B0RN @brau … 130713_070215


 

JAKARTA kontan. PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) mengklaim telah terhindar dari default atau gagal bayar. Pemilik BORN, Samin Tan telah membayar utang sebesar US$ 200 juta ke Standard Chartered (Stanchart). Pembayaran itu merupakan bagian dari plafon utang BORN ke Stanchart yang mencapai US$ 1 miliar.
“Jadi tidak ada gagal bayar apapun,” ujar Ken Allan, Direktur Keuangan BORN, seperti dikutip Reuters, Rabu (5/2). Ia mengatakan, Stanchart telah sepakat di tahun lalu untuk mempermudah persyaratan dan memperpanjang tenor pinjaman. Allan mengklaim, BORN memiliki hubungan yang cukup baik dengan para krediturnya.
Ia bilang, tahun lalu, BORN sudah membayar setengah nilai pokok utang ke Raiffeisen Bank sebesar US$ 112 juta. BORN juga telah membayar utang Stanchart sebesar US$ 87 juta yang berasal dari dividen Asia Resources Mineral Pls (ARMS).
Stanchart memang tidak memberikan izin restrukturisasi utang senilai US$ 1 miliar kepada BORN secara cuma-cuma. BORN harus memberikan 4% saham perseroan kepada Stanchart. BORN nantinya akan menggelar rights issuesebesar 4% dari modal disetor dan ditempatkan, untuk kemudian diserap oleh Stanchart.
Hal ini dianggap sebagai insentif atas proposal restrukturisasi utang yang diajukan. Kesepakatan  tersebut diteken kedua belah pihak pada 24 Maret 2014 dalam perjanjian perubahan dan pernyataan kembali.
Editor: Tedy Gumilar

Jakarta- Rapat umum pemegang saham (RUPS) Asia Resource Minerals Plc menolak usulan Samin Tan, salah satu pemegang saham Asia Resource, yang ingin menempatkan empat wakilnya di induk usaha PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) tersebut.

“Asia Resource mengumumkan seluruh usulan yang diajukan Borneo Bumi Energi & Metal Pte Ltd ditolak dalam rapat umum pemegang saham,” ungkap manajeman Asia Resource dalam keterangan resmi, kemarin.

Sebelumnya, Borneo yang merupakan perusahaan milik Samin Tan mengusulkan pencopotan Richard Gozney, Amir Sambodo, dan Hamish Tyrwhitt dari jabatan saat ini. Sebagai gantinya, Borneo ingin menempatkan Kenneth Raymond Allan, Kin Chan, Benjamin Alexander Wiley, dan Alexander Ramlie sebagai direktur Asia Resource.

Pada rapat umum pemegang saham, sebanyak 68,02% pemegang saham yang hadir menolak usulan penunjukkan Allan sebagai direktur, sedangkan 68,01% pemegang saham juga menolak usulan penunjukan Chan, Ramlie, dan Wiley.

Dengan demikian, sebanyak 68,02% tidak menghendaki pencopotan Gozney, Sambodo, dan Tyrswhitt dari jabatannya sekarang.

CEO Asia Resource Amir Sambodo mengatakan, setelah keputusan pemegang saham tersebut, pihaknya akan melanjutkan program efisiensi. “Khususnya pembiayaan kembali (refinancing) obligasi yang jatuh tempo tahun ini,” kata Amir, yang juga menjabat sebagai direktur utama Berau Coal.

Usulan Samin Tan sebelumnya mengindikasikan dia ingin menguasai kembali Asia Resource. Namun, manajemen Asia Resource mengatakan, usulan perombakan direksi belum memiliki alasan yang jelas. Bahkan, perubahan dalam tubuh manajemen dinilai menimbulkan ketidakpastian baru bagi perusahaan.

“Kontrol dari Borneo berisiko membuat aset kami, yakni Berau Coal, dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir pemegang saham dan bukan seluruh pemangku kepentingan,” ungkap manajemen Asia Resource.

Saat ini, Borneo tercatat sebagai salah satu pengendali utama Asia Resource dengan kepemilikan sebesar 23,8% saham. Adapun Raiffeisen Bank memiliki porsi 23,8% saham, yang merupakan saham gadai milik Samin Tan melalui Ravenwood Acquisition Company Limited. Pemegang saham terbesar lainnya, Nathaniel Rothschild, mengendalikan sebesar 17,5% saham Asia Resource.

RUPS perseroan telah menunjuk Dr Wallace King AO sebagai chairman secara permanen. Keputusan itu segera berlaku pasca penunjukan tersebut. King menggantikan Bob Kamandanu yang mengundurkan diri pada 11 Januari 2015.

“Asia Resource juga akan mengupayakan King sebagai komisaris utama PT Berau Coal Energy Tbk dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) perusahaan tersebut yang akan datang,” jelas manajemen.

Dukungan Kuat
Nathaniel Rothschild mengatakan, pihaknya sangat puas dengan hasil RUPS Asia Resource yang menolak seluruh usulan Samin Tan. Hal itu, kata dia, menunjukkan bahwa direksi saat ini memiliki dukungan kuat dari mayoritas shareholders.

“Jajaran direksi telah diberikan mandat oleh sebagian besar pemegang saham untuk melanjutkan progres operasional dan restrukturisasi keuangan Berau,” kata Rothschild, seperti dikutip Bloomberg, kemarin.

Belum lama ini, Rothschild mengumumkan kesediaan untuk mengucurkan dana sebesar US$ 100 juta guna menyerap saham baru Asia Resource. Dana itu akan digunakan untuk pelunasan sebagian utang Berau Coal sebesar US$ 450 juta.

Sementara itu, Samin Tan juga memiliki utang sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 12 triliun kepada Standard Chartered Bank. Samin Tan, melalui Borneo, memperoleh pinjaman tersebut pada 16 Januari 2012. Dana pinjaman telah digunakan untuk mendanai akuisisi 23,8% saham Asia Resource dari Grup Bakrie.

Hingga saat ini, Borneo telah membayar sekitar US$ 200 juta. Dengan demikian, pinjaman yang belum dibayar kepada Stanchart tercatat sebesar US$ 739 juta per September 2014.

“Stanchart telah sepakat untuk melonggarkan persyaratan pinjaman sekaligus memperpanjang masa jatuh tempo. Kami sama sekali belum pernah mengalami gagal bayar atau default,” kata Direktur Keuangan Borneo Ken Allan, seperti dilaporkan Reuters, baru-baru ini.

Dalam amendemen dengan Stanchart, Borneo harus membayar utang pokok sebesar US$ 100 juta pada 15 April 2015. Adapun pembayaran selanjutnya harus dilakukan pada 2016.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/246883-samin-tan-gagal-kuasai-induk-usaha-berau.html
Sumber : BERITASATU.COM

 

JAKARTA. Upaya Samin Tan untuk menguasai induk usaha PT Berau Coal Energy, Tbk (BRAU), Asia Resource Minerals Ltd (ARMS) kandas. Sebagian besar pemegang saham ARMS menolak perombakan direksi seperti usulan Samin Tan.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham ARMS yang berlangsung Rabu (4/2) di London, hanya 31,99% pemegang saham yang menyetujui proposal Samin Tan. Sedangkan pihak yang menolak mencapai 68% dari total 90,23% pemegang saham yang hadir.

Samin Tan mengajukan agenda RUPS untuk mencopot tiga direksi ARMS, yakni Amir Sambodo, Richard Goxney dan Hamish Tyrwhitt. Samin Tan ingin menguasai ARMS lewat perusahaannya, PT Borneo Lumbung Energi & Metals, Tbk (BORN).

Untuk mengisi posisi itu, Samin merekomendasikan empat orang kepercayaannya. Mereka adalah Kenneth Raymond Allan, Kin Chan, Benjamin Alexander Wiley dan Alexander Ramlie. Selain menolak semua resolusi Samin Tan, RUPS juga memutuskan mengangkat Wallace King sebagai chairman permanen di ARMS.

King menggantikan Bob Kamandanu, yang mengundurkan diri pada 11 Januari 2015. ARMS juga mengupayakan King menduduki posisi komisarisBRAU. “Pergantian komisaris ini akan diatur dalam rapat umum pemegang saham BRAU. Waktunya ditentukan kemudian,” sebut manajemen ARMSdalam penjelasan resmi, Kamis (5/2).

Penolakan ini sudah diduga. Sejak bulan lalu, ARMS berusaha meyakinkan pemegang saham untuk menolak usulan Samin. Pasalnya, pergantian direksi ini dinilai bisa mempersulit upaya restrukturisasi surat utang BRAUsekitar US$ 450 juta yang jatuh tempo dalam waktu dekat.

Penolakan perombakan direksi disambut baik oleh Nathaniel Rothschild, yang memang kerap berseberangan dengan Samin Tan. “Saya sangat senang melihat direksi yang ada didukung penuh oleh mayoritas pemegang saham,” ujar Rothschild, seperti dikutip Bloomberg.

Saat ini, Rothschild menguasai 17,5% saham ARMS. Adapun Samin Tanmelalui BORN memiliki 23,8% saham ARMS.

 

Editor: Uji Agung Santosa

 

Samin Tan Tebus Saham Bumi Plc US$ 223 Juta
Oleh Harso Kurniawan dan Efi Nurfiyasari | Jumat, 12 Juli 2013 | 11:16
JAKARTA — Samin Tan melalui Ravenwood Pte Ltd telah meneken kesepakatan dengan Grup Bakrie untuk membeli 23,8% saham Bumi Plc yang dimiliki Grup Bakrie. Nilai transaksi ini mencapai US$ 223 juta.

Ravenwood selanjutnya akan mengalihkan saham Bumi Plc yang dibeli dari Grup Bakrie itu ke perusahaan milik Samin Tan lainnya, PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), yang saat ini memiliki 23,8% saham Bumi Plc dengan harga serupa.

Setelah transaksi itu tuntas, Borneo akan menguasai 47,6% saham Bumi Plc, yang memiliki 29,2% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan 85% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Dengan demikian, Bumi Plc akan dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan Borneo, yang merupakan perusahaan batubara kokas (hard coking coal).

Presiden Direktur Borneo Alexander Ramlie menuturkan, perseroan akan mencari pinjaman senilai US$ 223 juta untuk mendanai transaksi itu. Pembelian saham Bumi Plc oleh Borneo milik Ravenwood dapat dieksekusi setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham minoritas dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: