csr adro di balongan … 210510


Adaro Siapkan Rp 32,6 Miliar Untuk CSR 2010
21 Mei 2010 | 06:47 WIB

Abraham Lagaligo
abraham@majalahtambang.com

Balongan – TAMBANG. Sepanjang 2009, PT Adaro Indonesia telah menyalurkan dana sebesar Rp 30 miliar, untuk pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR). Tahun ini, angkanya ditingkatkan menjadi Rp 32,6 miliar. Dari jumlah itu, sebagian besar dialokasikan untuk program pengembangan ekonomi, yang mencapai 35%. Kemudian untuk pendidikan 30%, dan sisanya untuk program kesehatan serta pembinaan sosial budaya.

Salah satu program CSR Adaro yang cukup maju adalah pembinaan petani karet. Sampai 2010, lahan yang sudah ditanami mencapai 4.000 hektar, dari total 4.800 hektar yang tersedia. Keseluruhan lahan itu berada di Kabupaten Tabalong dan Balongan, Kalimantan Selatan (Kalsel), yang merupakan lingkar tambang Adaro.

CSR Department Head Adaro, Abdurrahman mengatakan, berkebun karet merupakan mata pencaharian pokok warga dua kabupaten itu. Tujuan dari program itu adalah meningkatkan penghasilan petani karet, lewat pembinaan dan pengolahan guna meningkatkan nilai tambah produknya.

“Lahannya milik warga sendiri, pengerjaannya pun oleh warga. Kami memberikan penyuluhan, bibit, pupuk, obat-obatan, dan alat penyadapnya. Petani dibagi dalam kelompok-kelompok, terdiri dari kelompok pola binaan lima tahun dan satu tahun,” jelas Abdurrahman di Balongan, Kamis, 20 Mei 2010.

Untuk pola lima tahunan, setiap kelompok terdiri dari 34 orang dengan luas lahan 19 hektar lebih. Untuk pola satu tahun, setiap kelompok terdiri dari 60 orang dengan luas lahan sekitar 50 hektar. Tiap hektar terdiri dari 450-500 pohon karet.

Produk dari perkebunan karet itu dijual sendiri oleh warga. Namun Adaro juga membantu dalam treatment pengolahan, yakni untuk tiap 50 hektar lahan dibuatkan satu rumah pengasapan. Hasil penyadapan berupa slab (karet beku) diasapi hingga menjadi seet (karet lembaran). “Kalau slab harganya per kilogram hanya Rp 4.000, sedangkan seet bisa Rp 23.000 per kilogram,” tambahnya.

Ketua Kelompok Tani Karet “Sumber Usaha”, Balongan, Ahmad Yani (39), mengaku sangat terbantu dengan program ini. Jumlah produksinya meningkat dari sebelumnya 20 kilogram menjadi 30 kilogram slab per hari. Penghasilan bersihnya saat ini berkisar Rp 100.000 – Rp 200.000 per hari.

“Ini karena ada bantuan obat-obatan dan pupuk. Sebelum dibantu Adaro, hasilnya habis buat beli bibit dan pupuk. Jadi seperti menukar saja,” jelas pemilik kebun karet seluas 5 hektar, yang menjual produknya ke Bunto dan Banjarmasin ini. Dengan penghasilannya sekarang, ia optimis dapat menyekolahkan sang buah hati hingga perguruan tinggi.

Petani karet lainnya, Rajuli (32), mengaku cukup sukses memproduksi seet. Dari 100 kilogram slab, bisa mendapatkan 23-25 kilogram seet. Dengan rumah pengasapan bantuan Adaro, ia berhasil memproduksi 1 – 1,5 ton seet per tiga hari. Produknya dibeli dengan harga rata-rata Rp 22 kilogram per hari, oleh pengepul karet di Paringin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: