brau mi$teriu$ … 101110


Misteri marketing rights Berau Coal
OLEH BASTANUL SIREGAR Wartawan Bisnis Indonesia

Siapa sebenarnya pemilik hak eksklusif pemasaran (marketing rights) PT Berau Coal masih merupakan tanda tanya. Masing-masing punya klaim sendiri, dan kita berhak bertanya: Di mana gerangan otoritas bursa berada.

Awal pekan ini, Noble Group Ltd, raksasa komoditas yang berbasis di Hong Kong, merilis penunjukannya sebagai pemegang hak eksklusif pemasaran PT Berau Coal, produsen batu bara terbesar ke lima nasional yang 90% sahamnya dikuasai PT Berau Coal Energy Tbk.

Noble akan memasarkan batu bara Berau Coal ke pasar ekspor, kecuali untuk Jepang dan Malaysia. Pasar ekspor Jepang masih dipegang Sojitz Corporation yang menguasai 10% saham Berau Coal. Pasar Malaysia dikendalikan tim pemasaran Berau Coal.

Produksi batu bara Berau Coal tahun ini ditargetkan 17,9 juta ton. Sebanyak 30% atau 5,4 juta ton dari total produksi itu diserap pasar domestik, sisanya ekspor.

Dengan marketing rights itu, Noble bertanggung jawab mengatur manajemen kontrak seluruh perjanjian ekspor dan menjalin kerja sama dengan tim logistik dari Berau Coal.

Tidak ada hal yang luar biasa sebetulnya dari penunjukan itu, kecuali dia sekaligus memberi tanda ketimbang pesaing-pesaingnya, Noble sudah lebih dekat untuk menjadi pembeli 20% saham PT Bukit Mutiara–pemilik 90,26% saham Berau Energy.

Memang tidak ada penjelasan dalam pengumuman itu, apakah penunjukan Noble sebagai pemegang hak eksklusif pemasaran batu bara Berau Coal ada kaitannya dengan penjualan 20% saham Bukit Mutiara, yang memang sedang dalam proses negosiasi.

Yang pasti, bersama sejumlah raksasa komoditas lain seperti Glencore, Noble adalah salah satu kandidat pemilik hak adalah salah satu kandidat pembeli saham 20% saham Bukit Mutiara. Nilai saham itu ditaksir Rp3,6 triliun, dan menurut rencana akan digunakan Bukit Mutiara untuk melunasi utangnya.

Namun, penunjukan tersebut mengagetkan karena ada dua fakta sekaligus yang saling berlawanan. Pertama, hak eksklusif pemasaran yang dimiliki Noble itu, dalam versi PT Bumi Resources Tbk, adalah hak yang diklaim akan menjadi miliknya.

Produsen batu bara terbesar nasional anggota Grup Bakrie itu mengklaim, seperti terungkap dalam laporan keuangan 2009 dan laporan semester pertamanya tahun ini, karena marketing rights itu merupakan bagian dari perjanjiannya dengan Bukit Mutiara.

Perjanjian yang dimaksud ada lah pinjaman US$300 juta dari Bumi ke Bukit Mutiara pada 2 November 2009. Bunganya dipa tok 12% dengan tenor 6 tahun.

Pinjaman itu digunakan Bukit Mutiara untuk membiayai akui sisi 90% saham Berau Coal seni lai total US$1,48 miliar.

Deal manis Bumi sendiri mendapatkan da na itu dari penerbitan obligasi tukar bernilai sama, tapi dengan tenor lebih panjang 1 tahun dan bunga lebih rendah 7%. Deal manis ini masih ditambah syarat itu tadi, yakni apabila akui sisi Berau Coal tuntas, marketing rights-nya menjadi milik Bumi.

Sudah pasti, sweet deal yang diterima Bumi itu mengundang syak, jangan-jangan keduanya terafiliasi. Bagaimana Bukit Mu tiara memberikan marketing rights Berau Coal, mengingat bunga utang yang dibayar ke Bumi sudah tinggi. Sebuah kecurigaan yang tentu saja dibantah.

Perlu segera ditambahkan, 15% saham Noble dikuasai China Investment Corporation (CIC).
CIC mengakuisisi saham Noble tepat sehari sebelum membeli utang Bumi senilai US$1,9 miliar September tahun lalu. Sampai sekarang, CIC masih tercatat sebagai kreditur Bumi.

Fakta kedua yang berlawanan dengan pengumuman Noble itu adalah versi Berau Energy dan Bukit Mutiara sendiri. Dalam versi ini, sejak 30 Desember tahun lalu atau bersamaan dengan tuntasnya akuisisi Berau Coal, marketing rights itu diklaim menjadi milik Maple Holdings.

Maple awalnya dikendalikan Bukit Mutiara melalui anak usahanya, Regulus International Pte Ltd. Deskripsi kerja Maple sama persis dengan apa yang baru diumumkan Noble. Maple akan memasarkan batu bara Berau Coal untuk pasar ekspor kecuali Jepang yang dimiliki Sojitz.

Perbedaannya, Noble tidak memerinci berapa sebetulnya dia mendapatkan komisi dari hak eksklusif pemasaran itu. Noble juga tidak mengungkapkan kapan posisinya sebagai pemegang marketing rights tersebut berakhir, dan apakah posisinya tersebut bisa diperpanjang.

Sementara Maple, dalam perjanjian marketing rights-nya de ngan Berau Coal menyebutkan akan menerima komisi 2% dari total penjualan batu bara yang diinisiasinya. Perjanjian itu efektif 10 tahun sejak 30 Desember 2009 dan dapat diperpanjang 10 tahun berikutnya.

Seolah tidak memedulikan adanya klaim Bumi, beberapa bulan setelah akuisisi Berau Coal dan perjanjian marketing rightsnya dengan Maple tuntas, pada 9 Agustus, Berau Energy menerbitkan prospektus penawaran saham publiknya.

Dalam prospektus itu, tak satu pun ada disebutkan janji pemberian marketing rights Berau Coal ke Bumi. Justru, yang ada adalah rencana Berau Energy `mengambil alih kembali’ marketing rights Berau Coal dari Bukit Mutiara.

Prospektus itu, yang juga dikonfirmasi laporan keuangannya per 30 September, menyebutkan Berau Energy akan menggunakan sebagian dana IPO-nya, US$225 juta, untuk mencaplok Maple dari Regulus. Akuisisi tersebut dilakukan anak usahanya, Seacoast Offshore Inc.

Sampai di sini, kita sampai pada beberapa kemungkinan: Pemegang marketing rights Berau Coal adalah (1) Bumi; (2) Maple; (3) Noble; (4) Maple dan Noble; (5) Bumi dan Maple; (6) Bumi dan Noble. (7) Tak satu pun. “Halo-halo, otoritas bursa, Anda masih di sana?“ (bastanul.
siregar@bisnis.co.id)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: