sekilas JADUL Sandi dan Soerjadjaja


Jakarta -Majalah Forbes kembali merilis daftar orang terkaya dunia. Tahun ini memuat 1.645 miliuner dari seluruh dunia. Dari jumlah itu 19 di antaranya berasal dari Indonesia.

Rata-rata kekayaan US$ 4,5 miliar. Total harta para miliuner ini tercatat sebanyak US$ 6,4 triliun, naik US$ 1 triliun dari jumlah total harta tahun lalu.

Sedangkan jumlah harta 19 orang terkaya di dunia ini mencapai US$ 47,65 miliar atau sekitar Rp 476,5 triliun. Siapa saja mereka? Simak daftar lengkapnya di sini seperti dikutip dari Forbes, Selasa (4/3/2014).

19. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono
Peringkat di Indonesia: 19
Peringkat dunia: 1.565
Total kekayaan: US$ 1 miliar

18. Harjo Sutanto
Peringkat di Indonesia: 18
Peringkat dunia: 1.465
Total kekayaan: US$ 1,1 miliar

17. Hary Tanoesoedibjo
Peringkat di Indonesia: 17
Peringkat dunia: 1.372
Total kekayaan: US$ 1,2 miliar

16. Edwin Soeryadjaya
Peringkat di Indonesia: 16
Peringkat dunia: 1.372
Total kekayaan: US$ 1,2 miliar

Edwin, Penerus Dinasti Soeryadjaya

Oleh: Hideko
ekonomi – Senin, 15 Oktober 2012 | 10:05 WIB

IA BERHASIL mewujudkan keinginan mendiang ayahnya untuk memiliki perusahaan perkebunan. Tak hanya itu ia mampu meraih sukses, bahkan lebih hebat dari sang ayah.

Tidak seperti biasanya, Edwin Soeryadjaya nongol di hadapan publik secara terbuka. Selama ini, putra kedua dari taipan William Soeryadjaya ini jarang tampil di depan umum. Ia lebih sering berada di deretan belakang agar tak terekspose media. Tapi, pekan lalu, ia terpaksa harus meninggalkan kebiasannya. Pagi itu, selaku komisaris PT Provident Agro, ia bertandang ke Bursa Efek Indonesia (BEI), yang hari itu secara resmi listed di lantai bursa.

Provident Agro, anak usaha Saratoga Capital, bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Di Provident Agro, Saratoga memiliki saham sekitar 43%. Seperti diketahui Saratoga, merupakan perusahaan investasi yang didirikan oleh Edwin dan Sandiaga Uno. Di Saratoga Group, ia menjabat sebagai Chairman. Di bawah bendera Saratoga inilah Edwin membangun kerajaan bisnisnya. Perusahaan ini juga memiliki 4,25% saham di PT Adaro, perusahaan tambang batubara kedua terbesar di negeri ini.

Kekayaan Edwin sempat meroket saat harga batubara membumbung tinggi. Tak heran bila tahun lalu majalah Forbes menempatkan Edwin dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia. Pria berusia 63 tahun itu ditaksir memilki kekayaan US$ 1,4 miliar. Dengan kekayaan sebesar itu Edwin berada di urutan ke-16 orang terkaya di tanah air.

Penerus Soeryadjaya

Nama Edwin Soeryadjaya memang tidak bisa dipisahkan dari nama besar sang ayah, William Soeryadjaya, pendiri Astra Group yang kesohor sebagai konglomerat di era Orde Baru. Sejak 2010, Edwin mampu menunjukkan siapa dirinya. Ia berhasil meraih penghargaan sebagaiIndonesian Entrepeneur of the Year.

Beberapa koleganya menyatakan bahwa apa yang telah diraih Edwin telah melebihi apa yang pernah dicapai ayahnya. Menanggapi itu, lelaki yang memiliki nama lahir Tjia Han Pun ini hanya berujar bahwa mendiang ayahnya adalah pebisis yang andal. Sementara ia mensejajarkan dirinya dengan seorang pebisinis biasa. Namun, ya, begitulah Edwin. Meski sudah tergolong sebagai pebisnis yang andal, ia masih tetap saja rendah hati.

Kasus bangkrutnya Bank Summa (1992), yang membuat keluarga Soeryadjaya harus kehilangan Astra, menjadi pelajaran berharga baginya. Kisah Bank Summa dan Astra, tampaknya, bukan hanya catatan sejarah saja bagi Edwin. Karena kasus ini, konon, hubungan Edwin dan sang kakak Edward Soeryadjaya kurang harmonis. Maklum saja, saat itu Bank Summa dikelola dan dikendalikan oleh Edward. Karena pengelolaan bank yang tidak baik, seluruh keluarga Soeryadjaya harus menanggung risikonya.

Saat itu, menurut Edwin, keluarga Soeryadjaya merasa dihempaskan dari gedung bertingkat yang sangat tinggi. “Saat itu kami mengira, kami sudah mati,” katanya. Namun peristiwa itu tak membuat Edwin putus asa. Bersama Saratoga, kini Edwin sukses berbisnis dalam berbagai bidang. Mulai dari pertambangan, perkebunan, perdagangan, properti hingga manufaktur.

Sebagai anak dari pengusaha terkenal, William Soeryadjaya, Edwin mulai tumbuh dengan bakat berbisnis seperti ayahnya. Ia cukup terampil dalam mengembangkan kemampuannya sebagai pebisnis. Kemampuannya dalam mengelola perusahaan tidak lepas dari usaha kerasnya. Meskipun ayahnya adalah pengusaha terkenal namun, ia tidak segan untuk belajar keras untuk memiliki kemampuan yang sama.

Berbekal dari keinginan kuat itulah akhirnya Edwin berhasil membangun kerajaan bisnisnya. Tak heran bila banyak orang mengatakan, Edwin penyambung kejayaan keluarga Soeryadjaya. Itu sudah dibuktikan dengan menyabet penghargaan Ernst and Young Entrepreneur of the Year.

Kini, yang harus dilakukannya sekarang adalah mulai menyiapkan generasi penerus agar kerajaan bisnis Soeryadjaya tak hanya sampai generasi kedua atau ketiga.
About Saratoga Capital

Saratoga Capital is an Indonesian-based private equity firm established in 1998 by Edwin Soeryadjaya and Sandiaga Uno. The firm targets investment opportunities in Southeast Asia, primarily in Indonesia, in natural resources, infrastructure and distressed buyout opportunities.

Siapa saja sih orang-orang terkaya di negeri ini? Dari angkatan lama ada Sukanto Tanoto, Putera Sampoerna, Eka Tjipta Widjaja, Rachman Halim, Robert Budi Hartono, dan Liem Sioe Liong yang selalu jadi langganan Forbes. Ada juga pengusaha lokal seperti Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro dan yang baru seperti Eddie William Katuari, Trihatma Haliman, atau Chairul Tanjung.

Ada juga beberapa junior seperti Sandiaga Salahuddin Uno dan Patrick S Walujo yang kelak berpotensi menjadi yang terkaya di Indonesia. Sandi adalah Ketua HIPMI dan mantan credit officer Bank Summa. Tahun 1998 Sandi dan Edwin Soeryadjaya mendirikan Saratoga Capital. Mereka mengantongi US$ 1 miliar dan investasinya masuk kemana-mana. Sandi kini juga mengejar proyek Tol Cikampek-Palimanan dan tambang emas Newmont di NTB.

Sedangkan Patrick adalah mantan bankir Goldman Sachs yang kini nahkoda Northstar Pacific. Walau baru 3 tahun, ia sudah mengantongi Alfa Retailindo dan Alfa Mart yang dulu di bawah Sampoerna. Northstar juga memiliki perusahaan LNG dan ladang migas di Sumatera Selatan. Dana yang dikelolanya sekitar US$ 100 juta dan sebagian dari Texas Pacific Group. Mereka juga sedang memburu Garuda Indonesia dan Blok Cepu.

Ada pula Rosan P Roeslani, yang bersama Sandi membangun Recapital Advisors; dan Tom Lembong, yang mengakuisisi BCA lewat Farindo. Recapital mengantongi Bank BTPN dan memenangi tender Dipasena, tambak udang terbesar Asia Tenggara. Sedangkan Tom adalah jebolan Morgan Stanley dan mantan Kadiv Asset Management Investment BPPN yang kini mendirikan Principia (Quvat). Quvat punya US$ 150 juta dan memegang Adaro serta Blitz Megaplex Cinema. Dalam pembelian Adaro; Sandi, Patrick, dan Tom tergabung dalam konsorsium dibantu Edwin dan Teddy; plus Erick Tohir, pemilik Grup Mahaka.

Mahaka sendiri pemegang sahamnya adalah M Lutfi, bekas ketua HIPMI yang jadi Kepala BKPM. Lutfi adalah putra Gunadarma yang sebelumnya adalah menantu Hartarto (Menperin Orde Baru). Bekas istrinya punya sekolah desain, ESMOD, dan istri Lutfi kini adalah Bianca Adinegoro. Ada juga Erick Tohir dan Boy Garibaldi Tohir. Erick sedang menggenjot JakTV bersama Artha Graha Group, sambil memosisikan Republika di 3 besar. Sedang Boy Garibaldi adalah salah satu direktur Adaro. Erick pernah mengatakan bahwa Lutfi dan Wisnu Wardhana tak aktif di Mahaka. Barangkali Wisnu sekarang sibuk mengurus perusahan sekuritas dan pembangunan apartemen di depan BEJ.

Nama lain yang cukup berkibar adalah Hary Tanoesoedibjo dari Bhakti Asset Management dan Global Mediacom. Bhakti pernah sukses membeli Salim Oleochemical dari BPPN. Hary Tanoe pernah mendirikan Indonesia Recovery Company Limited bersama Asia Debt Management. Ia juga dikenal dekat dengan George Soros dan sering dititipi dana investasi para konglomerat papan atas, termasuk Salim. Belakangan Harry dikenal sebagai raja media dengan bendera MNC.

Ada juga rising star grup Axton yang baru memulai bisnis. Pemiliknya konon anak muda berusia 25 tahun yang merangkak dari nol. Mereka mengelola dana investor dengan menerapkan value investing ala Warren Buffett. Sayang saya kurang informasi mengenai mereka. Ada yang bisa menambahkan? Yang jelas, mereka semua adalah anak-anak muda brilian, berlimpah harta, lulusan luar negeri, punya pengalaman segudang, danclosely-related each other.

Bagaimana Mereka Membangun Kekayaan

Keberadaan orang-orang terkaya di sebuah negara penting untuk menggerakkan ekonomi secara agregat dan memberi efek multiplier. Mereka juga bisa menghitamputihkan bangsa, dan bahkan, sampai jadi bahan gosip tak berkesudahan. Mereka jualah yang sebenarnya menggambar cerita masa depan bangsa.

Di Amerika, banyak pengusaha kecil yang kemudian jadi besar. Tengok Google. Mereka punya kapitalisasi di atas Coca Cola (US$ 137 milyar) dan hanya sedikit di bawah Intel. Jaringan ritel Wal-Mart yang dimulai Sam Walton dari nol, kini kapitalisasi pasarnya hampir US$ 200 milyar. Dan yang fenomenal tentu Microsoft dengan kapitalisasi hampir US$ 300 milyar. Kalau tahun 1991 lalu saham MSFT dihargai cuma US$ 5, kini sudah lebih dari US$ 80 per lembar. Angka ini cuma bisa dilampaui Exxon Mobil yang memang sudah mapan lebih dari seabad dengan kapitalisasi US$ 473 milyar.

Iklim investasi di Amerika memang sudah terbangun sedemikian rupa dan tersedia berbagai insentif bagi (calon) wirausahawan yang bermaksud membangun bisnis baru. Berbagai peraturan dan rule of the game juga jelas ditegakkan dan menjamin kelangsungan usaha mereka. Dan memang bisa dikatakan bahwa cukup banyak orang-orang terkaya di Amerika yang memulai usahanya dari nol karena memang dikondisikan demikian. Berbeda 180 derajat dengan di Indonesia.

Di Indonesia, orang-orang terkaya cenderung (maaf) masih rent seeking dan kurang kreatif. Calon orang-orang terkaya masa depan itu berangkat bukan dari bawah. Mereka jago finance, punya linkage dengan funding body di luar negeri—-namun tak punya fondasi industri yang kokoh. Mereka “cuma” pinjam uang ke luar, membeli perusahaan yang dihajar krisis moneter 1997, lalu tinggal menuai panen. Mereka membentuk semacam private equity atau hedge fund untuk memenuhi kebutuhan pendanaan. BPPN atau PPA-lah yang jadi mak comblang tender jual-beli ini.

Namun naluri su’udzon saya bilang bahwa mereka juga berinvestasi di politik. Misalnya, ingat kasus BLBI. Seperti kita tahu, tender biasa dilakukan di Gedung Bidakara, milik BI. Kita juga tahu bahwa petinggi BPPN kebanyakan merupakan keluarga BI. Lucunya, ada salah satu parpol yang juga dekat dengan BPPN dan sering mengadakan hajatan di Gedung Bidakara. Partai tersebut juga mencak-mencak ketika namanya disangkutkan dengan kasus DKP dan mengancam siapapun yang mengungkit dana DKP dengan alasan character assasination. Kalau tidak salah, partai tersebut juga yang meloloskan Anwar Nasution sebagai ketua BPK. Anwar adalah mantan Deputi Gubernur BI dan BPK adalah lembaga superior satu-satunya yang bisa “mengaudit” kinerja BPPN dan BI.

Nah, pertanyaan su’udzon saya, apakah perusahaan-perusahaan murah tersebut memang dijual kepada bidder terbaik dengan harga tertinggi; atau orang-orang terkaya masa depan Indonesia tersebut mendapatkannya lewat cara lain? Silakan simpulkan sendiri.

Tentang Temasek dan Singapura

Yuk beralih sebentar ke Singapura. Temasek, bagi saya, adalah model bisnis yang sangat bagus. Temasek adalah ramuan antara talenta bisnis, visi strategik, dan kekuatan politik yang rancak. Mereka mengumpulkan aset yang nilai intrinsiknya di bawah nilai pasar, lalu dibeli dan dipoles, sampai harganya membumbung tinggi.

Kendati mengendalikan portofolio senilai lebih dari $80 milyar, sejak ditangani Ho Ching tahun 2002, organisasi Temasek bisa dibilang plain dan simpel. Sangat efisien. Temasek cuma punya tiga senior managing director dan delapan managing director. Mereka inilah yang berburu aset-aset strategis untuk dibeli—-terutama di luar negeri. Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang “nampak” kurang sehat dan mengambil dengan proporsi yang sangat besar sehingga memegang kontrol pengambilan keputusan.

Direksi Temasek juga merupakan tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan politik, seperti S Dhanabalan, Kua Hong Pak, Koh Boon Hwee dan Kwa Chong Seng, Lim Siong Guan, Sim Kee Boon, yang sangat berpengaruh dan dipercaya oleh pemerintah. Mereka juga menjadi direktur di perusahaan pemerintah lainnya. Di Temasek, seorang direktur diangkat dan diturunkan atas persetujuan Presiden Singapura. Jelas, operasional Temasek sangat terbantu oleh kekuatan politis ini.

Talenta bisnis orang-orang Temasek juga jempolan. Sebutlah Kua Hong Pak, direktur PSA sekaligus orang dekat Lee Hsien Loong; Goh Yew Lim, direktur Direktur CIMB-GK Pte Ltd; dan tak kalah penting, Ho Ching, mantan dirut SingTel, executive directorTemasek, dan istri Lee Hsien Loong. Temasek juga punya eksekutif dengan latar belakang mumpuni, misalnya Simon Israel (Sara Lee Corporation/Danone), Manish Kejriwal (McKinsey), Frank Tang (Goldman Sachs), Francis Rozario (Citibank). Wajar kalau Temasek selalu dapat yang terbaik: BII, Danamon, Telkomsel, Indosat, atau Astra.

Sayangnya Temasek tak melakukan assessment terhadap risiko politik yang mungkin dihadapi. Temasek terlalu naif berinvestasi hanya dengan melihat aspek finansial—-apalagi masuk di negara berkembang yang sarat dengan gonjang-ganjing politik. Mereka mungkin lupa bahwa jaminan hukum dan iklim bisnis yang kondusif tak selalu ada dan terjaga. Ho Ching juga punya reputasi tukang bikin bangkrut saat membeli produsen harddisk Micropolis sampai nyaris dipecat dari SingTel. Beliau juga membuat blunder terkait dengan pembelian Shin Corp di Thailand baru-baru ini. Ho juga orang yang tertutup, tak bersahabat, dan sulit dimengerti.

Manuver Temasek dan Singapura Sekarang

Temasek kini juga mencengkeram Astra. BusinessWeek menyebut Astra perusahaan terbaik 94 di Asia dan terbaik kedua di Indonesia (setelah Telkom). Lini bisnis Astra juga berkibar di berbagai sektor, sebutlah Astra Agro Lestari, Astra Graphia, Astra CMG Life, Asuransi Astra Buana, Federal International Finance, Astra Credit Company, sampaiBank Permata.

Proses akuisisi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak krisis. Tapi puncaknya mungkin tahun 2003 ketika 39,5% saham Astra dijual BPPN ke konsorsium Cycle & Carriage Mauritius yang dimodali DBS. Mereka kemudian terus menambah kepemilikannya di Astra. Sekarang, 50,11% saham Astra dikuasai Temasek lewat Jardine Cycle & Carriage (JCC)—-perusahaan yang sebenarnya dulu pernah akan dibeli Astra Otoparts. Dengan pendapatan Rp 55 triliun, Astra jadi mesin uang buat Temasek.

Competitive Countries

Yang paling saya “suka” dari Temasek, ia bisa memasuki bisnis agro, otomotif, alat berat, infrastruktur, telekomunikasi, keuangan dan menguasai pangsa pasar yang disentuhnya. Tapi hebatnya, manuver Temasek begitu rapi, bertahap, dan low-profile. Nyaris tak terdengar. Ironisnya, pelaku pasar kebanyakan kurang “ngeh” dengan manuver Temasek. Repotnya lagi, kita lantas terbuai bahwa kalau perusahaan dikuasai imperium Temasek, dijamin pasti bawa untung.

Sejak 2004 Temasek memang banyak berburu di luar Singapura, dan hampir seluruhnya di sektor jasa keuangan dan telekomunikasi. Investasi terbesarnya antara lain BII, Danamon, Bank of China, Stanchart, dan Shin Corp. Silent expansion ini menyiratkan ambisi Singapura untuk menjadi financial hub di kawasan Asia: menguasai perbankan, mengendalikan telekomunikasi. Ke depannya, sektor apa sih yang bisa lebih “hot” dari dua industri itu?

Dan yang tak boleh diabaikan, ingat kasus transaksi derivatif Indosat? Temasek sampai mendatangkan mantan wakil Menteri Pertahanan Amerika untuk melobi pejabat-pejabat Indonesia. Tangan-tangan Temasek juga menggerayangi wartawan untuk mempengaruhi pemberitaan di media. Beberapa kasus yang membuat nama Temasek negatif seperti ini membuat mereka memasang Myrna Thomas sebagai managing director for corporate affairs untuk menetralisir persepsi orang. Belakangan fungsi kehumasan ini dianggap lebih strategis karena mereka memang banyak berekspansi ke luar negeri.

Nama “temasek” sebenarnya mengacu pada “sea town” atau nama purba Singapura. Lucunya, gara-gara sumpah Mahapatih Gajah Mada, Singapura (Tumasik) dulu pernah berada di bawah kekuasaan Nusantara. Sekarang, terlalu naif membandingkan negeri ini dengan Singapura. Walau cuma sebesar Jakarta, Singapura merupakan negara ke-17 terkaya di dunia. Repotnya, kendati mengeruk duit di Indonesia, Singapura terkenalkurang ramah terhadap negara kita.

Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat (Singapura)

Teorinya, membangun negara harus bertumpu pada infrastruktur untuk kemaslahatan umat. Di Amerika, mereka justru pertama-tama membangun rel kereta agar mobilitas rakyat (terutama menengah ke bawah) lancar dan menggerakkan kegiatan perekonomian serta pertumbuhan. Walau dicap kapitalis, mereka sebetulnya sangat berorientasi pada rakyat kecil. Jepang dan Eropa juga demikian. Di Indonesia justru terbalik keadaannya. Kita malah memprogram jalan tol 1000 km dan mengabaikan kereta api. Yang diuntungkan jelas para penggede, bukan rakyat kecil.

Saat sekarang, makroekonomi sudah beranjak pulih. Namun perusahaan-perusahaan bagus milik bangsa ini sudah kadung diambil (mayoritas) oleh Singapura. Sementara pembangunan, seperti tersebut di atas, tak berorientasi ke rakyat kecil. Jadi, lengkaplah sudah kesialan kita. Sementara kita tak sadar malah ber-haha-hihi mengikuti Tukul mengolok-olok diri sendiri.

Lihat ilustrasi berikut.

Di Bawah Ketiak Singapura

Kembali ke orang-orang terkaya tersebut di atas, hubungan Sandi dengan keluarga Soeryadjaya memang sudah sejak lama. Sandi pernah menangani perusahaan Edward (kakak Edwin) di Canada. Sandi dan Edwin pernah membangun situs e-marketingrumah123.com. Boleh jadi Sandi ada di bawah bayang-bayang Edwin. Sedangkan Patrick adalah menantu Teddy Rachmat, mantan petinggi Astra. Rosan P Roeslani adalah teman dekat Sandi. Mereka sangat dekat dengan Astra dan keluarga Soeryadjaya, anak pendiri Astra.

Sementara Astra, kita tahu, sudah dikuasai Temasek. Keluarga orang-orang terkaya lainnya—-baik angkatan lama atau angkatan muda—-juga dekat dengan lingkaran ini. Pendek kata, pemilik aset-aset strategis negeri ini kalau bukan Singapura ya orang-orang Indonesia yang dekat dengan Singapura.

Jadi, salahkah saya kalau berteori bahwa masa depan negeri ini sebenarnya ada di tangan Singapura?

Mudah-mudahan sedikit coretan ini bisa memotivasi pembaca sekalian—-agar tak cuma berpacu mengejar kekayaan, tetapi juga memperjuangkan nation pride. Saya, Anda, siapa pun juga pasti pengen jadi kaya. Masalahnya siapa yang ingin memulai dan siapa yang cuma ingin mengamati, atau ngrasani saja? Jujur saja, saya lebih senang bertransaksi dengan orang kita sendiri; yang jelas-jelas mengembalikan sebagian keuntungannya buat fakir miskin dan anak yatim. Tapi mau gimana lagi?

Saratoga, Titik Bangkit Klan Soeryadjaya?
January 7, 2008 by jarrewidhi
“Making money is art, and working is art and good business is the best art.” Ungkapan filosofis ini bukan keluar dari mulut seorang pebisnis macam Warren Buffet atau typhoon media model Rupert Murdoch. Namun kalimat ini merupakan hasil renungan seniman pengusung aliran Pop Art legendaris, Andy Warhol. Kalimat tersebut diabadikan lewat bukunya, The Philosophy of Andy Warhol (1975) ketika ia dituding mulai meninggalkan idealisme dalam seni.

Ya, bisnis adalah seni, ini sudah pasti dianut oleh para pengelola fulus besar dimanapun. Filosofi ini pula yang dipastikan membuat mereka mampu bertahan di tengah badai kompetisi. Kesenangan pada seni menghasilkan uang ini, membuat mereka yang terjerembab, mampu berusaha bangkit kembali.

Mungkin tepat juga jika frase di atas digunakan untuk menggambarkan geliat bisnis klan Soeryadjaya, yang dulu dikenal sebagai ikon besarnya kelompok usaha Astra Internastional Inc. Kendati para penerusnya tak secara langsung mengamini filosofi tersebut, namun gerak meniti ke arah kebangkitan kembali keluarga Soeryadjaya tak bisa dipungkiri sebagai bagian dari lekatnya seni tadi di keluarga tersebut.

Adalah Edwin Soeryadjaya, putera kedua dari William Soeryadjaya yang kini dipandang tengah giat-giatnya memperbesar kembali tentakel bisnisnya lewat wahana pengelola dana investasi (private equity firm) Saratoga Capital dan Interra Resources yang bergerak di industri pertambangan.Dengan Saratoga, Edwin bersama mitranya Sandiaga Uno kini tercatat menjadi pemilik 33% saham produsen batu bara terbesar kedua nasional, PT Adaro Indonesia lewat PT Dianlia Setyamukti. Di sektor migas, lewat Interra resources Ltd, perusahaannya yang tercatat di bursa saham Singapura, ia memiliki 70% working interest di Technical Assistance Contract (TAC) dengan Pertamina di Tanjung Miring, Palembang.

Tak hanya di dalam negeri, bendera Saratoga juga berkibar di sebuah ladang minyak di Myanmar dan tiga blok eksplorasi seluas 10 km2 di Thailand.Selain itu, Edwin juga lincah memasuki bisnis agribisnis dengan mengakuisisi 8.000 hektare di Agam Sumatera Barat, senilai US$30 juta.

Sebelumnya, Saratoga sudah memiliki perkebunan sawit seluas 25.000 ha di Kalimantan Barat yang sebagian lahnnya telah ditanami, dengan nilai investasi US$70 juta. Saratoga berharap bisa memperluas lahan sawitnya menjadi seluas 100.000 ha dalam waktu dekat.Edwin yang ditemui di markas Saratoga Capital di Jl Teluk Betung, Jakarta Pusat akhir November lalu mengaku bahwa ia lebih tertarik untuk terjun ke bisnis pertambangan dan pertanian. ”Kalau liat opportunity sekarang, kebanyakan masuk di pertambangan dan juga pertanian. Agribisnis kebanyakan yang kami teliti adalah (bisnis) sawit,” ujarnya.

Ia tampaknya ogah untuk masuk ke industri finansial, seperti yang pernah dilakukan abangnya Edward Soeryadjaya di Bank Summa. ”Pada saat ini saya nggak mau,” ujarnya singkat. Yang menarik, sebagai private equity firm Saratoga menerima komitmen dana sebesar US$90 juta dari sejumlah investor yang dipimpin International Finance Corporation (IFC) dan Commonwealth Development Corporation (CDC). Komitmen tersebut termasuk dalam fund Saratoga Asia II LP yang ditargetkan mencapai US$330 juta.

Dikatakan Edwin, komitmen dana sebesar US$ 90 juta tersebut belum final. Ia yakin pada pertengahan tahun depan dana yang terkumpul akan genap sebesar US$ 330 juta. Ia sendiri menolak menyebutkan akan dikelola di sektor apa saja dana kepercayaan investor tersebut. Namun demikian ia menyebutkan minatnya pada bisnis pertambangan batu bara di Vietnam dan eksplorasi migas di Mynmar.
Di luar sektor tersebut, ia juga mengaku tengah mempelajari peluang di sektor jasa pengelolaan pelabuhan. Untuk jasa pelabuhan ini, ia mengaku tengah mempelajari kemungkinan masuk ke proyek pengembangan pelabuhan Bojanegara di Banten. “Tapi itu masih dalam studi Saratoga” tandasnya.Soal kecenderungan pilihan investasi di sektor pertambangan, migas dan infrastruktur ini juga sempat diungkapkan Sandiaga Uno, presdir Saratoga Capital. “Infrastruktur memiliki potensi yang amat besar untuk dikembangkan, seperti pembangunan jalan tol. Kita memang punya minat di sana,” ujar Sandi yang juga ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia.

Bicara kepercayaan dari para investor, menurut Edwin itu bukan diperoleh karena nama besar klan Soeryadjaya. Awalnya, kata penyuka suara serak Rod Stewart ini, para investor meragukan kemampuan Saratoga dalam mengelola dana seperti halnya satu lembaga fund. “Dia (investor) bilang, kamu punya track record baik dan melakukan sesuatu sebagaimana suatu fund di-manage. Tapi sebagai satu fund kalian belum pernah lakukan itu,” paparnya.
Para investor, lanjut Edwin, sempat meminta Saratoga mengurangi target pengumpulan dana yang dilakukan tahun lalu. Untuk itu ketika roadshow Saratoga Capital ke beberapa negara pada September 2006, Saratoga ‘hanya’ berhasil mengantongi US$300 juta dari target perolehan dana US$ 500 juta.Hingga tahun 2004, saratoga Capital tercatat telah mengelola dana sekitar US$ 452 juta, dan memasuki tahun 2006, dikatakan Edwin dana yang dikelola sudah mendekati US$ 500 juta. “Angkanya masih sekitar itu, karena kan ada investasi yang sudah didivestasikan, atau dikembalikan kepada para investor beserta keuntungannya,” kata Edwin.

Dari total dana kelolaan tersebut, Edwin mengaku tidak terlalu ingat berapa dana yang murni dimiliki oleh Saratoga. Namun ia menyebut sekitar 15% merupakan dana milik Saratoga, serta keuntungan yang diperoleh dan ditanamkan kembali di perusahaan.Sejauh ini, investor memang tertarik dengan return sebesar 13% – 15% yang ditawarkan oleh Saratoga.

Apalagi dana mereka dialokasikan ke sektor-sektor yang memiliki potensi return tinggi. Seperti pertambangan yang nilainya terus meroket mengikuti tingginya harga minyak mentah.Salah satu rumor yang beredar malah menyebut sebuah perusahaan pertambangan asal Cina, Shenhua Corp kini tengah memburu saham Saratoga di PT Adaro Indonesia.

Namun Edwin membantah berita tersebut. “Saya nggak tahu kok soal Shenhua,” cetusnya. Ketika ditanya kemungkinan ia bersama Saratoga Capital dan Interra Resources berpeluang mengembalikan kejayaan keluarga Soeryadjaya, Edwin mengaku tak punya keinginan untuk menyamai kemampuan ayahnya.

“Ayah saya memang legenda, tapi saya hanya melakukan apa yang saya bisa, dan terbaik buat saya,” ujarnya merendah.

Sementara itu pengamat investasi Rhenald Kasali mengatakan, lembaga pengelola dana seperti Saratoga bisa menjadi sarana investor untuk membiakkan dana diluar instrumen pasar modal. Sementara di sisi lain, untuk negara seperti Indonesia, ia bisa menjadi semacam saluran masuk dana investasi ke dalam negeri. Rhenald menilai lembaga pengelola dana di Indonesia punya potensi besar untuk berkembang, karena sasaran investasinya yakni Indonesia sendiri masih memiliki sumber daya yang potensi pertumbuhan yang tinggi.

(Naskah pra edit, dipublikasikan di majalah Investor pada Desember 2007)

Indonesian Private Equity Saratoga Capital Interview
Thu, 5-Mar-2009
CNBC interview on March 5, 2009 with Sandiaga Uno, CEO of Saratoga Capital, which covers the following topics:

Difference in the Asian financial crisis and today’s financial crisis
Less than 30% of Indonesia’s GDP is export-related
Investment opportunities and timing given the financial crisis
Challenges of private equity due to credit crisis
Sector opportunities

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: