pemegang saham dan bukan seluruh pemangku kepentingan,” ungkap manajemen Asia Resource.

Investor Daily

Penulis: Antonia Timmerman/WBP

Sumber:Investor Daily

 

Jual Saham
Berau Bayar Utang ke Pemegang Saham Lama
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Selasa, 16 November 2010 | 17:33 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) akan menggunakan dana hasil penjualan saham PT Bukit Mutiara sebesar 75% akan digunakan untuk membayar utang kepada pihak pemegang saham lama salah satunya PT Armadian Tri Tunggal Perkasa.

CEO PT Berau Coal Energy Tbk Roesan Roslani mengatakan, PT Bukit Mutiara memiliki utang ke vendor financing sebesar US$550 juta. Perseroan berencana akan melunasi utang tersebut, selain itu perseroan juga berencana melunasi utang ke pemilik Berau lama yaitu PT Armadian Tri Tunggal Perkasa. Menurut Roesan, pelunasan utang ini juga diharapkan membuat perseroan menjadi zero debt company.

“Kita juga akan melakukan pembayaran utang ke BUMI tetapi itu juga kalau BUMI menginginkan utang dilunasi, dan kita inginkan selesai utang dan belanja kecil-kecilan,” ujar Roesan, Selasa (16/11).

Baru-baru ini, Berau menjual saham PT Bukit Mutiara sebesar 75%. Bukit Mutiara akan menerima dana tunai dari 12.215 miliar saham atau mewakili 35% saham Berau dengan harga Rp540 per saham. Selain itu, sekitar 40% akan diswap menjadi 52,3 miliar saham di Vallar.

Perseroan diperkirakan memiliki dana sebesar Rp6,5 triliun dari hasil penjualan saham PT Bukit Mutiara. “Kita masih punya Bukit Mutiara sebesar 15% secara langsung dan kepemilikan Bukit Mutiara di Vallar sebesar 24%,” tambah Roesan.

Menurut Roesan, aksi korporasi tersebut membuat Berau dan BUMi mengontrol saham di Vallar sebesar 60%. Selain itu, perusahaan Indonesia dapat membuka akses lebar pendanaan di luar negeri mengingat Vallar mencatatkan saham perdana di London Stock Exchange. “Dengan adanya partnership tersebut membuat good governance corporation lebih baik karena akan banyak pihak yang mengawasi kita,” tutur Roesan.

Diharapkan transaksi ini dapat selesai pada April 2011. Roesan mengatakan, dengan aksi korporasi ini BUMI bersama Berau akan menghasilkan batubara sebesar 140 juta ton pada 2013. [hid]

Genjot Produksi, Berau Siapkan Rp2,1 Triliun
Pada 2011, Berau menargetkan dapat menambang hingga 20,5 juta ton batu bara.
Selasa, 16 November 2010, 18:13 WIB
Arinto Tri Wibowo, Iwan Kurniawan

VIVAnews – PT Berau Coal Energy Tbk menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$240 juta hingga 2014 untuk meningkatkan produksi tambang batu bara di Indonesia.

Direktur Utama PT Recapital Advisors, salah satu pemegang saham Berau Energy, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan belanja modal sebesar US$240 juta atau Rp2,1 triliun, akan dianggarkan US$90 juta per tahun hingga 2014.

“Pada 2011 juga sekitar US$90 juta, sedangkan 2012 kurang lebih sama,” kata Rosan di Jakarta, Selasa 16 November 2010.

Menurut Rosan, anggaran capex Berau setiap tahunnya sekitar 70 persen dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, sedangkan sisanya guna operasional. Anggaran infrastruktur cukup besar untuk meningkatkan kapasitas produksi Berau.

Dia menjelaskan, kapasitas produksi Berau Coal Energy pada 2010 mencapai 17 juta ton batu bara. Pada 2011, Berau menargetkan dapat menambang hingga 20,5 juta ton batu bara.

Tahun ini, Rosan mengklaim Berau merupakan satu-satunya perusahaan yang mampu mencapai kapasitas produksi itu. “Perusahaan tambang yang lain meleset karena pengaruh cuaca,” katanya.

Pada 2014, Berau menargetkan dapat menambang hingga 30 juta ton batu bara. Dengan masuknya Vallar Plc sebagai salah satu pemegang saham Berau, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi perusahaan.

“Rencana akusisi ini tidak mengubah target produksi Berau Coal Energy. Bahkan kemungkinan akan ada sinergi dengan Bumi Resources,” katanya. (hs)
• VIVAnews
Rothschild Buys Indonesian Coal Stakes for $3 Billion
By Jesse Riseborough and Yoga Rusmana – Nov 16, 2010 5:10 PM GMT+0700

Nathaniel Rothschild, the only son of U.K. financier Jacob Rothschild, agreed to invest $3 billion in two Indonesian coal companies through Vallar Plc, allowing the nation’s biggest producer of the fuel to list in London.

Vallar will buy 75 percent of PT Berau Coal Energy and 25 percent of PT Bakrie & Brothers’ PT Bumi Resources in a cash and stock transaction, the company said today in a statement. Bakrie Group will be the largest combined shareholder in Vallar — to be renamed Bumi Plc — and have the right to nominate the chairman, chief executive officer and chief financial officer.
….. ini berarti beneran seperti kata adik gw yang pernah mengaudit bumi resources beberapa taon yang lalu … doi bilang: CADANGAN BATU ITEM bumi itu PALING GEDE di Asia … kalo Bakrie uda puyenk mo ngelepasin bumi PASTI ADA PEMILIK MODAL RAKSASA YANG SIAP SEDIA MENCAPLOKNYA … ternyata ada bonusnya: brau juga direnggut … well, selamat datang pemilik baru brau dan bumi dah semoga harga sahamnya MELEJIT 🙂

The reverse takeover, which gives control to the holders of the acquired company, will create an Indonesian “resources champion,” combining the nation’s largest coal producer, Bumi, and fifth-largest, Berau, according to Vallar. Rothschild, former co-president of New York hedge-fund firm Atticus Capital LLC, raised 707.2 million pounds ($1.13 billion) in Vallar’s initial public offering in London in July and had considered deals of as much as $5 billion.

“This acquisition should be well received by investors since this is a good price for high-quality coal assets,” Liberum Capital analysts wrote in a report. “A London-listed, large scale, pure play Indonesian coal play should offer a unique commodity exposure and have strong investment appeal.”

Bumi Plc will target coal output of 140 million metric tons a year and be the largest thermal-coal supplier to China, Rothschild said on a conference call.

Mandatory Offer

Vallar, whose London-traded shares were suspended today, plans to make a mandatory offer to Berau’s minority shareholders and increase its ownership in Bumi in 2011, it said. Bakrie Group will hold 43 percent of Vallar stock after the deal.

The planned London listing, the first for an Indonesian company, “will enhance our international profile, provide a currency and platform for development in the region and put us in a much stronger position to build on the organic growth that our combined assets already provide,” Indra Bakrie, proposed chairman of Jersey, Channel Islands-based Vallar, said in the statement.

The “remarkable” deal is a “win-win” for shareholders, said Rothschild, who in April ranked seventh in the Sunday Times “Rich List,” an annual estimate of net worth of the 25 wealthiest U.K.-based hedge-fund managers.

Bumi Production

Indonesia is Asia’s biggest exporter of thermal coal, used in power stations. Bumi Resources, the country’s largest coal miner by volume with a market value of 54 trillion rupiah ($6 billion), produced 60 million tons and sold 58 million tons of the fuel last year.

The Jakarta-based company is a unit of Bakrie & Brothers, an investment company controlled by the family of billionaire and politician Aburizal Bakrie, Indonesia’s fourth-richest man, according to Forbes Asia. Sovereign wealth fund China Investment Corp. bought $1.9 billion of debt from Bumi in September 2009.

Bumi shares reversed losses after today’s announcement, rising 2 percent to 2,600 rupiah at 3:40 p.m. Jakarta time. The stock has climbed 7.2 percent this year, compared with a 44 percent gain in the benchmark Jakarta Composite Index.

Berau, with a market value of 18.2 trillion rupiah, is 75 percent owned by PT Bukit Mutiara, a unit of PT Recapital Advisors. Bukit Mutiara will retain 15.3 percent after the sale, Berau said in a statement.

Berau expects to produce 17.9 million tons of coal this year, rising to as much as 22 million tons by 2012, President Director Rosan Roeslani said Aug. 19. The Jakarta-based company raised $152 million selling shares in an August IPO.

Advertisements

minya($50++/b)AAAk (ekspektasi 2017)

inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

ikon analisis gw

analisis teknikal sederhana tren harga minyak global 2017:

$40/barel @ wti : lebe tinggi daripada $26/b 2016… pertanda bahwa harga minyak global akan tetap menguat… kesepakatan n rekonfirmasi lewat harga jual riil akan mendorong tren harga di atas $40 bahkan di atas $50/b… moga2 menyentuh $60/barel sebelum bergejolak kuat menuju resistensi terkuat $ 80/b… liat aza ets-small

nozzle

DUBAI, KOMPAS.com – Arab Saudi pada akhir bulan ini dikabarkan bakal memutuskan periode kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan listrik.

Kenaikan harga dua komponen dikhawatirkan bakal berisiko mendorong perekonomian lebih dalam ke jurang resesi.

Mengutip Reuters, Selasa (10/10/2017), dilema yang dialami Arab Saudi terkait harga energi dipandang menunjukkan bahwa reformasi ekonomi yang dijalankan negara itu mulai mengalami masa sulit.

Pemerintah Arab Saudi menerapkan reformasi ekonomi dengan tujuan untuk mengurangi defisit anggaran dan ketergantungan ekonomi pada minyak.

(Baca: Wanita Boleh Mengemudi, Ekonomi Arab Saudi Bakal Menggeliat)

Putaran pertama kenaikan harga energi sudah dilakukan sejak Desember 2015 lalu dan perlahan mengurangi defisit.

Namun, kebijakan ini tidak juga mengatasi resesi yang dialami Arab Saudi dan angka pengangguran di negara itu mencapai 12,8 persen.

Artinya, langkah berikutnya akan susah diumumkan tanpa kemunculan risiko penurunan ekonomi yang lebih tajam dan akhirnya membuat investasi swasta enggan masuk.

Selain itu, resesi yang berkepanjangan juga dapat membalikkan sentimen publik terhadap reformasi ekonomi.

Salah seorang pejabat Arab Saudi menyatakan, pemerintah menunda keputusan penyesuaian harga energi sampai sistem pembayaran bantuan tunai untuk keluarga pendapatan rendah dan menengah selesai dirancang.

Bantuan ini dapat sebagian mengompensasi masyarakat yang terdampak efek kenaikan harga.

Pada akhir tahun 2016, pemerintah mengindikasikan adanya kenaikan harga energi yang selama ini sangat disubsidi bakal dilakukan pada pertengahan tahun 2017.

Di samping reformasi harga air, perubahan kebijakan energi tersebut dapat membuat pemerintah hemat 29 miliar riyal atau 7,7 miliar dollar AS pada tahun 2017.

Namun, sejak saat itu, ekonomi Arab Saudi melambat lebih cepat dari yang diperkirakan. Sektor nonmigas hanya tumbuh 0,6 persen secara tahunan pada kuartal II 2017.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 1,1 persen.

buttrock

JG: Riyadh. Net foreign assets at Saudi Arabia’s central bank, a measure of its ability to support its currency, look set to fall sharply this year as oil prices slump and Riyadh expands its sovereign wealth fund to invest abroad.

They shrank from a record high of $737 billion in August 2014 to $529 billion at the end of 2016 as the government liquidated some assets to cover the huge budget deficit caused by the fall in oil prices.

This year, an austerity drive and a partial rebound in oil prices have helped Riyadh make progress in cutting the deficit —which narrowed 71 percent from a year ago to 26 billion riyals ($6.9 billion) in the first quarter.

But net foreign assets have continued to shrink at about the same rate, by $36 billion in the first four months of 2017 — a mystery to economists and diplomats monitoring Saudi Arabia, and a potential blow to markets’ confidence in Riyadh.

“This suggests that there remains a significant deficit in the balance of payments of Saudi Arabia, which is not due to declining oil export revenues,” said Khatija Haque, head of regional research at Emirates NBD, Dubai’s biggest bank.

Saudi officials have not commented in detail on the reasons for the reserves drop, though some have suggested it is due to private sector activity, not government spending.

Some analysts have speculated the fall is due to spending on Saudi Arabia’s military intervention in Yemen.

This is unlikely; a top Saudi official indicated in late 2015 that the intervention — largely a limited air campaign, not a major ground war — was costing about $7 billion annually, in line with estimates by foreign military experts.

Others speculate capital flight from Saudi Arabia may be sapping the reserves. But data from the central bank — the Saudi Arabian Monetary Authority (SAMA) — on foreign exchange transactions by commercial banks does not support this theory either.

“Capital flight has diminished as an issue. Outflows in 2016 were pretty small beer compared with 2015, when there were significant outflows,” said an economist at a Saudi bank.

An international banker in touch with Saudi authorities said much of the decline in foreign assets appeared due to the transfer of money to state funds investing abroad — particularly the main sovereign wealth fund, the Public Investment Fund (PIF).

Riyadh plans to invest big amounts overseas to win access to technology and boost returns on its capital. The PIF has said it will invest up to $45 billion over five years in a technology fund created by Japan’s Softbank, and $20 billion in an infrastructure fund planned by US firm Blackstone.

Transfers to the PIF would not represent any reduction in the government’s total wealth, but they would mean a cut in the liquid assets which the central bank has available to defend the riyal if needed. The PIF declined to comment.

Oil

A fresh slump in oil prices also looks likely to pressure foreign assets. Brent oil averaged $54.57 in the first quarter of this year; it has since plunged to around $46, just $1 above its average price last year.

This, combined with a minor relaxation of austerity in recent weeks to head off a recession, may mean Riyadh’s budget deficit for all of 2017 comes close to its original projection of 198 billion riyals ($52.79 billion), or possibly a little higher.

That would be an improvement from last year’s 297 billion riyals, but combined with transfers to the PIF, it would force further liquidation of the central bank’s foreign assets.

“Going forward, the decline is likely to continue given the projected budget deficit for the whole year, which would probably require withdrawals from foreign reserves to finance it,” said Said al-Sheikh, group chief economist at National Commercial Bank, the largest Saudi bank.

Riyadh’s heavy foreign borrowing — it issued $9 billion of sukuk abroad in April — gives it financial flexibility but does not increase its net foreign assets, since the debt is recorded as a liability, Sheikh said.

The government has said it plans to resume domestic bond issues later this year after a gap of more than half a year. A senior finance ministry official estimated last month that local bonds would cover 25 to 35 percent of the 2017 deficit; this would leave a sizable amount to be covered with foreign assets.

At $493 billion as of the end of April, SAMA’s net foreign assets remain enough to defend the riyal for years — they would pay for four years of imports.

Nevertheless, a rise in the cost of insuring Saudi debt against default this month, to its highest level since early February, suggests concern may be increasing.

Additional reporting by Marwa Rashad Editing by Jeremy Gaunt

Reuters

lol

 

 

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah melemah di akhir perdagangan hari Kamis (20/7/2017) setelah Brent melampaui level US$50 per barel untuk pertama kalinya dalam enam pekan terakhir.

Minyak Brent untuk kontrak September ditutup melemah 0,40 poin ke level US$49,30 per barel di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Sebelumnya, Brent sempat menguat di atas US$50 untuk pertama kalinya sejak 7 Juni.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 0,33 poin ke posisi US$46,79 per barel di New York Mercantile Exchange.

“Banyak pelaku pasar yang mencari posisi,” kata Bill O’Grady, kepala analis di Confluence Investment Management, seperti dikutip Bloomberg.

“Brent yang melampaui US$50 mungkin mendorong beberapa pelaku pasar yang sudah lama ingin melakukan profit taking,” lanjutnya.

Sebelumnya pada Rabu (19/7), Badan Administrasi Energi AS melaporkan persediaan minyak mentah turun 4,73 juta barel pekan lalu, sedangkan total persediaan minyak mentah dan produk nasional turun 10,2 juta barel menjadi 1,32 miliar barel, tingkat terendah sejak Desember.

Sementara itu, produksi minyak mentah A.S. berada pada level tertinggi sejak Juli 2015.

Sementara itu, analis senior Price Futures Group, Phil Flynn mengatakan ada pesimisme bahwa pasar global akan mencapai keseimbangan.

“Menarik untuk dilihat apakah OPEC dapat meyakinkan pasar bahwa pihaknya mencapai keseimbangan dan persediaan turun. Sekarang mereka punya data untuk membuktikannya,” ujarnya.

lol

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah mengklaim realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 pada semester I secara umum dapat dijaga stabilitasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan di Badan Anggaran (Banggar) DPR, realisasi penerimaan perpajakan misalnya, berdasarkan catatan otoritas fiskal tumbuh 9,6% dibandingkan tahun lalu.

BACA JUGA :
Bank Dunia: Fundamental Ekonomi RI Kuat
Sri Mulyani Yakin Ekonomi Indonesia 2017 Positif
” Apabila dihilangkan realisasi pengampunan pajak maka pertumbuhan pajaknya 5,5%,” kata Sri Mulyani, Kamis (13/7) malam.

Sri Mulyani yang pernah menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga menjelaskan, secara umum capaian pendapatan negara (pendapatan dalam negeri dan hibah) tercatat sebesar 41,0% terhadap APBN atau meningkat dari 35,5% dari semester I tahun 2016.

Adapun jika diperinci, realisasi penerimaan perpajakan (pajak dan bea cukai) tumbuh sebesar 9,6% dengan nilai nominal Rp571,9 triliun atau lebih baik dari tahun 2016 yang hanya senilai Rp522 triliun atau kontraksi sebesar 2,4% dari tahun sebelumnya.

Kontribusi terbesar dari PPh Migas yang tumbuh 69% dan PPN non migas yang tumbuh 13,5%. Dari kepabeanan, bea keluar tumbuh 31,6% di mana tahun lalu minus 33%.

Selain penerimaan, realisasi belanja pada semester 1 2017 juga dianggap lebih baik dibandingan periode yang sama tahun lalu. Penyerapan belanja negara sebesar 42,9% terhadap APBN juga lebih baik bila dibandingkan sebesar 41,5% di tahun 2016.

Adapun dengan meningkatnya realisasi pendapatan negara serta terjaganya konsumsi domestik, harga komoditas, serta meningkatnya permintaan ekspor; defisit anggaran terhadap PDB di semester I hanya sebesar 1,29%.

“Ini menggambarkan upaya pemerintah untuk menjaga APBN sebagai instrumen fiskal yang efektif dan kredibel telah berjalan baik demi tercapainya masyarakat adil, makmur dan bermartabat,” tegasnya.

buttrock

LONDON kontan. Harga minyak menguat didukung oleh meningkatnya kepercayaan bahwa OPEC dan produsen besar lainnya bakal setuju untuk mempertahankan pembatasan produksi untuk sisa tahun 2017 dan memasuki kuartal pertama tahun depan.

Mengutip Reuters, Rabu (24/5), minyak mentah Brent naik 40 sen per barel pada level US$ 54,55 pada pukul 0910 GMT. Sedangkan, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 35 sen ke level US$ 51,82.

BACA JUGA :
Harga minyak tertahan jelang pertemuan OPEC
Rating S&P dan minyak mendukung rupiah
Kedua tolak ukur minyak mentah tersebut telah menguat lebih dari 10% dari level terendah bulan Mei di bawah US$ 50 per barel. Rebound ini ditopang oleh konsensus negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan produsen lainnya yang akan mempertahankan batasan produksi minyak demi menguras kelebihan pasokan global.

OPEC telah berjanji untuk mengurangi pasokan sebesar 1,8 juta barel per hari (bpd) sampai akhir Juni dan diharapkan pada hari Kamis (25/5) sudah ada putusan untuk memperpanjang pemotongan tersebut sampai Maret 2018.

buttrock

NEW YORK, KOMPAS.com – Harga minyak pada perdagangan Selasa atau Rabu waktu Indonesia (12/4/2017) ditutup naik setelah laporan bahwa Arab Saudi menyatakan kepada para pejabat OPEC ingin melanjutkan periode pemotongan produksi untuk enam bulan tambahan.

Harga minyak telah beranjak naik dalam rentang tertentu, yang disebabkan oleh penurunan produksi OPEC dan produsen lain di luar organisasi itu. Namun demikian, penguatan harga komoditas ini dibatasi oleh kenaikan produksi minyak serpih Amerika Serikat (AS).

The Wall Street Journal melaporkan, Arab Saudi mengatakan kepada para pejabat OPEC ingin memperpanjang periode pemotongan produksi. Anggota OPEC sebelumnya menyampaikan telah sepakat melakukan ekstensi pemotongan produksi minyak, asalkan produsen non-anggota OPEC juga terlibat.

Dikutip dari CNBC pada Rabu, patokan minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik 32 sen menjadi 53,40 dollar AS per barel. Sementara patokan minyak mentah Brent naik 19 sen menjadi 55,39dollar AS per barel.

Brent telah naik enam sesi sebelumnya, sementara WTI naik dalam lima hari terakhir. Di awal perdagangan harga sempat turun didorong ekspektasi peningkatan persediaan AS. Para analis mengatakan, ada kekhawatiran permintaan berubah, dan indikator lain seperti pasokan.

“Ada banyak ketegangan geopolitik yang meningkat di dua kubu,” kata ahli strategi pasar di Futures RJO Phil Streible.

Menurut dia, meningkatnya kekhawatiran tentang Korea Utara danSuriah dapat menekan permintaan minyak. Media pemerintah Korea Utara memperingatkan, serangan nuklir AS merupakan tanda-tanda agresi AS.

Presiden AS Donald Trump dalam sebuah Tweet mengatakan, Korea Utara mencari masalah, dan AS akan menyelesaikan masalah dengan atau tanpa bantuan China.

“Ketegangan geopolitik buruk bagi pertumbuhan permintaan global,” kata managing director Petromatrix, Olivier Jakob.

buttrock

NEW YORK, KOMPAS.com – Harga minyak pada Kamis (6/4/2017) ditutup lebih menguat, mendekati level tertinggi satu bulan. Meski begitu, pada analis tetap berhati-hati mengenai persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari CNBC, pada Jumat(7/4/2017) patokan minyak mentah berjangka Brent ditutupnaik 58 sen (1,07 persen) ke level 54,94 dollar AS per barel. Sedangkan patokan West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 55 sen (1,08 persen) menjadi 51,70 dollar AS per barel.

Sebagaimana diketahui harga minyak telah pulih dari penurunan tajam pada Maret didorong persediaan bensin yang menurun. Namun, data pemerintah AS masih menunjukkan persediaan minyak mentah yang naik ke rekor tertinggi, mendorong aksi spekulasi.

“Sulit untuk menyebut kenaikan karena fundamental,” kata Robert Yawger, direktur di Future Energy di Mizuho.

Pada Rabu atau Kamis waktu Indonesia, Administrasi Informasi Energi AS (IEA) melaporkan peningkatan mengejutkan persediaan minyak mentah sebesar 1,57 juta barel. Total saham AS menjadi 535,5 juta barel.

Sementara itu, produksi minyak mentah AS naik 52.000 barel per hari (bph) menjadi 9,2 juta bph. Konsultan Petromatrix Olivier Jakob mengatakan, kuartal kedua tahun lalu produksi lebih rendah 600.000 bph dari kuartal pertamanya.

Namun pada tahun ini kondisinya kemungkinan berbalik. “Pada kuartal kedua, Anda bisa melihat produksi AS naik 1 juta bph,” ucap Olivier. Sumber:

buttrock

oilprice.com: The American Petroleum Institute (API) reported a build of 11.6 million barrels in United States crude inventories against expert predictions that domestic supplies would see a much kinder 1.4-million-to 1.66-million-barrel build.

The build in crude oil inventories was almost 10 times what analysts had predicted and marks yet another new high in U.S. inventories. The chart below displays a 10-week cumulative build of 35 million barrels, per API data, since the beginning of the year

Cumulative changes in crude oil stocks since Jan 4, 2017

 

A few hours before the API data release, WTI and Brent benchmarks were both down despite Libya’s recent production woes, which were offset by Russia’s unimpressive less-than-50%-adherence to the production cuts. At 2:11 pm EST, WTI was trading down .04% at $53.18—about $.80 down on the week—while Brent was trading down .11% at $55.95, or $.55 down from this time last week.
Adding to this week’s bad news for oil markets, the API also reported a 788,000-barrel build in inventories at the Cushing, Oklahoma facility.

Gasoline inventories provided significant respite to this week’s crude oil build, falling 5 million barrels, sending gasoline prices for the fuel upwards. The gasoline draw, according to Zerohedge, is the largest draw since April 2014. A half hour after the data was released, gasoline was trading up .79% on the day at $1.6855.

Distillates stocks also saw a draw of 2.9 million barrels.

 

West Texas Intermediate (WTI) prices began to contract after the API report’s release, with WTI trading at $52.83 and Brent trading at $54.64.

Earlier on Tuesday, the Energy Information Administration (EIA) forecast that US crude oil production would reach new heights by 2018, to 9.7 million barrels per day. The market will watch tomorrow’s EIA inventory report at 10:30EST to see whether this week’s massive build as reported by the API is confirmed.

By Julianne Geiger for Oilprice.com

buttrock

NEW YORK kontan. Harga minyak dunia naik selama empat sesi berturut-turut pada Rabu (28/12) kemarin. Bahkan, harga minyak sempat bertengger di posisi tertingginya sejak pertengahan 2015.

Seperti yang dikutip dari CNBC, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 16 sen menjadi US$ 54,06 per barel. Ini merupakan posisi tertingginya sejak 2 Juli 2015.

Harga minyak tertekan setelah data American Petroleum Institute menunjukkan terjadinya kenaikan cadangan minyak AS sebesar 4,2 juta barel.

Sementara itu, lima analis yang disurvei CNBC meramal data yang akan dirilis Energy Information Administration Departemen Energi AS menunjukkan cadangan minyak akan turun 1,5 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Desember.

Laporan EIA sudah dijadwalkan akan dirilis pada Kamis (29/12) pukul 11.00 waktu setempat.

Sementara itu, harga kontrak minyak Brent turun 15 sen menjadi US$ 55,94 per barel pada pukul 16.41 waktu New York. Pada 12 Desember lalu, harga minyak Brent sempat bertengger di posisi US$ 57,89 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2015.

Sekadar informasi saja, harga minyak dunia sudah melompat 25% sejak pertengahan November lalu. Pemicunya adalah ekspektasi market bahwa OPEC akan memangkas suplai produksinya.

Memang, OPEC dan negara non-OPEC diharapkan akan memangkas produksi sebesar 1,8 juta barel per hari. Arab Saudi, produsen terbesar OPEC, setuju untuk memberikan kontribusi pemangkasan terbesar.

Sementara, Menteri Perminyakan Irak Jabar Ali al-Luaibi pada Rabu kemarin mengatakan, negaranya akan memangkas produksi minyak sebesar 200.000-210.000 barel per hari yang akan dimulai pada Januari mendatang.

dollar small

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah menguat pada perdagangan hari ini, Senin (19/12/2016) setelah reli dolar AS terhenti.

Harga minyak West Texas Intermediate menguat 0,46% atau US$0,24 ke posisi US$52,14 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 6.21 WIB. Pada perdagangan pekan lalu, WTI ditutup menguat US$1% ke posisi US$51,90 per barel.

Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Februari naik menguat 0,47% atau US$0,26 ke US$55,47 di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Pekan lalu, Brent ditutup menguat US$1,19 atau 2,2% ke US$55,21 per barel.

Minyak naik untuk pertama kalinya dalam tiga hari setelah sebelumnya dolar terhenti dan perhatian bergeser kembali ke pemotongan produksi diproyeksikan.

Seperti dilansir Bloomberg, penguatan harga minyak mentah pada Jumat pekan lalu dipicu oleh melemahnya nilai tukar dolar AS. Harga minyak sebelumnya melemah karena dolar AS menguat setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan, sehingga mengurangi daya tarik komoditas bagi investor.

“Alasan utama minyak menguat adalah bahwa dolar bergerak datar,” kata Bill O’Grady, kepala strategi pasar di Confluence Investment Management, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (16/12/2016).

“OPEC adalah mendapatkan manfaat dari keraguan dan ada harapan bahwa ekonomi akan tumbuh kuat tahun depan, sehingga akan meningkatkan permintaan,” lanjutnya.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak pergerakan mata uang dolar terhadap mata uang utama lainnya terpantau melemah 0,17% atau 0,17 poin ke level 102,78 pada pukul 6.32 WIB.

lol

JAKARTA kontan. Harga bahan bakar minyak (BBM) kemungkinan besar akan naik pada awal tahun depan. Pasalnya saat ini harga BBM khususnya solar yang dijual PT Pertamina (persero) jauh lebih rendah daripada di pasar internasional.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang bilang harga solar seharusnya sudah naik sejak Oktober 2016. Harga solar yang dijual Pertamina harusnya lebih tinggi Rp 1.200 per liter dari banderol Rp 5.150 per liter.
Bambang pun klaim Pertamina masih menanggung defisit harga solar sebesar Rp 700 per liter biarpun pemerintah masih memberikan subsidi solar sebesar Rp 500 per liter. Makanya Bambang memproyeksi pada Januari harga solar akan melonjak lebih tinggi mengingat harga minyak secara global mengalami kenaikan. “Nah itu pasti kenaikannya agak besar. Mungkin sekitar Rp 500 per liter,”kata Bambang pada Selasa (13/12).

Harga premium dan pertalite juga kemungkinan besar naik. Namun Bambang bilang kenaikan untuk premium dan pertalite tidak besar dan masih bisa ditanggung dengan keuntungan yang sudah didapat oleh Pertamina dari penjualan premium dan pertalite sampai saat ini.

“Premium masih untung. Biarpun mulai menipis,” ujar Bambang.

Untuk itu Pertamina pun menanti kebijakan pemerintah untuk kenaikan harga BBM pada tahun depan. “Pemerintah berani tidak menaikan harga mengikuti harga minyak pada awal tahun baru. Tabungan laba Pertamina tidak bisa dipakai buat tahun depan,”jelas Bambang.

Direktur Pembinaan Hilir Migas Kementerian ESDM, Setyorini Tri Hutami bilang saat ini harga minyak memang naik. Namun, dia belum bisa menyebut besaran potensi kenaikan harga BBM karena pemerintah masih menghitung kenaikan harga tersebut.

“Kalau keputusan belum tahu tapi trennya naik. Sekarang masih dihitung,”kata Setyorini.

Penentuan harga BBM memang baru akan diputuskan pada akhir Desember 2016 dengan memperhatikan tren harga dalam tiga bulan terakhir.

Direktur Keuangan Pertamina, Arief Budiman pun berharap Pertamina tidak mengalami defisit akibat menanggung harga BBM. “Tahun depan harga ditinjau tiga bulan sekali. Kalau tahun depan kan ada BBM satu harga, tentunya ada tambahan biaya. Formulanya kami lihatlah di Desember ini, Mudah-mudaha tidak ada defisit ya,”imbuhnya.

mIn(donesia)yaaa(REAL1TY)aK (02/10/2017)

bird

marketwatch: Saudi Arabia on Monday said that it plans to make itself capable of living without oil within the next four years—a very ambitious goal for a country that exports more of the energy source than anyone else in the world.

The kingdom approved a long-term blueprint for economic reform dubbed “Saudi Vision 2030,” which aims to reduce the country’s dependence on oil revenues. It’ll be quite a challenge for a nation that still saw about 70% of last year’s revenue come from petroleum despite the steep drop in prices since mid-2014.

“By 2020, we’ll be able to live without oil,” Deputy Crown Prince Mohammed bin Salman, who heads the economic council, told Saudi new channel Al-Arabiya in an interview aired Monday. He also said that less than 5% of the state-owned Saudi Arabian Oil Co. will be publicly sold off in a move that would value the world’s largest energy firm at as much as $2.5 trillion.

Read: Meet the 30-year-old prince emerging as the oil market’s ‘ultimate disrupter’

The reform plan follows a slump oil prices, which saw Brent LCOM6, -0.78%  and West Texas Intermediate crudes CLM6, +0.75%  drop by roughly 70% to lows under $30 a barrel this year, from highs above $100 a barrel in mid-2014. The drop has thrown the kingdom into turmoil, prompting substantial budget cuts and other measures that observers have feared could spark social unrest.

“Saudi Arabia’s new reform agenda is heavily influenced by the sustained dip in oil prices contributing to a budget deficit this year of about $90 billion,” said Usha Haley, a professor of management at West Virginia University, who is an expert on international energy policy.

“Despite some diversification, oil still accounted for over 70% of the kingdom’s revenues,” she said. But the Saudis realize that the present “oil-dependent strategy cannot sustain a high quality of life in Saudi Arabia.”

That said, analysts say that the plan isn’t likely to result in any production cuts.

“Over the longer term, I don’t think this becomes a real threat to supply,” said Robbie Fraser, commodity analyst at Schneider Electric. “Saudi Arabia will continue to produce oil for years to come in order to fund its diversification effort.”

Still, there are four key things that the reform plan hints at:

1) Loss of control

Saudi Arabia’s influence in the oil market has diminished and the Saudis know it.

For Saudi Arabia ‘a lack of control over the long-term price of oil is virtually identical to a lack of control over the country’s long-term economic and political stability.’

Robbie Fraser, Schneider Electric

They see their ability to control oil prices slipping away, said Fraser, “and for the Saudi government, a lack of control over the long-term price of oil is virtually identical to a lack of control over the country’s long-term economic and political stability.”

But the Saudis’ influence in the market hasn’t weakened solely due to falling oil prices.

On a broader scale, there continues to be conflict between the world’s major oil producers. Members of the Organization of the Petroleum Exporting Countries, led by Saudi Arabia, and non-OPEC countries failed to reach an agreement earlier this month to cap output levels.

And if the Saudis can’t get OPEC and non-OPEC nations to work together, they’re “probably thinking the new price norm for WTI oil is $45 to $65 a barrel, said Kevin Kerr, managing editor and executive publisher of Commodities Watch.

2) More market-share battles

Major oil producing countries have been reluctant to cut back on production despite the plunge in prices because they fear losing their share of the market to rivals—and the Saudi reform plan implies that market-share battles will continue.

“The most noteworthy point is that the this plan confirms that Saudi Arabia is going to maintain its current policy in oil markets—defending market share and ignoring commercially unwise calls for an output cut,” said Omar Al-Ubaydli, a program director at the Bahrain Center for Strategic, International and Energy Studies.

“Any speculators who were hanging on to the hope that internal and external political pressure would lead the Saudis into a commercial error [output cut] should really consider moving on, and accept that the Saudis are not going to cut output for the benefit of other producers, and at a significant cost to themselves,” he said.

At the same time, the market-share battle has helped to exacerbate Saudi Arabia’s economic woes.

“The Saudis had already been selling oil at a much lower price than they could maintain to drive the U.S. shale companies out of business,” said Haley. “Shale puts a ceiling on how high oil prices can go.”

But the “survival of shale gas as an alternative and viable resource, and the continued development of other energy sources, has created an urgency for the kingdom, that its leaders could not write off as a blip,” she said.

The reform plan shows that Saudi Arabia are “aware of the looming landscape for energy and intends to do something about it for their country and themselves,” said Haley.

3) Petrodollar endangered?

Economies in the oil-rich Middle East have been taking big hits from the plunge in oil prices and that could prompt them to take further action.

When Saudi Arabia agreed back in the 1970s to price all of its future oil sales in U.S. dollars in return for military protection, that meant that any country who wanted to buy oil from the kingdom would have to buy dollars to make the transaction, Jody Chudley wrote in a recent article for The Daily Reckoning.

The petrodollar has “done wonderful things for asset prices in the United States,” said Chudley.

But the relationship between the U.S. and Saudi Arabia has deteriorated, particularly after the Western nations reached a deal with Iran over Tehran’s nuclear program.

See:This nasty oil rivalry is why a genuine output freeze is a long shot

Now, the U.S. Senate is considering a weapons export ban or limit on Saudi Arabia. “Remember it is military support that was the carrot that the U.S. dangled in front of the Saudis, which enabled the petrodollar in the first place,” Chudley said.

Read:Obama seeks to quell talk of U.S.-Saudi divorce

4) Peak demand

Lastly, the Saudi Vision 2030 plan implies that the world just doesn’t need as much oil as it used to.

The Saudi reforms “strongly point to the slow but powerful forces of peak demand—a long process where the Persian Gulf majors are most vulnerable,” said Richard Hastings, macro strategist at Seaport Global Securities.

The immigration reform component of the plan “allows for more labor to participate in the country,” helping to perpetuate the move away from oil and petroleum products, he said.

“The announcement does not change crude-oil price action immediately, because it now seems very likely that the price collapse in 2014 was triggered by the beginning of the peak demand era,” Hastings said. “Prices now seem to capture most of the process that is now under way in the global petroleum story.”

So Saudi Arabia’s reform plan may have come just in time.

BLOOMBERG: Saudi Arabia’s economy contracted for two quarters in a row for the first time since the global financial crisis, as the kingdom grapples with low oil prices and its businesses struggle to cope with economic reforms.
The kingdom’s gross domestic product shrank 1 percent in the second quarter from the same period a year earlier, when it expanded 0.9 percent, according to official data released on Saturday. The economy had contracted 0.5 percent in the first three months of 2017.

Crown Prince Mohammed Bin Salman is leading the push to transform the biggest Arab economy at a time when crude prices are at about half their 2014 peak. But as authorities seek to reduce the kingdom’s reliance on oil, they’re also leading efforts among OPEC members and some other major producers to bolster prices by cutting output. The kingdom’s oil GDP shrank 1.8 percent in the second quarter, weighing on overall activity.

The data also showed how non-oil industries are still struggling with efforts to overhaul the economy and shore up public finances. The non-oil GDP, the main engine of job creation, expanded below 1 percent, driven mainly by the government sector, the data show.

“There is very little capital spending going on in Saudi Arabia at the moment,” Mohamad Al Hajj, an equities strategist at the research arm of EFG-Hermes in Dubai, told Bloomberg TV in an interview.

The Saudi economy hasn’t contracted for two quarters in a row since at least 2010, official data show. The kingdom doesn’t publish quarterly seasonally-adjusted data, which is used by some economists to define a recession.

Read More: King Scales Back Austerity Plan That Set Saudis Grumbling

Figures released by the government’s statistics agency also show:

Within non-oil GDP, private sector activity grew 0.4 percent after expanding 0.9 percent in the previous three months
The government sector expanded almost 1 percent
The construction industry shrank 1.6 percent after contracting 3 percent in the first quarter
Petroleum refining expanded 5.8 percent
The kingdom’s Tadawul All Share Index retreated the most in the Middle East, falling 0.9 percent at 12:21 p.m. in Riyadh.

“What we’re seeing is stagnation in non-oil activity,” said Monica Malik, chief economist at Abu Dhabi Commercial Bank. “Second-quarter data show still very lackluster demand” even after the government reversed a decision to cut or freeze bonuses and allowances for state employees, she said.

A Bloomberg survey conducted before Saturday’s release show economists expect growth to grind to a halt this year, compared with a growth forecast of 0.5 percent in the previous poll.

— With assistance by Tracy Alloway

 

 

new chin year dragon 01doraemon

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak naik tipis usai badai Harvey yang melanda Texas, Amerika Serikat (AS) berangsur pergi.

Dikutip dari Reuters, perginya badai membuat sejumlah kilang utama di AS kembali aktif. Misalnya, Motiva Enterprises di Teluk AS, yang kembali melakukan penyulingan dengan kapasitas minimum mencapai 32 ribu barel per hari (bph).

Tercatat, harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,6 atau menguat 0,1 persen menjadi US$53,84 per barel. Begitu pula dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang naik US$0,59 atau 1,2 persen menjadi US$48,07 per barel.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari kemungkinan perpanjangan pakta produksi selama 15 bulan dari para anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC).

Adapun sinyal perpanjangan produksi terlihat dari pertemuan Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al Fatih dengan Venezuela dan Kazakhstan pada akhir pekan kemarin. Pertemuan itu guna membahas kesepakatan untuk memangkas produksi sekitar 1,8 juta bph sampai Maret 2018.

Kemudian, pada Senin kemarin, Falih juga bertemu dengan Uni Emirat Arab untuk mempertimbangkan perpanjangan setelah Maret 2018.


Kendati harga minyak mentah meningkat, harga bahan bakar minyak (BBM) justru terkoreksi lantaran terkena sentimen dari Badai Irma yang melanda Florida, Georgia, Carolina Selatan, dan Alabama. Alhasil, harga bensin melemah 0,7 persen dan harga solar turun hingga 1,4 persen.

Meski mengoreksi harga BBM, konsultan energi WTRG Economics James Williams melihat, pengaruh dari Badai Irma tidak besar. “Sementara beberapa orang prihatin dengan sisi permintaan (akibat Badai Irma), saya rasa ini bukan masalah besar,” ucap James, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (12/9). (gir)

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan pada perdagangan Selasa, saat sejumlah kilang dan pipa minyak melanjutkan operasinya setelah sempat terdampak badai Harvey.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober ditutup menguat US$1,37 di US$48,66 per barel di New York Mercantile Exchange. Pada awal sesi perdagangan, kontrak WTI bahkan sempat melesat 3,6%, penguatan intraday terbesar sejak 25 Juli.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman November berakhir naik US$1,04 di US$53,38 per barel, di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Sejumlah perusahaan penyuling, di antaranya Valero Energy Corp. dan Citgo Petroleum Corp., berupaya membuat pabriknya di Texas kembali ke kondisi semula.

Sementara itu, Exxon Mobil Corp. mulai memasok pom bensin dengan bahan bakar setelah memperbaiki jaringan pipanya di Houston.

Namun demikian, saat operator minyak yang mendapatkan dampak terburuk dari badai Harvey berhasil memulihkan kembali produksinya, para pedagang melihat datangnya badai besar lain dari arah timur yang telah menyebabkan penutupan sebuah terminal minyak.

“Pasar menantikan para penyuling untuk memulai kembali sehingga tingkat permintaan dapat kembali meningkat,” ujar Rob Haworth, pakar strategi investasi senior di US Bank Wealth Management, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (6/9/2017).

Harvey telah memaksa kilang, jaringan pipa, pelabuhan, dan platform lepas pantai untuk ditutup saat hembusan badai semakin intensif menghempas daratan AS pada 25 Agustus.

Meski banyak fasilitas minyak mulai beroperasi, fasilitas lainnya belum melanjutkan produksi, termasuk pabrik yang dimiliki Royal Dutch Shell Plc dan Total SA. Namun, Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan setengah dari kapasitas penyulingan yang hilang akibat Harvey akan kembali pulih pada 7 September.

lol

INILAHCOM, Jakarta – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (15/8/2017) sore, bergerak menguat sebesar dua poin menjadi Rp13.345 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.347 per dolar Amerika Serikat (AS).

Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga di Jakarta, Selasa (15/8/2017) mengatakan bahwa mata uang di kawasan Asia mendapat dukungan dari membaiknya ketegangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara, salah satunya rupiah yang bertahan di area positif terhadap dolar AS.

“Pelaku pasar keuangan sempat dikhawatirkan oleh geopolitik di semenanjung Korea sehingga memicu kegelisahan di pasar secara umum. Namun, meredanya ketegangan dua negara itu kembali membuat pelaku pasar kembali melirik aset di negara berkembang,” katanya.

Dari dalam negeri, lanjut dia, data neraca perdagangan Indonesia bulan Juli tahun ini akan menjadi pusat perhatian pelaku pasar uang, data itu dapat memberikan gambaran tentang perekonomian nasional.

“Data perdagangan yang diekspektasikan membaik, meningkatkan keyakinan terhadap ekonomi Indonesia ke depan. Surplus perdagangan di bulan Juli dapat semakin memperkuat kurs rupiah,” katanya.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menambahkan bahwa harga minyak mentah dunia yang kembali bergerak naik turut mendorong mata uang berbasis komoditas, seperti rupiah mengalami apresiasi terhadap dolar AS.

“Mata uang komoditas terbawa sentimen positif dari harga minyak mentah dunia yang naik,” katanya.

Terpantau harga minyak jenis WTI Crude menguat 0,11 persen menjadi 47,64 dolar AS per barel, dan Brent Crude naik 0,02 persen menjadi 50,74 dolar AS per barel.

Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Selasa ini (15/8) mencatat nilai tukar rupiah bergerak stagnan atau tidak berubah nilainya di posisi Rp13.344 per dolar AS. [tar]

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak WTI pagi ini terpantau turun 0,36% ke US$47,65 per barel pada pukul 07.22 WIB, sedangkan harga minyak Brent turun 0,35% ke posisi 50,61.

Kondisi ini berbalik dibandingkan pergerakan harga minyak mentah yang berakhir dengan sedikit kenaikan pada perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), di saat pasar mencermati data pemerintah Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan bahwa meskipun terdapat tanda-tanda menyusutnya kelebihan suplai minyak mentah namun jumlah persediaan tetap besar dengan lesunya permintaan untuk bensin.
Harga minyak WTI kontrak Juni 2017 berakhir naik 0,34% atau 0,16 poin ke US$47,82 per barel, setelah dibuka dengan penguatan 0,97% di posisi 48,12.

Adapun patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak Juli 2017 ditutup naik 0,65% atau 0,33 poin ke US$50,79, setelah dibuka dengan penguatan 1,05% atau 0,53 poin di posisi 50,99.

Di awal perdagangan, WTI turun hingga $47.30, terendah sejak 27 Maret, setelah badan energi AS Energy Information Administration (EIA) menyatakan jumlah stok minyak mentah mingguan turun 930.000 barel menjadi 527,8 juta atau lebih kecil dari prediksi penurunan sebesar 2,3 juta barel.

Pergerakan harga pun fluktuatif di saat para analis mencermati data EIA yang menunjukkan kenaikan jumlah stok bensin sebesar 191.000 barel, jauh lebih kecil dari prediksi kenaikan sebesar 1,3 juta barel.

Meski demikian, permintaan bensin turun 2,7% selama empat pekan terakhir dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Ini adalah tren yang berlanjut sejak permulaan tahun, dimana penjualan telah menjadi lebih rendah. Hal itu membayangi pasar serta menekan harga minyak mentah,” ujar Andrew Lipow, direktur Lipow Oil Associates, seperti dikutip dari Reuters (Kamis, 4/5/2017).

Sementara perhatian pasar tertuju pada produksi AS, para investor juga memantau apakah negara-negara produsen telah mematuhi kesepakatan mereka untuk memangkas produksi sekitar 1,8 juta barel per hari (bph) pada pertengahan tahun.

Rusia, yang berkontribusi penurunan produksi terbesar di luar OPEC, menyatakan pada 1 Mei, bahwa negara tersebut telah mengurangi produksi lebih dari 300.000 bph sejak mencapai puncak produksi pada Oktober.

Namun survei Reuters terbaru mengenai produksi OPEC menunjukkan bahwa kepatuhan negara tersebut telah turun sedikit. Negara-negara OPEC direncanakan akan bertemu pada 25 Mei untuk membahas perpanjangan kesepakatan tersebut.

lol

By Scott DiSavino

NEW YORK (Reuters) – Oil prices slipped on Wednesday to their lowest since late November, with Brent testing the $50 per barrel support, after data showed record high U.S. crude inventories rising faster than expected, raising doubts over the viability of OPEC-led output cuts.

The Energy Information Administration (EIA) said U.S. inventories climbed almost 5 million barrels to 533.1 million last week, far outpacing forecasts of a 2.8 million-barrel build. [EIA/S]

“The fact that this supply has increased almost 55 million barrels this year in the face of significant OPEC production cuts is evolving as a major bearish development that poses a significant threat to the viability of the OPEC agreement in our opinion,” Jim Ritterbusch, president of Chicago-based energy advisory firm Ritterbusch & Associates, said in a note.

Global benchmark Brent (LCOc1) shed 32 cents, or 0.6 percent, to settle at $50.64 a barrel, its lowest close since Nov. 30 when OPEC countries agreed to cut output. The contract fell as low as $49.71 in morning trade.

On its first day as the front-month, U.S. West Texas Intermediate (WTI) crude (CLc1) (CLK7) futures for May slipped 20 cents, or 0.4 percent, to settle at $48.04 per barrel. The session low was $47.01, its lowest since Nov. 30.

A deal between the Organisation of the Petroleum Exporting Countries and some non-OPEC producers to reduce output by 1.8 million barrels per day (bpd) in the first half of 2017 has done little to reduce bulging global oil stockpiles.

OPEC, which sources say is leaning toward extending cuts, has broadly delivered on pledged reductions, but non-OPEC states have yet to cut fully in line with commitments.

“OPEC has used up most of its arsenal of verbal weapons to support the market. One hundred percent compliance by all is the only tool they have left and on that account they are struggling,” said Ole Hansen, head of commodity strategy at Saxo Bank.

U.S. shale oil producers have been adding rigs, boosting the country’s weekly oil production (C-OUT-T-EIA) to about 9.1 million bpd for the week ended March 10 from an average 8.9 million bpd for 2016, according to U.S. data.

“OPEC’s market intervention has not yet resulted in significant visible inventory drawdowns, and the financial markets have lost patience,” U.S. bank Jefferies said in a note.

But the bank said the market was undersupplied and, if OPEC extended cuts into the second half, inventories would draw down and prices recover above $60 in the fourth quarter.

However, it said U.S. crude production was expected to grow by 360,000 bpd in 2017 and 1 million bpd in 2018, and a price recovery could spur more U.S. shale activity.

(Additional reporting by Edmund Blair in London and Henning Gloystein in Singapore; Editing by Marguerita Choy and David Gregorio)

lol

NEW YORK, KOMPAS.com – Harga minyak terperosok dua persen pada penutupan perdagangan Kamis (9/3/2017) ke level terendah di tahun 2017, seiring rekor pasokan minyak Amerika Serikat (AS) dan keraguan apakah pemotongan produksi OPEC dapat mengurangi kelebihan pasokan global.

Dikutip dari CNBC, Jumat (10/3/2017) harga minyak patokan West Texas Intermediate (WTI) turun satu dollar AS atau dua persen ke level 49,28 dollar AS per barel, penutupan terendah sejak 30 November.

WTI sempat turun ke level terendah dalam perdagangan kemarin di 48,59 dollar AS. Sementara itu, harga minyak patokan Brent berjangka turun 1,02 dollar AS atau 1,9 persen ke level 52,09 dollar AS per barel.

Dalam perdagangan intraday, harga minyak Brent sempat menyentuh 51,5 dollar AS per barel terendah setelah 30 November.

Harga minyak terperosok dalam setelah laporan persediaan minyak AS menunjukkan peningkatan 8,2 juta barel pekan lalu, lebih tinggi dari perkiraan 2 juta barel, memecahkan rekor 528,4 juta barel.

“Sekitar sebulan ini pasar terpukul kenaikan pasokan, dan rasanya baru akan naik beberapa hari lagi. Tetapi masalahnya, pasar butuh berita utama yang mendorong bullish,” kata analis dari Price Futures Group di Chicago, Phil Flynn.

OPEC dan produsen minyak lain pada November tahun lalu sepakat untuk menurunkan pasokan 1,8 juta barel per hari (bph) pada paruh pertama 2017.

Namun, pengeboran AS terus meningkat, seiring rencana pengembangan di Dakota Utara, Oklahoma, dan kawasan serpih lain.

Pekan ini, Menteri Minyak Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan fundamental pasar membaik, namun OPEC tidak akan membiarkan produsen rival ambil untung.

 lol

Bisnis.com, JAKARTA- Harga minyak mentah melesat pada awal perdagangan hari ini, Senin (12/12/2016).

Minyak mentah Brent pada pk. 06.30 WIB, menguat US$2,67 atau 4,91% ke US$57 per barel.Minyak melesat. – .Bloomberg

Brent telah melonjak lebih dari 15% sejak OPEC mengumumkan pemotongan pertama dalam delapan tahun.

WTI naik US$2,56 atau 4,97% ke US$54,06.

Minyak memberikan sinyal siap tembus harga US$60 per barel untuk pertama kalinya dalam hampir satu setengah tahun, setelah Rusia dan negara-negara yang tidak terafiliasi lainnya bergabung dengan OPEC untuk mengurangi produksi.

Di samping itu, Arab Saudi mengejutkan pasar, karena mengatakan akan memangkas lebih dari yang disepakati sebelumnya.

Negara-negara non-OPEC mengatakan pada Sabtu, akan mengurangi output 558.000 barel per hari. Kesepakatan ini  menambah komitmen 30 November OPEC untuk memangkas 1,2 juta mulai Januari 2017.

Perjanjian antara OPEC dan produsen non-OPEC terjadi pertama kali sejak tahun 2001.

Ini menggambarkan tekad negara pengeskpor minyak untuk mengakhiri perang pangsa pasar.

“Penurunan 558.000 barel dari non-OPEC bersama dengan kesepakatan OPEC akan total 1,8 juta barel per hari dari pemotongan, yaitu sekitar 2% dari produksi global. Hal ini cukup untuk memiliki dampak,” kata Thomas Finlon, Direktur Energy Analytics Group seperti dikutip Bloomberg, Senin (12/12/2016).

Rusia telah mengumumkan rencananya untuk memangkas output dengan 300.000 barel per hari tahun depan, turun dari 30 tahun tinggi bulan lalu dari 11,2 juta barel per hari.

Pada pertemuan tersebut, Meksiko berjanji untuk memotong 100.000 barel, Azerbaijan oleh 35.000 barel dan Oman dengan 40.000 barel, kata delegasi

 buttrock

WASHINGTON, KOMPAS.com – Bank Dunia menaikkan proyeksi harga minyak mentah untuk tahun 2017 menjadi 55 dollar AS per barrel dari sebelumnya 53 dollar AS per barrel.

Alasannya adalah ada kesepakatan produksi yang dilakukan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) guna membantu mengatasi kelebihan pasokan.

Dalam laporan outlook pasar komoditas yang baru-baru ini dipublikasikan, Bank Dunia menyatakan harga energi, termasuk minyak, gas alam, dan batu bara diprediksi akan naik hampir 25 persen di tahun 2017.

Ini adalah peningkatan yang lebih besar dari proyeksi sebelumnya.

“Kami memprediksi kenaikan yang solid pada harga energi, yang dipimpin oleh minyak, tahun depan,” tulis Bank Dunia dalam laporannya seperti dikutip dari CNBC, Jumat (21/10/2016).

Meskipun demikian, Bank Dunia menyatakan masih ada ketidakpastian yang dapat terjadi pada outlook tersebut.

Bank Dunia masih menanti rincian implementasi perjanjian OPEC, yang bila memang benar-benar diimplementasikan maka jelas akan mempengaruhi pasar minyak dunia.

Perjanjian itu merupakan pemangkasan produksi pertama kalinya sejak 2008. OPEC berencana membatasi produksi menjadi kisaran 32,5 juta hingga 33 juta barrel per hari, dibandingkan dengan rekor produksi 33,6 juta barrel per hari pada September 2016.

Bank Dunia memutuskan tidak mengubah proyeksi harga minyak untuk tahun 2016, yakni 43 dollar AS per barrel.

Pada Rabu (19/10/2016) lalu, Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih menyatakan bahwa pasar minyak global sudah berada di penghujung kondisi penurunan.

Hal ini sejalan dengan membaiknya fundamental serta keseimbangan kembali antara permintaan dan penawaran.

Salah satu kondisi banjir pasokan minyak terbesar dalam sejarah sudah memukul pasar minyak global selama lebih dari dua tahun. Harga minyak dunia jatuh dari 100 dollar AS per barrel pada tahun 2014 menjadi hanya 27 dollar AS per barrel.

 ets-small

NEW YORK kontan. Bursa AS ditutup di zona merah pada awal pekan kemarin (3/10). Berdasarkan data CNBC, pada pukul 16.00 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,3% atau 54,30 poin menjadi 18.253,85. Saham yang mencatatkan penurunan terdalam adalah Travelers Companies. Sedangkan saham dengan kenaikan tertinggi yakni saham DuPont.

Adapun indeks S&P 500 turun 7,07 poin atau 0,33% menjadi 2.161,20. Sektor real estate menorehkan penurunan terbesar di antara delapan sektor lainnya. Di sisi lain, sektor telekomunikasi merupakan sektor dengan kenaikan terbesar.

Indeks Nasdaq turun 11,13 poin atau 0,21% menjadi 5.300,87.

Penurunan bursa AS seiring langkah investor yang mengawasi data ekonomi AS. Sekadar informasi, September Markit Manufacturing PMI berada di level 51,5, level terendah dalam tiga bulan terakhir.

“Data manufaktur AS memberikan sinyal adanya kenaikan yang moderate baik di bagian volume produksi dan lapangan kerja baru di sepanjang September. Namun survei teranyar menunjukkan hilangnya momentum pertumbuhan dari posisi tertinggi Juli,” papar Markit.

Selain itu, pelaku pasar juga terus mengamati pergerakan harga minyak dunia. Asal tahu saja, harga minyak mengalami kenaikan pada transaksi tadi malam dengan melonjak 1,2% menjadi US$ 48,81 per barel.  

“Saya rasa market masih mencari inspirasi saat ini. Belum ada satu pun kabar yang dapat mendorong market. Terjadinya koreksi tidak terlalu mengejutkan dan ini termasuk koreksi sehat,” papar Bruce McCain, chief investment strategist Key Private Bank.

 new-chin-year-dragon-02

oil price.com: Saudi Arabia will deal ministers a 20 percent pay cut and scale back perks for government employees—two-thirds of employed Saudis—as it grapples with the realities that accompany an $87 billion budget deficit for 2016. A much more acute budget deficit than its rival Iran, as the chart below shows:

 

The state-run Ekhbariya TV announced the royal decree, along with a cabinet statement, on Monday, just as Saudi Arabia began its participation in the International Energy Forum in Algiers.

Saudi Arabia – de facto leader of OPEC – is currently discussing the possibility of a long-desired oil production freeze.

Speculation on whether the 14-member bloc will agree on an output deal has run rampant in recent weeks, taking oil prices on a roller coaster ride. For the third time this year, Saudi Arabia does not seem motivated to curb production as Iran’s oil sector recovers, even as its less financially savvy OPEC comrades crumble politically and economically under the weight of two years of abysmal oil revenues.

As the present economics of oil—which require a $66.70 barrel price to make Saudi crude profitable—continue to work against the world’s energy producers, the KSA has turned its focus towards its long-term “Vision 2030” strategy of economic diversification.

Schlumberger, General Electric and Siemens have all contributed plans for the realization of Saudi Arabia’s revitalization program, according to Abdulaziz al-Abdulkarim, Saudi Aramco’s vice-president for procurement and supply chain management.

The state-run energy giant’s oil infrastructure will receive a $334 billion facelift by 2025, which will enhance the kingdom’s ability to extract shale gas, the executive said at theMiddle East Petrotech Conference in Bahrain on Monday.

“This will be spent on material and services to support service facilities, infrastructure projects, drilling and maintain [oil] potential projects, unconventional resources both in the exploration phase and development and several other projects,” Abdulkarim said.

Related: Lack Of Pipeline Capacity Could Force Down Canadian Crude Prices

Amin Nasser – who, as Saudi Aramco’s CEO, also attended and spoke at the Bahraini conference – originally announced the investments last year as part of the 10-year In-Kingdom Total Value Add (IKTVA) plan. It aims to create 500,000 new jobs for Saudis and double the percentage of domestically produced energy-related goods to 70 percent.

“Working with our suppliers, we will capture value that produces long-term tangible benefits – quality jobs for a growing Saudi population, innovation and diversification of industry, and increased global competitiveness,” the program’s site says.

The largest portion (42 percent) of funds will go towards developing drilling capabilities. Another 31 percent will develop the kingdom’s surface facilities, such as wells and related equipment.

The program forecasts that the number of oil and gas drilling wells will increase by 33 percent to 1,200 and by 50 percent to 600 by the year 2025, respectively.

IKTVA’s promised investments have begun pouring in and Saudi Aramco has been gearing up for an initial public offering (IPO) of five percent of the company in 2018. KSA’s financial team still has not decided which stock exchange would be ideal for the highly coveted listing.

The latest buzz on the issue had Aramco confirming that it still considered the London stock exchange a contender for the listing – an announcement that supports the United Kingdom’s economic relevance after the Brexit vote.

Saudi Aramco and its controlling government have paved the way for the KSA’s economic success in the next ten years, but other OPEC members – particularly those who are not also members of the Gulf Cooperation Council – do not have the financial connections to navigate rock-bottom oil prices without risking political stability.

Related: OPEC Circus Sees Oil Volatility Spike

At the beginning of the oil price crisis in 2014, Saudi Arabia started off with debt-to-GDP ratio close to zero. Algeria (8.76 percent) and Venezuela (roughly 50 percent) – the two countries pushing for an OPEC production freeze most vocally – shouldered larger debt burdens before revenues plummeted.

To be fair, the KSA is not the only country ambivalent about implementing an output deal. Libya, Iraq and Nigeria need price increases to keep their governments functional, but cannot afford to freeze production at stinted levels caused by ongoing internal strife.

Still, as the de facto leader of the bloc and its largest oil-producing member, Saudi Arabia holds the power to make or break a freeze. In April, Saudi Arabia’s refusal to sign off on a negotiated deal caused it to fall apart, not Iran’s defensive position to continue production.

As Abdelkarim, Nasser and freshman Saudi oil minister Khalid Al-Falih make their rounds in regional and international conferences this week, their contrasting can and can’t-do attitudes makes one thing clear: The Kingdom is far more interested in its long-term economic and geopolitical goals than alleviating its short-term oil profitability problem with and for its OPEC partners.

By Zainab Calcuttawala for Oilprice.com

 lol

NEW YORK sindonewsHarga minyak mentah Amerika Serikat (AS) ambruk di bawah level USD40 per barel pada perdagangan hari ini untuk pertama kalinya sejak April. Sementara harga minyak dunia juga merosot hampir mencapai 4% seiring meningkatnya kekhawatiran membanjirnya pasokan, meskipun permintaan bahan bakat akan mencapai puncak di musim panas.

Dilansir Reuters, Selasa (2/8/2016) harga minyak mentah AS selama Juli telah kehilangan hampir sebesar 15%, untuk menjadi yang terbesar selama satu bulan dalam setahun terakhir. “Ini adalah stop-loss yang dikombinasikan dengan likuidasi saat orang takut akan pasokan minyak kembali melonjak,” terang trader dari PSW Investments Phil Davis di California.

Tercatat harga minyak mentah AS West Texas intermediate (WTI) berada pada level USD39,86 per barel dan menjadi yang terendah sejak 20 April, sebelumnya menetap di posisi USD40,06 per barel dengan penurunan sebesar USD1,54 atau 3,7%. Sedangkan harga minyak mentah Brent berakhir turun USD1.39 atau 3,2% di level USD42,14 per barel.

Marathon Petroleum secara tiba-tiba menutup terkait ladang minyak mereka yang mampu memproduksi 212,000 barrel per-hari. Data lain pekan ini menunjukkan stok minyak AS bertambah 44 minyak rig pengeboran pada bulan Juli.

(akr)

lol

 

FRANKFURT, Germany/NEW YORK — American and European energy giants have begun pouring money into the Asia-Pacific region to tap a growing market, especially as crude prices show signs of a modest recovery.

Exxon Mobil of the U.S. announced July 21 that it had agreed to buy InterOil, a natural gas explorer based in Papua New Guinea, for up to $3.6 billion. InterOil owns rights to some of the world’s richest gas fields.

Papua New Guinea has low labor costs and is close to major consumers of liquefied natural gas, including Japan, South Korea and China. Exxon Mobil decided to make its biggest acquisition since 2012 in hopes that crude rises from the current level of $50 a barrel by 2020, when InterOil is expected to begin LNG production.

The industry began moving toward consolidation in 2014 amid a downturn in crude prices. Royal Dutch Shell decided in April 2015 to purchase U.K.-based BG Group. Industry watchers expected other energy majors to follow suit, but they held back as crude continued to decline.

The InterOil deal signals changing tides as industry titans battle over smaller players while cheap crude keeps equipment and labor costs low. Papua New Guinea-based Oil Search, backed by French giant Total, had reached an agreement to buy the company in May but was eventually outbid by Exxon Mobil.

BP has plans for expanding the Tangguh LNG project in Indonesia, in which such Japanese companies as Inpex and Mitsubishi Corp. also have interests. An estimated $8 billion will be invested to boost annual output by 50% to 3.8 million tons.

Tangguh is the most competitive LNG project for delivering gas to such markets as Japan, CEO Bob Dudley said last Tuesday.

Asia accounts for three-quarters of global LNG demand, and consumption in such countries as China and India is only expected to grow. In contrast to crude oil development, where governments usually take the lead, most LNG projects are headed by corporations.

Chevron and partners including Exxon Mobil have agreed to invest a total of $36.8 billion in a Kazakhstan oil project to expand crude oil production there to a daily 260,000 barrels. The crude can be transported directly from the field to China via pipeline.

An immediate jump in crude prices remains unlikely, and overall investment by oil majors continues to fall. Exxon Mobil is behind on its planned capital expenditures of more than $23 billion for the year, according to Vice President Jeff Woodbury. Shell is also cutting down on investments.

 

BP expects to use less than the $17 billion initially allocated for capital expenditures for 2016 and is planning its lowest target in a decade for 2017 of $15 billion to $17 billion. But the company will still pursue new projects, with a goal of 800,000 barrels of new daily oil and gas production by 2020.

TAKAYUKI KATO and SOICHI INAI, Nikkei staff writers

lol

Metrotvnews.com, Jakarta: Kondisi harga komoditas yang masih mengalami penurunan, membuat sektor ini tak banyak dilirik oleh perbankan tahun lalu. Dengan tingkat risiko kredit macet yang lebih tinggi, banyak bank memilih main aman menghindari pembiayaan di sektor komoditas sehingga berdampak pada rendahnya penyaluran kredit bank.

Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengatakan, penurunan harga komoditas tak hanya menyerang industri perbankan. Namun kondisi ini juga menyebabkan terganggunya penerimaan negara serta pertumbuhan sektor riil yang terbilang rendah.

“Kita memahami perbankan tahun lalu menghadapi tantangan berat karena harga komoditas melemah. Sehingga tidak hanya peneriman negara yang terganggu, tetapi sektor riil juga. Bagusnya beberapa bank sudah mengantisipasi kemungkinan adanya peningkatan NPL dari sektor komoditas,” ujarnya di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Kamis (2/6/2016) malam.

Dirinya menambahkan, ketergantungan komoditas akan sangat mempengaruhi kondisi perekonomian nasional. Bahkan, dampaknya bisa menyebabkan lonjakan pada pemutusan hubungan kerja (PHK) karena rendahnya pendapatan perusahaan yang bergerak di sektor komoditas tersebut.

“Karenanya bank harus bisa menata ekonomi yang tidak bergatung pada komoditas. Jika tidak sistem perbankan bisa terganggu karena pelemahan harga komooditas. Kita sudah merasakan akibat ketergantungan pada sektor komoditas. Baik itu 2000-an maupun 1990-an ketika harga minyak tembus USD10 per barel,” jelas dia.

Bidik Sektor Manufaktur

Sebagai gantinya, Bambang meminta kepada bank mulai melirik sektor manufaktur. Khususnya sektor manufaktur yang berbasis sumber daya alam karena dianggap memiliki potensi cukup baik untuk menjadi kekuatan utama industri nasional.

Berbagai sumber pertumbuhan ekonomi lain, lanjut Bambang, akan berdampak baik terhadap banyaknya opsi mendongrak perekonomian. Apalagi potensi untuk mengolah dan memveri nilai tambah terhadap berbagai sumber daya alam di Indonesia masih cukup banyak.

“Kita ingin ekonomi kita segera diversifikasi. Banyak opsi untuk tidak bergantung lagi pada sektor komoditas, kita bisa ke sektor manufaktur yang berbasis sumber daya alam, kita punya, batu bara, sawit, karet, cokelat, misalkan, atau singkong, termasuk hasil tambang dan turunannya,” tambah dia.

Dengan adanya potensi itu, maka potensi perbankan untuk turut mendorong pembiayaan sektor manufaktur terbuka lebar. Oleh karena itu, Bambang berharap jika bank mulai melakukan pembiayaan jangka panjang terhadap lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional yang baru tersebut.

“Saya ingin ajak kawan-kawan bank, bagaimana kita menghadapi dampak dari penurunan harga komoditas ini. Saya rasa selama sektor tersebut sudah mapan di Indonesia maka sektor tersebut berpotensi akan bersaing di dunia,” pungkasnya.

http://ekonomi.metrotvnews.com/mikro/GbmAY9eb-sektor-komoditas-lesu-bank-diminta-bidik-sektor-manufaktur
Sumber : METROTVNEWS.COM

Emoticons0051

 

Vienna, May 31, 2016 (AFP)
A recovery in the oil price to around $50 has eased pressure on OPEC to turn down the taps when it gathers in Vienna on Thursday for its first meeting with the powerful Saudi crown prince’s new oil minister.

“The general consensus is that there will be no agreement to establish quotas or lower production,” said James Williams at WTRG Economics.

“The most restrictive outcome might be an agreement to a production ceiling.”

Historically the Organization of the Petroleum Exporting Countries, which pumps around a third of the world’s oil or some 30 million barrels every day, has responded to a fall in prices by cutting production.

But in the current cycle, which saw prices collapse from over $100 in 2014 to close to $25 this January, producers led by kingpin Saudi Arabia have changed strategy, maintaining output even with lower prices.

The aim, experts say, was to keep hold of market share by seeking to put competitors that need a higher oil price than the Gulf states to make money — particularly US shale oil producers — out of business.

And even though it has taken a while, straining even Saudi Arabia’s public finances — to say nothing of struggling OPEC member Nigeria and on-the-brink Venezuela — Riyadh’s approach now looks to be bearing fruit, experts say.

Last week both main oil benchmarks, West Texas Intermediate and Brent crude, briefly touched the psychologically important level of $50 a barrel and remain close to that level despite slipping back slightly.

Dozens of US shale oil firms have gone bankrupt and non-OPEC production is on course to drop sharply this year. The International Energy Agency predicted on May 12 that global oversupply will “shrink dramatically”.

– Doha debacle –

But this easing of pressure is just as well, because the bitter animosity between Saudi Arabia and Iran — regional rivals engaged in proxy wars in Syria and Yemen — means that any agreement to cut OPEC output is highly unlikely.

Since Iran’s 2015 nuclear deal with major powers entered into force in January and sanctions were lifted, Tehran has aggressively ramped up output to levels close to pre-sanctions levels, and is unwilling to stop now.

This was in evidence when Iran stayed away from a disastrous meeting in Doha on April 4 between OPEC and non-OPEC members including Russia that failed to agree a possible coordinated output freeze.

Saudi Arabia meanwhile — and in particular the powerful young Deputy Crown Prince Mohammed bin Salman who is seeking to revamp the country’s economy — is now thought to have gone off putting a cap on output.

After the Doha debacle, the 30-year-old prince replaced veteran oil minister Ali al-Naimi — for 20 years the key player in OPEC’s Vienna shindigs — with Khaled al-Falih, who is thought to be, if anything, less amenable to a cut.

“I see nothing to indicate that (Saudi Arabia) is prepared to back off the war of attrition for market share,” said Helima Croft at RBC Capital Markets.

“(The) all-powerful deputy crown prince seems especially focused on his sweeping economic reform effort and not particularly phased by the current price environment,” Croft said.

Prices could head south again. The recent rise, driven by production problems in Libya, Nigeria and Canada, could reverse, and the prospect of higher US interest rates is adding to downwards pressure on the oil price.

But even then, it is far from certain that the Saudis would change strategy — not least because a lower oil price will hurt Iran.

jra-stu/jh/as

<org idsrc=”isin” value=”CA7800871021″>BANQUE ROYALE DU CANADA</org>

Emoticons0051

TOKYO kontan. Sektor energi memimpin kenaikan di antara sektor lainnya di kawasan regional pada Kamis (26/5) siang. Kenaikan sektor ini juga mengerek performaBursa Asia.

Mengutip data Bloomberg, pada pukul 14.41 waktu Tokyo, indeks MSCI Asia Pacific melaju 0,5%. Indeks Topix Jepang naik 1,1%. Sedangkan Shanghai Composite Index China tertekan ke posisi terendahnya dalam tiga bulan terakhir.

Sementara, sektor energi melompat 1,4%. Beberapa saham energi yang menyumbang kenaikan terbesar pada sektor ini antara lain Cnooc Ltd dan Woodside Petroleum Ltd yang menorehkan reli lebih dari 2%.

Kenaikan sektor energi berkaitan erat dengan pergerakan positif harga minyak dunia. Sekadar informasi, harga minyak pada transaksi perdagangan hari ini diperdagangkan di atas level US$ 50 per barel untuk pertama kalinya sejak November lalu.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah data cadangan minyak AS menunjukkan penurunan yang lebih besar dari prediksi.

Sentimen lain yang mempengaruhi pasar Asia adalah optimisme mengenai ketahanan perekonomian global jika bank sentral global memberlakukan pengetatan kebijakan moneter.

“Pelaku pasar saat ini sudah mulai menerima ide kenaikan suku bunga AS. Pikiran yang berkembang adalah kenaikan suku bunga tidak akan menghentikan pertumbuhan ekonomi. Namun, jika ekonomi global melambat, itu artinya mereka harus mengubah kebijakan mereka,” jelas Mitsushige Akino, executive officer Ichiyoshi Asset Management Co di Tokyo.

Di sisi lain, hasil polling menunjukkan adanya dukungan yang besar agar Inggris tetap berada di Uni Eropa, sehingga meredakan kecemasan akan prospek “Brexit”.

nozzle

JAKARTA. Harga Minyak terus mendekati level US$ 50 per barel. Kemampuan Minyak WTI mengejar level tersebut ditopang oleh dugaan kembali turunnya produksi Minyak Amerika Serikat.

Mengutip Bloomberg, Rabu (25/5) pukul 12.35 WIB harga Minyak kontrak pengiriman Juli 2016 di New York Mercantile Exchange terbang 1,28% ke level US$ 49,24 per barel dibanding hari sebelumnya.

Pasar memang masih menanti rilis data resmi pemerintah AS melalui Energy Information Administration (EIA) pada Rabu (25/5) malam. Dari prediksi pasar data EIA akan menunjukkan penurunan stok sebesar 1,7 juta barel pekan lalu dibanding sebelumnya yang bertambah 1,3 juta barel. Namun American Petroleum Institute melaporkan terjadi penurunan stok Minyak AS sebesar 5,14 juta barel pekan lalu.

“Data API sangat positif bagi harga Minyak WTI, jika nantinya data EIA sama positifnya perlu dicari tahu apakah ini terjadi karena penurunan produksi akibat kebakaran di Kanada atau terjadi kenaikan musiman,” jelas Angus Nicholson, Analis IG Ltd seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (25/5).

Memang biasanya memasuki musim panas di AS akan terjadi peningkatan permintaan Minyak untuk bahan bakar karena memasuki driving season.

Dukungan lainnya bagi harga datang dari laporan stok Minyak di Cushing, Oklahoma, pelabuhan pengiriman Minyak terbesar di AS yang turun 189.000 barel pekan lalu. Dari survey Bloomberg juga diperkirakan terjadi penurunan stok hingga 2 juta barel pekan lalu hingga 20 Mei 2016. Tentunya jika prediksi ini benar tidak sulit bagi harga Minyak WTI mengejar level psikologisnya di US$ 50 per barel.

http://investasi.kontan.co.id/news/ini-pemicu-minyak-kian-mendekati-us-50-sebarel
Sumber : KONTAN.CO.ID

new-chin-year-dragon-02

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah menyentuh level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir menyusul spekulasi bahwa stok minyak mentah AS turun minggu lalu sedangkan penurunan pasokan di Kanada dan Nigeria diperkirakan akan mengurangi kelebihan pasokan global.

Harga minyak WTI untuk pengiriman Juni naik 59 sen ke US$48,31 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, Brent untuk pengiriman Juli menguat 31 sen atau 0,6% ke level US$49,28 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Menurut survei Bloomberg sebelum rilis data pemerintah AS hari Rabu, persediaan minyak mentah AS kemungkinan turun sebesar 3,5 juta barel. Ini akan menjadi penurunan mingguan berturut-turut yang pertama sejak September tahun lalu.

Gene McGillian, analis senior dan broker di Tradition Energy, mengatakan berkurangnya kelebihan pasokan global memberikan dorongan di pasar minyak

“Menurunnya produksi dan meningkatnya permintaan diharapkan mengurangi kelebihan pasokan yang menyeret harga minyak ke level terendah dalam 12 tahun terakhir,” kata Gene seperti yang dikutip dari Bloomberg.

Harga minyak telah menguat lebih dari 80% dari level terendah selama 12 tahun terakhir pada menyusul perkiraan berkurangnya kelebihan pasokan global karena penurunan produksi AS.

Sebelumnya, Goldman Sachs Group Inc menyatakan bahwa pasar minyak sedang dalam defisit karena gangguan pasokan di Nigeria dan peningkatan permintaan.

Bensin berjangka AS untuk pengiriman Juni naik 1,7% menjadi US$1,6341 per galon, level tertinggi sejak Agustus 31. Harga solar untuk pengiriman Juni naik 1,9% menjadi US$1,4674 per galon.

new-chin-year-dragon-02

NEW YORK kontan. Dua tahun lalu, Zach Schreiber dengan tepat meramal kejatuhan epik harga minyak dunia. Saat ini, dia mengingatkan lagi akan kemungkinan terjadinya krisis finansial di Arab Saudi.

Prediksinya yang dibuat pada 2014 lalu berhasil mendatangkan keuntungan senilai US$ 1 miliar bagi perusahaannya. Saat Schreiber berbicara, semua orang duduk dan mendengarkan.

“Jika Anda masih berada di posisi long, saya ikut merasa kasihan,” kata CEO hedge fund PointState Capital saat dia membuat taruhan dua tahun lalu dan posisi harga minyak masih di atas US$ 100 per barel.

Ternyata, ramalannya menjadi kenyataan. Harga minyak bahkan sempat jatuh ke level US$ 26 Februari lalu. Kondisi itu membuat pemerintah Arab Saudi dan negara lain yang sangat bergantung dengan minyak sakit kepala. Pasalnya, anggaran belanja mereka sudah dipastikan akan terpangkas.

Arab Saudi, misalnya, sudah menggunting anggaran belanja dan tengah berupaya keras untuk mendongkrak pendapatan. Pekan kemarin, Arab Saudi juga memecat menteri perminyakan mereka yang sudah menjabat selama 21 tahun.

Schreiber percaya, kondisi ekonomi Arab Saudi akan semakin memburuk.

“Saudi memiliki dua atau tiga tahun untuk lepas landas sebelum akhirnya menabrak dinding,” jelas Schreiber saat 21st Annual Sohn Investment Conference pada pekan lalu.

Pernyataannya pada konferensi tersebut mengingatkan pada peringatan Schreiber tentang harga minyak tahun 2014 lalu.

Schreiber meramal, Arab Saudi menghadapi dua ancaman besar terhadap perekonomian mereka. Yakni, komitmen besarnya anggaran belanja dan murahnya harga minyak.

“Tak heran saat ini Arab Saudi merilis banyak sekali obligasi,” jelasnya.

Pangkas subsidi

Setelah bertahun-tahun mendapatkan uang dengan sangat mudah dari minyak, belakangan ini, mesin uang Arab Saudi tersendat. Negara kerajaan tersebut dikabarkan berencana menarik pinjaman senilai US$ 10 miliar dari sejumlah bank. Bahkan, mereka mempertimbangkan untuk merilis obligasi internasional pertama mereka.

Masalahnya adalah Arab Saudi membutuhkan harga minyak kembali ke posisi US$ 100 per barel sehingga bisa menyeimbangkan anggaran belanja mereka.

Pengeluaran Arab Saudi banyak terpakai pada pemberian tunjangan warga mereka yang populasinya hampir mencapai 30 juta orang. Saat ini, tunjangan subsidi tersebut terpaksa dihentikan. Salah satunya dengan menaikkan harga bensin sebesar 50%.

Arab Saudi juga memiliki anggaran militer yang besar mengingat kondisi geopolitik Timur Tengah yang sangat rentan. Meski begitu, anggaran militer mereka tetap dipangkas sebesar 3,6% tahun ini akibat anjloknya harga minyak.

Memang, bank sentral Arab Saudi dikabarkan memiliki dana tabungan untuk masa sulit sebesar US$ 600 miliar. Namun, jumlahnya sudah berkurang sekitar US$ 140 miliar pada kurun waktu akhir 2014 hingga Februari lalu.

Schreiber berargumen, neraca perdagangan Arab Saudi terlalu dilebih-lebihkan. Dia merujuk pada nilai libilitas yang hampir mencapai US$ 340 miliar yang memangkas nilai dana cadangan.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa Arab Saudi berencana menjual 5% saham perusahaan milik kerajaan: Aramco.

“Jika mereka menjual saham Aramco, bagaimana mereka mendanai hal lainnya? Ini gila. Saudi menggadaikan masa depan mereka dan tengah membeli waktu saat ini,” jelasnya.

Pada saat yang sama, Schreiber masih bearish terhadap harga minyak untuk jangka menengah-panjang.

“Mari berharap yang terbaik dan mempersiapkan yang terburuk,” kata Schreiber.

nozzle

marketwatch: Oil futures are poised to end April with a monthly gain of nearly 19%, but the ride hasn’t been a smooth one and likely won’t be in the weeks to come as traders continue to navigate conflicting clues on the outlook for crude.

“There certainly seems to be a lot of factors pressing on oil prices, yet they keep finding new legs,” said Kevin Kerr, managing editor and executive publisher of Commodities Watch.

Oil’s not-so-smooth April climb

West Texas Intermediate crude CLM6, -0.65%  was trading at $45.53 a barrel on Thursday, its highest since early November, up from the front-month contract finish of $38.34 on March 31. Brent crude LCOM6, -0.93%  was at $47.55, up roughly 19% from the front-month contract settlement at the end of last month.

Read: How to make sense out of a confusing rally for oil futures

“On a fundamental basis, the lack of any type of real cut in production, and a seeming indefinite impasse within and out of [the Organization of the Petroleum Exporting Countries] would strongly point to lower prices,” said Kerr. But “technically, the charts remain bullish,” with a cap to the upside likely around $62 or $65.

Much of April was focused on expectations that major oil producers, including Saudi Arabia and Russia, would reach an agreement at an April 17 meeting to freeze their crude production at January levels. They failed.

After that, some analysts forecast a drop to $30 within days. Instead, after a brief decline, oil made new highs.

Bullish traders looked for the global glut of crude inventories to subside on the back of continued declines in U.S. output and rig counts, strong gasoline demand, and athree-day oil-workers’ strike in Kuwait that trimmed the nation’s production. Then an OPEC official raised the possibility that the cartel will bring up the output freeze topic again at its June 2 meeting in Vienna.

Adding even more confusion to the oil mix, news report earlier this week said that Saudi Arabia’s state-owned Saudi Arabian Oil Co. was poised to complete theexpansion of its Shaybah oil field by the end of May, boosting its capacity to 1 million barrels a day. That would contribute more oil to the world-wide glut.

‘The Saudis talking about moving away from oil as revenue source is pretty much fantasy and they know it. Their bread and butter is made with oil…’

Kevin Kerr, Commodities Watch

Around the time of that news, however, the kingdom also announced an economic reform plan aimed to steer the country away from its dependence on oil.

See: Meet the 30-year-old prince leading the charge to wean Saudis off oil

“The Saudis talking about moving away from oil as revenue source is pretty much fantasy and they know it,” said Kerr. “Their bread and butter is made with oil and at these price levels, it is putting the pinch into their economy.”

Read: 4 things Saudi Arabia’s economic reform play says about oil

Waiting for balance

Still, there are some convincing signs that point to higher ground for oil.

The “overcapacity on the supply side is shrinking rapidly while demand-wise, big players like China are stepping up their purchases,” said Nico Pantelis, head of research at Secular Investor.

China’s crude imports in March were the second highest on record.

U.S. government data on Wednesday revealed a seventh straight weekly decline intotal domestic oil production. At 8.938 million barrels a day, it’s down nearly 1 million barrels from the 9.22 million it was at for the week ended Jan. 1.

Jay Hatfield, president of InfraCap and portfolio manager of the InfraCap MLP exchange-traded fund AMZA, -2.10% said U.S. oil production has declined by over 600,000 barrels from its peak level and will likely continue to decline through the rest of the year—possibly by another 500,000 barrels by the end 2016.

Added to that, gasoline demand is running about 5% higher over last year, representing additional demand of roughly 500,000 barrels of oil, he said. So a total reduction of 1.1 million barrels in domestic production, combined with the increase in demand of 500,000 barrels “will bring the global market for oil into balance and is likely to maintain the price of oil in the $40-$50 range for the rest of the year,” said Hatfield.

If nothing else, traders can probably be sure of more volatility to come.

“Until something gives either way, we stay fairly range bound and key off of good old supply and demand,” said Kerr. The “weekly [petroleum] inventory report, as well as rig counts and refinery capacity, will be the driving force for traders right now,” between $45-$48 on the low end and $60-$65 on the high end for WTI, he said.

The wild cards, at least when it comes to figuring out demand for oil, are the petroleum products, said Kerr. That will be primarily gasoline as the market gears up for the summer driving season and, as we get into the fall season, heating oil, he said.

“For the meantime, the world watches and waits to see what happens next,” Kerr said.

nozzle

SINGAPURA. Minyak turun dari level tertinggi lebih dari empat bulan di tengah ramainya spekulasi kemungkinan hasil dari pertemuan produsen utama minyak membahas pembekuan. Di sisi lain, stok minyak Amerika Serikat (AS) menunjukkan bertambah pada pekan lalu.

Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun sebanyak 90 sen ke level US$ 41,27 per barel di New York Mercantile Exchange dan berada di level US$ 41,35 pada pukul 02:46 siang waktu Singapura, Rabu (13/4).

Minyak jenis ini naik US$ 1,81 ke level US$ 42,17 pada hari Selasa (12/4), yang merupakan penutupan tertinggi sejak 25 November.

Sedangkan, minyak Brent untuk pengiriman Juni kehilangan 90 sen, atau 2 % ke level US$ 43,79 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Sebelumnya, Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh tidak akan menghadiri pertemuan produsen di Doha pada 17 April nanti dan sebagai gantinya akan mengirim perwakilan.

Sekretaris pers Kremlin Dmitry Peskov mengatakan ia masih melihat harapan dalam kesepakatan pembatasan produksi terlepas dari posisi Iran, menyusul pembicaraan antara Menteri Energi Rusia Alexander Novak dan rekan Saudi nya.

Sementara, stok minyak AS naik 6,2 juta barel pekan lalu, American Petroleum Institute mengatakan dalam laporan. Data pemerintah Rabu diperkirakan akan menunjukkan kenaikan 1 juta barel, menjaga stok tetap berada di dekat level tertinggi sejak 1930.

nozzle

Oil rose the most in two months as U.S. crude production continued to slide before talks between suppliers to discuss freezing output.

Futures climbed 6.6 percent in New York. U.S. output slid for the 10th time in 11 weeks through April 1 and crude stockpiles fell, according to data from the Energy Information Administration on Wednesday. The number of active oil rigs in the U.S. dropped to the lowest level since 2009 this week, Baker Hughes Inc. data show. Major producers from Saudi Arabia to Russia will meet in Doha on April 17 to discuss freezing output in a bid to stabilize prices.

“There’s a lot of nervousness about the April 17 meeting and what it will mean for the market,” said John Kilduff, partner at Again Capital LLC, a New York hedge fund focused on energy. “We’re still hemmed in a range below $40. Breaking through would be very bullish for the market.”

Crude slid to the lowest level in almost 13 years in February before rebounding on signs a global glut will ease. Prices have whipsawed this week amid speculation over whether an accord to cap output can be reached. Saudi Arabia said it will only agree to a freeze if it’s joined by other suppliers including Iran, while Kuwait said a deal can be done without Tehran’s support.

West Texas Intermediate for May delivery advanced $2.46 to close at $39.72 a barrel at on the New York Mercantile Exchange. It’s the biggest gain since Feb. 12. Prices climbed 8 percent this week. Total volume traded was 58 percent above the 100-day average at 2:53 p.m.

Doha Meeting

Brent for June settlement rose $2.51, or 6.4 percent, to $41.94 a barrel on the London-based ICE Futures Europe exchange. The front-month contract closed at an 8-cent discount to the second-month. The global benchmark oil closed at a 95-cent premium to June WTI.

The Bloomberg Dollar Spot Index fell to the lowest since June, bolstering investor demand for commodities priced in the currency. The Bloomberg Commodity Index, a gauge of 22 raw materials, increased 2 percent.

The Standard & Poor’s 500 Oil & Gas Exploration and Production Index climbed to the highest level since December. The 10 biggest gainers on the S&P 500 were commodity companies.

Volatile Market

“Prices just flop back and forth,” said Kyle Cooper, director of research with IAF Advisors and Cypress Energy Capital Management in Houston. “The market is extremely psychotic, subject to sharp reversals on inconsequential information.”

Russia is seeking a successful result from the Doha meeting, Energy Minister Alexander Novak told reporters in Moscow Friday, adding that countries are discussing a freeze of oil production at January levels. Russian oil and condensate production will rise through 2017, even as the nation prepares for the talks, according to Goldman Sachs Group Inc.

Global oil producers won’t discuss output cuts at the Doha meeting, Ecuadorean Oil Minister Carlos Pareja said at a meeting of Latin American ministers in Quito, Ecuador.

“I’m not buying this rally,” said Stewart Glickman, an equity analyst at S&P Capital IQ in New York. “We went from $26 to $41 on optimism that something will happen to curb supply. The risks of a sharp downturn remain greater than those for a rally.”

Iranian Policy

Recent moves signal Iran is seeking to win market share, not curb output. State-run National Iranian Oil Co. will sell the Forozan Blend oil for May to Asia below the level offered by rival Saudi Aramco for Arab Medium, the third month the grade is being offered at a discount after being at a premium for almost seven years through February, data compiled by Bloomberg show.

“The news doesn’t justify this move,” said Michael Lynch, president of Strategic Energy & Economic Research in Winchester, Massachusetts. “We should be moving lower on the Iranian comments. Hope about the U.S. economy and the drop in shale production must be giving the market support.”

U.S. crude production slid by 14,000 barrels a day to 9.01 million a day, according to EIA data. Refinery utilization rates rose ahead of the summer driving season by 1 percentage point for a second weekly gain, to 91.4 percent of total capacity.

That number of active U.S. oil rigs has dropped steadily, slipping to 354 this week from 1,609 rigs in October 2014.

Refinery Flames

Fuel prices rose after a fire broke out at the LyondellBasell Industries NV’s refinery along the Houston Ship Channel. The facility has curbed operating rates by as much as 30 percent, a person familiar with operations said. The plant has a capacity of about 264,000 barrels a day, according to data compiled by Bloomberg.

Gasoline for May delivery climbed 6 percent to $1.4637 a gallon, the highest settlement since March 28. Diesel for May delivery increased 6.6 percent to close at $1.2004.

Oil-market news:

  • Front-month Brent traded in backwardation on Thursday for the first time since January as scheduled maintenance at North Sea fields was seen curbing European supply.
  • Wall Street’s biggest banks need to set aside more cash to cover losses as low oil prices take their toll, according to Moody’s Investors Service.

nozzle

JAKARTA ID – Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Maret lalu tercatat naik menjadi US$ 34,19 per barel, dari sebelumnya pada Februari US$ 28,92 per barel. Sedangkan harga Minas/SLC mencapai US$ 33,82 per barel, naik sebesar US$ 5,16 per barel dari US$ 28, 66 per barel pada bulan sebelumnya.

Tim Harga Minyak Mentah Indonesia mengatakan, peningkatan harga minyak mentah Indonesia tersebut sejalan dengan perkembangan harga beberapa minyak mentah utama di pasar Internasional. Peningkatan harga utamanya disebabkan oleh penurunan produksi minyak pada Februari lalu.

Berdasarkan publikasi OPEC Maret 2016, terjadi penurunan suplai minyak mentah dunia sebesar 0,21 juta barel per hari (bph) menjadi 95,73 juta bph. International Energy Agency (IEA) melaporkan suplai minyak negara OPEC turun 90 ribu bph menjadi 32,61 juta bph.

“Penurunan produksi OPEC disebabkan berkurangnya produksi oleh Irak, Nigeria, dan Uni Emirat Arab, serta penahanan produksi oleh Arab Saudi,” tutur Tim Harga Minyak Mentah Indonesia dalam keterangan resmi, Selasa (5/4).

Adanya rencana pertemuan soal rencana penahanan tingkat produksi minyak juga mempengaruhi menguatnya harga minyak. Produsen minyak anggota OPEC maupun negara lain lainnya akan bertemu di Doha, Qatar pada 17 April untuk membahas masalah ini. Terdapat 15 negara OPEC dan Non-OPEC yang menguasai 73% suplai minyak mentah dunia mendukung pertemuan di Doha tersebut.

Selanjutnya, menguatnya harga minyak juga didorong oleh penurunan stok. Berdasarkan laporan Energy Information Administration (EIA) Maret 2016, terdapat penurunan stok di Amerika Serikat pada minggu ketiga Maret dibandingkan akhir bulan Februari. Rincinya, stok gasoline turun sebesar 9,9 juta barel dan distillates 1,3 juta barel.

Selain itu, kenaikan harga minyak juga didorong oleh penurunan penggunaan rig Februari lalu menjadi 1.695 unit. Kemudian, penguatan harga juga disebabkan oleh tren nilai tukar mata uang Dolar Amerika Serikat dibandingkan basket 6 mata uang mayoritas dunia yang menurun sebesar 3,80 poin dari 98,37 menjadi 94,57 dibandingkan bulan Februari 2016.

Untuk kawasan Asia Pasifik, kenaikan harga minyak mentah juga disebabkan oleh meningkatnya impor minyak mentah Tiongkok dari Kuwait sebesar 2,1% menjadi 250 ribu bph dibandingkan bulan sebelumnya. “Selain itu juga didorong oleh meningkatnya utilisasi kilang di Jepang sebesar 1% menjadi sebesar 543.509 kiloliter (KL) per hari,” ujar Tim Harga Minyak Mentah Indonesia. (ayu)

nozzle

JAKARTA. Penurunan harga minyak mentah WTI masih terus berlanjut. Bahkan kini harganya menyentuh level terendahnya dalam sebulan terakhir.

Mengutip Bloomberg, Selasa (5/4) pukul 13.05 WIB harga minyak WTI kontrak pengiriman Mei 2016 di New York Merchantile Exchange merosot 0,31% ke level US$ 35,59 per barel dibanding hari sebelumnya.

Antisipasi pelaku pasar terhadap sajian data cadangan minyak AS menjadi penyebab penurunan harga minyak kali ini. Sebab diprediksi, akan terjadi peningkatan cadangan minyak yang membuat pasokan minyak AS terbang ke level tertingginya dalam delapan dekade terakhir.

Menurut prediksi Bloomberg Survey, cadangan minyak AS akan naik sebanyak 2,85 juta barel pekan lalu. Jika sesuai prediksi, maka ini merupakan kenaikan cadangan beruntun selama delapan pekan beruntun.

Saat pasokan masih tinggi maka sulit untuk membuat harga minyak bertahan di level atas. Sejak pernyataan negatif dari Arab Saudi kemarin momentum pergerakan harga minyak negatif,” jelas Michael McCarthy, Chief Strategist CMC Markets di Sydney, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (5/4).

Tekanan lainnya datang dari laporan yang dirilis Energy Information Administration (EIA) bahwa cadangan minyak AS menyentuh 534,8 juta barel per 25 Maret 2016 lalu.

http://investasi.kontan.co.id/news/harga-minyak-wti-kian-murah
Sumber : KONTAN.CO.ID

marketwatch:

The end of Saudi subsidies

But now times have changed again. Here are my reasons for OPEC’s actions. First and foremost is a question of logic. Why should the lowest-cost producers of oil subsidize the highest cost? In what we know is the beginning of the end of the oil age, it simply doesn’t make any sense to let the highest-cost producers survive when the entire oil industry is slowly gliding toward a form of long-term business run off. It is not in the interest of the low-cost producers to cut production when the market will eventually kill the high-cost producers.

The International Energy Agency also just came to the same conclusion: “In 2016, we are living in perhaps the first truly free oil market we have seen since the pioneering days of the industry.” If that’s the case, low-cost producers will produce as much as possible from here on out. Oil-price increases will come from lower output from higher-cost producers who can’t finance questionably economic new projects going forward in most cases.

Saudi Arabia has no intent to cut production. Their freeze agreement with Russia and a few others is simply an acknowledgment that they have reached the point where they want to be. Anybody who listened to or read Crown Prince and defense minister of Saudi Arabia Muhammad bin Salman’s interview in January (The Economist) should have no doubts about his resolve. He realizes the power of the kingdom’s oil and is going to use it.

One clear sign that Saudi Arabia has no intention of cutting production is the likelihood that they are taking Saudi Aramco public. By doing this, Saudi Arabia can claim that they are not in control of oil production, the same way that Russia and western nations do when they point out their oil companies are privately owned. By taking Aramco public, the Saudis can take a windfall and create a cash-flow machine for the royal family and the country (presumably). I could see a small cut in Saudi oil production just ahead of taking Aramco public to goose the IPO, but not likely before then.

What about the other players?

Iran has stated that they will increase production by a million barrels per day over the next year. While they probably miss on that target, there is no doubt they are on a path to much higher production. The rest of OPEC will never cut to offset Iranian production entering the market over the next two years when higher-cost oil will die anyway.

Iraq, while they have signed off on the freeze, is only partially signing off. The Kurds in the north, who operate independently (though maybe not completely legally), are not going to stop increasing oil production short term. Longer term, Iraq is unlikely to hold the line as they need more revenue to rebuild.

Libya is over a million barrels per day below their normal production due to the civil war there. At some point, that production will come back to the market, as they too will need to rebuild.

Non-OPEC adjustments

So, over the next year or two, there is virtually no chance that OPEC cuts production. After that, they might cut production slightly to maintain pricing, but not at the expense of market share. We will continue to see the adjustments to supply come from non-OPEC higher-cost producers depleting assets and not reinvesting. OPEC will not only keep their market share, they will increase it by a couple of million barrels most likely. I’ve come to agree with those who think the oil market won’t clear until the price of oil hits $20/barrel or lower for a day or two — likely sometime this spring, in my opinion — and trades in a range of $25 to $45 for a period as the National Bank of Abu Dhabi PJSC recently suggested.

nozzle

Singapore, March 30, 2016 (AFP)
Oil prices were lifted Wednesday by a weaker dollar after Federal Reserve chief Janet Yellen signalled a cautious approach to US interest rate hikes, but rises were tempered by worries about a supply glut.

A US energy department report to be released later in the day is expected to show another rise in US commercial crude stockpiles, indicating softer demand in the world’s top oil consumer.

At around 0340 GMT Wednesday, US benchmark West Texas Intermediate (WTI) for May delivery was up 30 cents, or 0.78 percent, at $38.58 and Brent crude for May was 18 cents, or 0.46 percent, higher at $39.32.

Both contracts had been sliding since the middle of last week after bouncing back from near 13-year lows reached in February.

The dollar weakened after Yellen said Tuesday that interest rates were not likely to rise before June and that any move will be slow and gradual.

A weaker US currency makes dollar-priced oil cheaper for holders of other units, encouraging traders to buy and lifting prices.

But analysts said any oil price rise not driven by real demand is unlikely to last.

“The oil price advance today is going to be quite limited. If it hinges on US dollar weakness, it is not going to go much higher,” said Bernard Aw, market strategist at IG Markets in Singapore.

“In the longer term, it’s still a demand and supply game. It’s still a supply glut issue. There’s only so much the US dollar can do.”

Prices have collapsed from levels above $100 in mid-2014 largely due to supply outrunning demand as global economies, particularly China, suffer a growth slowdown.

Major producers led by Russia and Saudi Arabia will meet in Doha on April 17 to discuss measures to stabilise prices, including a proposal to freeze output.

reaction_1

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak bervariasi pada penutupan perdagangan Selasa, sebagai imbas dari serangan Brussels yang menewaskan puluhan orang. Harga minyak Amerika Serikat tergelincir, sementara minyak acuan dunia naik.

Brent, minyak acuan global ditutup naik 26 sen ke level US$ 41,8 per barel setelah menyentuh sesi rendah di level US$ 40,97.

Sementara harga minyak acuan AS untuk kontrak Mei ditutup di level lebih rendah 7 sen atau 0,1 persen ke angka US$ 41,45 per barel, puliih dari perdagangan rendah di intraday US$ 40,77.

Dolar melemah terhadap euro juga telah membuat minyak lebih terjangkau untuk pembeli yang menggunakan mata uang tunggal.

“Minyak sangat terganggu oleh peristiwa makro saat ini, mengukur sentimen di pasar yang lebih luas dan mengambil aksi dari itu,” kata Matthew Smith, direktur riset komoditas di data Clipper New York dilansir dari CNBC, Rabu (23/3/2016).

Setidaknya 30 orang tewas dalam serangan di bandara Brussels dan kereta metro jam-jam sibuk di ibukota Belgia, menurut lembaga penyiaran publik VRT, memicu peringatan keamanan di seluruh Eropa dan membawa beberapa lalu lintas batas berhenti.

bird

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak bertahan di atas US$41 per barel di New York di tengah tekanan spekulasi kenaikan stok minyak mentah di Amerika Serikat.

Perdagangan kontrak minyak WTI ditutup turun 0,17% ke US$41,45 per barel, sedangkan Brent bergerak naik 0,07% ke US$41,57 per barel pada pukul 04.21 WIB.

Harga minyak cenderung stagnan setelah sempat merosot hingga 1,8% beberapa saat setelah ledakan bom di bandara udara dan stasiun kereta bawah tanah di Brussels, Belgia.

“Pada awalnya pasar komoditas beraksi terhadap teror di Brussels. Namun, pelemahan hanya sesaat. Pasar didukung banyak sentimen positif,” kata John Kilduff dari Again Capital LLC kepadaBloomberg.

Tekanan terhadap pergerakan harga minyak justru muncul di penghujung perdagangan dari spekulasi kenaikan stok minyak mentah AS sebanyak 8,8 juta barel pada pekan lalu. Kenaikan tersebut membuat stok di AS semakin melimpah meskipun sudah berada di volume terbanyak dalam 86 hari terakhir.

Adapun survei Bloomberg memproyeksikan kenaikan stok sebanyak 2,53 juta barel per pekan lalu. Kenaikan stok minyak mentah diiringi oleh penurunan stok bensis sebanyak 2,2 juta barel. Konsumsi BBM di AS tercatat sebanyak 9,36 juta barel dalam 4 minggu terakhir, level konsumsi tertinggi dalam 10 tahun.

nozzle

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak melanjutkan penguatan setelah sehari terkoreksi, didorong optimisme investor atas penurunan stok minyak global.

Minyak jenis WTI diperdagangkan menguat 1,19% ke US$39,91 per barel pada perdagangan Selasa (22/3/201) pukul 03.34 WIB, sedangkan Brent bergerak naik 0,85% ke US$41,55 per barel pada pukul 04.09 WIB.

“Persediaan minyak akan merosot dan harga akan naik, hanya menunggu waktu,” kata Jay Hatfieled dari Infrastructure Cap Advisors di New York kepada Bloomberg.

Energy Information Administration pekan lalu menyatakan produksi minyak di Negeri Paman Sam turun 10.000 barel per hari menjadi 9,07 juta barel per hari yaitu level terendah sejak November 2014

Rencana pertemuan 15–16 negara produsen minyak di Qatar pada 17 April untuk membicarakan pembekuan pertumbuhan produksi juga berpotensi penurunan stok minyak global juga berpotensi mengikis stok minyak dunia.

Harga minyak telah naik lebih dari 50% sejak menyentuh level terendah 12 tahun pada Februari. Harga mulai menanjak setelah pengumuman kesepakatan antara Arab Saudi dan Rusia untuk mempertahankan output di level Januari.

Spekulasi harga minyak bergerak menguat naik 17% sepanjang minggu lalu, kini berada di level tertinggi sejak Juni. Adapun kontrak yang bertaruh atas kenaikan harga minyak naik 15.122 kontrak menjadi 348.082 kontrak dalam sepekan.

“Pasar didorong oleh traders yang percaya keseimbangan pasar akan terjadi tahun ini. Berita ekonomi positif, penurunan produksi AS dan persetujuan pembekuan bisa memberi tambahan dorongan pada reli,” kata Gene McGillian dari Tradition Energy kepada Bloomberg.

nozzle

Bisnis.com, JAKARTA – Ekspor minyak Iran naik ke level tertinggi dalam 22 bulan pada Januari setelah sanksi ekonomi negara tersebut berakhir, membuka jalan mereka untuk mengekspor lebih tinggi ke Asia dan penjualan baru ke Eropa dan Afrika.

Berdasarkan data Joint Organization Data Initiative (JODI) yang berbasis di Riyadh, yang dikutip Jumat (18/1/2016), volume ekspor minyak iran naik menjadi 1,55 juta barel per hari, tertinggi sejak Maret 2014 dan 9,2% lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Produksi minyak negara tersebut naik menjadi 3,37 juta barel, terbesar sejak Februari 2014.

Iran berencana meningkatkan produksi menjadi 4 juta barel per hari, sebelum mempertimbangkan bergabung dengan produsen lainnya dalam proposal pembekuan output produksi.

Menurut data JODI, jika rencana peningkatan produksi tersebut terealisasi, maka itu akan menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2008. Iran merupakan negara produsen kedua OPEC, sebelum dikenakan peningkatan sanksi pada 2012.

Bulan lalu, negara tersebut telah mengirimkan kargo pertamanya ke Eropa sejak 2012. National Iranian Oil Co. telah menandatangai kontrak penjualan sekitar 400.000 barel minyak mentah per hari untuk perusahaan rafinasi di Eropa. Namun jumlah tersebut masih belum bisa terpenuhi, karena restriksi keuangan yang masih berlaku.

rose KECIL

oil price.com: Oil prices have shown signs of life over the past few weeks, as production declines in the U.S. raise expectations that the market is starting to adjust. As a result, Brent crude recently surpassed $40 per barrel for the first time in months.

A growling list of companies are capitulating, announcing production cuts for 2016. Continental Resources, for example, could see output fall by 10 percent. A range of other companies have made similar announcements in recent weeks. The energy world has been speculating about declines from U.S. shale, and the declines are finally starting to show up in the data.

Despite the newfound optimism that oil markets are balancing out, crude oil sitting in storage is at a record high in the United States. Energy investors may have preferred to focus U.S. production declines, or the fall in gasoline inventoriesin early March, but meanwhile crude oil stocks continue to signal that oversupply persists.

Related: Why Oil Prices May Not Move Higher

Crude stocks rose once again last week, hitting yet another record of 521 million barrels. Storage levels at Cushing, Oklahoma, an all-important hub where the WTI benchmark price is determined, have surpassed 90 percent of capacity. U.S. output may be starting to decline, but it is doing so at a painfully slow rate.

It isn’t just a U.S. problem. Crude oil storage levels continue to climb around the world. Commercial stocks in the OECD surpassed 3 billion barrels in 2015. TheEIA sees oil storage in the OECD rising to 3.24 billion barrels by the end of this year. It doesn’t stop there. Storage levels rise a bit more next year, hitting 3.30 billion barrels by the end of 2017.

That is a staggering forecast that should scare any oil investor. It also suggests that the price rally over the past few weeks, which has pushed oil prices up around 40 percent since early February, could be fleeting. There is evidence that suggests the rally was driven by speculators closing out short bets on oil, after accruing net-short positions at multiyear highs in recent months. In early March, hedge funds and other major investors shed short positions at the fastest rate in almost a year. The rally, then, hinged on the sudden shift in sentiment from oil speculators.

 nozzlerose KECIL

marketwatch:Members of the Organization of the Petroleum Exporting Countries are planning to meet with Russian energy officials and other oil producers in Doha on April 17 to hash out an agreement to limit output, the Qatari oil ministry said Wednesday.

Talks have been going on for weeks to set up a meeting between OPEC members like Saudi Arabia and Venezuela and big producers outside the group like Russia. Saudi Arabia, Russia, Venezuela and Qatar had already agreed on Feb. 16 to limit their oil production to January levels, as long as other big producers like Iran follow suit.

A Qatari oil ministry news release called that agreement the “Doha initiative” and credited it with changing the sentiment of the oil market. Crude prices CLJ6, +1.90%LCOK6, +1.70%  have rallied in recent weeks to nearly $40 a barrel since sinking to less than $27 a barrel in January, the lowest levels in more than a decade and down almost three quarters since June 2014.

rose KECIL

So much for “drill, baby, drill.”

The number of active oil and natural gas rigs in the U.S. has plunged to the lowest level on record going back to 1949, according to a Baker Hughes report released on Friday.

It’s a reflection of the dramatic downturn in the U.S. energy industry caused by excess supply. Last month, oil prices plunged to a 13-year low of $26 a barrel, even though they have recentlybounced back to $39. Natural gas prices remain near 17-year lows.

Baker Hughes said there were just 480 rigs drilling for oil and natural gas last week, down by a stunning 57% from the year before. The previous low was set in 1999.

oil gas rigs decline

Related: What oil crash? Gulf of Mexico pumping like never before

Oil rigs have been shutting down at warp speed in recent months. Just last week, Baker Hughes said the rig count fell by six to 386, the lowest since 2009.

The rig count topped out at 2,026 back in November 2011 when oil prices were comfortably sitting near $100 a barrel.

Drilling has gone dark at many U.S. shale fields because they require higher prices to turn a profit.

Even though U.S. oil rig counts have been falling sharply since late 2014, actual production has been surprisingly resilient. That’s because oil companies have been getting more out of existing fields and are focusing on their most economical projects. Domestic production has also been boosted by strong output from deepwater projects in the Gulf of Mexico.

The U.S. pumped 9.26 million barrels of oil in December, down 2% from the year before and 4.5% from the April 2015 peak.

 reaction_1

London, March 11, 2016 (AFP)
Oil prices barrelled higher this week to mark the fourth successive weekly gain, sparking talk that the commodities rout was over.

The price of iron ore also surged on Chinese demand hopes, further fuelling speculation of an end to the commodities selloff.

However, analysts cautioned that the recent recovery could mark merely an upward blip on a broader downward trend.

“The recent moves in commodity markets are simply a correction of a very oversold market,” warned analyst Craig Erlam at trading firm Oanda.

“It is very natural for this to occur but does not indicate an end of the selloff just yet,” he told AFP.

“Fundamentally, very little has changed. We remain in a very oversupplied market.”

Goldman Sachs analysts argued in a research note that commodity prices were experiencing a “premature surge” that they believed was “not sustainable”.

“While we still believe oil will likely rebalance this year and create a deficit market by year-end, ‘green shoots’ of a deficit alone are not sufficient for a new sustainable bull market,” Goldman analysts wrote.

“Only a real physical deficit can create a sustainable rally.”

– Not out of woods yet –

ANZ Bank analysts meanwhile declared that commodities from crude oil to copper were “showing signs” that the worst of the rout may be over.

“Sentiment has picked up… This is not to say we are completely out of the woods,” they cautioned.

This week, London Brent crude jumped Tuesday to $41.48 per barrel, the highest since December 9, 2015.

New York’s West Texas Intermediate (WTI) oil hit a similar peak at $39.02 on Friday, aided also by strengthening US gasoline consumption and easing output.

The oil market has staged an impressive rally since January, when it collapsed close to 13-year lows on a chronic supply glut.

The recent upswing in prices prompted the International Energy Agency to declare Friday that the market may have “bottomed out”.

However, the IEA argued that there is a long way to go before oil supply and demand find a real balance, probably in 2017.

“International crude oil prices have recovered remarkably in recent weeks,” the IEA noted in its monthly market report.

“This should not, however, be taken as a definitive sign that the worst is necessarily over. Even so, there are signs that prices might have bottomed out.”

Back in January, Brent had tumbled to $27.10 and WTI to $26.05 in a heavy slump that was also rooted in worries of an impending global recession that would ravage demand.

Sentiment has since been boosted by growing hopes of a producers’ oil output freeze deal and the brighter economic outlook.

Nevertheless, prices have still crashed by 60 percent since striking highs above $100 in mid-2014, plagued by stubborn oversupply, booming US shale output and the OPEC oil cartel’s refusal to curb record production.

– Global recession fears dim –

“People are not as concerned about an imminent global recession as they were at the start of the year when fear took over,” Erlam told AFP.

“We were also overdue a correction in commodity markets following what was a remarkable sell-off over the last 18 months.

“The latter suggests these (upward) moves are likely to be temporary and further downside could come in the second quarter of the year,” he warned.

Many commodities also extended their recovery after the European Central Bank delivered fresh economic stimulus on Thursday.

The dollar initially rallied against the euro after the stimulus and interest rate cuts, but then slumped after ECB chief Mario Draghi suggested more action was not planned.

Gold was catapulted on Friday to a 13-month peak at $1,285.18 per ounce, boosted by the weak greenback which stimulates demand for dollar-denominated raw materials.

burs-rfj/cw

<org idsrc=”isin” value=”US38141G1040″>GOLDMAN SACHS GROUP</org>

long jump icon

Singapore, March 10, 2016 (AFP)
Oil prices held most of the previous day’s strong gains Thursday, but while a dive in US gasoline stockpiles fuelled hopes for a pick-up in demand, traders remain on edge over the long-running supply glut.

Both main contracts soared on Wednesday, with US benchmark West Texas Intermediate hitting a more than three-month high and Brent breaking $41 after the US energy department report.

The figures showed gasoline inventories plunged three times faster than expected while the country’s commercial crude stockpiles rose almost two-thirds less than forecast. WTI put on 4.9 percent and Brent 3.6 percent soon after the data.

On Thursday WTI eased five cents to $38.24 and Brent dipped 14 cents to $40.93.

Analysts said it remains to be seen whether the price rise would be sustained, especially after China this week reported a plunge in exports in February, stirring renewed fears of a “hard landing” for the world’s second biggest economy.

“I’m still not leaning towards prices moving up sustainably because the fundamentals have not changed,” said Phillip Futures analyst Daniel Ang.

He pointed to US crude production, which he said rose marginally last week after weeks of decline, describing it as “rather bearish” for prices.

EY oil and gas analyst Sanjeev Gupta said the market it looking forward to a March 20 meeting of major crude producers to discuss an output freeze proposed by key players Russia and Saudi Arabia aimed at stabilising prices.

The meeting “will provide vital clues about price development in the near term”, Gupta said, but other analysts have cautioned against too much expectations that an agreement will be reached.

rose KECIL

JAKARTA. Reli harga minyak kembali menjadi energi utama yang menopang penguatan indeks Wall Street menjelang rapat European Central Bank.

Indeks Standard & Poor’s 500 ditutup menguat 0,51% atau 10 poin ke level 1.989,26 pada perdagangan Rabu (9/3/2016), sedangkan Dow Jones berakhir naik 0,21% atau 36,26 poin ke level 17.000,36.

Wall Street rebound setelah kemarin mengakhiri reli 5 hari. Indeks bursa New York telah naik 8,8% sejak menyentuh level terendah pada Februari didorong oleh rebound saham-saham perbankan dan komoditas. Reli dalam beberapa pekan terakhir memangkas pelemahan sejak awal tahun dari 11% menjadi sekitar 3%.

Saham-saham di bursa Amerika Serikat hari ini rebound di saat investor menanti hasil rapat ECB yang mulai berlangsung hari ini. ECB diperkirakan akan mengambil langkah tambahan untuk mendongkrak laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Eropa.

“Investor menunggu apa yang akan diumumkan ECB besok. Mereka butuh diyakinkan untuk mendoron S&P melewati level 2.000. Namun, pasar saham masih rebound mengikuti harga minyak,” kata Michael James dari Wedbush Securities di Los Angeles kepada Bloomberg.

Kontrak WTI di bursa komoditas New York sempat diperdagangkan di US$38,51 per barel atau level tertinggi 3 bulan. Pada pukul 04.52 WIB, WTI menguat 4,66% ke US$38,20 per barel.

Beberapa saham yang bergerak signifikan hari ini termasuk Chevron Corp yang naik 4,6%, Nike Inc. yang melemah 2,5%, dan Goldman Sachs Group Inc. yang turun 1,1%.

http://market.bisnis.com/read/20160310/7/526669/bursa-as-indeks-dow-jones-ikut-harga-minyak
Sumber : BISNIS.COM

bird

New York – Harga minyak dunia melonjak, Selasa (08/03/2016) pagi WIB. Itu karena data menunjukkan para produsen minyak telah mengurangi produksi mereka di tengah harga yang rendah.

Patokan AS, minyak mentahh West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, naik US$1,98 menjadi menetap di US$37,9 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, patokan Eropa, minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei, naik US$2,12 menjadi berakhir US$40,84 per barel di London ICE Futures Exchange.

Perusahaan-perusahaan energi AS mengurangi rig minyak mereka untuk pekan kesebelas berturut-turut, menurut data yang dirilis oleh perusahaan jasa minyak Baker Hughes, Jumat.

Para analis memperkirakan perusahaan minyak serpih besar AS terus memangkas pengeluaran. Produksi minyak mentah AS jatuh menjadi 9,077 juta barel per hari pada minggu yang berakhir 26 Februari, penurunan 25.000 barel per hari, menurut laporan yang diterbitkan oleh Badan Informasi Energi AS baru-baru ini.

Pasar juga terangkat karena Arab Saudi dan Rusia baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan peningkatan produksi, dan mendorong produsen-produsen besar lainnya untuk mengikuti langkah mereka.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2279476/harga-minyak-dunia-naik-karena-pasokan-rendah
Sumber : INILAH.COM

bird

NEW YORK – Harga minyak dunia melonjak pada Senin (Selasa pagi WIB), karena data menunjukkan para produsen minyak telah mengurangi produksi mereka di tengah harga yang rendah.

Patokan AS, minyak mentahh West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, naik USD1,98 menjadi menetap di USD37,9 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan Eropa, minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei, naik USD2,12 menjadi ditutup pada USD40,84 per barel di London ICE Futures Exchange.

Perusahaan-perusahaan energi AS mengurangi rig minyak mereka untuk pekan kesebelas berturut-turut, menurut data yang dirilis oleh perusahaan jasa minyak Baker Hughes, Jumat.

Para analis memperkirakan perusahaan minyak serpih besar AS terus memangkas pengeluaran.

Produksi minyak mentah AS jatuh menjadi 9,077 juta barel per hari pada minggu yang berakhir 26 Februari, penurunan 25.000 barel per hari, menurut laporan yang diterbitkan oleh Badan Informasi Energi AS baru-baru ini.

Pasar juga terangkat karena Arab Saudi dan Rusia baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan peningkatan produksi, dan mendorong produsen-produsen besar lainnya untuk mengikuti langkah mereka.

http://economy.okezone.com/read/2016/03/08/320/1330299/harga-minyak-dunia-melonjak-ke-usd37-9-per-barel

Â
Sumber : OKEZONE.COM

reaction_1

Singapore, March 4, 2016 (AFP)
Oil prices rose in Asia Friday after Nigeria said key crude producers plan to meet in Russia later this month to discuss a proposed output freeze.

The pick-up follows a week of gains for the battered commodity, which in January was wallowing near 13-year lows below $30 a barrel owing to overproduction, a supply glut and a slowdown in the global economy.

Nigerian oil minister Emmanuel Ibe Kachikwu said Thursday that the meeting will be held on March 20 and predicted there will be a “dramatic price movement”, Bloomberg News reported.

At around 0400 GMT, US benchmark West Texas Intermediate for April delivery was 24 cents higher at $34.81 a barrel. Brent for May rose 11 cents to $37.18 a barrel.

Both have gained about $2 since last week.

Crude has picked up recently following speculation over plans by major oil producers including OPEC kingpin Saudi Arabia to cap output.

Market strategist Bernard Aw from IG Markets Singapore told AFP that for the potential meeting between OPEC members and Russia to bear fruit, the major producers have to be present.

“If the big players such as Saudi Arabia, Iran, Iraq, agree to freeze output, it could help somewhat. But, the fundamentals of the market remain largely unchanged, it is still quite oversupplied.

“Maybe in the short term it will help development in the oil market, we could see a return to maybe $40,” Aw said.

Another boost to the hammered commodity was US Energy Information Administration (EIA) data released Thursday showing oil production falling to just over nine million barrels per day in the week to February 26.

“There were a series of positive developments in the oil market… If this keeps up, then I think we will see a more sustainable rebound in oil markets, at least for the near term,” Aw added.

Oil is still down about six percent this year on speculation a global glut will be prolonged amid brimming US stockpiles and the outlook for increased exports from Iran after the removal of sanctions, Bloomberg reported.

Saudi Arabia, Russia, Qatar and Venezuela agreed on February 16 in Doha that they would freeze output if other producers followed suit in an effort to tackle the oversupply problem.

long jump icon

Jakarta -Sepanjang Februari 2016, harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) mencapai US$ 28,92/barel, naik tipis US$ 1,43/barel dibandingkan Januari 2016.

Dalam data Kementerian ESDM, Rabu (2/3/2016), disebutkan, harga minyak Minas/SLC di Februari 2016 naik US$ 2,03/barel menjadi US$ 28,66/barel.

Tim Harga Minyak Indonesia menyatakan, peningkatan harga minyak mentah Indonesia tersebut sejalan dengan perkembangan harga minyak mentah utama di pasar Internasional, yang diakibatkan oleh beberapa faktor yakni:

  • Menurunnya suplai minyak mintah dunia sebesar 0,5 juta barel/hari setelah Arab Saudi, Qatar, Rusia, dan Venezuela setuju untuk membekukan produksi minyak mentah untuk tetap dengan tingkat produksi tahun 2015, serta semaraknya penurunan produksi Shale Oil di Amerika Serikat.
  • Berdasarkan publikasi OPEC Februari 2016, permintaan minyak mentah dunia kuartal I-2016 meningkat 0,37 juta barel/hari dibandingkan tahun 2015 menjadi 93,33 juta barel/hari.
  • Berdasarkan publikasi OPEC Februari 2016, penggunaan rig dunia Januari 2016 menurun 44 rig dibandingkan Desember 2015.
  • Berdasarkan ICE US Dollar Index (DXY), nilai tukar mata uang dolar AS dibandingkan basket 6 mata uang mayoritas dunia menurun sebesar 1,37 poin.

Dinyatakan pula, anomali untuk minyak mentah WTI (Nymex), terjadi penurunan harga yang diakibatkan oleh beberapa faktor yakni:
– Berdasarkan publikasi OPEC Februari 2016, terjadi revisi turun tingkat perkembangan ekonomi Amerika Serikat sebesar 0,3% dibandingkan publikasi bulan sebelumnya.
– Berdasarkan laporan EIA (Energy Information Administration) Februari 2016, terdapat peningkatan stok minyak mentah, gasoline dan distillates di Amerika Serikat dibandingkan Januari 2016 sebagai berikut:

  1. Stok minyak mentah naik sebesar 4,9 juta barel.
  2. Stok gasoline naik sebesar 2,1 juta barel.
  3. Stok distillates naik sebesar 1,0 juta barel.

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh meningkatnya utilisasi kilang Singapura sebesar 1,1% menjadi 1,13 juta barel/hari dibandingkan bulan sebelumnya.

Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada Februari 2016 dibandingkan Januari 2016 mengalami variasi, sehingga perkembangannya menjadi sebagai berikut:

  • WTI (Nymex) turun sebesar US$ 1,16/barel dari US$ 31,78/barel menjadi US$ 30,62/barel.
  • Brent (ICE) naik sebesar US$ 1,55/barel dari US$ 31,98/barel menjadi US$ 33,53/barel.
  • Basket OPEC naik sebesar US$ 2,15/barel dari US$ 26,50/barel menjadi US$ 28,65/barel.

(wdl/wdl)

long jump icon

LONDON. Minyak masih bertahan di level mendekati penutupan tertinggi dalam delapan pekan. Pemicunya data minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang menurun di tengah pelonggaran volatilitas harga.

Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April berada di level US$ 34,61 per barel di New York Mercantile Exchange, turun 5 sen, pukul 07:54 waktu pagi London. Kontrak minyak jenis ini naik 26 sen menjadi US$ 34,66 pada hari Rabu (2/3), penutupan tertinggi sejak Januari 5.

Output minyak AS turun untuk pekan keenam untuk 9.080.000 barel per hari, level terendah sejak November 2014, menurut Administrasi Informasi Energi.

Persediaan minyak mentah naik, menjaga persediaan tertinggi dalam lebih dari delapan dekade. Indeks CBOE Crude Oil Volatility yang mengukur ekspektasi perubahan harga, turun ke level terendah sejak 6 Januari. “Apa yang telah paling penting adalah menenangkan pasar,” kata Michael McCarthy, a chief strategist at CMC Markets.

Asal tahu saja, minyak masih turun sekitar 7 % tahun ini karena spekulasi melimpahnya pasokan global akan berkepanjangan di tengah stok AS dan prospek untuk meningkatkan ekspor dari Iran setelah penghapusan sanksi.

http://investasi.kontan.co.id/news/minyak-bertahan-mendekati-level-tertinggi-8-pekan
Sumber : KONTAN.CO.ID

nozzle

ayo BANGUN bisnis energi terbarukan … 241109_290917

buttrock

Toyota City detik- Sejak Toyota membeli 5 persen saham Mazda, kedua perusahaan otomotif Jepang itu mulai berkolaborasi secara bisnis dan permodalan. Tak sampai di situ, mereka juga bersatu untuk mobil listrik.

Dalam siaran pers yang diterima detikOto, Jumat (29/9/2017), Mazda Motor Corporation (Mazda), Denso Corporation (Denso), dan Toyota Motor Corporation (Toyota) telah menandatangani kontrak kerja sama untuk mengembangkan teknologi dasar kendaraan listrik. Ketiga perusahaan itu akan mendirikan perusahaan baru yang terdiri dari beberapa insinyur terpilih dari Mazda, Denso, dan Toyota. Nama perusahaan itu adalah EV C.A. Spirit Co., Ltd.

“Karena negara dan wilayah di seluruh dunia menerapkan kebijakan yang semakin ketat untuk membantu mengurangi gas rumah kaca, kendaraan listrik mulai bermunculan. Mematuhi peraturan lingkungan ini, sambil memastikan pertumbuhan perusahaan kami yang berkelanjutan, memerlukan pengembangan berbagai teknologi dan teknologi powertrain, kami menganggap kendaraan listrik sebagai bidang teknologi utama dalam proses ini, bersama kendaraan sel bahan bakar,” tulis siaran pers Mazda.

Dikatakan, ketiga perusahaan itu memutuskan untuk bersama-sama mengembangkan teknologi struktural dasar dari kendaraan listrik yang mencakup beragam segmen dan jenis kendaraan. Perjanjian ini mencakup beberapa model, mulai dari kendaraan kecil, SUV hingga truk ringan.

Proses pengembangan kendaraan listrik ini pun memanfaatkan keunggulan dari tiga perusahaan tersebut. Mazda, misalnya, mengandalkan perencanaan produk dan kecakapan dalam pengembangan berbasis pemodelan komputer, Denso dengan keahlian kelistrikan serta Toyota dengan platform Toyota New Global Architecture (TNGA).

Adapun tugas dari perusahaan baru yang dibentuk Mazda, Toyota, dan Denso ini meliputi:
1. Meneliti karakteristik (arsitektur umum) yang mendefinisikan kinerja dan fungsi kendaraan listrik yang optimal dari sudut pandang komponen individual maupun keseluruhan kendaraan;
2. Memverifikasi instalasi komponen dan kinerja kendaran yang direalisasikan oleh karakteristik yang dicapai pada poin 1.
3. Mmeeriksa konsep optimal untuk setiap klasifikasi mobil berkenaan dengan masing-masing komponen dan masing-masing jenis kendaraan yang direalisasikan dengan pencapaian poin 1 dan 2. (rgr/dry)

ets-small

Jakarta detik – PT PLN (Persero) bekerjasama dengan perusahaan pengembang energi terbarukan asal Uni Emirat Arab (UEA), Masdar, berencana membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di Waduk Cirata, Purwakarta, Jawa Barat.

PLTS dibuat terapung di atas waduk agar biaya investasinya murah dan tidak memerlukan pembebasan lahan. PLTS terapung tersebut direncanakan memiliki kapasitas 200 Megawatt (MW).

“Iya, kita fokus di EBT. di Jawa Khususnya. Kan udah murah ya, kita pengin Cirata 200 MW PLTS,” kata Direktur Utama PLN Sofyan Basir di Hotel JW Marriot, Jakarta Selatan, Selasa (26/9/2017).

Selain itu, PLN juga berencana membangun pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB) alias kebun angin di Sukabumi, Jawa Barat. PLTB ini rencananya memiliki kapasitas 150 MW.

“Mau bikin (pembangkit tenaga) angin di Sukabumi Selatan 150 MW,” ujar Sofyan.

Selain itu, PLN juga telah menandatangani kontrak jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan 64 pengembang energi terbarukan dari Amerika Serikat (AS), China, hingga Arab Saudi.

“Banyak, ada 64 berbagai negara, Skandinavia, Denmark, Amerika, China, Singapura, Arab ada, Iran juga ada,” tambah Sofyan.

Pihaknya akan terus berupaya melakukan percepatan penggunaan EBT agar dapat mencapai target 23% dalam porsi energi di tahun 2025 mendatang.

“Kita terus berkembang, tidak kita tahan sampai kita dapat 23% di 2025,” ujar Sofyan. (ara/dna)

buttrock

Jakarta detik – Pemerintah mendorong penuh pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia dalam rangka menciptakan ketahanan energi di masa depan. Hal ini dibuktikan dengan menargetkan komitmen bauran energi terbarukan sebesar 23% hingga tahun 2025 mendatang.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengaku telah membuktikan komitmen tersebut dengan disepakatinya pemanfaatan energi terbarukan dalam 10 bulan kepemimpinannya sebesar 700 MW. Jumlah tersebut kata dia cukup besar, dan tidak lebih sedikit dari para Menteri ESDM pendahulunya.

“Saya bersyukur, saya sudah 10 bulan lebih di Kementerian ESDM, saya dapat laporan selama 10 bulan, sudah ada 700 MW renewable energy di bidang kelistrikan yang ditandatangani. Saya kira dengan segala hormat kepada pendahulu saya, saya kira enggak ada yang bisa sampai 700 MW dalam 10 bulan,” katanya dalam sambutan pada acara pembukaan 6th IndoEBTKE ConEx di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (13/9/2017).

Menurutnya, realisasi ini bahkan bisa lebih besar jika proses menuju realisasi bisa dipersingkat, tak banyak berpindah tangan dan konsolidasi seperti dulu.

“Kalau PLN tidak pakai surat dulu untuk mengajukan usulan, rapat di Bogor, rapat lagi di Bali, terus ke Batam, rapat lagi di kantor PLN, enggak ada,” ungkapnya.

Dengan alur yang lebih sederhana, Jonan mengaku percaya diri bisa menciptakan komitmen pemanfaatan energi terbarukan lebih besar lagi. Bahkan hingga angka 3.000 MW sampai 2019 nanti.

“Pemerintah akan berusaha supaya dalam waktu sangat singkat, persetujuan itu diberikan. Sehingga bisa cepat. Untuk di geothermal, selama saya sepuluh bulan ada yang COD dan sebagainya itu 300 MW. Jadi total 1.000 MW. Kalau saya dikasih kesempatan sampai 2019, saya yakin 3.000 MW bisa jalan,” tukasnya. (ang/ang)

lol

KUPANG, KompasProperti – Bangunan jembatan Pancasila Palmerah yang menghubungkan Pulau Flores dan Adonara di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menjadi ikon dunia, karena jembatan itu menghasilkan energi listrik.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT Andre Koreh mengatakan, energi listrik yang dihasilkan itu berasal dari arus laut cukup tinggi yang berada di bawah jembatan itu.

“Di bawah jembatan itu akan dipasang turbin yang berputar dengan kekuatan arus laut 3,5 meter per detik menurut penelitian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Arus laut itu berpotensi menghasilkan energi listrik sekitar 300 megawatt,” terang Andre kepada KompasProperti, Selasa (23/5/2017).

Menurut Andre, teknologi tersebut adalah sesuatu yang baru, karena belum pernah diterapkan di Indonesia jembatan yang menghasilkan energi listrik.

“Jadi ini yang baru pertama kali, sehingga jembatan ini bukan menjadi ikon di Indonesia saja, tapi menjadi ikon dunia, karena di dunia belum ada juga yang dipasang seperti ini,” tuturnya.

Andre mengatakan, di Belanda, jembatan dengan bentangan 4 kilometer, yang dipasang turbin hanya 100 meter dan itu sudah digunakan.

Jembatan Pancasila Palmerah ini dengan panjang bentangan 800 meter ini, akan dipasang turbin 400 meter.

Sedangkan 150 meter di arah Pulau Adonara dan 250 meter ke arah Larantuka (Pulau Flores), tidak dipasang karena akan dipakai untuk jalur pelayaran kecil atau pelayaran rakyat.

Saat ini kata Andre, masih dilakukan koordinasi lintas kementerian antara Kementerian PUPR dan ESDM di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Kemaritiman dan sudah masuk ke dalam proyek strategis nasional.

Selain itu juga adanya koordinasi dengan PLN sebagai operator yang akan membeli energi listrik itu.

Sampai saat ini masih dibahas skema pembiayaannya, sektar sektor yang memimpin antara Kementerian ESDM atau Kementerian PUPR serta PLN.

Ia juga mengaku, akan ada pertemuan antara investor penyandang dana dan pemerintah daerah (pemda) yang punya wilayah, pemerintah pusat yang punya kebijakan dan PLN sebagai pembeli arus listrik, untuk membahas lebih detail proyek pembangunan jembatan itu.

Untuk diketahui, rencana peletakan batu pertama pembangunan jembatan ini dipastikan akhir tahun 2017.

Andre mengatakan saat ini masih dilakukan kegiatan pra-studi kelayakan (feasibility study). Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT telah mengalokasikan dana melalui APBD 1 sebesar Rp 1,5 miliar dan juga dukungan tambahan dana dari pemerintah pusat melalui APBN sebesar Rp 10 miliar.

Seluruh pembiayaan untuk pembangunan jembatan itu, ditanggung sepenuhnya oleh investor asal Belanda, dengan nilai investasinya sebesar 400 juta dollar AS atau setara dengan Rp 5,2 triliun.

Andre menyebut, pembangunan jembatan Pancasila Palmerah, dibagi dalam dua tahap yakni 175 juta dollar AS sampai 200 juta dollar AS untuk tahap pertama dan sisanya pada tahap kedua akan ditambah 200 juta dollar AS.

Sementara untuk studi kelayakan jembatan itu dilaksanakan oleh PT Buana Archicon dan didukung oleh PT Tidal Bridge Indonesia, yang merupakan perusahaan cabang dari Tidal BV Belanda.

Untuk bentuk dan desain jembatan, masih menungu hasil kajian dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Tentunya bentuk jembatan bernilai arsitektural dan bisa mengangkat budaya lokal dan filosofi pancasila.

PT Tidal Bridge Indonesia yang menjadi mitra dari PT Buana Archicon sebagai pemenang tender untuk studi kelayakan jembatan, akan meminta kepada IAI NTT, untuk mendesain model jembatan, dengan mekanisme bisa antara 10 sampai 15 model.

“Mereka akan memilih tiga atau empat model terbaik. Setelah itu akan didiskusikan dengan pemprov dan dipilih satu dan itulah yang akan dipakai,” jelas Andre.

Rencananya, pada awal juni ini, PT Buana Archicon dan PT Tidal Bridge Indonesia, mendatangkan kapal yang bertugas untuk melakukan penelitian di sekitar Selat Gonsalu, yang menjadi tempat dibangunnya jembatan itu.

Andre berharap, semua rencana pengerjaan proyek pembangunan jembatan itu bisa berjalan dengan baik dan lancar, sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat.

ets-small

Jakarta detik -Ketika diangkat menjadi Menteri ESDM pada Oktober 2014 lalu, Sudirman Said berjanji akan menjadikan energi baru terbarukan (EBT) sebagai arus utama, bukan lagi ‘lampiran’ dalam kebijakan energi.

Sebagai bukti komitmennya memajukan energi terbarukan di Indonesia, Sudirman mengaku telah meningkatkan anggaran untuk EBT hingga 100%. Rata-rata anggaran EBT di periode sebelumnya hanya Rp 1 triliun per tahun, kini di era kepemimpinannya rata-rata anggaran untuk EBT mencapai Rp 2 triliun per tahun.

“Anggaran EBT naik cukup signifikan dari rata-rata sebelumnya Rp 1 triliiun, sekarang lebih dari Rp 2 triliun,” kata Sudirman, dalam jumpa pers usai Bali Clean Energy Forum di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/2/2016).

Meski sudah naik 2 kali lipat, Sudirman mengakui, sebenarnya anggaran untuk EBT masih tergolong kecil dan belum mencukupi. Sebab, kemampuan anggaran pemerintah memang terbatas. Namun, kurangnya anggaran itu tidak menjadi penghalang untuk pengembangan EBT. Pihaknya terus berupaya membuat kebijakan-kebijakan untuk menarik investasi di bidang EBT.

Dengan banyaknya investor yang berbisnis EBT, pengembangan EBT pun bisa berjalan kencang tanpa perlu banyak anggaran dari APBN. “Anggaran dari APBN nggak sampai Rp 10 triliun, pemerintah punya prioritas-prioritas lain, yang kita dorong adalah investasi,” tukas dia.

Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana, menambahkan anggaran yang dikeluarkan pemerintah hanya ‘pemicu’ saja untuk pengembangan EBT, juga untuk membangun infrastruktur EBT yang tidak tersentuh oleh pihak swasta.

Peran utama pemerintah dalam pengembangan EBT menciptakan regulasi-regulasi dan iklim yang kondusif agar investor tertarik menanamkan modal di bidang EBT, mulai dari feed in tariff yang ekonomis, pemangkasan perizinan, pemberian insentif, dan sebagainya.

“APBN itu pemancing saja, sambil juga untuk melistriki daerah-daerah yang belum tersentuh investor. Kita keluarkan berbagai aturan untuk menarik investasi. Kalau kita mengembangkan EBT pakai APBN saja sampai kapan pun tidak akan kuat,” papar Rida.

Pihaknya mengklaim berbagai kebijakan yang telah dibuat pemerintah telah membuat bisnis EBT semakin seksi sehingga investasi meningkat. “Sekarang investasi makin banyak karena harga makin bagus, izin juga makin singkat,” tutupnya.

(wdl/wdl)

JAKARTA okezone – Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir, melepas langsung keberangkatan Kapal Marine Vessel Power Plant (MVPP) “Karadeniz Powership Zeynep Sultan” berkapasitas 120 Mega Watt (mw) dari Pelabuhan Nusantara Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sebelum melepas keberangkatan kapal, Presiden Joko Widodo juga melakukan peninjauan kapal MVPP dengan ditemani Dirut PLN Sofyan Basir, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri ESDM Sudirman Said dan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Kapal yang berisi pembangkit listrik yang baru datang dari Turki ini akan menuju Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Program ini merupakan salah satu upaya PLN untuk memperkuat pasokan listrik di beberapa lokasi di Indonesia, salah satunya di Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo yang terhubung dalam sistem interkoneksi kelistrikan 150 kilo Volt (kV) Sulawesi Utara – Gorontalo (Sulutgo).

MVPP buatan tahun 2014 ini disewa PLN selama jangka waktu 5 tahun. Titik koneksi awal Marine Vessel ini di Amurang , selanjutnya PLN juga akan mendatangkan power plant serupa untuk beberapa lokasi antara lain Sumatera Bagian Utara (240 MW), Kupang (60 MW), Ambon (60 MW), dan Lombok (60 MW).

Beberapa keunggulan MVPP diantaranya yakni menurunkan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik, kemudahan relokasi (hanya perlu waktu 3 – 4 minggu) sehingga dapat fleksibel memenuhi kebutuhan listrik di suatu daerah, penghematan hingga Rp 350 miliar per tahun dan lebih cepat dalam memenuhi kebutuhan tambahan pasokan listrik di suatu daerah yang sedang kekurangan listrik.

Untuk Marine vessel power plant pertama ini dioperasikan dengan dua bahan bakar atau dual fuel engine yaitu fuel jenis heavy fuel oil dan gas. Sementara pembangunan tower transmisi 150 kV yang menghubungkan MVPP ke switchyard untuk selanjutnya disuplai ke Gardu Induk Lopana. Perjalanan MVPP ke Amurang diperkirakan memakan waktu sekitar tujuh hari, dan diharapkan tanggal 23 Desember sudah bisa menambah pasokan listrik Sulawesi Utara.

Sejak diberangkatkan pada awal November 2015, MVPP telah menempuh perjalanan hampir 30 hari melalui jalur Terusan Zues, Laut Merah, hingga ke Samudra Hindia dan Srilangka, baru masuk ke perairan Indonesia. Kapal tiba di Indonesia, tepatnya di Tanjung Priok pada 1 Desember untuk proses Customs Clearence (Pemeriksaan Administrasi di Bea Cukai).

Pembangkit listrik di atas kapal ini akan segera memenuhi kekurangan pasokan listrik di Sulawesi Utara dan Gorrontalo. Beban puncak sistem kelistrikan Sulawesi Utara dan Gorontalo saat ini mencapai 325 MW, sedangkan daya mampu pembangkit yang ada jika semuanya beroperasi optimal adalah 320 MW. Daya mampu pasok dari pembangkit yang beroperasi saat ini hanya 275 MW, ini dikarenakan PLTP Lahendong unit 4 sedang pemeliharaan agar pada saat pelaksanaan Pilkada, 9 Desember bisa beroperasi dengan handal. Selain itu, PLTU Amurang unit 1 mengalami gangguan serta belum optimalnya operasi PLTA, dimana hanya mampu memproduksi listrik 23 MW dari 45 MW. Hal ini yang menyebabkan berkurangnya daya mampu suplai pembangkit atau defisit sebesar 50 MW.

“Kami harapkan dengan adanya Marine Vessel Power Plant ini akan mampu memasok sistem kelistrikan Sulawesi utara dan gorontalo melalui tegangan 150 kV, sehingga diharapkan kondisi defisit pasokan listrik di sistem Sulawesi Utara dan Gorontalo akan dapat teratasi dan daftar tunggu pelanggan listrik dapat segera dilayani” ungkap Direktur Utama PT PLN (Persero), Sofyan Basir.

Saat ini PLN juga tengah menyelesaikan pembangunan PLTG Gorontalo total kapasitas 100 MW, dimana satu unit ditargetkan beroperasi pada akhir Desember 2015 atau di awal Januari 2016. PLTG Gorontalo akan menjadi pembangkit pertama dari program pembangunan pembangkit 35.000 MW yang beroperasi.

Dalam sambutannya Presiden Joko Widodo mengungkapkan pemilihan Pembangkit Listrik Diatas Kapal dianggap tepat mengingat Indonesia negara kepulauan dengan 17.000 pulau, maka pembangkit listrik di atas kapal yang bisa mobile dari satu pulau ke pulau lain‎ paling cocok dengan Indonesia.

(rzy)

 

JAKARTA. Pemerintah berencana menggenjot penyerapan biodiesel membuat mandatori B15. Dengan adanya ketentuan tersebut, emiten perkebunan pun beramai-ramai masuk ke bisnis biodiesel.

PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) tengah membangun pabrik biodiesel di Lampung. Pabrik tersebut akan memiliki kapasitas 1.050 ton Crude Palm Oil (CPO) per hari. Untuk itu, TBLA perlu merogoh kocek US$ 15 juta. Dengan nilai tukar Rupiah di kisaran Rp 13.600, artinya investasinya bernilai Rp 204 miliar.

Sumber KONTAN mengatakan, TBLA telah melakukan pembangunan pabrik biodiesel tersebut di pertengahan tahun 2015. Adapun, pabrik tersebut ditargetkan rampung sekitar 2-3 bulan mendatang.

Kemudian, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) pun berencana mengembangkan bisnis sawitnya hingga ke hilir. SSMS akan membangun pabrik biodiesel tahun depan. Pabrik itu berlokasi di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah karena dekar dengan lahan perseroan. Untuk itu, investasinya mencapai US$ 20 juta.

Penggarapan biodiesel ini dilakukan melalui induk SSMS yakni PT Citra Borneo Utama. Di situ, SSMS melakukan penyertaan modal sebanyak 19%.

Selain itu, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) berencana menambah kapasitas produksi biodieselnya sebanyak 300.000-600.000 ton di tahun depan. Sampai akhir tahun ini, SMAR memproyeksikan produksi 1,3 juta ton biodiesel. Rinciannya yakni 300.000 ton berasal dari pabriknya di Marunda dan 1 juta ton dari pabrik di Dumai.

Analis Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menilai penggarapan biodiesel oleh emiten perkebunan semestinya mampu meningkatkan permintaan CPO dan mendongkrak harga. &ldquo;Untuk emiten bagus kalau implementasinya berjalan baik. Cuma yang jadi masalah adalah keseriusan PT Pertamina,&rdquo; katanya.

Apabila nantinya berjalan baik, Kiswoyo memperkirakan dampak penggunaan biodiesel terhadap kenaikan harga CPO akan membutuhkan waktu. Ia merasa, pengaruhnya bisa terasa 6 bulan setelah implementasi dijalankan.

Saham TBLA diam di Rp 495 dan SMAR stagnan di Rp 4.400. Sedangkan saham SSMS menghijau 1,32% ke posisi Rp 1.915.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/emiten-perkebunan-serempak-garap-biodiesel
Sumber : KONTAN.CO.ID

Merdeka.com – Pemerintah meminta PT PLN (Persero) menggunakan campuran biodiesel untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Hal ini untuk mencapai target penyerapan biodiesel mencapai 5,2 juta kiloliter (KL) pada tahun depan.

“PLN sudah berkomitmen bahwa PLTD sudah harus dicampur dengan biodiesel yang nanti akan disuplai oleh Pertamina” ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana di kantornya, Jakarta, Jumat (9/10).

Nantinya, selisih harga pembelian biodiesel oleh PLN bakal dialokasikan ke Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kelapa sawit. Pasalnya, harga biodiesel lebih mahal ketimbang bahan bakar solar.

“Jadi ada percampuran keduanya untuk peroleh harga yang nantinya disanggupi PLN. Nantinya juga untuk target pembelian biodiesel sebanyak 2,76 juta kl untuk transportasi, 1,12 juta kl untuk industri dan 1,26 juta kl untuk PLN pada 2016,” kata dia.

Sementara, realisasi penyerapan baru mencapai 504.000 KL untuk transportasi dan 195.873 KL untuk industri hingga September 2015.

JAKARTA &ndash; PT Pertamina (Persero) menargetkan adanya penghematan devisa sekitar US$ 1,94 miliar pada tahun depan dari penjualan Biosolar. Target dapat tercapai jika perseroan mampu serap unsur nabati (fatty acid methyl ester/FAME) sebanyak 5,14 juta kiloliter (KL) sebagai campuran solar.

 

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro mengatakan, campuran FAME pada solar ditargetkan meningkat dari tahun ini yang hanya 15% untuk solar bersubsidi dan industri dan kelistrikan 25%. Pada 2016, campuran FAME pada solar bersubsidi dan industri naik menjadi 20% dan kelistrikan 30%.

 

Untuk itu, kebutuhan FAME perseroan pada tahun depan diperkirakan mencapai 5,14 juta KL. Rincinya, sebagai campuran solar bersubsidi sebesar 2,76 juta KL, industri 1,12 juta KL, dan kelistrikan 1,26 juta KL.

 

&ldquo;Apabila diasumsikan ratarata indeks harga gasoil tahun depan di kisaran US$60 per barel, maka Pertamina akan menghemat devisa sebesar USid=”mce_marker”,94 miliar. Langkah ini menjadi satu lagi bukti penting dan konkret upaya Pertamina untuk mencegah aliran devisa ke luar negeri, khususnya dari impor Solar,&rdquo; kata Wianda dalam siaran resminya, Minggu (4/10).

 

Sementara itu, untuk tahun ini Pertamina menargetkan dapat menyalurkan FAME sebanyak 966.785 KL hingga akhir tahun. Jika harga indeks pasar gasoil diasumsikan sebesar US$60 per barel, penyerapan FAME tersebut setara dengan penghematan devisa sekitar US$360 juta.

 

Wianda mengatakan, pihaknya optimistis penyerapan FAME akan sesuai dengan target. Pasalnya pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No 61 tahun 2015 yang mengamanatkan pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit, di mana selisih akibat fluktuasi harga FAME dan Diesel akan diatasi oleh lembaga tersebut. Selain menghemat devisa, pencampuran FAME juga dapat memangkas bahkan menghilangkan impor solar pada sisa tahun ini.

 

Setiap bulannya, Pertamina biasanya harus mengimpor solar 120 ribu KL guna memenuhi kebutuhan nasional. Namun, Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution Pertamina Muhamad Iskandar menuturkan, impor solar saat ini sudah mulai berkurang seiring dengan menurunnya konsumsi di dalam negeri. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, konsumsi solar nasional turun sebesar 15%.

 

Kemudian dengan mencampur FAME sebesar 15%, konsumsi solar yang dikurangi juga dapat sebesar volume FAME tersebut. Apalagi, jika PT PLN (Persero) juga mulai memanfaatkan biodiesel untuk pembangkitnya. &ldquo;Program ini kan FAME 15% dan sekarang kan impor 15%. Kalau ini jalan, bisa-bisa tidak perlu ada impor solar lagi,&rdquo; tutur Iskandar. (ayu)

 

http://id.beritasatu.com/energy/jual-biosolar-pertamina-targetkan-hemat-devisa-us-194-miliar/129001
Sumber : INVESTOR DAILY

LONDON, Sept. 24 (Xinhua) — Britain’s total share of electricity generation from renewable energy reached a record high of 25 percent in the second quarter of this year, according to a report released Thursday by the government’s department of energy and climate change (DECC).

The hike in renewable energy production in the second quarter was due to favorable weather conditions, including higher wind speeds, rainfall and sun hours, as well as more turbines and solar panels having been installed, the report said.

This was an increase of 8.6 percentage points over the same period of last year when the figure stood at 16.4 percent, according to the statistics.

Among the renewables, solar power saw the strongest surge between April and June, rising by 114.8 percent over last year. Electricity from wind went up by 65 percent year-over-year, driven by the expansion of several large-scale offshore wind farms. Electricity from biomass also rose by 26 percent year-over-year.

In general, gas took up the largest share of electricity generation in the second quarter, about 30 percent of the total. Renewables and nuclear energy came in second and third, while coal fell back to fourth place, with a share of 20.5 percent. Enditem

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Golden Agri Resources Ltd ingin meningkatkan kapasitas produksinya di Indonesia. Induk usaha PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) ini akan membangun dua pabrik biodiesel di Indonesia. Pabrik tersebut memiliki kapasitas masing-masing 200.000 ton per tahun.

Untuk keperluan membangun pabrik itu, Golden Agri merogoh biaya sekitar 150 juta dollar AS hingga 200 juta dollar AS. Dengan nilai tukar di sekitar Rp 13.700, maka investasinya setara dengan Rp 2,05 triliun sampai Rp 2,74 triliun.

“Sumber dana dari hasil arus kas,” ucap Richard Fung, Direktur merangkap Investor Relation Golden Agri Resources, kepada Kontan, Kamis (13/8).

Ia berharap pembangun pabrik biodiesel tersebut rampung tahun depan. Pabrik pertama diperkirakan selesai di semester pertama dan pabrik kedua di semester berikutnya. Untuk penjualan produk biodisel, Golden Agri kini dalam proses tender dengan PT Pertamina (Persero).

Selebihnya juga akan dijual untuk program biodiesel pemerintah. Terlebih pemerintah sudah berkomitmen mendorong pemakaian biodiesel dengan menerapkan mandatori B15. Ia memperkirakan, implementasi B15 ini dapat tercapai dalam 1-2 tahun mendatang.

Pada awal Agustus, Golden Agri juga baru saja mengakuisisi 100 persen saham perusahaan yang bermarkas di Jerman yakni Victory Oleo Holding GmbH. Untuk itu, Golden Agri merogoh kocek 305.000 euro atau sekitar Rp 4,66 miliar.

“Victory Oleo akan mengembangkan pemasaran produk oleochemical di Eropa dan Amerika Latin,” sebut Rafael B. Concepcion Jr., Chief Financial Officer Golden Agri Resources.

Hingga semester I tahun ini, Golden Agri telah mengeluarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai 32 juta dollar AS untuk hulu dan hilir. Sepanjang tahun ini, Golden Agri menganggarkan capex 130 juta dollar AS untuk hulu dan 170 juta dollar AS untuk hilir.

Dalam jangka pendek, Richard memperkirakan harga Crude Palm Oil (CPO) masih akan menurun. Ini karena dampak turunnya harga mineral mentah serta tingginya penawaran minyak kacang kedelai. Meski begitu, ia optimistis harga CPO akan membaik tahun depan ditopang rendahnya pertumbuhan produksi kelapa sawit.

Tahun ini, Richard memperkirakan pertumbuhan produksi CPO Golden Agri akan sedikit lebih rendah ketimbang tahun lalu. Adanya badai El Nino pun baru akan berpengaruh di kuartal empat tahun ini atau tahun depan. (Annisa Aninditya Wibawa)


Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber : KONTAN

Yuliadi Kadarmo
Associate Analyst Berita Daerah
Mendorong Pemanfaatan Rumput Laut Sebagai Sumber Energi Terbarukan
Selasa, 3 November 2009 13.37 WIB

(Vibiznews – Business) – Kita tidak mewarisi bumi ini dari orang tua kita,
tetapi kita meminjamnya dari anak-anak kita (Antoine de Saint Exupery)

Adalah sangat tepat petuah bijak di atas bila kita kemudian bergegas melakukan aksi nyata dalam mencari sumber-sumber energi terbarukan dan berkelanjutan (renewable and sustainable energy) pada saat ini, demi masa depan bumi yang kita diami bersama.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati baik di darat maupun lautan. Di antara sumberdaya hayati tsb, telah terbukti, misalnya, tebu, jagung, dan ketela sebagai tanaman yang mampu menghasilkan bahan bakar sekelas premium, minyak buah jarak dari tanaman jarak sebagai pengganti minyak tanah dan solar untuk sumberdaya hayati daratan. Selain itu, rumput laut yang merupakan sumberdaya hayati di lautan, terbukti juga sebagai sumber energi terbarukan yang lebih kompetitif dibandingkan komoditas lainnya (DKP, 4/11/2008). Oleh karena itu, dalam tulisan ini, kami fokus membahas rumput laut sebagai bahan untuk biofuel ( bahan bakar nabati terbarukan). Disamping itu, rumput laut dipilih karena dia memiliki keunggulan absolut, yakni sebagai sumber energi alternatif yang tidak akan mengganggu pemanfaatan lahan daratan sebagaimana terjadi pada tanaman tebu, jagung, ketela dan jarak.

Rumput Laut: Lebih Kompetitif dan Multiguna

Adalah jenis rumput laut yang bervarietas Geladine akan dikembangkan untuk biofuel. Hingga sekarang, varietas ini telah dibudidayakan di sejumlah daerah, yakni di Maluku seluas 20 ribu ha, Belitung Timur dan Lombok sekitar 10 ribu ha. Selain ketiga daerah tsb, sejumlah daerah di Indonesia juga sangat potensial dikembangkan sebagai daerah budidaya rumput laut, yakni Takalar (Sulsel), Karang Asem (Bali), Sumenep (Jatim), Lombok Barat (NTB), Gorontalo, Jakarta Utara (DKI), Kota Baru (Kalsel), P. Sawu (NTT). Di daerah-daerah tsb, dapat dibudidayakan jenis rumput laut (mikroalga) seperti diatom (Bacillariophyceae), gang-gang hijau (Chlorophyceae), ganggang emas (Chrysophyceae), dan ganggang biru (Cyanophyceae). Dari keempat kelompok tsb, mereka dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioenergi (Mujizat Kawaroe, 2008).

Mengapa rumput laut lebih kompetitif dibandingkan sumberdaya hayati lainnya sebagai biodisel? Hal ini, misalnya, karena hasil penelitian membuktikan bahwa dalam 1 ha lahan, mikro alga dapat menghasilkan 58.700 liter minyak pertahunnya, atau jauh lebih besar dibandingkan jagung yang hanya 172 liter/tahun dan kelapa sawit yang hanya 5.900 liter/tahun (DKP, 04/11/2008). Studi lain juga menemukan hal yang sama, yakni dalam salah satu lipid (minyak organik) mikroalga ini, ternyata terdapat hidrokarbon, yaitu senyawa dasar pembentuk bahan bakar. Adapun kandungan lipid dalam mikroalga diketahui mencapai 20 %, dan kandungan tsb masih dapat ditingkatkan melalui cara rekayasa genetis hingga mencapai 50 % (Mujizat Kawaroe, dan Warintek Nganjuk, 2008). Tidak hanya berguna untuk biofuel, mikro alga juga merupakan organisme terefisien dalam menangkap dan memanfaatkan energi matahari dan C02 untuk keperluan fotosintesis, dan dia sangat membantu dalam pencegahan terjadinya pemanasan global (Mujizat Kawaroe, 2008). Untuk pengetahuan umum, di kalangan ilmuwan, rumput laut dikenal dengan nama alga, dan berdasarkan ukurannya dibedakan dua golongan, yaitu mikro alga dan makro alga. Dari keduanya, mereka adalah organisme penghasil oksigen yang sangat dibutuhkan oleh semua penghuni laut sehingga peranan keduanya juga sangat penting dalam ekosistem laut (AB. Susanto, 24/04/09).

Kebermaknaan Rumput Laut

Ada sejumlah alasan mengapa Indonesia harus mendorong pemanfaatan rumput laut sebagai energi terbarukan. Diantaranya adalah:

1. karena rumput laut tidak dikonsumsi setiap saat oleh manusia
maka saat dia dijadikan sumber energi terbarukan, maka relatif
kecil konsekuensi yang timbul dari pemanfaatannya
sebagai biofuel.

2. sebagai negara kepulauan dengan pantai yang panjang dan iklim
yang hangat sepanjang tahun, maka Indonesia adalah negara yang
mampu menyediakan rumput laut sebagai bahan pembuatan
bioenergi. Oleh karena itu, Indonesia sangat besar berpotensi
sebagai salah satu negara pemasok bahan bakar nabati (biofuel)
guna memenuhi kebutuhan dunia yang semakin meningkat akan
energi bersih.

3. sebagai pensubstitusi bahan bakar fosil, pemanfaatan rumput
laut sebagai biodisel adalah bersifat terbarukan dan
berkelanjutan serta termasuk energi bersih dan efisien.

4. dapat mencegah terjadinya pemanasan global (Mujizat Kawaroe,
2008).

Dalam kaitannya dengan uraian pada poin 1-4 di atas, Pemerintah Indonesia telah memberikan payung hukum untuk hal itu, yakni melalui Perpres No 5 Tahun 2006. Dalam Perpres ini, dikemukakan perihal tentang Kebijakan Energi Nasional yang bertujuan menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri dan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Adapun pembangunan berkelanjutan dimaksud berarti pengembangan energi terbarukan yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat secara murah dan terjangkau.

Bermitra dengan Pihak Ke Tiga

Saat ini, Indonesia memiliki sumberdaya rumput laut yang banyak, tetapi kita belum menguasai teknologi tinggi untuk memanfaatkan rumput laut sebagai sumber energi terbarukan. Oleh karena itu, Indonesia perlu mitra dalam upaya pemanfaatan rumput laut sebagai sumber energi terbarukan. Dalam kaitan dengan hal ini, kita dapat menjalin kemitraan dengan Korea Selatan (Korsel). Mengapa Korsel dipilih? Penyebabnya adalah Korsel sudah memiliki road map, model, grand strategy, dan teknologi tinggi untuk menjadikan rumput laut sebagai energi terbarukan (DKP 4/11/2008).

Namun patut diingat, jalinan kemitraan itu haruslah memberikan keuntungan bagi kedua pihak, baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Dari kemitraan tsb, Indonesia haruslah, misalnya, mendapatkan alih teknologi untuk pengembangan teknologi terbaru dan maju dalam hal budidaya rumput laut, pelibatan para peneliti dalam negeri untuk workshop dan penelitian bersama tentang rumput laut, pengembangan kapasitas sumberdaya manusia melalui program pendidikan dan pelatihan di subsektor rumput laut, dan pengembangan pemanfaatan spesies mikroalga (rumput laut) sebagai bahan bakar nabati (biofuel) dan pangan.

Karena kebutuhan terhadap sumber energi yang bersih semakin meningkat, maka diberbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi banyak berlomba menemukan clean technology (teknologi yang bersih). Saat ini, yaitu mulai tahun 2000-an, masyarakat dunia telah menggunakan paradigma kelima, yakni mulai menerapkan teknologi biomassa yang terbarukan dan berkelanjutan (renewable and sustainable technology), dan ini termasuk bioenergi dari rumput laut.

(Yuliadi Kadarmo/YKD/vbn)

energi terbarukan: OMDO v. akdo … 140711_110916_130917

inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

omdo = omong doang = ngoceh aja loh 😛

akdo = neh baru SIKAP n PERILAKU yang sesuai 🙂 (aksi donk)

kata tjuta ozSMALL

Jakarta – Pemerintah berencana mengembangkan mobil listrik. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun telah meminta semua kementerian dan lembaga mendukung pengembangan mobil listrik. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun telah membuat roadmap atau peta jalan.

Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto, inginkan adanya peningkatan produksi mobil hybrid atau berbahan bakar bensin dan bertenaga listrik. Jumlah mobil hybrid nantinya harus diproduksi minimal sebanyak 20% dari jumlah mobil nasional pada tahun 2025.

“Salah satu yang kita setujui adalah, beliau (Jokowi) menyetujui tahun 2025 itu 20% itu sudah diproduksi dari mobil berbasis electric vehicles,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Airlangga menyebut, apabila jumlah produksi mobil nasional pada tahun 2025 sebanyak 2 juta unit, maka mobil hybrid harus diproduksi sebanyak 400 ribu unit.

“Minimum produksi 2025 itu ya kalau kita sekarang bicara 2 juta pada waktu itu yang kira-kira 400.000,” kata Airlangga.

Saat ini sendiri, proses produksi mobil listrik telah dimulai. Dirinya pun berharap supaya ke depannya terdapat pabrik sparepart untuk mobil listrik juga tersedia di Indonesia.

“Mulai dari pada pabrikan yang ada di Indonesia sudah memamerkan prototype-nya. Nah prototype itu kan dia harus melakukan uji coba, uji coba akan dilakukan juga segara di Indonesia dan nanti dari pabrikan akan ada beberapa kendaraan untuk dilakukan pengujian di Indonesia,” tukasnya(mkj/mkj)

Emoticons0051

Jakarta – Pemerintah harus mengoptimalkan penggunaan energi baru terbarukan dalam penyediaan listrik di Tanah Air. Apalagi, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada 2020 sesuai Paris Agreement tahun 2011.

“Indonesia harus bisa konsisten menentukan arah penyediaan energi terbarukan. Sebab kondisinya semakin tertinggal dari negara lain, di kawasan Asia Tenggara sekalipun,” ujar Juru Kampanye Energi dan Perkotaan Walhi Dwi Sawung di Jakarta, Selasa (23/5).

Solusinya, menurut dia, perlu kebijakan yang menarik investor terhadap pengembangan jenis energi terbarukan. Hal ini sejalan  dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada 2020 sesuai Paris Agreement tahun 2011, dengan cara mengedepankan pengembangan 25 energi terbarukan. “Nah sekarang kan justru bertolak belakang, pengembangan energi terbarukan justru terhambat regulasi yang mengatur tarif jual 85% dari Biaya Pokok Produksi (BPP) regional,” paparnya.

Dwi juga mengaku heran pembangkit listrik dengan kapasitas 9.000 MW yang akan dibangun di Pulau Jawa dan Bali masih menggunakan batubara. Padahal, pembangkit listrik berbasis batubara terbukti menimbulkan polusi udara dan dampak negatif bagi kesehatan yang begitu besar.

Menurut dia, sudah saatnya pemerintah mengalihkan fokus ke energi terbarukan untuk sisa proyek 35 ribu MW. Perlu dipetakan sumber-sumber energi terbarukan di masing-masing daerah termasuk Pulau Jawa untuk memperkuat cadangan. Dengan demikian konsep energi terbarukan dapat didesain untuk jangka panjang, berkelanjutan, serta makin murah biayanya.
“Jadi tetap ada ruangan untuk pengembangan energi terbarukan di Jawa, karena memang demand terbesar di sini. Saya rasa banyak investor swasta yang berminat jika dibuka peluang itu,” paparnya.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldy Dalimi juga menyatakan, DEN terus mendorong pemerintah untuk memaksimalkan pemanfaatan energi terbarukan, meminimalkan penggunaan minyak, mengoptimalkan penggunaan gas bumi, dan batubara sebagai andalan pasokan energi nasional. “Energi terbarukan merupakan energi masa depan dan negara-negara maju secara diam-diam terus mengembangkan ini dengan pesat,” ujar Rinaldy yang juga Guru Besar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Dalam pengembangan energi terbarukan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Ali Herman Ibrahim menilai, peran dan partisipasi swasta sangat didorong oleh Presiden Jokowi di program 35 ribu MW. Di sisi lain, dengan kebutuhan investasi yang begitu besar, tidak mungkin PLN berjalan sendiri dalam program 35 ribu MW.

Ali menambahkan APLSI sudah melakukan survei kepada pelaku usaha kelistrikan swasta dan sebagian besar mempertanyakan konsistensi regulasi dari pemerintah. Regulasi yang ada selalu berubah-ubah sehingga membingungkan sektor swasta. Kemunduran perekonomian nasional yang dirasakan saat ini terjadi salah satunya karena tidak bergeraknya sektor swasta. “Regulator dinilai tidak menciptakan iklim kondusif untuk ekspansi pembangkitan. Terlalu banyak intervensi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Divisi Perencanaan Sistem PLN Adi Priyanto menilai target bauran energi terbarukan yang ditetapkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sebesar 25% pada 2025 sulit dicapai. “Target 25% itu agak berat direalisasikan tanpa dorongan pemerintah. Kita lihat ada daerah yang berpotensi besar jadi sumber energi terbarukan, tapi tidak ada demand di sana,” ucapnya.

Adi mencontohkan Flores memiliki potensi 2.000 MW geothermal, tapi potensi tersebut belum direalisasikan karena tidak ada beban di sana. “Saat ini perkembangan energi terbarukan untuk listrik masih memperhatikan keseimbangan supply-demand. Jika tidak ada beban atau demand, masih sulit berkembang,” ujarnya.

 

 

Euis Rita Hartati/ERH

Investor Daily

buttrock

JAKARTA, KOMPAS.com — Potensi sumber daya energi baru terbarukan (EBT) di kawasan timur Indonesia (KTI) sangat tinggi. Tetapi, investasi EBT di kawasan ini dinilai tidak akan menarik bagi investor. Apa sebabnya?

Andi Rukman Karumpa, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) kawasan Indonesia Timur, mengatakan bahwa investasi EBT di timur Indonesia tidak menarik karena selain minus insentif, regulasi juga tidak mendukung.

“Potensi EBT di KTI besar. Sayangnya, insentifnya yang lemah. Ini yang membuat swasta tidak terlalu tertarik masuk ke KTI,” kata Andi melalui keterangannya, Selasa (14/3/2017).

Tak hanya itu, regulasi yang dikeluarkan kementerian terkait juga tidak bersahabat bagi investor atau IPP (independent power producer).

Andi mengatakan, pihaknya menghargai keluarnya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 12/2017 tentang pemanfaatan sumber energi terbarukan bagi penyediaan tenaga listrik. Di sana juga ditegaskan, kewajiban PLN membeli listrik dari EBT.

Namun semangat dari Permen ini, menurut Andi, hanya bagaimana PLN bisa membeli listrik semurah mungkin dari IPP. Permen ini tidak memberikan rangsangan yang cukup bagi IPP untuk berinvestasi.

“Semangat Permen hanya bagaimana membeli murah. Tapi tidak dipikirkan bagaimana produksinya menjadi lebih murah lagi, sehingga marginnya menarik bagi pengusaha,” tutur Andi.

Andi mengatakan, investasi EBT di kawasan timur Indonesia mesti dibuat semenarik mungkin, sebab biaya investasi di KTI sangat mahal.

Menurut dia, adanya keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), beratnya medan yang dilalui ditambah lagi cost of fund yang besar. Juga ditambah minimnya dukungan perbankan karena perbankan menilai risiko di kawasan timur Indonesia sangat tinggi.

“Sebab itu, investasi di kawasan timur Indonesia ini jangan disamakan dengan wilayah lain, apalagi disamakan dengan Timur Tengah yang buminya semuanya datar dan tanahnya gratis, bunga banknya cuma 3 persenan,” ucap Andi.

(Baca: Minat Investor Asing Bangun Pembangkit Listrik EBT di Gorontalo Terkendala Regulasi )

Sebelumnya, pemerintah mengatakan akan menekan tarif listrik EBT semurah mungkin. Dalam Permen ESDM nomor 12/2017 disebutkan tarif EBT sebesar 85 persen dari biaya pokok penyediaan (BPP) daerah tempat pembangkit listrik EBT dibangun.

Menteri ESDM Ignasius Jonan sebelumnya mengatakan, pihaknya berpatokan pada tarif listrik pembangkit listrik EBT di Arab Saudi yang bisa mencapai 2,99 dollar Amerika Serikat (AS) sen per kwh.

Pemerintah Arab Saudi kemudian memberikan sejumlah insentif bagi pengembangan listrik EBT, di antaranya pemberian lahan gratis dan insentif pajak.

Jonan mengatakan, pemerintah bisa memberikan lahan secara gratis seperti di Arab Saudi asalkan ada pelaku industri yang bisa memberikan tarif listrik 1,99 dollar AS per kwh. Faktanya, belum ada satu pun investor yang mengajukan tarif EBT seperti di Arab Saudi itu.

“Ini menunjukan bahwa tawaran pemerintah belum menarik. Pak Menteri harus cari formula lain. IPP yang paham kebutuhannya apa,” tutur Andi.

Andi mengatakan, kebutuhan listrik di kawasan timur Indonesia sangat tinggi, utamanya dunia usaha. Meningkatnya kebutuhan listrik tersebut sebagai akibat dari keseriusan pemerintah pusat membuka isolasi daerah-daerah tertutup seperti di Papua, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Isolasi terbuka, ekonominya bergerak. Listriknya yang masalah. Kita kurang disini,” sebut Andi.

Andi menambahkan, rendahnya insentif ini akan membuat target pemerintah untuk mencapai bauran energi 23 persen pada tahun 2025 menjadi meleset lagi.

“Apalagi  kinerja sektor EBT bergerak negatif. Padahal, porsi EBT di negara-negara lain meningkat tajam,” pungkas Andi.

(Baca: Pengamat: Kok Semua Program EBT Harus Didanai Masyarakat? )

lol

Abu Dhabi detik– Negara ini salah satu penghasil minyak terbesar dunia. Produksi minyaknya mencapai 3 juta barel per hari. Sementata konsumsinya hanya 4-5% dari produksi tersebut, banyak yang diekspor.

Meski kaya minyak, namun Uni Emirat Arab (UEA) tidak mau menghamburkan minyaknya.

Demikian cerita dari Duta Besar RI Untuk UEA Husin Bagis di Abu Dhabi, saat ditemui di kantornya, Minggu (15/1/2017).

Husin bercerita soal perkembangan energi terbarukan di negara kaya minyak ini. Karena Menteri ESDM, Ignasius Jonan, pernah bercerita soal murahnya listrik energi terbarukan di negara ini, hanya 2,99 sen per kwh.

Di UEA, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bisa memproduksi listrik dengan harga hanya US$ 2,99 sen/kWh alias Rp 390/kWh. Lebih murah dari Indonesia, Feed in Tariff untuk PLTS yang mencapai US$ 15 sen/kWh atau sekitar Rp 2.000/kWh.

“UEA berusaha mengurangi ketergantungan listrik dari minyak. Bahkan negara ini mau mempunyai pembangkit listrik tenaga nuklir bekerjasama dengan Korea. Rencananya mulai beroperasi tahun depan,” kata Husin.

“Negara ini punya triliunan dolar dan zero corruption,” imbuhnya.

Usaha UEA untuk mengembangkan energi terbarukan sangat besar. Negara ini punya kota percontohan pengembangan energi terbarukan bernama Masdar City, yang dikembangkan oleh Masdar, perusahaan asal UEA.

Negara ini mengembangkan teknologi energi terbarukan dengan menggandeng ahli-ahli asing. “Namun nantinya orang asing ini akan berkurang dan digantikan oleh orang lokal, karena pemerintahnya punya program itu lewat Kementerian Tenaga Kerja dan Emitarisasi,” ungkap Husin.

Lewat teknologi inilah, lanjut Dubes, bisa membuat ongkos produksi listrik energi terbarukan tersebut murah.

Pemerintah Indonesia ingin mempelajari proses pengembangan energi terbarukan dari UEA. Jonan pada hari ini, Senin (16/1/2017), mengunjungi Abu Dhabi untuk melihat perkembangan energi terbarukan di negeri kaya minyak tersebut.

Bersama rombongan, ditencanakan akan hadir Direktur Utama 3 BUMN. Yaitu Dirut PT Pertamina (Persero), Dirut PT PLN (Persero), san Dirut PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). (dnl/ang)

buttrock

Jakarta detik -Managing Board Siemens AG, Roland Busch didampingi President Direktur & CEO PT Siemens Indonesia Josef Winter mengunjungi Kementerian Perindustrian. Perusahaan yang bergerak di bidang industri, energi, kesehatan ini menawarkan suatu sistem untuk membangun pembangkit listrik di daerah terpencil.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronikal Kemenperin, Gusti Putu Suryawirawan yang ikut dalam pertemuan mengatakan, Siemens memiliki sistem untuk membangun pembangkit listrik. Nanti kalau sudah jadi membangun, maka akan ada BUMN yang mensupplai komponen pembangkit listrik tersebut.

“Mereka sudah mengembangkan sistem untuk di daerah-daerah remote area (terpencil) untuk pembangkit listrik. Dia berharap dengan adanya sistem itu, nanti ada bagian-bagian yang bisa dibikin disini, diproduksi lokal,” ujar Putu, di Kemenperin, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (8/9/2016).

Perusahaan asal Jerman itu tertarik dengan proyek pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW di Indonesia. Nantinya, Siemens akan menemui PLN untuk mendiskusikan hal tersebut.

“Terkait dengan proyek 35.00 MW tapi mereka menawarkan yang agak unik. Di tempat-tempat yang agak remote. Remote itu nggak ada Sutet, jadi di tempat yang nggak ada sutetnya itu mereka membuat satu sistem yang stand alone. Apakah pakai gas, atau campuran gas dan solar, tapi suatu sistem yang bisa dikembangkan nantinya oleh industri-industri kita. Jadi bisa melibatkan Barata, bisa melibatkan PT PAL, pokoknya BUMN-BUMN itu bisa dilibatkan untuk mengembangkan sistem itu,” jelas Putu.

Bila Siemens jadi membangun, maka akan menggandeng BUMN seperti Barata dan lainnya supaya bisa ikut membangun berapa komponen pelengkapnya. Misalnya komponen pembangkit listrik adalah boiler dan turbin, nanti akan dilihat komponen apa yang bisa dibuat perusahaan lokal, sehingga nanti akan mensupplai pembangkit listrik tersebut.

Belum diputuskan pembangunan proyek ini di daerah mana. Akan tetapi, pemerintah ingin industri dalam negeri maju dalam pembangunan pembangkit listrik dengan memakai konten lokal misalnya hingga 75%.

Selain itu, Siemens juga ingin membangun teknologi lokomotif untuk LRT. Dengan begitu, diharapkan juga bisa bekerja sama dengan PT INKA sebagai industri pembuat kereta dalam negeri.

“Satu lagi dia juga punya teknologi untuk lokomotif, untuk LRT untuk kereta yang medium speed. Itu juga ditawarkan. Kalau bisa dibuatkan standarnya, mereka juga berharap di sini ada partner seperti PT INKA memproduksi lokomotif,” kata Putu.

(drk/drk)

ets-small

 

JAKARTA, May 31 (Xinhua) — Indonesia and Norway on Tuesday agreed to bring the cooperation in renewable energy, environment and fishery to a higher level, the Indonesian foreign minister said here.

Indonesian President Joko Widodo met with Foreign Minister of Norway Borge Brende at the State Palace on Tuesday.

“Norwegian foreign minister stated that nearly all of energy used in Norway resulted from hydro power,” Minister Retno said after the meeting.

Indonesia is attempting to diversify sources of its energy to meet rising energy demand as the country’s oil production has been dwindling.

On environment sector, President Widodo stressed the need of speeding up the two countries’ cooperation on reducing carbon emission.

Indonesia and Norway have cooperated on reducing emission from deforestation and degradation or REDD plus since 2010.

Recently, Indonesia has taken measures to restore millions of hectares of peat land across the country, including establishment of a moratorium on opening of new palm oil plantations on peat land, in part to prevent forest fires from happening.

new-chin-year-dragon-02

yahoo finance: Origin Energy is continuing its shift toward renewables by agreeing to buy the entire output of what should become Australia’s most productive solar farm.

Origin says it has agreed to purchase the output from the proposed 300-hectare Clare Solar Farm in northern Queensland, which is expected to start operation in 2017.

The farm is owned by Spain’s Fotowatio Renewable Ventures, which also owns the new Moree Solar Farm in northern NSW. Origin in March committed to purchasing its output.

“The cost of solar is falling rapidly compared to other renewable resources … Now is the ideal time to invest in solar and we have been actively looking for opportunities to diversify and add more renewable energy to our portfolio,” Origin Energy Markets chief executive Frank Calabria said in a statement.

new-chin-year-dragon-02

Tingginya angka konsumsi listrik di pusat belanja atau mal Jakarta membuat program penghematan Sumber Daya Alam (SDA) terganggu. Untuk itu, pemerintah mengimbau pengusaha mal maupun properti untuk mulai menggunakan pembangkit listrik tenaga surya sebagai solusi alternatif.

Wakil Presiden Direktur Agung Podomoro Land, Handaka Santosa, menyambut baik rencana tersebut. Pasalnya, pengeluaran yang dikeluarkan perusahaan untuk kebutuhan listrik tergolong cukup besar.

“Kalau mau efisien, ya kita setuju apapun kebijakannya. Memang itu kalau pakai listrik konsumsi dan biaya besar. Kita saja bayar Rp4-5 miliar per bulan,” ujarnya di Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut, Handaka mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengalihan sumber daya listrik. Mal milik perseroan saat ini menggunakan pembangkit listrik berbahan baku gas. “Mal kita saat ini pakai gas generator,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan satu hal yang perlu diperhatikan pemerintah bila kebijakan ini diterapkan yakni pemerintah harus menjamin pasokan bahan baku. “Kalau tidak ada suplai kan repot. Jadi, siapkan suplainya,” tutur Handaka.

http://bisnis.vivanews.com/news/read/233123-pebisnis-mal-sambut-positif-energi-alternatif

Sumber : VIVANEWS.COM

air m1num @ ADRO

Bisnis.com, JAKARTA — PT Adaro Energy Tbk. melalui anak usahanya, yakni PT Adaro Tirta Mandiri, kian melebarkan kepaknya di sektor air minum. Sejumlah proyek air minum kini diincar oleh perusahaan tersebut.

Perusahaan menargetkan dapat mengolah air minum hingga mencapai target 4.000 liter per detik dalam 5 tahun ke depan.

Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) Garibaldi Thohir menuturkan bahwa perusahaan berkomitmen untuk ikut serta dalam Proyek Strategis Nasional di bidang air minum di seluruh Indonesia hingga diharapkan dapat mencapai target tersebut.

Saat ini terdapat dua proyek bangun, guna, dan serah (buildoperate & transfer/BOT) yang sudah dikelola anak usahanya, yakni PT Adaro Tirta Mandiri, sejak 2016 yakni pengolahan air dengan PDAM Gresik dengan kapasitas 400 liter/detik dan dengan PDAM Intan Banjar di Banjarbaru dengan kapasitas 500 liter/detik.

“Tender yang tengah kami ikuti SPAM Lampung. Kami bentuk konsorsium dengan Adhi Karya dan Suez dengan nilai investasi sekitar Rp700 miliar hingga Rp800 miliar yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional dan juga beberapa proyek-proyek dengan PDAM lainnya di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan,” tutur Garibaldi kepada Bisnis melalui WhatsApp, Selasa (29/8/2017).

Head of Corporate Communication ADRO Febriati Nadira menuturkan, saat ini PT Adaro Tirta Mandiri bersama mitra dalam konsorsium yaitu PT Adhi Karya Tbk. dan Suez Environment tengah menyiapkan proposal untuk mengikuti lelang proyek SPAM Bandar Lampung.

“Mereka [konsorsium] merupakan mitra-mitra pilihan terbaik kami. Kami tengah siapkan dokumen untuk lelang,” tutrnya.

Sebanyak lima konsorsium badan usaha yang lulus tahapan prakualifikasi SPAM Bandar Lampung tengah menyiapkan proposal untuk mengikuti lelang.

Kelima konsorsium tersebut adalah konsorsium PT Bangun Cipta Kontraktor-PT Bangun Tjipta Sarana KSO; konsorsium PT Adaro Tirta Mandiri-PT Adhi Karya Tbk.-Suez; Konsorsium Salcon MMCB; Konsorsium PT PP Tbk.-Wabag; dan konsorsium Maynilad Water Services Inc.-PT Wijaya Karya Tbk.-Hydrochem.

Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur Emma Sri Martini mengatakan, sebelumnya ada 12 konsorsium yang mengikuti tahap prakualifikasi.

“Ada lima konsorsium yang lulus prakualifikasi dari 12 konsorsium. Bila semuanya lancar, insyaallah akhir tahun bisa ditetapkan pemenangnya,” ujarnya, Senin (28/8/2017).

LABA @adro … 12 Maret 201empat_290817

dollar small

Jakarta detik- PT Adaro Energy Tbk (ADRO) berhasil meraup laba periode berjalan US$ 299 juta atau setara dengan Rp 3,97 triliun (kurs Rp 13.300/US$) pada semester I-2017. Realisasi tersebut naik 76% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Catatan positif tersebut, turut disumbang perbaikan penjualan batu bara yang merupakan lini bisnis perusahaan. Harga jual batu bara rata-rata naik 42% dari periode yang sama tahun lalu akibat membaiknya fundamental pasar batu bara dengan dukungan penguatan harga global. Ini yang menyebabkan kenaikan harga jual rata-rata bagi perusahaan.

Hal ini menghasilkan kenaikan pendapatan usaha sebesar 32% y-o-y menjadi US$ 1.549 juta. Divisi pertambangan dan perdagangan batu bara ADRO menyumbangkan 93% dari total pendapatan usaha perusahaan.

Pada semester I-2017, produksi batu bara ADRO mencapai 25,13 Mt sementara penjualan batu baranya mencapai 25,27 Mt.

Kenaikan pendapatan tersebut berhasil menutup kenaikan biaya produksi.

Beban pokok pendapatan naik 16% (y-o-y) menjadi US$ 1,016 juta yang terutama disebabkan oleh kenaikan biaya penambangan karena meningkatnya harga bahan bakar minyak dan pembayaran royalti akibat kenaikan harga jual rata-rata.

Saat ini, ADRO telah melakukan lindung nilai alias hedginguntuk sekitar 50% dari kebutuhan bahan bakar tahun 2017 pada harga yang lebih rendah daripada anggaran demi memitigasi risiko yang terkait dengan fluktuasi harga minyak.

“Di tengah ketidakpastian pasar batubara, kami tetap yakin dengan fundamental jangka panjang dari pasar ini, yang didukung oleh perkembangan di Asia. Kami terus berfokus pada keunggulan operasional dan efisiensi biaya di ketiga pilar pertumbuhan perusahaan dalam rangka menyeimbangkan karakteristik batubara yang siklikal,” kata Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy Garibaldi Thohir dalam keterangan tertulis, Senin (28/8/2017).(dna/hns)

buttrock

ID: Lonjakan kinerja keuangan sepanjang 2016 mendorong sejumlah analis untuk merevisi naik target kinerja keuangan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) pada 2017. Penguatan kinerja juga bakal didukung oleh tren membaiknya harga jual batubara sepanjang tahun ini.

 

Adaro Energy membukukan kenaikan laba bersih menjadi US$ 335 juta tahun lalu, dibandingkan 2015 yang senilai US$ 152 juta. Lonjakan laba tersebut didukung oleh penurunan beban pokok penjualan dan beban keuangan lainnya.

 

Sedangkan pendapatan perseroan justru turun dari US$ 2,68 miliar menjadi US$ 2,52 miliar. “Perolehan laba bersih senilai US$ 335 juta tersebut jauh melampaui estimasi yang kami tetapkan semula. Angka tersebut setara dengan 145% dari perkiraan kami semula mencapai US$ 230 juta. Sedangkan realisasi volume penjualan sebanyak 54,1 juta ton juga di atas perkiraan kami semula,” tulis analis Ciptadana Securities Kurniawan Sudjatmiko dalam risetnya, baru-baru ini.

 

Kurniawan menegaskan bahwa terlampauinya target laba tersebut didukung atas keberhasilan perseroan dalam menurunkan beban pokok penjualan yang lebih tinggi, dibandingkan penurunan pendapatan. Keberhasilan dalam penerapan efisiensi biaya pertambangan, penurunan biaya royalti, dan pengurangan biaya pengapalan dan penanganan pelabuhan, turut serta memperkuat keuntungan perseroan tahun lalu.

 

Adaro juga mampu menekan biaya pendanaan setelah membayar kembali utang bank senilai US$ 144 juta pada 2016. Aksi ini berdampak terhadap penurunan utang bersih tahun lalu sebesar 57% menjadi US$ 373 juta, bandingkan dengan posisi akhir 2015 mencapai US$ 865 juta.

 

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php

buttrock

Jakarta, CNN Indonesia — PT Adaro Energy Tbk mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun lalu. Perusahaan batu bara ini mengantongi laba bersih senilai US$334,62 juta di 2016, meroket 119,5 persen dari US$152 juta pada tahun sebelumnya.

Sebenarnya, perusahaan membukukan pelemahan pendapatan usaha menjadi sebesar US$2,52miliar, atau turun 6 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pasalnya, harga jual rata-rata yang 8 persen lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, volume penjualan mengalami sedikit kenaikan menjadi 54,1 juta ton pada tahun 2016.

Produksi batubara sepanjang 2016, termasuk 0,2 juta ton dari Adaro MetCoal (AMC) mencapai 52,6 juta ton. Jumlah ini masih dalam kisaran panduan produksi perusahaan yang ditetapkan pada 52-54 juta ton untuk tahun 2016.

Sementara, beban pokok pendapatan mampu turun 14 persen menjadi US$1,839 miliar akibat penurunan nisbah kupas, upaya-upaya efisiensi yang berkesinambungan, dan harga bahan bakar yang lebih rendah daripada perkiraan.

Nisbah kupas untuk tahun ini mencapai 4,45x, atau sedikit lebih rendah daripada panduan perusahaan yang ditetapkan pada 4,71x, yang dikarenakan oleh curah hujan di wilayah operasi yang lebih tinggi daripada rata-rata.

Yang menarik, laba bersih perusahaan sebenarnya lebih terkerek oleh keuntungan akuisisi Indo MetCoal atau yang kemudian disebut Adaro MetCoal (AMC) mencapai US$196,83 juta.

Hal itu membuat Adaro Energy mampu mencetak pendapatan lain-lain bersih sebesar US$53,51 juta pada 2016, berbalik dari beban lain-lain bersih senilai minus US$78,4 juta di 2015.

Untuk memitigasi risiko yang terkait dengan fluktuasi harga minyak di tahun yang akan datang, Adaro telah melakukan lindung nilai terhadap sekitar 10 persen kebutuhan bahan bakarnya di tahun 2017 pada harga yang lebih rendah daripada anggaran.

Di sisi lain, karena penurunan pendapatan usaha, royalti kepada Pemerintah Republik Indonesia yang meliputi 14 persen dari total beban pokok pendapatan turun 6 persen menjadi US$259 juta.

Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan, kesuksesan untuk mendapatkan penyelesaian keuangan atau financing close oleh kedua proyek pembangkit listrik serta akuisisi menggarisbawahi pencapaian perusahaan pada tahun 2016.

Kedua pembangkit antara lain PT Bhimasena Power Indonesia yang berkapasitas 2×1000 megawatt dan pembangkit PT Tanjung Power Indonesia yang berkapasitas 2×100 megawatt. Sementara akuisisi terkait deposit batubara kokas di Kalimantan Tengah dan Timur.

“Selain itu, penerbitan saham baru PT Adaro Indonesia kepada EGAT International Company Limited menciptakan kemitraan strategis yang akan menciptakan nilai jangka panjang,” ujarnya, Selasa (7/3).

Semua perkembangan ini semakin memperkuat landasan untuk pertumbuhan yang berkelanjutan dari sektor batubara dan energi Indonesia serta memberikan posisi saing dalam jangka waktu yang lebih panjang.

“Kami percaya bahwa Adaro berada pada waktu dan tempat yang tepat untuk memanfaatkan momentum ini,” jelas Garibaldi. (gir)

 

Liputan6.com, Jakarta – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatatkan kinerja cukup baik pada 2016. Perseroan mampu membukukan kenaikan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar 119,50 persen.

Laba itu naik dari US$ 152,44 juta pada 2015 menjadi US$ 334,62 juta. Laba tahun berjalan tumbuh 126 persen menjadi US$ 341 juta pada 2016. Meski demikian, pendapatan usaha perseroan turun tipis 6 persen menjadi US$ 2,52 miliar pada 2016.

Penurunan pendapatan lantaran harga jual rata-rata yang 8 persen lebih rendah dari pada periode sama tahun sebelumnya. Namun, volume penjualan naik tipis menjadi 54,1 juta ton pada 2016. Produksi perseroan mencapai 52,6 Mt. Jumlah itu masih dalam kisaran panduan perseroan 52-54 Mt.

Beban pokok pendapatan turun 14 persen menjadi US$ 1,83 miliar akibat penurunan nisbah kupas. Laba kotor naik 26 persen menjadi US$ 685 juta. Sedangkan laba usaha naik 77 persen dari US$ 332 juta menjadi US$ 588 juta pada 2016.

Total aset perseroan naik 9 persen menjadi US$ 6,52 miliar. Aset lancar naik 46 persen menjadi US$ 1,59 miliar terutama karena saldo kas dan piutang lebih tinggi. Sedangkan aset non lancar naik 1 persen menjadi US$ 4,93 miliar.

Ada pun total kewajiban naik 5 persen menjadi US$ 2,73 miliar pada 31 Desember. hal tersebut karena ada kenaikan kewajiban lancar dan penurunan kewajiban non lancar. Kewajiban lancar naik 42 persen menjadi US$ 645 juta. Sedangkan kewajiban non lancar turun 3 persen menjadi US$ 2,09 miliar terutama karena penurunan pinjaman bank jangka panjang.

“Kami cetak kinerja keuangan solid di tengah kondisi pasar batu bara yang bergejolak,” ujar Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir, Selasa (7/3/2017).

Ia menambahkan, pihaknya telah menyelesaikan keuangan atau financing close oleh kedua proyek yaitu pembangkit PT Bhimasena Power Indonesia berkapasitas 2×1.000 MW dan pembangkit PT Tanjung Power Indonesia berkapasitas 2×100 MW. Selain itu, akuisisi mayoritas terhadap deposit batu bara kokas di Kalimantan Tengah dan Timur.

“Selain itu, penerbitan saham baru PT Adaro Indonesia kepada EGAT International Company limited menciptakan kemitraan strategis yang akan menciptakan nilai jangka panjang. Semua perkembangan ini semakin perkuat landasan pertumbuhan berkelanjutan dari sektor batu bara dan energi Indonesia,” jelas dia.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa 7 Maret 2017, saham PT Adaro Energy Tbk naik 0,59 persen ke level Rp 1.695 per saham. Total frekuensi 2.853 kali dengan nilai transaksi Rp 46,6 miliar.

lol

INILAHCOM, Jakarta-PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatatkan laba bersih naik 23% menjadi AU$281 juta pada kuartal III-2016.

Presiden Direktur dan CEO Adaro Energy Bapak Garibaldi Thohir mengatakan selain laba, pendapatan usaha mencapai AU$1.778 juta, turun 16% dari periode yang sama tahun lalu, karena harga jual rata-rata menurun 14% dan volume penjualan sedikit menurun hingga mencapai 40 Mt.

Produksi batubara tercatat 39,3 Mt pada Sembilan bulan terakhir posisi yang baik untuk mencapai target produksi yang ditetapkan sebesar 52 sampai 54 Mt untuk tahun 2016.

Pemulihan yang terjadi di pasar batubara adalah hal yang menggembirakan, di mana reaksi suplai masih berlanjut dan permintaan bergerak menyusul suplai untuk mendukung pergerakan pasar menuju penyeimbangan kembali.

“Kami meyakini bahwa Adaro berada di waktu dan tempat yang tepat untuk menangkap momentum ini karena perusahaan telah meningkatkan basis sumber daya dan portofolio produknya. Kami juga optimis dengan prospek batubara di jangka panjang, terutama di Indonesia dan wilayah Asia Tenggara lainnya. Kinerja perusahaan yang positif mencerminkan ketahanan model bisnis dan upaya efisiensi yang berkelanjutan, serta kesempurnaan operasionalnya,” ujar dia di Jakarta, Selasa (1/11/2016).

Menurut dia, Adaro melanjutkan upaya-upaya disiplin dan efisiensi biaya pada operasinya, sehingga pada periode ini, beban pokok pendapatan turun 22% dari periode yang sama tahun lalu. Perusahaan juga telah melakukan lindung nilai terhadap sekitar 30% kebutuhan bahan bakarnya untuk sisa tahun ini pada harga yang lebih rendah daripada harga yang dianggarkan untuk tahun 2016.

Sementara, kata dia, EBITDA operasional tetap kuat pada angka US$625 juta, atau naik 10% dibandingkan tahun lalu, sehingga menunjukkan ketahanan kinerja laba dari operasi. Marjin EBITDA operasional

tercatat sebesar 35,2%, yang tetap merupakan salah satu yang tertinggi di antara para produsen batubara Indonesia. Adaro berada di posisi yang baik untuk mencapai target EBITDA operasional sebesar US$450 juta sampai US$700 juta.

“Total aset turun 1% menjadi US$6.134 juta. Aset lancar naik 14% menjadi US$1.422 juta, terutama akibat kenaikan saldo kas. Aset non lancar turun 5% menjadi US$4,712 juta.

Perusahaan menerapkan strategi untuk terus menjaga kas dan mempertahankan arus kas yang solid,” jelas dia. [jin]

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2335692/kuartal-iii-2016-laba-adaro-tumbuh-23-persen#sthash.8Hb3V1lr.dpuf

ets-small

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatatkan kenaikan laba bersih kuartal III-2016. Laba bersih Adaro tercatat naik USD29,09 juta atau sekira 16,16%.

Melansir keterbukaan informasi yang diterbitkan perseroan di Jakarta, Selasa (1/11/2016), laba bersih Adaro kuartal ini adalah sebesar USD209,10 juta atau Rp2,71 triliun dari sebelumnya USD180,01 juta atau Rp2,34 triliun jika mengacu kurs Rp13.000 per USD.

Kenaikan laba bersih ini, tidak lepas dari untung selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan sebesar USD3.490 adapun pada periode sebelumnya, Adro tercatat mengalami kerugian akibat selisih kurs ini sebesar USD10.004.

Pasalnya, pendapatan usaha perseroan mengalami penurunan menjadi USD1,77 juta dari sebelumnya sebesar USD2,11 juta. Meski demikian, Adaro berhasil mendapatkan pendapatan tambahan dari lini bisnis lainnya sebesar USD24.752 dari sebelumnya rugi USD10.059.

Perseroan juga mencatatkan adanya kenaikan utang meski tipis menjadi USD2.605.709 dari sebelumnya USD2.605.586. Adapun utang tersebut, terdiri dari utang jangka pendek sebesar USD579,56 ribu dan utang jangka panjang sebesar USD2,02 juta.

http://economy.okezone.com/read/2016/11/01/278/1530016/untung-kurs-bawa-laba-bersih-adaro-naik-16
Sumber : OKEZONE.COM

lol

 

Bisnis.com, JAKARTA–Emiten tambang batu bara PT Adaro Energy Tbk. mencatatkan laba bersih US$59,68 juta pada kuartal I/2016, naik tipis 1,05% dari periode yang sama tahun lalu US$59,06 juta.

Dalam laporan keuangan perseroan yang dirilis akhir pekan ini, Jumat (29/4/2016), disebutkan pendapatan usaha emiten bersandi ADRO itu terkoreksi 17,4% menjadi US$586,4 juta dari tahun sebelumnya US$710,94 juta.

Beban pokok pendapatan berhasil ditekan 20,7% menjadi US$432,36 juta dari US$545,3 juta. Sehingga, laba kotor hanya terkoreksi 6,6% menjadi US$154,07 juta dari US$165,6 juta.

Presiden Direktur dan CEO Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan pasar batu bara masih tetap sulit selama tiga bulan pertama tahun ini. Sebab, pasar masih dilanda kelebihan suplai dan pertumbuhan permintaan melambat.

“Kinerja Adaro yang solid mencerminkan ketahanan model bisnisnya yang terintegrasi secara vertikal. Baik EBITDA operasional maupun laba inti tetap kuat karena bisnis inti tetap menghasilkan kinerja yang baik,” katanya.

Adaro mencatat harga jual rata-rata yang 17% lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu serta volume penjualan yang stabil, yaitu sebesar 13,5 juta ton, karena pasar batu bara masih sulit.

Akibatnya, pendapatan usaha turun 18% dari tahun ke tahun (y-o-y) menjadi US$586 juta. Kegiatan operasional tetap berjalan dengan baik dan perusahaan berada pada posisi yang baik untuk mencapai target produksi tahun 2016 yang telah ditetapkan pada rentang 52-54 ton.

butterfly

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten tambang PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) membagikan dividen tahun buku 2015 senilai US$75,49 juta setara dengan Rp996,76 miliar (kurs Rp13.204 per dolar AS).

Direktur Utama PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) Garibaldi Thohir menuturkan perseroan membagikan dividen tunai senilai US$75,49 juta setara dengan Rp996,76 miliar. Adaro membagikan dividen sebesar 49% dari laba bersih US$152,44 juta.

Pemegang saham dalam RUPS Tahunan memutuskan cadangan dialokasikan US$1,52 juta dan US$75,43 juta sebagai saldo laba. Perseroan telah membagikan dividen interim US$35,18 juta dan US$40,30 juta sebagai dividen final.

“Tahun 2015 merupakan tahun yang sulit. Kondisi kelebihan pasokan dibarengi dengan pertumbuhan permintaan yang lemah menyebabkan harga batu bara terus jatuh. Kami selalu berupaya keras untuk dapat memberikan tingkat pengembalian yang baik kepada pemegang saham dengan membayar dividen tahunan,” kata dia, Senin (18/4/2016).

Tidak hanya itu, dalam RUPS Tahunan yang digelar Senin (18/4/2016), pemegang saham juga menyetujui untuk memberhentikan dan mengangkat kembali direksi perseroan hingga 2021.

Berikut susunan direksi Adaro Energy:

Direktur Utama: Garibaldi Thohir
Wakil Direktur Utama: Christian Ariano Rachmat
Direktur: David Tendian
Direktur: Chia Ah Hoo
Direktur: M. Syah Indra Aman
Direktur: Julius Aslan
Direktur: Siswanto Prawiroatmodjo

Emoticons0051

JAKARTA. Kinerja emiten pertambangan, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sepanjang tahun 2015 melambat seiring jebloknya harga batubara. Laba bersih perseroan turun 14% year on year (yoy).

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis ADRO, Senin (14/3), perusahaan pelat merah ini hanya berhasil mencetak laba bersih US$ 152,4 juta, atau turun 14% dari periode tahun 2014 yang mencapai US$ 177,8 juta. Penurunan laba seiring menyusutnya pendapatan sebesar 19,2% dari US$ 3,32 miliar menjadi US$ 2,68 miliar.

Kerjasama patungan perseroan juga menorehkan rugi bersih sebesar US$ 3 juta pada tahun lalu. Tak hanya itu, pendapatan keuangan ADRO juga turun dari semula US$ 25,2 juta menjadi US$ 11,8 juta.

Hanya saja, perseroan masih mampu menekan beban keuangan dari US$ 189,7 juta menjadi US$ 60,7 juta pada 2015.

Per akhir tahun 2015, total aset ADRO juga turun 7,8% jadi US$ 5,9 miliar. Lalu, liabilitas turun 17,4% yoy menjadi US$ 2,6 miliar. Ini setelah adanya penurunan utang bank jangka panjang setelah dikurangi bagian yang akan jatuh tempo setahun dari US$ 1,61 miliar menjadi US$ 1,38 miliar.

Sementara ekuitas ADRO naik 4,6% dari US$ 3,2 miliar jadi US$ 3,35 miliar. Adapun kas dan setara kas per akhir tahun lalu tercatat sebesar US$ 702,4 miliar.

spiral

JAKARTA kontan. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) akan membagikan dividen interim tahun buku 2015 sebesar US$35,18 juta. Angka ini setara dengan Rp 481,96 miliar bagi 31,98 miliar saham ADRO.

Dalam keterbukaan infoemasi, Senin (21/12), direksi Adaro Energy menyatakan keputusan pembagian dividen interim disetujui dalam rapat direksi dan dewan komisaris tanggal 17 Desember 2015 lalu.  “Setiap pemegang saham mendapatkan US$ 0,00110 per saham yang berasal dari laba bersih perseroan dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2015,” tulis manajemen ADRO dalam pengumuman yang sama.

Jadwal pembagian dividen interim tanggal 22 Desember 2015. Sementara tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak atas dividen tunai interim tersebut pada 4 Januari 2016. Dividen akan dibagikan pada 15 Januari 2016 dengan kurs konversi yang digunakan perusahaan ini adalah kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal 4 Januari 2016.

Bisnis.com, JAKARTA–PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) membagikan dividen interim tahun buku 2015 senilai US$35,18 juta setara dengan Rp481,96 miliar bagi 31,98 miliar saham.

Direksi Adaro Energy menyatakan keputusan pembagian dividen interim disetujui dalam rapat direksi dan dewan komisaris pada 17 Desember 2015.

“Setiap pemegang saham mendapatkan US$0,00110 per saham yang berasal dari laba bersih perseroan dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2015,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia, Senin (21/12/2015).

Jadwal pembagian dividen interim pada 22 Desember 2015. Tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak atas dividen tunai interim pada 4 Januari 2016.

Adapun, kurs konversi menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada 4 Januari 2016. Dividen akan dibagikan pada 15 Januari 2016.

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Jakarta  detik-

Harga jual batu bara di pasar internasional masih lesu. Hal ini mempengaruhi kinerja perusahaan-perusahaan batu bara dalam negeri.

Salah satunya adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Perusahaan tambang swasta itu mencatat penurunan kinerja di kuartal III-2015.

Meski kinerja melambat, Direktur Adaro Syah Indra Aman mengatakan Adaro tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pegawainya.

“Nggak ada PHK sama sekali,” katanya di acara Investor Summit, Gedung BEI SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (10/11/2015).

Ia pun optimistis ke depan kinerja perusahaan akan membaik. Penurunan harga jual batu bara yang terjadi saat ini karena suplai yang berlebih.

“Ke depan optimis, permintaan terhadap batu bara terus naik. Soal penurunan harga itu kebanyakan karena over suplai. Kalau misalnya kita bisa secara disiplin melihat produksi batu bara tanggung jawabnya berapa, saya kira bisa melakukan efisiensi di segala bidang. Kita secara agresif menurunkan segala biaya, mengajak para kontraktor menurunkan biaya, menunda capex,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Adaro Julius Aslan mengatakan, perusahaan akan melakukan efisiensi di segala bidang untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Namun PHK menjadi opsi terakhir.

“Sampai hari ini belum ada rencana mengurangi jumlah tenaga kerja karena yang kita lakukan adalah cost efisiensi di segala bidang misalnya travel, training kita potong. Jadi PHK itu opsi yang paling akhir, sampai akhir ini kita belum ada rencana,” ujarnya.

(ang/feb)

doraemon

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) membukukan laba bersih pada Quarter 3 2015 sebesar 2,64 triliun. Turun bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2014 sebesar  2,69 triliun. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 82.45 per lembar.

Berikut Laporan keuangan ADRO Quarter 3 2015 :

Account Quarter 3 2015
Last Price          610
Share Out 32,0 B
Market Cap. 19.511,4 B
Balance Sheet
Cash               11.512,8 B
Total Asset 91.096,8 B
S.T Borrowing 2.641,5 B
L.T Borrowing 22.311,6 B
Total Equity 49.824,7 B
Income Statement
Revenue           30.957,9 B
Gross Profit 6.401,5 B
Operating Profit 4.696,2 B
Net. Profit        2.638,5 B
EBITDA         8.136,7 B
Interest Exp. 632,9 B
Ratio
EPS                 82,45
PER                 7,40x
BVPS                 1.557,71
PBV                 0,39x
ROA                 2,90%
ROE                 5,30%
EV/EBITDA 4,05
Debt/Equity 0,50
Debt/TotalCap 0,33
Debt/EBITDA 3,07
EBITDA/IntExp. 12,86

Sumber : IPS RESEARCH

doraemon

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir mengatakan perusahaan mampu menjaga tingkat likuiditas meskipun mengalami penurunan profitabilitas. Pendapatan yang turun ini disebabkan penurunan volume penjualan dan harga jual rata-rata.

“Saat ini profitabilitas Adaro sedang mengalami tekanan yang cukup kuat karena harga batu bara yang terus menurun,” kata Thohir dalam keterangan laporan keuangan konsolidasi unauditedperiode sembilan bulan sepanjang 2015, Sabtu, 31 Oktober 2015.

Ia menjelaskan, pendapatan perusahaan turun sebesar 16 persen menjadi US$ 112 juta. Penurunan volume penjualan juga terjadi sebesar 3 persen menjadi 41,2 juta ton dan penurunan harga jual rata-rata sebesar 14 persen.

Akan tetapi, kata Thohir, dalam kondisi ini, bisnis model Adaro telah teruji dan pencapaian menunjukkan ketangguhan model bisnisnya. Ia optimistis dapat mencapai target EBITDA tahun 2015 sebesar US$ 550-800 juta. “Kini kami terus menjalankan bisnis dan menerapkan strategi untuk memperkuat keberlanjutan bisnis inti Adaro.”

Menurut Thohir, ada tiga motor penggerak pertumbuhan perusahaan yang meliputi pertambangan batu bara, jasa pertambangan dan logistik, serta ketenagalistrikan. “Kami meningkatkan efisiensi biaya di sepanjang rantai pasokan batu bara, memperkuat unit logistik, bergerak lebih jauh ke hilir memasuki bisnis ketenagalistrikan, dan tetap membayar dividen tunai tahunan,” ujarnya.

Dalam kinerja keuangan, struktur permodalan tetap kokoh dengan rasio utang bersih sebesar 1,18 kali dan rasio utang bersih terhadap modal sebesar 0,26 kali pada September. “Kami menjaga likuiditas yang kuat dengan saldo kas US$ 785 juta untuk mengantisipasi kondisi yang sedang turun,” tuturnya.

Selain itu, Adaro dapat menurunkan biaya kas batu bara sebesar 12 persen menjadi US$ 28,73 per ton pada periode ini. Penurunan ini, kata Thohir, disebabkan nisbah kupas, biaya penanganan dan pengangkutan batu bara, serta harga bahan bakar yang lebih rendah.

Pada sembilan bulan, pendapatan bersih Adaro turun sebesar 19 persen menjadi US$ 181 juta. Adapun laba inti yang tidak termasuk komponen akuntansi non-operasional turun 21 persen menjadi US$ 228 juta. Adaro menghasilkan arus kas bebas yang positif sebesar US$ 356 juta.

ARKHELAUS WISNU

dollar small

Jakarta -Perusahaan batu bara nasional, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mengalami penurunan kinerja di kuartal I-2105. Ini akibat rendahnya harga batu bara.

Sepanjang kuartal I-2105, atau Januari-Maret 2015, laba bersih Adaro turun 55% menjadi US$ 59 juta, dari periode yang sama tahun sebelumnya, US$ 132 juta.

Dalam keterangan Adaro yang dikutip, Sabtu (2/5/2015), pendapatan usaha bersih Adaro turun 16% menjadi US$ 711 juta, dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 845 juta.

“Kesulitan dan tantangan yang terjadi di pasar baru bara masih berlanjut. Pasar masih dilanda kelebihan pasokan dan juga mencatat pertumbuhan permintaan yang terendah dalam lima tahun terakhir. Ini mengakibatkan harga batu bara tetap rendah,” kata Presiden Direktur dan CEO Adaro Energy, Garibaldi Thohir.

Pria yang akrab disapa Boy Thohir ini mengatakan, pasar batu bara diperkirakan masih akan sulit sepanjang 2015 ini. Namun dia yakin, dalam jangka panjang, bisnis batu bara dan energu tetap kuat.

Di tengah harga batu bara yang rendah ini, Boy mengatakan, Adaro akan fokus menjaga modal, melakukan efisienai, dan mengurangi utang.

“Strategi yang diambil untuk mengembangkan bisnis non pertambangan batu bara telah membantu untuk bertahan dalam kondisi pasar batu bara yang masih lemah. Kondisi sulit ini semakin memotivasi kami untuk mengembangan bisnis non pertambangan batu bara, serta meningkatkan kontribusinya terhadap perusahaan,” papar Boy.

(dnl/dnl)

gifi

 

JAKARTA kontan. Melemahnya harga batubara pada tahun 2014 membuat kinerja PT Adaro Energy Tbk (ADRO) tertekan. Pada tahun 2014, pendapatan usaha ADRO hanya naik 1% year on year (yoy) menjadi US$ 3,3 miliar. Padahal volume penjualan masih naik sebesar 7% menjadi 57 juta ton. Sepanjang tahun lalu, harga jual rata-rata turun 5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pelemahan industri batubara ini membuat laba bersih ADRO merosot dalam sebesar 23,59% yoy menjadi US$ 178,16 juta, dibandingkan tahun 2013 yang sebesar US$ 233,9 juta. Di sisi lain, ADRO mencatatkan kenaikan EBITDA sebesar 7% menjadi US$ 877 juta. Angka itu masih mencapai target EBITDA ADRO tahun lalu yang sebesar US$ 750 juta sampai US$ 1 milliar. Kenaikan tersebut disebabkan adanya peningkatan volume penjualan dan penurunan biaya.

Direktur Utama ADRO, Garibaldi Thohir menuturkan, harga batubara internasional mengalami penurunan 17% pada tahun lalu dengan harga rata-rata batubara di kisaran US$ 70,95 per ton. Hal ini karena adanya kelebihan pasokan batubara yang masih berlanjut.

Melemahnya permintaan domestik china dan depresiasi mata uang negara eksportir batubara terhadap dollar Amerika Serikat (AS) juga menjadi faktor melemahnya harga batubara internasional.

Menurutnya,, di tahun ini, harga batubara masih akan tertekan karena kelebihan pasokan di pasar. Namun, ia bilang, permintaan impor batubara dari India masih akan tumbuh di tahun 2015 karena tingginya pemanfaatan pembangkit listrik tenaga uap di wilayah tersebut.

“Kami akan fokus menjaga kas dan pengembangan bisnis termasuk bisnis logistik dan kelistrikan,” ujar Garibaldi dalam keterangan resmi, Rabu (11/3). Pada tahun lalu, total kas ADRO naik 9% menjadi US$ 745 juta seiring dengan upaya ADRO untuk menekan ekspansi dan menjaga dana kas.

Editor: Yudho Winarto

Emoticons0051

Laba Adaro Turun 29% Jadi Rp 2,7 Triliun

Angga Aliya – detikfinance
Jumat, 31/10/2014 16:59 WIB

Jakarta -PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatat laba bersih US$ 225 juta (Rp 2,7 triliun) di triwulan III-2014. Labanya turun 29% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$ 315 juta.Turunnya laba karena keuntungan dari akuisisi Balangan pada sembilan bulan pertama tahun 2013 dimasukkan ke dalam komponen ini. Laba inti perseroan, yang tidak termasuk komponen akuntansi non operasional, naik 36% menjadi US$ 291 juta.”Bisnis Adaro berjalan dengan baik sepanjang tahun ini walaupun pasar batu bara masih diliputi situasi yang sulit. Kinerja perusahaan mencerminkan kekuatan dan efisiensi bisnis inti serta ketahanan model bisnisnya,” kata Presiden Direktur Adaro Energy, Garibaldi Thohir, dalam siaran pers, Jumat (31/10/2014).Pendapatan usaha Adaro naik 3% menjadi US$ 2,5 miliar karena ditopang oleh peningkatan volume penjualan sebesar 8% sementara harga jual rata-rata (average selling price – ASP) turun 5%.

Beban pokok pendapatan relatif stabil pada US$ 1,921 miliar, sehingga EBITDA naik 11% menjadi US$ 701 juta. EBITDA operasional tidak termasuk keuntungan satu kali yang diperoleh dari penjualan 35% kepemilikan atas PT Servo Meda Sejahtera (SMS) dan beban yang terkait dengan penilaian pajak sebelumnya untuk tahun keuangan 2012.

Permintaan terhadap batu bara Adaro tetap tinggi dengan volume penjualan yang meningkat 8% menjadi 42,4 Mt. Volume produksi juga meningkat sebesar 8% menjadi 41,9 Mt dan Adaro berada pada jalur yang tepat untuk mencapai panduan produksi tahun 2014 sebesar 54-56 Mt.

(ang/dnl)

big-dancing-banana-smiley-emoticon

investor daily JAKARTA – Meski mencatat penurunan laba bersih 31% menjadi US$ 172 juta selama semester I 2014, perusahaan tambang batubara PT Adaro Energy Tbk meraih kenaikan pendapatan sebesar tujuh persen pada periode yang sama.

“Laba bersih turun terutama karena dimasukannya keuntungan dari akuisisi Balangan yang dilakukan pada semester I 2013,” kata Head of Investor Relations and Corporate Secretary Division Adaro Energy, Cameron Tough dalam keterangan persnya di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan pendapatan Adaro pada semester pertama tahun 2014 mencapai US$ 1,69 miliar yang didukung kenaikan volume penjualan.

Selama semester I tahun 2014, volume penjualan naik 13% menjadi 28,2 juta ton karena permintaan batubara yang tetap kokoh walaupun harga jual rata-rata turun lima persen. Sementara volume produksi Adaro mencapai 27,8 juta ton atau naik 12% dibandingkan periode sama tahun 2013.

Cameron Tough menjelaskan bahwa likuiditas perusahaan tetap kuat dengan akses kas dan total fasilitas pinjaman jangka panjang yang belum digunakan mencapai US$ 1 miliar sehingga diyakini mampu menghadapi kondisi siklus yang menurun. Pencapaian ini membuat struktur modal meningkat empat persen dan kas naik 68% menjadi US$ 938 juta.

Adaro juga telah menyelesaikan fasilitas pinjaman unsecured amortizing yang baru sebesar US$ 1 miliar. “Digabungkan dengan saldo kas internal, kami berencana menggunakan dana pinjaman itu untuk pembayaran obligasi sebesar US$ 800 juta yang dikeluarkan bulan Oktober 2009 serta pembiayaan kembali fasilitas pinjaman US$ 750 juta yang ditandatangani pada Juli 2011,” ungkap Cameron Tough. (ant/gor)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatat penurunan laba bersih sebesar 31 persen menjadi USid=”mce_marker”72 juta selama semester I-2014. Kendati laba menurun, perusahaan tambang batu bara itu meraih kenaikan pendapatan sebesar tujuhpersen pada periode yang sama.

“Laba bersih turun terutama karena dimasukannya keuntungan dari akuisisi Balangan yang dilakukan pada semester I-2013,” kata Head of Investor Relations and Corporate Secretary Division Adaro Energy, Cameron Tough, dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat (29/8/2014).

Ia mengatakan, pendapatan Adaro pada semester pertama 2014 mencapai USid=”mce_marker”,69 miliar yang didukung kenaikan volume penjualan.
Selama semester I-2014, volume penjualan naik 13 persen menjadi 28,2 juta ton karena permintaan batu bara yang tetap kokoh walaupun harga jual rata-rata turun lima persen. Sementara volume produksi Adaro mencapai 27,8 juta ton atau naik 12 persen dibandingkan periode sama di 2013.

Cameron menjelaskan bahwa likuiditas perusahaan tetap kuat dengan akses kas dan total fasilitas pinjaman jangka panjang yang belum digunakan mencapai USid=”mce_marker” miliar, sehingga diyakini mampu menghadapi kondisi siklus yang menurun.

Pencapaian ini membuat struktur modal meningkat empat persen dan kas naik 68 persen menjadi US$938 juta. Adaro juga telah menyelesaikan fasilitas pinjaman “unsecured amortizing” yang baru sebesar USid=”mce_marker” miliar.

“Digabungkan dengan saldo kas internal, kami berencana menggunakan dana pinjaman itu untuk pembayaran obligasi sebesar US$800 juta yang dikeluarkan Oktober 2009 serta pembiayaan kembali fasilitas pinjaman US$750 juta yang ditandatangani pada Juli 2011,” ungkap Cameron.

(Ahl)

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/08/29/284488/laba-bersih-adaro-jeblok-31

Sumber : METROTVNEWS.COM

JAKARTA. Kinerja PT Adaro Energy Tbk (ADRO) selama Januari-Juni 2014 merosot dibanding periode yang sama tahun lalu. Emiten batubara ini membukukan penurunan laba bersih semester I-2014 sebesar 32% menjadi US$ 167,9 juta dari sebelumnya US$ 247,96 juta.

Manajemen ADRO dalam keterangan tertulisnya mengatakan, terlihat penurunan lantaran  pada pembukuan semester I-2013 silam ada keuntungan hasil akuisisi Balangan yang dicatat kedalam laporan keuangan perseroan. Toh, perusahaan mengklaim, inti bisnisnya masih memberi pemasukan US$ 210 juta, lebih tinggi 59% year on year.

Adaro mencatat, sepanjang paro pertama tahun ini mengumpulkan kenaikan pendapatan 7% menjadi US$ 1,69 miliar. Volume penjualan naik 13%, meski tergerus harga rata-rata jual yang turun 5%.

Produksi batubara Adaro naik sebesar 12% menjadi 27,8 metrik ton (MT) sepanjang Januari-Juni. Volume penjualannya juga naik 13% menjadi 28,2 MT.

Adaro juga melakukan penurunan biaya kas batubara, tidak termasuk royalti), mulai dari nisbah kupas yang lebih rendah, penurunan beban pengangkutan dan perawatan, serta pengurangan biaya penggunaan bahan bakar.

http://investasi.kontan.co.id/news/semester-i-laba-adaro-susut-32

Sumber : KONTAN.CO.ID

Adaro Energy (ADRO) mencatatkan laba bersih sebesar US$131 juta pada kuartal I-2014, melesat 336% dibandingkan periode yang sama tahun 2013 sebesar US$30 juta. Adapun pendapatan usaha pada kuartal I-2014 sebesar US$845 juta, tumbuh 14% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp741 juta. Beban pokok pendapatan turun menjadi US$599 juta. Perseroan berhasil menurunkan biaya kas batubara, hal tersebut dipacu oleh turunnya biaya angkut, biaya penanganan, harga bahan bakar yang lebih rendah, serta indikatif penurunan biaya lainnya. Dari segi operasional, perseroan berhasil membukukan peningkatan volume produksi sebesar 22% menjadi 14 juta ton pada kuartal I-2014. Sedangkan volume penjualan meningkat 23% menjadi 13,9 juta ton, seiring kuatnya permintaan batubara. (Investor Daily)

Sumber : IPS RESEARCH
PT ADARO ENERGY Tbk ( ADRO) membukukan laba bersih pada Quarter 1 2014 sebesar 1,46 triliun. Naik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013 sebesar 395,8 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 45.73 per lembar.

Berikut Laporan keuangan ADRO Quarter 1 2014 :

Account Quarter 1 2014
Last Price          1165
Share Out 32,0 B
Market Cap. 37.263,6 B
Balance Sheet
Cash               9.456,0 B
Total Asset 78.628,2 B
S.T Borrowing 2.111,3 B
L.T Borrowing 23.996,2 B
Total Equity 37.944,4 B
Income Statement
Revenue           9.632,9 B
Gross Profit 2.797,5 B
Operating Profit 2.754,2 B
Net. Profit        1.461,2 B
EBITDA         3.609,1 B
Interest Exp. 347,9 B
Ratio
EPS                 45,73
PER                 25,48x
BVPS                 1.186,28
PBV                 0,98x
ROA                 1,86%
ROE                 3,85%
EV/EBITDA 14,94
Debt/Equity 0,69
Debt/TotalCap 0,41
Debt/EBITDA 7,23
EBITDA/IntExp. 10,37

Sumber : IPS RESEARCH
Bisnis.com, JAKARTA- Sepanjang kuartal I/2014 PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) membukukan lonjakan pendapatan sebesar 344% dari US$30 juta atau sekitar Rp347,67 miliar menjadi US$131 juta atau setara Rp1,51 triliun secara year-on-year (y-o-y).

Dalam keterangan pers yang dirilis perseroan, Rabu (30/4/2014, ) ADRO mencatatkan kenaikan pendapatan 14% menjadi US$845 juta dari periode yang sama tahun lalu US$741. Sementara itu, pendapatan lain-lain perseroan meroket 1.107% secara y-o-y.

Mengutip laporan keuangan interim perseroan, total pendapatan lain-lain ADRO mencapai US$30,5 juta sedangkan pada triwulan I/2013 pendapatan lain-lain hanya senilai US$2,5 juta.

Hal ini disebabkan oleh keuntungan sebesar US$11,4 juta yang diperoleh dari penjualan saham PT Servo Media Sejahtera (SMS) melalui anak perusahaan Adaro, PT Alam Tri Abadi (ATA). Perseroan menjual kepemilikan sahamnya sejumlah 360.500 saham di SMS atau senilai US$25 juta.

Selain itu perseroan juga mengantongi keuntungan selisih kurs sebesar US$11,2 juta karena adanya revaluasi aset keuangan berdenominasi rupiah dan kewajiban Adaro. Pada laporan keuangan ini perseoan mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 6,4%. Padahal pada periode yang sama tahun lalu perusahaan justru merugi akibat selisih kurs hingga US$1,6 juta.

Adapun volume produksi dan penjualan batubara perseroan tercatat naik. Selama 3 bulan pertama tahun ini volume produksi perseroan meningkat 22% dari 11,4 juta ton menjadi 14 juta ton. Sementara itu volume penjualan menguat 23% ke level 13,9 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya 11,2 juta ton.

Editor : Linda Teti Silitonga
ADARO ENERGY (ADRO) Bagikan Dividen Rp872 miliar
Ardhanareswari AHP – Minggu, 27 April 2014, 17:00 WIB

bisnis.com
Pada 2013 EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) operasional turun 23% menjadi US$860 juta.
Bisnis.com, JAKARTA – PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) membagikan dividen tunai sebesar 32,15% laba bersih tahun 2013 senilai US$75,17 juta atau setara dengan Rp872,04 miliar (kurs tengah Rp11.601 per dolar AS).

Jika dibandingkan dengan 2012, dividen yang dibagikan ADRO merosot 35,8%. Untuk tahun buku 2012 Adaro membagikan dividen hingga US$117,07 juta. Kala itu laba tahunan perseroan anjlok 30%. Sementara itu tahun 2013 laba Adaro terpuruk hingga 40,18%.

Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir mengatakan sektor batubara memang tengah menghadapi siklus menurun. Namun, menurutnya Adaro selalu berusaha membagikan dividen. “Sejak IPO pada 2008 sampai dengan saat ini, kami selalu melakukan pembayaran dividen kepada pemegang saham,” katanya.

Adapun dalam rapat itu pemegang saham juga menyetujui alokasi US$153,75 juta dari laba bersih untuk tahun buku 2013 sebagai laba ditahan perseroan. Sementara itu tahun ini perseroan harus menyetorkan royalti sebesar US$348 juta.

Tahun lalu pendapatan perseroan turun 11,82% dari US$3,72 miliar pada 2012 menjadi US$3,28 miliar. Adapun pada 2013 EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) operasional turun 23% menjadi US$860 juta.

Editor : Fatkhul Maskur
Adaro tebar dividen tunai final US$ 75,17 juta
Oleh Veri Nurhansyah Tragistina – Jumat, 25 April 2014 | 11:54 WIB

JAKARTA. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) membagikan dividen tunai final US$ 75,17 juta untuk tahun buku 2013. Jumlah tersebut mencerminkan rasio pembayaran dividen 32,15% dari laba bersih 2013 yang US$ 231,23 juta.

Jumlah ini sudah termasuk dividen interim senilai US$ 40 juta yang dibayarkan Adaro pada 16 Januari 2014 lalu. “Sejak IPO (Penawaran Saham Perdana) tahun 2008, kami selalu melakukan pembayaran dividen kepada para pemegang saham,” kata Garibaldi Thohir, Presiden Direktur Adaro, Jumat (25/4).

Kinerja Adaro di tahun lalu sebenarnya jauh dari memuaskan. Laba bersih Adaro turun 40% dari US$ 385,35 juta di 2012 menjadi US$ 231,23 juta. Sementara pendapatan Adaro juga turun 11,56% year-on-year (yoy) menjadi US$ 3,29 miliar di 2013.
Editor: Barratut Taqiyyah
Alami penurunan Laba Bersih, Saham Adaro Juga Ikut Merosot
Selasa, 11 Maret 2014 18:31 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) membukukan penurunan laba bersih 2013 sebesar 40 persen menjadi 229 juta dolar AS dari capaian 2012 yang sebesar 383 juta dolar AS.
Presiden Direktur dan CEO PT Adaro Energy Tbk, Boy Garibaldi Thohir mengatakan, penurunan laba bersih karena tekanan harga batu bara pada 2013.
“Penurunan laba bersih 2013 sebesar 40 persen disebabkan oleh penurunan harga jual rata-rata batubara,” kata Thohir dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (11/3/2014).
saat harga batubara @80 / ton
Pendapatan usaha bersih perseroan juga turun 12 persen dari 3,72 miliar dolar AS menjadi 3,28 miliar dolar AS pada 2013.
Selain itu, laba sebelum pajak atau Ebitda perseroan pada 2013 tercatat sebesar 822 juta dolar AS atau turun 25 persen ketimbang capaian pada 2012.
Praktis saham Adaro juga tergerus saham emiten pertambangan batubara itu juga turun 35 bps atau 3,50 persen dengan berada pada level Rp 965 per saham pada perdagangan hari ini.
Saham Adaro diperdagangkan dengan harga tertinggi Rp 1010 per saham dan harga terendah sebesar Rp 960 per saham.
Ini kurs acuan dividen interim ADRO
Oleh Oginawa R Prayogo – Kamis, 02 Januari 2014 | 17:38 WIB

kontan

JAKARTA. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) akan membagikan dividen interim 2013. Nilai dividen yang dibagikan US$ 39,98 juta atau US$ 0,00125 per saham.
Devindra Ratzarwin, Sekretaris Perusahaan ADRO menginformasikan pembagian dividen interim tersebut mengacu pada kurs tengah Bank Indonesia pada 2 Januari 2014 yang sebesar Rp 12.242 per Dollar Amerika.
“Dengan demikian jumlah keseluruhan dividen tunai yang akan dibagikan dalam mata uang rupiah sebesar Rp 489,38 miliar untuk 31,98 juta lembar saham atau setara Rp 15,3 per saham,” ujar Devindra dalam keterbukaan informasinya di Bursa Efek Indonesia, Kamis (2/1).
Adapun pemegang saham yang berhak mendapat dividen harus tercatat per 2 Januari 2014. Masa cum dividen 24 Desember 2013. Sementara, pembagian dividen 16 Januari 2014.

Editor: Asnil Bambani Amri

Previous Older Entries