energi terbarukan: SAMPAH itu ENERG1 … 220113_281014 _091215 (1 Sumpah 3 Ikatan)


Sano, Lulusan ITB yang Berbisnis Sampah

Tak seperti layaknya pemuda-pemuda lain, sosok Bijaksana Junerosano punya pilihan yang terbilang cukup kontroversial dalam hidupnya. Alih-alih bekerja di kantoran, pria berusia 34 tahun ini memilih berkotor-kotor ria mengurusi sampah. Padahal, Sano, sapaan akrabnya merupakan salah satu lulusan universitas ternama Bandung. Ia merupakan alumni dari jurusan Teknik Lingkungan ITB, kampus yang notabene banyak diminati oleh banyak perusahaan dalam mencari karyawan.

 

Ketertarikannya pada isu lingkungan, ia ceritakan bermula jauh sebelum ia masuk ke ITB. Ketika masih duduk di bangku sekolah, ia sempat memikirkan jurusan apa yang paling cocok bagi masa depannya nanti. Tak mau salah pilih, ia kemudian melakukan shalat istikharah. Sebuah ritual shalat yang biasanya dilakukan umat muslim untuk meminta petunjuk Allah ketika dihadapkan pada beberapa pilihan atau saat akan memutuskan sesuatu hal. “Usai shalat saya lihat tayangan di televisi yang menggambarkan begitu parahnya sampah di Jakarta, dengan segala permasalahannya. Sejak itu saya langsung tertarik ingin menyelami dunia sampah. Berarti saya harus mengambil jurusan Teknik Lingkungan,” kenang Sano yang masuk kuliah tahun 2000.

Begitu lulus kuliah, ia langsung tancap gas mendirikan Yayasan Greeneration Indonesia yang membawahi sejumlah usaha yang dijalankannya. Mulai dari produksi tas ramah lingkungan ‘Bagoes’, yayasan Diet Kantung Plastik, hingga kemudian lahirlah Waste4Change, yang selain mengelola sampah juga bergerak di bidang konsultan lingkungan, training serta studi kelayakan.

Waste4change ia dirikan sejak tahun 2014, untuk lebih bisa ekspansif dalam hal bisnis sampah.” Yang membedakan GI dengan LSM, atau organisasi lingkungan lainnya, adalah kami ini perusahaan. Kalau isu tetap sama berkaitan dengan lingkungan. Jadi, kami berwira usaha dengan sampah. Kami hidup berdikari, dan tidak hanya dari donasi, “ ujarnya.

Hampir 1,5 tahun berdiri, waste4change, kini telah mengakut sampah dari 2000 rumah tangga yang berada di bekasi. Waste4change juga mengangkut sampah dari dua gedung perkantoran, dan melakukan traning serta konsultasi di bidang lingkungan.
Meskipun enggan membicarakan angka-angka omset. Namun Sano, mengatakan mengenakan biaya pengangkutan sampah sebesar Rp 35.000/rumah. Sementara untuk gedung harganya beragam tergantung jumlah ton sampah yang diangkut.
Jika dihitung secara kasar, maka bisa dikatakan Waste4change memperoleh pendapatan sebesar Rp 70 juta per bulan atau Rp 840 juta per tahun dari lini bisnisnya mengangkut sampah perumahan. Angka ini belum memperhitungkan bisnis lainnya misalnya pengangkutan sampah dari gedung, dan usaha trainning dan konsultasi.

Ia percaya sampah merupakan sesuatu yang bernilai bisnis. Di Amerika Serikat ia mengungkapkan nilai omzet bisnis dari sampah mencapai 500 miliar dolar, di Inggris 8 miliar dolar per tahun. “Sayang di Indonesia kita tak punya data,” ujarnya.

Kota besar seperti Jakarta, ia contohkan, menghasilkan sampah kurang lebih 7000 ton per harinya. Volume tersebut sangat tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Eropa yang hanya menghasilkan sampah 1.500-2.000 ton per hari.

Bukan pilihan bijak, menurut dia, bila hanya melakukan pendekatan konservatif seperti mengumpulkal lalu dibakar. Perlu terobosan, untuk menjadikan sampah mempunyai nilai lebih dengan cara melakukan 3 R ( Reuse, Reduce, Recycle). Di Waste4change, ia memastikan melakukan pengumpulan sampah secara bijaksana. Waste4Change memproses sampah di Material Recovery Facility (MRF), di mana sampah akan dipilah berdasarkan kategorinya dengan lebih detail. Hasil pilahan sampah yang sudah dikategorikan diberikan kepada pihak yang dapat menyalurkan sampah untuk didaur ulang, seperti bandar sampah atau langsung ke industri yang membutuhkan bahan daur ulang. “Sampah yang tidak dapat didaur ulang akan dibuang di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) milik pemerintah setempat,” dia menegaskan. (EVA)

“Materi bukanlah segala-galanya. Bisa membantu pemerintah menjaga kebersihan lingkungan dan membahagiakan warga sudah lebih dari cukup”

gifi

KOMPAS.com – Ungkapan di atas datang dari Sugeng Triyono. Berbicara dalam Konferensi Air dan Sanitasi Nasional (KSAN) 2015, mantan manajer bank ini pun bisa jadi tak pernah bercita-cita berurusan dengan sampah sampai rela meninggalkan pekerjaannya semula.

Sugeng adalah warga Semper Barat, Jakarta Utara. Sejak dulu, kawasan tempat tinggalnya itu tak pernah absen dari banjir tahunan tiap kali musim hujan tiba.

Kawasan Jakarta Utara memang punya permukaan tanah rendah, yang agak tinggi pun sudah penuh beton bangunan dan jalan sehingga tak bisa menyerap air. Kalaupun ada celah untuk tempat air meresap, jumlahnya tak banyak. Itu pun, sulit mengalir karena saluran mampat oleh sampah.

Dengan niat membangun lingkungan yang lebih bersih, Sugeng berinisiatif membangun bank sampah. Dia yang juga adalah Ketua RT 18 Kelurahan Semper Barat bersama sejumlah warga bervisi sama bahu-membahu menggarap ide tersebut.

Sugeng bahkan keluar dari pekerjaannya di bank. Dia lalu mendirikan “bank” yang dia manajeri sepenuhnya, yaitu Bank Sampah Kenanga Peduli Lingkungan (BSKPL).

“Bank ini beroperasi sejak 16 Maret 2014. Awalnya, di sana sudah ada komunitas Semper Barat didampingi oleh Wahana Visi Indonesia melalui kelompok kerja Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan tumpukan sampah menjadi perhatian utama,” tutur Sugeng.

Sejak awal, perjalanan bank sampah itu tak pernah enteng. Sugeng dan warga lain nekat mengoperasikannya meski belum memiliki tempat pengumpulan sampah. Dana menjadi kendala utama.

Untungnya, sebagian besar warga setempat mendukung gerakan tersebut. Satu pos RT direlakan sebagai tempat pengumpulan pertama.

Meski begitu, ada juga yang tak sepakat. Beberapa warga protes karena khawatir kawasan tempat tinggalnya menjadi kumuh. Namun, Sugeng tak menyerah, ia dan pengurus bisa meyakinkan lebih banyak warga.

“Saking semangatnya, pengurus yang saat itu ada 12 orang urunan untuk biaya operasional. Uang itu didapat dari hasil menyisihkan pendapatan bulanan selama bekerja,” kata Sugeng. Dia sendiri mengaku mengeluarkan dana pribadi hingga Rp 30 juta.

Biaya operasional sebenarnya tak banyak tapi tetap ada untuk memastikan operasional bank sampah tak terhenti. Bank ini perlu karung dan plastik untuk mengangkut sampah dan diberikan pada warga secara cuma-cuma.

“(Awalnya) juga menyita waktu. Pertama beroperasi, kami harus datang ke rumah-rumah untuk mengangkut sampah mereka dan menyosialisasi gerakan ini,” kata Sugeng.
Sugeng Triyono dan sampah yang dia kelola bersama warga Semper Barat, Jakarta Utara, melalui bank sampah. Dari sampah, warga mendapatkan tambahan pendapatan dalam rekening ber-ATM, yang bisa terkoneksi dengan jaringan perbankan nasional. Sugeng memaparkan kinerja bank sampah pada Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional 2015, Rabu (11/11/2015)
Seiring berjalannya waktu, warga setempat yang sudah menjadi nasabah mau mengantarkan sampahnya sendiri. Dalam karung, sampah sudah dipilah, mulai dari botol plastik, botol kaca, gelas plastik, kemasan minuman kaleng dan karton, hingga sampah plastik lain.

ATM sampah

Nasabah yang mengantarkan sampahnya akan mendapatkan sejumlah uang. Administrasi berjalan laiknya bank. “Mereka (nasabah) mendapat buku tabungan dan kartu anjungan tunai mandiri (ATM) yang akan diisi tiap kali datang memberikan sampah,” tutur Sugeng.

Jumlah uang yang diterima tergantung jenis sampah yang dibawa. Uang itu langsung masuk ke rekening para nasabah. Untuk bekas kemasan minuman plastik, misalnya, bank milik Sugeng memberikan harga Rp 3.000 per kilogram. Biasanya, pemasukan ini dibiarkan menjadi tabungan oleh warga dan baru diambil saat mereka ada kebutuhan dadakan.

Kini, perkembangannya signifikan. Sugeng pun tak lalai menggalang dukungan dari berbagai pihak. “Dukungan pemerintah daerah adalah dengan mengukuhkan bank sampah dalam Surat Keterangan Pengurus, pembinaan dan monitoring rutin dari kelurahan setempat,” kata Sugeng.

Bank kelolaan Sugeng juga mendapat hibah berupa gerobak motor yang dapat digunakan untuk menjemput sampah ke rumah-rumah warga. “Saat ini kami bisa mengumpulkan sampah hingga lima ton per hari,” ujar Sugeng kembali.

Tak hanya itu, gerakan yang dilakukan Sugeng juga didukung salah satu bank milik pemerintah. Inilah alasan mengapa menjadi nasabah di BSKPL bisa mendapatkan ATM.

Sebagai pengembangan bisnis, bank sampah tersebut juga telah bermitra dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). “Melalui ATM (bank sampah), nasabah bisa menggunakannya sebagai alat bayar listrik, air, telepon, atau ditabung saja,” papar Sugeng.

Kini, bank sampah milik Sugeng tak lagi menempati pos RT. BSKPL telah memiliki satu kantor pusat dan dua unit tempat pengumpulan sampah. Ya, capaian itu didapat dalam waktu dua tahun.

Dari metana sampai wisata

Berurusan dengan sampah tak hanya menjadi pilihan Sugeng. Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Malang, Romdhoni juga menjalani hari-hari bersama sampah.

Kecintaan pria lulusan Teknik Sipil ini terhadap isu-isu lingkungan menjadikan dia ingin berbuat lebih dari sekadar bertanggung jawab sesuai jabatannya. Romdhoni peduli terhadap pembangunan berbasis keindahan dan keberlanjutan lingkungan.

Ia risih melihat masyarakat Kabupaten Malang masih membuang sampah di sungai tanpa rasa malu. “Faktornya itu datiag dari kurangnya kesadaran dan infrastruktur persampahan yang memadai,” ungkap Romdhoni.

Maka, prinsip bahwa setiap orang harus bertanggung jawab akan sampahnya sendiri menggerakkan Romdhoni mulai membangun Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Reduce, Reuse, Recycle (TPST 3R) skala desa.

“(TPST 3R) Ini disiapkan untuk tempat pemilahan sampah organik dan anorganik secara teliti untuk kemudian diolah atau dijual sehingga memiliki nilai ekonomi,” kata Romdhoni. Tak seperti bank sampah milik Sugeng, Romdhoni mengajak serta masyarakat untuk ikut terjun langsung mengelola sampahnya.

“Pengelolaan dilakukan oleh masyarakat setempat yang dibayar dari hasil iuran warga. Dari hasil pengelolaan, sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya 15 persen dari total sampah mausk ke TPST,” ujar dia.

Salah satu karya Romdhoni yang berhasil dan paling dikenal adalah TPST 3R Mulyoagung Bersatu di Desa Mulyoagung. TPST 3R ini sepenuhnya dikelola secara swadaya oleh masyarakat.

Lewat proses pengelolaan sampah tersebut, masyarakat tak hanya menghilangkan bau sampah tapi juga menghasilkan biogas dari gas metana. Gas ini kemudian dimanfaatkan menjadi sumber bahan bakar masyarakat sekitar.

Gas metana tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga menghasilkan energi yang besar. Satu meter kubik gas metana setara dengan energi yang dihasilkan 0,48 kilogram gas Elpiji (LPG).

“Saat ini, TPST tersebut menjadi best practice bagi daerah lainnya. Tiap tahun, TPST 3R Mulyoagung dikunjungi lebih dari 700 pengunjung, baik dari institusi dalam dan luar negeri yang ingin belajar lebih jauh mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat,” ungkap Romdhoni.

Romdhoni tak menyia-nyiakan situasi tersebut. Kecintaannya terhadap seni dan keberlanjutan lingkungan juga memicu pemikiran kreatif. Dia pun mengubah tampilan TPA agar lebih bermanfaat dan memiliki nilai estetika.
Romdhoni di lokasi tempat sampah yang telah berubah menjadi lokasi wisata sekaligus penghasil gas metana untuk kebutuhan sehari-hari. Paparan soal pengelolaan sampah di Kabupaten Malang, Jawa Timur ini disampaikan di Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional, Rabu (11/11/2015).

Ia membangun TPA Sanitary Landfill dan mengubahnya menjadi taman rekreasi warga berbasis edukasi. “Saya tak ingin sampah hanya dipandang sebagai tempat yang menjijikkan. Selain bernilai dan dapat menghasilkan uang, sampah juga bisa menjadi media pembelajaran,” papar Romdhoni.

Di tempat wisata tersebut, pengunjung “disuguhi” lahan besar tempat pengelolaan sampah, mulai dari proses pemilahan hingga menghasilkan biogas. “Tempat ini akhirnya mengubah pandangan masyarakat yang semula menentang keberadaan TPA di wilayah permukimannya karena merasakan manfaat langsung dari keberadaan TPA tersebut,” imbuh Romdhoni.

Tanggung jawab bersama
Sugeng dan Romdhoni adalah dua dari sebagian kecil orang yang peduli akan lingkungan. Gerakan yang mereka lakukan menjadi manfaat nyata di tengah tantangan sarana sanitasi dasar dan air minum layak yang masih sering luput menjadi perhatian.

Padahal, pemenuhan akses air minum layak dan sanitasi dasar merupakan salah satu target Milennium Development Goals (MDGs) yang ditetapkan PBB pada 2000. Sebagai salah satu anggota PBB, Indonesia juga harus mengejar target yang sama.

Demi mendorong akses air minum layak dan akses sanitasi dasar bagi seluruh penduduk Indonesia, pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015–2019 mencanangkan “Gerakan 100 Persen Akses Air Minum dan Sanitasi pada 2019”. Gerakan ini secara ringkas disebut sebagai “Akses Universal 2019”.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia secara nasional telah mewujudkan air minum layak bagi 68,36 persen populasi dan akses sanitasi dasar kepada 61,04 persen populasi pada 2014. Hingga 2019, Pemerintah menargetkan minimnal ada peningkatan 40 persen akses sanitasi layak dan 30 persen akses air minum aman.

Khusus urusan sampah, targetnya 80 persen sampah perkotaan dapat dikelola langsung dan 20 persen sisanya diolah lewat proses reduce, reuse, recycle (3R). Agar terwujud, Indonesia butuh lebih banyak Sugeng dan Romdhoni untuk turun tangan bersama pemerintah maupun kalangan swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Target Akses Universal 2019 akan menjadi tantangan berjawab hanya bisla ada kesadaran dan keterlibatan setiap warga negara Indonesia. Apakah Anda juga salah satunya?

doraemon

BANDUNG, KOMPAS.com – Berawal dari ide sederhana, Yus Hardiman (46), warga kelurahan Babakan Surabaya, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, berhasil mengembangkan sebuah alat pengolah sampah organik alias biodigester.

Yus menjelaskan bahwa kerja biodigester sederhana ini tidak terlalu rumit. Sampah-sampah organik hasil buangan rumah tangga dan pasar ditampung di dalam sebuah ruangan bervolume 20 kubik untuk diberikan bakteri pemakan sampah organik. Hasil pengolahan dalam proses tersebut akan menghasilkan gas metana.

“Sampah organik diubah menjadi gas metan. Kemudian dimanfaatkan untuk menggerakan genset, listriknya disimpan dalam power bank 2000 watt jadi bisa digunakan kapan saja,” kata Yus saat ditemui seusai peresmian biodigester di Bandung Trade Mall, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin (27/10/2014).

Gas metana tersebut ternyata tidak hanya dipakai untuk menggerakan genset saja. Gas tersebut juga dialirkan menggunakan selang sehingga bisa digunakan untuk memasak. Hanya saja, penggunannya tidak bisa terlalu banyak karena dari 20 kubik sampah yang diolah hanya bisa menghasil satu kubik gas metana.

Sedikitnya gas metana yang dihasilkan, kata Yus, disebabkan oleh perbandingan sampah non organik seperti plastik yang terlalu banyak ketimbang sampah organik. Dari 20 kubik sampah, hanya seperempatnya saja yang merupakan sampah organik.

“Sampah ini tidak hanya dari Kelurahan Babakan Surabaya saja. Ada juga dari beberapa kelurahan lain seperti Batununggal dan Cikutra,” tuturnya.

Ke depan, gas metana yang dihasilkan juga bisa dipakai untuk mengolah sampah non organik dengan menggunakan sistem distilasi.

“Nantinya gas tidak hanya untuk listrik tapi untuk pengolahan sampah anorganiknya dengan cara didistilasi. Nanti sampah anorganiknya diolah, dipanaskan oleh gas metan nanti balik lagi menghasilkan bensin,” singkatnya.

Instalasi biodigester ini ternyata sudah banyak digunakan. Namun, mesin ini punya keunggulan. “Kelebihannya ada di pemurni, karena biasanya tidak dimurnikan,” ungkapnya.

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil yang datang untuk meresmikan instalasi biodigester tersebut mengaku sangat takjub. Menurut dia, instalasi tersebut merupakan teknologi pengolahan sampah yang cocok diterapkan di Kota Bandung.

“Alhamdulillah hari ini kita bisa meresmikan fasilitas yang akan menjadi masa depan Kota Bandung,” ujar pria yang akrab disapa Emil ini.

Dia menambahkan bahwa setiap kelurahan di Kota Bandung diharapkan memiliki instalasi serupa agar bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“Kalau ada 151 kelurahan di Bandung, minimal ada satu yang skala besar. Sambil yang skala kecil kita kebut APBD sudah dianggarkan. Jadi nanti perkelurahan dianggarkan untuk membangun biodigester seperti ini,” ungkap pria lulusan University Of California, Berkeley, Amerika Serikat ini.
Penulis : Kontributor Bandung, Putra Prima Perdana
Editor : Caroline Damanik

ezgif.com-resize

BANDUNG,(GM).-

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil meresmikan biodigester dan air siap minum di di kantor RW 07 Gang Simpang Kel. Babakan Surabaya Kec. Kiaracondong, yang terletak di sebelah Bandung Trade Mall (BTM), Senin (27/10/2014).

Biodigester yang diresmikan tersebut, berasal dari sampah organik dan bisa menghasilkan gas metan. Gas tersebut dipergunakan untuk menggerakkan mesin diesel, dan juga digunakan sebagai bahan bakar kompor.

Sedangkan air minum tersebut berasal dari air hujan yang ditampung, kemudian dijernihkan, dan khusus untuk RW 07 diubah lagi menjadi air siap minum.

“Alhamdulillah peresmian ini sebagai masa depan Kota Bandung, dimana sampah dan air hujan dapat dimanfaatkan,” ujar Ridwan Kamil usai peresmian.

Menurut Ridwan, biodigister tersebut merupakan salah satu yang berskala kelurahan, dan diharapkan 151 kelurahan yang ada di Kota Bandung dapat memiliki biodigister seperti itu.

“Kita sudah menganggarkan di APBD utnuk pembangunan biodigister, sehingga nantinya di tiap kelurahan bakal ada biodigister,” katanya.

Sementara itu, penggagas biodigister dan air siap minum, Iyus Hardiman mengatakan biodigister tersebut dapat menampung sampah anorganik dan organik sebanyak 20 kubik, tetapi saat ini masih di fokuskan untuk sampah organik.

“Alat ini sebenarnya mampu menampung sampah organik dan anorganik, sementara ini untuk organik sekitar 5 kubik,” jelasnya.

Biodigister ini, menurutnya mampu menghasilkan gas metan untuk menggerakkan genset. Listrik disimpan dan dapat digunakan kapan saja. “Kedepannya listrik yang dihasilkan tersebut dapat disimpan dalam power bank hybrid,” ujarnya.

Sebenarnya biodigister ini menurut Iyus merupakan teknologi yang sederhana, namun yang diresmikan oleh wali kota tersebut mempunyai kelebihan memiliki pemurni dan ada powerbank untuk menyimpan listrik.

(wal)

big-dancing-banana-smiley-emoticon

GUIYU, China, Oct 28, 2014 (AFP)
Mountains of discarded remote controls litter the warehouse floor. In a dimly-lit room, women on plastic stools pry open the devices, as if shucking oysters, to retrieve the circuitry inside.

In a narrow alley a few blocks over, a father and son from a distant province wash microchips in plastic buckets. Men haul old telephones and computer keyboards by the shovelful off a truck.

Some items will be refurbished and resold, others will be stripped for components or materials such as copper or gold.

Business is booming in the Chinese town of Guiyu, where the world’s electronic waste ends up for recycling — and is set to get even better.

But the industry has a heavy environmental cost. Electronic remnants are strewn in a nearby stream, and the air is acrid from the burning of plastic, chemicals and circuitboards.

Heavy metal contamination has turned the air and water toxic, and children have high lead levels in their blood, according to an August study by researchers at Shantou University Medical College.

Much of the e-waste that passed through Guiyu over the past few decades came from outside China.

Western countries are now making a greater effort to process their own e-waste, but Chinese domestic supply will soon be more than enough to step into any breach, campaigners say.

China’s surging economy has transformed the country into a consuming power in its own right — it is now the world’s largest smartphone market — and use of electronic devices has soared.

“Before, the waste was shipped from other parts of the world coming into China — that used to be the biggest source and the biggest problem,” said Ma Jun, director of the Institute of Public and Environmental Affairs, one of China’s foremost environmental NGOs.

“But now, China has become a consuming power of its own,” Ma said. “We have I think 1.1 billion cell phones used, and the life of our gadgets has become shorter and shorter.”

“I think the wave is coming,” he added. “It’s going to be a bigger problem.”

– ‘This cannot be allowed to go on’ –

China currently generates 6.1 million metric tonnes of e-waste a year, compared with 7.2 million for the US and 48.8 million globally, according to the United Nations University’s Solving the E-waste Problem (StEP) Initiative.

But while US e-waste production has increased by 13 percent over the past five years, China’s has nearly doubled, setting the Asian giant on track to overtake the US as the world’s biggest source as early as 2017.

Nowhere are the profit and environmental toll of e-waste recycling more on display than in Guiyu in the southern province of Guangdong, where some 80,000 of 130,000 residents work in the loosely-regulated industry, according to a 2012 local government estimate.

More than 1.6 million tonnes of e-waste pass through Guiyu each year, with recycling worth 3.7 billion yuan ($600 million) annually and attracting migrants from near and far.

“This work is tiring, but the salary is okay compared with the work in town,” said a 30-year-old surnamed Ma, who left a salesman’s job to dismantle electronics. “You can make 4,000 or 5,000 yuan ($650 to $815) a month.”

At the same time, the town has made worldwide headlines for the devastating health impact of its tainted environment.

“People think this cannot be allowed to go on,” said Leo Chen, 28, a financial worker who grew up in Guiyu.

The situation was better than a decade ago, he said, following authorities’ interventions, but the effects of years of pollution remain.

“In my memory, in front of my house, there was a river. It was green, and the water was very nice and clear,” he said. “Now, it’s black.”

– ‘Morally complicated’ –

Lai Yun, a Greenpeace researcher who has often visited Guiyu, said that while Beijing has tightened regulations enforcement is often lax, and the bottom line is that development cannot be obstructed.

“From the government’s perspective, e-waste gathering and processing is important for the local economy,” Lai said. “Research has shown that 80 percent of households are involved in this work. So, if they don’t expand this industry, these residents will need some other kind of employment.”

Central authorities including China’s powerful National Development and Reform Commission (NDRC) have invested heavily in Guiyu’s recycling industry, pointed out Adam Minter, author of “Junkyard Planet”, on the economics of the global scrap industry.

The overall picture was mixed, he said.

“There is an environmental good happening there — they’re extending the life span of usable components, they’re pulling things out and recycling them, or sending them to Korea and Japan, something that’s very expensive to do in the US and the EU,” he said.

“Yet they do it in a way that’s not always good for human health and the environment,” he added. “Recycling is a morally complicated act.”

butterfly

Lahan Pembangkit Listrik tenaga Sampah Sudah Dibebaskan
Tribunnews.com – Selasa, 22 Januari 2013 15:01 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Tiah SM

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG – Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) segera dibangun karena lahan yang dibutuhkan 24 hektare di wilayah Gedebage telah dibebaskan.

“Lahan sudah dibebaskan seluas 24 hektare tapi yang dikerjasamakan untuk PLTSa hanya 5 hektare,” ujar Wali Kota Bandung Dada Rosada saat ekpose PLTSa dihadapan tim konsultasi Bappenas, Selasa (22/1/2013).

Dada berharap PLTSa segera diwujudkan karena tak ada solusi lain untuk menangani sampah kecuali PTSa.

Menurut Dada, lahan seluas 24 hektar sebagian besar untuk penghijauan dan akan dibangun juga tempat wisata. “Di tempat wisata, warga setempat bisa membuka tempat makan sehingga tak kehilangan pekerjaan yang semula petani,” ujar Dada.

Dada mengatakan, lahan PTSa semula berupa sawah setelah dibebaskan otomatis para petani kehilangan pekerjaan, makanya jika ada tempat wisata mantan petani bisa pindah profesi,” ujar Dada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: