pake ikat pinggang @brau, adro … 021212_081014


INILAHCOM, Jakarta – Di tengah tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang kemarin telah bergerak di kisaran Rp12.200, saham-saham yang pendapatannya berbasiskan dolar AS akan lebih diuntungkan.

Hal ini memberikan keuntungan bagi saham sektoral berbasiskan komoditas tambang yang umumnya berorientasi ekspor. Salah satu emiten tambang yang patut diperhatikan adalah Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang bergerak di batubara. Tantangan bisnis batubara saat ini adalah harga komoditas yang masih rendah di kisaran US$65-66 per metrik ton (MT).

Analis Firs Asia Capital dalam risetnya yang dipublikasikan Selasa (7/10/2014) mengungkapkan, harga saham ITMG sepekan kemarin cenderung menguat di tengah iklim pasar yang kurang kondusif. Ini terutama dipicu sentimen individualnya menyusul rencana perseroan membagikan dividen interim tahun buku 2014 sebesar Rp1.100/saham dengan periode cum dividen akhir Oktober.

Kemarin harga saham ITMG ditutup di Rp26.625 sedikit terkoreksi setelah menguat hingga ke Rp27.050 akhir pekan lalu. “Pada harga Rp26.625 pemodal berpeluang mendapatkan yield dividen sebesar 4%, jumlah yang relatif menarik di tengah pasar yang kurang kondusif saat ini,” ungkapnya.

Sepanjang tahun ini harga saham ITMG sempat ditransaksikan di harga tertinggi di Rp30.250 (30/5/2014) dan terendah di Rp22.500 (20/3/2014). Namun bila dibandingkan pergerakan harga emiten batubara lainnya, harga saham ITMG sepanjang tahun ini pergerakannya tertinggal.

Rata-rata harga saham ITMG sepanjang tahun ini hingga posisi kemarin di Rp26.625 terkoreksi 6,6% karena akhir 2013 lalu harga sahamnya masih ditransaksikan di Rp28.500. Sedangkan rata-rata pergerakan harga saham emiten batubara dalam periode yang sama menguat 3%.

Tahun ini perseroan menargetkan volume produksi dan penjualan batubaranya masing-masing 29,5 juta ton dan 29 juta ton. Sedangkan harga jual rata-rata batubara perseroan tahun ini diperkirakan US$71/ton turun sekitar 5% dari rata-rata 2013 sebesar US$74,9/ton.

Penjualan bersih tahun ini diperkirakan mencapai US$2,06 miliar atau turun 5,5% dari 2013 sebesar US$2,18 miliar. Sedangkan proyeksi laba bersih tahun ini diperkirakan mencapai US$315,64 juta atau naik 37% dari 2013 sebesar US$230,48 juta.

First Capital juga mengungkapkan, earning per share (EPS) 2014 saham ini diproyeksikan mencapai US$0,2793 atau Rp3.324 pada kurs 1US$=Rp11.900.

Pada harga Rp26.625, ITMG ditransaksikan hanya dengan price earning (PE) 8 kali (E/14), lebih murah ketimbang ADRO yang sudah ditransaksikan dengan PE 9 kali saat ini. “Harga saham ITMG diperkirakan berpeluang ditransaksikan dengan PE 10 kali atau berpeluang menuju Rp32.680, ada ruang penguatan 22,7% dari harga saat ini. Maintain Buy, SL 26000.” [mdr]

 

SINGAPURA kontan . Perusahaan pemeringkat Standard Poor’s Ratings Services, pada Kamis (25/9) menurunkan peringkat utang jangka panjang produsen batubara PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) menjadi ‘B’ dari sebelumnya ‘BB-‘. Prospek peringkat utang tersebut negatif.

Di saat yang sama, Standard Poor’s memangkas peringkat skala regional ASEAN jangka panjang BRAU menjadi ‘axB+’ dari sebelumnya ‘axBB’. Lembaga pemeringkat ini juga menurunkan peringkat jangka panjang senior notes BRAU menjadi ‘B’ dari semula ‘BB-‘.

“Kami menurunkan peringkat ini karena memperkirakan rasio kecukupan arus kas BRAU akan lebih lemah daripada antisipasi kami pada 2015 menyusul koreksi tajam harga batubara selama tiga bulan terakhir,” ujar analis kredit Standard Poor’s, Xavier Jean, dalam pernyataan resminya, Kamis (25/9).

Selain itu, menurut Jean, peringkat BRAU diturunkan dengan mempertimbangkan tertundanya rencana emiten ini untuk membiayai kembali (refinancing) obligasi yang akan jatuh tempo pada Juli 2015. Mepetnya waktu BRAU untuk menyelesaikan refinancing akan meningkatkan risiko refinancing selama 12 bulan berikutnya.

Seperti diketahui, BRAU kembali menunda rencana penerbitan obligasi berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS) senilai US$ 450 juta. BRAU mengambil keputusan tersebut lantaran kondisi pasar obligasi saat ini kurang kondusif (Harian KONTAN, 14 Agustus 2014).

Pada awal Agustus lalu, BRAU sebenarnya telah mendapatkan restu Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk menerbitkan obligasi senilai US$ 450 juta. Obligasi tersebut akan diterbitkan oleh anak usaha BRAU, Berau Capital Resources II Pte Ltd (BCR) di Singapura.

Rencananya, surat utang itu akan bertenor lima tahun sejak tanggal penerbitan yang dijadwalkan pada 21 Agustus 2014 mendatang. Manajemen BRAU telah menunjuk Barclays, Citigroup dan Standard Chartered Bank sebagai pembeli awal (initial purchaser). Sejatinya, BRAU bakal menggelar roadshow ke beberapa kota seperti Singapura, Hong Kong, New York dan Los Angeles.

Nantinya, Berau Coal akan menggunakan dana hasil penerbitan obligasi tersebut untuk membiayai kembali (refinancing) surat utang senilai US$ 450 juta yang telah diterbitkan oleh BCR.

Harga saham BRAU, pada transaksi Kamis (25/9) ditutup melemah 1,41% menjadi Rp 140 per saham.

Editor: Sandy Baskoro

 

Bisnis Lesu, Pengusaha Batubara ‘Raksasa’ Kencangkan Ikat Pinggang
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Minggu, 02/12/2012 11:41 WIB

Jakarta – Industri batubara tengah ‘tiarap’ sejak awal tahun ini, akibat rendahnya harga komoditas yang sempat jadi primadona ini. Pelaku industri swasta ataupun BUMN terpaksa melakukan pengetatan biaya operasi, melalui penurunan stripping ratio, jarak angkut atau upaya efisiensi lain guna mengendalikan harga.

PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) adalah contoh nyata yang melakukan efisiensi tinggi tersebut. Dengan rendahnya permintaan asal China manajemen harus melakukan perencanaan diversifikasi pasar ke negara ASEAN seperti Filipina, Malaysia dan Vietnam.

Target penjualan yang sebelumnya hanya terpusat pada China, membuat manajemen kembali melakukan pemasaran ke negara yang sebelumnya pernah menjadi target penjualan Berau Coal, seperti Thailand. Selain itu perseroan juga siap menjual harga batubara di tingkat optimum, sesuai dengan harga pasar.

“Kondisi pasar di tahun 2012 menunjukkan kondisi yang kurang baik, yaitu indeks harga yang cenderung menurun, menurunnya permintaan dari China dan turunnya permintaan untuk produk dengan kandungan sulfur yang tinggi,” kata manajemen BRAU dalam keterangan tertulisnya yang disampaikan BRAU kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti dikutip, Minggu (2/12/2012).

Untungnya, BRAU memiliki kontrak penjualan jangka panjang ke pelanggan di berbagai negara seperti Taiwan, India, Hongkong, dan Indonesia yang sampai saat ini masih berjalan baik. Memang selama ini perseroan masih mengandalkan pasar China dalam menjual hasil tambangnya, dengan presentase 36% hingga triwulan III-2012, disusul kemudian pasar domestik (20%) dan Taiwan (18%).

“Tren pengiriman pada dua bulan terakhir (September-Oktober) cenderung menujukkan peningkatan per bulan. Shipment di bulan November kurang lebih 2,1 juta ton,” tambahnya.
Tercatat peingiriman batubara perseroan pada bulan Juli dan Agustus masing-masing 1,5 juta ton. Sedangkan pengiriman total di triwulan I sebesar 4,6 juta ton, dan triwulan II sebesar 5,2 juta ton.

Dalam mendukung efisiensi, BRAU juga meningkatkan infrastruktur mandiri dengan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) serta membangun overload conveyor di wilayah Binungan.
Seluruh pengembangan infrastruktur harus mengedepankan peningkatan kapasitas yang disesuaikan dengan kondisi pasar dan rencana produksi.

BUMN pertambangan juga melakukan efisiensi, seperti langkah yang dilakukan BRAU.
Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Milawarma mengaku, tengah membuka opsi menambah keran eskpor ke India, terlebih setelah beberapa waktu lalu negara ini mengalami pemadaman listrik di hampir setengah negara. Potensi penambahan ekspor ke India mencapai 1-2 juta ton. Di samping itu suplai ke Jepang dan Malaysia sebagai tujuan ekspor utama masih menjadi andalan PTBA.

Perseroan juga menyiapkan opsi efisiensi biaya dengan memperbesar energi listrik dalam memproses emas hitam.
Langkah serupa ditempuh PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Direktur Utama ADRO Garibaldi Thohir telah mengoptimalisasi pabrik pengolahan hasil tambangnya sebelum dikirimkan kepada pelanggan.

Pria yang akrab disapa Boy Thohir ini pun memperkirakan, menurunnya industri batu bara masih akan terjadi hingga tahun depan, bahkan akan lebih buruk dibandingkan 2012. Di tahun ini masing-masing perusahaan tambang masih dapat mempertahankan marjin akibat kotrak jangka panjang yang sudah disepati sejak 2010 atau 2011.

“Namun tahun depan akan banyak kontrak yang habis, dan akan ada kontrak baru. Pelanggan pun akan menekan harga, karena indeks saat ini tengah rendah,” imbuhnya.

(wep/hen)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: