energi terbarukan: SAMPAH sohib kita … 310810


Senin, 05/07/2010 15:44 WIB
Bantar Gebang Kabarmu Kini
Listrik Byar 4 Megawatt dari Sampah
M. Rizal – detikNews
Jakarta – Gunung sampah di Bantar Gebang, Bekasi, tidak selamanya dilihat sebagai masalah. Siapa yang sangka, sampah kotor dan bau yang dibuang warga Jakarta bisa dijadikan energi listrik berkekuatan 4 megawatt.

Tentunya, tidak begitu saja sampah ini bisa asal menghasilkan tenaga listrik. Ada pengolahan khusus di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang untuk mengubah kandungan gas metan dari sampah.

“Sampah, khususnya yang organik ini, menghasilkan cairan yang dianggap orang sangat beracun. Cairan ini mengandung gas metan dan bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar mesin pembangkit listrik,” kata Direktur Utama PT Godang Tua Jaya, Rekson Sitorus, rekanan Pemprov DKI Jakarta di TPST Bantar Gebang kepada detikcom di kantornya, Kamis (2/7/2010) lalu.

Sitorus menjelaskan, untuk membangun pembangkit listrik bertenaga gas metan ini
pihaknya menggandeng PT Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI). Dalam pembangunan instalasi listrik ini ditaksir akan menelan biaya investasi dari sejumlah investor sekitar Rp 700 miliar.

Bahkan, mesin pembangkit listrik buatan Amerika Serikat pun telah terpasang, yaitu dua gas engine, fuel skid, flare stack dan trafo yang akan menghasilkan listrik kekuatan 4 megawatt itu. Dua mesin lagi akan dipasang pada tahun 2011, sehingga listrik yang dihasilkan bisa mencapai 19 megawatt.

“Diharapkan nantinya, ini menurut penelitian sejumlah pengamat, gas metan di sini bisa menghasilkan 26 Megawatt. Bayangkan kekuatannya, tapi sementara dengan terpasang dua mesin ini sementara akan menghasilkan listrik berkekuatan 4 megawatt. Proyek ini tentunya kerjasama dengan PT PLN juga, karena untuk distribusi kewenangannya ada di mereka, karena PLN sekarang sudah memasang gardu di TPST ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan Pemprov DKI Jakarta, Eko Bharuna menjelaskan, listrik yang akan dihasilkan dari gas metan sampah ini tentunya setiap tahun akan terus ditingkatkan. “Untuk tahun ini mungkin bari 4 megawatt dulu, diharapkan setiap tahunnya akan terus ditingkatkan sampai 26 megawatt pada tahun 2014. Tentunya, proyek ini akan menelan investasi yang sangat besar yang akan dibayai para investor,” jelasnya.

Eko mengatakan, awalnya muncul ide membuat pembangkit listrik ini sebenarnya untuk kebutuhan internal di lingkungan TPST Bantar Gebang saja. Ini merupakan perjalanan panjang setelah pengoperasian 20 tahun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Sejak 2008 lalu, Pemrpov DKI Jakarta menggandeng dua investor mengelola sampah di TPST Bantar Gebang, termasuk membangun pembangkit listrik ini.

Pemprov DKI Jakarta, lanjut Eko, juga tetap meneruskan renncana membangun sarana pengolahan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) di wilayah Jakarta. Upaya pengelolaan sampah ini sesuai dengan amanat UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah. PT Godang Tua Jaya, yang merupakan pemain lama di bidang sampah pun digandeng untuk mengelola TPST Bantar Gebang hingga 15 tahun ke depan hingga tahun 2023.

Untuk pembangunan pembangkit listrik ini, PT Godang Tua Jaya juga melakukan join
operasi dengan PT NOEI dan Sindicatum Capital Carbon serta Organic International
Limited. PT NOEI sendiri dinilai memiliki pengalaman dalam pengolahan sampah menjadi energi listrik ketika mengelola Instalasi Pengelolaan sampah Terpadu (IPST) Sarbagita, Suwung, Denpasar, Bali.

Penerapan teknologi dalam pengelolaan TPA sebelumnya sudah dilakukan Pemkot Bekasi di TPA Sumur Batu sejak tahun lalu. Bahkan Pemkot Bekasi telah menggandeng PT Gikoko Kogyo Indonesia untuk mengolah gas metan hasil pembusukan sampah dengan teknologi pembakaran atau Landfill Gas Flaring.

(zal/fay)
Senin, 05/07/2010 15:05 WIB
Bantar Gebang Kabarmu Kini
Mimpi Indah Dari Gunung Sampah
M. Rizal – detikNews
Bekasi – Belasan, bahkan puluhan truk berwarna oranye bertuliskan Truk Pengangkut Sampah DKI Jakarta, memasuki Jalan Raya Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Truk-truk itu berjalan beriringan menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gerbang.

Setelah melalui jembatan timbang, truk-truk itu langsung menuju lahan penimbunan sampah seluas 110,3 hektar di kawasan yang membelah tiga kelurahan di Kecamatan Bantar Gebang, Bekasi, yaitu Kelurahan Ciketik Udik, Kelurahan Cikiwul dan Kelurahan Sumur Batu.

Begitu truk berhenti, puluhan pemulung langsung menaiki bak truk sampah untuk mencari bahan-bahan sampah yang masih bisa didaur ulang atau dijual lagi. Biasanya para pemulung ini adalah masyarakat yang tinggal tak jauh dari pinggiran TPST Bantar Gebang. Tumpukan sampah sejak tahun 1989 ini telah menciptakan sejumlah bukit-bukit atau gunungan sampah yang tinggi.

Sementara itu, tumpukan sampah yang sudah puluhan tahun diuruk dengan tanah sehingga, sedikit demi sedikit menjadi bukit yang hijau dengan rerumputan dan pohon rindang. Sebuah gagasan pun muncul untuk membuat sebagian tempat penampungan sampah ini menjadi kawasan obyek wisata. Lalu, bagaimana dengan masalah bau sampah yang mengganggu?

“Ya tidaklah. Kalau sampah yang sudah lama lalu diangkut ke sini memang bau. Kalau sudah diolah kan tidak bau lagi. Sampah-sampah itu selalu kita tutup dengan tanah, sehingga masalah bau tidak begitu terlalu. Memang kita tidak bisa menghilangkan 100 persen baunya, tapi lama-kelamaan akan hilang,” kata Kepala Dinas Kebersihan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Eko Bharuna, dalam bincang-bincang bersama detikcom, Jumat (2/7/2010) lalu.

Eko menjelaskan, dari lahan penampungan sampah milik Pemprov DKI Jakarta di Bekasi ini, sebenarnya sudah ada tempat Pusat Studi dan Penelitian Penanganan Sampah. Di tempat ini para pelajar seriang datang untuk belajar tentang sampah.

Diakui Eko, TPST Bantar Gebang merupakan tempat penampungan sampah terbesar di Indonesia yang menampung sekitar 6.000 ton sampah per hari. Nah, dari lahan seluas
110,3 hektar milik Pemprov DKI Jakarta itu, sekitar 40 hektar lahan yang dikelola rekanan PT Godang Tua Jaya rencananya akan dibangun tempat wisata. Rencananya, selain tempat wisata, juga akan dibangun semacam lahan outbound, tempat pelatihan daur ulang, tempat pelatihan pembuatan pupuk kompos, bahkan rencana membuat lapangan golf.

“Ya karena banyak menghasilkan kompos di sini. Ya bisa jadi lahan ini menjadi lahan wisata, di mana sekarang sudah banyak ditanami sejumlah pepohonan dan buah-buahan. Kalau semakin hijau lahan itu, tentunya Pemprov DKI Jakarta sangat
mendukung, karena menunjang kegiatan yang sudah ada,” katanya.

Terkait rencana pembangunan Wisata Sampah ini, Direktur Utama PT Godang Tua Jaya Rekson Sitorus mengakui kalau hal itu masih dalam taraf wacana. “Itu direncanakan bila seluruh pembangunan teknologi instalasi pengelolahan sampah selesai seluruhnya pada akhir tahun 2013 nanti. Itu kalau semua instalasi clear. Ini baru wacana, karena banyak hal yang harus dikonsultasikan dengan pemerintah, pemda setempat dan instansi lainnya,” ungkapnya kepada detikcom di ruang kerjanya di kantor TPST Bantar Gebang, Bekasi, Kamis (1/7/2010) lalu.

Oleh karena itu, bagaimana konsep lahan Wisata Sampah itu pun, Sitorus belum bisa menjelaskannya. “Konsep wisata seperti apa? Ini kan baru wacana. Jadi, konsepnya seperti apa, masih akan dibicarakan dahulu. Jangan sampai ini menjadi tempat wisata, tapi pengunjung yang datang malah menjadi penyakitan,” jelasnya seraya tersenyum.

Tapi yang jelas, lanjut Sitorus, konsep tentang pemikiran bahwa TPST Bantar Gebang akan menjadi lahan wisata sudah ada. Selama ini, menurutnya, ada paradigma salah yang berkembang di hampir semua kalangan masyarakat, bahwa sampah itu identik dengan kumuh, kotor, jorok, sumber penyakit dan membawa bencana. “Kita ubah paradigma itu bahwa sampah bisa diolah menjadi barang yang berguna, bisa menjadi sumber daya ekonomi masyarakat, bisa menyediakan lapangan kerja. Kira-kira seperti itulah,” ujarnya.

Sebenarnya ungkap Sitorus, sejak awal di TPST Bantar Gebang telah dilakukan proyek penghijauan dengan penanaman sejumlah pohon di kawasan Bufferzone. Selain itu, juga telah dilakukan pembibitan tanaman hutan dan buah sebanyak 100.000 pohon, yang nantinya akan ditanam di sekitar wilayah TPST itu.

“Saya kira, bila semua pembangunan telah selesai semua. Masyarakat akan banyak tertarik mengunjungi TPST. Mereka bisa mengetahui bagaimana sampah-sampah itu
dikelola, didaur ulang, dibuat kompos bahkan sampai menjadi tenaga listrik,”
ujarnya lagi.

Bila semua pembangunan instalasi teknologi pengelolaan sampah ini selesai semua
dan tempat wisata ini diperkirakan akan menyerap sekitar 1.200 orang tenaga kerja. “Sekarang tenaga kerja yang sudah terealisasi, baik dari kalangan masyarakat sekitar maupun pemulung sekitar 350 orang. Kalau ada lahan wisatanya, tentunya akan memancing perekonomian di sekitar sini, mungkin orang berjualan atau tempat hiburan lainnya,” imbuh Sitorus.

Sitorus menegaskan, sebenarnya tak tepat bila disebut dengan Wisata Sampah, tapi Wisata Lingkungan. Ide ini muncul melihat volume kunjungan masyarakat, pemerintah pusat dan daerah serta lembaga-lembaga lainnya untuk melihat cara menangani dan mengelola sampah. “Makanya manajemen kita telah merencanakan akan membangun nurseri tanaman perkotaan, demplot tanaman padi dan palawija sebagai pemanfaatan kompos dan landscape,” terangnya.

Sebagai perusahaan yang ditunjuk melalui tender investasi untuk mengelola sampah di TPST Bantar Gebang pada tahun 2008 lalu, PT Godang Tua Jaya diserahi tugas
peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan dan pengoperasian TPST. Sementara
perusahaan ini juga melakukan joint operation dengan PT Navigat Organic Energy
Indonesia (NOEI) untuk mengelola sampah menjadi energi listrik.

Dijelaskan Sitorus, tugas yang diberikan kepada perusahaannya itu untuk meningkatkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang menjadi TPST. Tujuannya
agar usia pemakaian lahan bisa diperpanjang minimal hingga 20 tahun. Selain itu,
bagaimana meningkatkan pengelolaan sampah serta pengendalian dampak lingkungan
dan sosialnya.

Kedua perusahaan rekanan Pemprov DKI Jakarta ini lalu merancang prasarana dan sarana baru yang sedang dan akan dibangun. Di antaranya, Fasilitas Pengomposan,
Struktur Sel Landfill, Thermal Process (Pyrolysis), Fasilitas Daur Ulang, Sanitary Landfill di tanah Enclave seluas 2,3 hektar, Sanitary Landfill untuk pengumpulan gas dan pembangunan pembangkit listrik.

Sitorus menambahkan, sejak tahun 2004 sebenarnya pihaknya telah memiliki fasilitas pengomposan untuk mengolah 300 ton perhari sampah organik, dengan produk kompos perhari rata-rata 60 ton. Namun kapasitas pengomposan sendiri akan ditingkatkan menjadi 1.000 ton per hari. Makanya akan dibangun sarana pengomposan. Mulai dari tempat penerimaan sampah (waste receiving area), Bangunan Pemilahan (sorting plant), Bangunan Pecampuran (mixing pile), Bangunan Windrows, Bangunan Pencacahan dan Pengayakan, Bangunan Penggranulan dan Peralatan Pengemasan.

(zal/fay)
Sabtu, 15/12/2007 00:57 WIB
Walikota Bandung Sosialisasi PLTSa ke Ulama
Agung Jaka P – detikNews
Bandung – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) masih menuai pro dan kontra warga Bandung. Untuk menyosialisasikan program ini, Pemkot mengundang ulama se-Kota Bandung.

Dalam acara yang digelar di Gedung Pendopo Jl Dalem Kaum Bandung, Jumat (14/12/2007), hadir Walikota Bandung Dada Rosada yang memberi penjelasan langsung.

“Sampah adalah problem umat manusia, khususnya perkotaan. Bagi masyarakat pedesaan sampah masih bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, diantaranya untuk pupuk dalam upaya menyuburan lahan pertanian. Tetapi bagi perkotaan justru sebaliknya,” papar Dada.

Menurut Dada, pembangunan PLTSa di Kelurahan Rancanumpang Kecamatan Gedebage Kota Bandung sampah bisa diolah menjadi energi listrik dan diharapkan tidak berpengaruh buruk terhadap lingkungan.

Diakui dia, sampah selama ini merupakan masalah yang cukup pelik. Persoalan klasik ini dalam penanganan sampah terus-menerus menjadi beban, bukan saja bagi Pemkot Bandung tetapi juga bagi warganya.

“Sampah selain dianggap sumber penyakit, juga mencemarkan lingkungan dengan bau busuk yang menyengat. Oleh karena itu dalam sosialisasi ini menjelaskan tata letak dan cara penanganan sampah yang baik,” pungkasnya.
(bal/bal)

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. dedi marzuki
    Feb 09, 2011 @ 16:56:36

    seandainya ada teknologi pengolahan sampah yang lebih cepat dan ramah lingkungan, bgn kita dapat ambil bagian dalam proyek sampah?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: