R3k0r tapi … @ adro : 030913_131016


lol

 

JAKARTA. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) meneken kesepakatan dengan perusahaan semen asal Thailand, Siam Cement Group (SCG) untuk memasok batubara. ADRO akan menyuplai batubara untuk pabrik semen dan packaging milik SCG di ASEAN.

Penandatanganan kesepahaman itu dilakukan Country Director SCG Indonesia Nantapong Chantrakul dan CEO ADRO Garibaldi Thohir. Nantapong mengatakan, kerjasama ini diharapkan dapat membantu mempromosikan potensi ekspor produk batubara Indonesia.

“Selain itu, kerjasama ini diharapkan dapat membantu kedua bisnis yang terlibat dalam efisiensi biaya produksi untuk sektor bisnis masing-masing,” ujar Nantapong, Rabu (12/10).

Batubara ADRO digunakan untuk mendukung operasional pabrik semen dan packaging di akhir tahun ini hingga tahun depan. Batubara merupakan salah satu sumber energi pembangkit listrik yang akan digunakan untuk bahan bakar pokok produksi baja dan semen.

Harga batubara fluktuatif beberapa tahun terakhir ini. Tapi, pada Oktober 2016, data Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral Indonesia menunjukkan harga batubara acuan (HBA) mencapai angka tertinggi sepanjang 2016 yaitu US$ 69,07 per metrik ton untuk penjualan langsung di atas kapal atau free on board (FoB).

Harga ini mengindikasikan pemulihan industri batubara. Garibaldi menambahkan, ada peningkatan di pasar batubara thermal akhir-akhir ini. Hasil rasionalisasi pasokan di sejumlah negara produsen batubara dan bertahannya permintaan di Indonesia dan Asia Tenggara, menyebabkan batubara tetap menjadi komoditas energi krusial di tengah kebutuhan energi yang meningkat.

Pada semester I-2016, ADRO memproduksi 25,86 juta ton batubara. Jumlah itu stagnan dibandingkan periode sama tahun lalu. Harga saham ADRO kemarin naik 0,36% ke Rp 1.405 per saham. Sejak awal tahun, harga saham ADRO sudah naik 173%.

http://investasi.kontan.co.id/news/adro-memasok-batubara-ke-siam-cement-group
Sumber : KONTAN.CO.ID

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA–Lonjakan harga batu bara pada awal paruh kedua tahun ini menjadi harapan tersendiri bagi emiten komoditas batu hitam untuk menggenjot pendapatan sepanjang tahun.

Direktur Utama PT United Tractors Tbk. Gidion Hasan menuturkan rebound harga batu bara diharapkan bakal stabil hingga akhir tahun. Pasalnya, pada paruh pertama tahun ini, harga batu bara telah mencapai level terendah.

“Menunggu harga stabil atau enggak naiknya. Kalau stabil sampai akhir tahun, pasti tahun depan akan lebih baik. Kalau sampai akhir tahun belum ada tanda-tanda perbaikan harga,” katanya dalam paparan publik, Kamis (4/8/2016).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat harga batu bara acuan (HBA) periode Agustus 2016 untuk penjualan spot free on board (FOB) kembali naik melanjutkan kecenderungan pada Juni-Juli 2016.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan, HBA Agustus 2016 tercatat US$58,37 per ton atau naik US$5,37 per ton sebesar 10,1% dibandingkan dengan Juli 2016 sebesar US$53 per ton.

Saat bersamaan, harga batu bara kontrak November 2016 di bursa Rotterdam kemarin ditutup melemah 0,87% ke level US$62,35 per ton. Salah satu provinsi di China diperkirakan terjadi kelebihan pasokan yang membuat harga batu bara kembali tertekan.

Gidion menyebut pendapatan sektor pertambangan yang dijalankan oleh  PT Pamapersada Nusantara (Pama) dan PT Tuah Turangga Agung tertekan pada paruh pertama tahun ini. Dia belum melihat adanya tanda-tanda perbaikan pendapatan dari segmen pertambangan setelah tertekan pada semester I/2016.

Meski harga batu bara global belum pulih sepenuhnya, Direktur Utama PT Harum Energy Tbk. Ray Antonio Gunara, mengaku optimistis dengan prospek batu bara untuk jangka pendek dan menengah yang menjanjikan.

Hal itu ditopang oleh adanya penurunan pasokan batu bara di pasar global yang diperkirakan dapat terus berlanjut hingga 1-2 tahun ke depan, serta percepatan pertumbuhan konsumsi batu bara domestik.

“Dampak mulai stabilnya pasar batu bara global telah terlihat dari naiknya indeks harga batu bara secara cukup pesat belakangan ini,” tuturnya.

Paruh pertama tahun ini, emiten bersandi saham HRUM tersebut telah menjual 1,6 juta ton batu bara atau melorot 40% dari periode yang sama setahun lalu 2,7 juta ton. Harga rerata penjualan batu bara Harum Energy mencapai US$47,4 per ton, lebih rendah 12% dari US$54,1 per ton.

Tahun ini, manajemen Harum Energy mengalokasikan anggaran belanja modal (capital expenditure/Capex) senilai US$6,5 juta untuk eksplorasi dan pemeliharaan armada. Hingga Juni 2016, perseroan telah menyerap Capex senilai US$4 juta.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Keuangan Adaro Energy David Tendian, menjelaskan mulai memanasnya harga batu bara pada awal semester ini terjadi lantaran sudah berada di level terbawah. Saat ini, harga batu bara sudah mulai rebound dan terus menanjak.

“Kami enggak mau kalau kenaikan harga batu bara terlalu kuat. Karena, akan menjadi oversupply, sekarang harga mulai rebound karena supply dikurangi,” paparnya.

Dia menilai, harga batu bara yang mulai rebound menjadi perkembangan yang cukup sehat bagi emiten komoditas. Harga batu bara di level US$60 per ton terbilang bagus, meski perseroan tidak akan menggenjot produksi komoditas itu.

Sepanjang tahun ini, perseroan menargetkan untuk memproduksi batu bara hingga 52-54 juta ton. Semester I/2016, emiten bersandi saham ADRO itu telah merealisasi produksi 25,86 juta ton atau stagnan dari sebelumnya 25,88 juta ton.

Sejak awal tahun, harga batu bara Adaro telah meningkat 20% dari US$48 per ton menjadi US$60 per ton. Adaro telah menyerap belanja modal 45% dari total anggaran US$75 juta-US$100 juta.

Direktur Utama PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk., Arviyan Arifin mengatakan kinerja perusahaan dapat meningkat di tengah peningkatan harga batu bara. “Kalau harga naik, pasti bisa rebound,” katanya.

Arviyan mengatakan penurunan laba bersih perusahaan hanya sebesar 10% di tengah penurunan indeks harga batu bara sebesar 18% pada semester I/2016. Selisih 8%, ujarnya, merupakan efisiensi.

“Sampai akhir tahun masih bisa catch up, tahun 2016 laba bersih masih bisa signifikan, minimal tidak jauh dari tahun lalu atau sama seperti tahun lalu, tapi saya enggak bisa sampaikan angkanya,” katanya.

Menurutnya, produksi batubara agak mengalami penurunan pada semester I/2016. Dengan demikian, perusahaan memiliki stok yang relatif banyak kendati tetap dijaga agar tidak kelebihan pasokan.

“Semester II nanti akan ada banyak tambahan signifikan penjualan dari sisi stok maupun produksi,” tambahnya.

Menurutnya, harga rata-rata batu bara tidak akan mencapai US$140 per ton seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu melainkan diperkirakan hanya sekitar US$60 per ton pada akhir 2016.

Satrio Utomo, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, menilai kenaikan harga batu bara bakal menjadi kabar gembira bagi emiten komoditas. Saham sektor pertambangan tercatat telah melesat dan memimpin kenaikan hingga 50,08% year-to-date.

“Minimal untuk emiten yang sudah mengurangi produksi, sekarang bisa menaikkan lagi. Emiten batu bara bisa kembali ke level kinerja yang menguntungkan setelah setahun hanya bertahan,” kata dia.

Menurut dia, kinerja emiten komoditas batu bara ke depan akan lebih baik bila harga konsisten pada level saat ini. Pertumbuhan global yang membaik membuat permintaan batu bara juga stabil meningkat.

Apalagi, kata dia, saat ini perusahaan tambang batu bara sudah lebih efisien sebagai strategi bertahan terhadap rendahnya harga komoditas. Bila harga batu bara kembali membaik, tentu saja profitabilitas emiten tersebut juga dapat menjulang.

new-chin-year-dragon-02
INILAHCOM, Jakarta – Pemerintah melaporkan sepanjang semester pertama tahun 2016, ekspor batubara sudah mencapai 80,22 juta ton, turun 31,63% dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 117,328 juta ton.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Sujatmiko memaparkan, turunnya ekspor batubara lantaran anjloknya permintaan di pasar global. Dua negara yang mengandalkan pasokan batubara dari Indonesia mengurangi permintaannya. “India dan Tingkok mengurangi permintaan batu bara,” kata Sujatmiko di Jakarta, Selasa (11/7/2016).
Sujatmiko menuturkan rendahnya realisasi ekspor batubara bukan menjadi satu permasalahan. Pasalnya paradigmna pemerintah saat ini condong pada pemenuhan dalam negeri.
Dia bilang berkurangnya ekspor batu bara sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Dalam rencana tersebut RPJMN menargetkan produksi batubara nasional mencapai 400 juta ton pada 2019.
Sebanyak 60 persen dari total produksi atau sekitar 240 juta ton dikonsumsi domestik. “Yang terpenting kebutuhan batu bara dalam negeri tercukupi,” katanya. [hid]

– See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2309403/ekspor-batubara-semester-i-hanya-802-juta-ton#sthash.77A6GGvD.dpuf

buttrock

JAKARTA kontan. Bisnis pertambangan masih merangkak pada tahun ini. Perlambatan ekonomi Tiongkok mengakibatkan prospek saham komoditas dalam jangka pendek dan menengah masih kelam.

Di Bursa Efek Indonesia, indeks sektor pertambangan menyusut 2,39% sejak awal tahun hingga kemarin atau year to date (ytd). Bahkan dalam setahun terakhir atau year-on-year (yoy), indeks pertambangan anjlok 41,62%.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, menilai, sektor komoditas masih tertekan. Saham yang bergerak di hard commodity, seperti timah, nikel dan batubara masih sulit lepas dari tekanan.

Dengan kondisi ekonomi global yang masih melambat, terutama Tiongkok yang belum bisa mencapai pertumbuhan ideal, saham pertambangan belum layak beli. Ekonomi China diprediksi terus melambat selama dua hingga tiga tahun mendatang, Jepang dan Eropa juga cenderung stuck.

“Artinya belum ada peluang bagi sektor tambang untuk naik karena permintaan tak ada,” tutur Hans.

Sedangkan Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menilai, di jangka pendek sektor tambang masih bisa menguat. Saat ini, harga emas mulai rebound disebabkan permintaan meningkat, beberapa emiten di sektor tambang juga mulai berinovasi menyiasati penurunan demand.

Apalagi saat ini harga minyak diprediksi sudah menyentuh bottom line dan ke depan berpotensi menguat. Dus, sektor komoditas akan membaik. Namun, dia melihat sektor batubara masih sulit bergerak lantaran ekonomi Tiongkok belum membaik.

Di tengah tekanan, investor tetap bisa melihat peluang rebound harga saham tambang.Analis First Asia Capital David Sutyanto menilai saham ADRO dan PTBA masih layak dipertimbangkan. Sebab, kedua emiten itu mulai menggarap PLTU untuk menyuplai listrik.

Satrio menilai, PTBA, ADRO dan AKRA masih layak koleksi. Dia memandang saham-saham masih cukup kuat menghadapi pelemahan permintaan. Strategi perseroan juga sudah teruji. Sedangkan Hans tak merekomendasikan saham komoditas, khususnya pertambangan.

Emoticons0051

JAKARTA okezone– Meskipun harga batu bara tahun ini belum pulih, tidak membuat ciut ekspansi bisnis PT Adaro Energy Tbk (ADRO) untuk memasang target produksi lebih agresif lagi.

Tahun ini, perseroan menargetkan produksi batubara sebanyak 52-54 juta ton. Target tersebut naik 5 persen dibandingkan realisasi produksi tahun lalu sebesar 51,4 juta ton.

Perseroan mengungkapkan, guna memenuhi target produksi tahun ini akan menggenjot tiga motor pertumbuhan perseroan, salah satunya pertambangan batubara. Adaro menargetkan nisbah kupas pada tahun ini sebesar 4,71 kali. Total biaya kas batubara Adaro tahun ini sebesar USD26 sampai USD28 per ton.

Selain itu, Adaro juga menargetkan EBITDA tahun ini mencapai USD450 juta hingga USD700 juta. Sementara itu, alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini mencapai USD75-100 juta. Pada kuartal IV tahun lalu, produksi batubara Adaro pada mencapai 11,6 juta ton, turun 19 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sedangkan total produksi Adaro 2015 sebesar 51,4 juta ton, turun 8 persen dari total produksi pada 2014.

Sepanjang kuartal IV, kegiatan pemindahan lapisan penutup (overburden) yang dilakukan perseroan mencapai 53,5 juta kubik meter (million bank cubic meter/mbcm). Jumlah itu mencerminkan penurunan sebesar 31 persen dari kuartal IV tahun sebelumnya.

Lebih lanjut manajemen perseroan mengungkapkan, rendahnya produksi perseroan tahun lalu merupakan akibat dari kelebihan pasokan batubara di pasar global. Selain itu, melemahnya pertumbuhan permintaan di negara-negara pengonsumsi batubara yang utama turut memengaruhi penurunan produksi perseroan.

Nisbah kupas untuk gabungan rata-rata dari empat tambang perseroan yang mencapai 4,6 kali untuk kuartal IV tahun lalu sebesar 5,19 kali. Sedangkan untuk tahun ini masih sedikit di bawah target tahun lalu yang ditetapkan sebesar 5,33 kali. Meskipun terjadi penurunan terhadap nisbah kupas, perusahaan berhasil mempertahankan keunggulan operasi dan terus memberikan pasokan yang dapat diandalkan kepada para pelanggan.

Total penjualan batubara perseroan pada kuartal IV – 2015 mencapai 11,9 juta ton atau turun 19 persen dibandingkan kuartal sama sebelumnya. Total penjualan batubara perseroan sepanjang tahun lalu mencapai 53,1 juta ton atau turun 7 persen dibandingkan 2014. Perseroan menjelaskan bahwa penurunan penjualan tersebut akibat pasar yang tengah sulit.

(mrt)

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Margin EBITDA Adaro Energi Tertinggi
Sabtu, 31 Agustus 2013 | 9:33
investor daily
JAKARTA – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencetak margin laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization/ EBITDA) sebesar 26,2% pada semester I-2013. Margin EBITDA perseroan tertinggi di antara perusahaan batubara termal di Indonesia.

Pada semester I-2013, Adaro Energy membukukan EBITDA sebesar US$ 413 juta, turun 38% dibandingkan periode sama 2012 senilai US$ 667,5 juta. “Adaro tetap berada di posisi yang tepat untuk mencapai panduan EBITDA sebesar US$ 850 juta sampai US$ 1 miliar yang telah ditetapkan untuk tahun ini,” ungkap Presiden Direktur dan CEO Adaro Energy Garibaldi Thohir dalam keterangan tertulis, Jumat (30/8).

Pada semester I-2013, pendapatan usaha bersih Adaro Energy mencapai US$ 1,57 miliar, turun 18% dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 1,93 miliar. Hal itu terjadi akibat penurunan harga batubara yang tercermin pada harga jual rata-rata perseroan.

Meski demikian, beban pokok pendapatan turun 5,4% menjadi US$ 1,22 miliar. Padahal, produksi batubara meningkat 8% menjadi 24,94 juta ton.

Beban pokok pendapatan lebih rendah, karena penurunan royalti menyusul penurunan harga serta pembelian batubara oleh pihak ketiga.

Adapun laba bersih semester I- 2013 turun 55,4% menjadi US$ 116 juta dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 260,1 juta. Meski begitu, keunggulan operasional perseroan terus berlanjut.

Adaro mencapai rekor tertinggi kuartalan untuk produksi batubara pada kuartal II- 2013 sebanyak 13,52 juta ton.

Meski demikian, menurut Garibaldi, perseroan berada di posisi yang tepat untuk mencapai
panduan produksi batubara sepanjang tahun ini sebanyak 50-53 juta ton. (jm/ID)

dollar small

Produksi Adaro Cetak Rekor, Tapi Laba Anjlok 55%
Angga Aliya – detikfinance
Jumat, 30/08/2013 11:01 WIB

Jakarta – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatat laba bersih sebesar US$ 116 juta (Rp 1,1 triliun) di semester I-2013, anjlok 55,4% jika dibandingkan laba tahun sebelumnya pada periode yang sama US$ 260 juta (Rp 2,4 triliun). Produksi perseroan yang cetak rekor dihadang melemahnya harga jual.

Produksi perseroan sepanjang triwulan II-2013 mencapai rekor tertinggi yaitu sebanyak 13,52 juta ton (Mt), dengan demikian meningkatkan produksi sebesar 8% pada semester pertama 2013 menjadi 24,94 Mt.

Pendapatan usaha bersih perseroan untuk semester pertama 2013 sebesar US$ 1,5 miliar menurun 18% dibandingkan periode tahun sebelumnya US$ 1,9 miliar. Penurunan terjadi karena melemahnya harga batubara yang tercermin pada harga jual rata-rata Adaro.

“Kami berada pada posisi yang tepat untuk mencapai target yang telah ditetapkan untuk tahun 2013 maupun tujuan jangka panjang perusahaan, yaitu menciptakan nilai maksimum dari batubara Indonesia,” kata Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir dalam keterangan tertulis, Jumat (30/8/2013).

“Kelebihan pasokan yang masih terus berlangsung setelah kelebihan investasi selama bertahun-tahun telah menyebabkan harga batubara global tetap lebih rendah. Tetapi, harga untuk batubara kami yang berkalori rendah tetap kuat,” ujarnya.

Beban pokok pendapatan Adaro menurun 5,4% menjadi US$ 1,2 miliar walaupun produksi batubara meningkat 8% menjadi 24,94 Mt. Beban pokok pendapatan lebih rendah karena penurunan royalti yang diakibatkan oleh penurunan harga serta pembelian batubara oleh pihak ketiga.

Pada perdagangan hari ini hingga pukul 11.00 waktu JATS, saham Adaro berkurang 10 poin (-1,1%) ke level Rp 900 per lembar. Sahamnya diperdagangkan 1.028 kali dengan volume 85.408 lot senilai Rp 39 miliar.

(ang/dnl)

doraemon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: