energi terbarukan: OMDO v. akdo … 140711_110916_240517

inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

omdo = omong doang = ngoceh aja loh 😛

akdo = neh baru SIKAP n PERILAKU yang sesuai 🙂 (aksi donk)

kata tjuta ozSMALL

Jakarta – Pemerintah harus mengoptimalkan penggunaan energi baru terbarukan dalam penyediaan listrik di Tanah Air. Apalagi, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada 2020 sesuai Paris Agreement tahun 2011.

“Indonesia harus bisa konsisten menentukan arah penyediaan energi terbarukan. Sebab kondisinya semakin tertinggal dari negara lain, di kawasan Asia Tenggara sekalipun,” ujar Juru Kampanye Energi dan Perkotaan Walhi Dwi Sawung di Jakarta, Selasa (23/5).

Solusinya, menurut dia, perlu kebijakan yang menarik investor terhadap pengembangan jenis energi terbarukan. Hal ini sejalan  dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada 2020 sesuai Paris Agreement tahun 2011, dengan cara mengedepankan pengembangan 25 energi terbarukan. “Nah sekarang kan justru bertolak belakang, pengembangan energi terbarukan justru terhambat regulasi yang mengatur tarif jual 85% dari Biaya Pokok Produksi (BPP) regional,” paparnya.

Dwi juga mengaku heran pembangkit listrik dengan kapasitas 9.000 MW yang akan dibangun di Pulau Jawa dan Bali masih menggunakan batubara. Padahal, pembangkit listrik berbasis batubara terbukti menimbulkan polusi udara dan dampak negatif bagi kesehatan yang begitu besar.

Menurut dia, sudah saatnya pemerintah mengalihkan fokus ke energi terbarukan untuk sisa proyek 35 ribu MW. Perlu dipetakan sumber-sumber energi terbarukan di masing-masing daerah termasuk Pulau Jawa untuk memperkuat cadangan. Dengan demikian konsep energi terbarukan dapat didesain untuk jangka panjang, berkelanjutan, serta makin murah biayanya.
“Jadi tetap ada ruangan untuk pengembangan energi terbarukan di Jawa, karena memang demand terbesar di sini. Saya rasa banyak investor swasta yang berminat jika dibuka peluang itu,” paparnya.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldy Dalimi juga menyatakan, DEN terus mendorong pemerintah untuk memaksimalkan pemanfaatan energi terbarukan, meminimalkan penggunaan minyak, mengoptimalkan penggunaan gas bumi, dan batubara sebagai andalan pasokan energi nasional. “Energi terbarukan merupakan energi masa depan dan negara-negara maju secara diam-diam terus mengembangkan ini dengan pesat,” ujar Rinaldy yang juga Guru Besar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Dalam pengembangan energi terbarukan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Ali Herman Ibrahim menilai, peran dan partisipasi swasta sangat didorong oleh Presiden Jokowi di program 35 ribu MW. Di sisi lain, dengan kebutuhan investasi yang begitu besar, tidak mungkin PLN berjalan sendiri dalam program 35 ribu MW.

Ali menambahkan APLSI sudah melakukan survei kepada pelaku usaha kelistrikan swasta dan sebagian besar mempertanyakan konsistensi regulasi dari pemerintah. Regulasi yang ada selalu berubah-ubah sehingga membingungkan sektor swasta. Kemunduran perekonomian nasional yang dirasakan saat ini terjadi salah satunya karena tidak bergeraknya sektor swasta. “Regulator dinilai tidak menciptakan iklim kondusif untuk ekspansi pembangkitan. Terlalu banyak intervensi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Divisi Perencanaan Sistem PLN Adi Priyanto menilai target bauran energi terbarukan yang ditetapkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sebesar 25% pada 2025 sulit dicapai. “Target 25% itu agak berat direalisasikan tanpa dorongan pemerintah. Kita lihat ada daerah yang berpotensi besar jadi sumber energi terbarukan, tapi tidak ada demand di sana,” ucapnya.

Adi mencontohkan Flores memiliki potensi 2.000 MW geothermal, tapi potensi tersebut belum direalisasikan karena tidak ada beban di sana. “Saat ini perkembangan energi terbarukan untuk listrik masih memperhatikan keseimbangan supply-demand. Jika tidak ada beban atau demand, masih sulit berkembang,” ujarnya.

 

 

Euis Rita Hartati/ERH

Investor Daily

buttrock

JAKARTA, KOMPAS.com — Potensi sumber daya energi baru terbarukan (EBT) di kawasan timur Indonesia (KTI) sangat tinggi. Tetapi, investasi EBT di kawasan ini dinilai tidak akan menarik bagi investor. Apa sebabnya?

Andi Rukman Karumpa, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) kawasan Indonesia Timur, mengatakan bahwa investasi EBT di timur Indonesia tidak menarik karena selain minus insentif, regulasi juga tidak mendukung.

“Potensi EBT di KTI besar. Sayangnya, insentifnya yang lemah. Ini yang membuat swasta tidak terlalu tertarik masuk ke KTI,” kata Andi melalui keterangannya, Selasa (14/3/2017).

Tak hanya itu, regulasi yang dikeluarkan kementerian terkait juga tidak bersahabat bagi investor atau IPP (independent power producer).

Andi mengatakan, pihaknya menghargai keluarnya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 12/2017 tentang pemanfaatan sumber energi terbarukan bagi penyediaan tenaga listrik. Di sana juga ditegaskan, kewajiban PLN membeli listrik dari EBT.

Namun semangat dari Permen ini, menurut Andi, hanya bagaimana PLN bisa membeli listrik semurah mungkin dari IPP. Permen ini tidak memberikan rangsangan yang cukup bagi IPP untuk berinvestasi.

“Semangat Permen hanya bagaimana membeli murah. Tapi tidak dipikirkan bagaimana produksinya menjadi lebih murah lagi, sehingga marginnya menarik bagi pengusaha,” tutur Andi.

Andi mengatakan, investasi EBT di kawasan timur Indonesia mesti dibuat semenarik mungkin, sebab biaya investasi di KTI sangat mahal.

Menurut dia, adanya keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), beratnya medan yang dilalui ditambah lagi cost of fund yang besar. Juga ditambah minimnya dukungan perbankan karena perbankan menilai risiko di kawasan timur Indonesia sangat tinggi.

“Sebab itu, investasi di kawasan timur Indonesia ini jangan disamakan dengan wilayah lain, apalagi disamakan dengan Timur Tengah yang buminya semuanya datar dan tanahnya gratis, bunga banknya cuma 3 persenan,” ucap Andi.

(Baca: Minat Investor Asing Bangun Pembangkit Listrik EBT di Gorontalo Terkendala Regulasi )

Sebelumnya, pemerintah mengatakan akan menekan tarif listrik EBT semurah mungkin. Dalam Permen ESDM nomor 12/2017 disebutkan tarif EBT sebesar 85 persen dari biaya pokok penyediaan (BPP) daerah tempat pembangkit listrik EBT dibangun.

Menteri ESDM Ignasius Jonan sebelumnya mengatakan, pihaknya berpatokan pada tarif listrik pembangkit listrik EBT di Arab Saudi yang bisa mencapai 2,99 dollar Amerika Serikat (AS) sen per kwh.

Pemerintah Arab Saudi kemudian memberikan sejumlah insentif bagi pengembangan listrik EBT, di antaranya pemberian lahan gratis dan insentif pajak.

Jonan mengatakan, pemerintah bisa memberikan lahan secara gratis seperti di Arab Saudi asalkan ada pelaku industri yang bisa memberikan tarif listrik 1,99 dollar AS per kwh. Faktanya, belum ada satu pun investor yang mengajukan tarif EBT seperti di Arab Saudi itu.

“Ini menunjukan bahwa tawaran pemerintah belum menarik. Pak Menteri harus cari formula lain. IPP yang paham kebutuhannya apa,” tutur Andi.

Andi mengatakan, kebutuhan listrik di kawasan timur Indonesia sangat tinggi, utamanya dunia usaha. Meningkatnya kebutuhan listrik tersebut sebagai akibat dari keseriusan pemerintah pusat membuka isolasi daerah-daerah tertutup seperti di Papua, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Isolasi terbuka, ekonominya bergerak. Listriknya yang masalah. Kita kurang disini,” sebut Andi.

Andi menambahkan, rendahnya insentif ini akan membuat target pemerintah untuk mencapai bauran energi 23 persen pada tahun 2025 menjadi meleset lagi.

“Apalagi  kinerja sektor EBT bergerak negatif. Padahal, porsi EBT di negara-negara lain meningkat tajam,” pungkas Andi.

(Baca: Pengamat: Kok Semua Program EBT Harus Didanai Masyarakat? )

lol

Abu Dhabi detik– Negara ini salah satu penghasil minyak terbesar dunia. Produksi minyaknya mencapai 3 juta barel per hari. Sementata konsumsinya hanya 4-5% dari produksi tersebut, banyak yang diekspor.

Meski kaya minyak, namun Uni Emirat Arab (UEA) tidak mau menghamburkan minyaknya.

Demikian cerita dari Duta Besar RI Untuk UEA Husin Bagis di Abu Dhabi, saat ditemui di kantornya, Minggu (15/1/2017).

Husin bercerita soal perkembangan energi terbarukan di negara kaya minyak ini. Karena Menteri ESDM, Ignasius Jonan, pernah bercerita soal murahnya listrik energi terbarukan di negara ini, hanya 2,99 sen per kwh.

Di UEA, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bisa memproduksi listrik dengan harga hanya US$ 2,99 sen/kWh alias Rp 390/kWh. Lebih murah dari Indonesia, Feed in Tariff untuk PLTS yang mencapai US$ 15 sen/kWh atau sekitar Rp 2.000/kWh.

“UEA berusaha mengurangi ketergantungan listrik dari minyak. Bahkan negara ini mau mempunyai pembangkit listrik tenaga nuklir bekerjasama dengan Korea. Rencananya mulai beroperasi tahun depan,” kata Husin.

“Negara ini punya triliunan dolar dan zero corruption,” imbuhnya.

Usaha UEA untuk mengembangkan energi terbarukan sangat besar. Negara ini punya kota percontohan pengembangan energi terbarukan bernama Masdar City, yang dikembangkan oleh Masdar, perusahaan asal UEA.

Negara ini mengembangkan teknologi energi terbarukan dengan menggandeng ahli-ahli asing. “Namun nantinya orang asing ini akan berkurang dan digantikan oleh orang lokal, karena pemerintahnya punya program itu lewat Kementerian Tenaga Kerja dan Emitarisasi,” ungkap Husin.

Lewat teknologi inilah, lanjut Dubes, bisa membuat ongkos produksi listrik energi terbarukan tersebut murah.

Pemerintah Indonesia ingin mempelajari proses pengembangan energi terbarukan dari UEA. Jonan pada hari ini, Senin (16/1/2017), mengunjungi Abu Dhabi untuk melihat perkembangan energi terbarukan di negeri kaya minyak tersebut.

Bersama rombongan, ditencanakan akan hadir Direktur Utama 3 BUMN. Yaitu Dirut PT Pertamina (Persero), Dirut PT PLN (Persero), san Dirut PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). (dnl/ang)

buttrock

Jakarta detik -Managing Board Siemens AG, Roland Busch didampingi President Direktur & CEO PT Siemens Indonesia Josef Winter mengunjungi Kementerian Perindustrian. Perusahaan yang bergerak di bidang industri, energi, kesehatan ini menawarkan suatu sistem untuk membangun pembangkit listrik di daerah terpencil.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronikal Kemenperin, Gusti Putu Suryawirawan yang ikut dalam pertemuan mengatakan, Siemens memiliki sistem untuk membangun pembangkit listrik. Nanti kalau sudah jadi membangun, maka akan ada BUMN yang mensupplai komponen pembangkit listrik tersebut.

“Mereka sudah mengembangkan sistem untuk di daerah-daerah remote area (terpencil) untuk pembangkit listrik. Dia berharap dengan adanya sistem itu, nanti ada bagian-bagian yang bisa dibikin disini, diproduksi lokal,” ujar Putu, di Kemenperin, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (8/9/2016).

Perusahaan asal Jerman itu tertarik dengan proyek pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW di Indonesia. Nantinya, Siemens akan menemui PLN untuk mendiskusikan hal tersebut.

“Terkait dengan proyek 35.00 MW tapi mereka menawarkan yang agak unik. Di tempat-tempat yang agak remote. Remote itu nggak ada Sutet, jadi di tempat yang nggak ada sutetnya itu mereka membuat satu sistem yang stand alone. Apakah pakai gas, atau campuran gas dan solar, tapi suatu sistem yang bisa dikembangkan nantinya oleh industri-industri kita. Jadi bisa melibatkan Barata, bisa melibatkan PT PAL, pokoknya BUMN-BUMN itu bisa dilibatkan untuk mengembangkan sistem itu,” jelas Putu.

Bila Siemens jadi membangun, maka akan menggandeng BUMN seperti Barata dan lainnya supaya bisa ikut membangun berapa komponen pelengkapnya. Misalnya komponen pembangkit listrik adalah boiler dan turbin, nanti akan dilihat komponen apa yang bisa dibuat perusahaan lokal, sehingga nanti akan mensupplai pembangkit listrik tersebut.

Belum diputuskan pembangunan proyek ini di daerah mana. Akan tetapi, pemerintah ingin industri dalam negeri maju dalam pembangunan pembangkit listrik dengan memakai konten lokal misalnya hingga 75%.

Selain itu, Siemens juga ingin membangun teknologi lokomotif untuk LRT. Dengan begitu, diharapkan juga bisa bekerja sama dengan PT INKA sebagai industri pembuat kereta dalam negeri.

“Satu lagi dia juga punya teknologi untuk lokomotif, untuk LRT untuk kereta yang medium speed. Itu juga ditawarkan. Kalau bisa dibuatkan standarnya, mereka juga berharap di sini ada partner seperti PT INKA memproduksi lokomotif,” kata Putu.

(drk/drk)

ets-small

 

JAKARTA, May 31 (Xinhua) — Indonesia and Norway on Tuesday agreed to bring the cooperation in renewable energy, environment and fishery to a higher level, the Indonesian foreign minister said here.

Indonesian President Joko Widodo met with Foreign Minister of Norway Borge Brende at the State Palace on Tuesday.

“Norwegian foreign minister stated that nearly all of energy used in Norway resulted from hydro power,” Minister Retno said after the meeting.

Indonesia is attempting to diversify sources of its energy to meet rising energy demand as the country’s oil production has been dwindling.

On environment sector, President Widodo stressed the need of speeding up the two countries’ cooperation on reducing carbon emission.

Indonesia and Norway have cooperated on reducing emission from deforestation and degradation or REDD plus since 2010.

Recently, Indonesia has taken measures to restore millions of hectares of peat land across the country, including establishment of a moratorium on opening of new palm oil plantations on peat land, in part to prevent forest fires from happening.

new-chin-year-dragon-02

yahoo finance: Origin Energy is continuing its shift toward renewables by agreeing to buy the entire output of what should become Australia’s most productive solar farm.

Origin says it has agreed to purchase the output from the proposed 300-hectare Clare Solar Farm in northern Queensland, which is expected to start operation in 2017.

The farm is owned by Spain’s Fotowatio Renewable Ventures, which also owns the new Moree Solar Farm in northern NSW. Origin in March committed to purchasing its output.

“The cost of solar is falling rapidly compared to other renewable resources … Now is the ideal time to invest in solar and we have been actively looking for opportunities to diversify and add more renewable energy to our portfolio,” Origin Energy Markets chief executive Frank Calabria said in a statement.

new-chin-year-dragon-02

Tingginya angka konsumsi listrik di pusat belanja atau mal Jakarta membuat program penghematan Sumber Daya Alam (SDA) terganggu. Untuk itu, pemerintah mengimbau pengusaha mal maupun properti untuk mulai menggunakan pembangkit listrik tenaga surya sebagai solusi alternatif.

Wakil Presiden Direktur Agung Podomoro Land, Handaka Santosa, menyambut baik rencana tersebut. Pasalnya, pengeluaran yang dikeluarkan perusahaan untuk kebutuhan listrik tergolong cukup besar.

“Kalau mau efisien, ya kita setuju apapun kebijakannya. Memang itu kalau pakai listrik konsumsi dan biaya besar. Kita saja bayar Rp4-5 miliar per bulan,” ujarnya di Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut, Handaka mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengalihan sumber daya listrik. Mal milik perseroan saat ini menggunakan pembangkit listrik berbahan baku gas. “Mal kita saat ini pakai gas generator,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan satu hal yang perlu diperhatikan pemerintah bila kebijakan ini diterapkan yakni pemerintah harus menjamin pasokan bahan baku. “Kalau tidak ada suplai kan repot. Jadi, siapkan suplainya,” tutur Handaka.

http://bisnis.vivanews.com/news/read/233123-pebisnis-mal-sambut-positif-energi-alternatif

Sumber : VIVANEWS.COM

ayo BANGUN bisnis energi terbarukan … 241109_240517

 

KUPANG, KompasProperti – Bangunan jembatan Pancasila Palmerah yang menghubungkan Pulau Flores dan Adonara di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menjadi ikon dunia, karena jembatan itu menghasilkan energi listrik.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT Andre Koreh mengatakan, energi listrik yang dihasilkan itu berasal dari arus laut cukup tinggi yang berada di bawah jembatan itu.

“Di bawah jembatan itu akan dipasang turbin yang berputar dengan kekuatan arus laut 3,5 meter per detik menurut penelitian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Arus laut itu berpotensi menghasilkan energi listrik sekitar 300 megawatt,” terang Andre kepada KompasProperti, Selasa (23/5/2017).

Menurut Andre, teknologi tersebut adalah sesuatu yang baru, karena belum pernah diterapkan di Indonesia jembatan yang menghasilkan energi listrik.

“Jadi ini yang baru pertama kali, sehingga jembatan ini bukan menjadi ikon di Indonesia saja, tapi menjadi ikon dunia, karena di dunia belum ada juga yang dipasang seperti ini,” tuturnya.

Andre mengatakan, di Belanda, jembatan dengan bentangan 4 kilometer, yang dipasang turbin hanya 100 meter dan itu sudah digunakan.

Jembatan Pancasila Palmerah ini dengan panjang bentangan 800 meter ini, akan dipasang turbin 400 meter.

Sedangkan 150 meter di arah Pulau Adonara dan 250 meter ke arah Larantuka (Pulau Flores), tidak dipasang karena akan dipakai untuk jalur pelayaran kecil atau pelayaran rakyat.

Saat ini kata Andre, masih dilakukan koordinasi lintas kementerian antara Kementerian PUPR dan ESDM di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Kemaritiman dan sudah masuk ke dalam proyek strategis nasional.

Selain itu juga adanya koordinasi dengan PLN sebagai operator yang akan membeli energi listrik itu.

Sampai saat ini masih dibahas skema pembiayaannya, sektar sektor yang memimpin antara Kementerian ESDM atau Kementerian PUPR serta PLN.

Ia juga mengaku, akan ada pertemuan antara investor penyandang dana dan pemerintah daerah (pemda) yang punya wilayah, pemerintah pusat yang punya kebijakan dan PLN sebagai pembeli arus listrik, untuk membahas lebih detail proyek pembangunan jembatan itu.

Untuk diketahui, rencana peletakan batu pertama pembangunan jembatan ini dipastikan akhir tahun 2017.

Andre mengatakan saat ini masih dilakukan kegiatan pra-studi kelayakan (feasibility study). Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT telah mengalokasikan dana melalui APBD 1 sebesar Rp 1,5 miliar dan juga dukungan tambahan dana dari pemerintah pusat melalui APBN sebesar Rp 10 miliar.

Seluruh pembiayaan untuk pembangunan jembatan itu, ditanggung sepenuhnya oleh investor asal Belanda, dengan nilai investasinya sebesar 400 juta dollar AS atau setara dengan Rp 5,2 triliun.

Andre menyebut, pembangunan jembatan Pancasila Palmerah, dibagi dalam dua tahap yakni 175 juta dollar AS sampai 200 juta dollar AS untuk tahap pertama dan sisanya pada tahap kedua akan ditambah 200 juta dollar AS.

Sementara untuk studi kelayakan jembatan itu dilaksanakan oleh PT Buana Archicon dan didukung oleh PT Tidal Bridge Indonesia, yang merupakan perusahaan cabang dari Tidal BV Belanda.

Untuk bentuk dan desain jembatan, masih menungu hasil kajian dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Tentunya bentuk jembatan bernilai arsitektural dan bisa mengangkat budaya lokal dan filosofi pancasila.

PT Tidal Bridge Indonesia yang menjadi mitra dari PT Buana Archicon sebagai pemenang tender untuk studi kelayakan jembatan, akan meminta kepada IAI NTT, untuk mendesain model jembatan, dengan mekanisme bisa antara 10 sampai 15 model.

“Mereka akan memilih tiga atau empat model terbaik. Setelah itu akan didiskusikan dengan pemprov dan dipilih satu dan itulah yang akan dipakai,” jelas Andre.

Rencananya, pada awal juni ini, PT Buana Archicon dan PT Tidal Bridge Indonesia, mendatangkan kapal yang bertugas untuk melakukan penelitian di sekitar Selat Gonsalu, yang menjadi tempat dibangunnya jembatan itu.

Andre berharap, semua rencana pengerjaan proyek pembangunan jembatan itu bisa berjalan dengan baik dan lancar, sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat.

ets-small

Jakarta detik -Ketika diangkat menjadi Menteri ESDM pada Oktober 2014 lalu, Sudirman Said berjanji akan menjadikan energi baru terbarukan (EBT) sebagai arus utama, bukan lagi ‘lampiran’ dalam kebijakan energi.

Sebagai bukti komitmennya memajukan energi terbarukan di Indonesia, Sudirman mengaku telah meningkatkan anggaran untuk EBT hingga 100%. Rata-rata anggaran EBT di periode sebelumnya hanya Rp 1 triliun per tahun, kini di era kepemimpinannya rata-rata anggaran untuk EBT mencapai Rp 2 triliun per tahun.

“Anggaran EBT naik cukup signifikan dari rata-rata sebelumnya Rp 1 triliiun, sekarang lebih dari Rp 2 triliun,” kata Sudirman, dalam jumpa pers usai Bali Clean Energy Forum di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/2/2016).

Meski sudah naik 2 kali lipat, Sudirman mengakui, sebenarnya anggaran untuk EBT masih tergolong kecil dan belum mencukupi. Sebab, kemampuan anggaran pemerintah memang terbatas. Namun, kurangnya anggaran itu tidak menjadi penghalang untuk pengembangan EBT. Pihaknya terus berupaya membuat kebijakan-kebijakan untuk menarik investasi di bidang EBT.

Dengan banyaknya investor yang berbisnis EBT, pengembangan EBT pun bisa berjalan kencang tanpa perlu banyak anggaran dari APBN. “Anggaran dari APBN nggak sampai Rp 10 triliun, pemerintah punya prioritas-prioritas lain, yang kita dorong adalah investasi,” tukas dia.

Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana, menambahkan anggaran yang dikeluarkan pemerintah hanya ‘pemicu’ saja untuk pengembangan EBT, juga untuk membangun infrastruktur EBT yang tidak tersentuh oleh pihak swasta.

Peran utama pemerintah dalam pengembangan EBT menciptakan regulasi-regulasi dan iklim yang kondusif agar investor tertarik menanamkan modal di bidang EBT, mulai dari feed in tariff yang ekonomis, pemangkasan perizinan, pemberian insentif, dan sebagainya.

“APBN itu pemancing saja, sambil juga untuk melistriki daerah-daerah yang belum tersentuh investor. Kita keluarkan berbagai aturan untuk menarik investasi. Kalau kita mengembangkan EBT pakai APBN saja sampai kapan pun tidak akan kuat,” papar Rida.

Pihaknya mengklaim berbagai kebijakan yang telah dibuat pemerintah telah membuat bisnis EBT semakin seksi sehingga investasi meningkat. “Sekarang investasi makin banyak karena harga makin bagus, izin juga makin singkat,” tutupnya.

(wdl/wdl)

JAKARTA okezone – Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir, melepas langsung keberangkatan Kapal Marine Vessel Power Plant (MVPP) “Karadeniz Powership Zeynep Sultan” berkapasitas 120 Mega Watt (mw) dari Pelabuhan Nusantara Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sebelum melepas keberangkatan kapal, Presiden Joko Widodo juga melakukan peninjauan kapal MVPP dengan ditemani Dirut PLN Sofyan Basir, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri ESDM Sudirman Said dan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Kapal yang berisi pembangkit listrik yang baru datang dari Turki ini akan menuju Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Program ini merupakan salah satu upaya PLN untuk memperkuat pasokan listrik di beberapa lokasi di Indonesia, salah satunya di Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo yang terhubung dalam sistem interkoneksi kelistrikan 150 kilo Volt (kV) Sulawesi Utara – Gorontalo (Sulutgo).

MVPP buatan tahun 2014 ini disewa PLN selama jangka waktu 5 tahun. Titik koneksi awal Marine Vessel ini di Amurang , selanjutnya PLN juga akan mendatangkan power plant serupa untuk beberapa lokasi antara lain Sumatera Bagian Utara (240 MW), Kupang (60 MW), Ambon (60 MW), dan Lombok (60 MW).

Beberapa keunggulan MVPP diantaranya yakni menurunkan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik, kemudahan relokasi (hanya perlu waktu 3 – 4 minggu) sehingga dapat fleksibel memenuhi kebutuhan listrik di suatu daerah, penghematan hingga Rp 350 miliar per tahun dan lebih cepat dalam memenuhi kebutuhan tambahan pasokan listrik di suatu daerah yang sedang kekurangan listrik.

Untuk Marine vessel power plant pertama ini dioperasikan dengan dua bahan bakar atau dual fuel engine yaitu fuel jenis heavy fuel oil dan gas. Sementara pembangunan tower transmisi 150 kV yang menghubungkan MVPP ke switchyard untuk selanjutnya disuplai ke Gardu Induk Lopana. Perjalanan MVPP ke Amurang diperkirakan memakan waktu sekitar tujuh hari, dan diharapkan tanggal 23 Desember sudah bisa menambah pasokan listrik Sulawesi Utara.

Sejak diberangkatkan pada awal November 2015, MVPP telah menempuh perjalanan hampir 30 hari melalui jalur Terusan Zues, Laut Merah, hingga ke Samudra Hindia dan Srilangka, baru masuk ke perairan Indonesia. Kapal tiba di Indonesia, tepatnya di Tanjung Priok pada 1 Desember untuk proses Customs Clearence (Pemeriksaan Administrasi di Bea Cukai).

Pembangkit listrik di atas kapal ini akan segera memenuhi kekurangan pasokan listrik di Sulawesi Utara dan Gorrontalo. Beban puncak sistem kelistrikan Sulawesi Utara dan Gorontalo saat ini mencapai 325 MW, sedangkan daya mampu pembangkit yang ada jika semuanya beroperasi optimal adalah 320 MW. Daya mampu pasok dari pembangkit yang beroperasi saat ini hanya 275 MW, ini dikarenakan PLTP Lahendong unit 4 sedang pemeliharaan agar pada saat pelaksanaan Pilkada, 9 Desember bisa beroperasi dengan handal. Selain itu, PLTU Amurang unit 1 mengalami gangguan serta belum optimalnya operasi PLTA, dimana hanya mampu memproduksi listrik 23 MW dari 45 MW. Hal ini yang menyebabkan berkurangnya daya mampu suplai pembangkit atau defisit sebesar 50 MW.

“Kami harapkan dengan adanya Marine Vessel Power Plant ini akan mampu memasok sistem kelistrikan Sulawesi utara dan gorontalo melalui tegangan 150 kV, sehingga diharapkan kondisi defisit pasokan listrik di sistem Sulawesi Utara dan Gorontalo akan dapat teratasi dan daftar tunggu pelanggan listrik dapat segera dilayani” ungkap Direktur Utama PT PLN (Persero), Sofyan Basir.

Saat ini PLN juga tengah menyelesaikan pembangunan PLTG Gorontalo total kapasitas 100 MW, dimana satu unit ditargetkan beroperasi pada akhir Desember 2015 atau di awal Januari 2016. PLTG Gorontalo akan menjadi pembangkit pertama dari program pembangunan pembangkit 35.000 MW yang beroperasi.

Dalam sambutannya Presiden Joko Widodo mengungkapkan pemilihan Pembangkit Listrik Diatas Kapal dianggap tepat mengingat Indonesia negara kepulauan dengan 17.000 pulau, maka pembangkit listrik di atas kapal yang bisa mobile dari satu pulau ke pulau lain‎ paling cocok dengan Indonesia.

(rzy)

 

JAKARTA. Pemerintah berencana menggenjot penyerapan biodiesel membuat mandatori B15. Dengan adanya ketentuan tersebut, emiten perkebunan pun beramai-ramai masuk ke bisnis biodiesel.

PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) tengah membangun pabrik biodiesel di Lampung. Pabrik tersebut akan memiliki kapasitas 1.050 ton Crude Palm Oil (CPO) per hari. Untuk itu, TBLA perlu merogoh kocek US$ 15 juta. Dengan nilai tukar Rupiah di kisaran Rp 13.600, artinya investasinya bernilai Rp 204 miliar.

Sumber KONTAN mengatakan, TBLA telah melakukan pembangunan pabrik biodiesel tersebut di pertengahan tahun 2015. Adapun, pabrik tersebut ditargetkan rampung sekitar 2-3 bulan mendatang.

Kemudian, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) pun berencana mengembangkan bisnis sawitnya hingga ke hilir. SSMS akan membangun pabrik biodiesel tahun depan. Pabrik itu berlokasi di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah karena dekar dengan lahan perseroan. Untuk itu, investasinya mencapai US$ 20 juta.

Penggarapan biodiesel ini dilakukan melalui induk SSMS yakni PT Citra Borneo Utama. Di situ, SSMS melakukan penyertaan modal sebanyak 19%.

Selain itu, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) berencana menambah kapasitas produksi biodieselnya sebanyak 300.000-600.000 ton di tahun depan. Sampai akhir tahun ini, SMAR memproyeksikan produksi 1,3 juta ton biodiesel. Rinciannya yakni 300.000 ton berasal dari pabriknya di Marunda dan 1 juta ton dari pabrik di Dumai.

Analis Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menilai penggarapan biodiesel oleh emiten perkebunan semestinya mampu meningkatkan permintaan CPO dan mendongkrak harga. “Untuk emiten bagus kalau implementasinya berjalan baik. Cuma yang jadi masalah adalah keseriusan PT Pertamina,” katanya.

Apabila nantinya berjalan baik, Kiswoyo memperkirakan dampak penggunaan biodiesel terhadap kenaikan harga CPO akan membutuhkan waktu. Ia merasa, pengaruhnya bisa terasa 6 bulan setelah implementasi dijalankan.

Saham TBLA diam di Rp 495 dan SMAR stagnan di Rp 4.400. Sedangkan saham SSMS menghijau 1,32% ke posisi Rp 1.915.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/emiten-perkebunan-serempak-garap-biodiesel
Sumber : KONTAN.CO.ID

Merdeka.com – Pemerintah meminta PT PLN (Persero) menggunakan campuran biodiesel untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Hal ini untuk mencapai target penyerapan biodiesel mencapai 5,2 juta kiloliter (KL) pada tahun depan.

“PLN sudah berkomitmen bahwa PLTD sudah harus dicampur dengan biodiesel yang nanti akan disuplai oleh Pertamina” ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana di kantornya, Jakarta, Jumat (9/10).

Nantinya, selisih harga pembelian biodiesel oleh PLN bakal dialokasikan ke Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kelapa sawit. Pasalnya, harga biodiesel lebih mahal ketimbang bahan bakar solar.

“Jadi ada percampuran keduanya untuk peroleh harga yang nantinya disanggupi PLN. Nantinya juga untuk target pembelian biodiesel sebanyak 2,76 juta kl untuk transportasi, 1,12 juta kl untuk industri dan 1,26 juta kl untuk PLN pada 2016,” kata dia.

Sementara, realisasi penyerapan baru mencapai 504.000 KL untuk transportasi dan 195.873 KL untuk industri hingga September 2015.

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menargetkan adanya penghematan devisa sekitar US$ 1,94 miliar pada tahun depan dari penjualan Biosolar. Target dapat tercapai jika perseroan mampu serap unsur nabati (fatty acid methyl ester/FAME) sebanyak 5,14 juta kiloliter (KL) sebagai campuran solar.

 

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro mengatakan, campuran FAME pada solar ditargetkan meningkat dari tahun ini yang hanya 15% untuk solar bersubsidi dan industri dan kelistrikan 25%. Pada 2016, campuran FAME pada solar bersubsidi dan industri naik menjadi 20% dan kelistrikan 30%.

 

Untuk itu, kebutuhan FAME perseroan pada tahun depan diperkirakan mencapai 5,14 juta KL. Rincinya, sebagai campuran solar bersubsidi sebesar 2,76 juta KL, industri 1,12 juta KL, dan kelistrikan 1,26 juta KL.

 

“Apabila diasumsikan ratarata indeks harga gasoil tahun depan di kisaran US$60 per barel, maka Pertamina akan menghemat devisa sebesar USid=”mce_marker”,94 miliar. Langkah ini menjadi satu lagi bukti penting dan konkret upaya Pertamina untuk mencegah aliran devisa ke luar negeri, khususnya dari impor Solar,” kata Wianda dalam siaran resminya, Minggu (4/10).

 

Sementara itu, untuk tahun ini Pertamina menargetkan dapat menyalurkan FAME sebanyak 966.785 KL hingga akhir tahun. Jika harga indeks pasar gasoil diasumsikan sebesar US$60 per barel, penyerapan FAME tersebut setara dengan penghematan devisa sekitar US$360 juta.

 

Wianda mengatakan, pihaknya optimistis penyerapan FAME akan sesuai dengan target. Pasalnya pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No 61 tahun 2015 yang mengamanatkan pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit, di mana selisih akibat fluktuasi harga FAME dan Diesel akan diatasi oleh lembaga tersebut. Selain menghemat devisa, pencampuran FAME juga dapat memangkas bahkan menghilangkan impor solar pada sisa tahun ini.

 

Setiap bulannya, Pertamina biasanya harus mengimpor solar 120 ribu KL guna memenuhi kebutuhan nasional. Namun, Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution Pertamina Muhamad Iskandar menuturkan, impor solar saat ini sudah mulai berkurang seiring dengan menurunnya konsumsi di dalam negeri. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, konsumsi solar nasional turun sebesar 15%.

 

Kemudian dengan mencampur FAME sebesar 15%, konsumsi solar yang dikurangi juga dapat sebesar volume FAME tersebut. Apalagi, jika PT PLN (Persero) juga mulai memanfaatkan biodiesel untuk pembangkitnya. “Program ini kan FAME 15% dan sekarang kan impor 15%. Kalau ini jalan, bisa-bisa tidak perlu ada impor solar lagi,” tutur Iskandar. (ayu)

 

http://id.beritasatu.com/energy/jual-biosolar-pertamina-targetkan-hemat-devisa-us-194-miliar/129001
Sumber : INVESTOR DAILY

LONDON, Sept. 24 (Xinhua) — Britain’s total share of electricity generation from renewable energy reached a record high of 25 percent in the second quarter of this year, according to a report released Thursday by the government’s department of energy and climate change (DECC).

The hike in renewable energy production in the second quarter was due to favorable weather conditions, including higher wind speeds, rainfall and sun hours, as well as more turbines and solar panels having been installed, the report said.

This was an increase of 8.6 percentage points over the same period of last year when the figure stood at 16.4 percent, according to the statistics.

Among the renewables, solar power saw the strongest surge between April and June, rising by 114.8 percent over last year. Electricity from wind went up by 65 percent year-over-year, driven by the expansion of several large-scale offshore wind farms. Electricity from biomass also rose by 26 percent year-over-year.

In general, gas took up the largest share of electricity generation in the second quarter, about 30 percent of the total. Renewables and nuclear energy came in second and third, while coal fell back to fourth place, with a share of 20.5 percent. Enditem

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Golden Agri Resources Ltd ingin meningkatkan kapasitas produksinya di Indonesia. Induk usaha PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) ini akan membangun dua pabrik biodiesel di Indonesia. Pabrik tersebut memiliki kapasitas masing-masing 200.000 ton per tahun.

Untuk keperluan membangun pabrik itu, Golden Agri merogoh biaya sekitar 150 juta dollar AS hingga 200 juta dollar AS. Dengan nilai tukar di sekitar Rp 13.700, maka investasinya setara dengan Rp 2,05 triliun sampai Rp 2,74 triliun.

“Sumber dana dari hasil arus kas,” ucap Richard Fung, Direktur merangkap Investor Relation Golden Agri Resources, kepada Kontan, Kamis (13/8).

Ia berharap pembangun pabrik biodiesel tersebut rampung tahun depan. Pabrik pertama diperkirakan selesai di semester pertama dan pabrik kedua di semester berikutnya. Untuk penjualan produk biodisel, Golden Agri kini dalam proses tender dengan PT Pertamina (Persero).

Selebihnya juga akan dijual untuk program biodiesel pemerintah. Terlebih pemerintah sudah berkomitmen mendorong pemakaian biodiesel dengan menerapkan mandatori B15. Ia memperkirakan, implementasi B15 ini dapat tercapai dalam 1-2 tahun mendatang.

Pada awal Agustus, Golden Agri juga baru saja mengakuisisi 100 persen saham perusahaan yang bermarkas di Jerman yakni Victory Oleo Holding GmbH. Untuk itu, Golden Agri merogoh kocek 305.000 euro atau sekitar Rp 4,66 miliar.

“Victory Oleo akan mengembangkan pemasaran produk oleochemical di Eropa dan Amerika Latin,” sebut Rafael B. Concepcion Jr., Chief Financial Officer Golden Agri Resources.

Hingga semester I tahun ini, Golden Agri telah mengeluarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai 32 juta dollar AS untuk hulu dan hilir. Sepanjang tahun ini, Golden Agri menganggarkan capex 130 juta dollar AS untuk hulu dan 170 juta dollar AS untuk hilir.

Dalam jangka pendek, Richard memperkirakan harga Crude Palm Oil (CPO) masih akan menurun. Ini karena dampak turunnya harga mineral mentah serta tingginya penawaran minyak kacang kedelai. Meski begitu, ia optimistis harga CPO akan membaik tahun depan ditopang rendahnya pertumbuhan produksi kelapa sawit.

Tahun ini, Richard memperkirakan pertumbuhan produksi CPO Golden Agri akan sedikit lebih rendah ketimbang tahun lalu. Adanya badai El Nino pun baru akan berpengaruh di kuartal empat tahun ini atau tahun depan. (Annisa Aninditya Wibawa)


Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber : KONTAN

Yuliadi Kadarmo
Associate Analyst Berita Daerah
Mendorong Pemanfaatan Rumput Laut Sebagai Sumber Energi Terbarukan
Selasa, 3 November 2009 13.37 WIB

(Vibiznews – Business) – Kita tidak mewarisi bumi ini dari orang tua kita,
tetapi kita meminjamnya dari anak-anak kita (Antoine de Saint Exupery)

Adalah sangat tepat petuah bijak di atas bila kita kemudian bergegas melakukan aksi nyata dalam mencari sumber-sumber energi terbarukan dan berkelanjutan (renewable and sustainable energy) pada saat ini, demi masa depan bumi yang kita diami bersama.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati baik di darat maupun lautan. Di antara sumberdaya hayati tsb, telah terbukti, misalnya, tebu, jagung, dan ketela sebagai tanaman yang mampu menghasilkan bahan bakar sekelas premium, minyak buah jarak dari tanaman jarak sebagai pengganti minyak tanah dan solar untuk sumberdaya hayati daratan. Selain itu, rumput laut yang merupakan sumberdaya hayati di lautan, terbukti juga sebagai sumber energi terbarukan yang lebih kompetitif dibandingkan komoditas lainnya (DKP, 4/11/2008). Oleh karena itu, dalam tulisan ini, kami fokus membahas rumput laut sebagai bahan untuk biofuel ( bahan bakar nabati terbarukan). Disamping itu, rumput laut dipilih karena dia memiliki keunggulan absolut, yakni sebagai sumber energi alternatif yang tidak akan mengganggu pemanfaatan lahan daratan sebagaimana terjadi pada tanaman tebu, jagung, ketela dan jarak.

Rumput Laut: Lebih Kompetitif dan Multiguna

Adalah jenis rumput laut yang bervarietas Geladine akan dikembangkan untuk biofuel. Hingga sekarang, varietas ini telah dibudidayakan di sejumlah daerah, yakni di Maluku seluas 20 ribu ha, Belitung Timur dan Lombok sekitar 10 ribu ha. Selain ketiga daerah tsb, sejumlah daerah di Indonesia juga sangat potensial dikembangkan sebagai daerah budidaya rumput laut, yakni Takalar (Sulsel), Karang Asem (Bali), Sumenep (Jatim), Lombok Barat (NTB), Gorontalo, Jakarta Utara (DKI), Kota Baru (Kalsel), P. Sawu (NTT). Di daerah-daerah tsb, dapat dibudidayakan jenis rumput laut (mikroalga) seperti diatom (Bacillariophyceae), gang-gang hijau (Chlorophyceae), ganggang emas (Chrysophyceae), dan ganggang biru (Cyanophyceae). Dari keempat kelompok tsb, mereka dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioenergi (Mujizat Kawaroe, 2008).

Mengapa rumput laut lebih kompetitif dibandingkan sumberdaya hayati lainnya sebagai biodisel? Hal ini, misalnya, karena hasil penelitian membuktikan bahwa dalam 1 ha lahan, mikro alga dapat menghasilkan 58.700 liter minyak pertahunnya, atau jauh lebih besar dibandingkan jagung yang hanya 172 liter/tahun dan kelapa sawit yang hanya 5.900 liter/tahun (DKP, 04/11/2008). Studi lain juga menemukan hal yang sama, yakni dalam salah satu lipid (minyak organik) mikroalga ini, ternyata terdapat hidrokarbon, yaitu senyawa dasar pembentuk bahan bakar. Adapun kandungan lipid dalam mikroalga diketahui mencapai 20 %, dan kandungan tsb masih dapat ditingkatkan melalui cara rekayasa genetis hingga mencapai 50 % (Mujizat Kawaroe, dan Warintek Nganjuk, 2008). Tidak hanya berguna untuk biofuel, mikro alga juga merupakan organisme terefisien dalam menangkap dan memanfaatkan energi matahari dan C02 untuk keperluan fotosintesis, dan dia sangat membantu dalam pencegahan terjadinya pemanasan global (Mujizat Kawaroe, 2008). Untuk pengetahuan umum, di kalangan ilmuwan, rumput laut dikenal dengan nama alga, dan berdasarkan ukurannya dibedakan dua golongan, yaitu mikro alga dan makro alga. Dari keduanya, mereka adalah organisme penghasil oksigen yang sangat dibutuhkan oleh semua penghuni laut sehingga peranan keduanya juga sangat penting dalam ekosistem laut (AB. Susanto, 24/04/09).

Kebermaknaan Rumput Laut

Ada sejumlah alasan mengapa Indonesia harus mendorong pemanfaatan rumput laut sebagai energi terbarukan. Diantaranya adalah:

1. karena rumput laut tidak dikonsumsi setiap saat oleh manusia
maka saat dia dijadikan sumber energi terbarukan, maka relatif
kecil konsekuensi yang timbul dari pemanfaatannya
sebagai biofuel.

2. sebagai negara kepulauan dengan pantai yang panjang dan iklim
yang hangat sepanjang tahun, maka Indonesia adalah negara yang
mampu menyediakan rumput laut sebagai bahan pembuatan
bioenergi. Oleh karena itu, Indonesia sangat besar berpotensi
sebagai salah satu negara pemasok bahan bakar nabati (biofuel)
guna memenuhi kebutuhan dunia yang semakin meningkat akan
energi bersih.

3. sebagai pensubstitusi bahan bakar fosil, pemanfaatan rumput
laut sebagai biodisel adalah bersifat terbarukan dan
berkelanjutan serta termasuk energi bersih dan efisien.

4. dapat mencegah terjadinya pemanasan global (Mujizat Kawaroe,
2008).

Dalam kaitannya dengan uraian pada poin 1-4 di atas, Pemerintah Indonesia telah memberikan payung hukum untuk hal itu, yakni melalui Perpres No 5 Tahun 2006. Dalam Perpres ini, dikemukakan perihal tentang Kebijakan Energi Nasional yang bertujuan menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri dan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Adapun pembangunan berkelanjutan dimaksud berarti pengembangan energi terbarukan yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat secara murah dan terjangkau.

Bermitra dengan Pihak Ke Tiga

Saat ini, Indonesia memiliki sumberdaya rumput laut yang banyak, tetapi kita belum menguasai teknologi tinggi untuk memanfaatkan rumput laut sebagai sumber energi terbarukan. Oleh karena itu, Indonesia perlu mitra dalam upaya pemanfaatan rumput laut sebagai sumber energi terbarukan. Dalam kaitan dengan hal ini, kita dapat menjalin kemitraan dengan Korea Selatan (Korsel). Mengapa Korsel dipilih? Penyebabnya adalah Korsel sudah memiliki road map, model, grand strategy, dan teknologi tinggi untuk menjadikan rumput laut sebagai energi terbarukan (DKP 4/11/2008).

Namun patut diingat, jalinan kemitraan itu haruslah memberikan keuntungan bagi kedua pihak, baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Dari kemitraan tsb, Indonesia haruslah, misalnya, mendapatkan alih teknologi untuk pengembangan teknologi terbaru dan maju dalam hal budidaya rumput laut, pelibatan para peneliti dalam negeri untuk workshop dan penelitian bersama tentang rumput laut, pengembangan kapasitas sumberdaya manusia melalui program pendidikan dan pelatihan di subsektor rumput laut, dan pengembangan pemanfaatan spesies mikroalga (rumput laut) sebagai bahan bakar nabati (biofuel) dan pangan.

Karena kebutuhan terhadap sumber energi yang bersih semakin meningkat, maka diberbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi banyak berlomba menemukan clean technology (teknologi yang bersih). Saat ini, yaitu mulai tahun 2000-an, masyarakat dunia telah menggunakan paradigma kelima, yakni mulai menerapkan teknologi biomassa yang terbarukan dan berkelanjutan (renewable and sustainable technology), dan ini termasuk bioenergi dari rumput laut.

(Yuliadi Kadarmo/YKD/vbn)

energi terbarukan: B10ma$$a … 261013_170517

teori pemanfaatan kelapa sawit untuk ENERG1 TERBARUKAN

Bisnis.com, JAKARTA– PT PLN (Persero) terus melakukan optimalisasi pemanfaatan energi baru terbarukan, salah satunya melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan beberapa pengembang lokal yang mempunyai komitmen dalam membangun pembangkit listrik berbasis renewable energy di Kalimantan.

MoU dilakukan untuk memperlancar pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) di Wilayah Kalselteng dan Wilayah Kalbar.

Terdapat dua titik lokasi pembangunan pembangkit listrik berbasis renewable energy berupa PLTBm di Kabupaten Kotawaringin Barat. Salah satu titik PLTBm akan dibangun oleh PT Cahaya Manggala Power berlokasi di Desa Purbasari, Kecamatan Lada. Satu PLTBm lainnya akan dibangun PT Biogreen Power Kobar, di Desa Nanga Mua, Kecamatan Arut Utara.

Selain di Kotawaringin Barat, pembangunan PLTBm akan dilaksanakan di Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, tepatnya di Desa Balai Riam, Kecamatan Balai Riam oleh PT Fajar Mitra Energi.

Rencananya ketiga PLTBm berbahan bakar cangkang kelapa sawit tersebut masing-masing akan menyuplai listrik sebesar 10 Megawatt (MW) bagi sistem kelistrikan di Kalselteng.

Di Provinsi Kalimantan Barat, PLTBm akan dibangun pada tiga titik lokasi. Titik pertama akan dibangun oleh PT Intika Accord Power dengan daya 10 MW, berlokasi di Kecamatan Sungai Tebelian, Kab Sintang, Kalimantan Barat.

PLTBm juga akan dibangun oleh PT Carpediem Elektrikal Nusantara dengan daya 10 MW.

Pembangkit itu berlokasi di Desa Empaci, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Selain itu pembangunan PLTBm dengan daya 4 MW akan dilaksanakan di Desa Korek, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat oleh PT Pundi Global Investama dengan daya 4 MW

“Penandatangan MoU ini sejalan dengan program 35.000 MW untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dengan berbasis energi baru terbarukan,” ungkap Direktur Bisnis Regional Kalimantan PLN, Djoko Rahardjo Abumanan, melalui siaran pers, Selasa (16/5/2017).

Kegiatan ini juga sebagai bentuk dukungan dan komitmen PLN dalam upaya memanfaatkan potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai perwujudan implementasi permen ESDM No 10/2017 dan permen ESDM No 12/2017 tentang FIT pembangkit PLR EBT.

Pemanfaatan energi terbarukan lokal yang dinilai ramah lingkungan dan dapat digunakan bagi daerah terpencil dan terluar khususnya yang belum terjangkau oleh sistem interkoneksi.

“Kerjasama ini diharapkan dapat menjamin ketersediaan listrik di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat dimasa mendatang dan menciptakan efisiensi dan efektifitas dalam menyediakan listrik bagi masyarakat,” pungkas Djoko.

buttrock

Bisnis.com, JAKARTA –Sinar Mas Group pada tahun ini akan fokus dalam pengembangan powerplant dari berbagai energi seperti batu bara, gas, crude palm oil, dan yang teranyar biomassa. Hal itu dilakukan untuk mendukung gairah industri yang membutuhkan energi cukup besar.

Franky Widjaja, CEO PT Sinarmas Agribussines & Food, mengatakan kondisi ekonomi makro secara global yang bermasalah sebenarnya bisa membuat industri di Indonesia membaik. Dolar AS yang terus menguat bisa menggairahkan kinerja ekspor Indonesia.

“Secara jangka menengah harusnya bagus untuk investasi dan ekspor Indonesia. Oleh karena itu, pengembangan energi dibutuhkan agar meningkatkan kinerja industri,” ujarnya dalam sambutan ramah tamah tahun baru Sinar Mas Grup pada Rabu (7/1/2015).

Sinarmas Grup telah gencar di powerplant dalam berbasis crude palm oil (CPO), batu bara, gas, dan biomassa. Sedangkan, untuk pembangkit tenaga geothermal, angin, dan tenaga matahari masih belum dikembangkan karena biaya yang tinggi.

Franky menuturkan untuk mengeksplorasi geothermal itu membutuhkan dana sekitar US$3 juta, lalu kalau tidak ditemukan maka dana itu akan hilang begitu saja. Sinarmas Grup telah mengembangkan pembangkit basis CPO di italia sebesar 170 megawatt.

 

Jakarta, EnergiToday — Guna mendatangkan investor pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTB), untuk itu Kementerian ESDM akhirnya telah menetapkan harga jual listrik yang dihasilkan dari PLTB dengan kisaran harga Rp 1.150 hingga Rp 1.990 per kilowatt hour (kWh).

Menurut Direktur Jenderal Energi Batu Terbarukan (EBTKE), Rida Mulyana, harga tersebut berdasarkan tingkat ketergantungan wilayah terhadap bahan bakar minyak (BBM).

“Semakin tinggi ketergantungan pasokan listrik di suatu wilayah terhadap BBM maka semakin besar pula tarif yang ditetapkan,” katanya seperti yang diberitakan harian Kontan, Jakarta, Kamis (7/8).

Rida mengungkapkan, untuk wilayah Jawa yang memiliki tingkat ketergantungan BBM yang rendah dikenakan tarif Rp 1.150 per kWh. Sementara tarif Rp 1.990 per kWh untuk wilayah Papua yang pasokan listriknya sebagian besar menggunakan diesel.

Sebagai informasi, saat ini ketetapan tarif berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) dan hanya tinggal finalisasi saja.   [us/kn]

 

JUM’AT, 25 OKTOBER 2013 | 18:24 WIB
Finlandia Bantu Indonesia 3 Juta Euro

TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebut Indonesia telah menerima bantuan teknis senilai 3 juta euro dari pemerintah Finlandia. “Dari 2010 sampai 2014,” kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Rida Mulyana di kantornya, Jumat, 25 Oktober 2013.

Ia menyebut bantuan yang diberikan pemerintah Finlandia meliputi capacity building, studi kajian, serta pilot project. Rida mengatakan, pilot project untuk pengembangan biomassa telah dilakukan di Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah.

“Kami ingin di provinsi lain juga. Sekarang proposalnya sedang kami susun,” ucapnya.

Rida pun menuturkan, bantuan dari pemerintah Finlandia itu akan diperpanjang untuk periode 2014 – 2017. Namun, ia menyatakan, nilai bantuan belum bisa diprediksi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik menerima kunjungan Menteri Ekonomi Finlandia, Jan Vapaavuori, pagi ini. “Agar sektor pembangkit listrik biomassa bisa ditumbuhkan,” kata Jero.

Ia menyebut ada 20 pengusaha Finlandia yang ikut dalam kunjungan Vapaavuori itu. Jero mengungkapkan, Finlandia memiliki kelebihan di bidang energi baru dan terbarukan. Mayoritas energi yang dimanfaatkan Finlandia, kata dia, berasal dari biomassa.

“Dia (Finlandia) punya 80 persen biomassa,” ujar Jero. Sedangkan Indonesia memiliki banyak bahan biomassa. Bahkan, sampah yang merupakan bahan biomassa sampai menjadi persoalan tersendiri.

Padahal, ia melanjutkan, sampah tersebut bisa diolah menjadi sumber listrik. Selain biomassa, Jero menyebut Finlandia memiliki kemampuan di bidang hydropower dan smelter. Menurut dia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pun akan mendorong investasi Finlandia di bidang smelter.

“Saya sudah sampaikan kepada mereka, jangan ragu-ragu investasi biar pun Indonesia menjelang pemilu,” ujarnya.

MARIA YUNIAR
Indonesia-Finlandia Kerja Sama Kembangkan Biomassa
Jumat, 25 Oktober 2013 | 14:42
investor daily
JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Finlandia melanjutkan kerja sama pengembangan biomassa sebagai energi alternatif khususnya sebagai sumber tenaga listrik. Indonesia dan Finlandia sudah mengikat kerja sama pengembangan biomassa pada periode 2011-2014.

“Kami akan perbarui untuk 2014-2017,” kata Menteri ESDM Jero Wacik usai menerima Menteri Ekonomi Finlandia Jan Vapaavuori di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, Indonesia menerima bantuan teknis senilai tiga juta euro untuk periode 2010-2014.

Jero mengatakan, latar belakang kerja sama adalah Indonesia mempunyai potensi biomassa seperti sampah yang melimpah.

Sementara, Finlandia mempunyai pengalaman dan teknologinya. Sekitar 80% sumber listrik di Finlandia berasal dari biomassa. “Mereka agresif untuk investasi dan memberikan bantuan teknologi biomassa,” katanya.

Selain biomassa, kerja sama dengan Finlandia lainnya adalah pembangkit listrik dari tenaga air dan pengolahan (smelter) tambang.

Semenrara, Jan Vapaavuori mengatakan, Finlandia telah mengembangkan biomassa selama beberapa dekade. “Kami mempunyai kemampuan dan pengalaman,” katanya.

Ia senang mendengar Indonesia mengubah paradigma untuk lebih memanfaatkan biomassa di masa depan. (ant/gor)