minya($50++/b)AAAk (ekspektasi 2017)

inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

ikon analisis gw

analisis teknikal sederhana tren harga minyak global 2017:

$40/barel @ wti : lebe tinggi daripada $26/b 2016… pertanda bahwa harga minyak global akan tetap menguat… kesepakatan n rekonfirmasi lewat harga jual riil akan mendorong tren harga di atas $40 bahkan di atas $50/b… moga2 menyentuh $60/barel sebelum bergejolak kuat menuju resistensi terkuat $ 80/b… liat aza ets-small

nozzle

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah melemah di akhir perdagangan hari Kamis (20/7/2017) setelah Brent melampaui level US$50 per barel untuk pertama kalinya dalam enam pekan terakhir.

Minyak Brent untuk kontrak September ditutup melemah 0,40 poin ke level US$49,30 per barel di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Sebelumnya, Brent sempat menguat di atas US$50 untuk pertama kalinya sejak 7 Juni.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 0,33 poin ke posisi US$46,79 per barel di New York Mercantile Exchange.

“Banyak pelaku pasar yang mencari posisi,” kata Bill O’Grady, kepala analis di Confluence Investment Management, seperti dikutip Bloomberg.

“Brent yang melampaui US$50 mungkin mendorong beberapa pelaku pasar yang sudah lama ingin melakukan profit taking,” lanjutnya.

Sebelumnya pada Rabu (19/7), Badan Administrasi Energi AS melaporkan persediaan minyak mentah turun 4,73 juta barel pekan lalu, sedangkan total persediaan minyak mentah dan produk nasional turun 10,2 juta barel menjadi 1,32 miliar barel, tingkat terendah sejak Desember.

Sementara itu, produksi minyak mentah A.S. berada pada level tertinggi sejak Juli 2015.

Sementara itu, analis senior Price Futures Group, Phil Flynn mengatakan ada pesimisme bahwa pasar global akan mencapai keseimbangan.

“Menarik untuk dilihat apakah OPEC dapat meyakinkan pasar bahwa pihaknya mencapai keseimbangan dan persediaan turun. Sekarang mereka punya data untuk membuktikannya,” ujarnya.

lol

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah mengklaim realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 pada semester I secara umum dapat dijaga stabilitasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan di Badan Anggaran (Banggar) DPR, realisasi penerimaan perpajakan misalnya, berdasarkan catatan otoritas fiskal tumbuh 9,6% dibandingkan tahun lalu.

BACA JUGA :
Bank Dunia: Fundamental Ekonomi RI Kuat
Sri Mulyani Yakin Ekonomi Indonesia 2017 Positif
” Apabila dihilangkan realisasi pengampunan pajak maka pertumbuhan pajaknya 5,5%,” kata Sri Mulyani, Kamis (13/7) malam.

Sri Mulyani yang pernah menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga menjelaskan, secara umum capaian pendapatan negara (pendapatan dalam negeri dan hibah) tercatat sebesar 41,0% terhadap APBN atau meningkat dari 35,5% dari semester I tahun 2016.

Adapun jika diperinci, realisasi penerimaan perpajakan (pajak dan bea cukai) tumbuh sebesar 9,6% dengan nilai nominal Rp571,9 triliun atau lebih baik dari tahun 2016 yang hanya senilai Rp522 triliun atau kontraksi sebesar 2,4% dari tahun sebelumnya.

Kontribusi terbesar dari PPh Migas yang tumbuh 69% dan PPN non migas yang tumbuh 13,5%. Dari kepabeanan, bea keluar tumbuh 31,6% di mana tahun lalu minus 33%.

Selain penerimaan, realisasi belanja pada semester 1 2017 juga dianggap lebih baik dibandingan periode yang sama tahun lalu. Penyerapan belanja negara sebesar 42,9% terhadap APBN juga lebih baik bila dibandingkan sebesar 41,5% di tahun 2016.

Adapun dengan meningkatnya realisasi pendapatan negara serta terjaganya konsumsi domestik, harga komoditas, serta meningkatnya permintaan ekspor; defisit anggaran terhadap PDB di semester I hanya sebesar 1,29%.

“Ini menggambarkan upaya pemerintah untuk menjaga APBN sebagai instrumen fiskal yang efektif dan kredibel telah berjalan baik demi tercapainya masyarakat adil, makmur dan bermartabat,” tegasnya.

buttrock

LONDON kontan. Harga minyak menguat didukung oleh meningkatnya kepercayaan bahwa OPEC dan produsen besar lainnya bakal setuju untuk mempertahankan pembatasan produksi untuk sisa tahun 2017 dan memasuki kuartal pertama tahun depan.

Mengutip Reuters, Rabu (24/5), minyak mentah Brent naik 40 sen per barel pada level US$ 54,55 pada pukul 0910 GMT. Sedangkan, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 35 sen ke level US$ 51,82.

BACA JUGA :
Harga minyak tertahan jelang pertemuan OPEC
Rating S&P dan minyak mendukung rupiah
Kedua tolak ukur minyak mentah tersebut telah menguat lebih dari 10% dari level terendah bulan Mei di bawah US$ 50 per barel. Rebound ini ditopang oleh konsensus negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan produsen lainnya yang akan mempertahankan batasan produksi minyak demi menguras kelebihan pasokan global.

OPEC telah berjanji untuk mengurangi pasokan sebesar 1,8 juta barel per hari (bpd) sampai akhir Juni dan diharapkan pada hari Kamis (25/5) sudah ada putusan untuk memperpanjang pemotongan tersebut sampai Maret 2018.

buttrock

NEW YORK, KOMPAS.com – Harga minyak pada perdagangan Selasa atau Rabu waktu Indonesia (12/4/2017) ditutup naik setelah laporan bahwa Arab Saudi menyatakan kepada para pejabat OPEC ingin melanjutkan periode pemotongan produksi untuk enam bulan tambahan.

Harga minyak telah beranjak naik dalam rentang tertentu, yang disebabkan oleh penurunan produksi OPEC dan produsen lain di luar organisasi itu. Namun demikian, penguatan harga komoditas ini dibatasi oleh kenaikan produksi minyak serpih Amerika Serikat (AS).

The Wall Street Journal melaporkan, Arab Saudi mengatakan kepada para pejabat OPEC ingin memperpanjang periode pemotongan produksi. Anggota OPEC sebelumnya menyampaikan telah sepakat melakukan ekstensi pemotongan produksi minyak, asalkan produsen non-anggota OPEC juga terlibat.

Dikutip dari CNBC pada Rabu, patokan minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik 32 sen menjadi 53,40 dollar AS per barel. Sementara patokan minyak mentah Brent naik 19 sen menjadi 55,39dollar AS per barel.

Brent telah naik enam sesi sebelumnya, sementara WTI naik dalam lima hari terakhir. Di awal perdagangan harga sempat turun didorong ekspektasi peningkatan persediaan AS. Para analis mengatakan, ada kekhawatiran permintaan berubah, dan indikator lain seperti pasokan.

“Ada banyak ketegangan geopolitik yang meningkat di dua kubu,” kata ahli strategi pasar di Futures RJO Phil Streible.

Menurut dia, meningkatnya kekhawatiran tentang Korea Utara danSuriah dapat menekan permintaan minyak. Media pemerintah Korea Utara memperingatkan, serangan nuklir AS merupakan tanda-tanda agresi AS.

Presiden AS Donald Trump dalam sebuah Tweet mengatakan, Korea Utara mencari masalah, dan AS akan menyelesaikan masalah dengan atau tanpa bantuan China.

“Ketegangan geopolitik buruk bagi pertumbuhan permintaan global,” kata managing director Petromatrix, Olivier Jakob.

buttrock

NEW YORK, KOMPAS.com – Harga minyak pada Kamis (6/4/2017) ditutup lebih menguat, mendekati level tertinggi satu bulan. Meski begitu, pada analis tetap berhati-hati mengenai persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari CNBC, pada Jumat(7/4/2017) patokan minyak mentah berjangka Brent ditutupnaik 58 sen (1,07 persen) ke level 54,94 dollar AS per barel. Sedangkan patokan West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 55 sen (1,08 persen) menjadi 51,70 dollar AS per barel.

Sebagaimana diketahui harga minyak telah pulih dari penurunan tajam pada Maret didorong persediaan bensin yang menurun. Namun, data pemerintah AS masih menunjukkan persediaan minyak mentah yang naik ke rekor tertinggi, mendorong aksi spekulasi.

“Sulit untuk menyebut kenaikan karena fundamental,” kata Robert Yawger, direktur di Future Energy di Mizuho.

Pada Rabu atau Kamis waktu Indonesia, Administrasi Informasi Energi AS (IEA) melaporkan peningkatan mengejutkan persediaan minyak mentah sebesar 1,57 juta barel. Total saham AS menjadi 535,5 juta barel.

Sementara itu, produksi minyak mentah AS naik 52.000 barel per hari (bph) menjadi 9,2 juta bph. Konsultan Petromatrix Olivier Jakob mengatakan, kuartal kedua tahun lalu produksi lebih rendah 600.000 bph dari kuartal pertamanya.

Namun pada tahun ini kondisinya kemungkinan berbalik. “Pada kuartal kedua, Anda bisa melihat produksi AS naik 1 juta bph,” ucap Olivier. Sumber:

buttrock

oilprice.com: The American Petroleum Institute (API) reported a build of 11.6 million barrels in United States crude inventories against expert predictions that domestic supplies would see a much kinder 1.4-million-to 1.66-million-barrel build.

The build in crude oil inventories was almost 10 times what analysts had predicted and marks yet another new high in U.S. inventories. The chart below displays a 10-week cumulative build of 35 million barrels, per API data, since the beginning of the year

Cumulative changes in crude oil stocks since Jan 4, 2017

 

A few hours before the API data release, WTI and Brent benchmarks were both down despite Libya’s recent production woes, which were offset by Russia’s unimpressive less-than-50%-adherence to the production cuts. At 2:11 pm EST, WTI was trading down .04% at $53.18—about $.80 down on the week—while Brent was trading down .11% at $55.95, or $.55 down from this time last week.
Adding to this week’s bad news for oil markets, the API also reported a 788,000-barrel build in inventories at the Cushing, Oklahoma facility.

Gasoline inventories provided significant respite to this week’s crude oil build, falling 5 million barrels, sending gasoline prices for the fuel upwards. The gasoline draw, according to Zerohedge, is the largest draw since April 2014. A half hour after the data was released, gasoline was trading up .79% on the day at $1.6855.

Distillates stocks also saw a draw of 2.9 million barrels.

 

West Texas Intermediate (WTI) prices began to contract after the API report’s release, with WTI trading at $52.83 and Brent trading at $54.64.

Earlier on Tuesday, the Energy Information Administration (EIA) forecast that US crude oil production would reach new heights by 2018, to 9.7 million barrels per day. The market will watch tomorrow’s EIA inventory report at 10:30EST to see whether this week’s massive build as reported by the API is confirmed.

By Julianne Geiger for Oilprice.com

buttrock

NEW YORK kontan. Harga minyak dunia naik selama empat sesi berturut-turut pada Rabu (28/12) kemarin. Bahkan, harga minyak sempat bertengger di posisi tertingginya sejak pertengahan 2015.

Seperti yang dikutip dari CNBC, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 16 sen menjadi US$ 54,06 per barel. Ini merupakan posisi tertingginya sejak 2 Juli 2015.

Harga minyak tertekan setelah data American Petroleum Institute menunjukkan terjadinya kenaikan cadangan minyak AS sebesar 4,2 juta barel.

Sementara itu, lima analis yang disurvei CNBC meramal data yang akan dirilis Energy Information Administration Departemen Energi AS menunjukkan cadangan minyak akan turun 1,5 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Desember.

Laporan EIA sudah dijadwalkan akan dirilis pada Kamis (29/12) pukul 11.00 waktu setempat.

Sementara itu, harga kontrak minyak Brent turun 15 sen menjadi US$ 55,94 per barel pada pukul 16.41 waktu New York. Pada 12 Desember lalu, harga minyak Brent sempat bertengger di posisi US$ 57,89 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2015.

Sekadar informasi saja, harga minyak dunia sudah melompat 25% sejak pertengahan November lalu. Pemicunya adalah ekspektasi market bahwa OPEC akan memangkas suplai produksinya.

Memang, OPEC dan negara non-OPEC diharapkan akan memangkas produksi sebesar 1,8 juta barel per hari. Arab Saudi, produsen terbesar OPEC, setuju untuk memberikan kontribusi pemangkasan terbesar.

Sementara, Menteri Perminyakan Irak Jabar Ali al-Luaibi pada Rabu kemarin mengatakan, negaranya akan memangkas produksi minyak sebesar 200.000-210.000 barel per hari yang akan dimulai pada Januari mendatang.

dollar small

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah menguat pada perdagangan hari ini, Senin (19/12/2016) setelah reli dolar AS terhenti.

Harga minyak West Texas Intermediate menguat 0,46% atau US$0,24 ke posisi US$52,14 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 6.21 WIB. Pada perdagangan pekan lalu, WTI ditutup menguat US$1% ke posisi US$51,90 per barel.

Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Februari naik menguat 0,47% atau US$0,26 ke US$55,47 di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Pekan lalu, Brent ditutup menguat US$1,19 atau 2,2% ke US$55,21 per barel.

Minyak naik untuk pertama kalinya dalam tiga hari setelah sebelumnya dolar terhenti dan perhatian bergeser kembali ke pemotongan produksi diproyeksikan.

Seperti dilansir Bloomberg, penguatan harga minyak mentah pada Jumat pekan lalu dipicu oleh melemahnya nilai tukar dolar AS. Harga minyak sebelumnya melemah karena dolar AS menguat setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan, sehingga mengurangi daya tarik komoditas bagi investor.

“Alasan utama minyak menguat adalah bahwa dolar bergerak datar,” kata Bill O’Grady, kepala strategi pasar di Confluence Investment Management, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (16/12/2016).

“OPEC adalah mendapatkan manfaat dari keraguan dan ada harapan bahwa ekonomi akan tumbuh kuat tahun depan, sehingga akan meningkatkan permintaan,” lanjutnya.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak pergerakan mata uang dolar terhadap mata uang utama lainnya terpantau melemah 0,17% atau 0,17 poin ke level 102,78 pada pukul 6.32 WIB.

lol

JAKARTA kontan. Harga bahan bakar minyak (BBM) kemungkinan besar akan naik pada awal tahun depan. Pasalnya saat ini harga BBM khususnya solar yang dijual PT Pertamina (persero) jauh lebih rendah daripada di pasar internasional.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang bilang harga solar seharusnya sudah naik sejak Oktober 2016. Harga solar yang dijual Pertamina harusnya lebih tinggi Rp 1.200 per liter dari banderol Rp 5.150 per liter.
Bambang pun klaim Pertamina masih menanggung defisit harga solar sebesar Rp 700 per liter biarpun pemerintah masih memberikan subsidi solar sebesar Rp 500 per liter. Makanya Bambang memproyeksi pada Januari harga solar akan melonjak lebih tinggi mengingat harga minyak secara global mengalami kenaikan. “Nah itu pasti kenaikannya agak besar. Mungkin sekitar Rp 500 per liter,”kata Bambang pada Selasa (13/12).

Harga premium dan pertalite juga kemungkinan besar naik. Namun Bambang bilang kenaikan untuk premium dan pertalite tidak besar dan masih bisa ditanggung dengan keuntungan yang sudah didapat oleh Pertamina dari penjualan premium dan pertalite sampai saat ini.

“Premium masih untung. Biarpun mulai menipis,” ujar Bambang.

Untuk itu Pertamina pun menanti kebijakan pemerintah untuk kenaikan harga BBM pada tahun depan. “Pemerintah berani tidak menaikan harga mengikuti harga minyak pada awal tahun baru. Tabungan laba Pertamina tidak bisa dipakai buat tahun depan,”jelas Bambang.

Direktur Pembinaan Hilir Migas Kementerian ESDM, Setyorini Tri Hutami bilang saat ini harga minyak memang naik. Namun, dia belum bisa menyebut besaran potensi kenaikan harga BBM karena pemerintah masih menghitung kenaikan harga tersebut.

“Kalau keputusan belum tahu tapi trennya naik. Sekarang masih dihitung,”kata Setyorini.

Penentuan harga BBM memang baru akan diputuskan pada akhir Desember 2016 dengan memperhatikan tren harga dalam tiga bulan terakhir.

Direktur Keuangan Pertamina, Arief Budiman pun berharap Pertamina tidak mengalami defisit akibat menanggung harga BBM. “Tahun depan harga ditinjau tiga bulan sekali. Kalau tahun depan kan ada BBM satu harga, tentunya ada tambahan biaya. Formulanya kami lihatlah di Desember ini, Mudah-mudaha tidak ada defisit ya,”imbuhnya.

R3k0r tapi … @ adro : 030913_190717

lol

27 Maret 2017: harga saham ADRO @ 1800, tertinggi @ 2016-2017

 

1765 @ harga saham ADRO @ 190717, dekat 1800 lage

JAKARTA. Performa PT Adaro Energy Tbk (ADRO) tahun ini diprediksi bakal prospektif. Permintaan dalam negeri bakal menjadi pendorong pendapatan perusahaan yang lebih besar.

“Permintaan batubara dari dalam negeri terus menunjukkan peningkatan seiring dengan semakin banyaknya proyek power plant,” ujar Yusuf Winoto, analis Yuanta Sekuritas dalam riset, Selasa (18/7).

BACA JUGA :
Analis: Kinerja ditaksir moncer, beli ADRO
Batubara naik, prospek ADRO dan DOID menarik
Seiring dengan dorongan pemerintah untuk mengejar program listrik 35.000 megawatt (MW), semakin banyak proyek power plant yang dikerjakan. Permintaan batubara dari dalam negeri pun terus meningkat. Sepanjang 2016 saja, permintaannya sebesar 91 juta ton atau setara 21% dari produksi nasional, dengan CAGR 6% sejak 2010 hingga 2016.

Pada saat yang bersamaan, tren harga batubara terlihat seperti telah menemukan keseimbangan baru. Secara year to date, harga rata-rata batubara China sekitar US$ 91 per ton, 30% lebih besar dibanding rata-rata harga sepanjang 2016.

“Berdasarkan penelitian kami, setiap kenaikan benchmark harga batubara sebesar 10% akan meningkatkan kenaikan pendapatan 30%,” kata Yusuf.

Atas dasar ini, ia memberikan rating overweight saham ADRO dengan target harga Rp 2.160 per saham. Level ini mencerminkan price earning ratio (PER) 2017 sebesar 10,9 kali.

new-chin-year-dragon-02

 

JAKARTA. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) meneken kesepakatan dengan perusahaan semen asal Thailand, Siam Cement Group (SCG) untuk memasok batubara. ADRO akan menyuplai batubara untuk pabrik semen dan packaging milik SCG di ASEAN.

Penandatanganan kesepahaman itu dilakukan Country Director SCG Indonesia Nantapong Chantrakul dan CEO ADRO Garibaldi Thohir. Nantapong mengatakan, kerjasama ini diharapkan dapat membantu mempromosikan potensi ekspor produk batubara Indonesia.

“Selain itu, kerjasama ini diharapkan dapat membantu kedua bisnis yang terlibat dalam efisiensi biaya produksi untuk sektor bisnis masing-masing,” ujar Nantapong, Rabu (12/10).

Batubara ADRO digunakan untuk mendukung operasional pabrik semen dan packaging di akhir tahun ini hingga tahun depan. Batubara merupakan salah satu sumber energi pembangkit listrik yang akan digunakan untuk bahan bakar pokok produksi baja dan semen.

Harga batubara fluktuatif beberapa tahun terakhir ini. Tapi, pada Oktober 2016, data Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral Indonesia menunjukkan harga batubara acuan (HBA) mencapai angka tertinggi sepanjang 2016 yaitu US$ 69,07 per metrik ton untuk penjualan langsung di atas kapal atau free on board (FoB).

Harga ini mengindikasikan pemulihan industri batubara. Garibaldi menambahkan, ada peningkatan di pasar batubara thermal akhir-akhir ini. Hasil rasionalisasi pasokan di sejumlah negara produsen batubara dan bertahannya permintaan di Indonesia dan Asia Tenggara, menyebabkan batubara tetap menjadi komoditas energi krusial di tengah kebutuhan energi yang meningkat.

Pada semester I-2016, ADRO memproduksi 25,86 juta ton batubara. Jumlah itu stagnan dibandingkan periode sama tahun lalu. Harga saham ADRO kemarin naik 0,36% ke Rp 1.405 per saham. Sejak awal tahun, harga saham ADRO sudah naik 173%.

http://investasi.kontan.co.id/news/adro-memasok-batubara-ke-siam-cement-group
Sumber : KONTAN.CO.ID

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA–Lonjakan harga batu bara pada awal paruh kedua tahun ini menjadi harapan tersendiri bagi emiten komoditas batu hitam untuk menggenjot pendapatan sepanjang tahun.

Direktur Utama PT United Tractors Tbk. Gidion Hasan menuturkan rebound harga batu bara diharapkan bakal stabil hingga akhir tahun. Pasalnya, pada paruh pertama tahun ini, harga batu bara telah mencapai level terendah.

“Menunggu harga stabil atau enggak naiknya. Kalau stabil sampai akhir tahun, pasti tahun depan akan lebih baik. Kalau sampai akhir tahun belum ada tanda-tanda perbaikan harga,” katanya dalam paparan publik, Kamis (4/8/2016).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat harga batu bara acuan (HBA) periode Agustus 2016 untuk penjualan spot free on board (FOB) kembali naik melanjutkan kecenderungan pada Juni-Juli 2016.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan, HBA Agustus 2016 tercatat US$58,37 per ton atau naik US$5,37 per ton sebesar 10,1% dibandingkan dengan Juli 2016 sebesar US$53 per ton.

Saat bersamaan, harga batu bara kontrak November 2016 di bursa Rotterdam kemarin ditutup melemah 0,87% ke level US$62,35 per ton. Salah satu provinsi di China diperkirakan terjadi kelebihan pasokan yang membuat harga batu bara kembali tertekan.

Gidion menyebut pendapatan sektor pertambangan yang dijalankan oleh  PT Pamapersada Nusantara (Pama) dan PT Tuah Turangga Agung tertekan pada paruh pertama tahun ini. Dia belum melihat adanya tanda-tanda perbaikan pendapatan dari segmen pertambangan setelah tertekan pada semester I/2016.

Meski harga batu bara global belum pulih sepenuhnya, Direktur Utama PT Harum Energy Tbk. Ray Antonio Gunara, mengaku optimistis dengan prospek batu bara untuk jangka pendek dan menengah yang menjanjikan.

Hal itu ditopang oleh adanya penurunan pasokan batu bara di pasar global yang diperkirakan dapat terus berlanjut hingga 1-2 tahun ke depan, serta percepatan pertumbuhan konsumsi batu bara domestik.

“Dampak mulai stabilnya pasar batu bara global telah terlihat dari naiknya indeks harga batu bara secara cukup pesat belakangan ini,” tuturnya.

Paruh pertama tahun ini, emiten bersandi saham HRUM tersebut telah menjual 1,6 juta ton batu bara atau melorot 40% dari periode yang sama setahun lalu 2,7 juta ton. Harga rerata penjualan batu bara Harum Energy mencapai US$47,4 per ton, lebih rendah 12% dari US$54,1 per ton.

Tahun ini, manajemen Harum Energy mengalokasikan anggaran belanja modal (capital expenditure/Capex) senilai US$6,5 juta untuk eksplorasi dan pemeliharaan armada. Hingga Juni 2016, perseroan telah menyerap Capex senilai US$4 juta.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Keuangan Adaro Energy David Tendian, menjelaskan mulai memanasnya harga batu bara pada awal semester ini terjadi lantaran sudah berada di level terbawah. Saat ini, harga batu bara sudah mulai rebound dan terus menanjak.

“Kami enggak mau kalau kenaikan harga batu bara terlalu kuat. Karena, akan menjadi oversupply, sekarang harga mulai rebound karena supply dikurangi,” paparnya.

Dia menilai, harga batu bara yang mulai rebound menjadi perkembangan yang cukup sehat bagi emiten komoditas. Harga batu bara di level US$60 per ton terbilang bagus, meski perseroan tidak akan menggenjot produksi komoditas itu.

Sepanjang tahun ini, perseroan menargetkan untuk memproduksi batu bara hingga 52-54 juta ton. Semester I/2016, emiten bersandi saham ADRO itu telah merealisasi produksi 25,86 juta ton atau stagnan dari sebelumnya 25,88 juta ton.

Sejak awal tahun, harga batu bara Adaro telah meningkat 20% dari US$48 per ton menjadi US$60 per ton. Adaro telah menyerap belanja modal 45% dari total anggaran US$75 juta-US$100 juta.

Direktur Utama PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk., Arviyan Arifin mengatakan kinerja perusahaan dapat meningkat di tengah peningkatan harga batu bara. “Kalau harga naik, pasti bisa rebound,” katanya.

Arviyan mengatakan penurunan laba bersih perusahaan hanya sebesar 10% di tengah penurunan indeks harga batu bara sebesar 18% pada semester I/2016. Selisih 8%, ujarnya, merupakan efisiensi.

“Sampai akhir tahun masih bisa catch up, tahun 2016 laba bersih masih bisa signifikan, minimal tidak jauh dari tahun lalu atau sama seperti tahun lalu, tapi saya enggak bisa sampaikan angkanya,” katanya.

Menurutnya, produksi batubara agak mengalami penurunan pada semester I/2016. Dengan demikian, perusahaan memiliki stok yang relatif banyak kendati tetap dijaga agar tidak kelebihan pasokan.

“Semester II nanti akan ada banyak tambahan signifikan penjualan dari sisi stok maupun produksi,” tambahnya.

Menurutnya, harga rata-rata batu bara tidak akan mencapai US$140 per ton seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu melainkan diperkirakan hanya sekitar US$60 per ton pada akhir 2016.

Satrio Utomo, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, menilai kenaikan harga batu bara bakal menjadi kabar gembira bagi emiten komoditas. Saham sektor pertambangan tercatat telah melesat dan memimpin kenaikan hingga 50,08% year-to-date.

“Minimal untuk emiten yang sudah mengurangi produksi, sekarang bisa menaikkan lagi. Emiten batu bara bisa kembali ke level kinerja yang menguntungkan setelah setahun hanya bertahan,” kata dia.

Menurut dia, kinerja emiten komoditas batu bara ke depan akan lebih baik bila harga konsisten pada level saat ini. Pertumbuhan global yang membaik membuat permintaan batu bara juga stabil meningkat.

Apalagi, kata dia, saat ini perusahaan tambang batu bara sudah lebih efisien sebagai strategi bertahan terhadap rendahnya harga komoditas. Bila harga batu bara kembali membaik, tentu saja profitabilitas emiten tersebut juga dapat menjulang.

new-chin-year-dragon-02
INILAHCOM, Jakarta – Pemerintah melaporkan sepanjang semester pertama tahun 2016, ekspor batubara sudah mencapai 80,22 juta ton, turun 31,63% dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 117,328 juta ton.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Sujatmiko memaparkan, turunnya ekspor batubara lantaran anjloknya permintaan di pasar global. Dua negara yang mengandalkan pasokan batubara dari Indonesia mengurangi permintaannya. “India dan Tingkok mengurangi permintaan batu bara,” kata Sujatmiko di Jakarta, Selasa (11/7/2016).
Sujatmiko menuturkan rendahnya realisasi ekspor batubara bukan menjadi satu permasalahan. Pasalnya paradigmna pemerintah saat ini condong pada pemenuhan dalam negeri.
Dia bilang berkurangnya ekspor batu bara sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Dalam rencana tersebut RPJMN menargetkan produksi batubara nasional mencapai 400 juta ton pada 2019.
Sebanyak 60 persen dari total produksi atau sekitar 240 juta ton dikonsumsi domestik. “Yang terpenting kebutuhan batu bara dalam negeri tercukupi,” katanya. [hid]

– See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2309403/ekspor-batubara-semester-i-hanya-802-juta-ton#sthash.77A6GGvD.dpuf

buttrock

JAKARTA kontan. Bisnis pertambangan masih merangkak pada tahun ini. Perlambatan ekonomi Tiongkok mengakibatkan prospek saham komoditas dalam jangka pendek dan menengah masih kelam.

Di Bursa Efek Indonesia, indeks sektor pertambangan menyusut 2,39% sejak awal tahun hingga kemarin atau year to date (ytd). Bahkan dalam setahun terakhir atau year-on-year (yoy), indeks pertambangan anjlok 41,62%.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, menilai, sektor komoditas masih tertekan. Saham yang bergerak di hard commodity, seperti timah, nikel dan batubara masih sulit lepas dari tekanan.

Dengan kondisi ekonomi global yang masih melambat, terutama Tiongkok yang belum bisa mencapai pertumbuhan ideal, saham pertambangan belum layak beli. Ekonomi China diprediksi terus melambat selama dua hingga tiga tahun mendatang, Jepang dan Eropa juga cenderung stuck.

“Artinya belum ada peluang bagi sektor tambang untuk naik karena permintaan tak ada,” tutur Hans.

Sedangkan Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menilai, di jangka pendek sektor tambang masih bisa menguat. Saat ini, harga emas mulai rebound disebabkan permintaan meningkat, beberapa emiten di sektor tambang juga mulai berinovasi menyiasati penurunan demand.

Apalagi saat ini harga minyak diprediksi sudah menyentuh bottom line dan ke depan berpotensi menguat. Dus, sektor komoditas akan membaik. Namun, dia melihat sektor batubara masih sulit bergerak lantaran ekonomi Tiongkok belum membaik.

Di tengah tekanan, investor tetap bisa melihat peluang rebound harga saham tambang.Analis First Asia Capital David Sutyanto menilai saham ADRO dan PTBA masih layak dipertimbangkan. Sebab, kedua emiten itu mulai menggarap PLTU untuk menyuplai listrik.

Satrio menilai, PTBA, ADRO dan AKRA masih layak koleksi. Dia memandang saham-saham masih cukup kuat menghadapi pelemahan permintaan. Strategi perseroan juga sudah teruji. Sedangkan Hans tak merekomendasikan saham komoditas, khususnya pertambangan.

Emoticons0051

JAKARTA okezone– Meskipun harga batu bara tahun ini belum pulih, tidak membuat ciut ekspansi bisnis PT Adaro Energy Tbk (ADRO) untuk memasang target produksi lebih agresif lagi.

Tahun ini, perseroan menargetkan produksi batubara sebanyak 52-54 juta ton. Target tersebut naik 5 persen dibandingkan realisasi produksi tahun lalu sebesar 51,4 juta ton.

Perseroan mengungkapkan, guna memenuhi target produksi tahun ini akan menggenjot tiga motor pertumbuhan perseroan, salah satunya pertambangan batubara. Adaro menargetkan nisbah kupas pada tahun ini sebesar 4,71 kali. Total biaya kas batubara Adaro tahun ini sebesar USD26 sampai USD28 per ton.

Selain itu, Adaro juga menargetkan EBITDA tahun ini mencapai USD450 juta hingga USD700 juta. Sementara itu, alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini mencapai USD75-100 juta. Pada kuartal IV tahun lalu, produksi batubara Adaro pada mencapai 11,6 juta ton, turun 19 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sedangkan total produksi Adaro 2015 sebesar 51,4 juta ton, turun 8 persen dari total produksi pada 2014.

Sepanjang kuartal IV, kegiatan pemindahan lapisan penutup (overburden) yang dilakukan perseroan mencapai 53,5 juta kubik meter (million bank cubic meter/mbcm). Jumlah itu mencerminkan penurunan sebesar 31 persen dari kuartal IV tahun sebelumnya.

Lebih lanjut manajemen perseroan mengungkapkan, rendahnya produksi perseroan tahun lalu merupakan akibat dari kelebihan pasokan batubara di pasar global. Selain itu, melemahnya pertumbuhan permintaan di negara-negara pengonsumsi batubara yang utama turut memengaruhi penurunan produksi perseroan.

Nisbah kupas untuk gabungan rata-rata dari empat tambang perseroan yang mencapai 4,6 kali untuk kuartal IV tahun lalu sebesar 5,19 kali. Sedangkan untuk tahun ini masih sedikit di bawah target tahun lalu yang ditetapkan sebesar 5,33 kali. Meskipun terjadi penurunan terhadap nisbah kupas, perusahaan berhasil mempertahankan keunggulan operasi dan terus memberikan pasokan yang dapat diandalkan kepada para pelanggan.

Total penjualan batubara perseroan pada kuartal IV – 2015 mencapai 11,9 juta ton atau turun 19 persen dibandingkan kuartal sama sebelumnya. Total penjualan batubara perseroan sepanjang tahun lalu mencapai 53,1 juta ton atau turun 7 persen dibandingkan 2014. Perseroan menjelaskan bahwa penurunan penjualan tersebut akibat pasar yang tengah sulit.

(mrt)

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Margin EBITDA Adaro Energi Tertinggi
Sabtu, 31 Agustus 2013 | 9:33
investor daily
JAKARTA – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencetak margin laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization/ EBITDA) sebesar 26,2% pada semester I-2013. Margin EBITDA perseroan tertinggi di antara perusahaan batubara termal di Indonesia.

Pada semester I-2013, Adaro Energy membukukan EBITDA sebesar US$ 413 juta, turun 38% dibandingkan periode sama 2012 senilai US$ 667,5 juta. “Adaro tetap berada di posisi yang tepat untuk mencapai panduan EBITDA sebesar US$ 850 juta sampai US$ 1 miliar yang telah ditetapkan untuk tahun ini,” ungkap Presiden Direktur dan CEO Adaro Energy Garibaldi Thohir dalam keterangan tertulis, Jumat (30/8).

Pada semester I-2013, pendapatan usaha bersih Adaro Energy mencapai US$ 1,57 miliar, turun 18% dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 1,93 miliar. Hal itu terjadi akibat penurunan harga batubara yang tercermin pada harga jual rata-rata perseroan.

Meski demikian, beban pokok pendapatan turun 5,4% menjadi US$ 1,22 miliar. Padahal, produksi batubara meningkat 8% menjadi 24,94 juta ton.

Beban pokok pendapatan lebih rendah, karena penurunan royalti menyusul penurunan harga serta pembelian batubara oleh pihak ketiga.

Adapun laba bersih semester I- 2013 turun 55,4% menjadi US$ 116 juta dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 260,1 juta. Meski begitu, keunggulan operasional perseroan terus berlanjut.

Adaro mencapai rekor tertinggi kuartalan untuk produksi batubara pada kuartal II- 2013 sebanyak 13,52 juta ton.

Meski demikian, menurut Garibaldi, perseroan berada di posisi yang tepat untuk mencapai
panduan produksi batubara sepanjang tahun ini sebanyak 50-53 juta ton. (jm/ID)

dollar small

Produksi Adaro Cetak Rekor, Tapi Laba Anjlok 55%
Angga Aliya – detikfinance
Jumat, 30/08/2013 11:01 WIB

Jakarta – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatat laba bersih sebesar US$ 116 juta (Rp 1,1 triliun) di semester I-2013, anjlok 55,4% jika dibandingkan laba tahun sebelumnya pada periode yang sama US$ 260 juta (Rp 2,4 triliun). Produksi perseroan yang cetak rekor dihadang melemahnya harga jual.

Produksi perseroan sepanjang triwulan II-2013 mencapai rekor tertinggi yaitu sebanyak 13,52 juta ton (Mt), dengan demikian meningkatkan produksi sebesar 8% pada semester pertama 2013 menjadi 24,94 Mt.

Pendapatan usaha bersih perseroan untuk semester pertama 2013 sebesar US$ 1,5 miliar menurun 18% dibandingkan periode tahun sebelumnya US$ 1,9 miliar. Penurunan terjadi karena melemahnya harga batubara yang tercermin pada harga jual rata-rata Adaro.

“Kami berada pada posisi yang tepat untuk mencapai target yang telah ditetapkan untuk tahun 2013 maupun tujuan jangka panjang perusahaan, yaitu menciptakan nilai maksimum dari batubara Indonesia,” kata Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir dalam keterangan tertulis, Jumat (30/8/2013).

“Kelebihan pasokan yang masih terus berlangsung setelah kelebihan investasi selama bertahun-tahun telah menyebabkan harga batubara global tetap lebih rendah. Tetapi, harga untuk batubara kami yang berkalori rendah tetap kuat,” ujarnya.

Beban pokok pendapatan Adaro menurun 5,4% menjadi US$ 1,2 miliar walaupun produksi batubara meningkat 8% menjadi 24,94 Mt. Beban pokok pendapatan lebih rendah karena penurunan royalti yang diakibatkan oleh penurunan harga serta pembelian batubara oleh pihak ketiga.

Pada perdagangan hari ini hingga pukul 11.00 waktu JATS, saham Adaro berkurang 10 poin (-1,1%) ke level Rp 900 per lembar. Sahamnya diperdagangkan 1.028 kali dengan volume 85.408 lot senilai Rp 39 miliar.

(ang/dnl)

doraemon

el$a beraksikorpora$1 … 121113_2901201empat_290916_070717

ezgif.com-resize

JAKARTA kontan. Harga minyak mentah di pasar global bergerak melemah. Sejak awal tahun hingga kemarin (ytd), harga minyak WTI untuk kontrak pengiriman Agustus di New York Merchantile Exchange sudah menyusut 19% menjadi US$ 45,86 per barel.

Tren koreksi harga minyak turut membayangi kinerja emiten berbasis komoditas di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Salah satu emiten yang terimbas pergerakan harga minyak adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Selama sepekan terakhir, harga saham emiten ini menyusut 1,31%. Namun, sejak awal tahun, harga MEDC sudah menanjak 71,21% (ytd).

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido menyarankan investor menjauhi dulu saham MEDC dan PT Elnusa Tbk (ELSA). “Sebaiknya wait and see di bulan ini,” ungkap dia kepada KONTAN, Kamis (6/7).

Namun, Kevin melihat prospek MEDC lebih menarik dibandingkan emiten sejenis. Pasalnya, MEDC telah mendiversifikasi bisnisnya, yakni ke pertambangan emas dan tembaga, setelah mengakuisisi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan menilai, kenaikan harga minyak tahun ini sulit diprediksi. Ada kecenderungan harga sulit menyentuh US$ 60 per barel. “Saya perkirakan level minimum harga minyak US$ 40 per barel,” kata dia.

Selain MEDC, ada emiten yang terkena imbas koreksi harga minyak. Misalnya perusahaan pelayaran seperti PT Soechi Lines Tbk (SOCI) dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS), maupun perusahaan penunjang migas seperti ELSA. “Seberapa besar efeknya terhadap emiten pelayaran, ini tergantung seberapa lama harga minyak menurun,” ujar Andy.

Kevin belum melihat sinyal OPEC akan menurunkan produksi minyak. Beberapa negara anggota OPEC masih enggan mengurangi produksi minyak karena akan mengurangi penjualan ekspornya.

Penurunan harga minyak tak selalu negatif. Penurunan harga minyak juga membawa berkah bagi sejumlah emiten. Misalnya PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang memiliki biaya transportasi besar, maupun PT Blue Bird Tbk (BIRD).

Meski mendapatkan sentimen positif dari penyusutan harga minyak, Kevin tidak merekomendasikan investor masuk sektor tersebut. Investor perlu mempertimbangkan faktor fundamental emiten. “GIAA misalnya, laporan keuangannya masih jelek,” ungkap dia.

buttrock

JAKARTA ID– PT Elnusa Tbk (ELSA) semakin giat membidik kontrak-kontrak baru untuk menggantikan kontrak dari Total E&P Indonesie yang semakin menurun. Perseroan terkena imbas berkurangnya aktivitas Total E&P, terutama di bidang investasi, karena Total harus menyerahkan ladang minyaknya kepada PT Pertamina tahun depan.

Direktur Keuangan Elnusa Budi Raharjo mengungkapkan, selama bertahun-tahun perseroan mendapatkan kontrak cukup besar dari Total E&P. Perseroan perlu berjuang mencari pengganti kontrak dari Total E&P sejak tahun ini hingga 2017.

“Kami mencari banyak kegiatan. Sebagian telah kami dapatkan penggantinya dengan mendapatkan kontrak operation and maintenance dari Pertamina, BP Indonesia dan Conoco Philips,” ujar Budi di Jakarta, Selasa (27/9) malam.

Dia mengaku bahwa hal itu membuat perseroan kurang optimistis dengan kinerja tahun ini. Selain faktor berkurangnya kontrak dari Total E&P, perusahaan-perusahaan minyak dan gas (migas) lainnya masih menahan ekspansinya.

Di tengah tantangan industri migas, saat ini perseroan berhasil mendapatkan kontrak baru sebesar US$ 60 juta. Kontrak baru Elnusa berasal dari kegiatan drilling and oilfield services (DOS) di dalam negeri dan Brunei. Perseroan akan fokus mencari kontrak baru dari proyek-proyek di regional.

Sebenarnya, pemegang saham perseroan, Pertamina mengajak Elnusa untuk ikut tender di ladang minyak Aljazair. Tetapi perseroan memutuskan untuk tidak berpartisipasi pada tender tersebut.

Di luar pasar regional, Budi menuturkan bahwa perseroan mulai memasuki pasar migas di India. “Tapi itu bukan pekerjaan peralatan, tetapi konsultan teknikal,” ungkapnya.

Dia mengakui bahwa pasar migas di India besar dan prospektif. Namun, Elnusa memilih untuk berhati-hati masuk ke India karena belum memahami benar kondisi pasar di sana.

Lebih lanjut Budi mengungkapkan, India merupakan negara yang paling aktif menggarap pasar migasnya. Harapan pasar migas perseroan sebelumnya, Myanmar, ternyata banyak menunda proyek-proyek migas karena pertimbangan harga minyak yang masih rendah.

Elnusa meraih laba bersih semester I–2016 sebesar Rp 145 miliar, meningkat 9,2% dari realisasi periode sama tahun lalu sebesar Rp 133 miliar. Sementara pendapatan perseroan turun 5,1% dari semester I tahun lalu menjadi sebesar Rp 1,7 triliun.

Budi mengungkapkan, efisiensi struktur biaya menjadi strategi dalam menyikapi situasi industri saat ini. Elnusa mampu menekan beban pokok pendapatan sebesar 8,0% sehingga menghasilkan peningkatan laba kotor Elnusa sebesar 9,7% menjadi Rp 324 miliar.

Laba usaha perseroan meningkat 35,8% menjadi sebesar Rp 232 miliar karena penurunan beban usaha sebesar 35% yang juga menghasilkan peningkatan EBITDA sebesar 23,6% menjadi Rp 377 miliar. Marjin laba kotor, laba usaha dan EBITDA juga membaik menjadi masing-masing 18,9%, 13,6% dan 22,0% pada semester I-2016. (fik)

ets-small

JAKARTA. Tren rendahnya harga minyak global membuat aktivitas pengeboran minyak dan gas menurun. Kondisi ini turut mempengaruhi bisnis PT Elnusa Tbk (ELSA) sehingga perseroan perlu melakukan diversifikasi bisnis guna menjaga kualitas kinerja keuangannya.

Destya Faishal, analis Phillip Securities menjelaskan, selain efisiensi, upaya ELSA untuk mendiversifikasi bisnisnya guna memperkuat performa keuangannya sepertinya menarik. Salah satu hal yang perlu digarisbawahi adalah upaya ELSA untuk meningkatkan pangsa pasarnya.

ELSA akan lebih fokus pada jasa maintenance ketimbang jasa pengeboran di tengah situasi seperti saat ini. Soalnya, rendahnya harga minyak juga sudah diprediksi akan menurunkan pendapatan sisi bisnis upstream ELSA,” jelas Destya.

Dengan rencana itu, pangsa pasar ELSA diprediksi akan meningkat jadi 8% hingga 10% tahun ini. Selama ini, pangsa pasar ELSA sekitar 5%.

ELSA juga membeli kapal seismic untuk keperluan survey bawah laut. “Ini juga bagus untuk menunjang bisnis ELSA karena hanya sedikit perusahaan yang memiliki komptensi melakukan kegiatan ini,” imbuh Destya.

Dengan segala rencana yang dilakukan ELSA, Destya memprediksi ELSA akan mencatat pendapatan Rp 3,68 triliun. Sementara, laba bersihnya diprediksi Rp 577,5 miliar.

Terkait pembelian kapal seismic, analis Trimegah Securities Willinoy Sitorus memprediksi akan ada tambahan pendapatan cukup signifikan dari bisnis ini. Tambahan pendapatannya juga mungkin bisa dirasakan dalam waktu dekat.

Menggunakan asumsi tarif sewa kapal seismic US$ 200.000 per hari, maka ELSA berpotensi meraup pendapatan Rp 964 miliar per tahun melalui bisnis ini.

“Pendapatan dari bisnis ini bisa terefleksikan mulai kuartal kedua tahun ini. Ini juga merupakan efek dari kebijakan pemerintah yang ingin memenuhi konten lokal dan asas cabotage dalam aktivitas kapal, khususnya aktivitas kapal oil & gas dalam negeri,” tulis Willinoy dalam riset 4 April lalu.

Di tengah sentimen positif yang berasal dari faktor internal ELSA, menurut Destya lebih cocok sell ELSA dengan target harga Rp 484 per saham. Belum ada valuasi lanjutan dari Willinoy.

Terakhir dia merekomendasikan buy ELSA dengan target harga Rp 400 per saham. Sementara, analis DBS Vickers Securities William Simadiputra memberikan rating fully valued, target harga Rp 400 per saham.

http://investasi.kontan.co.id/news/prospek-elsa-di-balik-diversifikasi-bisnis
Sumber : KONTAN.CO.ID

new-chin-year-dragon-02

JAKARTA ID – PT Elnusa Tbk (ELSA) bakal mengerem ekspansi akibat berlanjutnya penurunan harga minyak dunia. Pengurangan ekspansi ini sejalan dengan keputusan sebagian besar produsen minyak untuk menurunkan ekspansi tahun ini.

 

Direktur Keuangan Elnusa Budi Rahardjo mengungkapkan, perseroan awalnya berencana mencari dana hingga Rp 1 triliun untuk memenuhi kebutuhan seluruh investasi tahun ini. Namun keinginan ini bakal tertunda akibat industri minyak masih turun. Perseroan juga tidak bisa terlalu agresif membeli aset.

 

“Aset dapat menjadi mesin penghasil uang apabila industri sedang bagus. Sebaliknya saat industri sedang lesu, aset bisa menjadi beban. Oleh karena itu, kami memutuskan tidak agresif membeli aset tahun ini,” ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

 

Perseroan, menurut Budi, sudah melakukan penyesuaian nilai aset (impairment) beberapa kali akibat penurunan harga minyak. Tahun ini pun, perseroan akan merealisasikan impairment.

Terkait rencana ekspansinya di Iran, Budi menjelaskan, perseoan tetap berusaha untuk mendapatkan kontrak. Meski, hal tersebut dinilai masih sulit. “Mungkin kontrak luar negeri yang dapat bukan Iran duluan, tetapi Brunei,” ujarnya.

kata tjuta ozSMALL

Di negara ini, perseroan bakal menggarap proyek studi seismic onshore. Sementara itu, Elnusa bakal bekerjasama dengan Chevron dan PT Pertamina untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga flare gas. Kedua perusahaan nantinya menyediakan flare gas dan perseoran menjadi operator pembangkit listriknya.

 

Direktur Utama Elnusa Tolingul Anwar mengatakan, perseroan didorong oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk mengembangkan teknologi tersebut. Selama ini,flare gas adalah limbah yang selalu menjadi isu lingkungan.

 

“Sekarang akan kita manfaatkan menjadi tenaga listrik,” jelasnya.

 

Proses pengembangan pembangkit listrik tenaga flare gas tergolong progresif. Menurut dia, perseroan sedang mempersiapkan administratif dengan pihak-pihak terkait, termasuk dengan perusahaan luar negeri yang menjadi mitra dalam mengembangkan proyek itu.

 

Potensi flare gas di Indonesia mencapai 200 million standard cubic feet of gas per day (mmscfd). Anwar memandang jumlah itu cukup potensial karena setiap 0,5 mmscfd gas flare bisa memproduksi listrik sebesar 700 Kilo Volt Ampere (KvA) – 800 KvA. “Jadi sangat signifikan,” jelasnya. (fik)

Emoticons0051

JAKARTA ID – PT Elnusa Tbk (ELSA) bakal bekerjasama dengan Chevron dan PT Pertamina untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga flare gas. Nantinya, kedua perusahaan tersebut akan menyediakanflare gas dan perseroan menjadi operator pembangkit listriknya.

Direktur Utama Elnusa Tolingul Anwar mengungkapkan, pihaknya didukung oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk mengembangkan teknologi tersebut. Selama ini, flare gas adalah limbah yang selalu menjadi isu lingkungan.

“Sekarang akan kami manfaatkan menjadi tenaga listrik,” jelasnya di Jakarta, Kamis (28/4).

Dia melanjutkan, proses pengembangan pembangkit listrik tenaga flare gas cukup progresif. Perseroan sedang dalam persiapan administratif dengan pihak-pihak terkait, termasuk dengan perusahaan luar negeri yang bakal menjadi mitra dalam mengembangkan proyek tersebut.

Potensi flare gas di Indonesia mencapai 200 million standard cubic feet of gas per day (mmscfd). Anwar memandang jumlah itu cukup potensial karena setiap 0,5 mmscfd gas flare bisa memproduksi listrik sebesar 700 Kilo Volt Ampere (KvA) – 800 KvA. “Jadi sangat signifikan,” jelasnya.

Menurut Anwar, pembangkit listrik tenaga flare gas dapat menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel milik perusahaan-perusahaan minyak. Sehingga, perusahaan-perusahaan tersebut dapat lebih efisien dan membuat perusahaan migas bisa lebih kompetitif.

Namun, Anwar mengungkapkan bahwa flare gas terdapat di sumur-sumur terpencil sehingga perseroan membuat pembangkit listrik portable. Selain itu, produksi flare gas juga tidak kontinyu karena cepat habis. Perseroan akan membuat pembangkit listrik jenis itu di berbagai wilayah di Indonesia yang memiliki flare gas.

Apabila flare gas di satu sumur habis, maka perseroan akan memindahkan pembangkit listriknya ke sumur lain yang masih memproduksi flare gas. Elnusa akan membangun pembangkit listrik melalui anak usahanya di sektor pembangkit listrik.

Anwar memandang bahwa kondisi indusri migas global saat ini masih lemah. Tetapi dia optimistis bahwa masih ada peluang di industri tersebut. Sementara itu, pemegang saham sepakat untuk menggunakan 20% dari laba bersih perseroan tahun lalu atau sebesar Rp 75 miliar sebagai dividen. Jumlah itu setara dengan Rp 10,2 miliar per saham. Manajamen perseroan menjelaskan, dividen bakal dibagikan paling lambat pada awal Juni tahun ini.

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Logo Baru Elnusa Menuju Energy Services Company
Posted on September 13, 2013 by Eva Martha Rahayu
SWA
Bertepatan dengan hari jadinya yang ke-44 tahun, PT Elnusa Tbk. meluncurkan logo dan identitas baru perusahaan sebagai pertanda perubahan visi – misi dan tekad manajemen untuk menjadi perusahaan terpercaya di bidang jasa industri energi.

Selain peluncuran logo baru, Elnusa pun merilis ‘Elnusa Care’ , ‘Elnusa Office Longue’, ‘Equipment is My Life,‘Elnusa Project Monitoring System, acara talk show HSE Sharing Knowledge dan penganugerahan QHSE Awards, serta program CSR Bantuan Beasiwa dan Santunan Dhuafa.

“Perayaan HUT ke-44 Elnusa ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah sejak berdiri dan melibatkan lebih banyak karyawan secara langsung termasuk yang di daerah operasi via video teleconference. Hal ini bukan tanpa alasan, karena pada ulang tahun kali ini meluncurkan logo dan identitas baru perusahaan yang sejalan dengan visi dan misi baru serta memperteguh business repositioning Elnusa sebagai perusahaan jasa energi terpercaya,” kata Elisa Massa Manik, Presiden Direktur PT Elnusa Tbk.

Selain itu, tahun 2013 juga ditetapkan sebagai Tahun Sumber Daya Manusia (Year of HR) yang berfokus pada peningkatan kompetensi, daya saing dan integritas setiap insan Elnusa.

Elnusa Care dengan nomor telepon hotline 500 545, sebuah layanan call center dan informasi untuk seluruh karyawan Elnusa mengenai benefit-benefit yang terkait dengan karyawan, seperti asuransi jiwa dan kesehatan, informasi rumah sakit, bantuan kelahiran, pemakaman, pengembangan SDM, pelatihan, karir, profil kompetensi, kesejahteraan karyawan, penyelesaian perselisihan, dsb.

Elnusa Office Longue adalah sebuah fasilitas berkantor di gedung Graha Elnusa di lantai 8 yang didedikasikan khusus untuk para karyawan yang bekerja di daerah operasi manakala mereka sedang bertugas di kantor pusat Jakarta. Berbagai fasilitas seperti ruang kerja komputer, locker room, family room with cable TV, meeting room, library, pantry, ruang lesehan serta meja kursi ala longue dengan wi-fi untuk mereka rileks sambil berdiskusi.

Dijelaskan Elisa, logo baru Elnusa ini awalnya telah melalui proses survei opini karyawan, direksi dan segenap stakeholder Elnusa yang mengerucut kepada tiga hal pokok yaitu Integritas, Energi, dan Independen.

Struktur bentuk logo bulat, bermakna dinamis dan sempurna. Elnusa sebagai perusahaan jasa, memiliki semangat dan kekuatan besar yang secara dinamis berperilaku responsif, adaptif, dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Kesempurnaan adalah komitmen dan integritas Elnusa untuk membangun negeri melalui bisnis energy services.

Konfigurasi gradasi ketebalan garis menciptakan impresi kecepatan berputar yang mengartikulasikan continuous improvement dalam penguasaan teknologi, peningkatan mutu sumberdaya insani, yang menghasilkan profesionalisme yang terpercaya guna mengakselerasi pertumbuhan bisnis dan pengembangan usaha.

Logo baru
Komposisi warna yang terdiri dari biru, merah, dan hijau merupakan cerminan karakteristik dan nilai Elnusa. Biru: teknologi, modern, dan synergy. Merah: energi, semangat, dan respectful (dapat diandalkan). Hijau: humanis, ramah lingkungan dan clean (jujur, integritas).

Tulisan ‘elnusa’ sebagai ‘logotype Elnusa’ menggunakan huruf Frutiger SAIN Bd v.1, memberi kesan ramah (lowercase/huruf kecil) dan tegas (bold/tebal).

Elnusa adalah perusahaan jasa energi terpadu, dengan kompetensi inti di jasa hulu migas yaitu jasa seismik (geoscience services), jasa pemboran (drilling services) dan jasa pemeliharaan lapangan migas (oilfield services). Saat ini Elnusa melayani perusahaan migas nasional mau pun multinasional, antara lain Pertamina Group, Total E&P Indonesie, Chevron, dan Vico Indonesia.

Kini, Elnusa memiliki 6 anak perusahaan yang bergerak dalam bisnis jasa hilir migas dan jasa penunjang migas. Saham ELNUSA saat ini dimiliki oleh PT Pertamina (Persero), dan PT Benakat Petroleum Energy Tbk serta sebagian oleh publik. (EVA)

doraemon
Topsaham – PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT Elnusa Patra Ritel mendidrikan anak perusahaan baru bernama PT Elnusa Trans Samudera pada akhir pekan lalu. Anak perusahaan bergerak di bidang jasa marine support, yang secara spesifik memeberikan jasa pendukung operasional kegitan perusahaan yang bergerak di bidang energi lepas pantai, termasuk perusahaan di bidang minyak dan gas (migas).

Kepemilikan saham perseroan di anak perusahaan baru itu sebesar 90 persen. Transaksi pendirian anak perusahaan baru itu merupakan transaksi afiliasi yang dikecualikan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Bapepam & LK tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan kepentingan Transaksi Tertentu.

Dalam keterangannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (12/11/2013) disebutkan, Elnusa sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini membukukan laba bersih mencapai Rp117,8 miliar atau naik 48 persen dari Rp79,5 miliar pada kuartal III tahun sebelumnya. Laba bersih tersebut sekitar 85,36 persen dari target perseroan hingga penghujung tahun ini sebesar Rp138 miliar.

Perseroan juga telah mendapatkan total kontrak senilai USD105 juta dari segmen jasa seismik atau eksplorasi. Kontrak baru itu diperoleh pada bulan Agustus 2013. Sebanyak 70 persen nanti carry over ke tahun berikutnya. Dengan adanya tambahan kontrak baru ini, diharapkan seismik tahun depan bisa memperoleh sekitar USD160-180 juta.

http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=9341:elnusa-bentuk-perusahaan-baru-&catid=39:makro

Sumber : TOPSAHAM.COM