mandala @ADR0 … 1602201empat


Runtuhnya Bisnis Maskapai

Oleh: Latihono Sujantyo
ekonomi – Sabtu, 15 Februari 2014 | 08:03 WIB

INILAHCOM, Jakarta– Musim gugur bisnis maskapai nasional mulai tiba. Setelah Merpati Airlines menutup sejumlah rute penerbangan dan berhenti beroperasi sementara, kini giliran Tigerair Mandala melakukan hal sama. Maskapai yang sebelumnya bernama Mandala Airlines ini menutup beberapa rute di Jakarta, Pekanbaru, Denpasar, dan Surabaya.

Penutupan beberapa rute tersebut dimulai sejak Februari hingga April nanti. Penyebabnya, menurut Lucas Suryanata, Public Relation Manager Tigerair Mandala, lantaran tingginya mata uang dolar AS dan naiknya harga avtur.

Menurut Lucas, sekitar 60%-70% pengeluaran PT Tigerair Mandala dibayar dalam bentuk dolar AS. Itulah kenapa, Mandala tak ingin memaksakan beroperasi untuk rute tertentu. Sebab, jika itu dilakukan, katanya, beban operasional bisa membengkak.

Ini merupakan kedua kalinya Mandala menutup rute penerbangannya. Seperti diketahui, pada 13 Januari 2011, sebelum berubah menjadi Tigerair Mandala, maskapai ini menghentikan operasi penerbangan selama 45 hari akibat terlilit utang sebesar Rp 2,4 triliun. Waktu 45 hari tersebut dimanfaatkan untuk merestrukturisasi kewajiban utang Mandala.

Singkat cerita, Mandala mendapatkan penolong untuk menyuntikan dana melalui penjualan saham. Komposisi pemilik saham kemudian berubah, yakni Grup Saratoga 51,3% saham, Tiger Airways 33%, sisanya 15,7% dimiliki pemilik saham sebelumnya serta kreditor Mandala.

Mandala yang baru selanjutnya mengadopsi model bisnis Tiger Airways dan menawarkan tiket perjalanan tarif murah ke tujuan domestik serta internasional di dalam radius terbang 5 jam.

Seperti halnya maskapai penerbangan Grup Tiger Airways lainnya, Mandala akan mengoperasikan pesawat Airbus A320. Rute penerbangan pertama Mandala adalah Jakarta-Singapura-Medan dan Jakarta-Singapura-Denpasar. Mandala tetap membidik pasar penerbangan murah, seperti segmen pasar sebelumnya.

Sesungguhnya tak hanya Mandala yang mengalami kondisi demikian. Sebab, ternyata hampir semua maskapai merasakan dampak kenaikan harga avtur yang dipicu melemahnya nilai tukar rupiah.

Lihat saja nasib yang dialami PT Citilink Indonesia.Kinerja Citilink sepanjang 2013, jauh dari harapan. Anak unit usaha PT Garuda Indonesia Tbk ini mencatat kerugian hingga US$ 48,4 juta atau sekitar Rp 589 miliar sepanjang 2013. Sementara pendapatan yang diperoleh hanya US$ 273,4 juta.

Anjloknya kinerja Citilink, diakui Direktur Keuangan Garuda Indonesia Handrito Hardjono. “Ini sebagai akibat pelemahan rupiah di semester II 2013. Saat itu, pendapatan dihitung dengan nilai rupiah, padahal biaya operasional menggunakan dolar,” kata Handrito.

Entah karena hal itu atau bukan, Garuda tengah mencari investor strategis untuk menjual 40%-49% sahamnya di Citilink. Aksi korporasi tersebut akan direalisasikan sebelum semester I/2014 berakhir.

Masalah lebih hebat juga sedang dialami Merpati. Maskapai pelat merah yang dililit utang Rp 6,7 triliun ini telah meniadakan penerbangan mulai 1 sampai 5 Februari 2014. Selain itu, semua izin penerbangan Merpati akan dihentikan hingga akhir Februari 2014. Langkah tersebut diambil karena pendapatan maskapai semakin menurun seiring dengan rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat.

Sebelumnya, untuk menekan biaya operasional, Merpati sudah mengurangi rute penerbangan sejak 27 Januari 2014. Maskapai ini punya beberapa masalah, antara lain tanggungan asuransi yang harus dilunasi pada 11 Februari 2014 dan 28 Februari 2014, serta sistem reservasi harus dibayar pada 31 Januari 2014 lalu.

Selain itu, ada tuntutan gaji yang harus dipenuhi, ketidakmampuan membeli bahan bakar, dan pengembalian uang tiket yang tidak sedikit. Kasihan sekali. (lat)
Selain Merpati, 2 Maskapai Penerbangan Ini Juga Sedang Goyang
Wiji Nurhayat – detikfinance
Sabtu, 08/02/2014 13:17 WIB

Jakarta -Pihak Kementerian Perhubungan menyatakan, selain PT Merpati Nusantara Airlines, ada dua maskapai penerbangan lain yang saat ini kondisinya sedang goyang karena persoalan keuangan.

“Seperti Sky (Sky Aviation),” ungkap Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bhakti dalam diskusi ‘Polemik’ di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (8/2/2014).

Untuk Sky Aviation, Herry tidak mengatakan alasan yang detil mengapa maskapai ini goyang dan bermasalah. Herry hanya mengatakan, ada persoalan internal perusahaan. Pemegang saham Sky Aviation menurut Herry, tidak mendukung rencana pengembangan maskapai ini.

Lalu maskapai lain yang sedang bermasalah adalah Mandala Tigerair. Menurut Herry, Mandala saat ini sudah menutup beberapa rute penerbangan yang tidak menguntungkan. agar lebih efisien.

“Mandala itu ada di internalnya dan tidak mungkin ia terbang dengan merugi dan memilih rute-rute yang tidak merugi. Daripada ruginya cukup besar jadi ditutup dulu. Sebetulnya maskapai yang bisa bertahan saat ini adalah yang bisa lebih efisien dan, kondisi baik di internal perusahaan dengan persaingan maskapai sekarang yang cukup ketat,” sebutnya.

(wij/dnl)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: