adro dibilang positif, juga … 041115_041016

solar panel

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) bersiap memasuki masa pertumbuhan yang didukung oleh tren penguatan harga jual dan volume penjualan batubara. Pertumbuhan kinerja keuangan juga akan didukung oleh ekspansi bisnis pembangkit listrik.


Maybank Kim Eng Securities merevisi naik target kinerja operasional dan keuangan Adaro Energy periode 2017-2018. Rata-rata harga jual batubara (ASP) perseroan juga direvisi naik dari US$ 42,5 per ton menjadi US$ 47 per ton tahun 2017.


Sedangkan target ASP harga jual batubara perseroan pada 2018 direvisi naik dari US$ 44,2 per ton menjadi US$ 50 per ton.


Perusahaan sekuritas asing ini menargetkan volume penjualan batubara Adaro sekitar 54,8 juta ton pada 2017 dan 57,5 juta ton pada 2018. Ekspektasi peningkatan volume penjualan tersebut mendorong Maybank Kim Eng Securities untuk merevisi naik target pendapatan Adaro dari US$ 2,49 miliar menjadi US$ 2,73 miliar pada 2017.


Adapun perkiraan laba bersih direvisi naik dari US$ 243 juta menjadi US$ 283 juta. Maybank juga merevisi naik target pendapatan Adari pada 2018 dari US$ 2,71 miliar menjadi US$ 3,04 miliar. Perkiraan laba bersih direvisi naik dari US$ 566 juta menjadi 674 juta. Bandingkan dengan target pendapatan dan laba bersih tahun ini tetap dipertahankan masing-masing US$ 2,72 miliar dan US$ 189 juta.


“Revisi naik target kinerja keuangan perseroan mulai tahun depan tersebut ditopang berbagai faktor tren peningkatan harga jual batubara,” ungkap analis Maybank Kim Eng Securities Isnaputra Iskandar dalam riset.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di

September 3, 2016 7:40 pm JST

Pain from cheap oil spreading in Southeast Asia

WATARU YOSHIDA, Nikkei staff writer

SINGAPORE — Stagnant resource prices are eroding earnings at Southeast Asian energy giants, with the impact rippling to the financial sector here as well as housing and auto sales in Malaysia.

New York crude oil futures fell below $30 a barrel for the first time in 12 years at the start of 2016. Despite signs of a market recovery, crude remains in the 40s. Oversupply and lackluster demand are loosening the market, also pushing down prices of such other resources as coal and palm oil.

Even though many Southeast Asian countries are net importers of resources, the slumps by energy companies with significant influence over the economy are causing a negative chain reaction.

Low energy

At Malaysian state oil company Petronas, net profit plunged 96% on the year in the April-June quarter. Output increased 3%, but revenue dropped roughly 20% on lower prices. Petronas had invested aggressively back when oil was high and is now paying the piper. CEO Wan Zulkiflee Wan Ariffin expresses a sense of urgency, saying the company cannot be optimistic about the future.

Thai public oil company PTT‘s net profit rose 5% for the April-June quarter, but its sales shrank around 20%. Indonesian coal giant Adaro Energy‘s revenue declined 16% for the January-June half.

Chinese imports of crude oil decreased 26% on the year in dollar terms for the January-July period. As uncertainty over the global economy grows, demand is unlikely to pick up sharply.

So to restore earnings, the companies are finding themselves having to curb investment and take other restructuring steps. Petronas has decided to reduce capital and operating expenditures by 50 billion ringgit ($12.2 billion) over the four years starting in 2016. PTT has cut its planned investment for 2016 by 7 billion baht ($202 million).

Big impact

Energy companies are among the largest corporations in their countries. In Malaysia, an estimated 4,000-plus companies are dependent on orders from Petronas. Offshore oil driller UMW Oil & Gas saw revenue plunge nearly 60% on the year and bled a net loss for the January-June period.

In Singapore, which has positioned the oil industry at the center of its growth strategy, some companies are struggling to keep the cash flowing. Swiber Holdings, an oil-drilling engineering company, announced Aug. 1 the suspension of interest payments on bonds issued by a group member. Oil explorer KrisEnergy hinted in mid-August at difficulty in repaying debt.

Cash flow problems at resource companies are causing an upheaval in the city-state’s banking sector. Industry leader DBS Group Holdings‘ nonperforming lending grew 20% over the three months through the end of June. The group has added loan-loss provisions and booked a 6% drop in April-June net profit. No. 2 player Oversea-Chinese Banking‘s net profit declined 15% on the year that quarter.

The benchmark Straits Times Index continues to bob in a limited range, weighed down by resource and banking stocks. The equity market is being left in the dust while neighboring countries enjoy fund inflows from monetary easing in Japan and Europe.

The lackluster performance of stocks is affecting Singapore’s ability to attract initial public offerings. Singapore is falling behind Hong Kong as an Asian financial hub.

Cheap oil is hampering the circulation of money across the entire economy, and the situation could worsen if petroleum prices remain stuck at low levels.

In resource-rich Malaysia, cheap oil is slamming the brakes on consumption. Housing giant UEM Sunrise called off in late June a detached-home project near Kuala Lumpur. Sales of luxury condominiums in the capital decreased around 10% by value last year, likely because of the blow dealt to employment by lower petroleum prices.

Petronas has downsized its Malaysian staff by 1,000. Smaller companies affected by this are also adjusting their payrolls. With banks screening individuals’ loan applications more rigorously, major automaker Proton’s first-half unit sales have dropped nearly 30% on the year.

In Indonesia, a net importer of crude oil, consumption is brisk as a whole. But the Kalimantan region, whose economy is dependent on the coal industry, faces a headwind. Matahari Department Store enjoyed 10% or so same-store sales growth for the January-March quarter, but growth in Kalimantan came to just 2.5%.

The lucky ones

Across Southeast Asia, cheap oil’s impact on consumption differs by industry and location. Such sectors as foodservice and travel are getting a tailwind.

Major Philippine restaurant operator Jollibee Foods‘ net profit grew 17% on the year in the April-June quarter, with domestic sales rising 18%. The country depends on imports for oil and gas. Cheaper gasoline whets the appetite for spending among middle-income consumers who commute via motorcycle.

Airlines that had suffered in intense competition are also benefiting from cheap fuel. Leading budget carrier AirAsia‘s fuel costs dropped 20% on the year for the April-June quarter, while net profit jumped 40%. The company has ordered 100 midsize planes, encouraged by the recovery in earnings. Thai Airways International‘s net loss fell nearly 80% for the same period.


Jakarta detik-PT Adaro Energy Tbk (ADRO) masih bisa mencetak laba di sepanjang tahun 2015 di tengah pelemahan harga batu bara. Perseroan membukukan laba bersih sepanjang tahun 2015 sebesar US$ 152,440 juta atau sekitar Rp 1,981 triliun (kurs Rp 13.000), turun 14,3% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$ 177,897 juta atau sekitar Rp 2,312 triliun.

Selain itu, sesuai kesepakatan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar hari ini, Adaro akan membagi dividen final sebesar US$ 75,49 juta atau sekitar Rp 981,37 miliar.

Meski demikian, Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir mengaku, kondisi industri batu bara saat ini memang sedang sulit.

“Kondisi batu bara sangat sulit dan kalau saya hitung dari peak 2011 kita sudah lewati 4 tahun berturut turut. Alhamdulillah pada tahun 2015 kami dengan dukungan teman direksi dan karyawan bisa lewati masa masa sulit dan bisa bukukan profit, bahkan pada 2016 masih bisa bagikan dividen. Ini capaian yang hemat saya masih bisa diapresiasi. Dengan kondisi sulit kita masih bisa berikan kontribusi yang baik bagi pemegang saham,” jelas dia usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), di Tempo Scan Tower, Jakarta, Senin (18/4/2016).

Pria yang akrab disapa Boy ini menyebutkan, selain bisa memberikan kontribusi kepada pemegang saham lewat pembagian dividen, pihaknya juga masih melakukan kewajibannya untuk tetap membayar pajak.

“Kita peroleh penghargaan dari Dirjen Pajak. Dalam kondisi sulit kami masih berikan kontribusi pajak yang cukup signifikan bagi negara. Seperti teman ketahui, negara kita sedang dalam proses pembangunan dengan pajak adalah penting,” terang dia.

Meski kondisi industri batu bara tengah lesu, perseroan tetap mempertahankan para karyawannya. Hingga saat ini, Adaro Energy tidak melakukan Pemutusan hubungan Kerja (PHK) kepada para karyawannya.

“Memang kami cukup, dan sangat konsisten dalam lakukan usaha batu bara. Kami ingin berikan kontribusi bagi negara dalam partisipasi kami dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga uap. Garis besarnya itu saja. Dan ke depan tentunya saya harap dukungan yang lebih kuat dan lebih banyak dari teman teman karena tidak banyak perusahaan nasional seperti kami yang masih bisa bertahan hidup dan berikan pajak dan sampai saat ini karyawan Adaro Energi tidak ada yang di PHK,” pungkasnya.



per tgl 15 April 2016, tren harga saham ADRO kayaknya di puncaknya, namun CARI UNTUNG SESAAT BISA neh:

tren harga saham ADRO monyet api 2016_+68%_700

wind energy

JAKARTA okezone – PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) melalui anak usahanya PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) telah menandatangani perpanjangan kontrak dengan PT Adaro Indonesia senilai Rp4,2 triliun.

“Adapun perpanjangan kontrak dengan PT Adaro Indonesia untuk jangka waktu empat tahun hingga 2019. Adaro merupakan salah satu dari pelanggan utama BUMA sejak 2002 dengan daerah operasi di Kalimantan Selatan,” ucap Corporate Affairs Director PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), Errinto Pardede dalam keterangan tertulis yang diterima, Jakarta, Selasa (3/11/2015).

Dia mengatakan, selama periode kontrak, target operasional sebesar 170 juta bcm untuk pengerjaan pengupasan lapisan tanah dan 25 juta ton batu bara. Estimasi dari nilai kontrak adalah sebesar Rp4,2 triliun.

PT Adaro Indonesia merupakan salah satu dari pelanggan utama BUMA sejak 2002 dengan daerah operasi di Kalimantan Selatan. Akan tetapi, baru-baru ini BUMA telah menandatangani berbagai kontrak dengan beberapa pelanggan baru, antara lain PT Sungai Danau Jaya (SDJ) dan PT Tadjahan Antang Mineral (TAM). Ketiga kontrak tersebut memiliki nilai sebesar lebih besar dari Rp9 triliun.

“Kami yakini kontrak-kontrak ini akan memberikan efek positif pada posisi keuangan konsolidasian dari DOID,” pungkasnya.


rose KECIL

DOID dan ADRO perpanjang kontrak Rp 4,2 triliun

JAKARTA. PT Delta Dunia Tbk (DOID) menandatangani perpanjangan kontrak dengan PT Adaro Indonesia, anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Perpanjangan kontrak itu diteken melalui anak usaha DOID, PT Bukit Dunia Makmur Mandiri Utama (BUMA).

Adaro memperpanjang kontrak dengan BUMA untuk jangka waktu empat tahun sampai dengan tahun 2019. Adaro merupakan saah satu pelanggan utama BUMA sejak tahun 2002 dengan daerah operasi di Kalimantan Selatan.

Selama periode kontrak, target operasional mencapai 170 juta bank cubic meter (bcm) untuk pengerjaan pengupasan lapisan tanah dan 25 juta ton batubara. “Estimasi nilai kontrak mencapai Rp 4,2 triliun,” ujar Errinto Pardede, Direktur dan Sekretaris Perusahaan DOID dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (3/11).

Sepanjang tahun 2015 ini, BUMA telah menandatangani sejumlah kontrak dengan beberapa pelanggan baru, misalnya saja PT Sungai Danau Jaya (SDJ) dan PT Tadjahan Antang Mineral (TAM). Kontrak-kontrak tersebut memiliki nilai lebih dari Rp 9 triliun. Harapannya, kontrak ini bakal memberi efek positif pada kinerja DOID tahun ini.

Sepanjang Kuartal III-2015, DOID mencatatkan laba usaha sebesar US$ 64 juta naik dibandingkan US$ 60 juta di periode yang sama pada tahun lalu. Sementara nilai EBITDA mencapai US$ 139 juta, turun tipis dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 140 juta. Marjin EBITDA naik menjadi 33,9% dibandingkan 31,9% di tahun sebelumnya.

Namun, DOID masih mencatat rugi bersih sebesar US$ 5 juta karena ada rugi selisih kurs sebesar US$ 20 juta, yang sebagian besar merupakan rugi selisih kurs yang belum terealisasi. Pada Kuartal III tahun lalu, perseroan masih bisa membukukan laba US$ 16,7 juta. Namun, jika tidak memperhitungkan rugi selisih kurs, maka laba bersih DOID bisa mencapai US$ 15 juta.

Pada tahun ini, DOID akan mempercepat pembayaran atas pokok hutang kepada bank sebesar US$ 10 juta. Adapun total pembayaran pokok hutang bank dan sewa pembiayaan sepanjang tahun ini mencapai US$ 46 juta. Posisi utang kontraktual DOID per September 2015 mencapai US$ juta, dengan posisi kas US$ 131 juta.

Dengan begitu, utang bersih DOID tercatat sebesar US$ 557 juta. Lalu, posisi kas DOID masih tercatat sebesar US$ 116 juta. Pada periode itu, volume pengerjaan pengupasan lapisan tanah DOID sebesar 201,5 juta bcm atau turun 5.1% yoy. Sementara produksi batubaranya naik 6.6% yoy menjadi 24,8 juta ton.



17/06/2010 – 04:00

INILAH.COM, Jakarta – Pada perdagangan Kamis (17/6), IHSG ada peluang koreksi setelah empat hari berturut-turut meskipun faktor ekternal berpotensi mengangkat indeks. Saham pilihan PTPP, BBKP, ADRO, SMGR dan BTEL.

Demikian dikutip dari hasil riset analis senior HD Capital, Yuganur Wijanarko kemarin. Indeks akan bergerak di level support 2.795-2.740-2.680 dan resistance di 2.850-2.900 dan 2.970. “Bila terjadi koreksi ke price gap bawah 2.800-2.795 paska kenaikan 4 hari berturut-turut rekomendasi untuk akumulasi,” katanya.

Saham pilihan PT Pembangunan Perumahan (PTPP), selain didorong dividen Rp10/saham, isu akan diadakan private placement ke investor strategis asing di atas harga pasar dalam jangka pendek dapat memicu minat pemain jangka pendek. Saham PTPP direkomendasikan beli dengan target 750 dari penutupan kemarin di 710 dengan strategi masuk pertama di 680 dan masuk kedua di 650 dengan cut loss di 610.

Saham Bank Bukopin (BPKP) dengan isu Temasek tertarik untuk membeli saham pemain mikro segmen high margin dengan valuasi PBV/PER lebih murah dari BBRI dapat menopang spekulasi. Saham BPKP direkomendasikan beli dengan target 590 dari penutupan kemarin di 560 dengan strategi masuk perama di 550 dan kedua di 530 dengan cut loss di 510.

Saham Adaro Energy (ADRO) walaupun placement dilakukan di Rp2.000 pemegang saham alam tetap akan terdilusi. Bila terjadi profit taking maka rekomendasi akumulasi karena outlook earning batubara menjadi lebih positif sekarang. Saham ADRO direkomendasikan beli dengan target harga 2.075 dari penutupan kemarin di 1.970 dengan strategi masuk pertama di 1.930 dan kedua di1.870 dengan cut loss di 1.870.

Untuk saham Semen Gresik (SMGR) sebagai sektor konsumer dengan valuasi PBV/PER termudah dan ROE/NPM tertinggi di sektornya dibandingkan INTP dan SMCB. Saham SMGR direkomendasikan beli dengan target 8.800 dari penutupan kemarin di 8.500 dengan strategi masuk pertama di 8.400 dan kedua di 8.200 dengan cut loss di 8.050.

Saham Bakrie Telecom (BTEL) dengan ketidakpastian merger dan rights issue membuat investor bingung. Pemegang saham lama akan terdelusi walaupun rights issue dilakukan di harga premium. Saham BTEL direkomendasikan jual dengan target 155 dari penutupan kemarin di 172 dengan strategi keluar pertama di 174 dan kedua di 178 dengan reverse posisi di 182. [hid]


17/06/2010 – 10:08
Aji Martono
Wajib Beli ADRO di Level Rp1.980-2.000

INILAH.COM, Jakarta – Saham ADRO pada perdagangan Kamis (17/6) akan menguat, berhasil tembus level psikologis Rp1.900 dengan volume transaksi besar. Buy position di level Rp1.980-2000!

Pengamat pasar modal Aji Martono mengatakan, potensi penguatan saham PT Adaro Energy (ADRO) hari ini salah satunya karena faktor teknis setelah penguatan dua hari terakhir yang diiringi dengan besarnya volume transaksi. Menurutnya, kalaupun ADRO turun, para kolektor saham justru diuntungkan.

Sebab, mereka bisa membeli saham ini di level murah dalam posisi yang potensial menguat kembali. “Mereka wajib beli ADRO di level Rp1.980-1.990 atau Rp2.000,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Rabu (16/6) kemarin, saham ADRO ditransaksikan menguat Rp90 (4,78%) ke level Rp1.970 dibandingkan sebelumnya di level Rp1.880. Harga tertingginya mencapai Rp2.000 dan terendahnya Rp1.900. Volume transaksi mencapai 227,3 juta unit saham senilai Rp446,4 miliar dan frekuensi 5.461 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah kemarin menguat di atas 4%, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham ADRO hari ini?

Saya melihat potensi penguatan saham Adaro. Salah satunya, dipicu oleh faktor teknis. Sebab, penguatan saham ini pada perdagangan dua hari sebelumnya didukung oleh besarnya volume transaksi. Akibatnya, emiten batubara ini berhasil tembus level psikologisnya di level Rp1.900. Bahkan, level tertingginya mencapai Rp2.000. Karena itu, jika market mendukung, saham ini akan melanjutkan penguatan hari ini.

Akan begerak di kisaran berapa?

Level support-nya Rp1.870 dan resistance jangka pendeknya di level Rp2.075.

Bagaimana dengan sentimen market?

Pergerakan ADRO sangat tergantung pada sentimen market yang dimotori pergerakan bursa Dow Jones. Jika Dow Jones berada di area positif, indeks akan terus menguat lebih lanjut sehingga kondusif bagi pergerakan ADRO. Market sendiri kecenderungannya sejauh ini bergerak mixed, sehubungan dengan putaran piala dunia,

Sebaliknya, jika indeks bergerak negatif, ADRO pun berpeluang terkoreksi. Hal bisa saja terjadi. Sebab, kenaikan indeks yang sudah tiga hari berturut-turut mengalami kejenuhan sehubungan dengan putaran piala dunia 32 besar. Di sisi lain, dari sisi value juga tidak mendukung pergerakan indeks, walaupun bergerak naik tiga hari terakhir.

Tapi, saya optimis, range pergerakan untuk ADRO tetap di level support dan resistance tadi.

Bagaimana dengan kenaikan harga minyak mentah dunia ke level US$77 per barel?

Ya itu juga. Saham ini juga mendapat insentif dari kenaikan harga minyak mentah dunia ke level US$77 per barel. Harga minyak menjadi salah satu pemicu untuk pergerakan saham-saham di sektor komoditas termasuk ADRO.

Untuk itu, jika dilihat dari volatile-nya harga minyak mentah dunia, pasar harus mencemati juga saham komoditas lainnya di luar ADRO seperti PT Perusahaan Tambang Bukit Asam (PTBA), PT Aneka Tambang (ANTM), PT Indo Tambangraya Megah (ITMG), PT Delta Dunia Petroindo (DOID), PT Bumi Resources (BUMI) dan lain-lain.

Begitu juga dengan emiten-emiten lain yang melakukan bisnis di sektor batubara. Sebab, batubara merupakan second liner dari harga minayk mentah dunia.

Lantas, apa rekomendasi Anda untuk ADRO?

Saham ADRO masih masih menyisakan harapan untuk naik hari ini. Kalaupun ADRO turun, para kolektor saham justru diuntungkan. Sebab, mereka bisa membeli saham ini di level murah dalam posisi yang potensial menguat kembali. Mereka wajib beli ADRO di level Rp1.980-1.990 atau Rp2.000.

Secara teknikal, posisi di bawah Rp2.000 masih buying position untuk ADRO. Target price-nya, saham ini masih memungkinkan menuju level Rp2.400 per saham. Namun saya tidak tahu pasti, kapan level ini akan tercapai.[jin/ast]

long jump icon


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in: Logo

You are commenting using your account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: