pemilik adro … 160910_300317


inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

lol

Jakarta detik- Dalam pemikiran dan cita-cita para pendiri bangsa, sumber daya alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Mengacu pada hal tersebut, tambang-tambang mineral dan batu bara idealnya dimiliki oleh orang Indonesia, dikelola oleh orang Indonesia, teknologinya juga dikuasai oleh orang Indonesia, dan hasilnya untuk orang-orang Indonesia.

Meski demikian, dalam realitanya, kekayaan mineral dan batu bara Indonesia masih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan asing. Kekurangan perusahaan Indonesia dalam hal permodalan, teknologi, manajemen sering disebut-sebut untuk membenarkan dominasi asing di sektor pertambangan.

Tapi beberapa pengusaha nasional telah berhasil membuktikan bahwa anggapan itu tidak benar. Salah satu orang yang sukses mematahkan mitos superioritas asing itu adalah Garibaldi ‘Boy’ Thohir.

Bersama 3 orang pengusaha Indonesia lain, 12 tahun lalu Boy mengakuisisi PT Adaro Energy Tbk (ADRO), perusahaan tambang penghasil batu bara terbesar kedua di Indonesia yang awalnya dimiliki investor Australia.

Pria kelahiran 1 Mei 1965 ini bahkan berhasil membuat Adaro lebih besar dibanding saat masih dipegang orang-orang asing. Produksi batu bara Adaro yang pada 2005 masih 24 juta ton sekarang sudah melompat hingga 52 juta ton alias lebih dari 2 kali lipat.

Kinerja perusahaan pun makin kinclong. Kini Adaro juga bukan hanya berbisnis di pertambangan, tapi juga di logistik batu bara dan pembangkit listrik. Ini membuktikan bahwa orang-orang Indonesia mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri.

Bagaimana kisah sukses Boy Thohir mengakuisisi dan membesarkan Adaro? Berikut petikan wawancara khusus detikFinance dengan Boy di Menara Karya pada Kamis (29/3/2017):

Bisa diceritakan bagaimana Anda mengakuisisi Adaro dari pihak asing bersama beberapa orang kawan?
Tahun 2003-2004 ada opportunity di Kalsel. Waktu itu saya ajak Pak Teddy Rachmat (Theodore Permadi Rachmat), ada konsesi, Alhamdulillah sampai sekarang masih jalan. Itu punya Almarhum Haji Sulaiman, Hasnur Grup, di Kalsel. Singkat cerita, saya sama Pak Teddy Rachmat join 50:50, kita join lagi sama Pak Haji Sulaiman, ada tambang beliau yang tadinya sudah kolaps di 2003-2004 kita kerjain dan mulai naik.

Kemudian Pak Teddy Rachmat bilang ke saya, “Kalau mau jadi pemain, jangan tanggung. Kalau mau jadi pemain, jadi pemain sekalian.” Istilah Pak Teddy begitu lah, kita harus eksis, jangan cuma jadi penonton. Waktu itu Adaro masih dikuasai sama perusahaan Australia, namanya New Hope.

Ada opportunity, tahun 2005 harga batu bara mulai meningkat, mulai booming comodity. Kenapa? Awal 2001-2002 ekonomi China meningkat, China bangun infrastruktur gila-gilaan. Jalan, pelabuhan, PLTU, semua dia bangun karena ekonominya meningkat 10%, 11%, 12%, mereka perlu iron ore, bauksit, nikel, batu bara.

Mereka produsen batu bara terbesar dunia, tapi cadangannya di inner Mongolia, untuk transportasi batu baranya ke kota-kota pesisir mereka seperti Guangzhou, Delta River, Shanghai, mahal. Jadi mereka enggak bisa mengandalkan batu bara dari inland mereka, harus impor juga. Yang paling efisien secara geografis dari Indonesia, Australia agak jauh.

New Hope pada 1992 sudah masuk ke Indonesia, jatuh bangun, pada 2005 mereka berpikir harga sudah bagus, time to exit. Di situ lah saya sama Pak Teddy Rachmat lihat kesempatan, Pak Teddy kasih motivasi. Waktu itu Pak Edwin (Edwin Soeryadjaya) sama Pak Benny (Benny Subianto) sudah ada di Adaro, 60% dikuasai New Hope dan 40% oleh Pak Edwin dan Pak Benny. Singkat cerita, Pak Teddy bilang kita gabung saja sama mereka, why not? Makanya di 2005 kita take over dari New Hope. Kita bikin konsorsium baru yang terdiri dari Saratoga, Triputra, TNT, dan Persada Capital untuk take over Adaro Indonesia dari perusahaan asing.

Kita mempunyai satu cita-cita dan kesamaan pendapat bahwa ini ada kesempatan di batu bara, kita mau membuktikan bahwa aset-aset terbaik bangsa ini sebetulnya bisa dikelola oleh bangsa Indonesia. Pada 1992 masih asing semua, kita belajar pelan-pelan, di 2005 kita yakin pasti bisa. Saya di-support juga oleh partner-partner yang berpengalaman dan punya nama baik luar biasa, saya confident.

Tadinya Adaro di-manage dan di-operate oleh asing, akhirnya di 2005 kita yang take over. Menurut saya ini merupakan tonggak sejarah, milestone baru. Di 2005, dengan segala risiko yang ada, kemampuan yang terbatas, uang kita pinjam, tapi kita punya satu keyakinan bahwa bangsa Indonesia bisa mengelola aset-aset natural resources yang ada. Kita sebagai pengusaha nasional, pengusaha Indonesia ingin memberikan kontribusi lebih. Ini tantangan, tapi Alhamdulillah kita bisa.

Bagaimana situasi setelah Adaro diambil alih?
Enggak gampang. Kalau diingat waktu itu 2004 harga batu bara naik, eh 2006 turun. Kita sempat ketar-ketir juga. Tapi dengan kerja keras, efisiensi, fokus, value yang kita miliki, visi yang jelas semua bisa dilalui.

Waktu itu 2005 kita hanya fokus di tambang batu bara saja, belum ke yang lain. Kita melakukan efisiensi, konsolidasi ke dalam. Saya bilang ke manajemen, tolong support saya, tolong berikan dukungan penuh. Saya enggak mau teman-teman kita yang dari Australia mengatakan kalau di-take over orang Indonesia pasti kolaps.

Hampir 95% pekerja orang Indonesia, ekspatriat di Adaro dari dulu sedikit. Bahkan waktu masih dikuasai New Hope paling cuma 20 orang, sekarang paling hanya 7 orang. Tapi yang besar orang Indonesia. Saya tanya, siap enggak? Mereka (pekerja Indonesia) jawab, “Siap Pak, orang kita yang kerja kok.” Saya bilang jangan ngomong aja, kalau nanti kolaps si orang-orang Australia menertawakan kita.

Dengan motivasi itu, Alhamdulillah 2005 waktu kita take over produksi batu bara Adaro masih sekitar 24 juta ton, sekarang sudah 52,6 juta ton.

Setelah itu bagaimana langkah-langkah untuk membesarkan Adaro?
2008 kita putuskan Adaro untuk menjadi perusahaan yang lebih besar dan lebih baik lagi, kita putuskan Adaro jadi perusahaan publik supaya lebih transparan lagi, dan sebagainya. Jujur juga, waktu itu kita pinjam, leveraged buyout, LBO. Kita perlu reduce ini supaya dapat dana dari publik untuk mengurangi itu.

Dan di 2008 itu juga kita memutuskan mengubah visi kita yang tadinya hanya bertumpu pada batu bara saja, waktu itu kita sepakat ke depan kita mau lebih integrated. Jadi tidak mau tambang batu bara saja, tapi logistik dirapikan, kita juga mau masuk ke bisnis pembangkit. Dari 2008 sampai sekarang, kita fokus ke 3 pilar,yaitu mining, logistic and sercvices, sama power. Kalau dulu tambang saja, sekarang pit to port to power.

Bagaimana Anda menghadapi berbagai tantangan di industri pertambangan seperti perizinan, lahan, CnC, fluktuasi harga komoditas?
Yang penting kita fokus, permasalahan begitu banyak tapi saya punya satu rumusan. Kita kan tiap hari bangun tidur pasti ada problem. Di kantor, di rumah, urusan keluarga, every day life, apalagi di perusahaan. Tapi kita fokus satu-satu, one at the time.

Masalah tanah, kita fokus ke tanah dulu. Masalah perizinan, kita fokus perizinan dulu. Dengan cara itu kita bisa solve satu-satu. Problem come and go. Tapi kalau kita punya tim yang bagus, fokus menyelesaikan satu per satu masalah ya lama-lama kelar.

Kita semua juga sepakat bahwa yang namanya harga jual itu enggak ada yang bisa kontrol. Siapa yang bisa kontrol nanti naik atau turun? Tergantung supply dan demand, feeling saja. Misalnya kemarin terjadi badai cyclone di Australia, mestinya harga batu bara naik karena suplai terganggu. Tapi kembali, harga jual enggak ada yang bisa prediksi.

Yang bisa kita prediksi adalah cost. Makanya kita mesti bisa kontrol cost. Cost, cost, cost. Harus efisien, harus efisien, harus efisien. Sehingga kalau kita menjadi one of the lowest cost producer, kalau harga lagi turun kita bisa survive. Kalau misalnya kita enggak efisien, sama seperti gempa bumi, yang rapuh-rapuh begitu kena gempa sedikit langsung rubuh. Kita mesti menjadi one of the lowest producer mining company. Namanya komoditi selalu up and down.

Kemudian enggak bisa bergantung pada satu bisnis saja. Kalau bergantung sama mining saja ya kolaps. Mesti ada tambang, logistic services, dan power plant (pembangkit listrik). Kenapa power plant? Kita ingin memberikan kontribusi lebih pada negara dan bangsa. Value added batu bara adalah listrik. Batu bara itu mau di-upgrading, ujungnya ke listrik. Jadi nilai tambahnya kita bikin batu bara ini jadi listrik. Kebetulan di Indonesia sumber batu baranya ada. Kenapa kita enggak pakai untuk pembangunan bangsa?

Apa tips dari Anda untuk pengusaha nasional lain yang ingin mengambil alih kepemilikan perusahaan tambang dari tangan asing? Bagaimana agar setelah diambil alih perusahaan bisa makin besar?
Ada 2 poin. Pertama, enggak ada yang namanya asing lebih baik. Kita bisa, kalau kita mau kita bisa. Medco membuktikan, Adaro membuktikan, Pak Supramu (Supramu Santosa) membuktikan. Bukan kita anti asing, tapi kita juga bisa. Kita bisa rekrut ekspatriat-ekspatriat yang bagus. Kita enggak boleh kalah dari asing.

Harus ada keinginan dan niat dari kita, bahkan kita lebih bisa. Bahasa di sini, bahasa kita. Kondisi alam di sini, alam kita. Negara, negara kita. Udara, udara kita. Tanah, tanah kita. Masak enggak bisa.

Kedua, dukungan dari pemerintah, harus ada keberpihakan. Kenapa? Kalau kita kan uangnya di sini, hidupnya di sini, matinya di sini. (mca/wdl)

buttrock

Jakarta– PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sepanjang 2016 mencetak laba bersih Rp 5,7 triliun seiring diterapkannya standar akuntansi PSAK 65. Sementara porsi pendapatan dari dividen yang diraih atas investasi menyentuh Rp 622 miliar.

Presiden Direktur Saratoga Michael W P Soeryadjaya mengatakan, sepanjang tahun lalu perseroan berhasil membukukan rekor tertinggi dari sisi pendapatan dividen atas investasi. Hal itu, dapat menjadi penanda bahwa Saratoga mampu meraih kematangan portofolio investasi di sejumlah perusahaan.

“Sebagai perusahaan investasi, kami berusaha agar mencapai investasi siklus penuh (full-cycle investment). Sejauh ini, sebagian besar perusahaan investasi Saratoga telah mencapai tahap itu,” papar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (30/3).

Dia mengungkapkan, kinerja kuat Saratoga berasal dari sektor sumber daya alam (SDA) dan konsumer. Kinerja PT Adaro Energy Tbk (ADRO) tumbuh berkat pemulihan harga batu bara setelah mencapai titik terendah dalam lima tahun. Adaro juga dalam fase penyelesaian pembiayaan (financial closure) dalam proyek pembangkit listrik Jawa Tengah dengan kapasitas 2 x 1.000 megawatt (MW). “Seiring dengan hal itu, harga saham Adaro Energy pun naik dari Rp 515 menjadi Rp 1.695 per saham pada 2016,” ujar Michael.

Untuk investasi di sektor konsumer, pada 2016 PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) terus memperkuat kinerja. Pertumbuhan pendapatan MPM bersumber dari segmen pelanggan auto-parts, distribusi, sampai ritel. “Kinerja yang solid itulah yang meningkatkan harga saham MPMX dari Rp 489 menjadi Rp 820 per saham pada 2016,” papar dia.

Selanjutnya, mengenai kinerja 2016, setelah menerapkan standar akuntansi baru Saratoga berhasil membukukan pendapatan investasi sebesar Rp 6,34 triliun. Namun dari nominal tersebut, porsi senilai Rp 3,39 triliun berasal dari penyesuaian sekali waktu (one-off adjustments) yang menandai transisi dari akuntansi ekuitas menjadi nilai wajar.

Selain itu, peningkatan harga saham perusahaan investasi selama 2016 juga memberikan kontribusi sebesar Rp 2,94 triliun. Adapun, penyumbang kontribusi terbesar adalah harga saham ADRO dan MPMX.

Seiring perolehan pendapatan, tahun lalu Saratoga berhasil mencatatkan laba bersih yang jauh lebih tinggi dibanding realisasi Rp 1,45 triliun pada 2015. “Senada, pada periode sama total aset kami menjadi Rp 25,1 triliun, naik 51 persen dibanding Rp 16,7 triliun pada 2015,” ungkap Michael.

 

Devie Kania/WBP

BeritaSatu.com

ets-small

Garibaldi Thohir layak tersenyum setahun terakhir ini. Pasalnya, Presiden Direktur sekaligus CEO perusahaan tambang batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) ini menjadi semakin kaya raya.

Pengusaha berusia 51 tahun ini memiliki kekayaan sebesar US$1,1 miliar atau setara dengan Rp14,87 triliun (kurs Rp13.520 per USD) pada 2016. Alhasil, Boy kini menempati peringkat 32 dalam daftar orang terkaya Indonesia.

Bersama adiknya Erick Thohir, Boy mencatatkan kenaikan kekayaan hingga 74%. Saham Adaro merupakan salah satu saham yang mencatatkan kenaikan signifikan.

Harga saham ini sudah naik sebesar 217%. Pada akhir pekan ini, harga ADRO ditutup di Rp1.665 pada 2 Desember 2016, sementara pada 4 Desember 2015, harga saham ini hanya Rp525.

Adaro yang merupakan eksportir batu bara ini mendapat banyak keuntungan dari naiknya permintaan batu bara di India dan China.

Erick sendiri merupakan pengusaha yang memiliki sejumlah saham di dua klub sepakbola, yakni Inter Milan asal Italia dan DC United asal Amerika Serikat (AS).

http://economy.okezone.com/read/2016/12/03/320/1558132/saham-adaro-meroket-217-boy-thohir-kian-kaya-raya
Sumber : OKEZONE.COM

ets-small

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAPT Saratoga Investama SedayaTbk (SRTG) melepas sahamnya di PT Adaro Energy Tbk (ADRO)sebanyak 18.793.200 saham dalam beberapa tahapan transaksi.

Sekretaris Perusahaan Saratoga Sandi Rahaju dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa (22/11) menyebutkan bahwa pelepasan saham ini dilakukan pada 4 hingga 11 November 2016.

“Harga pelepasan dimulai dari Rp 1.630-1.730 per lembar saham,” ujarnya.

Lewat transaksi ini, SRTG akan memperoleh dana sebesar Rp 41,2 miliar.

Sebelumnya, SRTG telah menjual saham ADRO sebanyak 18,79 juta lembar dengan perolehan dana Rp 31,63 miliar.
Reporter: Ghina Ghaliya Quddus

lol

Jakarta – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menjelaskan anak usahanya, PT Adaro Indonesia (AI) akan menerbitkan saham baru maksimal 57,857 saham atau sebesar 11,53 persen.

Seluruh saham hasil penerbitan tersebut atau rights issue akan diambil EGAT International Company Limited (EGATI). Perusahaan tersebut berbasis di Thailand. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Rabu (23/11/2016).

Transaksi tersebut berlaku efektif dengan persetujuan Kementerian ESDM. Dana hasil penerbitan ini akan mendapat pembayaran bertahap senilai US$325 juta. Dengan demikian kondidi keuangan AI akan kuat lagi.

Penerbitan saham ini akan memperkuat kerja sama strategis kedua pihak untuk 20 tahun ke depan. Dalam jangka panjang keduanya akan EGATi akan membeli batu bara dari PT AI untuk mendukung pembankit yang dimiliki dan afiliasinya. EGATi adalah anak usaha dari Electricit Generating Authority of Thailand. BUMN Thailand ini bergerak dalam bisnis pembangkit tenaga listrik.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2340904/pt-adaro-lakukan-kesepakatan-ini-dengan-egati
Sumber : INILAH.COM

 

JAKARTA . Electricity Generating Authority of Thailand (EGAT) melalui unit usahanya, EGAT International Co Ltd (EGATi), resmi menyerap sebanyak 11,53% saham PT Adaro Indonesia, anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Nilai transaksi sebesar US$ 325 juta.

Transaksi tersebut berlaku efektif dengan perolehan persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Selain itu, Adaro Indonesia juga mengantongi bukti penerimaan pemberitahuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, dan EGAT telah memenuhi seluruh persyaratan dan kondisi yang disepakati.

“Dana yang dihimpun dari hasil penerbitan sebanyak 57.857 saham baru (rights issue) tersebut akan dibayarkan EGAT secara bertahap,” jelas Sekretaris Perusahaan Adaro Energy Mahardika Putranto dalam keterangan resmi, Selasa (22/11).

Menurut Mahardika, dana hasil rights issue dialokasikan untuk memperkuat kondisi keuangan Adaro Indonesia. Kerja sama strategis antara EGAT dan Adaro ke depan adalah pembelian batubara yang diproduksi Adaro Indonesia dalam jangka waktu kurang lebih 20 tahun. “Batubara ini akan digunakan EGAT untuk kebutuhan pembangkit listrik yang dimiliki perusahaan dan afiliasinya,” jelas dia.

Adaro Indonesia merupakan anak usaha utama Adaro Energy, dengan produksi batubara sebanyak 50,4 juta ton per akhir 2015. Batubara tersebut dihasilkan dari tiga tambangnya di Tutupan, Wara dan Paringin.

http://id.beritasatu.com/home/egat-kuasai-1153-saham-adaro-indonesia/153025
Sumber : INVESTOR DAILY

buttrock

INILAHCOM, Jakarta – Sektor sumber daya alam telah menopang kinerja PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sehingga bisa tumbuh sebesar 26%. Pertumbuhan perseroan menjadi Rp 17,1 triliun pada 30 Juni 2016 dari Rp13,6 triliun pada 31 Desember 2015.
Pertumbuhan ini terutama diperoleh dari peningkatan nilai pasar dari investasi Perseroan di sektor sumber daya alam serta didukung oleh kinerja kuat dan berkelanjutan perusahaan investasi di sektor infrastruktur dan konsumer.

Pada periode ini, Saratoga tercatat berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp4,8 triliun. Anga tersebut mencakup one-off gain sebesar Rp2,2 triliun. Sementara sebesar Rp 2,6 triliun sebagian besar dari kontribusi peningkatan nilai pasar atas investasi Saratoga di Adaro Energy dan Tower Bersama.

Di awal tahun ini, Saratoga masuk ke sektor rantai pasokan logistik pendingin (cold-chain logistics) dengan mengakuisisi saham PT Mulia Bosco Logistik (MGM Bosco). Transaksi tersebut memberikan peluang yang sangat baik bagi Saratoga dalam membangun platform di sektor cold-chain logistics yang sangat menarik.

Hal ini mengingat selain memiliki pertumbuhan tinggi, sektor ini juga memiliki prospek yang cerah sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur logistik vital di negara ini.

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2314947/sumber-daya-topang-kinerja-pt-saratoga#sthash.9izlG69Z.dpuf

new-chin-year-dragon-02

JAKARTA – Tahun ini tampaknya bukan tahun keberuntungan bagi para miliarder Indonesia. Terpuruknya kondisi ekonomi, salah satunya akibat harga komoditas, membuat kekayaan para orang-orang superkaya ini tergerus.

Dilansir Forbes, Jumat (4/12/2015), kekayaan 50 orang terkaya Indonesia mengalami penurunan sebesar 9 persen, atau sekira Rp120 triliun. Tercatat, ada 28 miliarder Indonesia mengalami penurunan kekayaan.

Yang mengalami penurunan kekayaan drastis adalah Edwin Soeryadjaya (menempati peringkat 33 dalam orang terkaya versi Forbes) dan Sukanto Tanoto (peringkat 34).

Edwin Soeryadjaya memiliki 60 persen dari PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), yang memiliki bisnis batu bara, minyak dan gas dan CPO. Saham perusahaan ini anjlok sekira 30 persen. Kekayaan Edwin pun mengalami penurunan USD370 juta (atau Rp4,9 triliun, kurs Rp13.350 per USD) menjadi USD930 juta dibanding pada 2014 yang sebesar USD1,3 miliar.

Sementara itu, Tanoto yang merupakan pemilik Asian Agri, mengalami penurunan kekayaan akibat anjloknya harga CPO.

(wdi)

doraemon

Jakarta.  Pemilik sekaligus pendiri kelompok usaha PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), Sandiaga Uno, memutuskan mundur dari jabatan presiden direktur. Keputusan itu telah disetujui para shareholders dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) Saratoga, Rabu (10/6).

Sandiaga Uno mengatakan, pengunduran dirinya merupakan keputusan pribadi dalam rangka mengejar aspirasi politik. Sesuai rencana, Sandiaga Uno akan bergabung dalam dewan penasihat partai Gerindra.

“Dengan melepas seluruh jabatan di perusahaan, saya berharap dapat menghindari benturan kepentingan. Saya ingin fokus kepada kegiatan baru di politik nanti,” kata Sandiaga usai RUPS, di Jakarta.

Sebagai penggantinya, pemegang saham telah menunjuk Michael Soeryadjaya menjadi presiden direktur. Sebelumnya, Michael Soeryadjaya menjabat sebagai direktur perseroan.

Pada saat yang sama, Presiden Direktur Saratoga Michael Soeryadjaya mengatakan, perseroan akan memperkuat bisnis dengan mengoptimalkan investasi di tiga sektor utama yakni konsumer, infrastruktur, dan sumber daya alam (SDA). Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah dan kelas menengah yang kuat, potensi bisnis di Indonesia akan semakin terbuka luas. “Saratoga siap menyonsong era baru dan akan memperkuat posisinya sebagai perusahaan investasi aktif,” ungkap Michael.

Menurut dia, strategi perusahaan tidak akan berubah, yakni mencari peluang untuk berinvestasi. Strategi ini terbukti mampu meningkatkan kinerja perusahaan selama 15 tahun terakhir. “Kecermatan dalam berinvestasi akan terus dijaga untuk memastikan nilai tambah yang optimal bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,” imbuhnya.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/281313-sandiaga-uno-mundur-dari-saratoga.html
Sumber : BERITASATU.COM

big-dancing-banana-smiley-emoticon

JAKARTA okezone – Setelah mengundurkan diri dari PT Adaro Energy Tbk (ADRO), Sandiaga S Uno juga mengundurkan diri sebagai Presiden Direktur (Presdir) PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).

Sekretaris Perusahaan Saratoga Ira Dompas menuturkan, perusahaan menerima surat pengunduran diri Sandiaga pada 22 April 2015.

Selanjutnya, perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) dengan agenda perubahan susunan direksi. “Hal tersebut terkait dengan diterimanya surat pengunduran diri Sandiaga,” sebut dia dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (24/4/2015).

Pada 16 April, Sandiaga juga telah mengajukan surat pengunduran diri dari PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Di perusahaan tambang batu bara ini, dirinya menjabat direktur.

Ada banyak rumor terkait pengunduran pria yang akrab disapa Sandi ini. Sandi pun mengaku jika dirinya tengah fokus ke hal lain. “Iya, ada tugas baru lainnya, yang mana saya butuh fokus,” kata Sandi.

Saat ini, Sandi mengatakan dirinya tengah berada di Boston, Amerika Serikat (AS) sehingga agak sulit menghubunginya. “Maaf saya sedang ada di Boston,” sebut dia.

(wdi)

dollar small

JAKARTA – Pengunduran diri Direktur General Affairs PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) Sandiaga Salahuddin Uno telah disetujui oleh pemegang saham.

Berdasarkan keterangan resmi perseroan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (23/4/2015), disebutkan pengunduran diri Sandiaga Uno disahkan dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) di Hotel JS Luwansa Jakarta.

“Pada RUPS tersebut direksi Adaro Energy menyampaikan informasi pengunduran diri Sandiaga Salahuddin Uno berdasarkan surat yang diterima perusahaan pada 16 April 2015,” tulis perseroan.

Pemegang Adaro Energy juga menyepakati pembagian dividen sebanyak US$75,49 juta atau setara dengan 42% dari perolehan laba 2014.

Total dividen tersebut terdiri dari dividen tunai interim sebesar US$30,07 juta yang dibayarkan pada 16 Januari 2015, dan dividen tunai final sebesar US$45,42 juta.

Sepanjang tahun lalu, perseroan membukukan penurunan laba bersih 21% menjadi US$183,5 juta tertekan harga batubara yang rendah disebabkan kelebihan pasokan sedangkan permintaan di China melemah. Adapun laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$178,16 juta

Selain menyepakati besaran dividen, pemegang saham juga menyetujui penggunaan laba senilai AS$1,78 juta untuk penyisihan cadangan, serta US$100,89 juta digunakan untuk laba ditahan.

http://market.bisnis.com/read/20150423/192/426163/adaro-energy-pengunduran-diri-sandiaga-uno-disahkan-rups
Sumber : BISNIS.COM

buttrock

Financeroll – Sandiaga Salahuddin Uno mengajukan surat pengunduran diri dari jabatannya sebagai Direktur General Affairs PT Adaro Energy Tbk. (ADRO).

Hal itu tertuang dalam keterbukaan informasi yang disampaikan Sekretaris Perusahaan Adaro Energy Mahardika Putranto kepada Bursa Efek Indonesia.

“Pada 16 April 2015, kami telah menerima surat pengunduran diri dari Bapak Sandiaga Salahudin Uno selaku Direktur Perseroan,” paparnya.

Namun, dalam keterangan tersebut tidak dijelaskan lebih rinci alasan pengunduran diri salah satu pemilik perusahaan private equity Saratoga Capital itu.

Namun, Mahardika mengatakan perseroan akan menyelenggarakan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) terkait susunan direksi perseroan, dan jadwal tersebut akan diumumkan kemudian kepada publik.

Emoticons0051

Alasan dibalik meroketnya kinerja Saratoga
Oleh Merlinda Riska – Rabu, 30 April 2014 | 17:10 WIB
kontan

JAKARTA. PT Saratoga Investama Tbk (SRTG) selama kuartal satu (q1) 2014 catatkan kinerja positif. Pemicunya adalah tiga sektor bisnis utama perseroan yaitu konsumer, infrastruktur dan sumber daya alam.

Chief Financial Officer PT Saratoga Investama Sedaya Jerry Ngo menyatakan, sektor konsumen dan infrastruktur masih terus melanjutkan penguatan bisnis, sejalan dengan membaiknya perekonomian domestik.

“Kami optimis tahun 2014 akan memberikan kinerja yang lebih optimal, mengingat potensi pertumbuhan ekonomi baik global maupun domestik akan lebih tinggi daripada tahun 2013. Meski demikian, Saratoga akan tetap fokus melakukan investasi secara disiplin untuk meraih hasil yang optimal,” katanya.

Hal-hal di bawah inilah yang menjadi pemicu pertumbuhan perseroan:

Sektor bisnis produk dan jasa konsumen

PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk, perusahaan konsumer otomotif yang tumbuh cepat, menunjukkan performa gemilang dengan mencatat pendapatan sepanjang Januari–Maret 2014 sebesar Rp 3,64 triliun. Angka tersebut meningkat 13% dibandingkan periode sama tahun 2013 yang sebesar Rp 3,23 triliun. Selama q1 2014, laba bersih Perseroan juga melonjak signifikan sebesar 32% mencapai Rp 152 miliar, dibandingkan dengan Rp 115 miliar di periode yang sama di 2013.

Pada q1 2014, Saratoga telah menambah kepemilikan efektif di MPMX sebesar Rp 143 miliar sehingga persentase kepemilikan efektif naik dari 45,09% menjadi 47,22%.

Sektor bisnis infrastruktur

Hingga q1 2014, PT Tower Bersama Tbk (TBIG) terus memperkuat bisnisnya dengan menambah infrastruktur dan jaringan telekomunikasi baru. Saat ini TBIG merupakan perusahaan penyewaan menara telekomunikasi terbesar dengan jumlah 10,134 site pada akhir tahun 2013.

Sektor bisnis kilang minyak

PT Tri Wahana Universal (TWU) berhasil mencetak kinerja yang sangat baik. Kontribusinya sangat signifikan terhadap kinerja konsolidasi Saratoga. Volume produksi harian TWU meningkat dari 5.722 bopd tahun lalu menjadi 13,674 bopd tahun ini. Saat ini TWU merupakan satu-satunya perusahaan kilang minyak swasta di Indonesia.

Sektor pembangkit tenaga listrik

PT Medco Power Indonesia (MPI), proyek Sarulla adalah proyek tenaga geothermal (panas bumi) dengan kapasitas pembangkit listrik sebesar 330 MW. Ini merupakan site proyek geothermal tunggal terbesar di dunia.

Sektor bisnis sumber daya alam

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) berhasil mencatat penjualan batubara sebanyak 52.3 juta metrik ton batubara pada tahun 2013, naik 10% dari 2012. Secara finansial, Adaro mampu membukukan penjualan senilai US$ 3.3 miliar dengan laba bersih sebesar US$ 229 juta di tahun 2013. Pada kuartal I 2014, Adaro mampu membukukan produksi batubara sebesar 13,99 juta ton sehingga mampu mendukung pencapaian target produksi sebesar 54 MT hingga 56 MT (tergantung persetujuan pemerintah) untuk 2014.

Sektor perkebunan

Provident Agro berhasil meraih kenaikan penjualan sebesar 12.2% menjadi Rp 153 miliar. Saat ini Provident memiliki perkebunan di Sumatera dan Kalimantan seluas 106.000 hektar, dengan 45.297 hektar tanah yang telah ditanami.
Catatan saja, laba bersih Saratoga di kuartal I melesat hingga 383% secara year on year (yoy), dari Rp 92 miliar menjadi Rp 444 miliar. Demikian pula halnya dengan pos pendapatan yang tumbuh 169% secara yoy dari Rp 583 miliar menjadi Rp 1,6 triliun.

Editor: Barratut Taqiyyah

butterfly

Rabu, 15/09/2010 10:24:26 WIB
Sandiaga Salahuddin Uno
Om William itu mentor saya
Oleh: M. Munir haikal, Abraham Runga Mali, Ratna Ariyanti

Bisnis Indonesia, dalam rangka HUT ke-25, menampilkan sejumlah tokoh bisnis yang inspiratif. Tulisan kali ini menampilkan Sandiaga Salahuddin Uno, pemilik Saratoga Group dan Recapital Group.

Mengawali wawancara di kantornya Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan: “Saya merasa tersanjung. Mudah-mudahan bisa memberi inspirasi.” Berikut penuturannya tentang pengalamannya dalam menggeluti bisnis.

Bisa diceritakan awal mulai terjun di dunia ini?

Waktu kembali dari luar negeri 1997 situasi terpuruk, nggak punya pekerjaan, maka terpikirlah untuk bikin sesuatu. Kebetulan aku kan punya background finansial, sekolahnya juga di situ. Waktu di luar negeri ketika ikut Pak Edward (Edward Soerjadjaja) itu memang menekuni keuangan dan investasi.

Sementara Rosan juga backgroundnya sama. Maka kami buat perusahaan konsultasi keuangan. Klien-klien kami yang pertama adalah perusahaan yang tertimpa krisis.

Lalu kapan mulai aktif membangun Saratoga?

Pada 1998 ini saya mendapat peluang untuk bertemu lagi sama Pak Edwin. Karena sudah lama nggak ketemu, Pak Edwin menawarkan waktu itu bagaimana kalau mendirikan Saratoga. Saratoga itu lebih ke perusahaan private equity investing. Lebih ke arah investasi bukan konsultan keuangan seperti Recapital gini. Ya kami sudah mulai mengembangkan Saratoga pada akhir 1998.

Dulunya Recapital itu murni memberikan advice keuangan, terus berkembang sehingga memiliki underwriting, sekuritas, terus berkembang punya asset management, punya asuransi, terus mulai jadi punya bank. Mimpinya ini hanya jadi financial advices saja.

Transaksi yang jadi milestone untuk Recapital?

Yang pertama kali, transaksi yang membuat kami hidup ya, kalau saya pribadi mengerjakan restrukturisasi Jawa Pos Group, milik Pak Dahlan Iskan. Waktu itu Jawa Pos mengalami kesulitan di unit properti mereka di Surabaya.

Saya ingat sekali dengan Pak Eric Samola dan Pak Dahlan Iskan, malam-malam membuat struktur penyehatan kembalinya dan akhirnya disetujui oleh Prakarsa Jakarta. Kita pertama kali dibayar fee US$10.000 oleh Pak Dahlan pada 1997 akhir.

Pantas Jawa Pos menjadi hebat…

(Tertawa). Dan saya nggak pernah lupa hubungan dengan Pak Dahlan dan keluarga Samola. Mereka juga ingat setiap tahun, setiap anniversary wafatnya Pak Eric selalu diingetin. Wah kala nggak dulu, nggak sempat terestrukturisasi, mungkin kami nggak survive sekarang. Saya senang Jawa Pos jauh lebih besar dan berada di mana-mana karena dulu hanya properti dan koran.

Kalau buat saya yang memorable mungkin itu, karena salah satu restrukturisasi pertama yang tersulit dan waktu itu fee-nya dibayar bisa menghidupi kantor. Kalau Pak Rosan katanya McDonald. Dia juga nggak akan pernah lupa itu.

Saya lihat dia ngetik sendiri, dia antar ke calon investor untuk membeli promisory note Ramako Gerbang Mas.

Bagaimana membagi waktu antara Saratoga dan Recapital?

Waktu awal 2000, Pak Edwin bilang sama saya, ini Saratoga harus lebih ditekuni. Karena waktu itu kita coba nge-bid buat Astra gagal, buat BCA gagal. Dia bilang saya mesti full time untuk besarin Saratoga.

Mulai awal 2000 itu full time, di Recapital mundur. Kalau di Saratoga salah satu transaksi yang paling awal dan menarik buat kita di 2001 waktu kami mengambil alih Adaro dan nggak lama setelah itu Sumalindo. Setelah dua kegagalan mengambil alih Astra dan BCA gagal. Berhasil melakukan investasi di Adaro dan Sumalindo, setelah itu berkembang terus.

Sekarang sih gampang karena saya nggak megang lagi di Recapital sudah nggak day to day dan detail. Di Recapital saya cuma ya sebagai pendiri, aktif di yayasan Recapitalnya, kalau ada keputusan-keputusan penting yang Pak Rosan harus consult ke saya, diajak bicara, tapi kalau untuk eksekusinya sudah nggak terlibat.

Kalau Pak Rosan?

Pak Rosan sih setiap hari. Di Saratoga dia komisaris, posisinya samalah sama saya. Bolak-balik.

Apa pelajaran selama mengikuti bisnis keluarga Om William?

Saya beruntung waktu itu sering dikirim sama Pak Edward untuk minta duit ke bapaknya. Jadi setiap ketemu sama beliau, saya perhatikan apa resep suksesnya beliau. Beliau itu punya satu yang membuat saya terkesan sampai sekarang. Pak William mentor saya karena kepekaan dan kepeduliannya terhadap sekelilingnya dan bagaimana dia bisa membaca tren ke depan.

Dia nggak melihat bisnis-bisnis yang kita hadapi hari ini saja ternyata dia melihat 10-20 tahun ke depan. Terbukti setelah Pak William kembangkan otomotif, walaupun pengelola dan manajemen menolak Astra untuk diversifikasi ke agro, ke sawit, dia paksakan dengan uangnya sendiri, sampai dia buktikan bahwa itu sekarang menjadi portofolio yang paling penting buat Astra. Begitu dengan awal-awal bisnis mereka di pertambangan.

Pernah juga waktu itu mereka melihat dari segi telekomunikasi, Astra kan sempat mau masuk ke telekomunikasi di zamannya Pak Edwin, itu kan jauh lebih awal dari yang lain-lain. Itu bagaimana visi dikembangkan. Itu satu yang saya lihat.

Yang kedua, Om William di kredonya Astra itu bukan menjadikan Astra perusahaan terbesar, menjadikan Astra menjadi perusahaan terbaik, atau menjadikan Astra sebagai perusahaan teruntung. Tapi nomor satu menjadikan Astra sebagai aset bangsa, jadi nasionalismenya itu kental banget untuk seorang keturunan China.

Pak Willam itu luar biasa, bahwa dia melihat yang pertama itu bangsa. Bangsa dan negara, rakyat. Dia sangat peduli. Saya ingat sekali waktu terjadi bakar-bakaran 1998, semua orang itu sudah pada pergi tuh. Dia jalan-jalan pakai celana pendek sama kita pakai Land Cruiser, mobilnya dia, terus saya ikut di belakang. Menengok daerah sekitarnya yang terbakar. Sampai dipaksa-paksa sama anaknya baru dia ke Singapura. Dia itu peduli sekali dengan sekitarnya.

Bagaimana ceritanya bisa ikut keluarga Om William?

Pak Edward lah. Pak Edward itu kawan lama dari ayah saya. Jadi waktu Pak Edward mau masuk bisnis minyak dan gas bumi, ayah saya waktu itu bekerja di Caltex, mereka berkolaborasi untuk grupnya. Kenal, kenal, kenal, tapi nggak memiliki kedekatan secara bisnis. Waktu saya kecil, umur 6 tahun kalau nggak salah ketemu di salah satu acara, Pak Edward pernah nyampain ke ibu saya,Sandi satu waktu akan ikut saya.

Ya alhamdulillah, kata ibu saya, mudah-mudahanlah. Ketika lulus S1 ketemu di salah satu acara kawinan, ini loh yang dibilang dulu mau ikut Bapak. Dia bertanya, oh ya udah selesai?.

Dia buka kartu nama dan minta untuk segera menelepon keesokan harinya. Lalu Pak Edward bilang kamu mulai Senin gabung di grup. Ya sudah. Di situ langsung, nggak pakai interview. Kerja setahun setengah ikut program beasiswanya dari grup dikirim ambil S2. Kembali lagi, grupnya collapse.

Selama 8 tahun berikutnya ikut Pak Edward melanglang buana waktu Pak Edward nggak ada di Indonesia. Di situ aku kenal betul satu sosok pengusaha yang memiliki visi dan juga banyak belajar dari Pak Edward. Karena dia visinya mirip-mirip sama Om William sebetulnya, tapi bedanya Om William didukung sama Astra yang punya manajemen yang kuat.

Setelah berhasil di bisnis, punya rencana untuk ke politik?

Alhamdulillah belum ada (tertawa). Karena politik mungkin binatang lain. Saya sering geleng-geleng kepala kalau melihat satu hal di dalam bisnis yang kalau diteropong, misalnya Bank Century, sangat jelas bagi kami di dunia bisnis, begitu melalui proses politik perkembangannya bisa ke mana-mana. Wah hebat juga. Ini gila nih kalau masuk ke ranah politik.

Satu hal yang sebetulnya kelihatannya jelas sekali ternyata sangat tidak jelas, hal yang sangat salah tiba-tiba sangat benar, terus hal yang sangat benar bisa salah gitu loh. Parameter dan hitung-hitungannya totally lain. Mungkin perut saya belum mencerna dinamika di politik. Saya rasa mungkin salah satu naik kelasnya seseorang yang sudah sukses di bisnis itu nggak semua ke politik, tapi mungkin di bidang sosial.

Saya rasa itu (bidang sosial) salah satu pilar yang kurang terjaga. Ke politik itu akhirnya semuanya mengejar kekuasaan, nggak membangun kelembagaannya, saya belum melihat secara politis bahwa ideologi politik itu menjadi panglima, tapi semuanya sangat case by case, ad hoc, pragmatis, dan lain-lain. Menarik sih ini kan demokrasi muda. Tetapi kalau melihat sampai hari ini belum ada yang menggerakkan hati saya untuk ke sana.

Biografi
Nama Lengkap Sandiaga S. Uno
Lahir Rumbai, 28 Juni 1969
Istri Noor Asiah
Anak
Anneesha Atheera Uno
Amyra Atheefa Uno
Pendidikan
Studi di Wichita State University
Master di George Washington University

rose KECIL

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: