adro, saat saham2 batubara disebut … 180111


Harap-harap Cemas BI Rate
Ayo Short Term di Saham Batu Bara

inilah.com/Wirasatria
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Selasa, 18 Januari 2011 | 06:42 WIB
TERKAIT
Sesi Dua, Cermati 3 Sektor Saham
Asia Naik, IHSG Sesi I Ditutup Turun 5,41 Poin
AB Wajib Cantumkan Single ID Nasabah
Bursa Asia Berbalik Positif
BEI Revisi Aturan Keanggotaan Bursa
INILAH.COM, Jakarta – Laju IHSG, Selasa (18/1) diprediksi melemah seiring kekhawatiran pasar atas inflasi serta harap-harap cemas kenaikan BI rate. Rekomendasi positif untuk saham batu bara.

Gema Merdeka Goeyardi, analis UOB Kay Hian Securities mengatakan, potensi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) hari ini terutama karena isu melambungnya inflasi seiring kenaikan harga komoditas pangan dunia. Pasar saat ini tidak mencermati inflasi tapi aspek berikutnya yaitu peluang kenaikan BI rate bulan depan.

Karena itu, menurutnya, IHSG terjaga di atas level support 3.527. Jika level ini ditembus, IHSG akan melemah ke level 3.478 yang merupakan level penutupan 10 Januari saat indeks melemah hingga 4,21%. Jika support tersebut ditembus ke bawah, koreksi berikutnya ke level 3.350.

“Sedangkan level resistance-nya di level 3.650,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (17/1) malam. Pada perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 33,41 poin (0,94%) ke level 3.535,731. Indeks saham unggulan LQ45 juga turun 6,78 poin (1,08%) ke angka 622,292.

Sebelumnya, lanjut Gema, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution membantah akan menaikan suku bunga acuan pada Februari. Tapi, belakangan, BI mempertimbangkan kenaikan suku bunga itu hanya soal waktu yang belum pasti. “Jika bulan depan BI rate tidak naik, respon pasar akan negatif dan IHSG berpeluang melemah ke level 3.270,” timpalnya.

Lebih jauh dia memaparkan, kenaikan BI rate positif pengaruhnya bagi market. Sebab, meski kenaikan inflasi saat ini dipicu faktor terhambatnya suplai dan bukan faktor demand, masalah BI rate tidak semata mempertimbangan inflasi. “Masalahnya, adalah negara-negara Asia lain sudah menaikan suku bunga acuan,” tandasnya.

Di antaranya adalah Thailand, China, Taiwan, Malaysia dan Korea Selatan. Karena itu, investor akan berpindah ke country risk yang lebih kecil dibandingkan RI. Dia mencontohkan, kenaikan suku bunga China yang saat ini sudah mencapai 4%. “Memang lebih kecil dari BI rate 6,5% tapi risikonya lebih kecil dari RI,” paparnya.

Karena itu, jika BI rate dipertahankan di level 6,5%, investor asing akan benar-benar mengambil posisi sell, sehingga IHSG akan melemah tajam. Jadi, bukan hanya masalah inflasi.

“Karena itu, saat ini IHSG masih melemah. Kalaupun naik 30-40 poin, itu semata technical rebound,” tukasnya. Hal terbukti, imbuhnya, pada saat kenaikan sebelumnya yang tidak didukung besarnya volume transaksi.

Hari ini, lanjut Gema, market masih berpeluang melemah didorong saham-saham perbankan yang berkapitalisi besar. UOB Kay Hian Securities masih merekomendasikan sell saham-saham di sektor perbankan. “Begitu juga saham ASII (PT Astra Internasional),” tukasnya. Tapi, jangka panjang indeks saham domestik masih positif.

Sementara itu, antisipasi pasar atas Initial Public Offering (IPO) PT Garuda Indonesia dan rights issue Bank Mandiri akhir bulan ini, tidak signifikan pengaruhnya bagi market. “Pada saat IPO KRAS (PT Krakatau Steel) orang mengatakan hal yang sama. Itu hanya wacana,” tukasnya.

Dia menegaskan, saat ini orang lebih khawatir soal BI rate naik atau tidak. Apalagi, setelah kenaikan giro wajib minumum (GWM) China 50 basis poin ke level 19% akhir pekan lalu.

Dalam situasi ini, Gema merekomendasikan positif saham-saham di sektor komoditas terutama batubara. Sebab, permasalahan cuaca sangat berpengaruh pada kenaikan harga batu bara. “Apalagi, harga cooking coal terdongkrak signifikan karena banjir di Australia semakin parah kondisinya,” ucapnya.

Banjir Australia, telah mengganggu arus distribusi batu bara dunia di pelabuhan Nescastle. Sedangkan, untuk recovery membutuhkan waktu enam bulan. Karena itu, harga batu bara masih dalam up trend yang saat ini berada di level US$136 per metrik ton berdasarkan harga mingguan di Newcastle.

Saham-saham pilihannya adalah PT Bumi Resources (BUMI), PT Harum Energy (HRUM), PT Adaro Energy (ADRO), PT Borneo Lumbung Energi dan Metal (BORN) dan PT Berlian Laju Tanker (BLTA) untuk saham yang berkapitalisasi kecil. “Jadi strateginya adalah short term trading saja,” imbuh Gema.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: