energi terbarukan: OMDO (1,000,001) … 090412


Senin, 09/04/2012 12:36 WIB
Soal Kebijakan BBM, Pemerintah Terlalu Banyak Wacana
Rista Rama Dhany – detikFinance

Jakarta – Banyaknya wacana dan ide agar Bahan Bakar Minyak (BBM) Bersubsidi disalurkan tepat sasaran membuat masyarakat bingung dan capek. Hingga kini tidak ada satupun wacana dan ide tersebut yang dijalankan.

“Kita (masyarakat) sudah capek, banyak wacana, banyak ide yang dilempar ke publik tapi ada tidak yang dijalankan? Tidak adakan,” kata pengamat energi Pri Agung Rakhmanto ketika dihubungi detikFinance, Senin (9/4/2012).

Menurut Pri Agung, saat ini masyarakat menyerahkan kepada pemerintah soal beberapa opsi yang akan ditempuh soal pembatasan BBM. Misalnya kebijakan mobil pribadi alias plat hitam bermesin 1.500 cc atau 2.000 cc wajib beli BBM non subsidi alias Pertamax dan sejenisnya.

“Terserah mau nantinya 1.500 cc, 2.000 cc atau 3.000 cc, tapi dimatangkan dulu rencananya, dikaji lebih dalam, kalau sudah siap baru diumumkan ke publik pemerintah akan berlakukan kebijakan ini, pada bulan ini tahun ini, jangan belum siap sudah heboh duluan di masyarakat, dan akhirnya tidak dijalankan,” tegasnya.

Ditambahkan Pri Agung, memang secara rasional pemerintah harus berbuat sesuatu untuk mengamankan besaran subsidi minyak yang terlalu besar.

“Entah itu kebijakan, aturan atau apapun, tapi ya di kaji dulu di internal mereka, kalau 1.500 cc berapa sasaran mobilnya, berapa penghematannya, infrastrukturnya sudah siap, pengawasannya bagaimana dan lainnya. Dan kalau pemerintah memang niat kajian itu tidak akan lama, matang dan bisa diterapkan di masyarakat,” imbuhnya.

“Kalau sedikit-sedikit wacana, ide, usul langsung dilempar ke publik, ribut dan nggak jadi dijalankan, ya kita capek,” tandasnya.

Sebelumnya Guru Besar ITB sekaligus Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo, mengusulkan agar kendaraan 1.500 cc ke atas (mobil) wajib membeli Pertamax, sementara kendaraan 1.500 cc kebawah membeli Premix yakni perpaduan 50% Premium dan 50% Pertamax (Premix RON 90 dengan harga Rp 7.250 per liter). Ini sebagian dari ide-ide yang dilontarkan oleh Widjajono.

(rrd/hen)
Minggu, 08/04/2012 16:05 WIB
Wow! Hugo Chavez Jual BBM ke Rakyatnya Cuma Rp 207/Liter
Rista Rama Dhany – detikFinance

Jakarta – Masyarakat Indonesia patut kah iri dengan orang-orang Venezuela? pasalnya pemerintah Venezuela menjual bahan bakar minyaknya (BBM) sangat murah sekali. Harga BBM di salah satu negara latin itu hanya dijual US$ 0,023 atau dengan kurs Rp 9.000 per dolar harga BBM disana hanya Rp 207 per liter.

Hal tersebut seperti diungkapkan Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Widjajono Pertowidagdo, harga tersebut berasal dari Energy Week Training & Capacity Building 2012 oleh International Energy Agency (IEA).

“Pemerintahan Presiden Hugo Chavez tersebut menjual bahan bakarnya Rp 207 per liter sejak 12/12/2010 lalu. Harga yang murah tersebut dilatar belakangi dengan jumlah cadangan minyak terbukti pada 2010 mencapai 211,2 miliar barel,” kata Widjajono dalam surat elektroniknya yang diterima detikFinance, Minggu (8/4/2012).

Sementara negara-negara yang menjual murah BBM-nya lebih didominasi negara-negara Timur Tengah seperti Turkmenistan hanya US$ 0,19 per liter atau jika dirupiahkan hanya Rp 1.710 per liter sejak 13 September 2011, padahal negara tersebut hanya memiliki cadangan minyak terbukti pada 2010 sebesar 0,6 miliar barel.

“Saudi Arabia yang memiliki cadangan minyak terbukti 264,5 miliar menjual BBM ke rakyatnya Rp 1.170 per liter, ada pula Bahrain Rp 1.890 per liter, Mesir hanya Rp 2.790 per liter, Iraq dengan harga Rp 3.420 per liter dan Kuwait Rp 2.016 per liter,” kata Widjajono.

Namun, beberapa negara memang memiliki kebijakan menjual BBM ke pada rakyatnya dengan mengikuti mekanisme pasar.Bahkan seperti Turki menjual BBM dengan harga Rp 23.130 per liter sejak 9 Maret 2012, Italia dengan harga Rp 22.050 per liter, Prancis Rp 20.520 per liter, Jerman Rp 19.800, Denmark Rp 21.420 dan Amerika Serikat yang memiliki cadangan minyak terbukti 2010 sebesar 0,987 miliar barel menjual BBM-nya Rp 8.883 per liter.

“Sedangkan negara-negara di Asia seperti China yang memiliki cadangan minyak 14,8 miliar barel menjual Rp 9.540, Hongkong Rp 19.890 per liter, India Rp 14.220 per liter, Malaysia yang memiliki 5,8 miliar barel cadangan minyak terbukti menjual BBm Rp 5.490, Filipina Rp 11.880 per liter,” ungkap Widjajono.

Namun di negara Asia Tenggara yang dekat dengan Pulau Kalimantan yakni Brunei Darussalam yang memiliki cadangan minyak 1,1 miliar barel sejak 5 Juni 2008 menjual BBM ke rakyatnya Rp 3.510 per liter.

Sementara itu, Indonesia menjual BBM subsidi dengan harga Rp 4.500 per liter, dengan cadangan terbukti hanya 4,2 miliar barel versi International Energy Agency (IEA).

Dari sisi produksi pun, produksi minyak Indonesia terus turun tak ada kenaikan, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara pengimpor tetap minyak. Padahal Indonesia sempat mencatatkan menjadi negara OPEC pada era lalu.

Versi BP Migas Indonesia, menyebutkan cadangan minyak terbukti Indonesia pada 1 Januari 2012 hanya tersisa 3,9 miliar barel.

(rrd/hen)
Sabtu, 07/04/2012 15:22 WIB
Cadangan Minyak RI Tinggal 12 Tahun, Saatnya Tinggalkan BBM!
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – Saat ini cadangan minyak Indonesia tersisa 4 miliar barel dan akan habis dalam 12 tahun ke depan. Saatnya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap BBM dan beralih ke gas.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas, Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (BP Migas) Gde Pradnyana seperti dikutip oleh detikFinance, Sabtu (7/4/2012).

“Kita tidak bisa memaksa alam menghasilkan minyak. Jadi memang pola konsumsi kita yang harus berubah, dari konsumsi minyak ke gas,” tegas Gde.

Dia mengatakan, Indonesia sulit menambah cadangan minyak mentahnya karena setiap kali dilakukan eksplorasi, yang ditemukan malah gas dan bukannya minyak.

“Sebagaimana diketahui saat ini eksplorasi kita mengarah ke Timur. Struktur geologi di situ lebih cenderung menghasilkan gas,” jelasnya.

Gde mengatakan, cadangan minyak defisit karena lebih banyak yang disedot ketimbang penemuan cadangan baru.

“Di 2010, angka cadangan minyak kita itu 4,3 miliar barel dan kita sedot tiap tahun 330 juta barel (900 ribu-1 juta barel per hari). Maka di 2011 cadangan kita terbukti tinggal 4 miliar barel,” ujar Gde.

Sementara sepanjang 2011 kemarin, cadangan baru yang berhasil ditambah adalah 215 juta barel. Jadi lebih banyak yang disedot ketimbang yang ditemukan.

“Dari data tersebut tampak jumlah penemuan cadangan baru kita hanya sekitar dua pertiga dari jumlah pengurasan. Padahal idealnya rasio penemuan terhadap pengurasan atau dikenal denga rate replenishment ration (RRR) sebesar 1,” jelas Gde.

(dnl/wep)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: