minyaaa($72)aak … 050710


05/07/2010 – 13:03

clfclose.gif (800×600)
Minyak Asia Naik Dekati US$73

(istimewa)
INILAH.COM, Singapura – Harga minyak Asia Senin (5/7) naik mendekati US$73 per barel di tengah kekhawatiran investor terhadap pemulihan ekonomi AS.

AP melaporkan benchmark minyak mentah untuk pengiriman Agustus naik 38 sen menjadi US$72,52 per barel pada perdagangan tengah hari di New York Mercantile Exchange Singapura. Untuk kontrak serupa minyak sudah mengalami penurunan 81 sen ke US$72,14 pada Jumat pekan lalu.

Pasar AS ditutup Senin terkait hari libur umum. Harga minyak telah turun di enam sesi perdagangan sebelumnya dan turun hampir 10 persen pada kuartal terakhir di tengah kekhawatiran terhadap krisis keuangan Eropa dan perlambatan pertumbuhan ekonomi di China.

Pada Jumat, Departemen Tenaga Kerja mengatakan tenaga kerja AS naik 83 ribu, lebih dari Mei tapi kurang dari Maret dan April, memicu kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi global dan permintaan minyak mentah bisa lambat.

“Risiko harga minyak mentah tampak condong ke arah downside karena terjadinya shock permintaan negatif dari pemulihan ekonomi yang lambat,” kata ANZ Bank dalam sebuah pernyataan.

ANZ berharap harga minyak mentah berada di kisaran US$65 dan US$75 per barel bulan ini. Di perdagangan NYMEX lain, untuk kontrak Agustus, minyak hasil pemanasan naik 0,95 persen menjadi US$1,9250 per galon, bensin naik 1,23 sen menjadi US$1,9900 per galon dan gas alam naik 5,3 sen menjadi US$4,740 per 1.000 kaki kubik. Minyak mentah Brent naik 41 sen menjadi US$72,06 per barel di bursa berjangka ICE. [cms]
SINGAPORE, July 5, 2010 (AFP)
Oil was up in Asian trade on Monday as traders cashed in on cheap crude following a slump in prices last week, analysts said.

New York’s main contract, light sweet crude for delivery in August, gained 38 cents to 72.52 dollars a barrel.

Brent North Sea crude for August delivery advanced 38 cents to 72.03 dollars.

Traders were investing in cheap crude following a plunge in oil prices last week, said Serene Lim, a Singapore-based oil and gas analyst with Australia’s ANZ bank.

“I think because oil prices have already been falling so much, there would be a rebound as longer-term investors buy into the market,” she said.

She added that the rise was also “due to a consolidation of oil prices at 72 to 73 dollars”.

Oil prices slumped more than eight percent last week as weak economic data out of the US sparked widespread fears about the strength of the global economic recovery.

The American economy shed 125,000 jobs in June, after adding an upwardly revised 433,000 nonfarm payrolls in May, official data showed. Most analysts had expected a loss of 100,000 jobs.

But the revision comes ahead of second-quarter data due this month that is expected to show the economy of the world’s second-biggest energy consumer slowed in the three months to June.

05/07/2010 – 09:44
IHSG Pekan Ini Andalkan Kondisi Makro RI
Ahmad Munjin

(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan IHSG pekan ini diprediksikan menguat seiring positifnya sentimen fundamental makro ekonomi Indonesia. Saham-saham pertambangan dan perbankan siap memimpin.

Yuganur Wijanarko, Senior Researcher HD Capital mengatakan, potensi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ^JKSE pekan ini karena faktor fundamental ekonomi RI. Menurutnya, secara makro, RI terus mengalami perbaikan di semester pertama 2010, dan ekspektasi positif di semester kedua.

Di antaranya adalah data ekspor Mei 2010, yang mengalami kenikan 36% (year on year). Sementara itu, data impor RI menunjukkan angka penurunan. “Karena itu, indeks di pekan ini akan mengarah ke level resistance 2.950 dan 2.830-2.800 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (4/7).

IHSG, akhir pekan lalu, Jumat (2/7) turun tipis 2,70 poin (0,09%) ke level 2.871,55. Tapi, level ini turun tajam 75,47 poin (2,56%) dibandingkan akhir pekan sebelumnya di level 2.947,02.

Kementerian Perdagangan melaporkan perkembangan impor produk tertentu (alas kaki, elektronika, mainan anak, makanan minuman, dan pakaian jadi) mengalami penurunan tajam 46% menjadi US$20,7 juta per Januari-Mei 2010. “Karena itu, risiko imported inflation pun jadi turun,” tandas Yuga.

Yuga juga menilai, kenaikan inflasi Juni lalu, di level 0,97% (month to month) hanya terjadi sesaat. Hal itu, lebih dipicu kenaikan tarif tol, gas, dan listrik yang terjadi sekaligus dalam satu bulan sehingga mewarnai inflasi bulan lalu. Tapi, inflasi Januari hingga Desember 2010, diyakininya tidak akan tinggi.

“Sebab, risiko imported inflation-nya menurun,” paparnya. Pada akhirnya, kurs rupiah di pasar spot valas antar bank pun menguat.

Rendahnya inflasi, juga dipicu produksi padi di 2010 yang diperkirakan Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 65,15 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka ini meningkat 751,87 ribu ton atau 1,17% dibandingkan 2009.

Karena itu, lanjut Yuganur, impor beras pun menjadi berkurang. Otomatis, imported inflation pun dari sisi harga beras akan terpangkas. Akibatnya, kalaupun indeks turun pekan ini akan tertahan di level support tadi. “Sebab, fundamental makro ekonomi Indonesia sangat positif,” timpalnya.

Lebih jauh, Yuga mengakui, sentimen negatif masih ada dipicu faktor eksternal terutama indeks Dow Jones. Menurutnya, pasar terpengaruh pertumbuhan ekonomi AS yang tidak sesuai ekspektasi. “Tapi, bursa AS dan Eropa tidak selalu segaris lurus dengan pergerakan IHSG,” tukasnya.

Buktinya, dana AS dan Eropa pun masih mengalir deras ke Asia termasuk RI. Sebab, kalaupun inflasi naik jadi 5,9% hingga akhir 2010, pertumbuhan ekonomi pun direvisi ke atas 6% dari target pemerintah 5,8%. “Sebab, produksi padi tumbuh artinya ada perbaikan ekonomi,” ungkapnya.

Kondisi ini, bisa memicu indeks tidak terpengaruh negatif kondisi market di AS dan Eropa. Sebab, sebelumnya produksi padi selalu mengalami defisit dalam lima tahun terakhir sehingga RI terus mengimpor beras. “Jika tumbuh di atas 1% selama setahun menandakan beras Indonesia surplus. Sehingga RI tidak mengimpor kembali,” ucapnya.

Di atas semua itu, sektor saham yang berpeluang menjadi penggerak indeks pekan ini, menurut Yuga, adalah perbankan, sektor pertambangan batubara, dan grup Bakrie.

Saham-saham pilihannya di sektor batubara di antaranya adalah PT Perusahaan Tambang Bukit Asam (PTBA) seiring kenaikan margin PLN sebesar 10%. “PTBA bisa menyesuaikan harga penjualan batubara ke PLN,” tambah Yuga.

Begitu juga dengan PT Adaro Energy (ADRO). Sedangkan PT Bumi Resources (BUMI), karena faktor risiko utang yang berkurang baik melalui convertible bond maupun special purpose vehicle (SPV).

PT Jasa Marga (JSMR) pun direkomendasikan positif seiring kenaikan tol rata-rata 12% Juni lalu yang belum diserap pasar (price in ) dalam valuasi saham infrastruktur ini.

Tak ketinggalan, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Bank Bukopin (BBKP), karena terpengaruh positif Initial Public Offering (IPO) PT Bank Jabar-Banten. “Kalau naik beli, kalau turun juga beli untuk saham-saham tersebut,” pungkas Yuga. [mdr]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: