energi terbarukan: ini baru $3r1u$ plt$ … 111012_300117


resveratrol dalam anggur merah: amat BERMANFAAT pada kondisi pembuluh darah koroner jantung

INVES + TRADING 20 saham di warteg OTC gw, TELAH MENINGKATKAN LABA gw +34% dalam periode 3 bulan, awal 2016

solar panel

TOKYO nikkei– Japanese trading house Marubeni will build and manage what will become one of the world’s largest mega solar power plants, with a capacity of 1.18 or so gigawatts — more than a nuclear reactor.

The plant will be built in the United Arab Emirates.

With the Paris Agreement, which is aimed at curbing greenhouse gases, having taken effect late last year, the world is shifting toward renewable energy.

Japanese industry is viewing this shift as an opportunity.

The plant is to be constructed on a 7.8-sq.-km desert plot in eastern Abu Dhabi. The land will be on loan from a local government.

Marubeni, which could sign papers regarding the plant as early as next month, aims to fire up the panels in 2019.

Total costs are estimated at 100 billion yen ($868 million). The money is expected to come from financial institutions in the form of project financing. The Abu Dhabi Water & Electricity Authority will sign for 60% of the loan package, with Marubeni and Chinese solar panel maker JinkoSolar responsible for 20% each.

The consortium will sell electricity from the plant for 25 years.

The plant will use panels made by JinkoSolar that allow for stable power generation even in dust storms.

The shift to sun-provided power is gaining momentum in the Middle East, which gets heavy doses of solar radiation, the stuff that falls on photoelectric panels and makes them work.

 solar panel

Abu Dhabi detik- Uni Emirat Arab (UEA) merupakan negara penghasil minyak nomor 3 di dunia, dengan produksi 3 juta barel per hari. Uang hasil minyak negara ini banyak, bahkan punya hingga triliunan dolar AS.

Demikian cerita dari Duta Besar RI Untuk UEA Husin Bagis di Abu Dhabi, saat ditemui di kantornya, Minggu (15/1/2017).

“UEA siap untuk berinvestasi di Indonesia, namun harus diberikan informasi soal peluang-peluang investasinya apa. Selama ini mereka kurang informasi. Makanya saya minta pemerintah di Jakarta mengirimkan informasinya,” kata Dubes yang baru 9 bulan menjabat ini.

Husin menyatakan, hubungan Jakarta dengan Abu Dhabi saat ini sangat mesra. Terutama saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah mengunjungi Dubai beberapa tahun lalu.

Kala itu, Jokowi bertemu dengan Crown Prince, Syeikh Muhammad dan dijanjikan investasi besar.

“Negeri ini sekarang sudah cenderung berinvestasi ke negara-negara Asia Tenggara, apalagi Indonesia merupakan salah satu negara muslim terbesar. Mereka punya dana triliunan dolar AS,” kata Husin.

Terdekat, Menteri ESDM, Ignasius Jonan pada Senin (16/1/2017), mengunjungi Abu Dhabi untuk melihat perkembangan energi terbarukan.

Di UEA, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bisa memproduksi listrik dengan harga hanya US$ 2,99 sen/kWh alias Rp 390/kWh. Lebih murah dari Indonesia, Feed in Tariff untuk PLTS yang mencapai US$ 15 sen/kWh atau sekitar Rp 2.000/kWh.

Dubes mengatakan, UEA siap untuk menginvestasikan dana untuk proyek energi terbarukan di Indonesia. Perusahaan pengembang energi terbarukan di UEA adalah Masdar.

“Masdar punya proyek besar di London pada sektor energi terbarukan. Untuk Indonesia mereka siap,” ujar Husin.

Tak hanya energi terbarukan, UEA juga siap berinvestasi di sektor infrastruktur di Indonesia. “Dan mereka murni investasi dengan membawa uang saja. Tidak membawa tenaga kerja. Tapi syaratnya tidak pakai tender. Karena kalau pakai tender pasti tidak lolos karena mereka tidak punya pengalaman,” papar Husin.

“Sekarang tinggal beri informasi peluang investasi di Indonesia, karena akses informasi investasi di Indonesia sulit,” ujarnya. (dnl/ang)

ets-small

KOMPAS.com – India, salah satu negara dengan kadar polusi tertinggi di dunia baru saja meresmikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terbesar di dunia.

PLTS bertenaga 648 megawatt (MW) yang berada di Kamuthi, Tamil Nadu, berhasil merebut gelar PLTS terbesar di dunia dari Topaz Solar Farm di California, Amerika Serikat (AS) yang memiliki daya 550 MW.

PLTS terbaru India ini hanya dibangun dalam kurun waktu delapan bulan dan secara garis besar dioperasikan sendiri dengan menggunakan sejumlah robot bertenaga surya untuk menjaga tingkat efisiensi usaha dan penggunaan tenaga manusia seminimal mungkin.

India saat ini tengah bekerja untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan memasang lebih banyak proyek-proyek energi terbarukan demi menyingkirkan polusi udara.

PLTS Kamuthi didanai oleh Adani Power dan dikerjakan sejak 21 September 2015 silam. Jika nanti beroperasi, PLTS ini diharapkan mampu menyediakan cukup energi listrik untuk 150.000 rumah tangga.

Proyek pembangkit listrik senilai 679 juta dollar AS ini terdiri dari 2,5 juta sel surya dan terbentang seluas 513,9 hektar. Pembangunan PLTS terbesar di dunia ini merupakan langkah India untuk memberikan listrik dari tenaga surya ke 60 juta rumah pada 2022 mendatang.

Upaya-upaya tersebut juga mendukung tujuan pengelolaan energi pemerintahnya yang menargetkan peningkatan energi bersih hingga 40 persen dari total kebutuhan energi nasional 2030.

PLTS baru ini merupakan lompatan besar bagi India karena untuk pertama kalinya membuat total kapasitas yang terpasang di sana mencapai 10 gigawatt (GW).

Namun, diperlukan lebih banyak lagi proyek-proyek pembangunan PLTS di India untuk memenuhi tujuan energi terbarukan yang telah dicanangkan.

buttrock

Surabaya detik -Perusahaan dari Jepang CBC Group yang bergerak di bidang bisnis atap tenaga surya dengan menggandeng perusahaan lokal PT Utomodeck, mulai membidik segmen industri di Surabaya dan Jawa Timur.

Katsuhiko Iwamoto, Manager CBC Co. Ltd, CBC Group mengatakan, pembangkit tenaga surya sudah banyak ditemukan di negara asalnya, Jepang. Sedangkan, sumber daya alam berupa energi surya di Indonesia, sangat melimpah, namun belum banyak dimanfaatkan.

“Memang di Indonesia ada musim hujan, tapi dibandingkan dengan di Jepang, Indonesia asupan pengolahan energi surya melimpah dan jauh lebih banyak daripada Jepang, karena mataharinya lebih panjang,” katanya di sela-sela acara MoU Utomodeck dengan CBC Group di Surabaya, Senin (2/5/2016).

Dengan menggandeng perusahaan lokal, pihaknya berharap sampai akhir tahun ini bisa menjual 5 megawatt ke kawasan pabrik. “Kalau 5 megawatt atau setara dengan 10 pabrik,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Operasional dan Marketing Utomodeck, Anthony Utomo menerangkan, dalam perjanjian kerja sama itu, pihaknya menyiapkan atap bertenaga surya. Sedangkan CBC Group menyiapkan pembangkit tenaga suryanya.

“Sasaran kita adalah bangunan pabrik-pabrik,” kata Anthony.

Bagi pabrik yang ingin menggunakan solar emergency rooftop system atau atap bertenaga surya tidak perlu mengeluarkan biaya hingga miliaran untuk membeli komponen hingga pemasangan. Hanya saja, pabrik harus membeli listrik tenaga surya itu dalam jangka waktu tertentu.

“Kita pasang atapnya, sedangkan alatnya (pembangkit tenaga surya) dari CBC. Tapi harus kontrak membeli listrik kita sampai 25 tahun,” tuturnya sambil menambahkan, untuk pembiayaan pemasangan alat sistem tenaga surya ini akan menggandeng perbankan.

Sebagai informasi, biasanya biaya pembangkit listrik tenaga surya membutuhkan dana besar. Estimasi dana yang dikeluarkan sekitar Rp 20 miliar untuk menghasilkan 1 megawatt dengan luas 7.000 meter persegi.

Ia menambahkan, kerja sama dengan CBC Group merupakan salah satu dukungan terhadap program pemerintah terkait energi terbarukan. Menurutnya, dengan menggunakan tenaga surya, pabrik dapat menghemat biaya operasional listrik sekitar 3 sampai 5 persen.

“Kalau dengan energi surya ini lebih green dan tidak polusi. Selain itu, juga menghemat biaya lebih murah sekitar 3-5 persen dibandingkan dengan PLN. Tapi kita ikuti harga dari PLN. Kalau ada kenaikan, ya kita naikan. Kalau ada penurunan tarif dari PLN, kita ikut turunkan dengan selisih antara 3 sampai 5 persen,” tandas Anthony.

(roi/hns)

solar panel

 

Tianjin detik-Indonesia tengah fokus untuk menggenjot pembangunan proyek pembangkit listrik 35.000 Mega Watt (MW) hingga tahun 2019.

Wajar saja, mega proyek tersebut sengaja digeber untuk dapat mengatasi kendala mati listrik di berbagai daerah di Indonesia.

Namun, berbeda dengan China. Negeri Tirai Bambu ini tengah asyik menggalakkan program panel surya, di mana listrik dihasilkan dengan mengandalkan kemampuan sinar matahari.

detikFinance bersama 9 jurnalis dari perwakilan negara-negara ASEAN lainnya berkesempatan menengok langsung cara kerja panel surya ini, di 8Xing an Road, Jiuyuan Industrial Zone, Baodi,District,Tianjin, China, Jumat (22/4/2016).

Lokasi tersebut merupakan markas besar SunCan Co.,Ltd dan juga Beijing Shouhang Resources Saving Co., Ltd (SH Resources Saving).

 

Perjalanan menuju kawasan industri tersebut cukup jauh dari Beijing. Bisa ditempuh sekitar 3 jam dengan kondisi lalu lintas normal.

Sekitar pukul 15.42 waktu setempat, rombongan tiba di lokasi. Udara di lokasi ini cukup dingin seperti kawasan Puncak, Indonesia. Namun, matahari tetap menyingsing.

Kawasan industri Tianjin sangat berbeda dengan kawasan industri di Jakarta, Indonesia. Di kawasan industri ini suasananya sunyi, rapi, bersih, dan tertib. Selain SunCan, tampak berjejer industri lainnya seperti Hitachi.

“Kami fokus di solar power. Menghasilkan listrik dengan tenaga matahari. Produk kami tidak hanya di China tapi internasional termasuk Indonesia,” ujar Founder and CEO SunCan Co., Ltd, Zhihao Yao.

Menurut Yao, solar power merupakan salah satu energi baru terbarukan yang lebih bersih untuk menghasilkan listrik.

Beberapa negara telah menerapkan program ini, di antaranya 10+100MWe Molten Salt Tower Plant di Dunhuang, China, SunCan 10 MW Molten Salt Tower, Solar Thermal Tower Plant 20 MW di Spanyol, Solar Thermal Tower 110 MW di Amerika Serikat, Solar Thermal Tower di Afrika Selatan, Solar Thermal Trough Plant di India, Sola Thermal 160 MW di Moroko.

“Banyak manfaat menggunakan solar power. Sangat bersih. Kita harus melihat jangka panjang. Dalam 5-10 tahun ke depan akan terasa manfaatnya. Keuntungannya bisa terlihat jangka panjang,” ujar Chen Han, Engineer SunCan Co.,Ltd menambahkan.

 

Dia menyebutkan, soal harga solar power memang lebih mahal dibandingkan pembangkit listrik. Namun, ini merupakan investasi jangka panjang. Ke depan, yang akan banyak digunakan adalah energi baru terbarukan.

“Harga tergantung kapasitas. Misal untuk

24 jam beroperasi,

100 MW, menghabiskan biaya 3 miliar RMB (Renminbi). Contoh lain,

1.000 MW bisa mensupport 200.000 jam,” sebut dia.

Bagaimana jika tidak ada matahari alias mendung?

Turbine engineering itu menyimpan listrik. Jadi, kalau tidak ada matahari ya bisa dikombinasi dengan gas. Kita hanya butuh lahan, tidak perlu tower, tidak ada polusi,” ucap Chen.

Setelah berdiskusi, rombongan pun diajak berkeliling melihat surya panel dan cara kerjanya.

Di sekitar markas besar SunCan, tampak berjejer solar power. Solar power di pasang di sisi kanan kiri kantor. Bagian lempengan baja menghadap ke atas menangkap sinar matahari.

Di lokasi dekat solar power tersebut terdapat ruang steam. Sebelum air menuju boiler, terlebih dulu air masuk ruang steam, setelah itu diproses di mesin boiler untuk kemudian diproses hingga menghasilkan listrik.

Informasi saja, SunCan didirikan tahun 2012 dan merupakan perusahaan joint venture dengan Beijing Shouhang Resources Saving Co., Ltd (SH Resources Saving), salah satu perusahaan manufaktur terbesar di China.

Juga merupakan perusahaan teknologi tinggi yang mengkhususkan diri dalam jasa penelitian dan pengembangan, desain, dan sistem pendingin udara pembangkit listrik atau supplier Air Cooling Condenser(ACC) untuk steam power plant di China.

SH Resources Saving tercatat di bursa saham, Shenzen Stock Exchange. SunCan sendiri fokus dalam bisnis R&D, EPC, dan industri solar power, solar fuel, dan solar thermal energy.

(drk/dna)

solar panel

Morotai detik-Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke PLTS Daruba di Pulau Morotai pukul 06.30 WIT pagi ini.

Sidak ini dilakukan, setelah Jokowi mendengar informasi bahwa PLTS ini mangkrak setelah dibangun pada 2012 lalu.

Tetapi, setelah dicek langsung oleh Jokowi, ternyata PLTS ini masih beroperasi dan memasok listrik hingga mendekati kapasitas maksimumnya. Memang ada kerusakan pada alat automatic, sehingga PLTS harus dioperasikan secara manual, tetapi PLTS tidak sampai mangkrak.

“Ada yang rusak, alat automatic-nya,” kata Jokowi usai sidak di PLTS Daruba, Morotai, Rabu (6/4/2016). Dalam sidak ini, Jokowi didampingi antara lain oleh Menteri ESDM Sudirman Said, Jubir Kepresidenan Johan Budi, serta Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Rida Mulyana.

Jokowi menambahkan, sidak seperti ini dilakukannya untuk mengontrol hasil-hasil pembangunan, supaya tidak ada proyek yang sebenarnya bermanfaat tetapi hanya jadi buang-buang uang rakyat akibat tidak dikelola dengan baik.

Dia menyontohkan, ada PLTS yang mangkrak di Halmahera karena tidak dirawat setelah selesai dibangun. “Itu di Halmahera mangkrak, lihat saja sendiri,” ucapnya.

Jokowi juga menyoroti kurangnya sumber daya manusia untuk merawat PLTS. Di PLTS Daruba misalnya, hanya ada 1 orang teknisi yang melakukan perawatan. “PLTS segede ini yang menangani cuma 1 orang. Di daerah banyak yang seperti ini,” tutupnya.

(wdl/wdl)

rose KECIL

Kamis, 11/10/2012 04:21 WIB
Setelah Morotai, Pembangkit Listrik Tenaga Surya Segera Dibangun di 6 Pulau
Moksa Hutasoit – detikNews

Ternate PT PLN sudah merencanakan akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di enam pulau di kawasan Indonesia Timur. Pembangunan itu akan mengikuti jejak di Pulau Morotai yang sudah lebih dulu terpasang.

“Tahun ini kita rencanakan bangun PLTS di enam pulau lagi,” kata Manajer PLN Area Ternate, Maluku dan Maluku Utara, Dwi Murwanto, di Ternate, Rabu (10/10/2012).

Enam pulau yang dimaksud adalah Hiri, Moti, Batangdua, Taliabu, Makian dan Kasi Ruta. Rata-rata setiap PLTS di tempat itu bakal bisa menghasilkan listrik sebesar 250 kWp (kilo Watt peak) . Namun belum bisa dipastikan kapan PLTS itu bakal mulai dibangun.

“Yang pasti tahun ini, sekarang prosesnya ada di wilayah,” lanjut Dwi.

Pembangunan PLTS di kawasan ini dirasa sangat tepat. Dengan sinar matahari yang cukup terik di siang hari, PLTS dinilai bakal bisa berjalan maksimal.

Meski biaya investasi PLTS tidaklah sedikit, namun biaya operasionalnya justru nihil. Saat ini, PLN tengah berkoordinasi dengan pemda setempat untuk masalah pembebasan lahan yang juga membutuhkan biaya besar.

Sebagai contoh, PLTS di Morotai yang berdiri sejak 13 Mei 2012 lalu. Biaya yang dikeluarkan PLN untuk membangun PLTS itu sebesar Rp 29 miliar. Namun radiasi matahari yang diharapkan bisa ditangkap sebesar 600 kWp dari 2.640 modul.

Menurut penanggung jawab PLTS Morotai, Rickie Riyadi, perawatan modul-modulnya pun terbilang mudah. Cukup dibersihkan dari kotoran setiap minggunya supaya penyerapan radiasi bisa maksimal.

Saat radiasi matahari diserap, tidak semua energi yang diubah menjadi listrik itu dialiri ke warga. Sebuah mesin bakal mengatur pasokan energi yang terserap.

80 persen listrik segera dapat dinikmati warga. Sisanya tersimpan dalam 540 accu yang ada juga di sekitar wilayah PLTS. Tujuannya, jika penyerapan radiasi tengah minim, giliran accu ini yang bakal bekerja.

(mok/trq)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: