adro, bumi, btel DIKERUMUNI tlkm : 060910


Jumat, 03 September 2010 | 11:42 oleh Barratut Taqiyyah SAHAM ADRO
Setelah enam hari jeblok, saham ADRO akhirnya bangkit
JAKARTA. Sudah enam hari terakhir, saham milik PT Adaro Energy (ADRO) mengalami penurunan. Jika dilihat pergerakan sahamnya dalam sebulan terakhir, saham ADRO sempat ngendon di posisi tertingginya pada 9 Agustus 2010 di level Rp 2.125.

Sejak saat itu, pergerakan saham ADRO terlihat fluktuatif dan mulai bergerak turun pada 23 Agustus 2008. Kemarin, saham ADRO ditutup di posisi 1.790. Dengan demikian, saham ADRO sudah terjun bebas sebesar 15,8% dari posisi tertingginya di bulan Agustus.

Namun hari ini, saham ADRO kembali merangsek naik. Pada pukul 11.30 atau penutupan sesi I, saham ADRO mengalami kenaikan 2,79% menjadi 1.840.

Kenaikan saham ADRO disinyalir terkait rencana aksi korporasi perusahaan tambang batubara itu. Seperti yang diberitakan KONTAN sebelumnya, ADRO tengah melakukan pembicaraan negosiasi dengan PT Bhakti Energi Persada (BEP). “Ya, kita tengah dalam proses pembicaraan dengan mereka,” kata Andre J. Mamuaya, Director of Corporate Affairs & Corporate Secretary ADRO di Jakarta, Kamis (2/9). Kabarnya proses akuisisi ini akan selesai akhir tahun ini.
06/09/2010 – 09:01
BUMI Tunggu Kejelasan Saham ADRO
Ahmad Munjin

(inilah dot com/Agung Rajasa)
INILAH dot COM, Jakarta – Saham BUMI, Senin (6/9) diprediksi stagnan. Minimnya ‘trigger’ dan simpang siurnya sentimen di sektor batubara menjadi pemicunya. ‘Hold’ saja untuk saham sejuta umat ini.

Pengamat pasar modal, Satrio Utomo mengatakan, potensi stagnannya saham PT Bumi Resources (BUMI) awal pekan ini, salah satunya karena faktor belum adanya berita-berita baru yang bisa menggerakkannya (trigger) saham ini.

Di sisi lain, pergerakan BUMI juga tidak terpengaruh sentimen fundamental seperti kenaikan harga batubara. Menurutnya, saham BUMI sangat tergantung pada bagaimana arah mood pasar.

“Saham BUMI sangat sulit keluar dari kisaran flat-nya di posisi support Rp1.650 dan resistance Rp1.750,” katanya kepada INILAH dot COM, di Jakarta, Minggu (5/9).

Akhir pekan lalu, Jumat (3/9), saham BUMI ditutup stagnan di level Rp1.690. Harga tertingginya mencapai Rp1.710 dan terendah Rp1.660. Volume transaksi mencapai 63,09 juta unit saham senilai Rp106,1 miliar dan frekuensi 1.631 kali.

Satrio melanjutkan, meski harga batubara menguat ke level US$93,90 per metrik ton dari sebelumnya US$91, hal itu tidak berpengaruh positif bagi saham BUMI. “Sebab, pekan lalu, saham-saham di sektor batubara secara umum pun berada dalam tekanan,” ujarnya.

Di antaranya, saham PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) terkoreksi akibat divestasinya. Di sisi lain, pasar mencermati koreksi saham PT Adaro Energy (ADRO), yang juga masih belum jelas apa alasannya.

Rumornya, sangat kencang, Edward Soeryajaya yang melepas saham ini. Dia berada dalam posisi jual. Tapi, tidak jelas apa alasan keluarnya. Inilah yang memicu saham ADRO tertekan. “Harga batubara memang menguat signifikan, tapi sentimen saham-saham batubara masih negatif,” tukasnya.

Menurutnya, banyak pelaku pasar yang berspekulasi ke mana-mana terkait saham ADRO. Posisi saham ini pun bagai bola liar. “Karena itu pula, sentimennya tidak menentu untuk saham-saham di sektor batubara termasuk BUMI,” ucapnya.

Satrio menegaskan, pergerakan di saham BUMI bukan semata faktor harga batubara. Pasar lebih memperhatikan pergerakan saham ITMG setelah divestasi, dan kejelasan terkait tekanan jual di saham ADRO. “Saham-saham sektor batubara yang lain terpengaruh termasuk BUMI,” tandas Satrio.

Sebelumnya, ADRO dirumorkan melakukan placement, tapi dibantah juga oleh perseroan sehingga semuanya masih simpang siur. Ada juga yang mengatakan, karena faktor JP Morgan yang akan mengeluarkan laporan underperfomed untuk ADRO. “Sebab, kinerja ADRO di semester pertama dianggap biasa-biasa saja,” ungkapnya.

Di sisi lain, Satrio tidak sependapat, stagnannya saham BUMI karena faktor Initial Public Offering (IPO) PT Harum Energi sehingga investor beralih ke saham tersebut. Sebab, saham BUMI memiliki penggemarnya tersendiri.

“Mungkin ada yang jual saham BUMI kemudian membeli saham Harum Energi, tapi yang melakukan itu tidak banyak. Sebab, fund manager yang memegang BUMI pun sudah tidak banyak lagi,” paparnya.

Dari sisi grup Bakrie, BUMI mendapat sentimen positif. Sebab, dipertahankannya Rinaldi Firmansyah sebagai Direktur Utama PT Telkom, memicu spekulasi dan optimisme pasar atas kelangsungan penjajakan joint venture Flexi dan PT Bakrie Telecom (BTEL). “Ini sentimennya akan bagus bagi saham-saham Bakrie secara keseluruhan termasuk BUMI,” ujarnya.

Namun semuanya sangat tergantung kepada kondisi market regional. Sejauh ini, indeks Dow Jones masih naik. Tapi di sisi lain, saat ini merupakan hari jelang libur bursa, karena Lebaran 1431 Hijriyaah. “Yang terjadi di pasar saham sangat tergantung apakah investor berani mengambil risiko atau tidak,” tukasnya.

Jika Senin (6/9) nanti malam, terjadi reversal melemah di Dow Jones, investor cenderung sell off, merealisasikan keuntungan. Pasar tidak berani mengambil risiko selama liburan panjang. “Dari pada liburan punya beban pikiran, lebih baik mengambil posisi kosong,” ucapnya.

Di atas semua itu, Satrio merekomendasikan, hold untuk saham BUMI. “Jika level support Rp1.650 bisa ditembus ke bawah, level Rp1.500 sangat menarik bagi investor untuk melakukan akumulasi,” pungkas Satrio. [mdr]

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Trackback: aduh gw capek neh, mo stop maen blog saham « Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: