energi alternatif: LNG dari CBM dah : 280410


28/04/2010 – 12:22

Indonesia Jadi Negara Pertama Buat CBM ke LNG
Makarius Paru

INILAH.COM, Jakarta – President Director & CEO Vico Indonesia, Craig Stewart, mengatakan Indonesia akan menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan LNG dari coalbed methane (CBM).

“Indonesia akan menjadi negara pertama di dunia yang kembangkan CBM ke LNG,” kata Graig di Jakarta, Rabu (28/4).

Menurut Graig, peluang Indonesia menjadi negara pertama buat CBM ke LNG bisa terealisasi 2011 mendatang. Selain Indonesia, Australia sedang mempersiapkan fasilitas untuk membentuk CBM ke LNG. “Vico segera merealisasikan ini, apalagi semua infrastruktur alir CBM dari Sanga-sanga ke LNG Plant Bontang sudah siap,” katanya.

Adapun potensi cadangan CBM Indonesia, antara lain blok Barito sebesar 101,6 tcf, Kutai 80,4 tcf, South Sumatera 183,0tcf, Central Sumatera 52,5 tcf dan lainnya sekitar 35,8tcf. [cms]
Tujuh Blok CBM Siap Berproduksi Pada 2011
28 April 2010 | 16:46 WIB

Arif Dwi Cahyono
arif@majalahtambang.com

Jakarta – TAMBANG. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) menyebutkan sebanyak tujuh blok CBM siap berproduksi pada akhir 2011. Adapun blok tersebut antara lain blok Sekayu, Blok Pulau Pisang, Blok Barito, Blok Sanga-Sanga, dan Blok Sangata.

“Dari total sebanyak 20 blok CBM yang sudah terkontrak sekitar tujuh blok CBM siap berproduksi 2011, kemudian blok lainnya masih dalam proses pengembangan,” kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo, di Jakarta, Rabu, 28 April 2010.

Dia menjelaskan, dari tujuh blok tersebut yang siap berproduksi pada 2011 mendatang diperkirakan dapat menghasilkan listrik setara 23 MW. Dengan potensi listrik yang dihasilkan ini diharapkan dapat membantu menambah pasokan gas untuk listrik, mengingat kelistrikan nasional cakupan layanan baru sekitar 65%.

Adapun kelima blok yang akan berproduksi 2011 tersebut, antara lain blok Sekayu dengan konsorsium PT Medco CBN Sekayu, South Sumatera energi Inc. Kemudian Blok CBM Barito Banjar I, dengan operator PT Indobarambai gas methan, Blok Sanggata I dengan konsorsium PT Pertamina EP dan Ephindo, Blok CBM Tanjung Enim dengan konsorsium Pertamina hulu energi methana enim, PT Bukit Asam Methana enim, Arrow Energy, Blok CBM Pulang Pisau dengan konsorsium Sigma Energi Bumi dengan Blue Tiger.

Sementara itu President Director PT Ephindo, Sammy Hamzah, mengatakan dari blok Sangata diperkirakan akan menyumbang kapasitas listrik skala kecil sekitar 1- 2 MW. Namun, pemerintah diharapkan dapat memberikan harga yang kompetitif untuk pasokan CBM yang nanti direncanakan untuk listrik.

“Kalau PLN tetap membeli dengan harga sekarang itu tidak ekonomis dan kita berharap harganya dapat seperti geothermal,” katanya.

Rabu, 28/04/2010 13:27 WIB
Pembangkit Mini Berbahan CBM Segera Dibangun
Nurseffi Dwi Wahyuni – detikFinance
Jakarta – Pemerintah berencana membangun pembangkit-pembangkit skala kecil dengan total kapasitas 23 Megawatt (MW) berbahan bakar Coal Bed Methane (Gas Metana Batubara /GMB) di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

“Kami melihat kemungkinan dikembangkannya pembangkit-pembangkit skala kecil dengan memanfaatkan produksi awal CBM,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo di sela acara ‘Indocbm 2010’ di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (28/4/2010).

Ia memperkirakan, ada enam blok CBM yang akan berproduksi pada tahun 2011. Keenam blok tersebut adalah:

GMB Sekayu sebesar 1 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD)
Blok GMB Sangata I sebanyak 1 MMSCFD,
Blok GMB Pulang Pisau sebanyak 1 MMSCFD,
Blok GMB Tanjung Enim sebanyak 1 MMSCFD,
Blok GMB Barito Banjar II sebanyak 0,25 MMSCFD dan
Blok GMB Sanga-Sanga sebesar 5 MMSCFD.

“Sehingga totalnya sebesar 9,25 MMSCFD, itu bisa untuk memproduksi listrik sebesar 23,01 MW,” kata Evita.

Evita mendorong para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mengelola blok itu bisa menjadi kontraktor listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) yang membangun pembangkit berbahan bakar CBM tersebut di dekat lokasi wilayah kerjanya.

“Kami berharap yang punya WK CBM itu yang bangun pembangkitnya dengan skema IPP,” ungkapnya.

Evita mengakui, pihaknya memang akan memprioritaskan pemanfaatkan CBM untuk memenuhi kebutuhan listrik di tanah air. Mengingat saat ini rasio elekttifikasi di tanah air baru mencapai 65 %, sehingga masih ada 35% keluarga di tanah air yang belum dapat menikmati listrik.

“Itu sangat menyedihkan. Maka harusnya listrik mendapatkan prioritas,” jelas dia.

Apabila kebutuhan listrik sudah terpenuhi, maka selanjutnya CBM ini akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan proyek gas kota yang saat ini sedang dikembangkan oleh pemerintah. Selain itu, opsi lainnya yaitu memanfaatkan CBM untuk sektor transportasi dengan mengubahnya menjadi Compressed natural gas (CNG).

“Setelah itu, baru untuk industri lain,” kata dia.

Opsi lainnya yang dipertimbangkan yaitu memanfaatkan CBM untuk diubah menjadi gas alam cair (Liquid Natural Gas/LNG).

“Untuk LNG ini kami tidak sebutkan apakah ekspor atau domestik. Bisa dua-duanya, asalkan keekonomian tercapai,” pungkasnya.

(epi/qom)
Indo CBM Kejar Pengawasan 20 Kontrak
Rabu, 28 April 2010 – 20:45 wib

Wilda Asmarini – Okezone

JAKARTA – Target yang dikejar pada Indo CBM yang berlangsung hari ini tidak lagi mengejar target investasi tetapi lebih pada pengawasan terhadap 20 kontrak CBM yang sudah ditandatangani sejak 2006 silam.

20 kontrak yang sudah ditandatangani tersebut diharapkan jangan sampai hanya sebatas di atas kertas, tapi tidak ada tindakan aksi nyata di lapangan. Hal tersebut dituturkan Ketua Pelaksana penyelenggara Indo CBM 2010 Satya W Yudha saat ditemui di sela konferensi dan pameran Indo CBM, di JHCC, Senayan, Jakarta, Rabu (28/4/2010).

“Ini topiknya bukan lagi target investasi seperti jaman dahulu, tapi yang sekarang kami inginkan adalah 20 kontrak yang sudah ditandatangani sejak dideklarasikan 2006 lalu yaitu melihat tindak aksi mereka di lapangan,” jelasnya.

Dia menambahkan, dari 20 kontrak tersebut, tujuh kontrak sudah siap menyalurkan gasnya untuk pembangkit listrik, antara lain Sangatta, Tulang Pisau, dan Sekayu.

Menurutnya, untuk pasokan listrik ini, gas CBM memang tidak bisa langsung mengucur dalam jumlah besar. Ini dikarenakan letaknya yang berada di perairan. Dia berharap, satu juga kaki kubik itu bisa menyalurkan lima megawatt (MW).

“Kecil memang, itu merupakan tahap awal yang bagus. Tapi kami inginkan walau jumlahnya cuma sedikit bisa kita jual. Makanya tak heran pemerintah mengatakan untuk disalurkan ke listrik saja,” tuturnya.
(ade)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: