energi terbarukan: HARGA bahan pokok sel surya: 040113_021115


Jakarta detik -Pemerintah sedang menggodok aturan ekspor-impor listrik tenaga surya (solar cell/PLTS) antara konsumen pemilik panel surya dan PT PLN. Salah satu yang diatur dalam rancangan aturan ini mekanisme ekspor impor listrik.

Nantinya, sistem ini akan memberikan keuntungan bagi para pemilik panel surya yang juga pelanggan PLN.

Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Maritje Hutapea menjelaskan mekanismenya adalah konsumen akan mendapat pasokan listrik dari sistem panel tenaga surya selama pemakaian di siang hari.

Apabila listrik yang terpakai dari panel tenaga surya lebih kecil dari kapasitas terpasang, maka selisihnya akan ‘diekspor’ ke PLN. Artinya pelanggan punya penghematan untuk tagihan listrik PLN setiap bulannya dari ekspor listrik.

“Siang hari itu pelanggan menggunakan langsung listrik dari PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), misalnya PLTS menghasilkan listrik 1000 Kwh. Tapi yang dipakai cuma 900 Kwh, maka yang 100 Kwh diekspor ke PLN,” ujar Maritje kepada detikFinance, Senin (2/11/2015).

Sedangkan pada malam hari konsumen kembali memakai pasokan listrik dari PLN. Menurut Maritje, keuntungan yang diperoleh konsumen dalam mekanisme ekspor impor listrik ini adalah hanya membayar tagihan listrik berdasarkan selisih antara pemakaian pada malam hari saat menggunakan pasokan dari PLN dengan jumlah listrik yang diekspor.

“Nanti di akhir bulan akan dihitung berapa yang dikirim ke PLN dan berapa yang dipakai dari PLN, jadi mengurangi tagihan listrik,” terang
Maritje

Selain menguntungkan bagi konsumen, menurut Maritje, mekanisme ekspor impor ini juga menguntungkan bagi PLN dalam mengatasi masalah
kekurangan listrik.

“Selama ini PLN yang membangkitkan listrik untuk konsumen, sekarang juga bisa konsumen yang membangkitkan listrik untuk PLN,” kata Maritje.

(hen/hen)

 

Jakarta -detik

Penggunaan panel surya (solar cell) di rumah tangga mulai jadi tren di masyarakat. Bahkan ada toko yang menjual alat panel surya dengan harga
miring, hanya Rp 2 juta/unit dengan berbagai ukuran.

Benarkah dengan merogoh uang sebesar itu kita bisa langsung mendapatkan listrik dari alat tersebut?

Menurut Albert Edward, sales Royal PV, distributor produk panel surya yang berlokasi di LTC Glodok, harga panel surya 100 wp (watt peak) dengan ukuran kecil sepanjang 1,1 meter, lebar 60 cm dan tebal 3 cm saat ini dibanderol Rp 3 juta per unit untuk produk dengan merek Jepang. Sedangkan panel surya merek China dengan ukuran yang sama dibanderol antara Rp 1,7 juta sampai Rp 2 juta per unit.

Namun dengan hanya memasang panel surya saja, sang pemilik belum bisa dapat listrik. Menurut Edward untuk memasok listrik tenaga surya
membutuhkan komponen utama yaitu panel surya sebagai penyerap energi, controler sebagai pengatur arus keluar masuk darii panel dan aki, serta aki atau bateri untuk menyimpan listrik.

Selain itu, harus ada kepastian berapa beban yang akan dialiri listrik. “Panel, controler, aki atau baterei, dam beban listrik, adalah satu sistem lengkap solar cell yang harus ada,” kata Albert kepada detikFinance,Senin (2/11/2015).

Albert mencontohkan, sistem panel surya lengkap untuk menyalakan lampu LED 5 watt sebanyak 3 buah, maka butuh biaya sekitar Rp 4,5 juta
sampai Rp 5 juta.

(hen/hen)

Jakarta detik-Pengembangan energi terbarukan dari sinar matahari sudah semakin pesat. Dahulu, dibutuhkan banyak solar cell atau panel surya, dan lahan yang luas untuk memproduksi listrik dari tenaga surya.

Kini, setiap rumah bisa memperoleh listrik dari sinar matahari dengan hanya memasang panel surya berukuran kurang dari 10 meter persegi di atap rumah.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Rinaldy Dalimi mengungkapkan, kemajuan teknologi membuat listrik tenaga surya makin mudah dan murah untuk diproduksi. Biaya listrik tenaga surya sudah turun sekitar 90% dibanding 1 dekade yang lampau.

Rinaldi menuturkan, sekarang ada solar cell roof top berukuran 1 meter persegi yang dapat menghasilkan listrik sekitar 100 Watt setiap hari‎. Harganya mulai dari Rp 2 juta. Selain ramah lingkungan, kini listrik tenaga surya juga tak lagi mahal.

“Pasang ‎solar cell di atap seukuran 1 meter persegi bisa hasilkan listrik 100 Watt. Sekarang ini kalau 1 meter persegi menghasilkan 100 Watt itu sekitar Rp 2-3 juta‎,” kata Rinaldy, usai Diskusi Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), di Hotel Acasia, Jakarta, Sabtu (31/10/2015).

Dengan makin terjangkaunya listrik tenaga surya, negara-negara maju pun semakin melirik tenaga surya sebagai sumber energi masa depan. Jepang dan Australia sudah menyatakan untuk mengadopsi teknologi solar cell roof top ini, untuk diperluas penggunaannya di negara mereka. Malaysia juga mulai mendorong warganya untuk memasang panel surya di atap-atap rumah maupun perkantoran.

“Jepang dan Australia sudah menyatakan akan mengadopsi ini. Malaysia memberi insentif buat penduduk yang mau memasang,” paparnya.

Langkah ini juga mulai diikuti oleh Indonesia. Kata Rinaldy, saat ini pemerintah sedang menyusun aturan feed in tariff untuk membeli listrik dari panel surya yang dipasang di atap-atap rumah. Kelebihan pasokan listrik dari rumah-rumah yang menggunakan panel surya akan dibeli oleh PT PLN (Persero), dengan harga yang menguntungkan. ‎”Pemerintah sedang bikin feed in tariff untuk listrik dari solar cell roof top, sedang didesain,” ucapnya.

Agar industri panel surya juga tumbuh di Indonesia, Rinaldy mengusulkan adanya kewajiban bagi perkantoran, jalan raya, dan rumah dengan harga di atas Rp 1 miliar untuk menggunakan panel surya di atapnya. Semakin banyak pengguna panel surya di Indonesia, permintaannya makin tinggi, produksinya pun makin massal sehingga biayanya bisa lebih efisien.‎

“Kita usul perkantoran, jalan raya, rumah di atas Rp 1 miliar wajib solar cell. Supaya industrinya tumbuh dan harganya turun,” cetusnya.

Saat ini, sebagian besar panel surya di Indonesia baru digunakan untuk melistriki lampu-lampu jalan.‎ “Sekarang sudah dipasang misalnya di lampu-lampu jalan,” pungkasnya.

(dnl/dnl)

Jakarta detik -Pemerintah sedang menyiapkan peraturan khusus terkait jual-beli listrik atap rumah (rooftop), sehingga rumah masyarakat yang memasang panel surya (solar cell) di atap rumahnya, bila menjual listriknya ke PLN.

Tapi berapa biaya yang dibutuhkan untuk investasi memasang solar cell di atap rumah?

Sebenarnya, harga panel surya beragam tergantung besarnya daya yang ingin kita peroleh. Semakin besar daya, maka ukuran panel surya pun semakin besar dan listrik yang dihasilkan pun bertambah.

“Kalau di Jakarta sudah banyak rumah-rumah yang pakai solar cell atau panel surya. Nggak terlalu mahal bagi yang suka teknologi dan hal baru,” kata Andry, Marketing produk Sky dari Schneider Energy kepada detikFinance ketika ditemui di sela-sela pameran EBTKE Conex di Jakarta Convention Center, Rabu (19/7/2015).

Andry menjelaskan, harga satu buah panel surya buatan Sky dibanderol Rp 15.000/Watt per jam (Wp). “Biasa dipakai di rumah-rumah itu 200 Wp jadi harganya Rp 3 juta. Ada yang pakai 1 hingga 3 panel surya. Tiap panel surya bisa untuk menyalakan 10 buah lampu LED berdaya 3 watt,” jelas Andry.

Andry menjelaskan, banyaknya panel surya tinggal menyesuaikan kebutuhan listrik yang ingin diperoleh. “Tinggal disesuaikan saja daya yang ingin diperoleh. Biasanya memang untuk lampu tapi sebetulnya bisa untuk semua perangkat elektronik, tinggal sesuaikan dayanya,” imbuhnya. Peralatan pendukungnya pun hanya kabel penghantar arus listrik dan baterai untuk menyimpan listrik.

Panel surya buatan Sky saat ini lebih banyak terjual untuk membangun panel surya di daerah terpencil atau pulau-pulau yang belum teraliri listrik. “Beberapa lokasi yang sudah terpasang panel surya kami memang pulau-pulau terpencil seperti di Maluku, Sulsel dan wilayah Timur,” terangnya.

(rrd/rrd)

INDUSTRI PANEL SURYA: Permintaan China naik, harga bahan baku ikut terkerek

Christin Franciska

Jum’at, 04 Januari 2013 | 15:19 WIB

bisnis indonesia
JAKARTA: Harga jual rata-rata bahan baku pembuatan panel surya mengalami rebound menyusul kenaikan harga polysilicon sebesar 0,2% dan monosilicon wafer 3,2% pekan ini.

Harga polysilicon, menurut PVinsights, naik 0,2% dari US$15,35 per kg pada 26 Desember menjadi US$15,38 per kg pada 2 Januari. Sementara harga mono-silicon wafer naik 3,2% dari US$1,11 menjadi US$1,14 per unit.

“Kami percaya kenaikan harga bahan baku ini disebabkan oleh adanya permintaan yang tinggi dari China setelah negara tersebut meluncurkan proyek Golden Sun pada Desember 2012 kemarin,” ujar Nitin Kumar dan Raghvendra Divekar, analis Nomura International dalam riset yang dirilis Kamis (3/1) kemarin.

Proyek yang dijadwalkan selesai pada Juni tahun ini dinilai dapat mengakibatkan lonjakan permintaan pada kuartal IV/2012 dan kuartal I/2013. “Rebound harga jual rata-rata tersebut memvalidasi perkiraan kami,” sambungnya.

Seperti diketahui, China meluncurkan proyek Golden Sun berkapasitas 2,8GW dengan susbidi pemerintah mencapai 7 miliar yuan. Lewat subsidi tersebut, Nomura percaya pemerintah dapat meningkatkan utilisasi seluruh industri dalam 5 hingga 6 bulan ke depan dan meningkatkan penyerapan persediaan global. (arh)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: