energi alternatif: ARANG BATOK KELAPA … 120810_081214_061016


recycle

arang briket Indonesia: Briket arang tempurung kelapa diketahui memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan briket berbahan dasar arang kayu ataupun bahan bakar lain. Apa saja keunggulannya? Berikut adalah Keunggulan Briket Arang Tempurung Kelapa :

  1. Energi Terbarukan. Energi terbarukan adalah energi yang diperoleh dan bersumber dari sumber daya alam, bahan bakunya merupakan hasil dari proses alam yang berkelanjutan. Briket Arang tempurung kelapa termasuk kategori Biomassa. Biomassa sendiri adalah jenis energi terbarukan yang mengacu pada bahan biologis yang berasal dari organisme yang hidup atau belum lama mati. Sumber biomassa antara lain bahan bakar kayu, kelapa, limbah dan alkohol.
  2. Panas yang dihasilkan maksimal. Tidak seperti briket batu bara, ternyata tingkat panas briket arang tempurung kelapa dapat mencapai 7000 kal. Sehingga dapat menjadi bahan bakar yang tinggi kalori
  3. Tidak Beracun. Proses yang dilakukan untuk membuat briket arang tempurung kelapa sangatlah alami. Adanya bahan tambahan hanya pada tepung tapioka yang berasal dari Singkong sebagai perekat. Hal ini menjadikan briket arang tempurung kelapa menjadi material yang aman dan tidak beracun (non-toxic)
  4. Tidak Berasap. Ketika dibakar, biasanya arang akan mengeluarkan asap yang banyak. Lain halnya dengan briket arang tempurung kelapa. Ketika dibakar, asap yang dihasilkan sangat minimal, bahkan hampir tidak berasap.
  5. Go Green Energy. Go Green energy adalah sebutan untuk sumber energi yang bersahabat bagi lingkungan hidup. Dengan keunggulan briket arang tempurung kelapa yang dibuat dari bahan baku kelapa dan tepung tapioka, sehingga apabila dibakar tidak berasap, maka briket arang tempurung kelapa ini sangat ramah terhadap lingkungan.
  6. Pengganti Batu Bara. Batu bara umum digunakan untuk bahan bakar. Tetapi seiring perkembangan, telah ditemukan bahwa eksplorasi batu bara yang masif akan sangat merusak alam. Batu bara pun cenderung dan tergolong beracun apabila asapnya terhisap oleh manusia. Oleh karena itu, briket arang tempurung kelapa telah menjadi alternatif pengganti yang memiliki antitesis batubara.
  7. Burning Time yang Lama. Briket Arang Tempurung Kelapa (Coconut Shell Briquette) memiliki burning time sekitar 2-3 jam. Menjadikannya sebagai bahan bakar yang tergolong efektif dan efisien.
  8. Dapat menjadi alternatif pengganti kompor gas. Dengan perkembangan teknologi dan zaman, dewasa ini beberapa produsen melihat potensi briket arang tempurung kelapa dengan menciptakan kompor briket. Tujuannya untuk menggantikan kompor gas yang mayoritas digunakan rumah tangga hingga saat ini. Hingga kini, usaha untuk mewujudkannya masih sangat tinggi.

buttrock

 

Coconut Shell Charcoal is one of another valuable resource which can create out of this magical tree. Coconut Shell Charcoal widely used as efficient industrial fuel and it’s also uses for laundries and Blacksmithing and goldsmiths where high rate of head is requir3ed. Apart for industrial fuel uses coconut shell Charcoal are also used to produce activated carbon which got so many industrial and beauty applications. Coconut Shell Charcoal is also best known for cooking fuel and most of chefs use coconut charcoal as a fuel due to its pleasant smell. Since Coconut Shell Charcoal got the capacity to absorb molecular species its widely use for purification purposes also.

 

Coconut Shell Charcoal is created by burning the coconut shells of limited air supply and it get carbonizations. After the coconut shell gets heated it reduced 70% of its weight. Coconut Shell charcoal produced by using two methods called drum method and pit method. Fully dried and good mature coconut shells get the high quality of coconut charcoal. Excellent Coconut Shell raw material source to manufacture great quality of activated carbon. Coconut Charcoal use for heating and cooking purposes are environmentally friendly and you can get clean burn form it. The smell of coconut shell charcoal is neutral and pleasant so this may use for barbecue and grilling purpose also.

 

Coconut Shell Charcoal are used in a variety of applications including food, and health and beauty products as I mentioned earlier and its can be mixed with water and used to brush and whiten teeth. This is a proven method to whiten your teeth very quick and easy manner with greater cost effectiveness. Coconut Shell Charcoal mixed with thickening agents to make jels and skin creams, and taken internally for various health conditions in beauty applications. So Coconut Shell charcoal is another by-product of the coconut tree which got lots and lot of uses and benefits.

Please include attribution to http://www.usesofcoconut.com/ with this graphic.

Coconut Shell

ets-small

Jakarta detik-Pemerintah Prefektur Wakayama, Jepang, tengah menjajaki peluang-peluang perdagangan dengan Indonesia.  Industri dari wilayah setingkat provinsi ini mengincar bahan baku dari Indonesia untuk keperluan industri keperluan rumah tangga.

Gubernur Prefektur Wakayama, Yoshinobu Nisaka mengatakan, produk bahan baku yang paling dicari industri di wilayahnya saat ini adalah minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dan tempurung kelapa.

“Di Wakayama ada banyak perusahaan besar. Seperti Kao yang produksi produk rumah tangga. Mereka membutuhkan banyak CPO, saya yakin CPO yang dipakai di kita itu asalnya dari Indonesia,” katanya ditemui di kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Selasa (19/4/2016).

Komoditas kedua yang dicari dari Indonesia, serta tengah banyak dibutuhkan industri produk rumah tangga di Wakayama, yakni batok kelapa.

“Kami juga punya perusahaan yang menggunakan bahan baku tempurung kelapa. Ini bisa dari Indonesia, memang ini belum jadi proyek besar, tapi saya kira akan terjadi ke depan. Suatu saat perusahaan di Wakayama butuh bahan baku dari Indonesia,” tutup Yoshinobu.

Sebagai informasi, Kementerian Perdagangan mencatat, total nilai perdagangan Indonesia dan Jepang pada Januari-Februari 2016 telah mencapai US$ 4,68 miliar atau turun 19,48% dibanding periode yang sama tahun 2015.

Dari total perdagangan itu, nilai ekspor non migas Indonesia ke Jepang tercatat sebesar US$ 2,16 miliar. Sementara, nilai impor non migas Indonesia dari Jepang sebesar US$ 1,93 miliar. Dengan demikian, ada surplus perdagangan sekitar US$ 230 juta.

(hns/hns)

reaction_1

Oleh Agnes Rita Sulistyawaty
KOMPAS
Tempurung kelapa bisa menjadi alternatif bahan bakar. Briket yang terbuat dari tempurung kelapa mampu menghasilkan panas 6.000 hingga 7.000 kalori, cocok untuk kebutuhan memasak. Selain daya panas tinggi, briket juga awet sehingga lebih efisien untuk memasak.

Briket tempurung kelapa dan satu set kompornya merupakan hasil penelitian dosen Universitas Ekasakti, Padang, serta pengusaha CV Roda Banting di Pariaman, Sumatera Barat.

Pembuatan briket hanya butuh waktu 10-15 menit, dengan catatan, arang batok telah tersedia. Proses pertama adalah menggiling arang batok menjadi tepung arang. Penggilingan menggunakan mesin dengan kapasitas produksi 10 kilogram per mesin per menit.

Setelah itu tepung arang dicampur lem perekat dengan mesin pengaduk lalu dicetak dengan alat pencetak briket. Briket tempurung kelapa yang diproduksi berwarna hitam pekat dan berbentuk kubus dengan ukuran sisi 3 sentimeter (cm)

Seluruh mesin yang digunakan untuk memproduksi briket dirancang dan dihasilkan oleh CV Roda Banting. Satu-satunya proses manual dalam pembuatan briket adalah pengolahan batok kelapa menjadi arang batok.

Di Pariaman, pengerjaan arang batok banyak dilakukan masyarakat dengan pembakaran lubang tanah selama 24 jam. Proses ini perlu waktu lama karena sistemnya manual.

Dari sisi harga, briket tempurung kelapa agak mahal, yakni Rp 4.000 per kilogram, sedangkan harga minyak tanah adalah Rp 3.500 per liter. Namun, briket mempunyai kekuatan pembakaran lima kali lebih besar dibandingkan dengan minyak tanah sehingga briket lebih ekonomis.

Pemakaian briket tempurung kelapa—cocok untuk pemasakan yang butuh waktu lama seperti memasak rendang—sudah diujicobakan di dua rumah makan di Pariaman. Hasilnya, seorang pemilik rumah makan bisa berhemat, dari dana membeli minyak tanah Rp 350.000 per hari menjadi Rp 80.000 per hari.

”Pemilik rumah makan itu merasakan keuntungan dan efisiensi pemakaian briket tempurung kelapa dibandingkan dengan bahan bakar lain,” ujar I Ketut Budaraga, peneliti dari Universitas Ekasakti.

Di sisi lain Ketut menjamin briket tidak berbahaya bagi kesehatan karena tidak meninggalkan residu berupa gas sulfur, sesuai dengan hasil uji coba di laboratorium Sucofindo, 28 Oktober 2008. Penelitian ini juga menunjukkan briket mengandung kadar air 6,37 persen, kadar abu 19,33 persen, serta kadar karbon 63,04 persen.

Energi tempurung kelapa ini memberikan nilai tambah pada produk yang berasal dari kelapa. Apalagi selama ini tempurung kelapa belum dimanfaatkan maksimal dan hanya menjadi limbah. Padahal, di Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman, kelapa menjadi salah satu komoditas unggulan. Kedua daerah di Sumatera Barat itu dikenal sebagai penghasil kelapa dengan luas areal tanaman kelapa lebih dari 40.000 hektar di tahun 2006. Di Kota Pariaman per tahun terdapat 11,7 miliar butir kelapa dari 260.000 batang pohon.

Kompor briket

Penelitian dan uji coba Universitas Ekasakti serta CV Roda Banting tidak hanya menghasilkan briket, tetapi juga kompor khusus untuk penggunaan briket ini. Kompor yang terbuat dari besi ini didesain khusus untuk mempermudah penggunaan.

Kompor briket tempurung kelapa dibuat dengan tiga ukuran, yakni diameter 15 sentimeter, 25 sentimeter, dan 40 sentimeter. Kompor ukuran terkecil mampu menampung sekitar 1 kilogram briket, ukuran sedang untuk menampung 1,5 kilogram briket, dan yang besar sanggup sampai 2 kilogram briket.

Setiap badan kompor dilengkapi dengan pintu kecil yang bisa dibuka-tutup. Pintu ini terhubung dengan rongga penampung briket. Dengan pintu ini, juru masak bebas menambah kapasitas briket tanpa harus mematikan api.

Untuk menghidupkan kompor, satu balok briket harus direndam sebentar di minyak tanah. Briket ini akan memancing api yang cepat menjalar ke briket lain yang disiapkan di kompor. Bisa juga menggunakan parafin untuk memancing api.

Kompor dihubungkan dengan pipa ke kipas angin (blower) untuk menambah oksigen, terutama saat memulai pembakaran. Kipas angin juga dibutuhkan apabila juru masak ingin memperbesar nyala api. Pasokan angin dari kipas ke kompor diatur dengan sebuah tuas. Dengan tuas ini, juru masak bisa mengecilkan atau memperbesar nyala api.

Ada satu kendala yang masih dalam tahap penyempurnaan, yakni cara mematikan api sebelum briket habis terbakar. Satu-satunya cara yang bisa ditempuh adalah memercikkan air ke briket yang masih menyala. ”Walaupun diperciki air, briket bisa langsung digunakan lagi karena air langsung diuapkan oleh briket yang masih membara. Ini cara satu-satunya untuk mematikan api,” papar Jamaluddin, pemilik CV Roda Banting.

Selain didesain untuk menggoreng, kompor briket ini juga dapat digunakan untuk membakar makanan. Setiap kompor dilengkapi dengan dua penyangga yang berbeda untuk menggoreng dan membakar. Kedua penyangga ini mudah ditukar-tukar.

Dengan produksi yang menggunakan mesin, Jamaluddin sanggup memproduksi 30 unit kompor per hari dengan ukuran yang bervariasi.

Harga satu unit kompor bervariasi antara Rp 150.000 sampai Rp 350.000 per unit. ”Sebenarnya banyak warung yang tertarik memakai kompor model ini. Hanya saja, kami masih terbentur modal lantaran sebagian calon pembeli mempunyai kemampuan ekonomi yang pas-pasan sehingga mereka berharap bisa membeli kompor secara kredit,” ujar Jamaluddin.

Pengembangan massal briket tempurung kelapa beserta kompornya masih membutuhkan peran serta pihak lain, demi memberikan pilihan alternatif bahan bakar bagi masyarakat.

bird

*Introduction

contoh usaha coconut shell aka batok kelapa bwat energi

Shell Charcoal is an important product obtained from coconut shell. Shell charcoal is used widely as domestic and industrial fuel. It is also used by blacksmiths and goldsmiths and in laundries. Shell Charcoal is also used to produce activated carbon. Activated Carbon produced from coconut shell has certain specific advantages as the raw material can adsorb certain molecular species. Shell is carbonized by using methods like pit method, drum method, destructive distillation etc. The shell charcoal is the raw material required for the manufacture of activated carbon. The shell charcoal is manufactured by burning shells of fully matured nuts in limited supply of air sufficient only for carbonisation, but not for complete destruction. The output of charcoal in the traditional pith method is just below 30 per cent of the weight of the original shells. In India the average output in the traditional method has been found to be 35kg of charcoal from 1000 whole shells or about 30,000 whole shells yield 1 tonne of charcoal. Sometimes, especially when the processing is defective, the output is still lower and nearly 50,000 shells are required to produce one tonne of charcoal. To obtain good quality charcoal, fully dried, clean, mature shells should be used. Now several modern methods are in vogue for the production of charcoal. In the modern waste heat recovery unit the heat generated by the burning of coconut shells is used for drying copra and shell charcoal is obtained as by-product. A simple and efficient method adopted for the production of charcoal on cottage scale is given below.

 

*Process (Drum Method)

A M.S. Drum kiln is used for carbonization of shells. The drum consists of three sets of six 1″ dia holes provided at its bottom, middle and upper layers and a lid. A detachable chimney is provided which is installed on the lid after closing the drum. The manufacture of charcoal requires optimum carbonization of raw shells in a limited supply of air so that there is neither unburnt shell nor ash due to complete combustion. The steel drum is filled with raw shells after placing temporarily a four inch diameter wooden pole in the centre of the drum. The wooden pole is then removed, leaving a hollow space in the centre which allows the flow of smoke during carbonization. To start carbonization, a piece of burning rag is dropped to the bottom of the drum through the hollow space in the centre. When the fire is well underway, the lid with the chimney is placed into position and the upper and the middle sets of holes are closed. Carbonization which starts at the bottom progresses as it goes up as well as radially from the hollow space. When carbonization is complete in a particular zone, a persistent glow can be seen in all the six holes of a set. When the bottom most set of holes indicate this situation, the middle set of holes is opened and the bottom set closed. The stoppage of air flowing into the bottom region avoids over-carbonization in that region. The progressive carbonization results in reduction in volume of contents and therefore more shells are added from the top. When the middle region is carbonized well, the top set of holes is opened while the middle set is now closed. A further addition of raw shells is done to fill the volume reduction to maximize capacity for burning. When the top region is well carbonized, the top set of holes is also closed, resulting in complete stoppage of air inflow to the drum. The drum is then cooled for about eight hours after which the product is ready for discharge.

 

*Product Specification

Fixed carbon 72% (minimum)
Volatile matter 15% (maximum)
Ash  2 % (maximum)
Moisture 10% (maximum)
Size Not more than 5% shall pass through a 0.63 cm mesh sieve
Colour Uniformly black

 

*Project Cost

(one tonne / day)
Land (cost variable) 35 cents
Building 1000 sq. ft. Rs.2.5 lakhs
Plant machinery Rs.10.5 lakhs
Preliminary & pre-operative expenses Rs.2.0 lakhs
Contingencies Rs.0.5 lakhs
Margin money for working capital Rs.2.0 lakhs

*Machinery

  •  Drum kiln with chimney

*Yield

Raw material 30,000 coconut shells
Coconut shell charcoal 1 tonne

 

*Salient Features

Annual sales turnover Rs.15 lakhs
Net profit Rs.1.5 lakhs
Return on investment 15 per cent

butterfly

Awalnya Coba-Coba, Sekarang Rutin Kirim ke Bali
Batok kelapa yang biasanya dibuang setelah isi kelapa diambil ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Tak hanya itu, hasil pembakaran kulit pohon nyiur ini juga menghasilkan karbon untuk penjernih air.

Tumpukan batok kelapa itu sudah terlihat bersih. Batok-batok yang awalnya berupa pecahan kelapa itu, sudah dipilah. Batok-batok itu dikumpulkan, sementara kulit luarnya disisihkan. Pekerjaan awal membuat bahan bakar alternatif itu menjadi rutinitas pasangan Bambang Sujarnoko dan Nurul Aini, warga Desa Pungging Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto.

Pasangan suami-istri ini lalu memulai proses pembuatan bahan bakar mirip arang multifungsi ini. Dari mulai membakar batok-batok kelapa itu, mengoven, menggiling hingga mengayak serpihan-serpihan batok yang sudah berupa buliran-buliran warna hitan. Tak cukup sehari, butuh beberapa hari untuk mendapatkan hasil pemanasan yang dilakukan.

“Ya, nggak bisa diperkirakan berapa jam jadinya, bisa dua hari atau tiga hari, pokoknya seminggu dapat satu ton,” kata Bambang Sujarnoko. Menurutnya, ada dua jenis dari hasil pembakaran batok-batok kelapa itu. Yaitu berupa arang yang dipakai sebagai energi alternatif dan karbon yang berfungsi sebagai penjernih air.

Bambang mengatakan, arang-arang hasil pembakaran batok-batok kelapa itu berfungsi sebagai pengasapan. “Ini memang seperti bahan bakar alternatif, tapi biasanya dipergunakan oleh restoran atau hotel,” katanya. Arang-arang yang sudah siap pakai itu, kata Bambang langsung dikirim ke Pulau Bali yang selama ini menjadi target pemasarannya. “Di sana sudah ada restoran dan hotel yang memesannya,” imbuh pria berumur 54 tahun ini. Sebagai bahan bakar 1 kilogram batok kelapa itu setara dengan 30 kilogram elpiji atau bisa dipergunakan untuk pengasapan sekitar satu jam. Bambang menjual arang Rp 2000 per kilogram.

Di Bali, selain dipakai pengasapan di beberapa restoran dan hotel, juga sebagai bahan bakar ngaben dan sebagai bahan baku pupuk organik. Tak jarang, uap dari asapnya bisa digunakan sebagai bahan pengawet tanpa menggunakan bahan kimia tapi membutuhkan waktu.

Seperti arang-arang itu, karbon yang juga merupakan salah satu hasil pembakarannya dipasarkan untuk penjernih air. “Biasanya dipesan sebagai penjernih kolam renang, kolam limbah, isi ulang air dan beberapa pesanan lainnya,” kata Bambang. Agak berbeda, untuk karbon dia menjual Rp 4.500 per kilogramnya.

Bambang menuturkan, usaha yang ditekuninya ini sudah berjalan sekitar 18 tahun. Awalnya dia tercatat sebagai karyawan pabrik penjernihan air sekitar tahun 1970. Dibantu istrinya Nurul bapak empat anak ini mengembangkan bahan bakar dari batok kelapa atau kulit dalam kelapa.

Pada 1990, dia mencoba bereksperimen selama 3 tahun hingga tahun 1993 berani memasarkan temuannya di Pulau Dewata Bali. Dan berhasil. “Sebenarnya di Bali itu tempatnya kelapa, tapi karena dibuat kerajinan, sehingga tak ada yang memanfaatkan untuk bahan bakar seperti ini,” katanya.

Untuk mendapatkan bahan baku berupa batok kelapa, Bambang harus keluyuran ke Blitar dan pasar-pasar. “Harganya Rp 300 per kilogram,” katanya sembari meneruskan pekerjaannya.

Sumber : YANUAR YACHYA (Radar Mojokerto).

rose KECIL

Peluang ekspor arang kelapa ke China mencapai US$ 300 juta per tahun. Sayangnya produksi arang kelapa Indonesia belum mampu memproduksi permintaan yang sangat besar dari China.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi dalam acara Ramadhan Fair di Pasaraya Blok M, Jakarta, Kamis (12/8/2010).

Sofjan menjelaskan hasil kunjungannya ke Shanghai China beberapa waktu lalu bersama para UKM menunjukan potensi produk UKM Indonesia sangat diminati.

Permintaan arang kelapa mencapai 1 juta ton sementara kapasitas produksi arang hanya baru mencapai 5.000 ton. Selain itu permintaan terhadap tepung gaple juga tinggi mencapai 300.000 ton per tahun sementara kapasitas produksi baru 25.000 ton.

“Potensi-potensinya sangat besar sekali unlimited, kalau kita bisa suplai cangkang kelapa bisa sampai US$ 300 juta dengan serapan tenaga kerja 300.000 orang,” imbuh Sofjan.

Hasil kunjungannya juga menghasilkan komitmen tawaran bantun permesinan bagi para UKM Indonesia seperti mesin pengemasan dan lain-lain. Sementara tim dari China juga akan berkunjung ke Indonesia untuk menjajaki kebutuhan yang diperlukan Indonesia dari China.

Sofjan juga mengatakan pihaknya juga akan kembali memboyong para UKM binaan Apindo ke Nanning China. Hal ini untuk menjajaki kerjasama pemasaran produk produk UKM ke China bagian selatan.

“Kita juga akan ke Nanning akan bawa 50 UKM dulu, karena akan lebih efektif, akan dilakukan bukan hanya sekali atau dua kali,” katanya.

Sumber: detikcom

butterfly

Arang Batok Kelapa Beromzet Miliaran
Senin, 2 November 2009 | 08:26 WIB
Ferry Santoso

KOMPAS.com – Batok atau tempurung kelapa kerap kali dibuang begitu saja di pasar-pasar tradisional. Padahal, batok kelapa bisa sebagai bahan baku mentah untuk diolah menjadi arang. Produk arang batok kelapa sebagai bahan baku setengah jadi itu pun dapat diolah lagi menjadi produk arang yang inovatif.

Produk batu arang tempurung kelapa (coconut shell briquette charcoal) dapat diproduksi sesuai kebutuhan pasar dan menjadi produk ekspor unggulan. Pengolahan tempurung kelapa menjadi arang dilakukan dengan cara pembakaran. Setumpuk tempurung kelapa dimasukkan ke dalam drum. Kemudian, tempurung kelapa dibakar. Setelah itu, tempurung kelapa yang belum dibakar dimasukkan lagi setahap demi setahap ke dalam drum.

Hal itu terus-menerus dilakukan sampai drum penuh dengan tempurung kelapa. Setelah penuh, drum ditutup dan seluruh batok kelapa di dalam drum mengalami proses pembakaran. Lambat laun, tempurung kelapa akan menjadi arang. Setelah dipisahkan dengan sampah- sampah hasil pembakaran itu, arang tempurung kelapa akan menjadi bahan baku produk arang inovatif yang akan diekspor ke pasar dunia.

Pembakaran tempurung kelapa itu dilakukan pekerja di PT General Carbon Industry (PT GCI) di Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Sayangnya, jumlah tempurung kelapa—sebagai bahan baku dasar—untuk dibakar menjadi arang itu masih sangat terbatas.

Akibatnya, PT GCI harus mendapat pasokan arang tempurung kelapa sebagai bahan baku dari pemasok yang berasal dari berbagai daerah, seperti Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. PT GCI membutuhkan 300-400 ton arang tempurung per bulan sebagai bahan baku untuk produksi arang tempurung yang inovatif. ” Empat kilogram tempurung atau batok kelapa hanya dapat menghasilkan 1 kilogram arang tempurung,” kata General Manajer PT GCI Tonny. Jika kebutuhan bahan baku arang tempurung 300-400 ton per bulan, berarti dibutuhkan 1.200 ton batok kelapa per bulan.

Dari arang tempurung, PT GCI mengolah atau memprosesnya lebih lanjut menjadi produk arang yang berorientasi ekspor. Arang tempurung dibentuk dan dicetak dengan mesin pencetak sesuai kebutuhan pasar. Setelah dicetak, produk arang itu pun masih harus dipanaskan dalam mesin pemanas. Volume produksi arang tempurung PT GCI saat ini mencapai 300 ton per bulan.

Untuk produk tertentu, menurut Tonny, produk arang itu juga diberi bahan kimia. Fungsi bahan kimia itu hanya untuk dapat menyalakan api pada arang tersebut tanpa harus menggunakan bahan bakar, seperti minyak tanah.

Untuk mengontrol kualitas arang tempurung, PT GCI juga memiliki beberapa alat kontrol. Sebelum produk dikirim, arang tempurung yang diproduksi juga diuji coba untuk melihat kualitas, seperti lama pembakaran pada arang.

Saat ini, arang tempurung kelapa yang diproduksi PT GCI sudah menembus pasar dunia. Di Eropa, arang tempurung PT GCI menembus Perancis, Belgia, Belanda, Inggris, Austria, Italia, Jerman, Swedia, dan Denmark.

Di Asia, produk arang PT GCI menembus pasar Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Bahkan, PT GCI juga menggarap pasar Timur Tengah (Timteng), seperti Lebanon dan Suriah.

Dari ekspansi ke pasar dunia itu, menurut Tonny, nilai ekspor per tahun rata-rata 1 juta-1,2 juta dollar AS (sekitar Rp 9,5 miliar-Rp 10,8 miliar). ”Nilai ekspor per tahun mencapai belasan miliar rupiah,” katanya.

Potensi pasar

Potensi pasar ekspor produk arang tempurung masih besar. Di Eropa, arang tempurung dibutuhkan untuk memanggang daging (barbecue).

Di Timteng, arang tempurung lebih banyak digunakan untuk ”merokok” atau shisha. Sementara itu, di Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan, arang tempurung digunakan untuk keperluan memasak di restoran.

Arang tempurung dinilai memang lebih mudah masuk ke pasar dunia, khususnya Eropa. Produk itu lebih mudah digunakan. Kualitas dinilai lebih baik daripada arang berbahan baku tanaman bakau. ”Daya tahan pembakaran arang tempurung lebih lama,” kata Tonny.

Produk arang tempurung juga dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak merusak tanaman, seperti tanaman bakau. Apalagi, isu pemanasan global yang sangat sensitif di Eropa.

Direktur Utama Avava Group, yang membawahi PT GCI, Tarman mengungkapkan, arang tempurung yang diproduksi PT GCI biasanya diubah nama produk oleh pemesan. Namun, pihak PT tetap mensyaratkan pada kemasan tetap dicantumkan ”buatan Indonesia”.

Jika tidak mencantumkan ”buatan Indonesia”, pihak PT GCI membatalkan pemesanan. ”Label buatan Indonesia memang harus dicantumkan. Itu kebanggaan. Produk arang bisa memasuki Eropa dan negara- negara lain,” kata Tarman. Saat ini, pihak PT GCI berencana memperluas produksi mengingat pesanan kian banyak.

Tarman menjelaskan, industri pembuatan arang tempurung yang dilakukan PT GCI saat ini pada mulanya merupakan industri milik investor dari Korea Selatan tahun 2004. Namun, industri itu merugi.

Tahun 2007, lanjut Tarman, pihaknya mengambil alih dan meneruskan bisnis arang tempurung kelapa. Pemasaran pun terus dilakukan. Dengan peluang pasar ekspor yang besar, itu berarti kebutuhan bahan baku batok kelapa pun akan semakin besar. Peluang itu pun seharusnya dapat ditangkap oleh pelaku usaha kecil dan menengah untuk memanfaatkan batok kelapa.

Batok kelapa dapat dimanfaatkan untuk pembuatan arang. Arang dari batok kelapa pun dapat menjadi bahan baku bagi industri menengah untuk diolah lebih lanjut menjadi produk arang berorientasi ekspor.
Editor: Edj | Sumber : Kompas Cetak
DKI dan Jabar Butuh Batok Kelapa
Jumat, 09 Juli 2010 12:42 |
Lampung Selatan – Untuk memenuhi permintaan batok kelapa yang sangat tinggi di DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat, pedagang pengumpul di Kabupaten Lampung Selatan memasok dalam jumlah besar. Batok kelapa ini dibutuhkan oleh perusahaan industri anti-nyamuk bakar, usaha informal, dan industri kerajinan di dua provinsi itu.

Pedagang pengumpul di Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Arfan di Bakauheni, Kamis (8/7), mengatakan, dalam sepekan pengiriman batok kelapa ini mencapai 10 truk lebih. Diungkapkan, sebenarnya permintaan batok kelapa dari Pulau Jawa sangat tinggi, namun Lampung Selatan belum mampu memenuhi pasokan tersebut meskipun perkebunan kelapa di Lampung Selatan cukup luas. “Harga pembelian batok kelapa dari pengusaha kopra Rp12.000 hingga Rp15.000/karung dari pengusaha kopra,” tambahnya.

Keuntungan dari usaha ini cukup lumayan, mencapai Rp1,3 juta dalam sekali pengiriman, karena harga jual di Pulau Jawa sendiri hingga dua kali lipat. Namun, jika saat produktivitas perkebunan kelapa menurun seperti musim kemarau, para pengumpul kesulitan mendapatkan persediaan sesuai pesanan, namun sementara ini masih cukup tinggi.

Pengumpul batok kelapa, Iwan, mengatakan, saat ini permintaan batok kelapa memang sangat tinggi untuk memenuhi pesanan di sejumlah sentra industri kerajinan, pembuatan arang dan anti-nyamuk bakar. Namun, untuk meningkatkan pendapatan biasanya sebagian batok-batok tersebut diolah terlebih dahulu menjadi arang agar harganya lebih tinggi.Ant

sumber : http://www.surabayapost.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: