energi surya bwat pulau jawa donk … 010610


Sepuluh Pulau Diterangi Pembangkit Tenaga Surya
SENIN, 31 MEI 2010 | 19:33 WIB
TEMPO/Adri Irianto

TEMPO Interaktif, Jakarta – PT PLN (Persero) membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di 10 pulau dengan total kapasitas sebesar 5 megawatt. Proyek ini dijadwalkan rampung akhir tahun ini.

Adapun 10 pulau itu meliputi destinasi pariwisata terkenal di dunia, yakni Pulau Banda, Bunaken, Wakatobi, Derawan, Gili Trawangan serta lima pulau lainnya yang merupakan pulau terluar Indonesia. “Potensi tenaga matahari selama ini belum dimanfaatkan dengan baik,” kata Direktur Utama PT PLN (Persero) Dahlan Iskan kepada Tempo, Senin (31/5).

Dibandingkan dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), PLTS memang memerlukan biaya lebih mahal. Jika satu PLTU memerlukan dana US$ 1 juta per megawatt, pembangkit tenaga surya membutuhkan US$ 3,5 juta per megawatt. “Tapi PLTS memiliki keunggulan dibandingkan PLTU, yakni lebih praktis dan ramah lingkungan,” ujar Dahlan.

Dahlan menerangkan, kapasitas listrik terpasang dari pembangunan PLTS di tiap pulau tidak dapat ditentukan secara pasti. Pasalnya, pembangkit tenaga surya berupa panel-panel surya, yang disebut solar cell, yakni papan penyerap energi matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik.

“Jadi itu berupa papan-papan solar cell yang dipasang di atap rumah atau bangunan, bukan berupa pembangkit yang ada di satu tempat. Di satu pulau saja letaknya bisa tersebar,” tuturnya.

Kapasitas listrik satu instalasi panel pembangkit tenaga surya bisa bervariasi, tergantung luas papan solar cell yang digunakan. “Saya tidak hafal pasti ukurannya, namun kapasitas panel surya paling besar antara 100-200 kilowatt,” kata Dahlan. Namun, yang pasti, Pulau Banda memiliki kapasitas listrik terbesar dibanding sembilan pulau lainnya.

Nantinya, pelanggan yang menikmati listrik yang dihasilkan dari PLTS akan dikenai tarif Rp 3.000 per kilowatt hour (kWh), jauh lebih mahal daripada pelanggan listrik dari PLTG atau PLTU sebesar Rp 650 per kWh. “Hal itu tidak masalah, karena selama ini mereka juga membayar listrik dengan harga Rp 3.000 per kWh. Jadi sama saja,” kata Dahlan.

MAHARDIKA SATRIA HADI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: