imink-iming doank (40) … 010610


01/06/2010 – 15:38
ADRO Kian Kinclong Usai Akuisisi
Natascha & Asteria

(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – PT Adaro Energy (ADRO) memperoleh izin mengakuisisi 25% saham di 7 proyek Indonesia Coal Project (ICP). Namun, keuntungannya baru terlihat dalam jangka panjang.

Demikian diungkapkan Chandra Wijanarka, analis saham dari Etrading Securities. Menurutnya, meski telah mendapat persetujuan dari pemerintah, proyek ADRO saat ini masih merupakan expenditure bagi perseroan.

Imbasnya, yaitu hasil produksinya, baru akan terlihat dalam 1-2 tahun ke depan. “Kendati demikian, proyek ini sudah terlihat pada capex, karena ADRO sudah menyiapkan belanja modal untuk proyek ini,” katanya kepada INILAH.COM, Selasa (1/6)

Seperti diketahui, ADRO melalui Alam Tri Abadi memperoleh izin pemerintah terkait pembentukan joint venture baru untuk proyek batubara Indonesia (ICP) dengan BHP Billiton. Adaro memiliki 25% saham dalam perusahaan gabungan ini senilai US$335 juta, sedangkan BHP Billiton menguasai 75% sisanya.

Ketujuh proyek tambang Maruwai milik BHP Biliton Indonesia tersebut adalah PT Maruwai Coal, PT Juloi Coal, PT Kalteng Coal, PT Sumber Barito Coal, PT Lahai Coal, PT Ratah Coal dan PT Pari Coal.

Perjanjian kerja sama telah dilakukan antara ADRO dengan BHP Minerals Holdings Pty Ltd dan BHP Minerals International Exploration Inc. Lahan yang diakuisisi sebelumnya dikelola oleh PT BHP Biliton Indonesia yang habis masa kelolanya.

Pada 2010, anggaran belanja modal (capex) ADRO adalah US$200 juta, sebesar US$ 65 juta dianggarkan untuk power plant. Adapun total investasi power plant tersebut adalah US$160 juta. “Kebutuhan dana ini sudah di-budget-kan sebelumnya,” ungkapnya.

Kepemilikan 25% saham Maruwai, lanjut Chandra, sudah terefleksi pada kenaikan bulan lalu. Hal ini didukung sentimen positif eksternal. Namun secara teknikal, setelah menyentuh level resistan di Rp2025, ADRO harus melalui koreksi dulu untuk konfirmasi. “Kalau ramalan ini terpenuhi, maka ADRO bisa mengarah ke Rp2.125,” ulasnya.

Dengan Maruwai, imbuhnya, ADRO menjadi satu-satunya perusahaan batubara coking coal, yakni jenis batubara yang digunakan untuk peleburan baja. Cadangan batubara dari Coal Project (Maruwai, Kalimantan Tengah) adalah sebanyak 774 juta ton.

Menurut Asosiasi Produsen Batubara Indonesia, coking coal nilainya lebih tinggi dari thermal coal. Selain merupakan jenis batubara yang sulit diperoleh, cadangan coking coal sangat terbatas. Hal inilah yang menyebabkan harganya mahal. Apalagi dengan potensi demandnya yang mengalami pertumbuhan.

Terkait hal ini, Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Jeffrey Mulyono menilai, nilai akuisisi ADRO merupakan kesepakatan bagus. Karena hanya dengan membayar AUS$335 juta, perseroan bisa memperoleh 35% dalam porsi joint venture. “Ini merupakan cadangan yang relatif besar,” ujarnya.

Sementara itu, manajemen mengatakan, posisi kas perseroan sekarang ini cukup kuat sebesar UUS$1 miliar. Ini berarti, funding untuk Kalimantan Coal Project (Maruwai), capex, serta pembangkit power plant nampaknya tidak masalah.

Produksi batubara pada kuartal pertama 2010 mencapai 11,36 juta metrik ton. Angka ini sesuai dengan target sebelumnya. Adapun target perseroan produksi batubara perseroan pada 2010 mencapai 45-46 juta ton. Dan secara organik dia menargetkan jika target perseroan pada 2014 adalah sebesar 80 juta ton. [mdr]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: