ayo BANGUN bisnis energi terbarukan … 241109_130216


Jakarta detik -Ketika diangkat menjadi Menteri ESDM pada Oktober 2014 lalu, Sudirman Said berjanji akan menjadikan energi baru terbarukan (EBT) sebagai arus utama, bukan lagi ‘lampiran’ dalam kebijakan energi.

Sebagai bukti komitmennya memajukan energi terbarukan di Indonesia, Sudirman mengaku telah meningkatkan anggaran untuk EBT hingga 100%. Rata-rata anggaran EBT di periode sebelumnya hanya Rp 1 triliun per tahun, kini di era kepemimpinannya rata-rata anggaran untuk EBT mencapai Rp 2 triliun per tahun.

“Anggaran EBT naik cukup signifikan dari rata-rata sebelumnya Rp 1 triliiun, sekarang lebih dari Rp 2 triliun,” kata Sudirman, dalam jumpa pers usai Bali Clean Energy Forum di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/2/2016).

Meski sudah naik 2 kali lipat, Sudirman mengakui, sebenarnya anggaran untuk EBT masih tergolong kecil dan belum mencukupi. Sebab, kemampuan anggaran pemerintah memang terbatas. Namun, kurangnya anggaran itu tidak menjadi penghalang untuk pengembangan EBT. Pihaknya terus berupaya membuat kebijakan-kebijakan untuk menarik investasi di bidang EBT.

Dengan banyaknya investor yang berbisnis EBT, pengembangan EBT pun bisa berjalan kencang tanpa perlu banyak anggaran dari APBN. “Anggaran dari APBN nggak sampai Rp 10 triliun, pemerintah punya prioritas-prioritas lain, yang kita dorong adalah investasi,” tukas dia.

Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana, menambahkan anggaran yang dikeluarkan pemerintah hanya ‘pemicu’ saja untuk pengembangan EBT, juga untuk membangun infrastruktur EBT yang tidak tersentuh oleh pihak swasta.

Peran utama pemerintah dalam pengembangan EBT menciptakan regulasi-regulasi dan iklim yang kondusif agar investor tertarik menanamkan modal di bidang EBT, mulai dari feed in tariff yang ekonomis, pemangkasan perizinan, pemberian insentif, dan sebagainya.

“APBN itu pemancing saja, sambil juga untuk melistriki daerah-daerah yang belum tersentuh investor. Kita keluarkan berbagai aturan untuk menarik investasi. Kalau kita mengembangkan EBT pakai APBN saja sampai kapan pun tidak akan kuat,” papar Rida.

Pihaknya mengklaim berbagai kebijakan yang telah dibuat pemerintah telah membuat bisnis EBT semakin seksi sehingga investasi meningkat. “Sekarang investasi makin banyak karena harga makin bagus, izin juga makin singkat,” tutupnya.

(wdl/wdl)

JAKARTA okezone – Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir, melepas langsung keberangkatan Kapal Marine Vessel Power Plant (MVPP) “Karadeniz Powership Zeynep Sultan” berkapasitas 120 Mega Watt (mw) dari Pelabuhan Nusantara Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sebelum melepas keberangkatan kapal, Presiden Joko Widodo juga melakukan peninjauan kapal MVPP dengan ditemani Dirut PLN Sofyan Basir, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri ESDM Sudirman Said dan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Kapal yang berisi pembangkit listrik yang baru datang dari Turki ini akan menuju Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Program ini merupakan salah satu upaya PLN untuk memperkuat pasokan listrik di beberapa lokasi di Indonesia, salah satunya di Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo yang terhubung dalam sistem interkoneksi kelistrikan 150 kilo Volt (kV) Sulawesi Utara – Gorontalo (Sulutgo).

MVPP buatan tahun 2014 ini disewa PLN selama jangka waktu 5 tahun. Titik koneksi awal Marine Vessel ini di Amurang , selanjutnya PLN juga akan mendatangkan power plant serupa untuk beberapa lokasi antara lain Sumatera Bagian Utara (240 MW), Kupang (60 MW), Ambon (60 MW), dan Lombok (60 MW).

Beberapa keunggulan MVPP diantaranya yakni menurunkan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik, kemudahan relokasi (hanya perlu waktu 3 – 4 minggu) sehingga dapat fleksibel memenuhi kebutuhan listrik di suatu daerah, penghematan hingga Rp 350 miliar per tahun dan lebih cepat dalam memenuhi kebutuhan tambahan pasokan listrik di suatu daerah yang sedang kekurangan listrik.

Untuk Marine vessel power plant pertama ini dioperasikan dengan dua bahan bakar atau dual fuel engine yaitu fuel jenis heavy fuel oil dan gas. Sementara pembangunan tower transmisi 150 kV yang menghubungkan MVPP ke switchyard untuk selanjutnya disuplai ke Gardu Induk Lopana. Perjalanan MVPP ke Amurang diperkirakan memakan waktu sekitar tujuh hari, dan diharapkan tanggal 23 Desember sudah bisa menambah pasokan listrik Sulawesi Utara.

Sejak diberangkatkan pada awal November 2015, MVPP telah menempuh perjalanan hampir 30 hari melalui jalur Terusan Zues, Laut Merah, hingga ke Samudra Hindia dan Srilangka, baru masuk ke perairan Indonesia. Kapal tiba di Indonesia, tepatnya di Tanjung Priok pada 1 Desember untuk proses Customs Clearence (Pemeriksaan Administrasi di Bea Cukai).

Pembangkit listrik di atas kapal ini akan segera memenuhi kekurangan pasokan listrik di Sulawesi Utara dan Gorrontalo. Beban puncak sistem kelistrikan Sulawesi Utara dan Gorontalo saat ini mencapai 325 MW, sedangkan daya mampu pembangkit yang ada jika semuanya beroperasi optimal adalah 320 MW. Daya mampu pasok dari pembangkit yang beroperasi saat ini hanya 275 MW, ini dikarenakan PLTP Lahendong unit 4 sedang pemeliharaan agar pada saat pelaksanaan Pilkada, 9 Desember bisa beroperasi dengan handal. Selain itu, PLTU Amurang unit 1 mengalami gangguan serta belum optimalnya operasi PLTA, dimana hanya mampu memproduksi listrik 23 MW dari 45 MW. Hal ini yang menyebabkan berkurangnya daya mampu suplai pembangkit atau defisit sebesar 50 MW.

“Kami harapkan dengan adanya Marine Vessel Power Plant ini akan mampu memasok sistem kelistrikan Sulawesi utara dan gorontalo melalui tegangan 150 kV, sehingga diharapkan kondisi defisit pasokan listrik di sistem Sulawesi Utara dan Gorontalo akan dapat teratasi dan daftar tunggu pelanggan listrik dapat segera dilayani” ungkap Direktur Utama PT PLN (Persero), Sofyan Basir.

Saat ini PLN juga tengah menyelesaikan pembangunan PLTG Gorontalo total kapasitas 100 MW, dimana satu unit ditargetkan beroperasi pada akhir Desember 2015 atau di awal Januari 2016. PLTG Gorontalo akan menjadi pembangkit pertama dari program pembangunan pembangkit 35.000 MW yang beroperasi.

Dalam sambutannya Presiden Joko Widodo mengungkapkan pemilihan Pembangkit Listrik Diatas Kapal dianggap tepat mengingat Indonesia negara kepulauan dengan 17.000 pulau, maka pembangkit listrik di atas kapal yang bisa mobile dari satu pulau ke pulau lain‎ paling cocok dengan Indonesia.

(rzy)

 

JAKARTA. Pemerintah berencana menggenjot penyerapan biodiesel membuat mandatori B15. Dengan adanya ketentuan tersebut, emiten perkebunan pun beramai-ramai masuk ke bisnis biodiesel.

PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) tengah membangun pabrik biodiesel di Lampung. Pabrik tersebut akan memiliki kapasitas 1.050 ton Crude Palm Oil (CPO) per hari. Untuk itu, TBLA perlu merogoh kocek US$ 15 juta. Dengan nilai tukar Rupiah di kisaran Rp 13.600, artinya investasinya bernilai Rp 204 miliar.

Sumber KONTAN mengatakan, TBLA telah melakukan pembangunan pabrik biodiesel tersebut di pertengahan tahun 2015. Adapun, pabrik tersebut ditargetkan rampung sekitar 2-3 bulan mendatang.

Kemudian, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) pun berencana mengembangkan bisnis sawitnya hingga ke hilir. SSMS akan membangun pabrik biodiesel tahun depan. Pabrik itu berlokasi di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah karena dekar dengan lahan perseroan. Untuk itu, investasinya mencapai US$ 20 juta.

Penggarapan biodiesel ini dilakukan melalui induk SSMS yakni PT Citra Borneo Utama. Di situ, SSMS melakukan penyertaan modal sebanyak 19%.

Selain itu, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) berencana menambah kapasitas produksi biodieselnya sebanyak 300.000-600.000 ton di tahun depan. Sampai akhir tahun ini, SMAR memproyeksikan produksi 1,3 juta ton biodiesel. Rinciannya yakni 300.000 ton berasal dari pabriknya di Marunda dan 1 juta ton dari pabrik di Dumai.

Analis Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menilai penggarapan biodiesel oleh emiten perkebunan semestinya mampu meningkatkan permintaan CPO dan mendongkrak harga. “Untuk emiten bagus kalau implementasinya berjalan baik. Cuma yang jadi masalah adalah keseriusan PT Pertamina,” katanya.

Apabila nantinya berjalan baik, Kiswoyo memperkirakan dampak penggunaan biodiesel terhadap kenaikan harga CPO akan membutuhkan waktu. Ia merasa, pengaruhnya bisa terasa 6 bulan setelah implementasi dijalankan.

Saham TBLA diam di Rp 495 dan SMAR stagnan di Rp 4.400. Sedangkan saham SSMS menghijau 1,32% ke posisi Rp 1.915.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/emiten-perkebunan-serempak-garap-biodiesel
Sumber : KONTAN.CO.ID

Merdeka.com – Pemerintah meminta PT PLN (Persero) menggunakan campuran biodiesel untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Hal ini untuk mencapai target penyerapan biodiesel mencapai 5,2 juta kiloliter (KL) pada tahun depan.

“PLN sudah berkomitmen bahwa PLTD sudah harus dicampur dengan biodiesel yang nanti akan disuplai oleh Pertamina” ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana di kantornya, Jakarta, Jumat (9/10).

Nantinya, selisih harga pembelian biodiesel oleh PLN bakal dialokasikan ke Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kelapa sawit. Pasalnya, harga biodiesel lebih mahal ketimbang bahan bakar solar.

“Jadi ada percampuran keduanya untuk peroleh harga yang nantinya disanggupi PLN. Nantinya juga untuk target pembelian biodiesel sebanyak 2,76 juta kl untuk transportasi, 1,12 juta kl untuk industri dan 1,26 juta kl untuk PLN pada 2016,” kata dia.

Sementara, realisasi penyerapan baru mencapai 504.000 KL untuk transportasi dan 195.873 KL untuk industri hingga September 2015.

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menargetkan adanya penghematan devisa sekitar US$ 1,94 miliar pada tahun depan dari penjualan Biosolar. Target dapat tercapai jika perseroan mampu serap unsur nabati (fatty acid methyl ester/FAME) sebanyak 5,14 juta kiloliter (KL) sebagai campuran solar.

 

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro mengatakan, campuran FAME pada solar ditargetkan meningkat dari tahun ini yang hanya 15% untuk solar bersubsidi dan industri dan kelistrikan 25%. Pada 2016, campuran FAME pada solar bersubsidi dan industri naik menjadi 20% dan kelistrikan 30%.

 

Untuk itu, kebutuhan FAME perseroan pada tahun depan diperkirakan mencapai 5,14 juta KL. Rincinya, sebagai campuran solar bersubsidi sebesar 2,76 juta KL, industri 1,12 juta KL, dan kelistrikan 1,26 juta KL.

 

“Apabila diasumsikan ratarata indeks harga gasoil tahun depan di kisaran US$60 per barel, maka Pertamina akan menghemat devisa sebesar USid=”mce_marker”,94 miliar. Langkah ini menjadi satu lagi bukti penting dan konkret upaya Pertamina untuk mencegah aliran devisa ke luar negeri, khususnya dari impor Solar,” kata Wianda dalam siaran resminya, Minggu (4/10).

 

Sementara itu, untuk tahun ini Pertamina menargetkan dapat menyalurkan FAME sebanyak 966.785 KL hingga akhir tahun. Jika harga indeks pasar gasoil diasumsikan sebesar US$60 per barel, penyerapan FAME tersebut setara dengan penghematan devisa sekitar US$360 juta.

 

Wianda mengatakan, pihaknya optimistis penyerapan FAME akan sesuai dengan target. Pasalnya pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No 61 tahun 2015 yang mengamanatkan pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit, di mana selisih akibat fluktuasi harga FAME dan Diesel akan diatasi oleh lembaga tersebut. Selain menghemat devisa, pencampuran FAME juga dapat memangkas bahkan menghilangkan impor solar pada sisa tahun ini.

 

Setiap bulannya, Pertamina biasanya harus mengimpor solar 120 ribu KL guna memenuhi kebutuhan nasional. Namun, Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution Pertamina Muhamad Iskandar menuturkan, impor solar saat ini sudah mulai berkurang seiring dengan menurunnya konsumsi di dalam negeri. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, konsumsi solar nasional turun sebesar 15%.

 

Kemudian dengan mencampur FAME sebesar 15%, konsumsi solar yang dikurangi juga dapat sebesar volume FAME tersebut. Apalagi, jika PT PLN (Persero) juga mulai memanfaatkan biodiesel untuk pembangkitnya. “Program ini kan FAME 15% dan sekarang kan impor 15%. Kalau ini jalan, bisa-bisa tidak perlu ada impor solar lagi,” tutur Iskandar. (ayu)

 

http://id.beritasatu.com/energy/jual-biosolar-pertamina-targetkan-hemat-devisa-us-194-miliar/129001
Sumber : INVESTOR DAILY

LONDON, Sept. 24 (Xinhua) — Britain’s total share of electricity generation from renewable energy reached a record high of 25 percent in the second quarter of this year, according to a report released Thursday by the government’s department of energy and climate change (DECC).

The hike in renewable energy production in the second quarter was due to favorable weather conditions, including higher wind speeds, rainfall and sun hours, as well as more turbines and solar panels having been installed, the report said.

This was an increase of 8.6 percentage points over the same period of last year when the figure stood at 16.4 percent, according to the statistics.

Among the renewables, solar power saw the strongest surge between April and June, rising by 114.8 percent over last year. Electricity from wind went up by 65 percent year-over-year, driven by the expansion of several large-scale offshore wind farms. Electricity from biomass also rose by 26 percent year-over-year.

In general, gas took up the largest share of electricity generation in the second quarter, about 30 percent of the total. Renewables and nuclear energy came in second and third, while coal fell back to fourth place, with a share of 20.5 percent. Enditem

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Golden Agri Resources Ltd ingin meningkatkan kapasitas produksinya di Indonesia. Induk usaha PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) ini akan membangun dua pabrik biodiesel di Indonesia. Pabrik tersebut memiliki kapasitas masing-masing 200.000 ton per tahun.

Untuk keperluan membangun pabrik itu, Golden Agri merogoh biaya sekitar 150 juta dollar AS hingga 200 juta dollar AS. Dengan nilai tukar di sekitar Rp 13.700, maka investasinya setara dengan Rp 2,05 triliun sampai Rp 2,74 triliun.

“Sumber dana dari hasil arus kas,” ucap Richard Fung, Direktur merangkap Investor Relation Golden Agri Resources, kepada Kontan, Kamis (13/8).

Ia berharap pembangun pabrik biodiesel tersebut rampung tahun depan. Pabrik pertama diperkirakan selesai di semester pertama dan pabrik kedua di semester berikutnya. Untuk penjualan produk biodisel, Golden Agri kini dalam proses tender dengan PT Pertamina (Persero).

Selebihnya juga akan dijual untuk program biodiesel pemerintah. Terlebih pemerintah sudah berkomitmen mendorong pemakaian biodiesel dengan menerapkan mandatori B15. Ia memperkirakan, implementasi B15 ini dapat tercapai dalam 1-2 tahun mendatang.

Pada awal Agustus, Golden Agri juga baru saja mengakuisisi 100 persen saham perusahaan yang bermarkas di Jerman yakni Victory Oleo Holding GmbH. Untuk itu, Golden Agri merogoh kocek 305.000 euro atau sekitar Rp 4,66 miliar.

“Victory Oleo akan mengembangkan pemasaran produk oleochemical di Eropa dan Amerika Latin,” sebut Rafael B. Concepcion Jr., Chief Financial Officer Golden Agri Resources.

Hingga semester I tahun ini, Golden Agri telah mengeluarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai 32 juta dollar AS untuk hulu dan hilir. Sepanjang tahun ini, Golden Agri menganggarkan capex 130 juta dollar AS untuk hulu dan 170 juta dollar AS untuk hilir.

Dalam jangka pendek, Richard memperkirakan harga Crude Palm Oil (CPO) masih akan menurun. Ini karena dampak turunnya harga mineral mentah serta tingginya penawaran minyak kacang kedelai. Meski begitu, ia optimistis harga CPO akan membaik tahun depan ditopang rendahnya pertumbuhan produksi kelapa sawit.

Tahun ini, Richard memperkirakan pertumbuhan produksi CPO Golden Agri akan sedikit lebih rendah ketimbang tahun lalu. Adanya badai El Nino pun baru akan berpengaruh di kuartal empat tahun ini atau tahun depan. (Annisa Aninditya Wibawa)


Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber : KONTAN

Yuliadi Kadarmo
Associate Analyst Berita Daerah
Mendorong Pemanfaatan Rumput Laut Sebagai Sumber Energi Terbarukan
Selasa, 3 November 2009 13.37 WIB

(Vibiznews – Business) – Kita tidak mewarisi bumi ini dari orang tua kita,
tetapi kita meminjamnya dari anak-anak kita (Antoine de Saint Exupery)

Adalah sangat tepat petuah bijak di atas bila kita kemudian bergegas melakukan aksi nyata dalam mencari sumber-sumber energi terbarukan dan berkelanjutan (renewable and sustainable energy) pada saat ini, demi masa depan bumi yang kita diami bersama.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati baik di darat maupun lautan. Di antara sumberdaya hayati tsb, telah terbukti, misalnya, tebu, jagung, dan ketela sebagai tanaman yang mampu menghasilkan bahan bakar sekelas premium, minyak buah jarak dari tanaman jarak sebagai pengganti minyak tanah dan solar untuk sumberdaya hayati daratan. Selain itu, rumput laut yang merupakan sumberdaya hayati di lautan, terbukti juga sebagai sumber energi terbarukan yang lebih kompetitif dibandingkan komoditas lainnya (DKP, 4/11/2008). Oleh karena itu, dalam tulisan ini, kami fokus membahas rumput laut sebagai bahan untuk biofuel ( bahan bakar nabati terbarukan). Disamping itu, rumput laut dipilih karena dia memiliki keunggulan absolut, yakni sebagai sumber energi alternatif yang tidak akan mengganggu pemanfaatan lahan daratan sebagaimana terjadi pada tanaman tebu, jagung, ketela dan jarak.

Rumput Laut: Lebih Kompetitif dan Multiguna

Adalah jenis rumput laut yang bervarietas Geladine akan dikembangkan untuk biofuel. Hingga sekarang, varietas ini telah dibudidayakan di sejumlah daerah, yakni di Maluku seluas 20 ribu ha, Belitung Timur dan Lombok sekitar 10 ribu ha. Selain ketiga daerah tsb, sejumlah daerah di Indonesia juga sangat potensial dikembangkan sebagai daerah budidaya rumput laut, yakni Takalar (Sulsel), Karang Asem (Bali), Sumenep (Jatim), Lombok Barat (NTB), Gorontalo, Jakarta Utara (DKI), Kota Baru (Kalsel), P. Sawu (NTT). Di daerah-daerah tsb, dapat dibudidayakan jenis rumput laut (mikroalga) seperti diatom (Bacillariophyceae), gang-gang hijau (Chlorophyceae), ganggang emas (Chrysophyceae), dan ganggang biru (Cyanophyceae). Dari keempat kelompok tsb, mereka dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioenergi (Mujizat Kawaroe, 2008).

Mengapa rumput laut lebih kompetitif dibandingkan sumberdaya hayati lainnya sebagai biodisel? Hal ini, misalnya, karena hasil penelitian membuktikan bahwa dalam 1 ha lahan, mikro alga dapat menghasilkan 58.700 liter minyak pertahunnya, atau jauh lebih besar dibandingkan jagung yang hanya 172 liter/tahun dan kelapa sawit yang hanya 5.900 liter/tahun (DKP, 04/11/2008). Studi lain juga menemukan hal yang sama, yakni dalam salah satu lipid (minyak organik) mikroalga ini, ternyata terdapat hidrokarbon, yaitu senyawa dasar pembentuk bahan bakar. Adapun kandungan lipid dalam mikroalga diketahui mencapai 20 %, dan kandungan tsb masih dapat ditingkatkan melalui cara rekayasa genetis hingga mencapai 50 % (Mujizat Kawaroe, dan Warintek Nganjuk, 2008). Tidak hanya berguna untuk biofuel, mikro alga juga merupakan organisme terefisien dalam menangkap dan memanfaatkan energi matahari dan C02 untuk keperluan fotosintesis, dan dia sangat membantu dalam pencegahan terjadinya pemanasan global (Mujizat Kawaroe, 2008). Untuk pengetahuan umum, di kalangan ilmuwan, rumput laut dikenal dengan nama alga, dan berdasarkan ukurannya dibedakan dua golongan, yaitu mikro alga dan makro alga. Dari keduanya, mereka adalah organisme penghasil oksigen yang sangat dibutuhkan oleh semua penghuni laut sehingga peranan keduanya juga sangat penting dalam ekosistem laut (AB. Susanto, 24/04/09).

Kebermaknaan Rumput Laut

Ada sejumlah alasan mengapa Indonesia harus mendorong pemanfaatan rumput laut sebagai energi terbarukan. Diantaranya adalah:

1. karena rumput laut tidak dikonsumsi setiap saat oleh manusia
maka saat dia dijadikan sumber energi terbarukan, maka relatif
kecil konsekuensi yang timbul dari pemanfaatannya
sebagai biofuel.

2. sebagai negara kepulauan dengan pantai yang panjang dan iklim
yang hangat sepanjang tahun, maka Indonesia adalah negara yang
mampu menyediakan rumput laut sebagai bahan pembuatan
bioenergi. Oleh karena itu, Indonesia sangat besar berpotensi
sebagai salah satu negara pemasok bahan bakar nabati (biofuel)
guna memenuhi kebutuhan dunia yang semakin meningkat akan
energi bersih.

3. sebagai pensubstitusi bahan bakar fosil, pemanfaatan rumput
laut sebagai biodisel adalah bersifat terbarukan dan
berkelanjutan serta termasuk energi bersih dan efisien.

4. dapat mencegah terjadinya pemanasan global (Mujizat Kawaroe,
2008).

Dalam kaitannya dengan uraian pada poin 1-4 di atas, Pemerintah Indonesia telah memberikan payung hukum untuk hal itu, yakni melalui Perpres No 5 Tahun 2006. Dalam Perpres ini, dikemukakan perihal tentang Kebijakan Energi Nasional yang bertujuan menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri dan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Adapun pembangunan berkelanjutan dimaksud berarti pengembangan energi terbarukan yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat secara murah dan terjangkau.

Bermitra dengan Pihak Ke Tiga

Saat ini, Indonesia memiliki sumberdaya rumput laut yang banyak, tetapi kita belum menguasai teknologi tinggi untuk memanfaatkan rumput laut sebagai sumber energi terbarukan. Oleh karena itu, Indonesia perlu mitra dalam upaya pemanfaatan rumput laut sebagai sumber energi terbarukan. Dalam kaitan dengan hal ini, kita dapat menjalin kemitraan dengan Korea Selatan (Korsel). Mengapa Korsel dipilih? Penyebabnya adalah Korsel sudah memiliki road map, model, grand strategy, dan teknologi tinggi untuk menjadikan rumput laut sebagai energi terbarukan (DKP 4/11/2008).

Namun patut diingat, jalinan kemitraan itu haruslah memberikan keuntungan bagi kedua pihak, baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Dari kemitraan tsb, Indonesia haruslah, misalnya, mendapatkan alih teknologi untuk pengembangan teknologi terbaru dan maju dalam hal budidaya rumput laut, pelibatan para peneliti dalam negeri untuk workshop dan penelitian bersama tentang rumput laut, pengembangan kapasitas sumberdaya manusia melalui program pendidikan dan pelatihan di subsektor rumput laut, dan pengembangan pemanfaatan spesies mikroalga (rumput laut) sebagai bahan bakar nabati (biofuel) dan pangan.

Karena kebutuhan terhadap sumber energi yang bersih semakin meningkat, maka diberbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi banyak berlomba menemukan clean technology (teknologi yang bersih). Saat ini, yaitu mulai tahun 2000-an, masyarakat dunia telah menggunakan paradigma kelima, yakni mulai menerapkan teknologi biomassa yang terbarukan dan berkelanjutan (renewable and sustainable technology), dan ini termasuk bioenergi dari rumput laut.

(Yuliadi Kadarmo/YKD/vbn)

1 Comment (+add yours?)

  1. solvapotter
    Feb 19, 2010 @ 07:45:31

    ada CD cara budidaya rumput laut yg benar,
    terima kasih

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: