minyaaa($102)aak … 100611


SINGAPORE, June 10, 2011 (AFP)
Oil rose in Asian trade Friday, boosted by gains on Wall Street that snapped a lengthy losing streak, analysts said.

New York’s main contract, light sweet crude for July delivery, gained eight cents to $102.01 a barrel and Brent North Sea crude for July delivery rose 33 cents to $119.90.

“Crude oil markets is likely to be boosted by the US equity market, which recovered after six sessions of consecutive losses,” Ker Chung Yang, a commodity analyst at Phillip Futures in Singapore, told AFP.

US stocks closed firmer Thursday, lifted by an unexpected narrowing of the US trade deficit in April.

Official data on Thursday showed that the US trade deficit shrank to $43.7 billion from $46.8 billion in March on the back of record exports and a drop in imports as the economy struggles with a weak recovery.

Crude prices were also lifted by the Organisation of the Petroleum Exporting Countries’ (OPEC) decision on Wednesday to keep production levels steady at 24.84 million barrels per day, where it has stood since January 2009.
Harga minyak mentah di pasar internasional kembali memanas. Kali ini penyebabnya adalah kegagalan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyepakati kenaikan kuota produksi minyak.

Nilai kontrak harian minyak mentah jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman Juli 2011 di bursa New York, pada Kamis (9/6) pukul 17.00 WIB, meningkat 0,68% menjadi US$ 101,43 per barel.

OPEC memastikan kuota produksinya tidak berubah dari angka terakhir, yaitu 28,8 juta barel per hari.

Dalam penetapan kuota produksi terbaru, negara anggota OPEC terbelah dalam dua kubu. Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab mengusulkan kuota produksi ditambah sebanyak 1,5 juta barel per hari. Sedangkan Iran, Libia, Angola, Ekuador dan Aljazair menentang kenaikan produksi.

Ibrahim, Analis Senior Harvest International Futures, berpendapat, alasan OPEC mempertahankan kuota produksi karena mempertimbangkan kenaikan harga minyak selama ini bukan lantaran minimnya pasokan, tapi akibat spekulasi pasar.

Namun negara anggota OPEC seperti Libia menolak kenaikan produksi lantaran kapasitasnya terbatas akibat terbelit krisis politik. “Produksi mereka sudah maksimal. Jadi berat untuk menaikkan produksi,” kata Nizar Hilmy, Analis Harumdana Berjangka.

Para analis memperkirakan, harga minyak mentah hingga akhir tahun nanti bakal menanjak. Selain dipicu langkah OPEC yang batal menaikkan produksi, harga minyak bakal terkerek oleh permintaan yang mulai meningkat.

Apalagi, Departemen Energi Amerika Serikat (AS) melaporkan persediaan minyak mentah mengalami penurunan paling tajam sejak Desember tahun lalu. Stok minyak mentah di AS menyusut 4,85 juta barel menjadi 369 juta barel, per pekan lalu.

Ibrahim memprediksi, harga minyak mentah bisa menyentuh lagi US$ 110 per barel di akhir tahun ini. “Departemen Energi AS menyebutkan permintaan minyak dunia akan naik menjadi 89,18 juta barel per hari selama kuartal ketiga nanti,” imbuh dia.

Menurut Nizar, kenaikan harga minyak membebani keuangan sejumlah negara dan menghambat pertumbuhan. “Inflasi meningkat dan harga emas terangkat,” ujar dia.

http://investasi.kontan.co.id/v2/read/1307661396/69826/OPEC-tahan-produksi-harga-minyak-panas-lagi

Sumber : KONTAN.CO.ID

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: