energi terbarukan: STARTS NOW … 280311


Indonesia Lumbung Energi
Senin, 28 Maret 2011 | 10:21
investor daily

Berbagai faktor menguatkan posisi Indonesia sebagai lumbung energi dunia. Selain minyak bumi, yang kini sudah sangat menipis, Indonesia memiliki cadangan gas alam dan batubara dalam jumlah besar. Kedua komoditas kini gencar diekspor ke berbagai negara.

Di samping energi fosil, potensi Indonesia di bidang energi nabati juga sangat besar, bahkan termasuk paling besar di dunia. Dengan potensi yang amat besar ini, Indonesia tak perlu terus-menerus merisaukan kenaikan harga minyak mentah.

Kalau pun harga BBM dinaikkan mengikuti harga minyak mentah, Indonesia tidak perlu menderita krisis energi. Masih ada gas alam, batubara, dan energi terbarukan yang bersumber pada nabati. Krisis energi yang selama ini terjadi lebih disebabkan oleh salah kelola. Para penyelenggara terjebak oleh upaya mencari solusi jangka pendek, sehingga sejarah krisis energi terus berulang di negeri yang mestinya menjadi lumbung energi dunia.

Lahan dan iklim Indonesia sangat cocok untuk berbagai jenis tanaman bahan baku energi terbarukan itu. Tak ada satu pun jenis tanaman yang mampu menandingi bahan baku energi nabati paling andal seperti kelapa sawit dan aren. Kedua jenis pohon itu tumbuh subur di seluruh Nusantara. Berkat yang berlimpah ini terkesan disia-siakan.

Sawit dengan mudah tumbuh di sepanjang garis kathulistiwa, yakni sepanjang Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Tandan buah segar sawit mengandung banyak crude palm oil (CPO) yang menjadi bahan baku minyak goreng, bahan bakar nabati (BBN) dan berbagai jenis pangan, obat-obatan, dan kosmetik. Sebagai bahan baku BBN, produktivitas CPO melebihi bahan baku BBN lainnya.

Di luar zona sepanjang garis khatulistiwa, lahan Indonesia sangat mudah ditumbuhi pohon aren, tanaman tropis yang juga sangat ideal sebagai bahan baku BBN. Aren tumbuh subur di seluruh wilayah pegunungan.

Beda dengan sawit yang harus ditanam di lahan khusus, terpisah dari tanaman lain, aren bisa tumbuh subur bersama aneka jenis pohon. Di daerah pesisir pantai di semua pulau Nusantara, pohon lontar tegak berdiri di samping lambaian nyiur. Kedua pohon ini juga kaya akan bahan baku energi. Tapi, karena kelapa lebih dibutuhkan untuk bahan pangan, farmasi, dan kecantikan, pohon lontar bisa dibudidayakan sebagai bahan baku energi nabati.

Melihat potensi yang sangat besar ini, mestinya Indonesia tidak sensitive terhadap krisis minyak mentah. Jika harga bahan bakar minyak (BBM) terpaksa dinaikkan mengikuti lonjakan harga minyak mentah dunia, Indonesia masih memiliki banyak alternative energi. Di bidang kelistrikan, pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga angin belum digarap dengan serius.

Seluruh wilayah Indonesia disinari matahari sepanjang tahun. Sudah berpuluh-puluh tahun, pemerintah bingung menghadapi lonjakan harga minyak mentah. Karena kenaikan harga minyak mentah adalah sinyal kuat kenaikan harga BBM dan jika harga BBM dinaikkan, inflasi melonjak, daya beli rakyat menurun, dan berbagai target ekonomi makro tidak tercapai. Kenaikan harga BBM selalu mengundang protes para aktivis karena pemerintah tidak serius melakukan berbagai upaya antisipasi.

Beberapa bulan terakhir, harga minyak bergerak naik. Harga Indonesia crude price (ICP) sempat di atas US$ 105 per barel dan kini level itu kembali terlampaui. Rata-rata harga minyak mentah sudah di atas harga patokan APBN 2011, yakni US$ 80 per barel.

Menghadapi kenyataan itu, diskusi yang mengemuka hanya rencana kenaikan harga BBM, pembatasan pemakaian BBM bersubsidi, dan perubahan harga patokan minyak mentah. Kita nyaris tidak mendengar pembahasan serius pemerintah tentang shifting penggunaan BBM ke gas, batubara, dan BBN. Pemerintah dan DPR hanya berpikir jangka pendek.

Tidak melihat jauh ke depan. Jika cara pandang dan cara kerja pemerintah dan wakil rakyat tetap seperti ini, energi akan terus menjadi masalah, bahkan bakal semakin serius. Kekayaan alam yang berlimpah bakal menjadi kutukan.

Menghadapi lonjakan harga minyak mentah, kita tidak berkeberatan pemerintah menaikkan harga BBM untuk menekan subsidi asalkan ada program yang jelas untuk masa depan bangsa, yakni untuk diversifikasi energi, pembangunan infrastruktur, dan transportasi umum. Sebagian besar BBM bersubsidi selama ini terserap di sector transportasi. Kendaraan pribadi adalah pengguna BBM subsidi terbesar. Ke depan, subsidi BBM yang dihemat digunakan untuk pertama, membangun infrastruktur gas untuk transportasi, industri, dan rumah tangga.

Kedua, menggunakan sebanyak mungkin batubara untuk kebutuhan energi dalam negeri, yakni untuk bahan bakar keperluan rumah tangga dan pembangkit listrik. Ketiga, riset BBN dan penanaman aren dan lontar secara besar -besaran. Keempat, pembangunan infrastruktur jalan raya, pelabuhan laut, dan bandara. Kelima, membangun transportasi umum massal agar pengguna kendaraan pribadi beralih ke kendaraan umum.

Ledakan PLTN di Jepang mendorong berbagai negara meninggalkan pembangkit listrik tenaga nuklir. Kondisi ini akan membuat harga minyak mentah melesat lebih cepat akibat permintaan yang semakin kuat. Indonesia tidak perlu risau jika sejak hari ini, kita benar-benar mengembangkan potensi alam ini sebagai lumbung energi. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: