kebat-kebit @harga MINYAK global … 050410


Antara barel, dolar & anggaran negara
Butuh sinergi untuk hasilkan data lifting minyak dan kondensat yang valid

“Sri Mulyani sering bicara barel [minyak]. Lebih baik saya kurangi bicara soal barel dan lebih banyak bicara dolar,” ujar Kepala BP Migas R. Priyono pekan lalu.
Pernyataan itu disampaikannya dengan ekspresi ‘gerah’. Kegerahan itu muncul karena belakangan Menkeu ‘kerap’ menjawab pertanyaan wartawan mengenai keamanan APBN 2010 terkait dengan lonjakan harga minyak mentah dan realisasi lifting yang masih di bawah target.

Sebenarnya, Menkeu belum pernah sekalipun menyampaikan angka produksi atau lifting minyak dan kondensat. Dia juga kerap menyatakan lifting diserahkan sepenuhnya kepada Kementerian ESDM dan BP Migas yang memiliki kewenangan, termasuk ketika ditanya mengenai perlu tidaknya target lifting 2010 yang ditetapkan 965.000 bph direvisi karena belakangan realisasinya di bawah target.

Dia, sebagaimana biasanya, selalu menyampaikan hasil simulasi kementeriannya mengenai dampak harga minyak mentah dan juga produksi terhadap APBN. “Seperti yang sering dikemukakan, setiap kali meleset 10.000 bph, APBN menghadapi risiko anggaran sebesar Rp3 triliun.”

Angka 876.000 bph yang diperkirakan menjadi pemicu ‘kegerahan’ itu sebenarnya sudah diklarifikasi oleh R. Priyono bahwa hal itu merupakan angka rencana produksi yang diajukan Kontraktor Kontrak Kerja sama (KKKS) dalam work program and budget (WP&B). Dengan catatan, angka tersebut merupakan target minimal apabila KKKS tidak melakukan inovasi dan improvisasi produksi.

Kalau bicara dolar, kata Priyono, sebenarnya target penerimaan dalam APBN masih terjaga. Dia mencontohkan realisasi penerimaan hulu migas 2009 mencapai US$19,9 miliar atau 104,8% dari target APBN sebesar US$18,8 miliar karena harga minyak mentah yang berada di atas asumsi. Menurut dia, dengan kondisi seperti itu justru berarti negara menghemat sumber daya tidak terbarukan tersebut.

“Toh, minyaknya tidak ke mana-mana, masih di dalam perut bumi Indonesia. Kita justru berhemat untuk masa depan kita,” katanya.

Persoalan produksi minyak yang masih di bawah target sebenarnya telah berulangkali diungkap. Gangguan produksi, baik karena direncanakan maupun tidak terencana, pembebasan lahan, tumpang tindih lahan, dan tantangan baru berupa kebijakan di sektor lingkungan. Ini adalah beberapa masalah yang tidak pernah tuntas.

Produksi dan lifting

Berbicara mengenai angka produksi, publik awam sering kali dibuat bingung sehingga layak bertanya karena interpretasi mengenai terminologi produksi dan lifting itu sendiri masih campur baur, apalagi bicara mengenai angkanya.

Dulu, ada pembedaan antara lifting dan produksi, dan produksi biasanya lebih besar 50.000 bph sebagai dampak dari kebijakan pertukaran minyak CPI sebanyak itu dengan gas dari ConocoPhilips untuk kebutuhan enhanced oil recovery (EOR). Terkait hal ini, seharusnya mulai 2009 sudah tidak ada lagi pembedaan antara produksi dan lifting karena kontrak yang tidak ubahnya dengan transaksi barter itu diputuskan diubah menjadi kontrak jual beli.

Dengan perubahan itu, BP Migas mengklaim bisa melakukan efisiensi hingga sekitar US$200 juta setelah memperhitungkan cost recovery. Akan tetapi, sayangnya, kontrak jual beli itu hingga kini masih berupa HoA dan belum efektif menjadi GSA karena menyangkut aturan di sisi hilir yang belum sepenuhnya rampung.

Selain hal itu, ada juga pertanyaan apakah layak kondensat disamakan dengan minyak mentah? Berdasarkan penjelasan Executive Vice President Total E&P Indonesia Hardy Pramono, dari sisi harga, perbedaan antara kondensat dan minyak mentah bisa diabaikan. “Bahkan kondensat justru bisa lebih mahal dibandingkan dengan minyak mentahnya.”

Terkait dengan angka, sumber Bisnis di satu perusahaan migas asing terkemuka menyatakan ada tiga angka yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan lifting minyak, yaitu target KKKS-BP Migas, target APBN di tahun berjalan, dan realisasi lifting itu sendiri. Target dari KKKS yang tecermin dalam WP&B biasanya merupakan angka paling rendah. Hal itu dipicu oleh rencana produksi dari KKKS yang cenderung konservatif yang juga kerap terjadi dalam menetapkan asumsi harga minyak mentah.

Biasanya, realisasi produksi berada di atas target KKKS, kendati apabila dibandingkan dengan target APBN masih belum memenuhi target. Salah satu contoh seperti yang diungkapkan oleh Priyono dalam layanan pesan singkat, produksi minyak berdasarkan hasil laporan KKKS hingga kuartal I mencapai 954.447 bph.

Produksi harian secara insidental memang bisa terjadi lonjakan, seperti pada 31 Maret 2010 yang mencapai 974.271 bph termasuk 147.428 bph di antaranya berupa kondensat. Produksi minyak dan kondensat rata-rata pada bulan berjalan mencapai 962.444 bph. Angka itu tergolong lumayan bagus mengingat pada awal-awal tahun biasanya kinerja produksi cenderung rendah karena faktor cuaca.

Minyak yang berhasil diproduksi, tidak sepenuhnya bisa dikatakan merupakan hasil lifting, karena belum tentu semua minyak yang berproduksi pada bulan berjalan berhasil di lepas ke pasar 100%. Biasanya ada faktor stok, yang banyaknya bisa mencapai 12 juta barel dan paling rendah sekitar 8 juta barel.

Perbedaan itu seperti terjawab oleh data hasil monitoring lifting minyak oleh Ditjen Migas dalam situs resminya. Volume lifting minyak dan kondensat hingga kuartal I 2010 tercatat hanya mencapai 882.986 bph.

Realisasi lifting Januari hanya mencapai 744.370 bph, Februari 881.770 bph, dan Maret merupakan yang tertinggi yakni sebanyak 1,02 juta bph. Pada awal April ini, lifting minyak dan kondensat dalam data tersebut baru mencapai 709.200 bph.

Namun, ternyata angka ini pun tidak dapat diidentikkan dengan data BP Migas. Pada 2009, berdasarkan data BP Migas, lifting minyak dan kondensat mencapai 949.554 bph, sedangkan berdasarkan monitoring Ditjen Migas lifting hanya 944.337 bph atau selisih sekitar 1,9 juta barel dalam setahun. Menkeu mengadopsi angka dari Ditjen Migas dalam penghitungan anggaran negara 2009.

Jadi, selain berjuang keras untuk memenuhi target produksi, sepertinya pemerintah dan BP Migas juga harus ‘bahu-membahu’ membangun sinergi untuk menghasilkan laporan yang valid mengenai rekapitulasi lifting minyak dan kondensat sehingga tidak menimbulkan ‘kegerahan’ baru… (rudi.ariffianto@bisnis.co.id)

Oleh Rudi Ariffianto
Wartawan Bisnis Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: