adro, pgas, bumi DIAJUKeN … 180613


Saatnya masuk ke saham-saham batu bara dan energi
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Selasa, 18 Juni 2013 | 03:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Para pemodal dinilai sudah saatnya masuk ke saham-saham batu bara dan energi di tengah fluktuasi tajam IHSG. Apalagi, arah tren harga minyak adalah penguatan. Seperti apa?

Pengamat pasar modal Irwan Ibrahim menyarankan dalam situasi ini indeks saat ini yang fluktuatif, masuklah ke saham-saham batu bara dan energi. Saham-saham tersebut, kata dia, sudah turun tajam sehingga potensi turun lagi sudah terbatas.

Dia merekomendasikan long term buy saham-saham di sektor itu. Kalaupun turun sahamnya, tidak akan rugi banyak karena sahamnya sudah jatuh saat ini. Untuk trader jangka pendek, buy on weakness saham-saham itu. “Apalagi, harga batu bara dan harga minyak, trennya naik saat ini,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Senin (17/6/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat 17,97 poin (0,38%) ke posisi 4.778,711. Intraday terendah 4.751,619 dan tertinggi 4.804,503. Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp309,3 miliar dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net buy.

IHSG melanjutkan pengutan ke 4.778. Bagaimana Anda melihat arahnya hingga akhir pekan ini?

Laju IHSG dalam sepekan ke depan, pasar masih menunggu perkembangan dari bursa regional. Dari dalam negeri menanti penaikan harga BBM bersubsidi. Sebab, fluktuasi yang tajam di pasar modal dan juga nilai tukar rupiah, lebih dipicu oleh faktor regional atau pasar global.

Tapi, kalau melihat Dow Jones Industrial Average (DJIA), itu tidak merosot tajam dan masih di atas level psikologis 15.000. Kemungkinan dalam sepekan ke depan, jika mengacu pada sentimen global, IHSG berpeluang fluktuatif liar dalam kisaran yang lebar. Liarnya indeks bisa dilihat pada Jumat (14/6/2013) yang naik tajam tapi regional kenaikannya normal saja. Padahal, Nikkei sebelumnya anjlok hingga di atas 6% tapi kenaikannya 1,94%. Hanya IHSG yang naik hingga 3,3%.

Level support dan resistance IHSG?

Dalam sepekan ke depan, support indeks berada di level 4.510 dan resistance psikologis 5.000. Saya melihat, dalam tiga hari perdagangan terkahir di pekan lalu, IHSG diintervensi, terutama pada Rabu (12/6/2013) yang pada sesi dua, langsung ditarik ke atas tinggi sekali. Padahal, bursa regional anjlok.

Akhir pekan lalu dan awal pekan pun berlanjut ditervensi sehingga kenaikannya terlalu tinggi. Yang diintervensi antara lain seperti PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP), PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA), dan PT Bank Mandiri (BMRI). Padahal, sebelumnya pada saham-saham itu banyak short position.

Bisa dielaborasi soal intervensi?

Fund-fund manager pemerintah yang merupakan pemegang saham besar BUMN melakukan intervensi termasuk juga fund manager dari bank-bank besar. Tanpa intervensi, seharusnya IHSG jatuh ke 4.000. Sebab, yang jadi sentimen negatif di bursa global adalah rencana bank Sentral AS, The Fed yang terlalu lama mempertahankan suku bunga rendah. Mau tidak mau, The Fed akan menaikan tingkat suku bunga, kalau bukan Desember 2013, Februari 2014.

Fed mengagendakan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 18-19 Juni 2013 di mana The Fed akan memberikan sinyal penaikan suku bunga. Tapi, kenaikan suku bunganya mungkin Desember atau Februari. Fed rate sudah terlalu lama di bawah.

Apa implikasinya jika suku bunga The Fed naik bagi pelaku pasar saham?

Pertama, jika suku bunga The Fed naik, otomatis orang akan mengalihkan sebagian dananya dari equity ke fixed income sehingga terjadi tekanan jual yang hebat di bursa saham. Sebab, yield fixed income lebih tinggi. Kedua, kebanyakan orang bermain di saham, uangnya minjem ke bank. Punya uang 70% dan 30%-nya dari pinjaman. Apalagi untuk pemain margin. Bunga margin akan tinggi seperti cost of holding equity. Biaya menyimpan saham akan naik jika suku bunga naik. Karena itu, semua orang melepas saham. Sebab, sudah tidak imbang lagi antara perhitungan main di saham dengan biaya yang harus dikeluarkan, terutama untuk pemain janka pendek.

Apa saran Anda untuk para pemodal?

Yang harus diwaspadai oleh para pelaku pasar adalah indeks Dow Jones. Jika masih bertahan di level 15.000, masih aman. Tapi, jika anjlok 200 poin ke bawah 15.000, risiko perdagangan pada IHSG juga akan tinggi dalam sepekan ke depan. Sebab, dalam sepekan ke depan, Dow Jones pun kemungkinan fluktuatif dalam kisaran lebar juga.

Selain faktor Dow Jones?

Dari regional juga harus diperhatikan pergerakan di pasar uang. Yang bahaya, jika rupiah melemah ke atas 10.000, IHSG akan kembali babak belur. Jika melihat kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah masih di bawah 10.000. Tapi, kalau melihat Non-Delivery Forward (NDF) dan Delivery Forward, rupiah 2-3% berada di atas kurs tengah BI. Karena itu, rupiah sempat mencapai 10.400 di NDF. Jika rupiah kembali ke 10.400, berbahaya bagi IHSG karena sentimen negatif dari nilai tukar rupiah.

Pelemahan rupiah salah satunya dipicu oleh faktor politik yakni PKS yang keluar dari koalisi soal penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Jika PKS keluar, yang dominan di koalisi adalah Golkar sehingga yang mengambil keputusan penting nantinya adalah Golkar. Ini yang dikhawatirkan pasar.

Saham-saham pilihan Anda?

Dalam situasi ini, untuk saham-saham pilihan, masuklah ke saham-saham batu bara dan energy seperti PT Bumi Resources (BUMI), PT Adaro Energy (ADRO), PT Bayan Resources (BYAN), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Medco Energy (MEDC), dan PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA). Sebab, saham-saham tersebut sudah turun tajam sehingga potensi turun lagi sudah terbatas.

Bagaimana strategi pada saham-saham tersebut?

Saya rekomendasikan long term buy saham-saham tersebut. Kalaupun turun sahamnya, tidak akan rugi banyak karena sahamnya sudah jatuh saat ini. Untuk trader jangka pendek, buy on weakness saham-saham itu.

Apalagi, harga batu bara dan harga minyak, trennya naik saat ini. Harga minyak sudah beranjak ke US$97,86 per barel untuk West Texas Intermediate (WTI). Yang minyak brent ke US$106 per barel. Minyak terdongkrak oleh faktor hedging dan antisipasi pasar atas kenaikan suku bunga internasional. Karena itu, saatnya masuk ke saham-saham sektor batu bara dan energi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: