Rp177.9 M @el$a : Rp24.37 /saham … 1003201empat_291015_251116


reaction_1

JAKARTA sindonews – PT Elnusa Tbk (ELSA) mencatat pendapatan perseroan hingga September 2016 menurun sekitar 3,7% dari periode sama tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya, proses alih kelola Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie kepada PT Pertamina (Persero).

(Baca: Elnusa Berharap Pertamina Investasi di Blok Mahakam 2017)

Direktur Keuangan Elnusa Budi Rahardjo mengatakan, tahun lalu ‎pendapatan perseroan mencapai Rp2,6 triliun dan tahun ini sedikit menyusut menjadi Rp2,5 triliun. Menurutnya, alih kelola Blok Mahakam membuat Total tidak melakukan investasi besar-besaran di blok migas tersebut.

“Rencana perpindahan Blok Mahakam dari Total membuat pihak Total tidak melakukan investasi besar-besaran. Itu ber-impact kepada kami,” katanya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (25/11/2016).

Selain itu, menurunnya pendapatan Elnusa juga disebabkan belum bergairahnya harga minyak dunia di pasar dunia. Pada tahun ini, harga minyak mentah di pasar‎ global masih berada di kisaran USD30 per barel.

“Tahun ini ternyata lebih berat dibanding tahun lalu. Karena harga minyak turun terus sampai USD30 per barel,” imbuh dia.

Menurutnya, penurunan pendapatan perseroan menyebabkan laba bersih hingga September 2016 ikut tergerus. Laba bersih yang dibukukan Elnusa hingga September 2016 hanya sekitar Rp178 miliar atau turun 7% dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai Rp226 miliar.

“‎Net profit turun Rp178 miliar dibanding tahun lalu Rp226 miliar juga karena kerugian selisih kurs sebesar Rp22 miliar,” tandasnya.

(izz)

lol

 

PT Elnusa Tbk (ELSA) membukukan laba bersih pada Quarter 3 2016 sebesar 177,9 miliar. Turun bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2015 sebesar  226,3 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 24.37 per lembar.

Berikut Laporan keuangan ELSA Quarter 3 2016 :

Account Quarter 3 2016
Last Price 420
Share Out 7,3 B
Market Cap. 3.065,4 B
Balance Sheet
Cash 670,4 B
Total Asset 4.098,6 B
S.T Debt 1.294,1 B
L.T Debt 66,8 B
Total Equity 2.737,7 B
Income Statement
Revenue 2.523,8 B
Gross Profit 429,8 B
Operating Profit 281,1 B
Net. Profit 177,9 B
EBITDA 505,3 B
Interest Exp. 20,4 B
Ratio
EPS 24,37
PER 17,23x
BVPS 375,10
PBV 1,12x
ROA 4,34%
ROE 6,50%
EV/EBITDA 7,43
Debt/Equity 0,50
Debt/TotalCap 0,33
Debt/EBITDA 2,69
EBITDA/IntExp. 24,76

Sumber : IPS RESEARCH

buttrock

PT Elnusa Tbk (ELSA) membukukan laba bersih pada Quarter 1 2016 sebesar 93,8 miliar. Naik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2015 sebesar  65,2 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 12.85 per lembar.

Berikut Laporan keuangan ELSA Quarter 1 2016 :

Account Quarter 1 2016
Last Price 482
Share Out 7,3 B
Market Cap. 3.517,9 B
Balance Sheet
Cash 767,1 B
Total Asset 4.019,8 B
S.T Debt 1.213,9 B
L.T Debt 68,1 B
Total Equity 2.737,8 B
Income Statement
Revenue 921,1 B
Gross Profit 214,2 B
Operating Profit 168,6 B
Net. Profit 93,8 B
EBITDA 238,0 B
Interest Exp. 9,9 B
Ratio
EPS 12,85
PER 37,51x
BVPS 375,11
PBV 1,28x
ROA 2,33%
ROE 3,43%
EV/EBITDA 16,94
Debt/Equity 0,47
Debt/TotalCap 0,32
Debt/EBITDA 5,39
EBITDA/IntExp. 24,11

Sumber : IPS RESEARCH

indonesia value investor @ Elnusa

IHSG memulai perjalanannya di tahun 2016 ini dengan kurang mulus. Ketika artikel ini ditulis, IHSG masih turun 2% secara year to date. Meski penurunan tersebut masih jauh lebih baik dibanding penurunan Bursa China dan juga Amerika, dimana Indeks Shanghai dan Dow Jones  masing-masing turun 16.7 dan 6.2%, namun beberapa saham di sektor migas dan tambang sudah jatuh lebih dalam. Salah satunya, Elnusa (ELSA), yang terakhir ditutup di posisi 200 atau sudah turun hampir 20% sejak awal tahun, dan cukup jelas bahwa penyebabnya adalah penurunan harga minyak yang sekarang sudah menyentuh US$ 30 per barel.

Dan tidak hanya di dalam negeri, tapi saham-saham perusahaan migas skala global seperti Royal Dutch Shell, Exxon Mobil, BP, Chevron, Total SA, semuanya juga tumbang. Tapi yang menarik, kemarin Berkshire Hathaway merilis keterbukaan informasi bahwa mereka menambah kepemilikan di saham Phillips 66, sebuah perusahaan minyak kelas menengah yang bermarkas di Texas, Amerika Serikat. Nah, kita tentu sudah hafal kebiasaan Opa Warren yang suka membeli saham suatu perusahaan justru ketika orang-orang menghindarinya, dan dalam hal ini membeli saham perusahaan minyak justru ketika harga minyak terus meluncur turun. Tapi mungkin pertanyaannya, apakah ini merupakan sinyal bahwa smart money sudah mulai masuk ketika mayoritas investor sudah desperatedengan bisnis perminyakan? Lalu terkait Elnusa tadi, apakah penurunan harganya adalah sebuah opportunity?

Sekilas Elnusa

ELSA merupakan anak usaha dari BUMN paling mengesalkan di Indonesia, Pertamina, yang bergerak di bidang jasa perminyakan. Yup, ELSA tidak memproduksi minyak, namun menyediakan layanan land seismic, drilling, fabrication dll bagi perusahaan-perusahaan minyak. Beberapa pelanggan ELSA adalah Pertamina Hulu Energi, Pertamina EP, Medco, Pertagas, Total Indonesie, hingga Chevron Pacific Indonesia. Khusus untuk jasa land seismic, ELSA merupakan salah satu pionir yang sudah berpengalaman sejak tahun 1974, dan saat ini berstatus sebagai market leader di tanah air.

Nah, sejak dulu entah kenapa sektor perminyakan di BEI tidak pernah mencatatkan kinerja fundamental yang bagus, bahkan ketika dulu harga minyak masih diatas US$ 100 per barel, dan alhasil penulis sendiri hampir gak pernah melirik peluang investasi di sektor ini (tapi sebenarnya itu ada penjelasannya, anda bisa membacanya disini). And btw, Perusahaan Gas Negara (PGAS) tidak bisa dikelompokkan sebagai perusahaan migas atau jasa migas, karena dia cuma distributor.

Namun dibanding beberapa emiten sejenis seperti Ratu Prabu Energi (ARTI), Benakat Integra (BIPI), Energi Mega Persada (ENRG), hingga Medco (MEDC), maka ELSA memiliki kinerja fundamental yang relatif baik, meski tetap saja masih dibawah standar ‘baik’ versi penulis. However, dengan terus menurunnya harga minyak yang diiringi oleh penurunan harga saham dari perusahaan-perusahaan terkait, maka jika anda tertarik untuk mengikuti langkah Buffett yang justru masuk ke sektor perminyakan, pilihan saham yang paling masuk akal ya ELSA ini. Dan dengan PBV 0.6 kali pada harga 200, maka jika nanti harga minyak rebound sedikit saja, harusnya dia bisa dengan mudah membal keatas.

Hanya saja, kalau untuk investasi serius untuk jangka panjang, maka ELSA terbilang meragukan. Sejak 2010 sampai sekarang, pendapatan perusahaan stagnan di Rp4 trilyunan per tahun, alias gak naik-naik, dan kenaikan laba ELSA lebih didorong oleh efisiensi kinerja, tapi bahkan sampai sekarang margin labanya masih dibawah 10%, dan itu terbilang sangat rendah untuk ukuran perusahaan jasa. Lalu seiring dengan penurunan harga minyak sejak awal tahun 2015 lalu, pendapatan ELSA juga ikut tertekan dimana hingga Kuartal III kemarin, angkanya baru tercatat Rp2.6 trilyun, sehingga ada kemungkinan bahwa untuk sepanjang tahun 2015 ini pendapatan ELSA akan tercatat dibawah Rp4 trilyun, dan memang dari pihak manajemen sendiri memperkirakan bahwa laba ELSA hanya akan mencapai Rp350 milyar untuk tahun 2015, atau turun signifikan dibanding tahun 2014 sebesar Rp412 milyar. Dalam materi public expose yang diselenggarakan perusahaan ketika harga minyak masih US$ 45 per barel, manajemen sudah mengatakan bahwa kinerja perusahaan, meski turun, tapi penurunannya tidak sedalam industri migas secara umum, karena berbeda dengan mayoritas perusahaan migas lain di tanah air, ELSA relatif tidak memiliki utang.

Penurunan Kinerja

Tapi kata kuncinya disini adalah bahwa ‘kinerja perusahaan ikut turun seiring dengan penurunan harga minyak’. Dan berhubung harga minyak sekarang tinggal US$ 30 per barel, maka ya wassalaaaam… Terkait sahamnya sendiri, pada tahun 2011 lalu, yakni ketika harga minyak lagi tinggi-tingginya di level US$ 120 per barel, ELSA justru menderita kerugian Rp43 milyar, dan itu menyebabkan sahamnya jeblok dari 350-an hingga 160-an. Namun memasuki tahun 2012 hingga 2014, perolehan laba perusahaan terus membaik hingga mencapai Rp420 milyar pada akhir tahun 2014, dan alhasil sahamnya juga terus naik sampai sempat menyentuh posisi 700, alias mencetak gain lebih dari tiga kali lipat.

Memasuki tahun 2015, secara efisiensi kinerja ELSA mungkin sudah lebih baik (jadi perusahaan gak akan sampai menderita rugi lagi), namun problemnya masih terletak di ketidakmampuan perusahaan untuk meningkatkan pendapatan. Dan berhubung harga minyak juga tinggal seperempat dari harganya di tahun 2011 maka pendapatan ELSA ikut turun, dan investor biasanya gak mau tau: Kalau pendapatan dan laba perusahaan turun tajam maka gue gak akan beli sahamnya, dan sebenarnya itulah yang menyebabkan sahamnya terpuruk. Ingat bahwa penuruan harga minyak, yang sampai awal tahun 2016 ini masih terus terjadi, bisa berarti bahwa kinerja ELSA untuk awal tahun 2016 ini juga akan kembali turun dibanding 2015.

Jadi agar saham ELSA bisa naik maka caranya ada dua: 1. Harga minyak rebound, dan 2. Kinerja perusahaan menunjukkan perbaikan. Untuk poin pertama, itu bisa terjadi kapan saja dan kalau itu terjadi maka saham ELSA bakal naik sangat tajam, mungkin bisa sampai beberapa puluh persen hanya dalam satu dua hari, tapi hanya untuk sesaat sebelum kemudian turun lagi (karena pada akhirnya orang akan lihat laporan keuangan lagi). Untuk poin kedua, itu paling cepat baru akan kelihatan di laporan keuangan Kuartal I 2016 nanti, yang akan dirilis sekitar akhir April, dan itupun dengan catatan harga minyak sudah rebound sebelumnya.

Kesimpulannya, I don’t know with others, namun kalau untuk penulis ELSA ini hanya masuk watchlist saja dulu. Ketika Opa Buffett beli Phillips 66, mungkin pertimbangannya adalah karena perusahaan oil refinery ini hingga Kuartal III 2015 masih membukukan laba US$ 3.6 milyar, atau hampir sama dengan periode yang sama tahun 2014, sementara kinerja perusahaan-perusahaan minyak lain sudah pada bertumbangan bahkan sejak tahun 2013. Jadi kalau nanti harga minyak pulih lagi maka kinerja Phillips 66 juga akan melaju kencan lagi. Sementara ELSA? We’ll, it’s not that good, setidaknya untuk saat ini, so it’s better to wait, kecuali jika anda hendak berspekulasi pada harga minyak yang bisa saja membal sewaktu-waktu. Tapi yah, penulis tentu saja tidak menyarankan untuk ‘investasi saham’ dengan cara seperti itu.

  1. Elnusa, Tbk

Rating Kinerja pada Kuartal III 2015: BBB

Rating Saham pada 200: A

Btw, hingga Rabu, 13 Januari, IHSG masih turun 1.2% secara year to date, namun sektor properti/konstruksi dan finance/perbankan masing-masing hanya turun 0.7%, dan sektor infrastruktur/transportasi malah naik 1.2%. Sementara sektor pertambangan, termasuk ELSA di dalamnya, sudah turun 2.5%. Hal ini menunjukkan bahwa meski IHSG masih dipengaruhi fluktuasi bursa global dan juga turunnya harga minyak, namun beberapa saham di tiga sektor yang lagi ‘hot’ diatas tetap menanjak karena, sekali lagi, fundamental ekonomi kita mulai pulih dengan sektor-sektor tersebut sebagai pendorongnya.

rose KECIL

PT Elnusa Tbk (ELSA) membukukan laba bersih pada Quarter 3 2015 sebesar 226,3 miliar. Turun bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2014 sebesar  288,3 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 31.00 per lembar.

Berikut Laporan keuangan ELSA Quarter 3 2015 :

Account Quarter 3 2015
Last Price          350
Share Out 7,3 B
Market Cap. 2.554,5 B
Balance Sheet
Cash               874,8 B
Total Asset 4.308,2 B
S.T Borrowing 354,3 B
L.T Borrowing 374,6 B
Total Equity 2.522,8 B
Income Statement
Revenue           2.619,4 B
Gross Profit 441,3 B
Operating Profit 247,4 B
Net. Profit        226,3 B
EBITDA         446,6 B
Interest Exp. 28,2 B
Ratio
EPS                 31,00
PER                 11,29x
BVPS                 345,66
PBV                 1,01x
ROA                 5,25%
ROE                 8,97%
EV/EBITDA 5,39
Debt/Equity 0,29
Debt/TotalCap 0,22
Debt/EBITDA 1,63
EBITDA/IntExp. 15,84

Sumber : IPS RESEARCH

bird

Senin, 03/08/2015 NERACA

Jakarta – Ditengah anjloknya harga minyak dunia membuat pelaku industri minyak dan gas (migas) ikut terkena imbasnya dengan mencatatkan penurunan pendapatan. Namun sebaliknya, hal tersebut tidak berlaku bagi PT Elnusa Tbk. (ELSA) yang tetap optimistis mampu mencatatkan kinerja keuangan yang positif di semester pertama tahun ini.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, perseroan menegaskan tidak mau sesumbar target bisnis tahun ini bisa tercapai. Pasalnya, perseroan mempunyai komitmen besar untuk mampu menjaga marjin laba bersih tanpa mengurangi kualitas deliverables kepada klien,”Pencapaian semester I 2015 ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan terhadap pendapatan usaha, perseroan terus melakukan project dan financial management yang baik serta efisiensi di semua lini untuk mempertahankan kinerja, sehingga marjin laba bersih secara keseluruhan masih dapat terjaga terhadap marjin periode sebelumnya,”kata Budi Rahardjo, Direktur Keuangan PT Elnusa Tbk.

 

http://www.neraca.co.id/article/56978/elnusa-masih-menaruh-asa-di-bisnis-migas-laba-bersih-tumbuh-462
Sumber : NERACA.CO.ID

long jump icon

JAKARTA – PT Elnusa Tbk (ELSA) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 20 persen menjadi senilai Rp65 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Direktur Keuangan Elnusa, Saham Hutajulu, mengatakan kinerja positif ini terutama didukung oleh baiknya pertumbuhan di segmen jasa hulu yaitu driling and oilfield serta land seismuc service yang tumbuh masing-masing sebesar 3 persen dan 2 persen.

“Sedangkan kinerja anak perusahaan terutama PT Elnusa Petrofin pada segmen jasa hilir migas juga membaik dengan tumbuh 2 persen di kuartal I-2015 ini, ucap di Gedung BEI Jakarta, Rabu (21/4/2015).

Dia menjelaskan, laba kotor perseroan menunjukkan nilai positif dengan pertumbuhan sebesar 7 persen, dengan laba usaha tumbuh 5 persen dan EBITA perseroan mampu meningkat sebesar 9 persen dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya.

“Berkaitan dengan hal ini, kami berkomitmen menjaga beban pokok pendapatan pada level yang wajar, di mana keseriusan manajemen untuk terus melakukan efisiensi dalam operasinya tanpa mengurangi kualitas jasa yang diberikan pada klien,” tuturnya.

Strategi perseroan dalam menjaga kekuatan balance sheet serta ruang pendapatan yang cukup besar guna mendukung rencana investasi pada kuartal I-2015 sebesar 22 persen dari Rp540 miliar menjadi Rp420 miliar.

“Meskipun kondisi industri global migas baik global maupun nasional kurang baik dan diprediksikan cenderung tidak stabil sampai akhir tahun, Elnusa tetap mampu melanjutkan pertumbuhan dengan kontribuso positif dari bisnis inti perseroan,” ucapnya.

http://economy.okezone.com/read/2015/04/22/278/1138337/elnusa-catat-kenaikan-laba-bersih-20
Sumber : OKEZONE.COM

rose KECIL

PT Elnusa (ELSA) mencatatkan pertumbuhan laba bersih ELSA hingga 73,2% menjadi Rp 412,4 M dari tahun sebelumnya Rp 238,1 M.  Penjualan aset merupakan salah satu faktor yang menopang perolehan laba bersih. Pendapatan usaha ELSA tercatat Rp 4,2 T atau hanya naik 2,7% dari tahun 2013 sebesar Rp 4,1 T.
Sumber : IPS RESEARCH

PT Elnusa Tbk (ELSA) membukukan laba bersih pada tahun 2014 sebesar 412,4 miliar. Naik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013 sebesar 238,1 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 56.50 per lembar.

 

Berikut Laporan keuangan ELSA Tahun 2014 :

Account Quarter 4 2014
Last Price          580
Share Out 7,3 B
Market Cap. 4.233,1 B
Balance Sheet
Cash               1.060,2 B
Total Asset 4.245,7 B
S.T Borrowing 244,3 B
L.T Borrowing 248,9 B
Total Equity 2.583,0 B
Income Statement
Revenue           4.221,2 B
Gross Profit 759,8 B
Operating Profit 424,8 B
Net. Profit        412,4 B
EBITDA         653,5 B
Interest Exp. 33,9 B
Ratio
EPS                 56,50
PER                 10,27x
BVPS                 353,91
PBV                 1,64x
ROA                 9,71%
ROE                 15,97%
EV/EBITDA 5,61
Debt/Equity 0,19
Debt/TotalCap 0,16
Debt/EBITDA 0,75
EBITDA/IntExp. 19,31

Sumber : IPS RESEARCH

long jump icon

Jual Aset, Laba Elnusa Naik Hampir Dua Kali Lipat Jadi Rp288 M
Tahun ini Elnusa cukup berhasil menurunkan tingkat utangnya.
Selasa, 28 Oktober 2014 18:05:26 WIB Sigma Kinasih

Bareksa.com – Anak usaha Pertamina, PT Elnusa Tbk (ELSA) menghasilkan kenaikan laba hingga 145 persen pada 9 bulan pertama tahun ini terutama disebabkan oleh penjualan aset tetap yang meningkat tajam menjadi Rp87,2 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp18 juta.

Laba Elnusa tercatat sebesar

Rp288,3 miliar atau Rp39,5 per saham per Januari sampai September 2014

dari periode sama tahun sebelumnya Rp117,9 miliar atau Rp16,22 per saham.

Untuk pendapatan operasional sendiri, pertumbuhannya tidak begitu besar sekitar 3,42 persen atau menjadi Rp3,02 triliun.

Sehingga kinerja Elnusa lebih ditopang dari segi non operasional seperti kenaikan pendapatan bunga hingga dua kali lipat menjadi Rp24,39 miliar.

Dari sisi pasiva, tahun ini Elnusa cukup berhasil menurunkan tingkat utangnya, terutama pinjaman bank yang berkurang menjadi Rp153,1 miliar per September 2014, dari Rp268,6 miliar per 31 Desember 2013. Sehingga rasio utang terhadap ekuitas juga ikut turun menjadi 0,68 kali dari sebelumnya 0,91 kali. (np)

Topsaham – PT Elnusa Tbk (ELSA) menyetujui pembagian dividen sebesar 50 persen atau senilai Rp119,03 miliar dari laba bersih perseroan tahun lalu. Demikian disampaikan Corporate Secretary PT Elnusa Tbk Fajriah Usman  usai RUPS di Jakarta, Jumat (9/5/14).

Dosebutkan, BUMN ini pada tahun lalu berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp238,06 miliar. Angka ini naik 86 persen dibanding tahun sebelumnya senilai Rp127,92 miliar. Rencananya, dividen tersebut akan dibagikan pada Juni 2014.

Adapaun persentase pembagian dividen tahun ini lebih besar jika dibanding pembagian dividen tahun sebelumnya yang hanya sebesar 10 persen dari laba bersih. Persentase yang lebih besar ini merupakan bukti komitmen dan penghargaan terhadap pemegang saham yang telah mendukung perseroan selama ini.

Sisa dana hasil pembagian dividen tersebut akan dipergunakan perseroan sebagai laba ditahan untuk menopang tahun 2014, yang telah ditetapkan sebagai tahun pengembangan, di mana membutuhkan banyak pendanaan sebagai bagian dari rencana ekspansi perseroan. Untuk inti bisnis, perseroan sudah menganggarkan investasi senilai dari USD42 juta.

http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=10480:elnusa-pastikan-bagi-dividen-rp11903-miliar&catid=35:finansial&Itemid=55

Sumber : TOPSAHAM.COM

rose KECIL

Elnusa bagi dividen 50% dari laba bersih

Disfiyant Glinmourinse
Jum’at, 9 Mei 2014 − 12:42 WIB

Sindonews.com – PT Elnusa Tbk (ELSA) dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) menyetujui pembagian dividen sebesar 50 persen atau senilai Rp119,03 miliar dari laba bersih perseroan tahun lalu.

Persreroan pada tahun lalu berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp238,06 miliar. Angka ini naik 86 persen dibanding tahun sebelumnya senilai Rp127,92 miliar. Rencananya, dividen tersebut akan dibagikan pada Juni 2014.

“Persentase pembagian dividen tahun ini lebih besar jika dibanding pembagian dividen tahun sebelumnya yang hanya sebesar 10 persen dari laba bersih,” ujar Corporate Secretary PT Elnusa Tbk Fajriah Usman usai RUPS di Jakarta, Jumat (9/5/14).

Persentase yang lebih besar ini, Fajriah menjelaskan, merupakan bukti komitmen dan penghargaan terhadap pemegang saham yang telah mendukung perseroan selama ini.

“Kemudian, sisa dana hasil pembagian dividen tersebut akan dipergunakan perseroan sebagai laba ditahan untuk menopang tahun 2014, yang telah ditetapkan sebagai tahun pengembangan, di mana membutuhkan banyak pendanaan sebagai bagian dari rencana ekspansi perseroan,” ujar dia.

Sebagai gambaran, untuk inti bisnis, perseroan sudah menganggarkan investasi senilai dari USD42 juta. Nilai itu belum termasuk investasi pengembangan usaha yang juga memerlukan pendanaan lebih besar.

(rna)
views: 148x

bird

Kuartal I, Elnusa Cetak Peningkatan Laba Besih 56%
Ardhanareswari AHP – Rabu, 23 April 2014, 19:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Elnusa Tbk. (ELSA), emiten penyedia jasa energi, mencetak peningkatan laba bersih sebesar 56% menjadi Rp54,16 miliar pada kuartal I/2014 dari periode yang sama tahun sebelumnya, Rp34,70 miliar.

Vice President of Corporate Secretary ELSA Fajriyah Usman mengatakan sektor usaha drilling & oildfield services menyumbang besar dalam menjaga pendapatan perseroan.

“Drilling & oilfield services yang merupakan salah satu back-bone Elnusa tetap mendominasi kontribusi pendapatan usaha maupun laba,” katanya seperti dirilis dari siaran pers resmi, Rabu (23/4/2014).

Sementara itu perusahaan melaporkan pendapatan usaha selama triwulan pertama ini menurun menjadi Rp918,29 miliar dari triwulan I/2013 yang mencapai Rp1,04 triliun atau turun 12%.

Meski begitu, ELSA berhasil memangkas beban pokok pendapatannya hingga 15% menjadi Rp770,51 miliar dari periode yang sama tahun lalu saat beban pokok pendapatan mencapai Rp910,29 miliar.

Perseroan juga mencetak peningkatan marjin laba kotor dari 13% menjadi 16% dan marjin laba bersih dari 3% menjadi 6%. Di samping itu posisi kas hasil operasi tercatat ada di level Rp129,8 miliar atau hampir 3 kali lipat dari laba bersih perseroan.

Adapun total kas dan setara kas pada akhir periode kuartal I/2014 tercatat ada di kisaran Rp1,2 triliun. Menurut manajemen perseroan, salah satu faktor yang memperkuat kas ELSA adalah langkah perseroan melunasi utang modal kerja pada tahun lalu.

Dengan demikian utang bank yang saat ini tercatat turun 37% menjadi Rp540 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu total liabilitas perseroan tercatat menurun 7,4% sejak akhir tahun lalu menjadi Rp1,93 triliun.

Di sisi lain jumlah aset perseroan per 31 Maret 2014 turun 2,3% menjadi Rp4,26 triliun dari akhir tahun lalu yaitu Rp4,27 triliun.

Editor : Reporter
PT Elnusa Tbk (ELSA) membukukan laba bersih pada Quarter 1 2014 sebesar 54,2 miliar. Naik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013 sebesar  34,7 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 7.40 per lembar.

Berikut Laporan keuangan ELSA Quarter 1 2014 :

Account Quarter 1 2014
Last Price          495
Share Out 7,3 B
Market Cap. 3.612,8 B
Balance Sheet
Cash               1.294,5 B
Total Asset 4.268,4 B
S.T Borrowing 386,0 B
L.T Borrowing 332,2 B
Total Equity 2.337,4 B
Income Statement
Revenue           918,3 B
Gross Profit 147,8 B
Operating Profit 101,4 B
Net. Profit        54,2 B
EBITDA         161,3 B
Interest Exp. 12,3 B
Ratio
EPS                 7,40
PER                 66,89x
BVPS                 320,26
PBV                 1,55x
ROA                 1,27%
ROE                 2,32%
EV/EBITDA 18,83
Debt/Equity 0,31
Debt/TotalCap 0,24
Debt/EBITDA 4,45
EBITDA/IntExp. 13,15

Sumber : IPS RESEARCH

bird

Laba Tinggi, Saham ELSA Rawan Profit Taking
Selasa, 11 Maret 2014 06:46 wib | Fakhri Rezy – Okezone

JAKARTA – PT Elnusa Tbk (ELSA) mencatat laba bersih sebesar Rp238 miliar di sepanjang tahun 2013. Angka ini meningkat secara signifikan mencapai 86 persen dibandingkan tahun sebelum yang hanya sebesar Rp127 miliar.

Analis Buana Capital Alfred Nainggolan mengatakan bahwa dengan peningkatan laba yang signifikan tersebut, akan mempengaruhi kenaikan harga saham dari ELSA sendiri. Namun dirinya meminta untuk berhati-hati akan adanya profit taking.

“Short akan mengalami profit taking terkoreksi, namun kalau long term akan ada kenaikan lanjutan,” ujar Alfred kepada Okezone, Jakarta, Selasa (11/3/2014).

Alfred mengatakan kenaikan laba yang tinggi elnusa cenderung tidak begitu liquid, jadi hal tersebut akan berimbas kepada harga sahamnya. Apalagi saat laporan keuangan tahunan yang positif akan membuat para investor melakukan profit taking.

“Namun, kita progresnya sahamnya masih murah ini PE-nya (Price earning) enggak begitu mahal, dengan book value 1,5 kali ini berprospek juga, kalau mereka mempertahankan labanya,” ujarnya.

Alfred memprediksikan, dari sisi harga saham ke depan akan dapat kembali menyentuh harga saat Initial Public Offering (IPO).

Kemarin, harga saham ELSA turun 5 poin atau 1,16 persen di level Rp427. Dalam pergerakan hariannya bergerak di kisaran Rp427-Rp433. (rzy)
Laba Elnusa Melonjak 86%
Maftuh Ihsan – Senin, 10 Maret 2014, 13:57 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan penyedia jasa energi PT Elnusa Tbk. (ELSA) membukukan laba bersih Rp238 miliar pada tahun lalu, atau naik 86% dibandingkan capaian pada 2012 yakni senilai Rp127,9 miliar.

Adapun, pendapatan perseroan pada 2013 turun dari Rp4,7 triliun pada 2012 menjadi Rp4,1 triliun.

Nurkholis, Vice President of Corporate Finance Elnusa, mengatakan pada tahun lalu perseroan menerapkan strategi agresif – selektif untuk menjaga performa bisnis perseroan.

“Kami lebih fokus pada bisnis inti yang memiliki potensi terbaik dan memberikan margin lebih tinggi,” ujarnya, Senin (10/3/2014).

Hasil tersebut, lanjutnya, tampak dari kinerja bisnis drilling and oilfield services (DOS) yang tumbuh 33% pada tahun lalu. Dalam 3 tahun terakhir, pertumbuhan lini bisnis tersebut naik hampir dua kali lipat.

Editor : Ismail Fahmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: