energi terbarukan: BIOga$, neh … 2011_201113


BBN Bisa dari Pengolahan Limbah Pangan

Oleh: Wiyanto
ekonomi – Selasa, 19 November 2013 | 15:31 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan pembuatan Bahan Bakar Nabati (BBN) bisa menggunakan limbah pangan.

Hasil penelitian tersebut guna mencegah kompetisi bahan pangan yang dikonsumsi dengan bahan baku BBN. Nur Richana, Profesor Riset Balai Besar Paska Panen Badan Penelitian Kementan mengatakan bahan baku BBN yang berasal dari limbah pangan lebih murah lagi biayanya.

“Selanjutnya agar tidak berkompetisi dengan pangan, nanti akan menggunakan limbah tanaman. Kita sudah membuat dari bongkol jagung kemudia penelitian limbah ampas lira sorgum, limbah tebu dan jagung serta limbah kelapa sawit,” ujar Nur usai International Conference on Agrcultural Postharvest Handing and Processing Technogy as the Backbone of Tomorrow’s Green Economy di Jakarta, Selasa (19/11/2013).

Menurut Nur, memproduksi BBN dengan bahan limbah pangan menjadi rencana strategis pihaknya. Namun untuk saat ini masih menggunakan bahan pangan. Nur menyebutkan salah satu bahan pangan yang dapat menjadi BBN adalah ubi kayu.

“Kalau ubi kayu butuh empat kilo untuk satu liter. Sebenarnya lebih ngirit untuk mobil juga pernah dicoba, ini dari ubi kayu,” jelasnya. [hid]
Mengubah Sampah Menjadi Lahan Usaha
Sabtu, 16 November 2013 | 09:29 WIB

Rhenaldi Kasali
KOMPAS.com – Kewirausahaan pada dasarnya adalah kegiatan perubahan. Dan perubahan dengan basis kewirausahaan berawal dari pandangan bahwa setiap masalah adalah peluang.
Jadi kalau Anda suka dengan perubahan, cobalah melakukannya dengan memecahkan masalah sampah di lokasi Anda tinggal. Semua masalah perubahan ada di sana: Ya kebiasaan, masalah sosial, mindset, resistensi warga, permainan oknum aparat pemda, keterlibatan agen-agen perubahan, sampai pengorbanan, biaya dan kreativitas untuk menjadikannya peluang usaha.
Jadi ini bukan hanya masalah gubernur DKI yang lagi mumet mengatasi banjir dan kemacetan lalu lintas di DKI. Ini masalah semua orang lain dari Pelabuhan Malahayati di Banda Aceh,Sinabang di Pulau Siemeleu, Danau Toba, Pantai Kuta, Banjarmasin, Danau Jikumerasa di Pulau Buru sampai Manado dan Merauke. Semua kota, danau dan sungai-sungai itu telah tercemar oleh sampah. Dan yang terbanyak adalah botol plastik AMDK dan sachet shampoo.
Bila dulu 80 persen sampah adalah organik, kini sebaliknya, 80 persen sampah adalah plastik dan kemasan anorganik yang sulit diurai oleh tanah. Padahal semua itu adalah biomas, bahan bakar yang bisa dipakai buat menggerakkan PLTU, dan tungku-tungku api di berbagai pabrik yang kalorinya hanya berbeda 10-20 persen dari batubara.
Sampah Pasar

Harus diakui metode penanganan sampah kita tak ada kemajuan sejak 40 tahun yang lalu meski UU pengolahan sampah sudah harus dijalankan. Sejak 40 tahun yang silam, semua pemda hanya fokus menyangkut sampah dari pasar, yaitu pasar tradisional ke TPA yang terbuka.
Ya, hanya di pasar becek itulah kita menemukan bak besar penanganan sampah. Itupun hanya satu-dua buah bak sampah. Warga masyarakat yang tak punya tempat pembuangan pun mengorganisir diri. Membayar lewat RT/RW yang lalu mencari orang yang biasa mengangkut dengan gerobak dorong. Di sana Pemda absen, atau membiarkannya menjadi obyekan para oknum.
Sampah-sampah itu dibuang ke dalam bak semen yang terletak di bagian luar rumah, lalu petugas menyeroknya dengan menggunakan garpu besar dan pacul. Karena bingung, maka mereka pun mencari lahan-lahan kosong yang bisa dijadikan area pembuangan. Biasanya di tepi kali. Kalau hujan turun, sampah pun hanyut, lalu menumpuk di muara (Jakarta). Sebab kalau membuang di bak pasar, mereka dikenakan ongkos oleh mantri pasar.
Di pasar sendiri, daya tampungnya semakin hari semakin tak memadai. Ratusan orang bersepeda motor, setiap hari membuang satu-dua kantong plastik berisi sampah dari kampung-kampung yang tak mempunyai sistem pengangkutan sampah.
Jadi 700 truk angkut sampah di DKI itu adalah pengangkut sampah pasar saja. Lantas siapa yang mengani sampah di wilayah perumahan?
Ketua RT/RW yang cerdik pun mencari akal mendekati mobil-mobil dinas kebersihan milik pemda. Mereka melakukan deal. Keputusannya, sampah diangkut setiap hari.
Masalahnya, sekarang jalan-jalan semakin macet. Jam untuk perjalanan truk keluar-masuk dalam kota kini dibatasi. Di TPA pun truk-truk sampah harus antri, macet. Akibatnya truk-truk itu semakin lamban beroprasi dan sampah di daerah perumahan semakin tak terurus. Dari tiga rit zaman dulu, kini truk-truk sampah hanya bisa mengangkut satu rit sampah sehari.
Tapi tahukah anda, masih ada satu masalah lagi: bak semen. Ini bak sampah yang ada di depan rumah-rumah kita. Bak itu tak bisa diangkat seperti layaknya bak-bak pelastik. Jadi perlu waktu untuk memindahkannya ke dalam truk.

Seorang teman pernah berhitung. Ternyata perlu waktu 6 menit untuk mengorek habis sampahnya dan diangkut. Jadi dengan perjalanan keliling perumahan, dalam 1 Jam, paling banyak hanya sampah dari 10 buah rumah yang bisa diangkut. Kalau petugas beroperasi 4 jam, artinya hanya separuh RT (40 KK) yang sampahnya bisa diangkut. Sekarang anda mengerti bukan, mengapa sampah-sampah anda hanya diangkat seminggu sekali.
Dan kalau satu rumah membayar Rp 30.000 (sebulan) untuk biaya kebersihan, berarti untuk satu RT (80 KK) hanya didapat Rp 2,4 juta sebulan atau Rp 80.000 per hari. Ini jelas tak menarik bagi petugas yang ngobyek atau bisnis angkutan yang menggunakan truk. Kalau satu RW saja ada 800 warga, berarti didapat Rp 24 juta. Itupun 10 persen warga biasanya tak mau membayar. Namun kalau perumahan kelas menengah, biasanya bersedia membayar lebih.
Nah ongkos sewa truk saja sebulan bisa mencapai Rp 10 juta, belum termasuk biaya bensin, upah buruh, dan ongkos buang. Itupun tidak bisa setiap hari diangkut. Jadi bayangkanlah, apa yang akan dilakukan masyarakat selain membuang sampahnya ke tanah-tanah kosong di tepi-tepi kali?
Bisnis Sampah
Sekitar sepuluh tahun yang lalu Rumah Perubahan pernah menaruh perhatian yang serius terhadap masalah sampah. Kami memperkenalkan wirausaha-wirausaha baru yang mengolah sampah lingkungan. Salah satunya berhasil membuat mesin pencacah skala satu kelurahan.
Tetapi masalahnya, diperlukan change management yang kuat untuk menjalankannya. Namun sebagian pengusaha cenderung tak berani melakukannya. Mereka hanya melakukan business as usual.
Jadi, pertama, harus ada keinginan dari warga agar sampahnya diurus orang lain, namun mereka harus rela membayar biayanya.
Kedua, bak-bak semen harus diganti dengan ember-ember plastik besar dengan cara lima – enam rumah memakai satu bak sampah besar. Ketiga, sampah-sampah itu diangkut dengan baktor yang biaya angkutnya murah dan bisa menembus kampung,
Keempat, harus ada sepetak tanah ukuran sekitar 100 meter persegi yang dialokasikan untuk mengolah sampah masyarakat untuk mencacah dan memilah.
Dan kelima harus ada wirausaha yang mau mengotori tangan menjalankan bisnis ini.
Nah, dimana Change-nya?
Begini. Saat program dimulai Anda akan bertemu banyak hambatan. Ada warga yang tak mau membayar, lebih senang membuang secara cuma-cuma daripada diurus orang lain. Ada banyak orang yang tak ingin bak semennya diganti, dan kalau diganti bak plastik, mereka tak ingin bak itu ditaruh di depan rumah mereka.
Anda mungkin akan menemukan bak-bak itu hilang digotong orang, atau sampah dan bak plastiknya dibakar orang-orang tertentu. Ketika kucing atau pemulung mengorek-ngorek sampah dan berceceran di luar bak, mereka yang depan rumahnya dijadikan tempat peletakkan bak plastik bersma a mudah tersinggung dan minta agar bak itu dipindahkan. Setelah itu Anda akan bertemu dengan ketua-ketua RT yang minta bagian uang sampah, bahkan mereka minta hak untuk mengumpulkannya, tetapi seringkali menunggak penyerahannya kepada Anda.
Ini baru sedikit masalah. Setelah itu Anda akan diprotes warga yang tinggal di dekat tempat pengolahan sampah. Mereka akan mengatakan “Sampah ini bau” dan mengganggu keluarga mereka. Mereka juga menuding, air tanahnya tercemar. Di tambah lagi, akan datang aparat dari kecamatan atau kotamadya yang mempersoalkan “izin pengelolaan sampah” yang tak pernah Anda ketahui.
Tapi jangan berkecil hati. Semua itu ada solusinya. Saya sendiri sudah menjalakannya dan melewati masa-masa yang lebih sulit dari yang bisa diceritakan. Dan jangan lupa, di balik itu semua ada peluang bisnis yang besar. Bau yang menyengat pun tak terjadi. Semua bisa diatasi asal anda tekun.
Seperti apa peluangnya, nanti saya lanjutkan.
BANK DUNIA INGINKAN INVESTASI ENERGI TERBARUKAN DIPERBANYAK
Oleh Ihsan – Rubrik Energi
13 November 2013 22:00:00 WIB

WE.CO.ID – Bank Dunia menginginkan investasi energi terbarukan diperbanyak untuk mengatasi berbagai permasalahan global yang terjadi di dunia seperti bencana yang kerap terjadi akibat perubahan iklim.

“Lebih banyak investasi dalam energi terbarukan, sumber energi yang lebih bersih, setiap orang setuju kita dapat melakukan itu sekarang,” kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, lebih banyak investasi energi terbarukan akan meningkatkan lebih banyak lagi kota yang dapat dihuni di dunia karena bakal mengurangi jejak karbon misalnya dengan menggunakan sumber energi bersih untuk menyediakan kebutuhan tenaga listrik dasar.

Di Indonesia, LSM Forum Masyarakat Sipil untuk Keadilan Iklim (CSF-CJI) mendesak pemerintah RI untuk tidak lagi mengandalkan bahan baku fosil untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

“Kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk tetap mengandalkan pemenuhan 85 persen kebutuhan energi nasional dari bahan bakar fosil hingga dekade mendatang adalah kebijakan yang keliru,” kata Koordinator Nasional CSF-CJI Mida Saragih di Jakarta, Selasa (22/10).

Pemerintah dalam dekade mendatang telah menetapkan bahan bakar fosil sebagai sumber energi dominan, dan sebagai pangsa terbesar dalam campuran energi (“energy mix”), di antaranya 85 persen bersumber dari bahan bakar fosil yaitu batubara, minyak dan gas bumi.

Mida mengkritik bahwa ketetapan “energy mix” yang tertuang di dalam Peraturan Presiden tentang Kebijakan Energi Nasional No 5 Tahun 2006 berpotensi meningkatkan emisi gas rumah kaca.

“Eksploitasi energi fosil tersebut dapat meningkatkan emisi dari sektor energi, berkontribusi dalam kenaikan suhu global dan ini praktis bertubrukan dengan komitmen politik Presiden SBY dalam implementasi penurunan emisi gas rumah kaca nasional,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik menyatakan potensi energi terbarukan di Indonesia yang melimpah belum dimaksimalkan penggunaannya.

“Salah satu contoh adalah energi panas bumi yang potensinya mencapai 30.000 Mega Watt, namun baru dipergunakan 1.300 MW saja,” kata Jero saat memberikan sambutan pada “Bali Energy Charter Conference” di Kuta Bali, Kamis (19/9).

Jero mengatakan, untuk potensi lainnya adalah energi biomassa yang mencapai 50.000 MW, dan baru dipergunakan 1.600 MW, energi angin dengan potensi 9.300 MW dan baru dipergunakan 2 MW saja, energi air memiliki potensi 70.000 MW, sementara energi matahari baru dipakai sebanyak 23 MW. (Ant)

Foto : wikimedia.org
JUM’AT, 25 OKTOBER 2013 | 18:23 WIB
Menristek Canangkan Desa Mandiri Energi

TEMPO.CO, Purwokerto – Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, selama ini dikenal sebagai sentra perajin tahu. Limbah yang dihasilkan pun melimpah dan membuat pencemaran lingkungan. Padahal, limbah tahu bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar biogas.

“Desa Kalisari bisa menjadi desa percontohan mandiri energi,” kata Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta saat melihat instalasi pengolahan air limbah di Desa Kalisari, Jumat, 25 Oktober 2013.

Hatta mengatakan, gas metana yang dihasilkan dari pembuatan tahu merupakan salah satu penyumbang terbesar efek rumah kaca. Selain itu, industri tapioka juga menjadi penyumbang emisi gas buang, yang menyebabkan pemanasan global.

Di Indonesia, kata dia, tercatat ada 84 ribu unit usaha pembuatan tahu. Dari jumlah itu, sebesar 80 persen berada di Pulau Jawa.

Hatta menambahkan, dari 84 ribu unit usaha tahu itu, kebutuhan bahan baku kedelai per tahun mencapai 2,56 juta ton. Total emisi gas buang yang dihasilkan industri itu mencapai 747 ton gas karbon dioksida. “Gas ini lebih banyak dibandingkan industri besar, seperti semen, baja, dan kertas,” katanya.

Saat ini, di Desa Kalisari, sudah dibuat empat unit reaktor biogas memanfaatkan limbah industri tahu. Desa tersebut menjadi percontohan di Indonesia sebagai desa mandiri energi.

Dadan Kusdiana, Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan Kementerian sudah membangun sekitar 10.300 unit reaktor biogas. “Tapi umumnya reaktor untuk sapi, untuk tahu baru lima lokasi ini,” katanya.

Menurut dia, limbah tahu mengandung 16 ribu milligram liter COD. Jika tak ditanggulangi, limbah itu bisa merusak lingkungan.

Bupati Banyumas Achamd Husein mengatakan, jumlah perajin tahu di Desa Kalisari saat ini mencapai 591 unit. Jumlah kedelai yang diolah mencapai 5.116 ton. “Jumlah limbah perhari mencapai 36 ribu liter,” katanya.

Menurut dia, jika gas buang itu dimanfaatkan, kebutuhan gas untuk masak-memasak di 623 rumah bisa dipenuhi. “Masyarakat bisa menikmati energi gratis,” katanya.

Sri Utami, 37 tahun, warga Desa Kalisari, mengatakan dengan adanya reaktor gas itu, ia tak perlu membeli elpiji untuk memasak. Selain itu, bau busuk akibat limbah tahu kini tak tercium lagi. “Lingkungan lebih bersih dan tak perlu lagi membeli elpiji,” katanya.

ARIS ANDRIANTO
Belajar Teknologi Biogas dan Pertanian Alami.
Di kampung halaman, Pak Tuah, Pak Jorong, dan Tek Malih pernah membuat gas sederhana menggunakan drum. Tapi
di Lembaga Pengembangan Teknologi Berbasis Masyarakat (LPTP) Kayen, Yogyakarta, mereka menyaksikan instalasi
gas permanen yang sangat menarik. LPTP mengembangkan tiga jenis biogas berdasarkan sumber penghasil gas, yaitu
biogas dari kotoran manusia, kotoran ternak, dan limbah tahu. Di kantor LPTP telah terpasang sebuah instalasi biogas
dari kotoran manusia. Mereka memanfaatkannya untuk memasak, kulkas, penerangan dan pemanas air. Risiko
kebakaran dan ledakan juga rendah.
“Pada prinsipnya pembangunan instalasi biogas untuk segala jenis kotoran sama, yang membedakan hanya jenis
pembuangannya saja,” jelas Nining Community Organizer yang mendampingi Jorong Gantiang Koto Tuo, Sumatera
Barat. Instalasi biogas dari kotoran manusia lebih rumit dibandingkan bangunan biogas dari limbah lainnya. “Kotoran
manusia mengandung unsur-unsur yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Sehingga dibutuhkan bak-bak
penyaringan untuk menyaring ampas buangan tersebut sebelum di salurkan ke sungai”.
Untuk membangun sebuah instalasi biogas (Biodigester) yang bisa memenuhi kebutuhan energi rumah tangga, sebuah
rumah tangga harus memiliki minimal 3 ekor sapi. Energi dari tiga ekor sapi ini bisa dimanfaatkan untuk memasak,
memanaskan air, penerangan (lampu petromaks) dan untuk lemari pendingin

Biogas  theory

Home Page

../spaceteacher/Bienvenue.html ../spaceteacher/Bienvenue.html

shapeimage_3_link_0

Biomass

Bio_intro.html

To download the theory

Biogas – an energy source of growing importance

Soon there will be 8 billion people living on our globe. This is an incredible number thinking that only one hundred years ago there were not even 2 billions!. Mankind has grown tremendously and so have some problems. By producing biogas we could fight two major problems of mankind.

Two problems of a growing mankind. The first is the growing amount of waste we produce – including also organic waste. When organic waste rots, it sets free CO2 and methane. Both gases are known to be greenhouse gases, which means, they make our earth warmer. And second, our modern society depends on the energy of fossil fuels such as oil, gas or coal. These fuels are limited and might be used up soon. Using them always means burning them, which again leads to a higher amount of CO2 in the atmosphere.

Biogas as a solution. Biogas is made of organic waste or agricultural crops especially grown for that purpose. Thus it reduces the amount of waste in our landfills. Biogas is also a powerful fuel, which can help to satisfy our energy needs in a sustainable and CO2 neutral way.

Production of biogas- If you produce biogas, you let biomass rot in the absence of oxygen. Under these “anearobic” conditions organic matter rots with the help of microorganisms to produce biogas. It is a mixture of methane CH4 (75-50%) and carbon dioxide CO2 (25-50%) and can be burned to carbon dioxide and thereby energy is produced.

Raw material for biogas production. Biogas can be made of almost any kind of organic material.
– organic wastes of cities, sewage sludge
– industrial waste water
– waste water of cities
– organic wastes of farming (straw, leaves , manure…)

Production of biogas from agricultural organic wastes. Biogas from organic farming wastes is usually produced in fermenters (also called digesters). Those are big containers in which the wastes are decomposed by bacteria in an atmosphere without oxygen. In Germany there are about 3000 such “mini plants”, in Austria there are about 120. Almost all of them use the biogas to produce heat and electricity. The biogas is used to run a motor that produces electricity in the first place and heat as a by-product.

https://i0.wp.com/www.spaceteacher.org/Biomass/biogas_theory_files/droppedImage.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: