minyaaa($???)aak … 090311


Rabu, 09/03/2011 08:20 WIB
Analis Ramai-ramai Naikkan Proyeksi Harga Minyak
Nurul Qomariyah – detikFinance

New York – Para analis ramai-ramai mengkoreksi ramalan harga minyak untuk tahun 2011. Gangguan produksi di Libya yang akan menciutkan kapasitas global diprediksi akan terus menjaga harga minyak tetap tinggi, melebihi tahun 2008.

Goldman Sachs diketahui telah menaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal II-2011 sebesar 4,50 dolar AS menjadi US$ 105 per barel. Bank of America-Merrill Lynch menaikkan proyeksinya lebih tinggi dari semula US$ 86 per barel menjadi US$ 122 per barel pada kuartal II-2011.

Para analis energi pemerintah AS juga menaikkan prediksinya untuk tahun 2011 hingga 9 dolar menjadi US$ 102 per barel. Proyeksi ini lebih tinggi dari proyeksi analis pemerintah AS di tahun 2008 yang sebesar US$ 99,75 per barel, ketika minyak menembus rekor tertingginya.

Pemerintah Indonesia sendiri dalam APBN 2011 telah mematok harga minyak Indonesia di kisaran US$ 80 per barel. Untuk data terbaru, harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) telah menembus US$ 113 per barel.

Bank-bank lain, termasuk Citigroup dan Commerzbank juga secara tajam telah menaikkan proyeksi harga minyaknya pada pekan ini hingga di atas US$ 100 per barel, setelah harga minyak melonjak hingga 10% sejak pertengahan Februari ketika aksi demonstrasi di Libya berubah menjadi kerusuhan.

Akibat kerusuhan yang telah menelan ratusan korban jiwa itu, produksi minyak Libya turun hingga dua pertiga sementara ekspor dihentikan sementara karena adanya sanksi. Produksi terganggu karena perpecahan antara pemerintah dan pemberontak telah meluas hingga mengganggu fasilitas-fasilitas produksi.

“Dasar asumsi kami Libya akan tetap offline hingga 6 bulan kedepan, kerusakan infrastruktur perminyakan secara terbatas, tidak ada gangguan suplai minyak di kawasan tersebut lebih jauh dan destruksi permintaan global yang melunak,” ujar analis dari Bank of America, Francisco Blanch seperti dikutip dari Reuters, Rabu (9/3/2011).

Ia merevisi proyeksi minyak Brent untuk tahun 2011 hingga 20 dolar menjadi US$ 108 per barel. Namun ia menambahkan ‘risiko ekor’ pada proyeksi itu, dimana ada probabilitas hingga 30% untuk harga minyak bergerak pada kisaran US$ 125-US$ 160 per barel dan 15% di kisaran US$ 100, tergantung pada kecepatan pemulihan produksi dan tambahan gangguan serta permintaan yang tidak terencana.

Libya merupakan salah satu anggota OPEC, dengan produksi termasuk terbesar keempat di Afrika setelah Nigeria, Aljazair dan Angola. Produksi minyak Libya ditargetkan mencapai 1,8 juta barel per hari (bph), dengan cadangan diperkirakan mencapai 42 miliar barel. Kerusuhan di Libya dikhawatirkan terus mengganggu suplai minyak yang terutama dipasok ke Eropa. Semenjak krisis itu, harga minyak terus melonjak, meski kemarin agak surut karena adanya komitmen dari Arab Saudi untuk menjaga harga minyak.

Pada perdagangan Selasa (8/3/2011), minyak light sweet pengiriman April turun 42 sen menjadi US$ 105,02 per barel, setelah sempat melonjak hingga US$ 106,95. Minyak Brent pengiriman April juga turun 1,98 dolar AS menjadi US$ 113,06 per barel.

Harga minyak pernah ‘menggila’ pada tahun 2008. Untuk pertama kalinya pulam harga minyak dunia menembus US$ 100 per barel, tepatnya pada 2 Januari 2008. Harga bergerak cepat dan pada 11 Juli 2008, harga minyak mengamuk menembus rekor tertingginya di US$ 147,50 per barel di London dan US$ 147,27 per barel di New York.

(qom/qom)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: