brau namaMU diseBUt … 101210


Saham di Sektor Komoditas Jadi Andalan
Jum’at, 10 Desember 2010 – 07:46 wib

JAKARTA – Komoditas masih menjadi sektor pilihan investor pasar saham. Pesona saham komoditas terlihat begitu menggiurkan, terutama dengan pergerakan harga minyak serta komoditas, yang terus bergerak naik.

Sebagai salah satu negara yang memiliki sumber daya komoditas yang besar, tidak salah bila investor asing begitu konfiden menggelontorkan dananya ke emiten yang bergerak di sektor ini.

Tahun ini, sektor komoditas dan tambang kembali menjadi primadona, menyusul tembusnya harga minyak hingga level USD90 perbarel. Tidak heran, sejumlah emiten di sektor ini, yang melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) diburu investor.

“Positifnya nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan meningkatnya harga komoditas, menjadi dua faktor utama yang membuat saham-saham di sektor ini melesat,” ujar analis PT Lautandhana Securities, Willy Sanjaya, di Jakarta,kemarin.

Tahun ini tercatat ada lima emiten tambang dan komoditas, yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Emiten-emiten tersebut antara lain PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI), PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Borneo Lumbung Energy Metal Tbk (BORN) dan PT Bumi Mineral Resources Tbk (BRMS) mengalami lonjakan yang luar biasa.

Dari mulai masa penawaran awal, penawaran hingga perdagangan perdana di pasar sekunder, saham-saham tersebut menjadi pilihan pelaku pasar. Dari lima emiten tersebut, BIPI menjadi saham yang paling tinggi mengalami kenaikan pada saat saham perdananya di perdagangkan.

Setelah BIPI, BRAU menjadi saham kedua yang paling diminati. Perusahaan yang memproduksi hard cooking coal ini mencatat kenaikan sebesar 45 poin atau 11,25 persen menjadi Rp445 dari harga perdana Rp400.

Analis Pasar Modal, Edwin Sinaga menilai kenaikan tersebut disebabkan valuasi harga perdana yang rendah, sementara fundamental BRAU yang bagus. “BRAU, merupakan salah satu saham pertambangan berfundamental kuat, dan memiliki harga dibawah angka Rp1.000. Wajar jika investor memburunya,” ujarnya.

Kondisi serupa juga berlaku pada tiga emiten lainnya. Sebut saja BRMS yang naik 65 poin (10,24 persen) menjadi Rp700 dari harga perdana Rp635. Lalu BORN yang menguat 110 poin (9,4 persen) menjadi Rp1.280 dari Rp1.170. Sementara HRUM hanya mengalami kenaikan 250 poin (4,8 persen) menjadi Rp5.450 dari harga Rp5.200.

Mengenai rendahnya harga HRUM, tidak lepas dari tingginya valuasi harga perdana saham tersebut. “Harga tersebut cukup tinggi, meskipun secara fundamental bagus,” katanya. (juni triyanto) (Koran SI/Koran SI/ade)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: