FOKU$: elsa b0b0L … 290511


Bank Mega Tempuh Jalan Musyawarah
Kamis, 26 Mei 2011 | 20:39 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – PT Bank Mega Tbk mengupayakan jalan musyawarah untuk menyelesaikan persoalan raibnya deposito milik PT Elnusa Tbk dari bank itu senilai Rp 111 miliar.

Sumber Tempo mengungkapkan, keinginan musyawarah datang dari pemilik sekaligus Komisaris Utama Bank Mega, Chairul Tanjung. Beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat mendukung upaya ini. “Bahkan, Chairul Tanjung yang memimpin langsung proses negosiasi dengan Elnusa,” ujarnya, Kamis (26/5).

Namun, Sekretaris Perusahaan Bank Mega, Gatot Aris Munandar, membantah keterlibatan langsung sang pemilik. Dia mengatakan negosiasi dengan Elnusa dilakukan oleh direktur.

Sejauh ini, Bank Mega baru ketemu dua kali bertemu Elnusa di kantor Bank Mega dan Bank Indonesia. Pertemuan dilakukan sebelum Bank Indonesia menjatuhkan sanksi ke Bank Mega. “Belum ada kesepakatan apa-apa,” kata Aris.

Menanggapi gugatan perdata Elnusa yang didaftarkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Gatot tidak mau berkomentar. “Kami belum terima surat (gugatan) tersebut.”

Kepala Divisi Hukum Elnusa, Imansyah Syamsoeddin, menilai, langkah musyawarah adalah pilihan terbaik. “Dari awal kami menginginkan musyawarah,” ucapnya.

Tapi, Imansyah mengatakan, sejak jatuhnya sanksi Bank Indonesia, Bank Mega belum dihubungi Elnusa lagi.

Bank Indonesia telah menjatuhkan sanksi kepada Bank Mega dalam kasus penggelapan dana Elnusa dan dana Rp 80 miliar milik Pemerintah Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.

Bank Mega dilarang menambah nasabah deposit on call (DOC) baru dan memperpanjang DOC lama. Bank ini juga dilarang membuka kantor cabang baru.

Kedua sanksi berlaku selama setahun sejak 24 Mei. Bank sentral juga mewajibkan seluruh direktur dan komisaris Bank Mega mengikuti uji kepatutan dan kelayakan.

Hasil penelusuran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan penggelapan dana terjadi di kantor cabang pembantu Bank Mega Jababeka lantaran adanya kolusi.

“Patut diduga, ada kerja sama permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana oleh Elnusa dan Pemerintah Kabupaten Batubara, dan pimpinan cabang Bank Mega,” kata Direktur Pengawasan dan Kepatuhan PPATK Subiantoro.

Polisi sudah menahan beberapa tersangka dalam kasus ini, di antaranya Direktur Keuangan Elnusa Santun Nainggolan dan Kepala Cabang Pembantu Bank Mega Jababeka, Itman Harry Basuki.

AKBAR TRI KURNIAWAN | EFRI RITONGA
ELSA & MEGA Aman Karena Bukan Jadi Favorit Investor
Minggu, 08 Mei 2011 , 00:19:00 WIB

BANK MEGA

RMOL.Pembobolan rekening PT El­nusa Tbk (ELSA) sebesar Rp 111 miliar yang tersimpan di Bank Mega (MEGA) dinilai tidak akan mempengaruhi pergerakan saham kedua emiten. Sebab, ME­GA dan ELSA bukan saham yang jadi favorit investor.

Pengamat Pasar Modal Dan­do­ssi Matram mengatakan, pembo­bol­an ini bukan sepenuhnya kece­robohan Bank Mega, sebab ada keterli­batan dari pihak Elnusa.

Meski­pun kepolisian belum mengusut tuntas masalah ini dan belum menetapkan siapa yang harus bertanggung jawab, namun hal itu tidak akan mempengaruhi ke­percayaan nasabah terhadap kre­dibilitas Bank Mega.

Menurut Dandossi, pembobol­an semacam itu sudah pernah ter­jadi sebelumnya di Bank Man­­­diri dan BRI. Saat ini, Bank Mega masih menunggu hasil penyelidi­k­an Kepolisian. Belum kembali­nya uang Elnusa dica­dangkan sebagai biaya.

“Namun ketika nanti Kepolisi­an menetapkan Bank Mega harus mengembalikan uang Elnusa, maka itu akan menjadi pendapa­tan kembali bagi Elnusa. Bank Mega pasti akan mengembalikan dana nasabahnya,” jelas Dan­dossi kepada Rakyat Merdeka.

Dia mengatakan, sebagai bank yang sangat memprioritaskan kea­­manan nasabahnya, Bank Mega akan mematuhi putusan kepoli­sian. Jika Bank Mega merasa bersalah, maka harus mengemba­likan dana Elnusa se­belum adanya kepu­tu­san dari Ke­polisian. Dia yakin, citra Bank Mega tidak luntur dengan kasus ini.

PT Elnusa Tbk merupakan pe­rusahaan yang bergerak di sektor per­tambangan minyak dan gas bumi. Pemegang saham Elnusa adalah PT Benakat Petro­leum Energy Tbk sebesar 37,15 persen, Pertamina 41,10 per­sen dan ma­sya­ra­kat 21,74 persen. Berda­sar­kan laporan keuangan yang terca­tat di Bursa Efek Ja­karta per 31 Maret 2011, per­se­roan me­­mi­liki aset se­besar Rp 4 triliun dengan laba usaha Rp 43,3 miliar. Semen­tara laba ber­sih­ Elnusa Rp 19,6 miliar. [RM]
Kisah Direksi Elnusa Terbujuk Layanan Private Bank Mega
Aset Yang Diamankan Baru Tanah Senilai Rp 4,5 Miliar
Minggu, 08 Mei 2011 , 04:00:00 WIB

RMOL.Petinggi PT Elnusa Tbk lebih memilih jalan damai untuk mengembalikan dana mereka di Bank Mega senilai Rp 111 miliar. Perbanas meminta agar reputasi perbankan nasional dipertimbangkan.
Direktur Utama PT Elnusa Tbk (ELSA) Suharyanto menga­ku tidak habis pikir bagaimana dananya bisa dibobol sedemikian mudah. Dalam jumpa pers, Su­har­yanto bercerita bagaimana awalnya anak perusahaan Perta­mina ini sampai jatuh hati me­nyim­pan uang di Bank Mega.
Pihaknya mengklaim, penem­pa­tan dana tersebut bukan de­posit on call, melainkan deposito ber­jangka. Hal ini dilakukan se­jak Elnusa menjadi nasabah Bank Mega pada 2006 dan sela­ma ini, diakui, semua transaksi ber­jalan aman.
“Karena itu, kita memperta­nya­kan sistem keamanan pe­nyim­panan dana di Bank Mega sehingga sampai kebobolan,” cetus Suharyanto.
Dia menutur­kan, Elnusa selalu mendapatkan pelayanan secara pick up service sejak 2008. Hal ini bisa terlihat ketika pimpinan dan pimpinan cabang Bank Mega jus­tru beri­nisiatif datang ke kan­tor Elnusa untuk memberi pela­yanan tran­saksi. Baik berupa pe­ngantar­an maupun penjem­putan doku­men transaksi.
“Apalagi, untuk Kantor Cabang Pembantu (KCP) di Bekasi-Ja­babeka, Cikarang, El­nusa dita­warkan bunga sim­panan antara 7-8 persen dalam tempo 1-12 bulan pada Agustus 2009,” bebernya.
Dengan alasan itu, Suharyanto meminta Bank Mega mengganti kerugian Elnusa sebesar Rp 111 miliar. Hal ini dilakukannya ka­rena Elnusa juga merupakan na­sabah Bank Mega. “Dengan su­ku bunga yang tinggi itu, kami ter­tarik menyimpan dana di Bank Mega,” imbuhnya.
Dengan fakta itu, pihak­nya me­ngaku akan menempuh “jalan damai.” Ka­rena itu, dibutuhkan, badan pene­ngah atau institusi yang bisa men­jembatani pihak Elnusa maupun Bank Mega agar bisa memaknai kasus pembobol­an ini secara ber­sama-sama. “Sa­ya masih yakin kita bisa duduk bersama,” ujar­nya optimistis.
Sebagai perusahaan terbuka yang mempunyai tanggung ja­wab kepada publik, dia meminta agar ka­sus ini tidak berlarut-larut. Ka­rena jika tidak ditemukan ke­se­pakatan terus, maka pihaknya akan me­nem­puh jalur hukum.
Secara detail dia menerangkan, Elnusa mulai menempatkan dana di Bank Mega KCP Bekasi-Ja­babeka di Cikarang sejak 7 Sep­tember 2009 sebesar Rp 161 mi­liar. Dana itu terbagi dalam lima advis deposito berjangka waktu 1-3 bulan. Rinciannya, pertama menempatkan dana Rp 50 miliar per 7 September 2009 berjangka waktu 91 hari dengan bunga 7,75 persen. Setelah itu, Rp 50 miliar untuk jangka waktu 91 hari de­ngan bunga 7,75 persen pada 29 September 2009. Lalu sebesar Rp 40 miliar dengan jangka waktu 90 hari dengan bunga 8 persen pada 19 Novem­ber 2009.
Selanjutnya, Rp 11 miliar de­ngan jangka waktu 30 hari de­ngan bunga 7 persen pada 14 Ap­ril 2010 dan dana kembali di­tem­patkan Rp 10 miliar ber­jang­ka waktu 94 hari dengan bunga 7 persen pada 16 Juli 2010.
“Penempatan deposito tersebut atas nama PT Elnusa Tbk dite­ken oleh bekas Direktur Utama Eteng A Salam dan Direktur Keuangan PT Elnusa Tbk Santun Nainggo­lan,” ujar Suharyanto.
Dia mengatakan, permasa­lahan ini baru diketahui ketika pihak kepolisian mengin­formasi­kan deposito berjangka Elnusa di Bank Mega KCP Bekasi-Jaba­beka di Cikarang bermasalah.
Ketika dikonfirmasi, Corporate Secretary Bank Mega Gatot Aris Munandar menegaskan, kasus tersebut sudah di atasi pihak ber­wajib dan instansi-instansi yang lain seperti Bapepam-LK dan Bank Indonesia (BI).
Pihak kepolisian akan memin­ta bantuan saksi ahli dari BI, Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PP­ATK) serta ahli pidana dari UI.
“Rencana­nya pekan depan ka­mi akan me­manggil saksi ahli untuk menge­tahui SOP (Standard Operating Procedure) penarikan uang,” kata Kepala Satuan Fis­kal Moneter dan Devisa Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Aries Munandar.
Menurut Aries, aparat meneng­garai dana-dana itu me­rupakan hasil pembobolan pelaku di Bank Mega. Dalam kasus ini, polisi menyita sebidang tanah senilai Rp 4,5 miliar. Saat ini baru 20 persen aset yang disita polisi dari keseluruhan yang ada. [RM]
Polisi terus menelisik aliran dana dari deposito milik PT Elnusa Tbk (ELSA) di PT Bank Mega Tbk (MEGA). Penyidik Polda Metro Jaya menyatakan telah menelusuri lima rekening yang diduga menampung dana Elnusa yang dibobol oleh enam orang tersangka, senilai Rp 111 miliar.

Rekening yang diteliti polisi itu terdiri dari dua rekening atas nama Ivan C. Litha (ICL) yang merupakan Direktur PT Discovery Indonesia, satu rekening atas nama bekas Direktur Keuangan Elnusa Santun Nainggolan (SN). Lalu satu rekening atas nama Andhi Gunawan (AG), Komisaris PT Harvestindo Asset Managemen, serta satu rekening lain masih dalam proses penelusuran.

“Rekening lain yang belum diketahui pemiliknya tersebut, diduga merupakan milik kerabat dari salah satu tersangka,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar kepada KONTAN, Minggu (8/5)

Kelima rekening tersebut telah diblokir oleh Kepolisian. Dua rekening atas nama ICL merupakan rekening untuk Discovery Indonesia dan Harvestindo, perusahaan yang bergerak di bidang investasi. Hingga kini, penyidik masih menelusuri dana sebesar Rp 87 miliar yang mengalir di kedua perusahaan itu.

Baharudin mengatakan, dalam rekening kedua perusahaan tersebut hanya tersisa beberapa rupiah saja. “Di Discovery, sisanya Rp 400.000 dan di Harvestindo sisanya Rp 11,4 juta,” tuturnya.

Adapun dana yang tersisa di rekening milik AG hanya senilai Rp 1 juta. Sedangkan rekening atas nama SN, terdapat dana sejumlah Rp 2 miliar.
Baharudin juga mengatakan, dari hasil penyelidikan, polisi menemukan empat dokumen pencairan dana Elnusa yang diduga palsu. Dokumen palsu ini terkait dengan pengalihan dana 80% atau senilai Rp 87 miliar dari total Rp 111 miliar yang dibobol para tersangka dari rekening milik Elnusa di Bank Mega Cabang Bekasi-Jababeka.

Tak ada tersangka baru

Untuk sementara, polisi belum menetapkan tersangka lain dalam kasus ini. Sejauh ini, polisi telah menahan enam tersangka sejak 19 April 2011 lalu. Selain Santun dan Ivan, polisi juga menahan Itman Harry Basuki, Kepala Cabang Bank Mega Jababeka dan Andhi Gunawan, Komisaris PT Harvestindo. Tersangka lain yang ditahan polisi adalah TZL yang diduga sebagai pemalsu tanda tangan, dan broker bernama Richard Latief.

Elnusa sendiri baru mengetahui dananya telah raib setelah mendapat laporan dari polisi. Padahal, bilyet deposito masih ada di brankas perusahaan kontraktor migas tersebut.

Dari hasil penyidikan polisi, baru diketahui dana dari Elnusa diduga disimpan oleh Itman Harry Basuki, Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, sebagai deposit on-call atau deposito harian dengan jangka waktu tiga hari, dengan tanda tangan yang diduga palsu. Setelah dana cair, dana dimasukkan ke “rekening giro” atas nama Elnusa di Bank Mega Cabang Jababeka. Padahal, pihak Elnusa mengaku tidak pernah memiliki rekening giro di Bank Mega.

Dari “rekening giro” Elnusa, dana langsung ditransfer di hari yang sama ke rekening Discovery. Proses transfer dari rekening giro juga diduga menggunakan tanda tangan palsu. Bekas Direktur Utama Elnusa Eteng A. Salam pun telah melaporkan pemalsuan tanda tangannya ini.

http://nasional.kontan.co.id/v2/read/1304913559/66907/Dana-di-rekening-tersangka-pembobol-rekening-ELSA-tersisa-Rp-2-miliar-

Sumber : KONTAN.CO.ID
“Jangan Dilebih-lebihkan Nanti Investor Khawatir”
Ketua Bapepam Bantah Lelet Usut Kasus Elnusa
Selasa, 03 Mei 2011 , 00:06:00 WIB

RMOL.Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bape­pam-LK) mengaku sudah me­la­kukan beberapa langkah untuk me­ngusut kasus bobolnya dana de­posito milik PT Elnusa Tbk (ELSA) di PT Bank Mega Tbk (MEGA) senilai Rp 111 miliar. Se­jak 25 April lalu, Bapepam bah­­­kan sudah menyurati dan me­min­ta penjelasan dari kedua emi­ten itu dan sedang me­nung­gu ha­sil peme­riksaan dari ke­polisian.
“Saya agak kaget ka­rena pem­beritaan di sebagian kecil media itu, judulnya seolah-olah menge­san­kan bahwa Bapepam tidak me­­lakukan apa-apa. Kesannya cu­kup responsif terhadap isu ini,” kata Ketua Bapepam-LK Nur­hai­da di Jakarta, kemarin.
Sebelumnya, pengamat pasar mo­dal Yanuar Rizki mengatakan, jika kasus ini tidak diselesaikan de­ngan cepat, maka akan menjadi noda hitam untuk pasar modal di Indonesia. Bapepam, pinta dia, seharusnya langsung mengambil tin­dakan cepat, jangan hanya me­nunggu hasil penyelidikan dari kepolisian.
“Masak semuanya di­se­rahkan ke polisi. Bagaimana pun hal ini menyangkut ke­pada good cor­po­rate governance atau tata ke­lola pe­­rusahaan pu­blik,” katanya (Rak­yat Merdeka, 2/5)
Nurhaida menekankan, perlu ada yang melakukan penelaahan le­bih detail. Namun, ka­sus ini ter­kait dengan dana de­posito atau per­bankan, maka Ba­pe­pam tidak punya kewe­nangan me­ngetahui lebih jauh. “Kita per­lu melihat ka­jian yang di­la­ku­kan kepolisian. Ini sudah jalur yang benar,” katanya.
Dia menilai, pembobolan atau pen­cairan dana deposito yang di­la­kukan ini tidak sah dan ter­ma­suk kasus pidana. Untuk itu, pi­haknya akan melihat hasilnya se­perti apa tergantung dari hasil pe­meriksaan dari kepolisian.
Penyidik Satuan Fis­kal, Mone­ter dan Devisa (Fis­mon­dev) Di­rektorat Kriminal Khu­sus Polda Metro Jaya, meme­riksa tiga pim­pinan peru­sa­haan yang diduga kuat mene­rima dana investasi berjangka dari tersangka pembo­bo­lan de­po­sito PT Elnusa Tbk.
“Agenda pemeriksaannya hari ini,” kata Kepala Bidang Humas Polda Me­tro Jaya Komisaris Be­sar Ba­ha­rudin Djafar, kemarin.
Dijelaskan Baharudin, saksi ber­­asal dari perusahaan pe­na­na­man investasi yang berbeda dan ter­daftar pada Badan Pe­nga­­was Perdagangan Berjangka Ko­mo­diti (Bapepti). “Satu saksi berini­sial I, se­dangkan dua orang lain­nya be­lum tahu inisialnya,” im­buhnya.
Tujuan pemanggilan ketiga saksi itu, kata Baharudin, untuk mengetahui apakah salah satu ter­sangka, yakni Direktur PT Elnusa berinisial ICL ikut bermain.
Nurhaida berharap, kasus pem­bobolan dana Elnusa di Bank Me­ga tidak dilebih-lebihkan, karena akan mengganggu harga saham ke­duanya. “Nanti investor kha­watir dan menekan harga saham Elnusa dan Bank Mega,” tutup­nya. [RM]
ini posting gw soal penjualan infomedia : RUPS RESMIKAN PENJUALAN INFOMEDIA
Manajemen PT Elnusa Tbk akhirnya membuka asal dana Rp 161 miliar yang dibobol dalam deposito berjangka di Bank Mega. Dana tersebut ternyata berasal dari hasil penjualan saham PT Infomedia Nusantara.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Elnusa Suharyanto dalam jumpa pers di Hotel Crown Plaza, Jakarta, Kamis (5/5/2011).

“Itu dana Rp 161 miliar berdasarkan penjualan aset. Kami menjual Infomedia nilainya sekitar Rp 500 sekian miliar. Kami tempatkan di beberapa bank termasuk Bank Mega,” ujar Suharyanto.

Seperti diketahui, Rp 111 miliar dari dana tersebut dibobol oleh Direktur Keuangan Elnusa Santun Nainggolan yang saat ini telah dipecat.

Suharyanto mengatakan, alasan perseroan menempatkan dananya di Bank Mega cabang Jababeka Cikarang adalah karena permintaan dari kantor pusat Bank Mega.

“Ini kerjaan marketing saja. Lagian tidak ada pengaruhnya kalau pakai pick up service. Kami sudah menjadi nasabah Bank Mega sejak 2006. Jadi kami ada rekening di cabang Cikarang saja. Tidak ada rekening lainnya,” tutur Suharyanto.

Penjualan 49% saham Elnusa di Indomedia dilakukan setelah pemegang saham menyetujui dalam RUPS di 30 Juni 2009 lalu. Saham tersebut dijual kepada anak usaha Telkom yakni PT Multimedia Nusantara (Metra).

Jumlah saham yang dijual sebanyak 39,2 juta lembar saham dengan nilai nominal Rp 500 per lembar saham. Dengan begitu, total harga jual saham tersebut sebesar Rp 598 miliar.

Masalah pembobolan dana Elnusa di Bank Mega mulai muncul saat Selasa (19/4/2011), kepolisian bertandang ke kantor Elnusa dan menanyakan perihal penempatan dana deposito di Bank Mega. Manajemen Elsa mengakui ada penempatan dana perseroan di Bank Mega.

Pada hari itu juga, secara bersama-sama, manajemen Elnusa dan polisi melakukan mengecekan ke kantor cabang Bank Mega Jababeka Cikarang. Namun hasilnya, dari keterangan lisan Kacab Bank Mega, deposito perseroan telah dicairkan.

Saat ditanyakan lebih lanjut, Kacab Bank Mega Jababeka menyampaikan dokumen pencairan yang telah dibubuhi tanda tangan Direktur Utama dan Direktur Keuangan.

Elnusa mengaku sudah memecat Direktur Keuangannya, Santun Nainggolan yang diduga terlibat pencairan ilegal dana Elnusa itu.

Sumber: detikcom
PT Elnusa mengancam akan menyeret PT Bank Mega Tbk terkait kasus raibnya deposito milik perusahaan migas tersebut. Langkah hukum akan menjadi opsi terakhir jika perundingan antara kedua belah perusahaan itu menemui jalan buntu.

“Last resort kita langkah hukum, itu pasti,” kata Direktur PT Elnusa, Suharyanto dalam jumpa pers di hotel Crown, Jakarta, Kamis (5/5/2011).

Menurut Suharyanto, langkah hukum akan ditempuh setelah semua langkah dan proses yang dijalani tidak menemui kesepakatan bersama. Suharyanto yakin masih banyak proses yang bisa ditempuh.

“Sebelum lagkah itu (hukum) pasti masih banyak proses yang harus ditempuh,” ujarnya.

Salah satu solusinya, lanjut Suharyanto, dibutuhkan sebuah badan penengah yang dapat menjembatani kedua belah pihak.

“Ada institusi yang bisa membuat kita bisa duduk bersama,” imbuhnya.

Suharyanto berharap, dapat menemui kesamaan antara Elnusa dan Bank Mega dalam melihat dan memaknai kasus ini bersama-sama.

“Saya masih merasa yakin kita bisa duduk bersama-sama,” tuturnya.

Lebih lajut Suharyanto menambahkan, PT Elnusa merupakan perusahaan terbuka yang mempunyai tanggung jawab kepada publik. Karena itu, jika kasus ini dibiarkan berlarut-larut tanpa ada kesepaktan antara kedua bela pihak, PT Elnusa akan menempuh jalur hukum.

“Kalau tidak bisa duduk bersama dan menyelesaikannya secara bilateral, kami akan mempertimbangkan lagkah hukum,” tambahnya.

Seperti diketahui, manajemen Elnusa mengungkapkan ada pencairan deposito berjangka miliknya di Bank Mega tanpa sepengetahuan manajemen Elnusa. Kepolisian mengatakan, dana tersebut dibobol dengan sepengetahuan Direktur Keuangan Elnusa Santun Nainggolan yang kini sudah dipecat.

Pencairan, selanjutnya diinvestasikan ke perusahan ke tiga, PT Discovery Indonesia dan Harvestindo Asset Management (HAM). Menurut Direktur Kepatuhan Bank Mega, Suwartini, dana pencairan deposito Elnusa yang dikirim ke rekening giro PT DI di Bank Mega Cabang Jababeka sebesar Rp 121 miliar. Selanjutnya pencairan deposito itu ditransfer ke HAM pada bank X di Jakarta sebesar Rp 40 miliar. Pengembalian hasil investasi di PT DI ditransfer ke rekening Elnusa di bank itu sebesar Rp 50,2 miliar.

Atas kasus tersebut, polisi sudah menetapkan tersangka dan menahan Santun Nainggolan, Kepala Cbang Bank Mega Jababeka Itman Harry Basuki, CEO Discovery yang juga komisaris HAM Ivan Ch, seorang broker bernama Richard Latief, Direktur DI Gun dan staf HAM Zul.

Sumber: detikcom
Bos Harvestindo Ngaku Nggak Tahu Aliran Dana Elnusa 111 M
Kamis, 28 April 2011 , 00:12:00 WIB

PT ELNUSA TBK

RMOL.Satu per satu fakta terkait pem­bobolan dana Elnusa di Bank Me­ga sebesar Rp 111 miliar mulai terkuak. Setelah direksi Ba­nk Me­ga, kemarin, giliran Mana­jemen PT Harvestindo As­set Ma­nagement yang mengaku tidak me­ngetahui aliran dana sebesar Rp 111 miliar dari PT Discovery In­donesia yang berasal dari sim­panan PT Elnusa Tbk di PT Bank Mega Tbk.

Dirut Harvestindo Fresty Han­dayani mengatakan, dirinya se­bagai manajemen baru yang ma­suk pada Juni 2010 tidak me­nge­tahui ada aliran dana masuk se­besar Rp 111 miliar di peru­sahaan tersebut.

“Saya tidak me­nge­ta­huinya, ka­rena baru masuk Juni 2010,” kilah Fresty dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Dia mengaku sejauh ini tidak melihat ada aliran dana di neraca keuangan Harvestindo. Namun, pihaknya ber­janji akan meneliti ulang neraca keuangan persero­an. Menurutnya, ma­na­­jemen su­dah menyerahkan kepa­da kantor akuntan publik (KAP) untuk me­lakukan pemeriksaan terhadap neraca keuangan dan produk rek­sadana, yakni Reksa­dana Har­vestindo Istimewa (RHI).

Saat ditanya apakah dana ter­sebut diinvestasikan langsung ke RHI, dia mengaku belum me­nge­­tahui pasti. Namun, me­nurut dia, sejak produk reksadana itu dila­rang ditransaksikan oleh regula­tor pada 2009, otomatis tidak ada investor masuk.

Kepala Satuan Fiskal Moneter dan Devisa Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Arismunandar sebelumnya mengatakan, dana Elnusa senilai Rp 111 miliar itu digunakan para tersangka untuk investasi di PT Discovery dan PT Harvestindo Asset Management (HAM). Dan 20 persen dari Rp 111 miliar, dibagi-bagikan kepa­da para tersangka.

“Sementara 80 persennya di­ma­sukkan ke rekening PT Disco­very dan PT Harvest,” kata Aris.

Fresty menjelaskan, Harves­tin­do menerbitkan RHI pada 2007. Dana dari hasil penerbitan pro­missory note itu dialokasikan ke­pada pelaku usaha kecil atau sek­tor riil. Namun, karena krisis eko­nomi 2008, mem­buat banyak de­bitor gagal bayar. [RM]

Isu CT Mundur Gara-Gara Kasus Bank Mega?
Widi Agustian – Okezone
Kamis, 28 April 2011 13:18 wib
… well, ANEH JUGA GARA2 160M DOANK, ekh YANG DIBILANG PEMILIK SAHAM BANK MEGA sekaligus merangkap CEO HOLDING COMPANYnya BISA MUNDUR … RUARRRRRRRBIASA … sebenarnya CT itu siapa sih? well, gw pernah mendengar rumor yang beredar di masyarakat, bahwa sebenarnya beliau bukan yang sebenarnya orang kaya, karena yang sebenarnya ada di balik layar dan pernah menjadi konglomerat terkaya indon jadul … well, ga tau beneran apa ga itu rumor … asal ingat aja, ada hukum rumor bursa, rumor negatif biasanya 90% reputable, daripada rumor positif yang cuma 40% reputable … UP2U lah 😛
… asal tau aja, bahwa elsa itu MILIK PERTAMINA, raja minyak beneran indon … jadi adu kepentingan pasti terjadi … up2u lah 😛

JAKARTA – Chairul Tanjung (CT) dikabarkan akan mundur dari posisinya sebagai CEO di Para Group. Para Group ini adalah kelompok usaha yang berisikan bisnis dari CT.

Salah satu anak usaha Para Group ini adalah PT Bank Mega Tbk. Bank dengan kode emiten MEGA tersebut, tengah tersangkut kasus pembobolan dana deposito sebesar Rp111 miliar milik PT Elnusa Tbk (ELSA), anak usaha PT Pertamina (Persero).

Beredar kabar tak sedap, rencana mundurnya CT dari panggung bisnis ini akibat kasus yang mendera Bank Mega.

“Tapi seandainya CT mundur pun, dia masih tercatat sebagai pemegang saham. Kan kalau sesuatu terjadi, pemegang sahamnya pasti akan dikejar,” kata Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika saat berbincang dengan okezone di Jakarta, Kamis (28/4/2011).

Kendati demikian, Ahmad menuturkan jika masalah yang dihadapi Bank Mega ini adalah hal yang biasa dalam berbisnis. Dan tekanan ke CT pun, menurutnya tidak lah besar. “Kalau tekanan dalam bisnis adalah hal yang biasa. Saya tidak melihat ada tekanan yang bisa membuat CT keluar dari CEO. Tekanan ini terlalu kecil untuk membuat CT mundur,” jelasnya.

Terkait kesibukan CT sebagai Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) tahun lalu pun tidak memecah konsentrasinya dalam menjalankan bisnisnya di Para Group. “KEN itu kan hanya sambilan saja, ajang kongkow-kongkow. Tidak menghabiskan energi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Eksekutif Para Group Ishadi SK membantah rumor yang menyebutkan CT akan mundur. “Enggak, ini baru wacana. Paling tidak bukan tahun ini. Lagipula enggak mungkin, lagi dipertimbangkan. Perusahaan milik Chairul Tanjung kan makin besar, dan butuh banyak orang juga,” jelasnya.

Ishadi pun membantah kabar isu mundurnya CT ini lantaran kasus pembobolan deposito Elnusa yang terjadi di Bank Mega. “Tidak benar itu,” tukasnya.
(wdi)

“Fee” Pencairan Deposito Elnusa 20 Persen
Erlangga Djumena | Rabu, 27 April 2011 | 11:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pencairan deposito milik PT Elnusa Tbk (ELSA) di PT Bank Mega Tbk (MEGA) benar-benar menjadi rayahan para tersangka. Begitulah kesimpulan sementara pemeriksaan polisi terhadap para tersangka kasus pembobolan deposito Elnusa di Bank Mega.

Kepolisian sendiri telah menetapkan enam tersangka kasus pembobolan dana milik perusahaan jasa minyak dan gas tersebut. Keenam tersangka itu masing-masing berinisial SN, IT, IF, AND, ZUL, dan RL.

Kepada KONTAN, Kepala Satuan Fiskal, Moneter dan Devisa, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya AKBP Arismunandar menjelaskan, SN atau Santun Nainggolan merupakan Direktur Keuangan PT Elnusa. Sementara IT merupakan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka. Adapun IF merupakan Direktur Investasi PT Discovery Indonesia.

Tersangka lain, AND dan ZUL, merupakan pemalsu tanda tangan di dokumen-dokumen. Sedangkan RL merupakan broker penghubung antara pihak bank dan pengguna uang.

Aris menyatakan, kerugian yang diakibatkan oleh aksi pembobolan ini mencapai Rp 111 miliar. Dana tersebut digunakan oleh para tersangka untuk melakukan investasi di dua perusahaan, yakni di PT Discovery Indonesia dan PT Harvestindo Asset Management.

Bukan cuma itu, dana tersebut juga menjadi bancakan para tersangka. Sebanyak 20 persen dari dana Rp 111 miliar tersebut merupakan fee atau komisi atas pencairan dana itu. Fee tersebut dibagi ke setiap tersangka. “Bagian yang paling besar kepada SN, IT, dan RL,” imbuh Aris. Berdasarkan pengembangan penyelidikan yang dilakukan polisi, sementara ini belum ada tersangka baru.

Kumpulkan aset

Kepolisian hingga kini juga masih mengumpulkan aset-aset yang dimiliki para tersangka sebagai barang bukti. Pihak kepolisian saat ini telah melakukan penahanan terhadap para tersangka itu.

Menurut Aris, para tersangka kasus ini akan dijerat dengan Pasal 374 Kitab Hukum Pidana (KUHP), yakni tentang penggelapan dalam jabatan yang ancaman pidananya selama 4 tahun penjara.

Selain itu, mereka dijerat pula dengan Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dokumen dengan ancaman pidana 6 tahun penjara. Lalu pelanggaran Pasal 49 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dengan ancaman pidana selama 5 tahun penjara.

Bukan itu saja, para tersangka juga akan dijerat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian uang yang ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Mega Tbk Gatot Aris Munandar enggan mengomentari hasil pemeriksaan polisi tersebut. “Biar pihak berwajib saja yang berwenang memeriksa. Kami tidak bisa memberi komentar,” ujarnya. Yang jelas, kata dia, Bank Mega tetap berpendapat pembobolan ini dilakukan sekelompok orang.

Sebelumnya, Bank Mega juga menolak disalahkan atas terjadinya kasus pembobolan dana deposito Elnusa ini. Mereka mengaku sudah menjalankan proses transaksi sesuai prosedur. Adapun pihak Elnusa juga berkukuh, depositonya di Bank Mega adalah deposito berjangka dengan tenor 1-3 bulan. (Khomarul Hidayat, Dea Chadiza Syafina/Kontan)
Tersangka pembobol dana Elnusa (ELSA) diduga telah menggunakan dana hasil kejahatannya untuk membeli sejumlah aset. Sementara itu, PT Pertamina diminta ikut mengusut karena keberadaan Elnusa sebagai anak usaha.

Polisi telah menyita sejumlah aset tersangka dari hasfl pembobolan. Terkini, Satuan Fiskal Moneter dan Devisa Direskrimsus Polda Metro Jaya menyita aset senilai Rp 1 miliar. Aset tersebut berupa rumah toko (ruko) di Makassar, Sulawesi Selatan. Aset ini diduga milik Direktur PT Discovery, ICL yang menjadi tersangka pembobolan.

Kepala Satuan Fiskal Moneter dan Devisa Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya AKBP Arismunandar menjelaskan, harga ruko milik ICL diperkirakan senilai Rp 1,4 miliar. “Di samping itu, penyidik juga mengamankan aset berupa motor senilai Rp 45 juta yang juga diduga diperoleh dari hasil pembobolan rekening PT Elnusa,” ujar Aris di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (27/6).

Menurut Aris, kepolisian terus me-nelusuri aliran dana yang dibobol oleh para tersangka. Polisi mensinyalir, dana-dana itu sudah dibelikan barang-barang atau aset dalam bentuk lain.

Saat ini, polisi baru menyita sekitar 20 persen dari total Rp 111 miliar dana yang dibobol enam tersangka. Barang sitaan tersebut berupa enam unit mobil mewah, lima unit sepeda, uang tunai senilai Rp 2 miliar dan USS 34.400. “Kami juga telah memblokir lima rekening di bank pemerintah dan swasta milik para tersangka,” jelas Aris.

Dalam Proses

Sementara itu, PT Harvestindo Asset Management belum dapat mengonfirmasi perihal dugaan masuknya aliran dana Elnusa Dana hasil pembobolan rekening Elnusa disebut-sebut men-galir ke Harvestindo setelah perusahaan ini mengalami gagal bayar.

Direktur Utama Harvestindo Asset Fresty Hendayani menuturkan, saat ini pemeriksaan terkait pencairan dana deposito Elnusa masih dalam proses. Hingga kini, perusahaan juga masih beroperasi seperti biasa “Dengan mempertimbangkan kepentingan para stakeholders, karyawan dan investor maka perseroan tetap menjalankan kegiatan usahanya sebagai manajer investasi di bawah pengawasan Bapepam-LK selaku otoritas pengawas pasar modal,” ungkap Fresty dalam konferensi pers di Jakarta Rabu (27/4).

Pada bagian lain, Fresty mengakui kabar adanya pembekuan produk Reksadana Harvestindo Istimewa (RHI), di mana produk tersebut tidak boleh ditransaksikan. Underlying portofolio RHI, lanjut Fresty, berupa promisory notes perusahaan sektor konstruksi. Awalnya dana kelolaan yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 360 miliar pada 2007. Namun, jumlah tersebut menurun menjadi Rp 109 miliar di 2010, dan kini tinggal menyisakan Rp 77 miliar.

“Namun dana tersebut belum bisa dikembalikan kepada nasabah, karena telah terjadi gagal bayar (.default) dari perusahaan yang menerbitkan surat utang yakni ada 6 perusahaan dari to-tal 27 perusahaan,” ujar Fresty lagi.

Dalam promisory notes tersebut, PT Asuransi Kredit Indonesia Tbk (Askrindo) selaku debitur, sepenuhnya menjamin underlying asset yang dimiliki oleh Harvestindo Asset Management “Sehingga Askrindo berkewajiban membayar, dan perseroan masih memiliki hak tagih atas mereka” tandas Mahendra Aristanto Konsultan Hukum Harvestindo Asset

Fresty juga membantah kabar bahwa Ivan litha- CEO PT Discovery Indonesia-memegang posisi pucuk pimpinan di Harvestindo. Fresty menyatakan dirinyalah yang menjadi Direktur Utama di Harvestindo sejak 28 Juni 2010.

Meski demikian, Fresty mengakui Ivan merupakan pemegang saham perusahaan yang bergerak di bidang manajer investasi tersebut Ivan merupakan salah satu tersangka yang- kini mendekam di tahanan Polda Metro.

Pertamina Usut

Terkait perkara pembobolan rekening Elnusa, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah memerintahkan FT Pertamina untuk ikut mengusut Hal tersebut berhubungan dengan keberadaan PT Elnusa Tbk sebagai anak usaha Pertamina

Menteri BUMN Mustafa Abubakar menyatakan, perintah pengusutan sudah diberitahukan kepada Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan tak lama setelah kasus muncul. “Ketika mendengar kasus tesebut, saya langsung menghubungi Dirut Pertamina dan kami minta untuk mengusut tuntas,” ujar Mustafa, di Jakarta Rabu (27/4).

Mustafa menambahkan, apapun yang terjadi dalam kasus ini akan diserahkan seluruhnya kepada Pertamina. Pasalnya, menurut dia. Elnusa bukanlah BUMN, melainkan anak usaha Pertamina. “Setelah Pertamina mendapatkan informasi, baru dilaporkan ke kami,” jelas dia.

Terkait dengan gangguan yang ditimbulkan oleh kasus Elnusa terhadap kinerja usaha Pertamina, maupun Elnusa, Mustafa enggan berpendapat “Kalau hal itu. langsung tanyakan kepada Bu Karen saja,” juranya.

Sebelumnya, Polda Metrojaya telah menangkap enam tersangka pembobolan dana deposito PT Elnusa senilai Rp 111 miliar. Kasus ini melibatkan pejabat Elnusa, pejabat Bank Mega dan sindikat pelaku lainnya.

Sumber : INVESTORINDONESIA
Sosok Richard Latief (RL) ternyata sudah sering melakukan praktik seperti yang dilakukan untuk membobol dana PT Elnusa Tbk (ELSA) senilai Rp111 miliar.

Kasat Fismondev AKBP Aris Munandar menjelaskan ketrampilan berkomunikasi Richard Latief diperoleh saat menjadi marketing di perusahaan swasta dan penyiar radio.

“Modus-modus ke pemilik uang dengan cara pendekatan man to man. Dekati dulu dan cari gambaran apakah orang ini dapat dipengaruhi, kalau bisa baru dia lakukan pendekatan untuk paparkan modus yang biasa dilakukannya,” jelasnya.

Dari hasil penyelidikan RL yang menghubungi kepala cabang Bank Mega (IT), Direktur PT Discovery (IF) dan Direktur Keuangan Elnusa (SN). “Oleh Richard, semua pihak dipertemukan dan disetujui untuk gunakan uang Elnusa. Dir Keuangan Elnusa setuju, caranya silakan mereka yang atur,” katanya.

Saat ini, pihaknya telah memblokir 5 rekening di dua bank. Pemeriksaaan dilakukan untuk menyelidiki bentuk investasi yang dilakukan PT Discovery Indonesia. “Yang diblokir belum tahu isinya di bank swasta dan pemerintah,” paparnya.

AKBP Aris Munandar menjelaskan pembobolan dana PT Elnusa senilai Rp111 miliar melibatkan kepala Cabang Bank Mega Bekasi-Jababeka berinisial IT, Direktur PT Discovery berinisial IF dan SN sebagai direktur keuangan Elnusa serta Zul.

Peran RL dimulai dengan menghubungi IT, IF, SN karena PT Discovery membutuhkan dana dan dipertemukan dengan SN dari Elnusa yang setuju dananya digunakan namun sebelumnya dipindahkan dari Bank Mandiri ke Bank Mega. Proses pemindahan dari Bank Mandiri ke Bank Mega Cabang Bekasi-Jababeka masih sesuai prosedur. Namun setelah dari escrow account Bank Mega menjadi deposito itu sudah dipalsukan mereka.

Motif mereka sedang membutuhkan dana. Mereka tidak mau melakukan di bank BUMN karena akan menjadi kasus korupsi. “Posisi SN, dia tahu kejahatan ini dan minta imbalan. Jadi dia bilang silahkan atur, saya tutup mata. Isi nominal dan peruntukan diketik kepala cabang,” jelasnya.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1454052/modus-richard-latief-sudah-biasa-dilakukan

Sumber : INILAH.COM
BIPI membatalkan niat menjual kepemilikannya di ELSA. Enggannya BIPI menjual ELSA diduga karena terus merosotnya harga saham ELSA terutama pasca terkuaknya kasus pencairan deposito ELSA secara ilegal di Bank Mega. BIPI membeli ELSA seharga Rp 330 per saham tahun lalu. Untuk membiayai pembelian 37,15% saham ELSA, BIPI menerbitkan promissory notes yang dibeli oleh PT Indotambang Perkasa, induk usaha BIPI, senilai Rp 894,81 miliar.

Sumber : IPS RESEARCH
Indeks Hari Ini Diprediksi Rebound
Oleh Bunga Dewi Kusuma
bisnis indonesia
Published On: 26 April 2011
JAKARTA: Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami rebound pada esok hari setelah terkoreksi 0,33% atau setara 12,54 poin ke level 3.788 pada penutupan perdagangan kemarin.

Analis MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan sentimen positif akan kembali mendorong indeks dalam negeri untuk menguat pada esok hari. Menurutnya, koreksi IHSG kemarin adalah hal yang wajar, mengingat indeks baru saja menembus level tertingginya selama setahun terakhir.

“Kalau kita lihat, koreksi indeks hari ini tidak besar dan ini merupakan hal yang wajar. Apalagi, sentimen positif pendorong laju indeks masih besar sehingga saya prediksi indeks akan bergerak di kisaran 3.730-3.830 besok,” ujarnya kepada Bisnis tadi malam.

Edwin menjelaskan sentimen positif bagi laju IHSG besok, diantaranya perkiraan deflasi pada bulan ini sebesar 0,1%-0,2%, pembagian dividen dari sejumlah emiten, ekspektasi positif pasar terhadap kinerja kuartal I/ 2011.

Ekspektasi penguatan rupiah, penguatan bursa regional, dan kenaikan harga minyak mentah serta komoditas metal, tambahnya juga merupakan katalis positif bagi laju indeks esok hari. Sementara itu, sentimen negatif tuturnya hanya berupa kurang likuiditas di pasar regional.

“Ini karena beberapa market masih libur, seperti Hang Seng, tapi untuk besok saya rasa ini tidak akan jadi masalah,” ungkapnya.

Saham-saham yang masih menarik hari ini, menurut Edwin di antaranya BJBR, ASII, BMRI, INCO, SMGR, JSMR, dan BBRI. Adapun saham yang diprediksi tertekan, yakni ELSA dan GIAA. “Elnusa [ELSA] saya prediksi masih akan melemah besok, terkait kasus pembobolan deposito,” katanya. (bsi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: