RUG1 @braU … 300514_201114_240815


JAKARTA. Kerugian PT Berau Coal Energy Tbk menipis. Dari laporan keuangan tahunan 2014 yang baru dirilis akhir pekan lalu menyebutkan,  emiten dengan kode saham BRAU di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini  mencatatkan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sepanjang tahun 2014 sebesar US$ 93,69 juta, turun dari periode sama tahun sebelumnya yang mencapai US$173,16 juta.

Dalam laporan yang sama, perusahaan batubara itu membukukan penjualan sebesar US$ 1,36 miliar. Angka ini turun 4,09% secara year-on-yeardari sebelumnya US$1,42 miliar.Keberhasilan  menekan kerugian lantaran perusahaan ini mampu memangkas beban usaha. Beban pokok penjualan perusahaan ini turun tipis 0,83% dari US$1,1 miliar menjadi US$1,09 miliar. Adapun beban usaha terpangkas sebanyak 3,6% dari US$128,23 juta menjadi US$123,61 juta.

Saat ini, BRAU tengah melakukan kajian atas upaya restrukturisasi utang senilai total US$ 950 juta. Restrukturisasi utang tersebut ditargetkan rampung sebelum Januari 2016. Perusahaan ini kini mendapat bantuan Argyle Street Management Limited, induk usaha Asia Coal Energy Ventures Limited (ACE) dan pemegang saham Asia Resource Minerals Plc (ARMS), untuk restrukturisasi utang tambun tersebut

Editor: Titis Nurdiana

JAKARTA kontan. Angka kerugian yang harus ditanggung PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) membengkak. Hal ini membuat modal perseroan menjadi negatif.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan per kuartal III-2014, rugi bersih emiten batubara ini mencapai US$ 78,28 juta, lebih tinggi 17,2% secara year-on-year (yoy). Meningkatnya nilai kerugian ini menyusul stagnannya penjualan yang membuat perseroan kesulitan menahan laju beban yang kian melambung.

Penjualan BRAU per akhir September 2014 hanya US$ 1,03 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu penjualan perseroan sedikit lebih tinggi, yakni sekitar US$ 1,08 miliar.

Sementara itu, beban pokok administrasi meningkat dari US$ 43,38 juta menjadi US$ 57,44 juta. Biaya keuangan juga bertambah, dari US$ 110,79 juta menjadi US$ 112,04 juta. Kerugian yang terus-menerus ini membuat perseroan harus menanggung defisiensi atas total modal alias ekuitas negatif yang nilainya minus US$ 20,45 juta.

Editor: Hendra Gunawan

 

Bisnis.com, JAKARTAKinerja keuangan PT Berau Coal Energy Tbk. pada kuartal III/2014 masih tertekan dengan mencatatkan rugi bersih senilai US$78,28 juta atau membengkak 17,18% dari rugi bersih pada periode yang sama tahun lalu US$66,8 juta.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 30 September yang dirilis Rabu, (19/11/2014), memburuknya angka rugi bersih tersebut berbanding lurus dengan penjualan yang sedikit terkoreksi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sepanjang periode Januari-September 2014, emiten dengan kode saham BRAU ini membukukan penjualan US$1,04 miliar atau turun 3,7% dari kuartal III/2014 senilai US$1,08 miliar.

Selain kinerja keuangan yang memburuk, belum lama ini lembaga pemeringkat Moodys Investor Service menurunkan peringkat BRAU dari B2 menjadi B3 akibat pengelolaan utang yang masih dipertanyakan terkait likuiditas keuangan perseroan.

Editor : Hery Lazuardi

 

 

kontan JAKARTA. Kinerja PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) hingga 31 Maret lalu masih merah. Perusahaan tambang batubara ini masih membukukan rugi bersih senilai US$ 10,18 juta.

Namun, nilai kerugian ini sudah berkurang dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang senilai US$ 32,19 juta. Penurunan rugi bersih tidak terlepas dari performa penjualan yang naik 8,25% dibandingkan periode yang saham 2013 lalu menjadi US$ 373,3 juta.

Beban pokok penjualan yang ditanggung BRAU di kuartal pertama 2014 sejatinya naik lebih tinggi, yaitu 10,31% year-on-year (yoy) menjadi US$ 291,2 juta. Namun, hal itu terkompensasi oleh penurunan beban keuangan BRAU sebesar 31,02% yoy menjadi US$ 31,89 juta.

Perbaikan kinerja keuangan sejatinya sejalan dengan performa operasional perusahaan. Di Januari-Maret 2014, produksi batubara BRAU naik 15% yoy menjadi 6,1 juta ton. Pun demikian dengan penjualan batubara BRAU yang juga tumbuh 15% yoy menjadi 6,3 juta ton.

Performa produksi BRAU pun sejatinya kian efisien. Hal ini terbukti dari biaya produksi BRAU di Januari-Maret 2014 yang turun 4% yoy menjadi US$ 38 per ton. Sayangnya, BRAU masih menghadapi kendala dalam hal masih buruknya harga jual batubara.

Di kuartal I 2014, harga jual rata-rata FOB BRAU turun 3% yoy menjadi US$ 58,4 per ton. Penurunan harga ini memang menjadi kendalan utama produsen batubara termasuk BRAU dalam 1,5 tahun terakhir.

Tahun ini BRAU ingin menaikkan produksi batubara sebesar 10% menjadi 25,75 juta ton. Namun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hanya memberikan kuota produksi sebanyak 22,35 juta ton saja. Kuota tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi produksi batubara BRAU di 2013 yang tercatat 23,5 juta ton. Asal tahu saja, sebagai pemegang konsesi Perjanjian Karya Pengusahaan dan Pertambangan Batubara (PKP2B), kuota produksi BRAU memang ditetapkan langsung oleh pemerintah pusat yang dalam hal ini Kementerian ESDM.

Masalahnya, di tahun ini, pemerintah sudah mengumumkan pembatasan produksi batubara menjadi hanya 397 juta ton, turun 5,7% dibandingkan realisasi 2013 yang 421 juta ton. Dengan pembatasan produksi itu, pemerintah optimistis harga jual batubara di pasar domestik dan internasional bisa bangkit lagi.

Terkait hal itu, Eko Santoso Budi, Presiden Direktur BRAU sebelumnya bilang, perusahaan akan tetap meminta Kementerian ESDM untuk menaikkan kuota produksi menjadi 25,75 juta ton.
Editor: Edy Can

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: