energi terbarukan: saatnya @SEL SURYA … 310112_051015


Austria semakin menyeriusi isu efesiensi energi di sejumlah proyek properti. Saah satunya The Glanhof, sebuah komples perumahan bertingkat di Klagenfurt, Austria. Perumahan ini mengoptimalkan struktur kristal zig-zag yang mengintegrasikan ratusan elemen fotovoltaik.

 

Penggunaan strutur tersebut tak lepas dari sentuhan tangan Architects Collective yang berbasis di Wina. Tim arsitek, seperti dikutip dari inhabitat.com, menciptakan desain surya yang mengintegrasikan panel photovoltaic ke struktur fasad. Integrasi ini menjadikan bangunan otonom dalam pemenuhan kebutuhan energi.

 

Kompleks yang terdiri atas 150 unit ini memiliki tiga struktur. Setiap unit mempunyai luas 50 sampai 75 meter persegi, ditambah sebuah balkon besar menghadap ke halaman. Proyek ini disusun sebagai campuran perumahan dari bermacam profil penghuni. Profil tersebut dari keluarga dengan anak-anak, orang tua tunggal dan orang tua. Lantai dasar dilengkapi area umum seperti kafe, kereta dan parkir sepeda dan ruang multiguna.

 

Yang terpenting dan mengesankan dari proyek ini adalah desain dan efisiensi energi surya. Energi untuk air panas dan pemanasan sebagian besar dihasilkan oleh panel surya di atap, sistem pompa panas dan reservoir panas bumi. Kelebihan energi disimpan dalam air garam di waduk panas bumi dan dilepaskan ketika cuaca berubah dingin. (pam)

 

http://id.beritasatu.com/property/seratus-persen-andalkan-energi-panel-surya/129020
Sumber : INVESTOR DAILY

OSAKA nikkei — Panasonic has developed a solar panel with an industry-leading energy-conversion efficiency of 22.5% and plans to have a commercial version ready for homes in 2016.

The Japanese company already boasts a leading 30% share of the domestic market for home solar panels, but it faces intensifying competition from rival domestic makers.

Panasonic’s new solar panel is more efficient at converting sunlight to electricity than the best-performing products now in mass production for homes. That will help it stave off advances from Japanese rivals like Kyocera and Sharp, which are strengthening their presence in this high-margin sector as foreign makers drive down prices related to mega-solar power plants.

Solar panels are made from arrays of solar cells, and last year Panasonic developed a solar cell with an industry-leading conversion efficiency of 25.6%. Panels have lower efficiency than individual cells because energy is lost in the process of extracting electricity from the cells. To boost the efficiency of its new solar panel, Panasonic modified the connection components and electrode materials for the cells and adopted a new structure that reduces reflection of sunlight.

U.S. company SunPower has developed a solar panel with an efficiency of 22.4%, but it has not yet moved into commercialization. Most solar panels available in Japan have efficiencies of around 20%.

TEMPO.CO, Semarang – Perusahaan Torqeedo asal Jerman menguji coba mesin bertenaga surya pada perahu nelayan berukuran kecil di Jawa Tengah. Mesin itu mampu menggerakkan perahu nelayan tradisional dari perairan Demak ke Semarang.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang ikut menyaksikan uji coba itu menilai teknologi tenaga surya bisa menjadi alternatif energi terbarukan bagi nelayan.

“Ada beberapa kelebihan, ketika distribusi solar subsidi sulit, energi terbarukan ini salah satu alternatifnya,” kata kata Ganjar seusai mencoba perahu tersebut, Kamis, 20 Agustus 2015.

Kelebihan lain, katanya, mesin buatan Jerman ini tidak bising dan baterainya bisa dipakai di rumah nelayan bila terjadi pemadaman listrik. “Jadi multifungsi,” klaim Ganjar. Selain itu efisien dan mudah dipelajari.

Kekurangan mesin ini adalah harganya yang masih mahal, sekitar Rp 250 juta. Ganjar menyarankan bila nelayan yang tertarik bisa bekerja sama dengan perbankan sebagai pihak ketiga untuk membantu nelayan mendapatkan alat produksi mencari ikan.

“Maka ini jangka panjang. Hitung-hitungan BEP dibanding menggunakan solar ya sekitar tiga tahun setelah itu nelayan untung,” katanya.

Consultant Business Development Torqeedo di Indonesia, Franklin Tambunan, menyatakan panel surya bisa men-charger baterai meski kondisi cahaya matahari tidak terlalu terang, pada sore hari. “Kapasitas baterai juga mencukupi untuk one day one fishing,” kata Franklin Tambunan.

Saat uji coba pukul 18.30 WIB sehari sebelumnya, dengan kekuatan bateri 40 persen mampu menggerakkan kecepatan mesin perahu nelayan hingga delapan kilometer per jam. “Dalam waktu tertentu memang tidak menggunakan baterai karena matahari menggerakkan mesin,” ujarnya.

Sistem kerja mesin perahu tenaga surya itu menggunakan atap perahu dengan panel surya. Perahu juga dilengkapi kabel-kabel antiair yang menyambung kedua mesin yang berada di bagian belakang.

Mesin memiliki kecepatan maksimal 13 kilometer per jam dengan sistem navigasi yang dilengkapi GPS. “Nelayan bisa langsung menuju lokasi yang memiliki potensi banyak ikan,” katanya.

EDI FAISOL

Modal Rp 3 Juta Bisa Punya Panel Surya di Atap Rumah

Lani Pujiastuti – detikfinance
Rabu, 19/08/2015 17:52 WIB

Jakarta -Pemerintah sedang menyiapkan peraturan khusus terkait jual-beli listrik atap rumah (rooftop), sehingga rumah masyarakat yang memasang panel surya (solar cell) di atap rumahnya, bila menjual listriknya ke PLN.

Tapi berapa biaya yang dibutuhkan untuk investasi memasang solar cell di atap rumah?

Sebenarnya, harga panel surya beragam tergantung besarnya daya yang ingin kita peroleh. Semakin besar daya, maka ukuran panel surya pun semakin besar dan listrik yang dihasilkan pun bertambah.

“Kalau di Jakarta sudah banyak rumah-rumah yang pakai solar cell atau panel surya. Nggak terlalu mahal bagi yang suka teknologi dan hal baru,” kata Andry, Marketing produk Sky dari Schneider Energy kepada detikFinance ketika ditemui di sela-sela pameran EBTKE Conex di Jakarta Convention Center, Rabu (19/7/2015).

Andry menjelaskan, harga satu buah panel surya buatan Sky dibanderol Rp 15.000/Watt per jam (Wp). “Biasa dipakai di rumah-rumah itu 200 Wp jadi harganya Rp 3 juta. Ada yang pakai 1 hingga 3 panel surya. Tiap panel surya bisa untuk menyalakan 10 buah lampu LED berdaya 3 watt,” jelas Andry.

Andry menjelaskan, banyaknya panel surya tinggal menyesuaikan kebutuhan listrik yang ingin diperoleh. “Tinggal disesuaikan saja daya yang ingin diperoleh. Biasanya memang untuk lampu tapi sebetulnya bisa untuk semua perangkat elektronik, tinggal sesuaikan dayanya,” imbuhnya. Peralatan pendukungnya pun hanya kabel penghantar arus listrik dan baterai untuk menyimpan listrik.

Panel surya buatan Sky saat ini lebih banyak terjual untuk membangun panel surya di daerah terpencil atau pulau-pulau yang belum teraliri listrik. “Beberapa lokasi yang sudah terpasang panel surya kami memang pulau-pulau terpencil seperti di Maluku, Sulsel dan wilayah Timur,” terangnya.

(rrd/rrd)

(Bloomberg) — A project in the Australian Outback that will more than double the country’s large-scale solar output should begin generating its initial power as early as this week, according to First Solar Inc.

The A$290 million ($220 million) Nyngan solar plant in New South Wales state will start at 25 megawatts before increasing to full capacity of 102 megawatts, said Jack Curtis, Asia-Pacific manager at First Solar, a partner in the project led by AGL Energy Ltd. The plant will be fully operational by July, Sydney-based AGL said last week.

The solar project is expected to be the largest in the Southern Hemisphere until a 141-megawatt First Solar project in Chile begins in late 2015, according to data compiled by Bloomberg. AGL and First Solar, the U.S. panel manufacturer, are also building a 53-megawatt solar plant in Broken Hill, west of Nyngan in New South Wales.

“What was really constraining the large-scale solar market was the fact that it just hadn’t been done before, so there was a lot of misconception around the execution and cost challenges,” Curtis said. “It can only get more efficient.”

While the government says Australia has the highest average solar radiation per square meter of any continent, solar accounted for less than 2 percent of its electricity generation in 2013, the Clean Energy Council estimated.

As much as 4.1 gigawatts of large-scale solar photovoltaic capacity is forecast to start in Australia through 2021, about 85 times current output, according to a January report from Bloomberg New Energy Finance.

Combined, the Nyngan and Broken Hill projects are estimated to cost about A$440 million, with the Australian and state governments providing A$232 million in funding. They will produce enough energy to supply more than 50,000 homes in New South Wales, according to AGL’s website.

A compromise between the government and the opposition Labor party on where to set the 2020 renewable energy target would revive investment in the industry. Spending on large renewable energy projects has tumbled in Australia amid uncertainty over the future of the country’s policy.

 

JAKARTA – Listrik dari sel surya akan semakin kompetitif ketika harga bahan bakar minyak terus melambung. Saat ini harga listrik dari sel surya memang masih di atas harga listrik yang diproduksi dengan bahan bakar minyak, tetapi diperkirakan dalam 5-10 tahun mendatang kondisinya berbalik.

Hal ini diutarakan Hiroshi Morimoto, Executive Officer and Group General Manager of Environmental Protection Group Sharp Coporation pada kesempatan seminar “ Kontribusi Solar Energi untuk Indonesia “
Bahkan dalam kajian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah
membuat estimasi produksi listrik perkantoran atau komunitas dari sel surya berkapasitas 10.000 watt dengan investasi Rp 645 juta saat ini.
Diperhitungkan, usia produktif peralatan sampai 15 tahun, maka harga energi listrik mencapai Rp 5.000 per kilowatthour (kWh)-rata-rata, berarti harga flat tidak naik selama 15 tahun. lni lebih mahal dari listrik yang dihasilkan genset diesel saat ini, Rp 2.666 per kWh-yang selalu akan naik sesuai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Sekali pemasangan sel surya memang menelan investasi besar. Tetapi, operasionalnya menggunakan bahan bakar sinar matahari yang gratis, tidak butuh pembelian bahan bakar seperti minyak yang harganya akan terus naik,” ujar Hiroshi

Untuk Indonesia sendiri menurut Budi Supomo Chief Section for Solar Panel PT Sharp Electronics Indonesia Budi Supomo pada kesempatan yang sama, di Indonesia sendiri produk panel solar buatan Sharp telah banyak dipergunakan di berbagai daerah trutaam di kawasan Indonesia timur.

Pada umumnya daerah Papua dan NTT misalnya kata Budi, meski daerah tersebut telah dialiri dengan pasokan listrik dari PLN, namun karena kadangkala pasokan BBM untuk pengoperasian tenagan listrik setempat terlembat, maka sebagai cadangan digunakan listrik tenaga surya melalui panel.

DI Indonesia sendir penggunaan panel surya buatan Sharp lebih banyak menggunakan teknologi thin film yang jauh lebih sensitive dibandingkan dengan menggunakan crystal silicon technologi.

Di Jakarta Sendiri menurut Budi dalam pembangunan kompleks perumahan kluster di bilangan Tangerang, produk panel buatan Sharp juga digunakan., dimana biaya instalasi pemasangan mencapai Rp 128 juta untuk menghasilkan listrik 3.500 watt untuk menghasilkan watt out put AC dengan menggunakan 12 solar panel seluas 780 meter persegi termasuk baterai sebanyak 10 buah.

Diutarakan Budi, secara keseluruhan penjualan produk panel solar produk Sharp Electronics Indonesia mencapai angka Rp 16 miliar, dengan total hasil tenaga listrik yang dihasilkan mencapai 800 Kwp.

http://www.tribunnews.com/2012/01/31/biaya-listrik-surya-jauh-lebih-kompetitif

Sumber : TRIBUNNEWS.COM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: