marketing rights ITU, brau V bumi : 250810


Rabu, 25/08/2010 10:53:39 WIB
Bumi & Berau, siapa berdusta?
Oleh: Bastanul Siregar

Kalau ada pertanyaan tersisa dari kesuksesan IPO PT Berau Coal Energy Tbk Kamis lalu, yang harga saham debutnya naik 11,25% di tengah tekanan harga batu bara dan cuaca buruk yang diyakini menurunkan produksi, itu tidak lain adalah tentang hak eksklusif pemasarannya.

Mungkin baik kita urai pertanyaan itu dari November lalu, saat PT Bumi Resources Tbk menerbitkan obligasi tukar US$300 juta berbunga 5% dan tenor 7 tahun. Obligasi tersebut diterbitkan untuk menyediakan pinjaman subordinasi ke PT Bukit Mutiara dalam nilai yang sama.

Bukit Mutiara selanjutnya menggunakan pinjaman berbunga 12% dan tenor 6 tahun itu untuk membiayai akuisisi PT Berau Coal. Syarat tambahannya, jika akuisisi Berau Coal tuntas, Bumi meraih hak eksklusif pemasaran (marketing rights) batu bara Berau Coal.

Silakan menghitung berapa margin yang diperoleh Bumi dari bridge loan tersebut. Ini masih belum memasukkan margin potensial dari marketing rights Berau Coal, apalagi kalau harga batu bara naik.

Tentu saja, sweet deal bagi Bumi itu tak luput dari pertanyaan, terutama bagaimana Bukit Mutiara mau menyerahkan marketing rights Berau Coal, mengingat perseroan sudah membayar bunga tinggi ke Bumi.

Sampai di sini, margin potensial itu telah mengangkat harga saham Bumi ke atas Rp2.500 per lembar-sebelum bulan berikutnya tergerus ke bawah Rp2.000 menyusul mencuatnya kasus pajak anak usahanya, PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal.

Sebelum terlalu jauh, mungkin baik dipahami Bukit Mutiara mengakuisisi 90% saham Berau Coal dengan mencaplok 100% saham PT Risco. Perusahaan yang terakhir inilah yang menguasai 90% saham Berau Coal. Sebanyak 10% sisanya dikuasai Sojitz Corporation.

PT Risco, yang dimiliki Rizal Risyad (65,04%), Handy P. Soetedjo (20%), dan Garibaldi Tohir (15,96%), menguasai 90% saham Berau Coal melalui PT Armadian Tritunggal (51%) dan Rognar BV (39%). Perusahaan terakhir dikuasai Risco secara tidak langsung.

Sementara itu, Bukit Mutiara dikuasai PT Recapital Advisors melalui PT Bentara Asia Energi Utama. Adapun, saham Recapital yang dikendalikan PT Tripillar Gunaperkasa dimiliki Rosan Perkasa Roeslani (73%), Sandiaga Salahuddin Uno (12%), dan Elvin Ramli (15%).

Biaya akuisisi Berau Coal sendiri dipatok US$1,48 miliar. Bukit Mutiara yang mendapatkan pinjaman US$300 juta dari Bumi kemudian menunjuk Credit Suisse untuk mengatur pinjaman lain, US$600 juta.

Dari pinjaman Bumi dan Credit Suisse, Bukit Mutiara meraup US$900 juta, belum cukup memenuhi biaya akuisisi, US$1,48 miliar. Rizal Risjad kemudian datang meminjami US$580 miliar, sekaligus menutup akuisisi Berau Coal sepenuhnya dengan kombinasi utang.

Tak seperti yang lain, pinjaman yang disediakan putra kedua konglomerat anggota Gang of Four Ibrahim Risjad ini memiliki opsi diubah menjadi saham ke PT Risco pascaakuisisi. Dalam satu kesempatan, Rosan mengatakan Rizal bisa mendapatkan 10% saham.

Awal April 2010, atau 3 bulan setelah akuisisi PT Risco, Bukit Mutiara mengubah nama PT Risco menjadi PT Berau Coal Energy, dan memindahkan 0,01% saham yang dikuasainya ke Bentara Energi. Sejak itulah proses initial public offering-nya mulai dikerjakan.

Ramai spekulasi

Perlu diingat, bunga tinggi pinjaman yang ditanggung Bukit Mutiara serta penyerahan bersyarat marketing rights Berau Coal ke Bumi mulai November itu telah memicu spekulasi. Salah satu yang beredar adalah bahwa pinjaman itu merupakan modus Bumi untuk menutupi interest-nya di Berau Coal.

Meski tak mudah dibuktikan, tentu saja spekulasi tersebut tidak muncul dari ruang hampa. Person di dalam transaksi itu dikenal sudah saling dekat. Rosan P. Roeslani, pemegang saham pengendali Bukit Mutiara, sempat menjadi komisaris PT Kaltim Prima Coal sampai 2007.

Fakta pengikat spekulasi lain belakangan juga muncul. Credit Suisse dan PT Danatama Makmur yang biasa membantu aksi korporasi Grup Bakrie misalnya, juga dimanfaatkan jasanya oleh Bukit Mutiara.

Spekulasi itu kian ramai tatkala pada 30 Desember akuisisi Berau Coal tuntas, dan marketing rights-nya diserahkan ke Maple Holdings Ltd yang dikendalikan Bukit Mutiara melalui Regulus International.

Dalam situasi itu, perjanjian Berau Coal dan Maple otomatis melahirkan dua kemungkinan yang bertolak belakang. Di satu sisi, sesuai dengan penyerahan bersyarat marketing rights Berau Coal, Bumi diyakini akan mencaplok Maple atau Bukit Mutiara.

Di sisi lain, perjanjian itu justru cara Bukit Mutiara menganulir penyerahan marketing rights Berau Coal ke Bumi. Atau, syarat marketing rights itu sejatinya tak pernah ada. Di sini, dengan kata lain, hanya dua kemungkinan tersisa: Bumi atau Bukit Mutiara yang berdusta.

Rangkaian spekulasi inilah yang lantas mengundang pertanyaan otoritas bursa. Melalui keterbukaannya pada 8 Januari, Bumi menyatakan perseroan memang menyediakan pinjaman US$300 juta ke Bukit Mutiara dan ‘berharap dapat meraih’ marketing rights Berau Coal.

Jawaban ‘berharap dapat meraih’ itu rupanya berhasil meredakan persoalan. Dan 3 bulan kemudian, melalui laporan keuangan per 31 Desember 2009, Bumi menyatakan marketing rights itu ternyata bukan harapan, melainkan persyaratan.

Pernyataan itu kembali diulang di laporan keuangan Bumi kuartal I/2010, hingga Berau Energy melalui prospektus notes US$350 juta yang diterbitkan anak usahanya, Berau Capital Resources Pte Ltd pada 8 Juli mengabarkan fakta berbeda.

Dalam prospektus obligasi berbunga 12,5% dan tenor 5 tahun yang tercatat di Bursa Efek Singapura itu, Berau Energy tidak menyinggung penyerahan marketing rights Berau Coal ke Bumi, kecuali menyebutkan Bumi akan mendapat return 19% jika utangnya dibayar penuh.

Sampai tadi malam, baik Rosan maupun Dileep Srivastava, Corporate Secretary Bumi, tak membalas pesan, apakah deal marketing rights itu sudah dibatalkan, atau telah direvisi dengan skema yang lain.

Yang pasti, perjanjian marketing rights itu kembali absen dalam prospektus IPO Berau Energy setebal 440 halaman per 9 Agustus. Dalam prospektus itu, perseroan justru akan memakai sebagian dana IPO untuk mengakuisisi Maple dari Regulus.

Akuisisi perusahaan pemegang marketing rights Berau Coal yang bernilai US$200 juta itu akan dilakukan anak usaha Berau Energy, Seacoast Offshore Inc. Sampai di sini, kita sah untuk berhak bertanya: Di mana gerangan otoritas bursa kita berada? Siapa yang berdusta? (bastanul.siregar@bisnis.co.id)

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Trackback: aduh gw capek neh, mo stop maen blog saham « Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: