adro miris, Rp :)) … 100510


Laba emiten batu bara tergerus 33%
Faktor harga dan kurs tekan kinerja

JAKARTA: Total laba bersih sepuluh emiten batu bara merosot 32,7% pada kuartal I/2010 menjadi Rp1,86 triliun dari capaian pada periode yang sama 2009 senilai Rp2,76 triliun.
Penurunan laba bersih terparah dialami PT Darma Henwa Tbk sebesar 82,5% disusul PT Perusahaan Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 59,48%. Sebaliknya, kinerja PT Delta Dunia Makmur Tbk melejit setelah inti bisnisnya berubah dari properti ke pertambangan. Dua emiten besar batu bara tercatat belum melaporkan kinerja keuangannya, yakni PT Bumi Resources Tbk dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. Sepanjang tahun lalu, Bumi meraup laba US$190,45 juta, turun 49% sedangkan Indo Tambangraya US$335,5 juta, naik 43%.

Analis PT Reliance Securities Tbk Gina Novrina Nasution menilai faktor kerugian kurs, penurunan harga jual, serta lonjakan bunga utang menjadi pemicu penurunan kinerja emiten yang bergerak di sektor penopang indeks harga saham gabungan (IHSG) itu.

“Faktor kurs memengaruhi kinerja perusahaan batu bara yang mengekspor produknya ke luar negeri. Penurunan harga jual juga membuat kinerja emiten sektor ini tertekan,” ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Salah satu emiten yang harga jualnya anjlok adalah PTBA menyusul penurunan harga jual ke PLTU Suralaya untuk pasokan 2010. Demikian juga PT Adaro Energy Tbk yang rata-rata harga jualnya melemah.

Sekretaris Perusahaan PTBA Achmad Sudarto menyebutkan harga jual rata-rata batu bara PTBA pada kuartal I/2010 turun 32% dibandingkan dengan harga jual rata-rata periode kuartal I/2009, menjadi Rp555.460 per ton.

Penjualan ekspor ke pasar Jepang pada kuartal I/2010, masih berdasarkan pada harga acuan internasional 2009, juga jauh lebih rendah dari harga acuan pada 2008. Faktor harga inilah yang menekan kinerja perseroan.

Faktor kurs

Di sisi lain, Direktur Utama Adaro Garibaldi Thohir menyebutkan penguatan kurs rupiah sebesar 20% menjadi penekan kinerja produsen batu bara termal terbesar kedua itu, di samping penurunan harga jual di tengah kenaikan beban bunga.

“Terkait dengan kondisi pasar yang buruk pada awal 2010, rerata harga jual Adaro untuk kuartal I/2010 menurun. Harga jual sebelumnya pada kuartal I/2009 kuat karena kondisi pasar yang mendukung ketika harga jual untuk 2009 ditentukan awal 2008.”

Faktor kurs memicu koreksi pendapatan bisnis penambangan dan penjualan batu bara sebesar 6,3% menjadi Rp5,8 triliun. Apabila faktor kurs dihilangkan, pendapatan divisi penyumbang 92,7% pemasukan Adaro tersebut terhitung naik 18% jadi US$628,4 juta.

“Beban Adaro juga membengkak karena rasio penggalian bertambah, sehingga menambah pengeluaran. Dampak positif situasi ini baru kelihatan pada jangka menengah,” komentar Gina.

Sebaliknya, kinerja PT Delta Dunia Makmur Tbk terhitung melejit drastis mengingat posisinya sebagai pendatang baru pascaakuisisi kontraktor tambang, PT Bukit Makmur, milik Johan Lensa senilai US$550 juta.

Pendapatan emiten berkode DOID ini melonjak signifikan pada kuartal pertama 2010 menjadi Rp1,25 triliun. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, pendapatan pereroan hanya Rp331,50 juta dari bisnis properti.

Gina menilai kinerja Delta Dunia masih prospektif dalam jangka panjang, di tengah pemulihan ekonomi dunia. Pada kuartal I/2010, Delta Dunia mengantongi laba bersih Rp150,64 miliar atau naik 9.942,66% dari periode yang sama 2009 sebesar Rp1,5 miliar. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia
10/05/2010 – 12:09
Tambang Pimpin Penguatan Bursa Siang
Ahmad Munjin

INILAH.COM, Jakarta – Awal pekan ini, indeks saham tampak kembali bersemangat. Meredanya imbas negatif mundurnya Sri Mulyani dan dana talangan IMF ke Yunani, sukses mendongkrak pasar. Sektor tambang oun memimpin penguatan.

Pada perdagangan Senin (10/5) sesi siang, IHSG ditutup menguat 58,68 poin (2,14%) ke level 2.798,01. Indeks saham unggulan LQ45 juga naik 13,6199 poin (2,59%) ke level 538,99.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai dengan volume transaksi tercatat mencapai 2,585 miliar lembar saham, senilai Rp2,266 triliun dan frekuensi 60.436 kali. Sebabnyak 167 saham menguat, sedangkan hanya 48 saham melemah dan 44 saham stagnan.

Semua sektor berkontribusi signifikan pada penguatan indeks. Sektor pertambangan memimpin penguatan 2,74%, aneka industri 2,49%, keuangan 2,38%, aneka industri 2,30%, properti 2,26%, perkebunan 2,13%, manufaktur 1,98%, infrastruktur 1,80%, perdagangan 1,41%, dan sektor konsumsi 1,36%.

Nico Simatupang, analis investasi PT GMT Asset Management memperkirakan, pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti akan menguat. Hal ini terjadi seiring positifnya pergerakan bursa regional. “Indeks akan mengarah ke level resistance Rp2.797-2.855 dan 2.693 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (10/5).

Kenaikan bursa regional dipicu sentimen positif dari Uni Eropa terkait kesepakatan bantuan senilai €550 miliar. Dana ini akan dimanfaatkan untuk mengatasi krisis Eropa secara keseluruhan. “Terutama penyebaran krisis dari Yunani ke Portugal, Spanyol, Italia, dan Irlandia,” ujarnya.

Di sisi lain, International Monetary Fund (IMF) juga mengucurkan dana sebesar US$30 miliar untuk mengatasi krisis fiskal di Yunani. Inilah sentimen utama yang memicu pergerakan bursa saham, baik regional maupun domestik. “Pasar optimistis dengan bantuan itu. Sebab, ada usaha yang gigih dari Uni Eropa untuk mengatasi krisis,” ungkapnya.

Karena itu, lanjutnya, harga minyak mentah dunia pun akan mendapat sentimen positif. Sehingga berpeluang menguat kembali ke level di atas US$80 per barel dalam dua hari ke depan.

Sementara itu, dari dalam negeri, pasar masih menanti siapa pengganti Sri Mulyani Indrawati sebagai menteri keuangan. Tapi, tidak akan menjadi tekanan berarti bagi pasar. Sebab, siapapun penggantinya sudah diketahui pasar kredibilitasnya atas nama-nama yang mencuat ke publik belakangan ini. “Semuanya bukan orang baru,” tandasnya.

Dalam kondisi ini, Nico merekomendasikan positif saham-saham di sektor pertambangan, perbankan, properti, semen dan grup Astra. Saham-saham pilihannya adalah PT Adaro Energy (ADRO), PT Perusahaan Tambang Bukit Asam (PTBA), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Mandiri (BMRI).

Saham PT Astra Internasional (ASII), PT Astra Otoparts (AUTO), PT Bumi Serpong Damai (BSDE), PT Alam Sutera Realty (ASRI), dan PT Holcim Indonesia (SMCB) juga jadi pilihannya. “Saya rekomendasikan buy on weakness saham-saham tersebut karena market masih berpeluang fluktuatif ke depannya,” pungkas Nico. [ast/mdr]
10/05/2010 – 08:14
Pekan Ini IHSG Melemah Terbatas
Pasar ‘Ikhlas’ Sri Mulyani Mundur
Ahmad Munjin

(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan indeks pekan ini diprediksikan melemah terbatas seiring berlanjutnya kekhawatirkan krisis Yunani. Tapi, di sisi lain, pasar sudah ‘ikhlas’ atas mundurnya Sri Mulyani sebagai menteri keuangan.

Pengamat pasar modal, N Jaganathan mengatakan, potensi pelemahan indeks pekan ini akibat pengaruh negatif dari faktor eksternal yaitu kerusuhan di Yunani. Menurut Jaganathan, belum tuntasnya penyelesaikan krisis Yunani menjadi sentimen negatif berkelanjutan.

Padahal sebelumnya, pasar berekspektasi krisis fiskal di Yunani bisa segera diatasi. Ternyata, masalah Yunani sangat berat. Sebab, negeri pada dewa itu membutuhkan dana sebesar 4 kali lipat bantuan International Monetary Fund (IMF) ke Indonesia setelah krisis 2007-2008.

“Karena itu, IHSG ^JKSE akan mengarah ke level support 2.700-2.675 dan 2.750 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (9/5).

Pada perdagangan Jumat (7/5), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup anjlok 71,283 poin (2,53%) ke level 2.739,333. Sedangkan saham unggulan LQ45turun 15,521 poin (2,86%) ke level 525,370.

Lebih lanjut Jaganathan mengatakan, penyelesaian Yunani masih terus dicari solusinya. Pada saat yang sama, pasar juga mengkhawatirkan dampak krisis Yunani merembet ke negara Eropa lainnya seperti Portugal , Spanyol, Italia, dan Irlandia.

Sementara itu, dari dalam negeri, pengunduran diri Sri Mulyani sebagai menteri keuangan masih jadi pertanyaan pasar terkait siapa pengantinya. Menurutnya, pasar terpengaruh dua faktor sekaligus, krisis Yunani dan pengunguran diri Sri Mulyani sebagai menteri keuangan menyusul pengangkatannya sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.

Namun, secara perlahan, pasar sudah mulai menerima dengan ‘ikhlas’ mundurnya Sri Mulyani. Karena itu, meski pelemahan indeks akan belanjut pekan, tapi tekanannya semakin mengecil sehingga koreksi indeks pekan ini tidak terlalu dalam alias melemah terbatas.

Yang dinantikan pasar saat ini adalah siapa yang menjaga otoritas keuangan pengganti Sri Mulyani. Market mengharapkan, pengganti Sri Mulyani adalah profesional tulen dan tidak berasal dari kalangan partai. “Market juga masih menunggu kelanjutan penyelesaian kasus pajak dan skandal Bank Century senilai Rp6,7 triliun pasca mundurnya Sri Mulyani,” ujarnya.

Menurutnya, presiden seharusnya memberikan tiga nama yang sudah dipilih menjadi calon menteri keuangan pengganti Sri Mulyani untuk kemudian menjalani fit and profer test.

“Rumornya, Rizal Ramli (mantan Menko Perekonomian), Darmin Nasution (pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia (BI), dan Anggito Abimanyu (kepada Badan Kebijakan Fiskal, Depkeu),” ucapnya.

Jaganathan sendiri menilai positif atas Anggito. Tapi, untuk posisi wakil menteri saja ia belum diangkat. Darmin Nasution dinilai lebih cocok. Masalahnya, jika Darmin menjadi menteri keuangan berakibat pada kekosongan gubernur BI. “Itu juga jadi masalah bagi pasar,” imbuhnya.

Yang paling tidak bermasalah adalah Rizal Ramli yang merupakan profesional tulen dan sudah mengerti peta perekonomian Indonesia. Apalagi, Rizal Ramli sebelumnya pernah menjadi Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan era Gus Dur. “Saya menjagokan Rizal Ramli, seharusnya dipilih kembali,” tandasnya.

Sementara itu, lebih jauh Jaganathan menilai koreksi harga minyak mentah dunia ke level US$75 dinilainya hanya koreksi sementara sehingga berpengaruh netral ke bursa. Menurutnya, idealnya harga minyak bergerak dalam kisaran US$70-80 per barel. “Kecuali jika terjadi penguatan atau pelemahan yang tajam, indeks akan terpengaruh,” ungkapnya.

Jika terjadi penguatan harga minyak mendekati level US$100 per barel, akan berpengaruh negatif ke pasar. Sebab, harga minyak di level itu, akan memicu bengkaknya subsidi BBM di mana 80% masyarakat Indonesia menggunakan premium.

Dalam kondisi ini, Jaganathan merekomendasikan positif saham sektor perbankan pelat merah, telekomunikasi, perkebunan, dan grup Astra. Ia meyakini saham-saham di sektor tersebut berpeluang menahan koreksi indeks lebih jauh. “Sebab, sektor-sektor itu sudah mengalami kejatuhan di pekan lalu,” timpalnya.

Saham-saham pilihannya adalah PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Telkom (TLKM), PT Adaro Energy (ADRO), PT PP London Sumatera (LSIP), dan PT Astra Agro Lestari (AALI). “Saya rekomendasikan buy on weakness untuk saham-saham tersebut,” pungkasnya. [mdr]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: