rupslb, suspensi, PLIS, elsa …250411


Kepala Cabang Mega Tidak Tahu Pergantian Direksi
Tri Kurniawan – Okezone
Senin, 25 April 2011 16:41 wib

JAKARTA – Tim Kuasa Hukum Tersangka Kasus Pembobolan Uang PT Elnusa Tbk (ELSA) Itman Harry Basuki alias MAN keukeuh jika kliennya tidak terlibat dalam kasus yang merugikan Elnusa senilai Rp111 miliar.

Partahi Sihombing mengatakan kliennya yang menjabat sebagai Kepala Cabang Bank Mega Bekasi Jababeka telah bekerja sesuai prosedur yang telah ditetapkan.

“Saudara Santun kemudian mengatasnamakan Eteng dan mengambil itu, ya dia memang sesuai SOP yang ada. Dengan begitu saudara Itman tidak bisa dipersalahkan. Tandatangan sudah diperiksa, dia sudah melihat spesimen tanda tangan itu cocok,” kata Parthi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (25/4/2011).

Seperti diketahui sebelumnya, kasus kejahatan perbankan ini terungkap dari penelusuran penyidik Polda Metro Jaya atas kasus perbankan sebelemnya. Kemudian ditemukanlah pemindahan uang milik Elnusa dengan menggunakan tanda tangan palsu. Surat tersebut tertanda tangan mantan Direktur Utama Elnusa, Eteng Ahmad Salam.

Diduga pemindahan dana on call dengan tanda tangan palsu tersebut melibatkan Direktur Keuangan PT Elnusa, SAN (53) dan Itman (41). Untuk melancarkan aksinya dilibatkanlah seorang broker berinisial RIC (54) sebagai perantara.

Terkait tanda tangan palsu mantan Direktur PT Elnusa yang digunakan untuk memindahkan uang ke PT Discovery, kata Parthi itu menjadi masalah internal PT Elnusa dan tidak ada hubungannya dengan kliennya. “Klien kami sama sekali tidak mengetahui jika ada pergantian direksi di PT Elnusa,” tegasnya.

Dia menambahkan, saat ini Elnusa seakan mendorong kasus ini menjadi tanggung jawab kliennya. Dia tidak menampik kemungkinan Elnusa sudah memberitahu ada pergantian direksi tapi, kata dia Bank Mega Cabang Jababeka berdiri sendiri.

“Mungkin di beberapa cabang lain diberitahu. Tapi ini kan berdiri sendiri dan punya kewenangan sendiri. Untuk di Jababeka, tidak pernah ada pemberitahuan resmi dari direksi Elnusa. Sehingga Elnusa yang katakanlah sekarang bemasalah kemudian meminta mencairkan dana, ya disetujui-setujui saja,” tegasnya.

Dia juga membantah, Itman yang sudah menjabat Kepala Cabang Bank Mega selama empat tahun mempunyai kedekatan dengan SAN. Pemindahan dana tersebut memang atas dasar prosedur yang sudah sesuai Standart Operasional Prosedur.

“Wong yang punyanya yang narik. Bahwa kemudian yang narik bukan orang Elnusa bahwa di situ pergantian direksi, itu internal Elnusa,” pungkasnya.
(ade)

Otak Pembobolan Dana Elnusa Residivis
Tri Kurniawan – Okezone
Senin, 25 April 2011 15:22 wib

JAKARTA – Pembobolan dana PT Elnusa yang tersimpan di Bank Mega Cabang Jababeka didalangi oleh seseorang berinisial RIC (54). RIC merupakan perantara Direktur Keuangan PT Elnusa, SAN (53) dan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, MAN (41).

Dari catatab Kepolisian, RIC juga pernah terlibat 15 kasus kejahatan perbankan, termasuk pembobolan uang Pemerintah Kabupaten Aceh yang tersimpan di Bank Mandiri Jelambar beberapa waktu lalu.

Kepala Satuan Fiskal, Moneter dan Devisa (Fismondev)Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya AKBP Aris Munandar mengatakan, RIC sebelumnya sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

“RIC adalah otaknya karena pengalaman membobol dana nasabah di bank lain. Dia merupakan DPO pembobolan Bank Mandiri Jelambar,” kata Aris kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (25/4/2011).

Namun demikian, Aris enggan menyebutkan secara rinci jejak kasus yang diperbuat RIC. Setelah lama menjadi DPO, RIC yang sehari-hari bekerja sebagai broker itu ditangkap Satuan Fismondev pada 19 April 2011 di Jalan Merah Delima I nomor 137, Sumur Batu, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. RIC saat ini mendekam di balik jeruji Polda Metro jaya.

Seperti diketahui, pada kesempatan berbeda Polda Metro Jaya meringkus enam orang tersangka tindak pidana kejahatan perbankan, penyalahgunaan jabatan, dan pencucian uang.

Keenamnya yakni Direktur Keuangan PT Elnusa berinisial SAN (53), Kepala Cabang Bank Mega Jababeka MAN (41), Direksi PT Discovery dan Komisaris PT Harvestindo IVA (35), Direksi PT Discovery GUN (29), Broker RIC (54) dan Staff Collections PT Harvestindo ZUL (45).

Kasus ini terungkap dari penyidikan kasus perbankan sebelumnya yang juga dilakukan orang dalam bank. Hasil penelusuran polisi ditemukan adanya pengalihan uang milik PT Elnusa yang tersimpan dalam Bank Mega Cabang Jababeka ke PT Discovery dengan menggunakan pemalsuan tandatangan mantan Direktur Elnusa, Eteng Ahmad Salam.

Mengetahui hal tersebut Eteng membuat laporan ke Polda Metro Jaya. Menurut Aris modus yang dilakukan pelaku merupakan cara lama yang sudah sering terjadi, pada 1990-an pernah terjadi kasus pembobolan uang milik PT Asapri dan PT TWP.

Awalnya, lanjut Aris, dana yang dialihkan sebanyak Rp 161 miliar namun merasa apa yang dilakukan mulai tercium polisi pelaku mengembalikan Rp 50 milyar ke PT Elnusa.

“Modus yang digunakan para pelaku adalah dengan mengalihkan dana PT Elnusa ke PT Discovery dan lalu dialihkan ke rekening IVA selaku pemilik PT Discovery,” paparnya.

(ded)

Ketua Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono meminta agar bank tidak selalu disalahkan dalam kasus pembobolan dana nasabah. Dalam berbagai kasus pembobolan, tak selamanya merupakan kesalahan dari bank tersebut.

‎”Kita harus melihat setiap kejahatan perbankan itu secara kasus per kasus. Karena dari beberapa kejadian yang diberitakan itu berbeda modus operandinya,” ujar Sigit ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Senin (25/4/2011).

Iapun mencontohkan kasus pembobolan dana milik PT Elnusa Tbk (ELSA) yang disimpan di Bank Mega. Menurut Sigit, berdasarkan penuturan Dirut Elnusa, pencairan dilakukan oleh anggota direksinya yang memalsukan tanda tangan direktur utama.

“Kasus yang dialami PT Elnusa misalnya, dari pernyataan Dirutnya, tegas-tegas dikatakan bahwa salah seorang anggota direksinya memalsukan tandatangan Dirut. Apakah bank ikut salah?,” imbuh Komisaris PT Bank Central Asia Tbk ini.

Menurut Sigit, kasus pembobolan dana di industri perbankan masih tergantung hasil penyelidikan dari Kepolisian seperti apa tanda tangan palsu tadi.

“Tetapi yang paling penting kita harus menanggapinya secara rasional dan proporsional,” katanya.

Ditambahkan Sigit, tanpa bermaksud mengecilkan kejadiannya secara statistik baik frekuensi maupun nilainya dibandingkan jumlah nasabah bank yang puluhan juta orang dan dana pihak ketiga di perbankan lebih dari Rp 2.300 triliun, secara presntase tidak signifikan.

“Namun kami mendukung setiap upaya hukum untuk menindak yang bersalah, termasuk apabila itu menyangkut bank ataupun pegawai bank. Yang salah yang dihukum. Jangan karena beberapa kejadian kejahatan perbankan kemudian digeneralisasikan seolah olah seluruh sistem perbankan buruk,” jelasnya.

Seperti diketahui, berbagai kasus pembobolan dana nasabah akhir-akhir ini marak. Yang sempat menghebohkan beberapa waktu lalu adalah pembobolan dana nasabah Citibank oleh mantan Relationship Managernya, Malinda Dee.

Yang terbaru adalah pembobolan dana milik Elnusa di Bank Mega sebesar Rp 111 miliar oleh direktur keuangannya, Santun Nainggolan. Manajemen Elnusa akhirnya memecat Santun yang dulu juga pernah menjabat sebagai direktur keuangan Sempati Air yang sudah bangkrut.

Manajemen Elnusa juga memastikan bahwa hilangnya dana deposito Rp 111 miliar tidak mempengaruhi kinerja perseroan. Penempatan deposito ini sedianya merupakan dana operasional cadangan untuk tiga bulan ke depan.

Sumber: detikcom
Pembobolan Deposito Elnusa
Saham Elnusa & Bank Mega Anjlok!
Widi Agustian – Okezone
Senin, 25 April 2011 10:44 wib

JAKARTA – Pasca merebaknya kabar pembobolan deposito sebesar Rp111 miliar, harga saham PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT Bank Mega Tbk (MEGA) terpantau terkoreksi. Sentimen negatif tersebut memberi tekanan atas dua saham perusahaan tersebut.

Alhasil, saham ELSA terpantau melemah Rp10 atau 3,23 persen ke Rp300 dari sebelumnya yang sebesar Rp310 pada pukul 10.30 waktu JATS. Begitu juga dengan saham MEGA yang turun Rp250 atau 7,25 persen menjadi Rp3.200 dari sebelumnya Rp3.450.

Sebelumnya, Elnusa menuturkan dananya sebesar Rp111 miliar yang disimpan di Bank Mega cabang Jababeka-Cikarang dalam bentuk deposito berjangka telah dicairkan tanpa sepengetahuan ELSA.

“Saya sampaikan di sini bahwa bukan ELSA yang dibobol. ELSA menempatkan dana di Bank Mega dan dana itu sudah tidak ada. ELSA baru sadar dana penempatan sebesar Rp111 miliar itu sudah tidak ada menurut keterangan lisan dari Kepala Cabang Bank Mega tersebut telah dicairkan. Kami terkaget-kaget, begitu mau dicairkan tidak ada,” ungkap Direktur Utama ELSA Suharyanto dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin.

Perseroan pun memaparkan, apabila hal tersebut benar terjadi, maka pencairan tersebut tidak sesuai dengan perjanjian penempatan. Hal itu juga dilakukan tanpa sepengatahuan ELSA, maka dari itu perseroan pun mempertanyakan bagaimana sebenarnya sistem dan prosedur yang ada di Bank Mega.

Sesuai dengan surat perintah penempatan, ELSA mulai menaruh dana di Bank Mega cabang Jababeka-Cikarang sejak 7 September 2009 yang pernah mencapai Rp161 miliar, terbagi dalam lima bilyet deposito berjangka antara 1-3 bulan.

Seluruh dana tersebut telah ditransfer ELSA dan diterima dengan baik oleh Bank Mega. Dokumen-dokumen yang diperlukan untuk penempatan deposito ditandatangani oleh pejabat ELSA yang berwenang dan bilyet depositonya pun ditanda tangani oleh Kepala Cabang Bank Mega Jababeka-Cikarang. Penempatan dana yang dilakukan oleh ELSA juga telah memenuhi prosedur dan persyaratan penempatan dana yang diterapkan oleh Bank Mega cabang Jababeka di mana dana tersebut ditempatkan.

ELSA terus memperpanjang penempatan pada saat jatuh tempo dari masing-masing bilyet dan juga terus menerima pembayaran Rp111 miliar,deposito senilai Rp50 miliar pernah dicairkan ELSA pada tanggal 5 Maret 2010, dan dananya telah diterima dengan baik di rekening sesuai perintah ELSA.

Permasalahan ini baru diketahui ketika ELSA akan mencairkan deposito tersebut pada 19 April 2011. Adapun kronologis yang dituturkan perseroan yaitu pada 19 April 2011 pihak kepolisian,datang ke kantor perseroan dan mempertanyakan apakah perseroan punya rekening di Bank Mega atau tidak.
(wdi)

Elnusa Tunjuk Lucy Sycilia Jadi Plt Dirkeu

Oleh: Akbar Junisa Surya
Pasar Modal – Minggu, 24 April 2011 | 15:57 WIB

INILAHCOM, Jakarta – PT Elnusa Tbk (ELSA) untuk sementara menunjuk Lucy Sycilia untuk menduduki pelaksana tugas (Plt) direktur keuangan.

Hal ini setelah direktur keuangan perseroan, Santun Nainggolan (SN) terseret kasus pembobolan dana deposito senilai Rp111 miliar di Bank Mega Cabang Jababeka-Cikarang. SN diduga memalsukan tandatangan direktur utama yang lama Eteng A Salam sehingga dapat melakukan pencairan.

Santun Nainggolan sat ini sudah diberhentikan sementara oleh perseroan. Hal ini untuk memperlancar proses pemeriksaan pihak kepolisian. Lucy pun segera mengusai keadaan dengan menjalankan tugas selaku direktur keuangan. PT Elnusa Tbk (ELSA) ketika memutuskan menyimpan dananya sebesar Rp161 miliar, dalam bentuk deposito berjangka di Bank Mega.

“Analisa kami adalah bank tersebut harus bank pemerintah atau bank besar yang memiliki reputasi baik, saat ini kita memiliki dana simpanan di 7 bank lain dengan kisaran yang berbeda-beda,” kata Lucy.

Mengenai kemungkinan pergantian direktur keuangan, pihaknya akan membahas lebih lanjut dalam RUPS tanggal 19 Mei mendatang.

PT Elnusa Tbk menyatakan deposito yang disimpan di Bank Mega telah dibobol senilai Rp111 miliar. Pembobolan diduga dilakukan Direktur Keuangan Santun Nainggolan dengan memalsukan tandatangan direktur utama yang lama. Kasus ini baru diketahui saat perseroan akan mencairkan deposito tersebut tetapi teryata sudah dicairkan tanpa tandatandan direksi.
Elnusa Simpan Deposito di Bank Bereputasi Baik

Oleh: Akbar Junisa Surya
Pasar Modal – Minggu, 24 April 2011 | 14:47 WIB

INILAHCOM, Jakarta – Tidak ada privilage apapun bagi PT. Elnusa Tbk (ELSA) ketika memutuskan menyimpan dananya sebesar Rp161 miliar, dalam bentuk deposito berjangka di Bank Mega.

“Analisa kami adalah bank tersebut harus bank pemerintah atau bank besar yang memiliki reputasi baik, saat ini kita memiliki dana simpanan di 7 bank lain dengan kisaran yang berbeda-beda,” demikian menurut Direktur SDM sekaligus Plt Direktur Keuangan PT Elnusa Tbk, Lucy Sycilia, di Jakarta, Minggu (24/4).

Dana yang disimpan perseroan sedianya ditujukan sebagai buffer stock untuk operasional selama tiga bulan ke depan. Tetapi ternyata sudah dicairkan tanpa sepengetahuan direksi. Target investasi Elnusa tahun 2011 ini diperkirakan mencapai US$80-100 juta, dengan revenue sekitar Rp5 triliun.

Senada dengan Lucy, Legal Officer PT. Elnusa Tbk, Firmansyah, mengatakan hingga saat ini belum ada konfirmasi dari Bank Mega kapan dana tersebut dicairkan. “Sewaktu kami mendatangi Bank Mega cabang Jababeka-Cikarang, setelah mengetahui dana sudah dicairkan, polisi langsung menginterogasi kepala cabangnya. Setelah itu langsung membawanya ke Polda untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ucapnya.

“Saat ini seluruhnya masih diperiksa oleh kepolisian, untuk statusnya bisa ditanyakan kepihak polisi,” ujarnya. [hid]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: