energi alternatif, sawit @listrik … 200610


14 JUNI 2010
Listrik Tenaga Limbah Sawit
BIARPUN surat tagihan yang dikirim Perusahaan Listrik Negara setiap tahun mencapai Rp 8,5 miliar, PT Perkebunan Nusantara IV tidak kebal dari pemadaman bergilir. Listrik byar-pet ini tak cuma menjengkelkan, tapi juga mengganggu mesin pengolah sawit. “Pemadaman ini berdampak pada mesin,” kata kepala bagian perencanaan perkebunan pelat merah dari Sumatera Utara itu, Effendi Lubis.

Tapi itu cerita hulu. Sejak setahun lalu, perkebunan negara ini tidak lagi tertimpa byar-pet setelah mereka berhasil memanfaatkan barang buangan. Ya, PTPN IV itu memiliki pembangkit listrik berbahan bakar limbah tandan sawit kosong sejak Maret tahun lalu. Meski harus merogoh kocek sampai Rp 36 miliar, mereka terbebas dari pemadaman bergilir dan, yang lebih baik, perkebunan ini tidak khawatir kehabisan bahan dasar. “Modal pun akan kembali dalam tiga tahun sembilan bulan,” Effendi.

Langkah PTPN IV diikuti perkebunan sawit lain seperti PTPN III. Perusahaan perkebunan yang juga berada di Sumatera Utara itu saat ini sedang dalam proses pembuatan pembangkit listrik, yang akan dijadwalkan beroperasi tahun depan. Di provinsi tetangganya, Jambi, dua pekan lalu PTPN VI membuat kesepakatan dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk membuat listrik dari tandan kosong.

Di luar perusahaan milik pemerintah, perkebunan sawit swasta juga berlomba-lomba memanfaatkan limbah tandan kosong untuk diubah menjadi listrik dalam dua atau tiga tahun terakhir. “Ada 15 atau 17 perkebunan swasta yang membuat tandan menjadi listrik,” kata Rohmadi Ridlo, Ketua Program Gasifikasi di Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT.

Biasanya, yang dimanfaatkan dari sawit adalah minyak mentah, yang diproses menjadi sabun, margarin, minyak goreng, hingga bahan bakar kendaraan biodiesel. Namun tandan sawit kosong selama ini hanya cukup berguna sebagai pupuk kompos, karena kalori yang dikandung tak setinggi cangkang buah dan serabut, yaitu 3.600-4.000 kalori per kilogram. “Untuk perbandingan, batu bara memiliki sekitar 4.200 kalori per kilogram,” kata Dany Muliawan, Kepala Urusan Inkubasi Bisnis PTPN III.

Sedangkan tandan sawit kosong hanya mengandung sepertiga kalori cangkang, yakni 1.200 kalori per kilogram. Sering limbah ini juga dibakar begitu saja karena jumlahnya sangat besar. Setiap memproduksi satu kilogram minyak sawit mentah, tercipta 1,1 kilogram limbah tandan kosong. “Kalau Anda lihat menara yang tinggi itu di pabrik kelapa sawit, itu tandan yang dibakar,” kata Ridlo.

Baik menjadi pupuk maupun dibakar, tandan ini menjadi beban pengolahan sawit. Pabrik setidaknya membutuhkan biaya untuk transportasi dari pabrik ke perkebunan untuk menyebar tandan kosong itu. Berdasarkan riset, Ridlo memberikan hitungan kasar biaya membuang tandan itu, “Rata-rata menghabiskan biaya Rp 20 per kilogram.”

Sedangkan bila diubah menjadi listrik, teknologi yang digunakan tidak njelimet. Ada pilihan tandan itu dijadikan biogas melalui fermentasi terlebih dahulu dengan enzim. Gas ini nantinya bisa dipakai untuk mendidihkan ketel atau, mungkin juga, menggerakkan mesin bakar yang bakal memutar generator listrik.

Tapi perkebunan di Indonesia tidak memilih cara ini. Mereka memilih yang sederhana: tandan diperas agar kadar air berkurang dari 70-80 persen menjadi 50 persen saja. Lalu tandan kosong itu dibakar untuk mendidihkan ketel air. Uap air yang dihasilkan bakal memutar turbin dan akhirnya menggerakkan generator listrik. Cara ini lebih andal dibanding membuat biogas dengan fermentasi. Lagi pula, tidak semua cairan perasan itu menjadi limbah. “Sekitar 0,2 persen tandan itu berisi minyak sawit,” kata Dany.

Listrik yang dihasilkan pembangkit ini lumayan. PTPN III akan memasang dua pembangkit yang masing-masing berkekuatan 3,5 megawatt. BPPT memperkirakan secara kasar pembangkit di PTPN VI bakal menghasilkan 3 megawatt. Untuk perbandingan, listrik sebanyak ini cukup untuk menerangi 1.500 rata-rata rumah Indonesia yang konsumsinya 1.200 watt.

Sedangkan pembangkit di PTPN IV menghasilkan 3 megawatt-hanya butuh 6,6 ton tandan sawit per jam, sedangkan limbah pabrik menghasilkan 30 ton tandan bersih setiap jam. Setelah dipakai untuk keperluan pabrik, masih sisa 600 ribu watt dan hampir saja dijual ke Perusahaan Listrik Negara, tapi urung karena kapasitas pabrik produksi sawit dinaikkan dari 400 menjadi 450 ton per hari.

Menurut Rohmadi Ridlo dari BPPT, pemanfaatan energi dari limbah tandan kosong ini sesuai dengan clean development mechanism (mekanisme pembangunan bersih). Dengan pola yang muncul dalam kesepakatan lingkungan dunia Protokol Kyoto, perusahaan yang dapat membuktikan diri berhasil melakukan operasi dengan sistem lebih ramah lingkungan bakal mendapat uang dari perusahaan yang kurang ramah lingkungan.

PTPN III, yang saat ini sudah mulai membenahi lokasi pemasangan pembangkit, memang berencana membuat pembangkit sendiri untuk kawasan industri berbasis sawit di Sungai Mangke, Sumatera Utara. Pembangkit itu berbahan bakar tandan pisang. Saat membuat perencanaan, kata Dany, “Clean development mechanism otomatis kita masukkan.”

Nur Khoiri, Soetana Monang Hasibuan (Medan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: