3,8%-4% = MINU$ … 220312


Bunga kuncup, dana bank di BI hengkang
Oleh Roy Franedya – Kamis, 22 Maret 2012 | 06:40 WIB
kontan

JAKARTA. Pemangkasan bunga acuan BI rate sebesar 100 poin dalam kurun lima bulan terakhir menghilangkan daya tarik instrumen Bank Indonesia (BI). Bunga acuan yang kini bertengger di level 5,75% menekan imbal hasil instrumen BI bertenor pendek hingga 3,87%. Misalnya deposit facility, discount facility dan term deposit. Sedangkan instrumen tenor panjang, seperti sertifikat BI (SBI) 9 bulan, hanya berbunga 3,8% – 4%.

Kondisi ini mendorong bank memindahkan ekses likuiditasnya ke keranjang investasi yang menjanjikan imbal hasil lebih tinggi. Namun, perpindahan likuiditas ini tentu sangat bergantung pada ketersediaan instrumen di pasar keuangan. Jika tak terserap semuanya, ekses likuiditas itu \’terpaksa\’ parkir lagi di BI.

Data BI menunjukkan, total ekses likuiditas perbankan di bank sentral mencapai Rp 454,17 triliun per akhir Februari 2012. Jumlah ini turun 5,67% atau setara Rp 27 triliun dibandingkan bulan sebelumnya. Jika dihitung dari posisi 10 Februari 2012, nilainya susut sekitar Rp 9 triliun.

Bank mencairkan sebagian asetnya di bank sentral buat menopang kredit. Maklum, per Januari 2012, kredit bank tumbuh 23,7% jika disetahunkan jadi Rp 2.160,15 triliun. Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) cuma naik 19% jadi Rp 2.742,3 triliun. Karena itu, bank menarik asetnya di BI.

Ke depan, tekanan di penghimpunan DPK belum mereda. Bank terancam kehilangan nasabahnya lantaran bunga deposito tak menarik lagi. Salah satu indikasinya adalah hasil penjualan sukuk ritel seri 004. Total permintaan Rp 19 triliun, tapi pemerintah hanya menyerap Rp 13,6 triliun. Sukuk yang menawarkan yield 6,25% ini masih lebih baik dibandingkan rata-rata bunga deposito di bank-bank yang berkisar 5,5%.

Selain untuk menopang kredit, perbankan juga memindahkan dananya dari BI ke SBN. Per 20 Maret lalu, total SBN milik perbankan mencapai Rp 285,11 triliun atau bertambah Rp 17,62 triliun dibandingkan akhir Januari lalu.

Deputi Gubernur BI Muliaman D. Hadad mengatakan, ekses likuiditas menunjukkan bank memiliki kemampuan mendorong kredit tumbuh sesuai dengan Rencana Bisnis Bank (RBB). Target pertumbuhan penyaluran kredit perbankan tahun ini 24%.

Ekonom Universitas Gajah Mada, Tony A. Prasetiantono, mengatakan perpindahan dana merupakan efek dari penurunan BI rate yang membuat imbal hasil instrumen BI ikut turun. Sehingga, yield SUN lebih baik.

Namun, lanjut Tony, migrasi ini baik bagi perekonomian. Pasalnya, penempatan dana di bank sentral hanya memberatkan neraca. BI harus membayar bunga sementara dananya sendiri tidak produktif. “Kalau ditaruh di SUN dananya bisa untuk APBN, jadi lebih produktif,” ujarnya.

Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah menilai positif shifting portofolio tersebut. Perpindahan ini dapat memperdalam pasar keuangan dan meningkatkan dominasi investor domestik.

“Ini membuat pasar keuangan Indonesia lebih tahan banting. Lagipula instrumen Bank Indonesia adalah alat moneter, bukan untuk investasi,” tandasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: