yang murah, yang cerah … 260510


Mahasiswa ITB Ciptakan Lampu Rumah Super Hemat
RABU, 26 MEI 2010 | 18:47 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung – Tim Lampu Ganesha menciptakan lampu rumah super hemat. Lampu dari rangkaian light-emitting diode (LED) itu 100 kali lebih irit dari penerang yang umum dipakai masyarakat sekarang ini. Dewan juri mengganjar penemuan itu sebagai juara pertama ITB Entrepreneurship Challenge 2010.

Tim yang beranggotakan Adhi Ichwan Kurniawan, Fela Rizki Wardana, dan Fadolly Ardin, itu juga menyabet juara kategori produk terbaik dalam lomba ide bisnis mahasiswa Indonesia tersebut. Ketiga mahasiswa tingkat akhir Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung itu berhak membawa hadiah uang Rp 20 juta.

Produk yang juga dinamai Lampu Ganesha itu terdiri dari rangkaian 49 lampu LED biasa berwarna putih. Agar hemat listrik, lampu itu menyala satu per satu tidak sekaligus. Namun proses itu mereka percepat sampai 400 nano second dengan memasang controller sebagai prosesor. “Jadinya terlihat menyala bersamaan, padahal sebenarnya tidak,” kata Adhi Ichwan Kurniawan, Rabu (26/5).

Lampu itu cuma menyedot listrik sebesar 3 watt. Tapi terang cahayanya setara dengan lampu bohlam 100 watt atau lampu neon 45 watt. Tak cuma itu, pelanggan listrik rumah tangga cuma perlu membayar Rp 3000 per tahun jika memakai lampu LED tersebut. “Kalau memakai sebuah lampu neon sekitar Rp 300 ribu per tahun,” kata Fadolly Ardin.

Lampu Ganesha juga sanggup menekan biaya listrik lampu penerang jalan. Di Kota Bandung, misalnya, yang punya 19 ribu titik tiang lampu di sisi jalan. Dengan memakai lampu LED 15 watt, biaya listriknya hanya butuh Rp 2,7 miliar per tahun. Bandingkan dengan penerang dari sorot lampu merkuri 300 watt yang menyedot anggaran APBD hingga 42 miliar.

ANWAR SISWADI

3/05/2010 – 12:10
Ditemukan, Baterai Bertenaga Udara
Syamsudin Prasetyo

(IST)
INILAH.COM, Jakarta – Baterai bertenaga udara, 10 kali kapasitas model konvensional berhasil ditemukan. Baterai STAIR (Saint Andrews Air) menandai generasi baru mobil elektrik, laptop dan HP.

Sel baterai mendapat tenaga dengan cara tradisional, tetapi ketika suplai kekuatan akan habis, maka sebuah bagian inti baterai terbuka dan mengambil oksigen dari udara di sekelilingnya.

Kemudian oksigen bereaksi dengan komponen karbon berpori di dalam baterai, yang menghasilkan energi lebih banyak, dan mengisi ulang sel baterai sehingga bertenaga kembali setelah habis.

Dengan menggantikan bagian kimia lithium kobalt oksida tradisional dengan karbon berpori dan oksigen yang diperoleh dari udara, maka baterai menjadi lebih ringan.

Sebagaimana dilansir telegraph.co.uk siklus udara membantu mengisi ulang baterai setelah digunakan. Akibatnya benda tersebut memiliki kapasitas penyimpanan lebih besar daripada sel baterai serupa lainnya. Diperkirakan bisa mengeluarkan tenaga 10 kali lebih lama.

Profesor Peter Bruce dari departemen kimia Universitas Saint Andrews mengatakan, “Keuntungannya adalah lebih kecil dan ringan sehingga akan lebih baik untuk diaplikasikan dalam perangkat yang lebih kecil dan mobile.”

“Ukurannya juga krusial bagi siapapun yang mencoba mengembangkan mobil elektrik seiring keinginan menurunkan bobot mobil. Penyimpanan juga sangat penting dalam pengembangan tenaga ‘hijau’ karena angin dan panas matahari adalah barang gratis,” imbuhnya.[ito]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: