kredibilitas ADRO @$511 Jt … seh : 030613_011116


JAKARTA. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melunasi pinjaman perbankan sebesar US$ 109 juta dalam periode sembilan bulan pertama tahun ini. Hal itu membuat utang bersih perseroan berkurang 43% year on year (yoy) menjadi US$ 511 juta.

Hingga saat ini, ADRO masih memiliki fasilitas pinjaman sebesar US$ 80 juta yang belum digunakan. Sehingga, total akses likuiditas ADRO mencapai US$ 1 miliar, termasuk dana kas senilai US$ 964 juta.

“Jadwal pembayaran utang masih berada di level terkendali, sekitar US$ 270 juta per tahun,” ujar Garibaldi Thohir, Direktur Utama ADRO, Selasa (1/11).

Sementara itu, total pinjaman jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu setahun turun 3% menjadi US$ 149 juta. Jika ditotal, jumlah pinjaman jangka panjang perseroan turun 13% menjadi US$ 1,3 miliar.

Lalu,arus kas dari aktivitas operasional naik 23% yoy menjadi US$ 540 juta karena efisiensi yang dilakukan perseroan. Garibaldi menjelaskan, total dana belanja modal ADRO yang sudah terserap hingga September 2016 mencapai US$ 107 juta yang digunakan untuk pembelian alat berat.

Hingga Kuartal III 2016, perseroan mencetak kenaikan laba inti sebesar 23% menjadi US$ 281 juta. Sementara itu, laba bersihnya tercatat sebesar US$ 209,1 juta, naik dari US$ 180 juta.

Kenaikan laba bersih ini justru berada di kala perseroan mencetak penurunan pendapatan dari US$ 2,1 miliar pada Kuartal III 2015 menjadi US$ 1,7 miliar.

http://investasi.kontan.co.id/news/hingga-september-adro-lunasi-utang-us-109-juta
Sumber : KONTAN.CO.ID

ets-small

 

PT Adaro Energy (ADRO) meningkatkan diversifikasi bisnis di bidang energy dengan menuntaskan proses financial closing dua mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Proyek pertama adalah PLTU Batang, di Jawa Tengah berkapasitas 2×1.000 Mega Watt (MW) dengan nilai investasi US$ 4 M. Proyek kedua, PLTU berkapasitas 2×100 MW di Tabalong, Kalimantan Selatan senilai US$ 450 juta hingga US$ 550 Jt.
Sumber : IPS RESEARCH

JAKARTA. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memacu diversifikasi bisnis di bidang energi, khususnya proyek pembangkit listrik. Diversifikasi ini untuk mengantisipasi penurunan pendapatan dari jatuhnya harga komoditas batubara belakangan ini.

ADRO menargetkan bisa menuntaskan proses financial closing dua mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Proyek pertama adalah PLTU Batang, di Jawa Tengah berkapasitas 2×1.000 megawatt (MW) dengan nilai investasi US$ 4 miliar. Proyek kedua, PLTU berkapasitas 2×100 MW di Tabalong, Kalimantan Selatan senilai US$ 450 juta hingga US$ 550 juta.

Direktur Utama ADRO Garibaldi Thohir mengatakan, dalam jangka panjang, bisnis listrik diharapkan menyumbang sepertiga dari total pendapatan ADRO, disamping bisnis batubara dan logistik. Garibaldi yang akrab disapa Boy itu mengatakan, proses pembebasan lahan proyek PLTU Batang diharapkan selesai dua pekan mendatang.

Selama ini, proses pembebasan lahan sudah menghambat proyek selama bertahun-tahun. Proyek ini digarap oleh konsorsium ADRO dengan J-Power dan Itochu melalui perusahaan patungan bernama PT Bhimasena Power Indonesia. Nantinya 80% dari pembiayaan proyek dibiayai dari project financing perbankan.

“Diharapkan pembiayaannya selesai Oktober,” ujar Boy. Sehingga proyek ini mulai bisa digarap pada 2015. Proses pendanaan untuk PLTU 2×100 MW di Kalimantan Selatan juga diharapkan kelar tahun ini. Power plant ini akan dibangun oleh PT Tanjung Power Indonesia (TPI), perusahaan patungan PT Adaro Power dengan anak usaha Korea East-West Power Co Ltd, PT EWP Indonesia.

Adaro memiliki 65% saham TPI, dan EWP menguasai sisanya. TPI sudah menandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PT PLN pada 15 Oktober 2014. TPI akan memasok listrik ke PLN untuk kawasan Kalsel dan Kalimantan Tengah selama 25 tahun. Sebesar 80% dari proyek ini setara US$ 400 juta didanai dari pinjaman bank.

Sumber pendanaan proyek PLTU itu akan difinalisasi ADRO pada Oktober. Sementara pembangunan PLTU selama 33 bulan. “Kami percepat financial closingnya agar bisa cepat konstruksi,” ujar Boy, Rabu (3/6). Informasi saja, saat ini, ADRO sudah membangun PLTU berkapasitas 2×30 MW di Kalimantan Selatan untuk kebutuhan PLN.

Bukan cuma itu, ADRO melalui anak usahanya PT Adaro Power dan PT Bhakti Energi Persada (BEP) sudah meneken kesepakatan dengan China Shenhua Overseas Development and Investment Co Ltd. menggarap proyek batubara dan pembangkit listrik di Kalimantan Timur. Perusahaan itu akan mendirikan perusahaan patungan mengembangkan pembangkit listrik mulut tambang, dimiliki oleh Shenhua Overseas 51%, dan Adaro Power 49%.

Proyek juga akan dibiayai melalui project financing, dimana sebagian besar investasi menggunakan non-recourse project debt financing. Tahap pertama, Shenhua Overseas dan Adaro setuju menambang batubara untuk mengembangkan pembangkit listrik mulut tambang berkapasitas 2×300 MW dan fasilitas transmisi listrik. “Kami sekarang proses negosiasi untuk pembiayaannya dan ini juga menjadi PLTU mulut tambang yang besar di Kalimantan Timur,” jelas Boy.

Tak berhenti di situ, ADRO juga tengah membidik tender PLTU Sumatera Selatan (SumSel) 9 dan 10 berkapasitas total 1.800 MW. Tahun ini, ADRO menganggarkan belanja modal US$ 75 jutaUS$ 125 juta. Jumlah belanja modal itu turun dari tahun lalu US$ 160 juta. “Ini untuk maintanance,” ujar Sekretaris Perusahaan ADRO, Mahardika Putranto.

ADRO menargetkan produksi batubara 56 juta-58 juta ton pada tahun ini. Harapannya, kontribusi penjualan lokal meningkat. Nantinya, pendanaan untuk belanja modal dari kas internal. Analis DBS Vickers Securities Indonesia, William Simadiputra mengatakan, meski diversifikasi, tahun ini bisnis ADRO masih akan banyak terpengaruh turunnya harga komoditas. Ia merekomendasikan hold di Rp 875. Harga ADRO naik 5% ke Rp 925.

Editor: Uji Agung Santosa

lol

JAKARTA—Moody’s Investors Service menarik peringkat PT Adaro Indonesia di Ba1 dengan outlook stabil.

Dalam keterangan resminya, Selasa (02/12/2014), lembaga pemeringkat itu menyatakan penarikan dilakukan berdasarkan pertimbangan bisnis.

Adaro Indonesia merupakan anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO), dengan kepemilikan saham sebesar 100%.

Adaro Indonesia memiliki wilayah konsesi seluas 358 kilometer persegi di Tabalong, Kalimantan Selatan. Total sumber daya di konsesi ini mencapai 4,9 miliar ton.

Pada Oktober, perseroan mempercepat pelunasan obligasi yang diterbitkan pada 2009 senilai US$800 juta. Dananya berasal dari pinjaman US$1 miliar dan kas internal perusahaan. Pelunasan tersebut diklaim membuat perusahaan dapat menghemat beban bunga hingga US$40 juta per tahun.

Selama sembilan bulan pertama 2014, ADRO membukukan pendapatan US$2,5 miliar atau tumbuh 3% secara tahunan. Hal ini didorong naiknya volume penjualan sebesar 8% menjadi 42,2 juta ton. Namun, laba bersih justru mengalami penurunan 29% menjadi US$220,46 juta.

http://market.bisnis.com/read/20141202/192/379259/moodys-turunkan-peringkat-adaro-indonesia
Sumber : BISNIS.COM

new-chin-year-dragon-02

Adaro Raih Fasilitas Pinjaman USD380 Juta
Widi Agustian – Okezone
Senin, 3 Juni 2013 09:52 wib

JAKARTA – PT Adaro Energy Tbk (ADRO), melalui anak usahanya, PT Adaro Indonesia memperoleh fasilitas pinjaman amortizing sebesar USD380 juta yang akan jatuh tempo pada Mei 2020.

Adaro memperoleh komitmen sebesar USD2,85 miliar, 7,5 kali oversubscribed dari 12 bank internasional.

“Di tengah kondisi pasar komoditas yang menantang ini, kami gembira dengan respons serta dukungan yang kami terima dari pemberi pinjaman. Kami berada di jalur yang tepat untuk menjalankan strategi jangka panjang kami,” kata Direktur dan Chief Financial Officer Adaro Energy David Tendian dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (3/6/2013).

Fasilitas pinjaman ini akan digunakan untuk pembiayaan kembali fasilitas kredit amortizing revolving sebesar USD500 juta yang diperoleh pada 2009 untuk memperpanjang waktu jatuh tempo dan memperkuat neraca perusahaan.

Saat ini, fasilitas pinjaman tersebut memiliki saldo sebesar USD380 juta. (wdi)
Boy Thohir Kembali Borong Saham ADRO Rp1,9 M
Widi Agustian – Okezone
Senin, 3 Juni 2013 09:48 wib

JAKARTA – Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Boy Garibaldi Thohir kembali melakukan pembelian sebanyak dua juta lembar saham ADRO. Tujuan transaksi tersebut adalah untuk investasi.

Demikian diungkapkan oleh Sekretaris Perusahaan Devindra Ratzarwin dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (3/6/2013).

Harga pembelian dari saham tersebut adalah Rp950 per saham. Alhasil, nilai transaksi tersebut mencapai Rp1,9 miliar. Transaksi itu sendiri dilakukan pada 30 Mei lalu.

Sebelumnya, Boy juga membeli sebanyak satu juta lembar saham ADRO. Transaksi tersebut dilakukan di harga Rp1.010 per saham, lebih tinggi dari harga penutupan kemarin, Kamis 30 Juni yang sebesar Rp950. Alhasil, nilai pembelian ini mencapai Rp1,01 miliar.

Pada kuartal I-2013, Adaro Energy membukukan penurunan pada laba bersih sebesar 66 persen menjadi USD41,6 juta dibandingkan sebelumnya USD121,8 juta.

Penurunan pada laba bersih juga seiring dengan penurunan pada pendapatan usaha bersih perseroan yang turun sebesar 19 persen menjadi USD740,6 juta dibandingkan sebelumnya sebesar USD915,9 juta.

Penurunan tersebut karena terjadi penurunan harga batu bara, sehingga berdampak terhadap harga jual rata-rata Adaro. Ebitda perseroan pada kisaran USD850 juta hingga USD1 miliar pada 2013.

Selain itu, perseroan mencatatkan pertumbuhan produksi empat persen Yoy menjadi 11,42 juta ton. Volume penjualan relatif stabil yoy dan mencapai 11,23 juta ton. Adapun harga jual rata-rata turun 18 persen yoy pada kuartal pertama 2013. Hal itu karena pengaruh melemahnya indeks harga batu bara global. (wdi)

kata tjuta ozSMALL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: