brau GALI utang TUTUP utang … 300613_260814_231115


Jakarta detik -PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) akan menggelar penawaran tender kepada para pemegang obligasi (bondholders) untuk pembelian tunai atas dua surat utangnya. Nilai keduanya mencapai Rp 12,35 triliun.

Surat utang pertama dalah Guaranteed Senior Secured Notes US$ 450 juta (Rp 5,85 triliun) dengan bunga 12,5% yang jatuh tempo 2015. Surat uang ini diterbitkan oleh Berau Capital Resources Pte Ltd dan dijamin oleh BRAU.

Sementara yang kedua adalah Guaranteed Senior Secured Notes US$ 500 juta (Rp 6,5 triliun). Surat utang berbunga 7,25% dan jatuh tempo 2017 itu diterbitkan oleh Perseroan.

“Penawaran tender ini akan dilakukan terhitung sehak 24 November 2015 sampa dengan tanggal 16 Desember 2014 jam 17.00 waktu kota New York, Amerika Serikat (AS),” kata Direktur Berau, Edy Santoso, dalam keterangan tertulis, Senin (23/11/2015).

Menurutnya tujuan penawaran tender ini antara lain untuk memperbaiki posisi dan struktur keuangan Perseroan.

(ang/dnl)

 

JAKARTA. The fallout from a sustained decline in commodity prices and the government’s recent ban on raw mineral ore exports have caused non-performing loans (NPLs) in the mining sector to jump almost twofold in the first half of the year.

Loans that became hard for banks to collect in the mining sector rose to Rp 2.9 trillion (US$247.57 million) during the first six months of 2014 from Rp 1.08 trillion in the same period of last year, according to banking statistics published recently by Bank Indonesia (BI) and the Financial Services Authority (OJK).

The latest growth rate of NPLs was much higher than during the same period last year, when it rose by only 29.3 percent.

According to the statistics, joint-venture banks recorded the highest surge in NPLs of 586.6 percent, up almost seven times, followed by foreign-exchange commercial banks with 181.2 percent and state-owned banks with 92.6 percent.

Doddy Ariefianto, an economist at the Deposit Insurance Corporation (LPS), attributed the ballooning bad loans on the existing pressure on commodity prices amid soaring expenses.

“The outlook for the mining sector remains bleak because of the low international prices,” he said on Monday.

Thermal coal prices at Australia’s Newcastle port, for example, have continued to decline, standing at $73.66 per metric ton in July 2014 — the lowest since September 2009.

The Newcastle Index is used as a price benchmark for Indonesia, Asia’s biggest exporter of thermal coal for power plants.

According to the report, total outstanding loans for the mining sector stood at Rp 116.63 trillion in the first half, climbing 7 percent on a yearly basis. Lending grew by 17.3 percent in the same period of last year.

The Boston Consulting Group (BCG) highlighted the declining prices and soaring expenses in the mining sector in its latest report, Value Creation in Mining 2013: The Productivity Imperative.

It noted that commodity prices had fallen on average by 5 percent annually between 2009 and 2012.

Marc Schmidt of the Singapore-based BCG said rising costs were one of the reasons behind the drop in the financial performance of Indonesia’s mining companies.

Almost all Jakarta-listed miners are suffering from financial woes as a result of the business slowdown.

Coal miner PT Berau Coal Energy, for example, reported a net loss of $10.18 million in the first quarter of this year, which led to worries over its ability to pay its debts.

Berau now has $500 million guaranteed senior secured notes due to mature in 2017 and $450 million in bonds, issued by its subsidiary, Berau Capital Resources II Pte. Ltd.

Bank Mandiri chief economist Destry Damayanti said the escalating NPLs in the mining sector were expected, particularly after the ban on raw mineral ore exports was introduced in January.

Under the policy, miners are required to process their commodities in domestic smelters before exporting. While coal is exempted from the policy, the ban has particularly impacted producers of nickle, bauxite and copper.

Destry warned that the steep rise in NPLs was alarming, and suggested that banks needed to be very cautious when disbursing loans to the sector.

“However, the amount of loan funds channeled to miners is still relatively low, at around 3.4 percent of the overall outstanding loans already disbursed by banks,” she said.

Indonesian Mining Association vice chairman Tony Wenas projected that the mining sector would continue to suffer from the low prices and export ban in the coming months. “A policy to cap coal output may help improve coal prices, but the situation will still largely depend on global demand.” (Tassia Sipahutar)
okezone JAKARTA – Guna menyiasati masih rendahnya harga jual batu bara dunia, PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) menyatakan tengah beralih ke bisnis baru yakni pengembangan bisnis pembangkit listrik (power plant).

“Ada upaya untuk diversifikasi usaha ke power plant,” ucap Direktur Utama BRAU Amir Sambodo usai RUPLSB di Sampoerna Strategic Square, Jakarta, Rabu (6/8/2014).

Amir menambahkan, perseroan berencana membangun pembangkit listrik mulut tambang (mine mouth) berkapasitas 2 x 100 Mega Watt (mw) di wilayah Sumatera.

“Untuk investasinya dibutuhkan sekira USD180 juta atau sekitar Rp2,11 triliun. Sekarang masih dalam masa study, kalau mulut tambang ya sekitar 2x 100 mw,” paparnya.

Amir mengungkapkan, hal ini dilakukan agar perseroan bisa mendapatkan sumber pendapatan baru di luar bisnis utamanya. Maklum, sebelumnya perseroan hanya bertindak sebagai pemasok batu bara untuk beberapa pembangkit listrik yang ada.
Lebih lanjut dirinya mengatakan, dana investasi yang akan digelontorkan akan berasa dari belanja modal atau capital expenditure pada tahun depan.

“Besarnya potensi keuntungan yang bisa didapatkan dari bisnis ini menjadikan kami berniat segera memulai pembangunannya,” ungkapnya.

Terkait laporan keuangan yang hingga kuartal pertama tahun ini, perseroan masih menderita rugi bersih sebesar USD10,17 juta. Menurut Amir  perseroan menggenjot efisiensi di segala lini, terutama di bidang produksi untuk menciptakan kinerja keuangan yang positif. Berau telah berhasil mengurangi konsumsi penggunaan bahan bakar sebanyak 5 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Kendati demikian, hal tersebut tampaknya tidak terlalu banyak berpengaruh, pasalnya mengacu pada laporan keuangan perseroan periode Maret 2014, instrumen bahan bakar dan pelumas hanya berkontribusi sebesar 1,4 persen terhadap total beban umum dan administrasi.  (rzk)

 

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Direktur PT Berau Coal Energy Tbk Amir Sambodo mengatakan pihaknya akan menerbitkan obligasi berdenominasi mata uang asing dengan nilai pokok US$ 450 juta. Hasil dari penerbitan obligasi akan digunakan untuk pembayaran kembali surat utang senilai US$ 450 juta yang akan jatuh tempo pada 8 Juli 2015.

“Dengan penerbitan ini, perseroan dapat menjaga likuiditas dan memperpanjang jatuh tempo utang perseroan sehingga dapat mendukung pertumbuhan perusahaan,” kata dia kepada wartawan usai rapat umum pemegang saham luar biasa di Gedung Sampoerna Strategic Square, Jakarta, Rabu, 6 Agustus 2014. (Baca juga: Bumi Plc Gugat Rosan Roeslani ke Arbitrase)

Menurut Amir, obligasi dalam mata uang dolar Amerika Serikat ini akan dicatatkan di bursa Singapura. Perseroan telah menunjuk Barclays, Citigroup dan Standard Chartered Bank sebagai pembeli awal untuk kemudian dijual kembali kepada investor.

Obligasi tersebut direncanakan akan jatuh tempo maksimal lima tahun setelah penerbitan. Suku bunga obligasi tetap berkisar 12 persen per tahun dan akan dibayarkan setiap enam bulan sekali. Jadwal pelaksanaan penerbitan obligasi diperkirakan pada tanggal 13 Agustus 2014.

Bersamaan dengan penerbitan obligasi dan pembayaran kembali obligasi atas obligasi 2015, pemegang obligasi direncanakan akan menerima jaminan tertentu atas sebagian aset. Nilai pokok penerbitan obligasi sebesar US$ 450 juta adalah lebih dari 50 persen dari jumlah ekuitas perseroan per Desember 2013. (Lihat juga : Berau Tuding Rosan Roeslani Ngemplang)

Hingga kini Berau belum mempublikasi laporan keuangan tengah tahunan 2014. Amir sebelumnya mengatakan bahwa perseroan menargetkan produksi batu bara sebesar 26 juta metrik ton pada tahun ini. Dengan jumlah itu, perseroan mematok pendapatan sebesar USD 1,4 miliar. Target itu akan ditopang langkah efisiensi yang dilakukan perseroan, di antaranya menekan biaya produksi.

“Upaya efisiensi yang kami lakukan, misalnya, dengan penggunaan additive, biofuel, agar penggunaan solar dapar diefisiensikan,” katanya. (Berita lain: Berau Coal Incar Pasar ASEAN)

Amir mengklaim tahun lalu perseroan mampu mencapai target produksi dan pengapalan sebesar 23,5 juta metrik ton. Tahun lalu penjualan rata-rata batubara menurun 16 persen menjadi US$ 59,6 per ton. Namun, penurunan ini dikompensasi dengan kenaikan volume penjualan sebesar 11 persen menjadi 23,3 juta ton. BRAU, kata Amir, juga masih mencatatkan kerugian bersih pada 2013 mencapai USD 162,1 juta atau menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai USD 179,5 juta.

DEWI SUCI RAHAYU

 

Berau Coal Refinancing Obligasi Kuartal III/2013
Vega Aulia Pradipta – Minggu, 30 Juni 2013, 16:54 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) berencana menerbitkan global bond pada kuartal III tahun ini untuk keperluan pendanaan kembali (refinancing) obligasi yang diterbitkan 2010 lalu sekitar US$450 juta.

Direktur Utama Berau Coal Energy Eko Santoso Budianto mengatakan RUPS yang digelar Sabtu (29/6/2013) sudah menyetujui refinancing obligasi tersebut, meski realisasinya tetap perlu melihat kondisi pasar terlebih dahulu.

“Bulan Juli nanti kami punya opsi untuk call the bond,” ujarnya di sela-sela paparan publik usai menggelar RUPS Tahunan, Sabtu (29/6/2013).

Namun menurut Eko, pasar saat ini agak sedikit negatif yang ditunjukkan oleh pelemahan rupiah serta investor asing yang banyak menjual sahamnya di Indonesia. Padahal, investor asing-lah yang menjadi sasaran refinancing perseroan.

“Pihak asing yang menjadi sasaran refinancing kami ini mungkin merasa Indonesia risikonya sedikit naik. Tapi mungkin dengan adanya keputusan soal BBM, bisa memberikan kepastian kepada semua kreditur bahwa Indonesia akirnya bersikap rasional dan tepat untuk menyelamatkan perekonomian ke depan,” ujarnya.

Direktur Berau Coal Energy Scott Merrillees menambahkan sejak pasar melemah, suku bunga jadi naik. Tapi dia memperkirakan pada September/Oktober mendatang pasar sudah kembali stabil sehingga suku bunga akan turun lagi.

“Kami menargetkan suku bunga untuk refinancing sekitar 7%—7,5%, lebih rendah dari obligasi 2010 yang bunganya 12,5%. Sedangkan tahun lalu kami dapat suku bunga 7,25% untuk penerbitan obligasi yang US$500 juta,” ujar Scott.

Setelah laporan keuangan Berau tahun buku 2012 dirilis, Scott mengatakan S&P memberikan rating yang sama untuk Berau, yakni BB-, sedangkan Moody’s tetap memberikan rating B1. Artinya, temuan pencatatan kerugian sebesar US$201 juta tidak berdampak pada rating obligasi perseroan.

Adapun terkait proses pemisahan antara Bumi Plc (pemilik 84,7% saham Berau) dengan Grup Bakrie dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI), Scott mengatakan prosesnya masih berlanjut.

Sebelumnya, Direktur NonEksekutif Bumi Plc Alexander Ramlie mengatakan uang tunai sebesar US$278 juta yang akan dibayarkan Grup Bakrie ke Bumi Plc untuk menebus Bumi Resources itu sedang dikaji penggunaannya, apakah untuk mendukung rencana ekspansi, membayar utang Berau, atau untuk membagikan dividen.

“Kalau cash itu masuk ke Bumi Plc, wajar kalau uang itu dipakai untuk membantu Berau karena Berau menjadi satu-satunya aktiva Bumi Plc. Tapi apakah akan digunakan untuk refinancing atau bantu capex, belum tahu, tapi semuanya dipelajari,” jelas Scott.

Editor : Fatkhul Maskur

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: