volatilitas saham pertambangan @elsa : 040710


Wahyu Sidarta
Associate Analyst Vibiz Research Center
Semester I-2010 Indeks Pertambangan Volatile, Situasi Global Masih Tidak Menentu
Selasa, 29 Juni 2010 16:40 WIB

(Vibiznews – Stocks) – Pada saat berlangsungnya pemulihan ekonomi global di tahun 2009, sektor pertambangan menjadi salah satu pendongkrak IHSG. Pertumbuhan ekonomi yang pesat di Asia membuat permintaan komoditas tambang tetap tinggi, sehingga perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang tersebut pun menuai keuntungan luar biasa.

Tercatat indeks pertambangan melonjak sekitar 140% sepanjang tahun 2009, namun penguatan sektor pertambangan tampak masih tertahan selama berjalannya tahun 2010 ini. Indeks pertambangan sempat menguat sekitar 20% sampai April 2010, namun kembali tergerus sekitar 13% menjelang akhir bulan Juni ini.

Sekilas Perjalanan Indeks Pertambangan Tahun 2010

Sekilas melihat kedua tabel diatas, tampak cukup jelas bahwa pergerakan indeks pertambangan dengan pergerakan harga minyak mentah cukup identik. Hal tersebut mencerminkan bahwa korelasi mereka cukup tinggi. Pada awal tahun 2010, indeks pertambangan kembali melanjutkan tren menguat dengan mencetak level tertinggi terbarunya di kisaran 2635,017 pada 16 April 2010.

Namun menjelang akhir paruh pertama 2010, indeks pertambangan pun anjlok sekitar 26,82% ke kisaran terendah di 1928,394 pada 25 Mei 2010. Harga minyak mentah pun terpantau merosot dari kisaran US$ 87,24 per barel dan sempat mencapai kisaran US$ 67,14 per barel pada saat itu. Terakhir (29/06/10) harga minyak berada di level US$ 76,50 per barel.

Sementara ini, indeks pertambangan tampak kembali rebound menguat dan sedang bertengger dekat di kisaran 2300.

Saham Tambang Belakangan Merosot

PT. Ratu Prabu Energy Tbk (ARTI)

Kinerja ARTI pada tahun ini kurang baik, ARTI mengalami penurunan laba bersih sekitar 50,74% menjadi Rp 6,057 milyar pada kuartal I-2010 dibandingkan Rp 12,302 milyar pada kuartal I-2009. Merosotnya laba bersih perseroan disebabkan penurunan pendapatan yang signifikan sekitar 34,10% menjadi Rp 98,590 milyar pada kuartal I-2010 dari Rp 149,611 milyar pada kuartal I-2009.

Sejak pertengahan 2008 lalu, saham ARTI terus berada dalam tren bearish sampai saat ini, walau sempat menguat sejenak pada tahun 2009 mengiringi berlangsungnya pemulihan ekonomi global saat itu. Maka, saham ini diperkirakan masih belum menarik untuk dikoleksi sementara ini.

PT. Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI)

Performa saham BIPI pada saat IPO di awal tahun 2010 cukup baik, namun penguatan saham tidak berlangsung lama dan justru terjun ke dalam tren bearish sementara ini. BIPI kembali mengalami rugi bersih pada kuartal I-2010. Perusahaan yang baru melantai di bursa Februari lalu ini mencatatkan rugi bersih Rp 49,21 milyar atau melonjak 7 kali lipat dibanding kuartal I-2009 lalu yang hanya rugi sebesar Rp 5,66 milyar.

Selain itu, BIPI juga tengah mencari pinjaman yang justru akan digunakan untuk menambal utang sebesar Rp 894, 816 milyar kepada PT Indotambang Perkasa yang jatuh tempo 12 September mendatang

Untuk saat ini, belum ada indikasi rebound pada saham BIPI, sehingga juga belum menarik untuk dibeli.

PT. Elnusa Tbk (ELSA)

Khusus untuk ELSA, walau 3 bulan terakhir anjlok cukup tajam, sebenarnya masih berada dalam tren bullish. Support sementara ini dapat ditemukan pada kisaran 340 yang di mana dapat memberikan peluang untuk beli jika harga saham ELSA kembali turun. Namun harus hati-hati jika support di kisaran 260-240 dilewati, karena berpotensi berubah menjadi bearish.

Kinerja Tahun Ini Meragukan, Prospek Masih Baik

Sebenarnya kedepannya prospek sektor pertambangan tetap baik, karena pertumbuhan ekonomi yang pesat khususnya di Asia akan membuat permintaan komoditas tambang tetap tinggi. Bank Indonesia sendiri memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dapat mencapai 6%, di mana Bank Dunia memperkirakan tidak jauh berbeda sebesar 5,9%.

Namun ada baiknya saat ini para investor sektor pertambangan perlu lebih hati-hati, karena dunia sedang dilanda kekhawatiran bahwa pemulihan ekonomi global masih rapuh. Krisis utang Eropa yang bermula dari Yunani tampak terus menular ke negara Eropa lainnya, sehingga dikhawatirkan akan menghambat pemulihan ekonomi secara global. Belum lagi pengetatan moneter yang dilakukan oleh China dalam rangka mencegah terjadinya “bubble” pada ekonomi mereka menambah tekanan terhadap sektor tambang. Kedua hal tersebut cukup untuk membuat para investor berpikir dua kali sebelum berinvestasi ke investasi yang lebih berisiko, seperti investasi pada sektor tambang.

Kesimpulannya, ditengah situasi global yang masih tidak menentu ini, diperkirakan investasi safe haven masih akan dominan sampai akhir tahun ini, seperti US Dollar, Yen dan Emas. Sedangkan sektor pertambangan, khususnya Indonesia, kinerja diperkirakan cenderung tertekan di paruh kedua tahun 2010 ini. Kinerja yang lebih baik pada tahun berikutnya mungkin akan memberikan peluang investasi yang lebih menjanjikan.

(Wahyu Sidarta/WS/vbn)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: